Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ataraxia: Bahagia Menurut Stoikisme

Rate this book
Setiap manusia mencari kebahagiaan, hidup yang tenang. Ataraxia, tiadanya gangguan, adalah ideal kehidupan Stoikisme. Aliran filsafat di era Kekaisaran Romawi ini bukanlah kumpulan ide untuk bergaya. Filsafat bukanlah sekadar seni retorika. Bagi Epiktetos dan Marcus Aurelius, filsafat adalah praktik dan latihan (askesis), sebuah seni menjalani kehidupan.

---

Di zaman di mana kita terus-menerus diganggu oleh media sosial, mudah termakan hoaks yang menimbulkan emosi jiwa, Stoikisme menawarkan terapi untuk jiwa. Filsafat Stoik berjanji menyembuhkan kita dari berbagai emosi negatif (rasa iri, marah, pahit, takut). Kuncinya adalah membedakan dalam segala hal: apa yang tergantung pada kita dan apa yang tidak tergantung pada kita. Dengan pemilahan tegas seperti itu, dan lewat metode latihan meluruskan cara berpikir, kaum Stoik menggapai ataraxia (absence of troubles).

208 pages, Paperback

Published March 1, 2019

27 people are currently reading
222 people want to read

About the author

A. Setyo Wibowo

14 books23 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
22 (36%)
4 stars
35 (58%)
3 stars
2 (3%)
2 stars
1 (1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 14 of 14 reviews
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,043 reviews1,972 followers
March 25, 2019
"Bahagia bagi kaum Stoik artinya absence of troubles (dalam bahasa Yunani apatheia atau ataraxia)."


Memahami filsafat seringkali dianggap sebagai suatu diskusi yang berat. Kalau orang Jawa membahasakannya sebagai ilmu yang "ndakik". Namun, sejak bertemu dengan filsafat Stoik, rasanya membicarakan filsafat tidak lagi rumit. Bahkan mendorongku untuk memahami lebih jauh tentang aliran yang satu ini.

Filsafat Stoik pertama kali aku kenal lewat bukunya Henry Manampiring yang berjudul Filosofi Teras. Tulisannya memang pop, ringan, dan relevan dengan kejadian yang dialami oleh sebagian besar orang yang tinggal di kota. Dalam bukunya, Henry menuliskan bahwa ia dibantu oleh Romo Setyo Wibowo yang merupakan ahli filsafat.

Romo Setyo -- begitu kami (peserta Kemah Sastra & Filsafat 2019) memanggilnya -- menuliskan tentang Filsafat Stoik dengan lebih akademis. Tentu, karena ia adalah seseorang yang berlatar ilmu filsafat. Sedari awal, Romo Setyo banyak menuliskan referensi-referensi dari berbagai macam pustaka. Akan tetapi, bukan berarti buku ini menjadi berat. Malah sebaliknya, Ataraxia tetap enak untuk dibaca meskipun pembaca juga baru pertama kali mengenal filsafat.

Ataraxia hanya terdiri dari 3 bab saja. Diawali dengan pengenalan mengenai Filsafat Stoik sebagai sebuah laku hidup, dilanjutkan dengan kisah Epiktetos, salah seorang filsuf Stoik yang berasal dari seorang budak dan ditutup dengan kisah Marcus Aerelius, kaisar Romawi yang juga merupakan seorang Stoik.

Dalam Ataraxia, Romo Setyo ingin menunjukkan bahwa Filsafat Stoik bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari manusia modern yang tinggal di kota urban. Meskipun berasal dari ribuan tahun yang lalu, nyatanya konsep-konsep dasarnya masih relevan jika dibawa ke zaman sekarang. Apalagi dengan membawa dua tokoh Stoik dari latar belakang berbeda -- Epiktetos dan Aurelius -- Romo Setyo makin menunjukkan bahwa Stoik bisa diterapkan dalam diri seorang warga negara biasa dan juga seorang pemimpin.

"Dalam relasi sosial, ada dua sifat keterlibatan yang mesti ditimbang. Pertama, bagaimana kita menimbang secara 'keluar' dan bagaiana kita mesti menimbang 'di dalam diri kita sendiri'."


Dalam beberapa diskusi, memang ada yang berpendapat bahwa Filsafat Stoik terlihat seperti suatu sikap yang egois karena lebih berfokus terhadap apa yang bisa kita kontrol. Akan tetapi, semakin dipahami malah Filsafat Stoik bisa diterapkan dalam kehidupan bersosialisasi. Ia tidak serta merta hanya memikirkan dirinya sendiri melainkan merasakan bahwa sesama manusia berasal dari satu percikan yang sama dan berada pada satu universalitas yang sama.

