“Aku bisa merasakan sesuatu yang ada di balik celananya mengeras dan terus mengeras hingga aku berharap itu akan segera meledak dan pecah, berceceran di atas kasur, di lantai kamar.”
Alasan utama saya membeli buku ini adalah untuk mendukung penulis dan juga penerbit independen. Novela atau novel pendek ini berkisah tentang seorang perempuan berumur 21 tahun yang (baru) bekerja di sebuah toko ikan. Pada toko ikan itu terdapat sebuah ikan arapaima, sebuah ikan yang panjangnya bisa 2 hingga 4 meter dengan berat bisa mencapai 200 kilogram.
Karakter utama tersebut, katanya memiliki banyak rahasia yang paling misterius hingga paling tragis. Pembaca disajikan dengan cerita bersudut pandang pertama dari karakter utama itu, dengan alur maju. Kita akan menyaksikan kejadian-kejadian yang ia lakukan, juga konsekuensi yang ia terima.
Katanya, novel ini tentang ketidakadilan perempuan pekerja. Namun saya merasa novel ini tak penting apakah karakter utama bervagina atau berpenis. Ganti karakter utama, tidak akan berpengaruh. Saya merasa karakter utama ini adalah “snow-flake”. Dikutip dari Wikipedia, kata slang ini artinya “Derogatory slang term for a person, implying that they have an inflated sense of uniqueness, an unwarranted sense of entitlement, or are overly-emotional, easily offended, and unable to deal with opposing opinions.”.
Saya tidak tahu, apakah yang penulis maksudkan adalah perempuan-perempuan di sekitar si karakter utama. Kalau iya, maka setuju, saya lebih merasa berempati dengan teman-teman si karakter utama seperti Rahma; tetangganya di rumah susun dan Leni; teman kerjanya yang dulu ia kira judes. Mereka menjadi korban atas si unik atau si enigma karakter utama ini.
Kenapa saya sebutkan snow-flake? Pertama, kejadian-kejadian dalam novel ini terjadi karena kesadaran dan niat dari karakter utama. Kedua, pembaca tidak akan tahu mengapa si karakter utama ini bisa berbuat demikian. Ketiga, karakter utama ini sensitif, bisa marah tiba-tiba.
Misalnya, mencuri sesuatu yang sulit atau butuh usaha untuk mencurinya. Bahkan melibatkan beberapa orang. Yang saya heran, kenapa kok si karakter utama ini mau mencuri hal tersebut; terkesima kan?, terus kalau sudah dicuri mau di apakan kah?. Ataukah dia memiliki trauma masa lalu yang sulit dijelaskan dan butuh diterapi?
Yang membuat novel ini memang tentang perempuan, mungkin adalah adegan di mana karakter utama digodai oleh seorang laki-laki. Iya, sekalipun digoda atau dilecehkan tidak eksklusif dirasakan kaum hawa saja ya.
Kesimpulannya, membaca novela ini rasanya seperti melihat akuarium dengan ikan yang tampilannya pun biasa saja. Melihat boleh, dan tentunya kita tak akan mengerti apa yang mereka lakukan apalagi yang mereka pikirkan. Terserah mereka.
Alasan kenapa saya menulis resensi ini, ya berarti saya masih punya sisi yang saya cukup suka dari buku ini. Plotnya lumayan menarik. Bisa menjadi novel dengan halaman lebih banyak asal tokoh-tokohnya lebih digali. Saya juga penasaran dengan tulisan Ruhaeni Intan yang selanjutnya, kabarnya ia sedang menulis kumpulan cerpen tentang ingatan perempuan paska-reformasi.
Ulasan lebih panjang akan saya tulis di Tragatra.com (semoga nanti malam beres).
Selamat untuk debutnya! Sejujurnya, saya tertarik membeli buku ini karena saya dan adik saya dulu pernah berbincang sedikit mengenai ikan arapaima yang sering muncul di Youtube...waktu pertama kali melihat di Youtube, ikan arapaima ini memang perawakannya seperti ikan zaman purba, bentuk kepalanya itu loh yang mirip dengan ikan-ikan di acara teve "Walking With Dinosaurs" yang pernah saya tonton dulu ketika zaman-zaman masih SMP...jadi kangen dengan acara-acara ilmu pengetahuan seperti itu muncul lagi di masa sekarang...
