Marja, apa itu cinta? Cinta adalah pesawat luar angkasa di tengah semesta sunyi senyap yang mendapat sinyal bersahabat. Pertanyaan yang menemukan jawab. Petunjuk bahwa kita tidak sendiri di muka bumi. Asmara membakar, sementara cinta menerangi.
Justina Ayu Utami atau hanya Ayu Utami (lahir di Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968) adalah aktivis jurnalis dan novelis Indonesia, ia besar di Jakarta dan menamatkan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Ia pernah menjadi wartawan di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan, dan D&R. Tak lama setelah penutupan Tempo, Editor dan Detik pada masa Orde Baru, ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen yang memprotes pembredelan. Kini ia bekerja di jurnal kebudayaan Kalam dan di Teater Utan Kayu. Novelnya yang pertama, Saman, mendapatkan sambutan dari berbagai kritikus dan dianggap memberikan warna baru dalam sastra Indonesia.
Ayu dikenal sebagai novelis sejak novelnya Saman memenangi sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Dalam waktu tiga tahun Saman terjual 55 ribu eksemplar. Berkat Saman pula, Ayu mendapat Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag, yang mempunyai misi mendukung dan memajukan kegiatan di bidang budaya dan pembangunan. Akhir 2001, ia meluncurkan novel Larung.
Ayu perlu jualan sayur di pasar sore, karena buku ini berhasil menjadi tulisan Ayu Utami yang paling bertele-tele.
Sebagai orang Jawa, yang diperkenalkan dan tertarik pada kesusastraan dan tradisi Jawa, saya bisa mengikuti penjelasan Ayu - walaupun jujur bagi saya terasa sangat melelahkan dan seperti cerita yang dipanjang-panjangkan dengan topik yang terus menerus diulang-ulang. Berangkat dari Narasi Dewa Ruci, Ayu lantas menjelaskan tentang rasa dari pendekatan dulur papat lima pancer. Penjelasan ini lantas berkembang menuju nafsu, Punakawan, hingga Pancasila. Dalam penjelasan yang memuat khazanah referensialnya yang sedemikian luas, mulai dari Sudamala hingga Syeh Siti Djenar, Ayu tidak beranjak dari tema yang sudah digaungkannya dalam Bilangan Fu serta anak-anaknya, Simple Miracle, hingga dua seri Menulis dan Berpikir Kreatifnya, spiritualisme kritis. Menjadi spiritualis berarti tidak berarti kehilangan kekritisan, vice versa.
Saya bisa mengerti mengapa tema ini menjadi begitu penting bagi Ayu, dan bagi konteks relasi khususnya beragama dan berilmu hari ini, karena nyatanya kekerasan atas nama agama dan ilmu pengetahuan yang sistemik kemudian merajalela di mana-mana. Namun, tak ada insight yang benar-benar baru, jika kita rutin mengikuti tulisan, ceramah, dan video Ayu Utami sendiri. Ayu benar-benar memeluk Spiritualisme Kritis sebagai agamanya. Dan agaknya Ayu hendak mengatakan bahwa jalur yang diimaninya ini adalah jalur yang tak dapat salah. Kesalahan terjadi karena tendensi untuk menyimpang terlalu banyak ke sini atau ke sana. Namun sayangnya dalam penjelasan Ayu yang sedemikian panjang - ya saya harus berkali-kali mengatakan panjang, karena memang sangat panjang - tentang rasa itu, saya justru merasa bahwa Ayu tidak bisa melepaskan diri dari moralitas baik buruk, benar salah, yang dikritiknya sendiri. Ayu masih membangun moralitasnya dengan kerangka yang linear progresif dualistis. Ada suatu jalan yang nanti, jika ditempuh dengan disiplin spiritual, akan mengarahkan pada sebuah puncak rasa sejati, yang tertentu. Jalan itu sekaligus menjadi tujuannya. Dia berbicara tentang rasa yang mistikal, tetapi caranya sendiri jauh dari mistikal, dia tetap memilih metodologis. Ya saya mengerti, karena dia berusaha berbicara pada generasi milenial - yang dianggapnya serba permukaan dan bodoh, atau polos lah meminjam bahasa Ayu.