Secara gamblang bisa dikatakan bahwa Atarxia menyajikan apa itu Filsafat Stoik secara lebih akademis yang sebetulnya juga seru untuk dibaca. Ataraxia bisa dikatakan sebagai pelengkap dari buku Filosofi Teras. Apabila sudah membaca keduanya, aku rasa, seseorang bisa menjadi lebih tertarik untuk melatih dirinya agar lebih Stoik dalam meregulasi emosi negatif dalam dirinya.

Dan bagiku pribadi, Ataraxia membukakan wawasanku bahwa Filsafat Stoik juga menjadi ibu dari ilmu-ilmu yang kita pelajari saat ini.
Profile Image for Yohanes Saputra.
80 reviews10 followers
November 30, 2022
Buku stoikisme ini sebenarnya adalah penjelasaan antara pemikir Epiktetos dan Marcus Aurelius saja.

Menarik untuk diteliti bahwa filsafat Antik di Yunani dulu adalah laku hidup, atau a way of life. Jika kita benar-benar merenungkan mengapa Sokrates dan penulis Antik lainnya - yang tidak menulis pun - bisa terkenal sampai sekarang itu karena apa yang Pierre Hadot katakan filsafat sebagai laku hidup, di mana filsafat yang mereka usung mereka tunjukan dalam hidup mereka.

Kita sebenarnya bisa melihat ini dari Plato menuju Neoplatonisme latihan-latihan yang mereka gunakan dalam filsafat mereka. Plato beranggapan Jiwa harus dipurifikasi, maka kita harus menghindar dari yang membuat jiwa itu kotor. Sebuah pertanyaan timbul dari ini: latihan apa yang stoikisme gunakan? Di situ di mana aku rasa Epiktetos shines through.

Epiktetos mempunyai berbagai ide yang bisa kita terima: dimulai dari metafisikanya, doktrin "apa yang tergantung pada kita" dan 'apa yang tidak tergantung pada kita", latihan-latihan untuk mencapai kondisi ataraxia (tiadanya gangguan), ataupun juga epistemologinya. Baru dari buku ini saja aku bisa melihat signifikansi seorang Epiktetos di dalam korpus filsafat stoik.

Aku rasa Setyo Wibowo sudah menjelaskan dengan jelas pemikiran Epiktetos - and to some extent, Marcus Aurelius - di sini. Buku ini adalah pengantar yang menyeluruh untuk mereka yang ingin lebih mendalami filsat stoik, di era di mana marak sekali stoikisme ini is displayed as a self-help.
Profile Image for Khoirul Muttaqin.
17 reviews2 followers
July 31, 2019
Filsafat lama namun masih cocok dengan keadaan sekarang. Terutama dalam hal memanajemen "apa yang tergantung pada kita" dan apa yang "tidak tergantung pada kita".

Sehingga kita bisa menjadi manusia yang benar-benar pengendali diri. Bukan dikendalikan oleh hasrat-hasrat yang salah. Kita juga diajari untuk tidak bersedih melainkan menjadi pemberani dengan melihat sesuatu apa adanya.

Ataraxia memiliki arti 'bebas dari gangguan'. Filsafat ini meyakini jika filsafat adalah latihan sehari-hari sehingga harus dipraktikkan. Tiga hal yang ada pada konsep Stoikisme adalah Fisika, Etika, dan Logika.

Bagus dah pokok haha. Nemu buku filsafat yang enak dipahami~
Profile Image for mahatmanto.
545 reviews38 followers
December 29, 2019
saya belum membaca rampung.
itu kebiasaan [buruk] saya yang membaca beragam buku dalam satu rentang waktu.
namun demikian, saya senang dengan membaca pengantarnya. suatu pengantar yang ditulis untuk mendudukkan kehadiran buku ini.
rupanya, buku ini merupakan produk samping ketika penulisnya menulis disertasi. pengakuan penulis, ia tertarik dan yakin bahwa pemikiran stoik yunani kuna ada manfaatnya untuk kehidupan masa kini. di sekujur halaman-halaman buku ini bertaburan penjelasan atas istilah-istilah yunani ke dalam bahasa indonesia masa kini. maklum, rentang waktu dan tempat mengharuskan usaha ini.
pemikiran stoik, sepertinya penulis dipengaruhi oleh Pierre Hadot, melatih pemikiran untuk dilaksanakan. berfilsafat bukan membangun suatu gugusan pengertian yang tinggal di awang-awang, namun mengubah pengertian yang bisa disaksikan hasilnya dalam perbuatan.
perumpaan yang dikutipnya menarik: yakni tentang sapi [xi].
sapi yang baik tidak mengembalikan rumput kepada penggembala yang telah mencukupi dengan makanannya tadi, tetapi membawa daging dan susu hasil pencernaan dan pengolahannya atas rumput yang selama ini diberikan. filsuf yang stoik tidak memuntahkan lagi ajaran-ajaran yang ia hapalkan, melainkan menunjukkan lewat hidupnya.
bab-bab selanjutnya, yang ternyata juga pernah ditampilkan di berbagai kesempatan, merupakan praktik berfilsafat stoik yang dilakukan penulis: merenungi kejadian nyata, merentangnya sehingga menjadi kasus kemanusiaan, lalu menjurus pada kesimpulan-kesimpulan konkret.
tapi itu belum selesai saya kerjakan... anda baca sendiri deh... hehe
5 reviews
May 24, 2022
"Who lives in harmony with himself lives in harmony with the universe" - Marcus aurelius

Ataraxia adalah buku filsafat yang banyak bercerita tentang ajaran stoikisme. Di mata filsuf stoik problem utama filsafat bukanlah mengubah duni, melainkan mengubah cara pandang kita terhadap dunia.