Kalau dari ceritanya sendiri, penggunaan bahasa yang digunakan enak dan mengalir, pemilihan diksinya tidak rumit, plotnya kalau menurutku juga rapih, bahkan menurutku, hampir semua orang bisa menikmati buku ini tanpa harus berpikir keras, khas Mojok sekali nampaknya...cara membangun dialog antar tokohnya juga cerkas...kalau kritik dari saya mungkin adalah setelah tokoh "aku" melakukan percobaan pembunuhan terhadap salah satu tokoh dalam novel ini, tokoh "aku" ini mengalami halusinasi, yang agak mengingatkan saya pada novel Andina Dwifatma yang Semusim dan Semusim Lagi, mungkin bisa dicari cara yang lebih kreatif untuk menggambarkan kegilaan...tapi secara keseluruhan novel ini bagus, mudah-mudahan banyak yang baca novel ini...
Seorang perempuan akhirnya tidak menganggur lagi karena ia sekarang bekerja di toko ikan. Namun, ketika satu masalah teratasi, masalah-masalah kehidupan lainnya muncul. Ia Di toko tersebut, ia menemukan seekor arapaima berukuran besar, berandai-andai kalau ikan itu betul-betul membawa hoki, dan berpikir kalau-kalau ikan yang berasal dari Amerika bagian selatan itu dapat mengatasi masalah-masalahnya.
Kisah slice-of-life yang canggung, sedikit tanggung, dan masih menggantung. Bagaimana dengan nasib si arapaima di kolam itu? Namun, setidaknya, saya menikmati kisah sang perempuan yang mempertanyakan apa lebih baik menjadi manusia atau menjadi ikan saja.
Belum pernah ketemu buku yang penulisnya perempuan dan enak dibaca lagi setelah Fantasia Impromptu. Tapi yha, penantian saya akhirnya terlunaskan setelah tuntas membaca buku Mbak Intan ini. Matang dan menyenangkan, karya Mbak Intan ini mudah diikuti buat saya yang nggak terlalu pintar serta selalu panik saat buku-buku lain mencecar dengan banyak istilah aneh, emosi meledak-ledak, atau yang nadanya merendahkan kecerdasan saya. Hehe. Saya menunggu karya-karya selanjutnya dari Mbak Intan. ❤
Sebagai sebuah bacaan singkat, tulisan ini cukup pintar membawa kita keluar dari kehidupan kita sendiri dan masuk ke sebuah akuarium tempat para tokoh ini hidup dengan cerita mereka masing-masing. Ketika membaca cerita ini, saya sempat berpikir bahwa ceritanya "aneh". Tokoh-tokoh di sini melakukan hal-hal yang sepertinya tidak akan betulan terjadi di kehidupan nyata. Tapi kemudian saya mengubah pandangan itu dan mulai berpikir bahwa bisa saja orang-orang seperti dalam cerita ini bukannya tidak ada di kehidupan nyata, tapi saya saja yang kurang jeli dan kurang telaten memerhatikan dunia di sekeliling saya.
Gaya penceritaannya gak muluk-muluk, gak kebanyakan gaya. Cukup lugas. Apa yang perlu diceritakan, ya diceritakan saja tanpa perlu mencoba membungkusnya dengan perumpamaan-perumpamaan yang rumit.
Sepanjang cerita dalam buku yang tidak terlalu panjang ini, kita diajak melihat kehidupan yang ada di sebuah toko ikan hias. Bagaimana seekor ikan arapaima harus berbagi ruang dengan ikan-ikan lainnya di sebuah kolam yang bahkan tidak bisa dibilang sebagai miniatur tempat tinggal aslinya. Juga bagaimana kehidupan cupang-cupang bisa begitu tergantung pada ketelitian dan keteledoran pegawai toko. Pembaca bisa saja tergoda untuk jadi kasihan sama ikan-ikan itu. Namun, di akhir cerita, kita boleh jadi mulai menyadari bahwa kita juga gak jauh beda sama ikan-ikan itu. Kita hidup dalam akuarium kita masing-masing. Bentuknya mungkin beda-beda, dari bangunan sekolah, rumah, atau perkantoran dengan kaca yang menunjukkan pemandangan kota. Apa pun bentuk luarnya, yang jelas akuarium itu bikin kita gak bisa bebas bergerak. Sama seperti arapaima di toko ikan hias dalam cerita ini.
Arapaima merupakan karya debut Ruhaeni Intan. Novela ini bercerita seorang perempuan penjaga toko ikan hias yang memelihara arapaima, seekor ikan liar dari sungai Amazon. Walaupun judulnya adalah nama ikan, novela ini tidak bercerita tentang ikan tersebut. Namun, Intan bercerita si tokoh aku — sebagai perempuan — saat bekerja di toko tersebut dan sempat mendapat pelecehan seksual dari atasannya. Si tokoh aku selamat dari si bos setelah menghantamkan kaca ke kepala atasannya tersebut. Si aku berhasil selamat dan pergi tak kembali lagi ke toko yang memberinya pekerjaan tersebut.