Ayu memang tidak terjatuh pada trivialize kejawaan (atau bisa jadi sebenarnya demikian, karena dia meletakkan kejawaan di bawah payung spiritualisme kritis yang diagung-agungkannya), tapi sebagai pembaca yang terpesona dengan Bilangan Fu dan serialnya, saya patut kecewa, karena buku ini menurunkan kekayaan simbolik dan bahasa yang dimilikinya sebelumnya. Entahlah, membaca ini, kejawaan bagi saya justru sangat terasa mekanistik. Berbicara tentang mistik, Ayu tak memberikan kesempatan bagi misteri untuk tetap menjadi misteri karena keterbatasan manusia mengerti misteri. Dan bahwa misteri sebutlah paling mungkin didekati dengan seni. Tapi buku ini rasanya sangat jauh dari kategori seni yang kita kenal dari orang sekelas Ayu Utami.
Buku ini tetap relevan, menarik (bisa jadi untuk sebagian orang), dan memberikan banyak informasi. Namun, untuk seorang Ayu Utami saya berharap lebih. Sebutlah hari ini kalau berbicara etika dalam kerangka yang pascamodern kita sudah mengenal etika tanpa moralitas, identitas naratif, filsafat proses, dan penghargaan atas pragmatisme, yang mendekati berbeda dari pendekatannya. Semoga Ayu beranjak dari keinginannya mengutak atik ruang yang sama terus menerus, atau berusaha mendekati jalan spiritualisme kritis dengan cara yang lain. Jual sayur di pasar sore misalnya - ya saya mengulangnya dua kali karena ini harapan: do something else, please. Jika tidak, serial Bilangan Fu berikutnya dan tulisan-tulisannya berikutnya bisa jadi menjadi tulisan yang tidak lagi mencerahkan dan menghentak.
Saya pernah jatuh cinta pada Parang Jati, tapi buku ini membuat saya tak lagi tertarik kepadanya, dia tak lebih dari seorang moralis membosankan.
Anatomi Rasa adalah seri spiritualisme kritis yang kedua setelah Simple Miracles: Doa & Arwah. Buku pertama memandang spiritualisme kritis dari sudut pandang agama Katholik, sedangkan buku kedua dari kacamata Kejawen.
Tak banyak konsep baru yang ditawarkan selain penjabaran definisi Rasa yang repetitif. Sastra, menurut Ayu, adalah usaha mencari bentuk estetik bagi kejujuran. Di sini, bentuk estetika itu tidak kental terasa. Buku ini lebih cocok disebut textbook ketimbang sastra. Dari awal, pembaca disuguhkan pemikiran-pemikiran Parang Jati tanpa ada sisi fiksi sama sekali. Ayu membuat buku ini seakan-akan tulisan Parang Jati, dan dia hanyalah sang "editor". Mungkin di situ letak fiksinya. Tetapi sepanjang saya membaca, saya merasa itu adalah suara Ayu - bukan Parang Jati. Terlebih, buku ini ditujukan kepada Marja, sahabat sekaligus cinta tak sampainya. Namun, keintiman tulisan ini hanya sesekali saja dijumpai. Sisanya adalah pemaparan pemikiran Parang Jati alias Ayu itu sendiri.
Kalau saya mebandingkan dengan buku sebelumnya, Simple Miracles, ini jauh berada di bawahnya. Simple Miracles menawarkan konsep religiusitas yang hangat dengan balutan cerita, meskipun kisah nyata penulis sendiri, yang manis.
Meskipun demikian, karena ini Ayu Utami, saya tetap penasaran dan menantikan seri spiritualisme kritis ataupun seri Bilangan Fu yang lain.
Bawang raksaksa yang dikupas dengan silet tumpul memang membutuhkan waktu-tenaga yang luar biasa. Ibarat bawang raksaksa denga kulit berlapis-lapis membuat repetisi bahkan seperti semua pecahan / serial Fu ini memberi efek menjemukan.
