"Aku tidak tahu kenapa kamu selalu melukis orang secara terpisah. Ini menyedihkan! Apakah mereka tidak bisa berada dalam satu bingkai yang sama? Berbagi tempat yang sama?"
Terlahir dari keluarga yang tak bahagia, Anna memutuskan untuk tidak akan menikah. Ia bertekad untuk membesarkan dan membahagiakan Sasa, anak mendiang sahabatnya. Suatu ketika ia bertemu Tony, pria yang mengantarkan Sasa pulang dari sekolah. Pertemuan itu tanpa terduga terus berlanjut. Sasa pun merasa sayang pada Tony, bahkan mengakuinya sebagai papa-nya di depan teman-teman sekolah. Baik Anna maupun Tony menyadari, ada sesuatu yang mulai berubah. Namun, trauma di masa lalu masih membayangi
"Barangkali obat lupa atau alat penghapus ingatan buruk yang paling manjur dan canggih adalah membuat ingatan baik sebanyak-banyaknya. Dengan demikian ingatan baik itu bisa melawan lalu mengalahkan ingatan buruk."
Teman-teman, silakan membaca novel DIARY GAMOPHOBIA dan berkenalan dengan Anna, Tony, Sasa. Mereka akan membawamu ke masa lalu, membuka luka terpendam, lalu berusaha menemukan cara untuk mengobatinya.
Melalui novel ini kita akan tahu bagaimana perasaan pengidap gamofobia, serta apa saja yang melatarbelakangi trauma mereka.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Gamophobia atau fobia pernikahan bukan tema baru. Kali ini yang diangkat tentang kehidupan pelukis single mother dan pemilik galeri lukisan kaya raya yang baik hati.
Bagian awal lebih banyak pengenalan tokoh dan pembangunan chemistry Sasa-Anna-Tony. Setengah awal lumayan flat, lalu baru mulai greget menjelang pertengahan. Sementara rahasia Anna dan Tony diungkap menjelang ending.
Penulis menggunakan Pov 3, bergantian antar tokoh, dan lebih banyak deskripsi. Aku agak terganggu dengan alur yang kurang sistematis, maju-mundur, flash back tanpa keterangan.
Dari segi bahasa cukup nyaman diikuti dan nyaris tidak ada typo. Sayang sekali setting lokasi di Bandung kurang dieksplor, hanya di kebun strawberry dan Taman Pustaka Bunga Kandaga Puspa.
Format novel ini seperti umumnya; deskripsi-dialog, serta diselingi isi diary Anna.
Mengingat ada tokoh Daisy dan Roy yang kurang banyak mendapat porsi sebagai tokoh pembantu, menurutku cerita masih bisa dikembangkan dan dikemas dengan lebih rapi.
Takut pernikahan bukan hal yang baru. Beberapa kali saya bahkan kenal dengan orang terdekat yang takut menikah. Sama seperti Anna, masa lalu masih terus membayangi mereka. Dan semuanya bermula dari hubungan kedua orang tua mereka.
Kami sebagai anak selalu dilarang ikut campur ketika orang tua sedang bertengkar atau ada masalah, tapi sesungguhnya kami adalah pihak yang paling dikorbankan dan paling disakiti! (hlm. 156)
Hiks saya jadi ingat tulisan sendiri di blog Celoteh Bunda. Bahwa semua hubungan bermula dari keluarga. Ketika keluarga sehat, maka semuanya berjalan dengan lancar. Tapi ketika keluarga rapuh, maka yang ada semua saling mencari pelarian 😭