Selain itu, si aku terlibat dalam hubungan terlarang suami temannya sendiri. Sebuah kompleksitas perempuan yang hidup dalam himpitan dunia kerja dan tentu saja budaya patriarki yang mengakar kuat dalam masyarakat. Novela ini tidak menampilkan nama-nama atau identitas kota tertentu. Namun, jelas bahwa novela ini berlatar urban yang sudah menampilkan angkutan umun dan rumah susun. Selain itu, plot cerita juga sederhana dan memudahkan pembaca untuk mengingat alur cerita. Selain itu, novela ini dengan sadar ditulis oleh seorang perempuan dengan perspektif perempuan.
Sastra Indonesia mesti memperbanyak cerita sehari-hari tentang pekerjaan manusianya. Lewat "Arapaima", kita diajak masuk ke semesta pegawai toko ikan hias. Meski, perlu diakui, semesta itu rumpang. Tidak banyak yang terkatakan tentang bisnis toko ikan hias. Bandingkan dengan "Nakano Thrift Shop" Hiromi Kawakami yang dari sana kita bisa melihat toko loak bekerja.
Namun itu bukan masalah besar. Titik tekan novela ini adalah tentang perasaan terombang-ambingnya kelas pekerja di tengah job scarcity yang membuat kita sulit betul mengatakan tidak kepada lowongan pekerjaan. Keseharian pekerja (perempuan) justru menemukan keutuhannya di luar tempat kerja: sepotong kehidupan rusun dan kota di hari libur (liburnya UMKM adalah Senin!).
Yang jadi masalah besar, bagi saya, adalah plot-hole yang tidak semestinya ada dalam karya super-pendek. Tidak ada penjelasan tentang bibit lele yang ditanam "Aku" di septictank rusun. Tidak ada penjelasan tentang affair "Aku" dan suami tetangga rusunnya; bukan ration d'etre, bahkan sebatas lanjaran emosi pun tidak ada, yang menjelaskan dari mana geletar main serong itu bermula.
Menyelesaikan novela ini dalam 3 jam, aku menikmati di bagian tengah menuju akhir. Yang aku tangkap di setiap potongan-potongan bagian novela ini, ada pesan pemikiran dari penulis yang terselip ketara. Jika kau tak bisa menemukannya, maka bacalah kembali karena justru itu yang membuatku ingin terus membuka halaman-halaman selanjutnya. Aku sejujurnya tidak peduli dengan plot-plot kosong yang dihadirkan; walau cukup mengganggu sebenarnya- sangat. Aku lebih menikmati novela ini dengan cara mengandaikan apa yang aku lakukan dan perasaan seperti apa yang akan terjadi jika aku berada di posisi sang tokoh.
Terlepas dari sebuah awal yang cukup membuatku "hah-hoh", akhirnya toh aku bisa menikmati dengan caraku sendiri. Aku menyelam jauh seperti Paus cuvier, lalu tak terasa menjadi perenang cepat seperti Marlin Hitam, dan berpikir jauh seperti petualangan ikan Paus Bungkuk.
Oh iya, aku bertemu Intan di konser Melbi beberapa bulan lalu dan berujung menemukan novela ini.
feels like watching a movie with the slice of life genre, but we don't have any clue about the main character🤷♀️ why does she have such impulsive behavior? why is she so obsessed with the fish? why is she dating a married man? wallahu alam. karena buku ini masuk kategori novela (versi pendek dari novel), buku ini habis aku lahap hanya dalam kurun waktu satu jam, alias sekali duduk bisa langsung selesai.
btw aku juga suka cara berceritanya Mbak Intan di sini, tp tetep, aku merasa banyak missing link di alurnya jadi rasanya kayak lagi baca kepingan-kepingan cerita/fragmen yg kemudian dijadikan satu, merasa banyak bagian yang bolong aja. but thank to Mbak Ruhaeni Intan, i really enjoyed my reading time, the book really helps me to stay focused and less anxious hahaha!
(ide ceritanya dijadiin film pendek seru nih kayaknya...)