Keistimewaan yang masih terjaga adalah bagai manah ngototnya penulis tentang spiritual kritis sebagai ‘isme’. Saking ngototnya, teks terasa berjarak amat jauh oleh saya sebagai pembacanya. Duh gusti... buku ini sangat berjasa untuk pembaca yang ingin menguji kesabarannya. Menyelesaikan novel ini seperti sebuah pencapalan yang tinggi, setinggi panjatan gunung.
Banyak khotbah sebenarnya tak ada masalah. Penjelasan yang bahkan seperti mengutip membuat lapisan kulit bayang pedas di mata, tapi membaiar kesabaran; mengapa harus seberputar-putar itu menjelaskan cerita dengan kepungan bahasa filsafati. Novel ini sangat berjasa untuk menguji seberapa tabahnya saya pribadi (sebagai pembaca awam nan bodoh) dalam perayaan pembacaan karya sastra.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku ini berbicara mengenai struktur dan mekanisme Rasa, suatu karakter (Ayu menyebutnya DNA jiwa purba Jawa atau Roh Nusantara) yang bersifat terbuka, senantiasa bergerak menuju keselarasan dan penyatuan, serta memungkinkan sikap sinkretis sebagai bagian dari upaya sintesis. Beberapa pembaca menilai apa yang Ayu tulis bertele-tele dan repetitif, tapi menurut saya, topik yang ia angkat memang harus dibedah pelan-pelan. Dan, Ayu bisa menuliskannya dengan baik dan sistematis.
Ayu jelas memiliki misi khusus: mengenalkan struktur dan mekanisme rasa sebagai bagian dari spritualisme kritis, sikap spiritual tanpa mengkhianati sikap kritis. Seluruh isi buku ini mengarah ke sana. Sebagai pembaca, saya menikmati caranya membangun dan memperkuat idenya, tanpa serta-merta menempatkannya sebagai suatu keniscayaan, apalagi doktrin atau dogma, bentuk yang ia lawan juga.
Secara nakal, malah bisa dipertanyakan, apakah upayanya memperkenalkan Spiritualisme Kritis ini juga termasuk syahwat akan kebenaran atau tidak? Semoga saja tidak. Atau, kalaupun iya, latar belakang yang menuntutnya bisa diterima karena merupakan keprihatinan objektif. Yang jelas, upayanya ini juga memerlukan pemurnian, yang mekanismenya ia jelaskan sendiri dalam buku ini.
Setelah cukup lama menantikan lanjutan seri Bilangan Fu akhirnya buku ini keluar. Parang Jati adalah tokoh favorit saya. Berharap dalam buku ini ia akan menyampaikan rindu atau cintanya kepada Marja dengan mengupas tuntas mengenai apa itu rasa. Namun buku ini lebih seperti tinjauan pustaka, membaca apa itu rasa dari berbagai aspek dari kebatinan, sejarah hingga filsafat. Terlalu banyak pengulangan pembahasan di dalamnya. Tidak mudah saya pahami, karna seperti membaca rangkuman teori. Rindu saya pada Parang Jati tak terbalaskan 💔
Konsep yg disajikan sebetulnya menarik. Mengingatkan pada mandala Jung dan bisa dielaborasikan dg konsep transpersonal.
Berasa membaca non fiksi yg melelahkan sebetulnya. Apalagi konsep nafas, nafsu, dan syahwat yg selalu disummarize dan diulang. Di satu sisi jadi semakin memperkuat pemahaman, tapi jadi membosankan.
Sebaiknya dibaca ketika hati sdg bahagia shg bisa bersabar ketika membaca.
Konsep buku ini sebenarnya menarik. Ayu Utami mengambil peran sebagai penyunting buku yang melengkapi dan mengomentari tulisan-tulisan Parang Jati, salah satu karakter utama dari seri Bilangan Fu. Selanjutnya, Ayu Utami (dalam peran Parang Jati) menjabarkan buah pikirannya mengenai konsep-konsep yang disebutnya sebagai Spiritualisme Kritis dan Anatomi Rasa dalam 33 esai.