Cara mendapatkan kebahagiaan ala stoik adalah dengan :
1. Mengendalikan penilaian moral dan representasi suatu hal/kejadian
2. Hidup selaras dengan alam melalui pandangan yang lurus
3. Menjaga diri sebagai manusia yang apa adanya, berintegritas, hormat pada Ilahi & penuh afeksi.

Buku 185 halaman ini akan membawa kita pada nilai-nilai diri seseirang yang selaras dengan alam dan fokus pada masa kini dan mencintai hidup yang apa adanya.

Mungkin ketika membaca, kamu akan merasakan bahasa nya keras dan tajam, meski demikian apa yang disampaikan tentang ajaran stoik bisa membawa kita ke level baru untuk melihat hidup ini melalui diri kita.
Profile Image for Nará..
10 reviews
March 16, 2022
Membaca buku ini seakan me-refresh kembali ajaran stoik yang diberikan dalam Filosofi Teras namun secara lebih mendalam dan komprehensif. Buku ini juga mengingatkan kembali ajaran paling mendasar yang harus diingat dalam Stoikisme yaitu mengenai apa yang tergantung pada kita dan apa yang tidak tergantung pada kita, yang dalam Filosofi Teras disebut sebagai 'dikotomi kendali'.

Disini, kita juga kembali bertemu dengan 3 tokoh besar Stoikisme, yaitu Epictetus, Marcus Aurelius, dan Seneca. Bagaimana buku ini kemudian menjelaskan secara mendalam upaya untuk dapat mencapai ataraxia (absence of trouble) dalam menangkal segala macam emosi negatif untuk mencapai kebahagiaan.

Saya pikir, selain Filosofi Teras, buku ini cocok menjadi bahan untuk mengenal lebih dalam mengenai ajaran Stoikisme.
13 reviews
October 12, 2020
A great book to remind you on what and how worldly things matters not to you as all the wisest of the wise have always said.... But, as sadly as it is, we are merely human that may not so resistance proof to such worldly matters which by the way, we still need to continue paddling our live through... Unless, you're a monk or some sort...
Profile Image for Januar Dhika Bagaskara.
26 reviews5 followers
July 1, 2020
buku ini dipaparkan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan mengajak pembaca untuk berbahagia.
Profile Image for nur'aini  tri wahyuni.
900 reviews30 followers
October 25, 2023
isi bukunya bagus, tapi penyampaian dan pemilihan kata nya berat banget untuk orang awam yg ga memfokuskan diri belajar filsafat. plus catatan kaki nya diletakkan di akhir jadi kurang efektif.
Profile Image for Rakhmad Permana.
12 reviews9 followers
September 17, 2020
Di tengah tren stoikisme, buku semacam jadi penjernih. Semua pokok pikiran para tokoh filsafat stoik dipaparkan dengan mendalam di buku ini, lengkap dengan ilustrasi cara mempraktikkan stoikisme di dalam kehidupan sehari-hari.

Oiya, Om Piring yang nulis Filosofi Teras itu muridnya Romo Setyo ini. Beliau juga yang memberi kata pengantar untuk buku stoikisme yang lebih populer itu.
Profile Image for Yosafat Putra.
3 reviews
July 22, 2019
Hal menarik yang ditawarkan dari buku ini adalah filsafat sebagai laku hidup yang dipaparkan secara jelas dan utuh oleh Rm. Setyo, dari pengajaran, contoh kasus dalam kehidupan sehari-hari hingga refleksi dari Marcus Aurelius. Pemaparan Rm. Setyo yang komprehensif membuat saya bisa memahaminya secara utuh meskipun banyak sekali istilah yunani yang cukup membuat saya binggung pada awalnya namun tercerahkan setelah melihat adanya catatan kaki yang sangat lengkap.

Yang menjadi garis dasar dari buku ini sampai dituliskan berkali-kali oleh penulis adalah memisahkan antara "up to us" dan "not up to us". Saya kira apa yang disampaikan dalam buku ini bagus dan patut untuk dijadikan referensi dalam menjalani hidup dengan harapan kita bisa mencapai Ataraxia (absence of troubles) yang mana adalah keadaan bahagia itu sendiri.
Displaying 1 - 14 of 14 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.