Saya enggak terlalu nyaman ngasih review buat penulis yang masih hidup, apalagi kenalan, meski cuma kenal lewat Twitter. Sebagai karya debut, perlu diapresiasi. Pemilihan kehidupan tokoh utama yang seorang karyawan perempuan di toko ikan hias sangat menarik, namun kurang tergali. Banyak hal menarik lainnya, seperti obsesi pada Arapaima, kehidupan di rumah susun, selingkuh dengan tetangga, lingkungan kerja yg menciptakan kekerasan seksual, namun ini pun kurang tergali. Pembangunan konflik cerita pun terkesan datar saja. Soal dialog pun terkesan kaku, seperti kalimat novel terjemahan.
Menghabiskan akhir minggu dan awal bulan dengan membaca novela ringan ini namun sarat akan makna kehidupan yang umumnya terjadi di masyarakat sekitar. Menyelipkan karakter binatang, khususnya ikan, pada cerita ini membuat novela ini jauh lebih menarik untuk dibaca di waktu luang. Mba Ruhaeni berhasil menciptakan suasana baru dengan menggunakan “Arapaima” sebagai objek utama yang menarik novel ini.
Rasanya bintang 4,1/5 cukup untuk mengaspresiasikan novela yang menghibur sekaligus menggelitik hati tentang makna kehidupan antar kelas manusia.
Karakter utama dingin dan stress, masalah utamanya di dia, nyebelin, gak nyangka dia nyebelin. Bintang 3 karena jengkel sama karakter utama, juga teori kehidupan yang ia ceritakan ke Leni tidak di-elaborate. Arapaimanya sendiri, juga ikan-ikan lain yang disebutkannya karena bekerja di toko ikan hias masih bisa dibahas-bahas. Sayang cuman kayak isi-isian padahal itu judulnya. Karena tipis dan bahasanya ringan jadi cepat selesai sih. Tetap penasaran tulisan Ruhaeni Intan lainnya karena aku suka cerpen dia yang di Museum Teman Baik
buku pertamaku yang penuh dengan plot twist yang bahkan aku sendiripun tidak menyadarinya. di ujung cerita membuatku tersadar bahwa apapun yang berada sangat dekat ataupun erat denganku bisa menghancurkanku. mengajarkan ku untuk tidak menyandarkan hidup pada seseorang, sekalipun orang yang bersamaku disaat aku susah dan senang. buku yang mengajarkan ku untuk terus berhati hati dengan siapapun tidak perlu percaya pada siapapun.
Mengisahkan tokoh perempuan yang menjaga toko ikan, terobsesi dengan ikan arapaima dan kisah selingkuhnya. Tentu saya harus mengapresiasi karya pertama Ruhaeni Intan dengan jempol, meskipun masih banyak hal yang bisa digali dari novela ini, seperti konflik yang kurang nendang si tokoh utama dengan tokoh lainnya, hingga kisah kehidupan buruh kecil yang hidup di rusun
Saya belum bisa menemukan benang merah antara ikan arapaima yang menarik hati si tokoh "aku" dan kehidupan sehari-hari beserta berbagai rahasia yang "aku" simpan. Mungkin ada yang bisa membantu menjelaskan?
Namun untuk karya debut, buku ini menarik. Saya dibuat penasaran dan ikut cemas ketika rahasia si "aku" mulai terbuka satu per satu.
sedikit absurd, sedikit kiri, dan sedikit ngeseks. menjawab ungkapan "capek jadi manusia, pengen jadi ikan aja. gak punya pikiran, gak punya perasaan, cuma blublublublub aja." hanya 92 halaman, dibagi dalam 16 bab-bab kecil. cocok dibawa-bawa pas jalan dan dibaca sambil nunggu sampai tujuan atau kalau lagi nunggu antrian.
Aku suka penokohan dan ide penulis. Dari begitu banyak profesi, karyawan toko ikan hias pun menjadi masuk akal. Benar-benar menceritakan slice of life. Ada plot twist, yang menurutku mudah sekali ditebak. Tapi aku suka, penggambaran tokoh-tokohnya dan masalah-masalah kehidupan lainnya.
Beli buku ini di Pasar Buku Jogja, awal Des tadi. Tentu lah kubawa ke kasir karena 20rb aja harganya. Novela yang menarik. Sayangnya terlalu pendek nih.
Novela ini mengingatkanku sama novel Gadis Minimarket. Tapi, ini lebih dark soalnya tokoh utama terlanjur kena mental sama kehidupannya. Jadi, pas baca semacam ini orang kasihan tapi ada aja kelakuannya biar gak dikasihani. Secara interaksi sama tokoh lain tuh sebenarnya bisa ditemukan di kehidupan asli kita, cuma sungkan buat diceritakan karena aib dan lainnya.