Spiritualisme Kritis kurang lebih adalah praktik mendalami spiritualitas tanpa meninggalkan rasio dan proses berpikir ilmiah. Anatomi Rasa adalah bagan dari konsep Rasa/Rahasia/Rahsya yang oleh Parang Jati diusulkan sebagai DNA/arketip spiritualitas dan budaya Jawa (dan dalam konteks lebih umum, Nusantara).
DNA budaya Jawa, oleh Jati, digambarkan sebagai bagan konsentris dari 4 nafsu atau aspek yang umum disebut sebagai pancapat atau sedulur papat lima pancer atau kiblat papat lima pancer: 1. Aluamah: Utara - Wage - Hitam - Bumi - Ketamakan, nafsu bertambah 2. Supiah: Barat - Pon - Kuning - Udara - Kesenangan/keindahan 3. Amarah: Selatan - Pahing - Merah - Api - Kemarahan, nafsu meniada 4. Mutmainah: Timur - Legi - Putih - Air - Kebenaran 5. Pancer: Pusat - Kliwon - Tanpa warna - (Ether/Eter) - Kemurnian
Konsep ini tidak asing bagi pemerhati budaya wayang dan Jawa, terutama lakon wayang Dewa Ruci. Hanya saja di sini Jati menggunakan penafsiran ayahnya (Suhubudi, seorang tokoh spiritual dalam seri Bilangan Fu), bahwa keempat nafsu memiliki posisi yang setara.
Penafsiran ini cukup berbeda dengan penafsiran umum, di mana nafsu mutmainah (posisi timur, berwarna putih, dan melambangkan anasir air) digambarkan sebagai nafsu ideal yang harus 'menaklukkan' ketiga nafsu lain. Seterusnya, Jati berargumen bahwa keempat nafsu yang berpasangan dua-dua memang seharusnya saling menguji dan memurnikan sehingga pancer atau pusat dapat mencapai tahap kemurnian paripurna (makrifat dalam Islam, pencerahan dalam Buddha).
Jati berargumen bahwa konsep ini terus menerus muncul dalam sejarah dan budaya masyarakat Jawa, misalnya Lakon Dewa Ruci, Kitab Sudamala, hingga Pancasila; serta dirujuk oleh sastrawan-sastrawan legendaris seperti Syekh Siti Jenar, Ranggawarsita, Mangkunegara IV, hingga Yasadipura. Konsep ini ia kaitkan pula dengan konsep-konsep filosofi Jawa lain seperti manunggaling kawula gusti (bersatunya manusia dengan khalik) dan sangkan paraning dumadi (hakikat keberpulangan manusia). Selanjutnya, ia juga memperluas argumennya dengan menarik garis antara pancapat dengan konsep-konsep paralel di luar sana, seperti theosofi dan alkimia di Barat, sunyata di Hindu-Buddha, hingga praktik sufi Islam.
Yang disayangkan di sini, Jati (atau mungkin Ayu Utami sendiri secara metanaratif) terjebak dalam khotbah moralitas yang justru ditentangnya sendiri di awal. Spiritualisme Kritis dan Anatomi Rasa diangkat sebagai konsep yang dapat menjelaskan Rasa dan spiritualitas sekaligus mengungguli batasan-batasan rasionalitas ditawarkan Barat. Di sini juga ada dikotomi atau oposisi biner yang menempatkan Barat sebagai pengusung tunggal rasionalitas dan Timur/Jawa/Nusantara sebagai pengusung spiritualisme. Walau Jati/Ayu Utami berargumen tentang dualitas bahwa bagaimana rasio dan spiritualitas seharusnya berjalan setara, toh ia juga sempat mengajukan gagasan bahwa spiritualitaslah yang mendahului dan melahirkan rasio.
Cukup aneh, karena Jati/Ayu Utami (mungkin) tanpa sadar menggunakan teori-teori Barat untuk menjelaskan sintesis kutub-kutub nafsu (dialektika Hegel) dan DNA spiritualitas masyarakat Jawa (kesadaran kolektif Jung), di luar rujukan langsung pada Freud, Marx, Nietzsche, dan kaum gnostik yang ia anggap terlalu pesimistis.
