Raline, gadis cantik impulsif materialistis yang memilih untuk tidak mencintai, selama ini hidupnya dibiayai oleh seorang pria misterius bernama Angka Wijaya yang tidak pernah ditemuinya.
Kehidupan Raline berjalan sebagaimana mestinya sampai muncul sosok Karel yang tiba-tiba menjadi tetangga Raline. Kehadirannya, perlahan tapi pasti mengusik Raline dan membawanya kembali ke masa lalu yang selama ini dilupakannya. Kehidupannya menjadi semakin runyam saat Alya, sepupu Karel, hadir di hidupnya. Dan Seth, sahabatnya, malah menghilang misterius.
Perjalanan Raline mencari tahu siapa sosok AW hanya menghadirkan teka-teki yang tidak terselesaikan dan jawaban semu. Ironisnya, berbagai petunjuk yang ditemukannya malah semakin membawanya kembali ke masa lalu.
Hai manteman, kenalin saya Ririn Ayu. Anak saya yang bisa dipeluk mantjah baru tiga yaitu Loveless (Sheila, 2019), Sarang Haerang (Sheila, 2019), Perfect Proposal (Sheila, 2021). Selain itu, masih dalam wujud astral aka baru bisa dibaca secara online. Kalau mau kenalan sama saya berikut list akun platform dan sosial media saya: Instagram: ririn ayu1004 Twitter: Achiara_15
Namanya Raline. Gadis yang 'bisa disewa' tapi bukan 'dipakai'. Tentang 'luka masa lalu' sekaligus 'impian masa depan'. Hidupnya dibiayai AW, seseorang yang bahkan tidak pernah bisa ia temui. . . Karel. Laki-laki kaya yang selalu ingin 'membeli' Raline. Dia bisa seperti pangeran sekaligus anak jalanan. Yang paling dia miliki adalah uang, dan yang paling tidak dimilikinya adalah kemarahan. . Novel ini dikemas dengan bahasa yang humor dan romantis, jadi kesannya begitu lucu sekaligus manis. . Tokoh-tokoh dihadirkan adalah tokoh-tokoh yang tidak bisa tersentuh cinta. Ada yang karena luka masa lalu, ada yang tidak bisa mencintai wanita bahkan mencintai benda mati. . Aku sendiri suka sama Raline yang secara hati-hati dan proses yang lama buat jatuh cinta sama Karel. Karel pun bukan laki-laki yang mudah dicintai. Ia pemilik karakter misterius karena peduli dan menyebalkan secara bersamaan. Meskipun laki-laki ganteng bertebaran di dekat Raline, aku pendukungnya Raline dan Karel. 🤗🤗🤗 . Judul novelnya Loveless, tapi percaya deh, penulisnya so lovely @ririnayu1004 😋
Novel ini memberikan nuansa yang berbeda tentang cinta, novel ini tidak hanya membahas kisah dua sejoli, tapi mampu memberikan penguatan kepada masing-masing karakternya.
Dari novel ini juga saya belajar tentang kehidupan. Ada pesan moral dari tiap-tiap karakternya.
Mungkin udah lebih dari setahun aku pinang novel ini dan janji ke mentor menulisku kak Ririn Ayu (ciee mentor... haha) —buat review, dan Alhamdulillah baru bisa terlaksana sekarang. Meskipun udah lama, tapi aku yakin nggak telat 😁 kesempatan masih terbuka lebar dan tanpa deadline. Jadi, inilah review(an) sederhana VERSIku...
Firstly, aku lebih suka buku yang tebal dari pada buku yang tipis. Alasannya ya karena suka aja. Suka liatnya, suka meluknya, terus suka juga waktu udah mendekati ending. Ngeliat tebal halaman² yang sudah terbaca tuh rasanya legaaa banget, seolah-olah berbagai rintangan, badai yang meghadang mampu dilewati dengan mulus, persis seperti tokoh-tokoh utama dalam Loveless yang berjuang mati-matian untuk menuntaskan konflik demi konflik yang sedari awal nggak ada habisnya.