Dengan menggunakan simbol Arapaima ini, rasanya si ikan Arapaima dan ikan-ikan lainnya cuma jadi alesan tokoh utama saja buat berlaku gila karena capek sama kehidupannya. Terus dia berhalusinasi jadi ikan dan blablabla habis getok kepala bosnya tuh terlalu liar kamu, mba. Sukses deh penjual ikan dan semua pegawainya.
Kerennya, buku setipis ini buat aku bangkit dari reading slump. Ya gak juga sih, karena vibesnya mirip novel Sayaka Murata saja, hehe. Tapi, oke lah kalau mau dikoleksi atau mulai baca fiksi tipis-tipis.
Arapaima karya Ruhaeni Intan berkisah tentang seorang perempuan berusia 21 tahun yang bekerja di sebuah toko ikan. Di toko tersebut, terdapat ikan arapaima, ikan besar yang bisa mencapai panjang 2 hingga 4 meter dan berat hingga 200 kilogram. Perempuan ini memiliki berbagai rahasia, dari yang paling misterius hingga yang paling tragis, dan menghadapi berbagai masalah dalam hidupnya.
Karakter utama dalam novela ini adalah seorang perempuan muda yang bekerja di toko ikan. Ia digambarkan memiliki berbagai keanehan, seperti keinginan mencuri ikan arapaima dan berselingkuh dengan suami orang lain. Keanehan ini semakin jelas ketika ia berhalusinasi bahwa semua penumpang bus yang ditumpanginya adalah ikan.
Melalui narasi yang ringan namun bermakna, penulis berhasil menyajikan realita kehidupan sehari-hari perempuan kelas pekerja dan siasat-siasat mereka untuk melawan ketidakadilan.
Tiba-tiba si Besar yang ada di dalam kolam itu meloncat dan membuat bocah yang tengah memegang galah kaget hingga terjerembab ke dalam kolam. Jantungku berdebar kencang. Kawannya sibuk berteriak minta tolong. Aku tercekat dan malah tidak mampu bergerak. Beberapa pengunjung mulai mendekat. Seseorang di antara mereka tiba-tiba melompat ke dalam kolam yang keruh. Suasana menjadi begitu kacau. Mereka melempari ikan itu dengan batu.
"Ikan siluman!" "Lihat ikan itu mau memangsa mereka!" "Tangkap!" "Iya, tangkap!"
📚 Arapaima Penulis: Ruhaeni Intan Penerbit: Buku Mojok 94 halaman
Review:
Arapaima adalah ikan predator dari Amerika Selatan yang berat tubuhnya bisa mencapai 200 kilogram dengan panjang dua hingga empat meter. Monster itu hidup di perairan air tawar sejak zaman prasejarah dan banyak diburu. Arapaima termasuk spesies ikan yang dilarang masuk ke Indonesia karena ia ikan yang rakus.
Buku ini berkisah tentang si "Aku" yang menjalani hidupnya tanpa terjebak dalam keluhan-keluhan klise. Bersinggungan dengan tokoh lainnya yang bernama Kak Pri, Rahma, dan Leni. Ruhaeni Intan berusaha menghadirkan realita ketidakadilan yang melingkupi perempuan pekerja dan ancaman-ancaman yang mengintai. Dengan tebal hanya 94 halaman, novela ini sangat pas menjadi bacaan santai, karena bisa sekali duduk dan selesai.
📨 Pesan dari halaman 46:
Membayangkan sebuah mall dengan area parkir yang panas di bawah. Gedung megah ini adalah dunia tempat kita sekarang menjalani hidup. Tempat yang paling bawah, lahan parkir, adalah tempat kita tinggal dan menjalani kehidupan selama ini. Panas, pengap, sangat sedikit udara, dan mencekik. Kita menanggung penderitaan dari kehidupan menyenangkan yang berada di atas kita.
aku nemuin kekuatannya di narasi, meski ada kata atau imbuhan yang bisa hilangkan di bagian awal buku. tapi semakin ke belakang narasinya semakin asyik menunjukkan betapa narasi adalah kekuatan utama ruhaeni buat arapaima, meski kesatuan gaya dialog dengan narasinya sempat mengganggu bunyi dan terkesan ganjil, terutama untuk momen-momen jenaka. tapi, tutur dialog yang begitu justru masuk akal dipertahankan, terutama buat bagian tokohnya ngasih pandangan tentang hidup saat berada di mall.