Bahasa yang digunakan oleh Jati juga agak ganjil dan tidak konsisten karena ia mengubah lawan bicaranya sepanjang buku. Terkadang ia berbicara pada 'Marja dan teman-temannya' (Marja adalah teman platonik Jati di seri buku Bilangan Fu) dan di kali lain ia bicara pada pembaca secara langsung, sehingga buku ini terkesan intim dan sekaligus umum.
Nada yang digunakan Jati pun terkesan meremehkan karena cenderung berasumsi bahwa pembaca modern sepenuhnya asing dengan konsep-konsep yang ditawarkan Jati. Bahkan pada satu kesempatan, Jati menawarkan gagasan transfobik bahwa transpuan/transjender adalah salah satu contoh nafsu keindahan (supiah) yang tidak benar (mutmainah).
Memang di sepanjang dan akhir buku Ayu Utami menawarkan catatan penyunting yang mengklarifikasi pernyataan-pernyataan Jati, bahwasannya ia adalah penulis muda yang tidak luput dari bias dan kenaifan. Namun tetap ganjil ketika tidak ada rujukan yang jelas tentang Hegel dan Jung misalnya. Selain itu, banyak pembahasan Jati yang anakronistik, karena jika menggunakan asumsi bahwa ia menulis draf Anatomi Rasa pada sekitar tahun 2000-2002, seharusnya tidak banyak atau bahkan tidak ada referensi tentang internet dan hoax, isu-isu yang baru mulai marak di Indonesia sekitar tahun 2014-2015.
Kesimpulan Di luar ulasan inti yang menarik tentang penafsiran ulang konsep pancapat dan bagan Anatomi Rasa, sayangnya buku ini masih terikat dengan banyak isu penulisan lain seperti repetisi, anakronisme, inkonsistensi, oposisi biner, dan posisi moralitas yang ironisnya terus-menerus diperingatkan oleh Jati sendiri sebagai jebakan Modernisme dan Monoteisme.
Menarik. Ini adalah spiritualisme kritis to the next level. Level pemahaman lebih untuk pembaca, seperti yg saya harapkan. Tidak terburu2. On point. Dan sangat relate sama kondisi Indonesia saat ini.
Ayu Utami mengangkat Spiritualisme Kritis dengan sudut pandang kebudayaan jawa. Bentuk awalnya menarik. Anatomi Rasa ditulis oleh tokoh fiksi yaitu Parang Jati yang menjadi salah satu tokoh dalam novel Bilangan Fu, Ayu Utami sendiri lebih berperan sebagai editor. Buku ini bukan kelanjutan dari Bilangan Fu, namun anehnya buku ini masuk kategori fiksi di Gramedia Digital, padahal buku ini semi-ilmiah.
Parang Jati membagi buku ini kedalam tiga bagian: Rasa, Religi, dan Rasio. Rasa adalah hal yang sering diabaikan di era modern, padahal banyak hal yang kita lakukan lebih sering mengikuti rasa. Banyak hal yang tak bisa terkristalkan dalam kata-kata dan batasan-batasan formal ilmiah, disitulah Rasa banyak berperan bahkan ke dalam hal yang rasional sekalipun rasa terkadang turut campur. Rasa dalam pemikiran barat modern dianggap sebagai irasionalitas. Maka Parang Jati kemudian berusaha membedah seperti apa mekanisme dan struktur rasa jadilah Anatomi Rasa.
Mengambil contoh dari Antifragile: Things That Gain from Disorder, Anatomi Rasa sama seperti membedah bagaimana orang naik sepeda dengan teori fisika terkemuka, sebenarnya tidak perlu-perlu amat, yang penting dari naik sepeda itu praktiknya tapi kalau dijelaskan dengan berbagai teori yaa tak salah dan menarik juga.
Karakteristik Parang Jati muncul secara penuh dibagian awal, namun entah mengapa dibagian tengah hingga akhir, kehadiran Parang Jati tak terasa lagi, rasanya tulisan selanjutnya tidak terdengar seperti Parang Jati ataukah jangan-jangan Parang Jati yang menulis semi-ilmiah memang semembosankan ini yaa ?
