Dari dulu saya bertanya-tanya kenapa saya gak pernah bisa lanjut baca seri ini padahal udah suka Shimizu Sensei sejak baca Ze. Pas baca ulang ini, akhirnya saya sadar kalo saya selalu berhenti baca di jilid ini. Alasannya: gak tahan sama couple Daiki x Sawato.
Saya beneran geregetaaaan banget sama sikap tsundere-nya Sawato. Oke lah kalau dia cuma ngomel-ngomel karena malu ala karakter tsundere kebanyakan, tapi dia seriiiing banget main tangan sama Daiki! Dikit-dikit nampar, dikit-dikit mukul. Bahkan gara-gara sikap tsundere-nya yang overload itu, dia sampai bikin Daiki jatuh dari tebing! (Coba kalau Sawato menghilangkan ke-tsundere-annya pas di gubuk tengah gunung itu dan gak langsung lari di tengah hujan, dia gak bakal kepleset di tebing dan gak bakal bikin Daiki luka parah gara-gara menolongnya!) Sikap si Sawato ini bikin saya naik pitam, meski adegan dia gigit-gigit Daiki itu manis (soalnya, ngelawan dengan gigitan itu sering kali dilakukan anak kecil pas ngelawan orang dewasa, jadi keliatan manis), tapi selain adegan gigit itu sisanya bikin saya jengkel berat.
Daiki-nya juga bukan tipe seme favorit yang sampai-sampai bisa bikin saya memaafkan(?) sikap tsundere Sawato yang kelewatan. Jadi, couple ini bener-bener memberatkan saya ||orzzzz Pantesan dari dulu saya selalu kesulitan menyelesaikan jilid ini. Yang kali ini pun saya banyak skip-skip bagian couple Daiki x Sawato ini.
Oh iya, di Ze kayaknya Sensei gak bikin karakter se-tsundere Sawato. Palingan ada uke-nya si kembar--yang saya lupa namanya ||orz--itu pun dia hanya figuran, jadi gak terlalu banyak muncul dan kayaknya kadar tsundere-nya gak separah Sawato (mungkin karena tipe hubungan mereka di Ze itu master-servant juga sih).
Sawato e Daiki si avvicinano sempre di più creando uno strano rapporto dove non mancano però divertimento, ed incomprensioni. Con anche un pizzico di gelosia che non ammetteranno mai... Però per Sawato è un problema il suo assomigliare tanto alla defunta nonna, e non sopporta i costanti riferimenti alla sua femminilità da parte di Daiki. Ma tra promesse e scommesse e incidenti vari, i due si avvicinano e dimostrano di piacersi fino al giorno in cui tutto cambia e Sawato avrebbe voluto che non fosse mai arrivato.... Un bel flashback che sta raccontando bene l'instaurarsi del rapporto tra Sawato e Daiki giungendo fino a quel giorno da lui rimpianto è lasciandoci con il fiato sospeso. Mi è piaciuto molto questa evoluzione del loro rapporto, lento ma realistico. Inoltre vediamo come Hitomi inizia a pensare di venire nella clinica del paese e vengono introdotti i personaggi di Hiroki e Mikihisa in maniera spontanea e non forzata e sono sicura che anche questi due ci daranno gioie.
C'est plus décent que ce que j'ai lu ces derniers temps. Un ensemble de romances cohérentes et qui donne envie d'en savoir plus même si on revient souvent a des clichés perpétuels ( mais qui font du bien :p)
Les scènes de sexe sont bien faites aussi , on tombe toujours dans les mêmes retors ( je jouis 5 fois pendant ma première sodomie yeah ) mais la je fais mon rageux et certains passages m'ont même prouvées qu'il y avait une évolution dans les exagérations du boy's love donc a suivre.