Tokoh utama perempuan di sini ada Raline, seorang mahasiswi jurusan Kimia yang tergabung dalam sebuah komunitas dan bekerja sebagai Pacar sewaan. Oke! Hanya sebagai "Pacar sewaan" dengan berbagai macam aturan ketat yang tidak boleh dilanggar, dan tidak boleh lebih.
Kalau diintip dari blurb, Aku sendiri sempat mikir keras, "Sejak kapan manusia dilarang jatuh cinta?", "Kenapa bisa ada orang yang kalau jatuh cinta akan mati?" Aku jadi sempat membayangkan kalau alurnya akan seperti kisah Putri Tidur yang dikutuk sejak bayi dan akan mati di usia 15 tahun. Jadi si tokoh utama pria (Karel) juga dikutuk sejak bayi, kalau dia akan mati jika jatuh cinta. Aku berguman, "Ya mungkin..." Tapi tentu konyol kalau benar begitu adanya, secara genre novel ini sendiri adalah romance bukan fantasi.
Selain alasan kenapa Karel tidak boleh jatuh cinta, misteri tentang Angka Wijaya juga cukup bikin suudzan dengan banyak orang, mulai dari Karel sendiri, sepupunya yang bernama Alva, si misterius; Kenes, dan bahkan teman baik Raline yaitu, Seth.
Latar belakang semua tokoh dalam novel ini bener-bener bikin geleng² kepala. Mereka semua adalah penyandang Tuna Asmara yang belum bisa merasakan bagaimana mencintai dan dicintai, karena trauma akan masa lalu dalam keluarga, yang ujungnya membuat mereka sulit untuk percaya kembali.
Mungkin itu adalah salah satu alasan kenapa penulis akhirnya memberi judul "Loveless"? Satu kalimat yang menjadi favoritku adalah "Terimakasih sudah terlahir ke dunia ini." Bagiku kalimat itu adalah kalimat penghargaan terbaik.
Untuk novel setebal ini isinya sangat lengkap dan realistis. Realistis yang kumaksud -ketika sudah hampir mencapai ending, penulis masih menuturkan kisah Raline dan Karel hingga masalah di antara mereka benar-benar tuntas. Meskipun ya... yang namanya masalah hidup nggak akan ada habisnya, kan!
'Terlalu banyak cowok baik pasti membosankan. Dunia perlu plot twist.' - halaman 316
Kalimat itu kayaknya cukup menjelaskan segala sesuatunya tentang buku ini. XD Tapi ok, supaya tidak berat sebelah, dan kemudian toh terbukti juga di ceritanya, 'cowok baik' mestinya diganti jadi 'orang baik'. Anak cowok dan anak cewek sama saja. Dan dunia perlu plot twist, supaya bisa ada drama tanpa henti. :D
Begitulah Loveless, kisah mengenai orang-orang yang memiliki 'cacat'nya masing-masing. Mereka yang aneh-aneh, punya rahasia dan masa lalu gelap, saling berbohong dan akhirnya menuai akibatnya. Membaca ini seperti naik roller coaster. Emosi dibawa naik turun. Kadang saya takjub dengan bagaimana dramanya dibangun sedemikian rupa, tapi kadang kesal juga karena mikir, kok bisa sampe gini sih? Lalu mikir lebih jauh, kayaknya ini terlalu berlebihan deh, terutama konflik yang dimunculkan di akhir, yang seperti dipaksakan. Karakter si tokoh cowok jadi kerasa out of character, terus terang. Menurut saya ujungnya tidak perlu sampai seperti itu. Tapi sekali lagi, dunia mungkin memang perlu drama, sebanyak-banyaknya. Jadi baiklah, saya nikmati saja. XD
Pada akhirnya, terlepas dari beberapa hal dalam plotnya yang menurut saya masih aneh, perlu dipertanyakan dan diriset lebih jauh, buku ini lebih baik daripada yang saya perkirakan sebelumnya. Loveless sebelumnya bisa dibaca secara daring di platform Storial, dan dari yang bisa saya ingat, di versi cetak ini sudah ada berbagai perbaikan untuk menutup beberapa plot hole yang sebelumnya ada. Plus beberapa tambahan lainnya, sehingga kini jadi lebih baik. Jadi, salut buat Ririn, penulisnya, yang sudah bekerja keras hingga sampai ke titik ini.