Butuh waktu tiga tahun sejak saya membeli buku ini sampai ke menyelesaikannya. Bayangkan, tiga tahun!!! Sebuah penurunan besar atas kemampuan membaca saya, atau kemenarikan buku ini (?) - mengingat dalam setiap buku Ayu Utami (terutama seri Bilangan Fu) saya hampir selalu menyelesaikan masing-masing bukunya tidak lebih dari tiga hari.
Agak bingung untuk menjelaskan tapi menurut saya buku ini sangat membosankan. Seperti buku teori. Bingung karena sebetulnya konsep buku ini menarik (Parang Jati sebagai penulis - alter dari Ayu Utami sendiri yang memilih peran sebagai editor) dan mencoba membedah Teori Spiritualisme Kritis yang menjadi "DNA Nusantara" melalui pendekatan Jawa/Kejawanan/Kejawen. Secara teoritikal, menarik dan sudah tentu berbobot (memiliki kedalaman materi). Saya paling senang dengan bab Religi yang sedikit banyak merangkum perjalanan tren reliji dari Timur hingga Barat. Namun kenyataannya, pemaparan aneka teori ini sungguh berputar-putar, tidak indah, dan kurang mengajak pembaca untuk masuk ke dalam sebuah pengalaman. Sangat berbeda dengan seri-seri lain Ayu Utami.
Kalau merujuk dari Teori Rasa yang dibahas dalam buku ini, saya bisa menyatakan bahwa ketika menulis Anatomi Rasa, Parang Jati terlalu tertarik menuju 'Dorongan Kebenaran' (putih) dan 'Dorongan Mengada' (merah). Alhasil buku ini menjadi Nafsu Parang Jati (atau Ayu Utami) dalam memaparkan apa itu Spiritualisme Kritis.
Tidak masalah, but not for me. Rasanya buku ini kurang sublim. Kalau Rasionya sudah saya jelaskan di atas :).
Satu lagi, buku ini terbit cukup lama setelah Bilangan Fu, dengan membawa lagi nama Parang Jati dan Marja. Saya kira isi buku ini akan lebih 'bergairah' membahas kerinduan nostalgis, yang mana adalah salah satu kekuatan terbesar dalam tulisan Ayu Utami. Ternyata tidak.
Dalam perjalanan terhadap pembacaan filsafat barat, alangkah baiknya (menurut hemat saya) untuk terlebih dahulu mengenal spiritualisme kritis ala Nusantara. Tentu bukan soal metafisika ghaib (takhayul, hantu"an, dsb) yang oleh Tan Malaka berusaha dinegasikan dalam karya Madilognya. Buku ini cukup bagus dan relevan untuk dibaca oleh karena hari-hari ini nampaknya urusan soal rasa acapkali dinarasikan secara negatif dan bertentangan dengan nalar atau rasio. Alih-alih ingin menggembor"kan penggunaan rasa dalam konsep spiritualisme kritis, penulis di sini hendak mengkritisi secara dua arah baik antara filsafat barat dengan filsamat ketimuran (yang lebih condong kepada falsafah Jawa).
Banyak hal yang menarik ketika dalam proses pembacaan buku ini, misalnya tentang konsep rasa sebagai tujuan, alih-alih hanya sebagai cara. Membandingkan tataran rasa dengan olah rasio yang kental dengan filsafat barat, hingga kritik penulis terhadap keduanya. Meskipun banyak hal yang saya rasa terlalu Jawasentris ataupun terlalu bernuansa spiritual-magis, akan tetapi buku ini masih memiliki tempat pada pembaca yang condong mendahulukan rasio daripada rasa. Setidaknya bagi saya, ini adalah penyeimbang di balik riuhnya percakapan filosofis yang akhir-akhir ini selalu didominasi oleh percakapan tentang filsafat barat.
Saya paham apa misi yang dibawa Anatomi Rasa. Mengenalkan spiritualisme kritis dengan modern dan metodologis, berharap penyampaiannya sesuai dengan generasi masa kini yang cenderung rasional (kata penulis). Namun .........
Penulisan awal bagian buku ini menarik, lama kelamaan saya menemukan penulisan buku ini menjemukan. Repetitif. Ayu selalu mengulang konsep kiblat papat lima pancer, cahaya merah hitam kuning putih, DNA purba Jawa, dsb dsb. Ayu menjabarkan berbagai cerita Jawa dan cerita religi. Setelah penjabaran tersebut, ia selalu punya jalan untuk mengkorelasikannya dengan –sekali lagi– kiblat papat lima pancer, cahaya merah hitam kuning putih, dan DNA purba Jawa, seakan-akan ia bicara bahwa spiritualisme kritis yang dikenalkannya adalah 'benar.'
Di buku ini Ayu menuliskan bagaimana dogma itu sekadar rumusan-rumusan kebenaran yang pendek dan memberi kenikmatan instan, kemudian mempertanyakan mengapa orang lebih suka menerima dogma daripada menjalani proses berpikir yang panjang. Dengan tulisan yang repetitif, ironisnya Anatomi Rasa adalah dogma.
Kemampuan menulis Ayu Utami tidak perlu diragukan lagi. Dia selalu tajam dan kritis. Berbagai majas, sintaksis, dan semantik kerap dihadirkan dengan cerdasnya. Tapi tidak di buku ini. Ayu Utami seperti bukan Ayu Utami.
Jujur saja awalnya saya kira buku ini murni novel kisah fiksi ternyata lebih seperti esai (kalau tidak bisa disebut jurnal) yang sungguh mati sudah sejak lama ingin saya baca karena rindu pada Parang Jati hahaha (saya tahu pasti saya tidak sendiri dalam hal jatuh-hati-pada-Parang-Jati ini).
Di buku-buku sebelumnya ada Parang Jati, ada Marja, dan ada saya sebagai pembaca. Di buku ini ada Parang Jati dan ada saya sebagai Marja si polos yang rindu dibacakan dongeng oleh kekasih rahasianya. Rindu itu terbayar tuntas dan ditambah dengan pemikiran baru yang memantik diskusi (dengan diri sendiri karena belum ada kesempatan untuk mendiskusikannya dengan orang lain).
Yang terbaik dari buku ini: perlahan-lahan saya ingat untuk selalu kembali ke nafas, merasakan nafas. Merelakan yang harus direlakan di setiap hembusannya.
Kupikir buku ini adalah petualangan Parang Jati, ternyata isinya filsafat jawa 😄. Sudah ingin menyerah dengan bahasan yang nggak ringgan, bahasa yang rumit, banyak pengulangan dan penjelasa detail, tapi kok menarik juga.
Inti buku ini adalah tentang Rasa, rasa sejati, rasa batin yang yang terdalam yang disebut orang Jawa dengan Rasa. Isinya tentang awal mula rasa, bagaimana konsepnya, letaknya dalam agama, filsafat dan logika.
Kalau merasa semuanya bertolak belakang, buku ini justru menawarkan penyatuan antara perasaan, spiritual dan logika. Bagaimana agar hal-hal itu selaras. Menarik ya. Tapi ya itu, berat. 😝
Sebenarnya insightful, tetapi penjelasannya harus diakui tidak mudah dicerna. Ditambah pengulangan yang sering dilakukan menambah ruwet gaya penjelasan tokoh utama di buku ini.
Tidak sanggup menyelesaikan buku ini. Terlalu berputar putar dan PERLU KESABARAN LUAR BIASA. Walau konsep spiritualisme kritis itu menarik dan saya juga sepaham, tapi penulisannya..uh...repetitif.
The 1/3 part of the book is so great. It talks a lot about what shaped rasa. But then it gets repeated again and again. I gave up on the end of chapter 2
Buku di mana kamu bisa berkenalan dengan teori Rasa. Titik keseimbangan spritualisme Jawa yang ditulis oleh tokoh yang terkenal berkarisma dan pintar dalam buku-buku Ayu Utami, Parang Jati.
Rasa adalah dna spiritual indonesia yg kini mulai hilang digantikan rasionalisme. Pemikiran modern tidak memahami 'rasa', padahal rasionalisme itu adalah evolusi dari rasa itu sendiri.