SEBUAH HUBUNGAN ITU UJUNGNYA CUMA DUA. KALAU BUKAN JADI PASANGAN, YA JADI KENANGAN.
Sekembalinya dari Loughborough, Ajeng membawa serta ingatan menyebalkan setelah seorang asing mencuri cium darinya. Namun takdir mempertemukannya kembali dengan laki-laki lancang itu di Jakarta. Gandi Alfareza Siregar, seorang arsitek tengil yang berkat perhatiannya juga telah berhasil mencuri hatinya.
Masalahnya sekarang, Mama tidak merestui hubungan mereka. Gandi lebih memilih memperjuangkan impiannya ke luar negeri, alih-alih berkomitmen menikahi Ajeng. Saat Gandi akhirnya memutuskan untuk menikahi Ajeng lalu membawanya ke luar negeri, drama lain pun berlanjut. Mama tidak ingin putri semata wayangnya pergi jauh darinya.
Akankah Ajeng memilih Gandi dan tinggal jauh dari orangtuanya, atau malah mengakhiri hubungan mereka demi mamanya?
Maaf ya kalau review ini bikin tersinggung kanan-kiri, tapi saya hrs meluapkan emosi saya. Bahkan kelar baca buku ini tadi malam, kekesalan saya terbawa-bawa sampai ke alam mimpi. Berikut ini catatan yg bikin saya kecewa dgn buku ini dari A-Z:
- Jenis dan ukuran font buku ini bikin saya mau nyakar-nyakar, bisa bikin mata saya yg sudah rusak tambah binasa kalau baca buku dgn tulisan model gini. Udah tipis, imut banget tulisannya, lelembut mirip tepung yg udah diayak. Yg bikin saya tambah melongo adalah buku ini sptnya gak diedit/dicut seperti biasanya buku-buku yg diterbitkan Elex deh (yg sampai terasa "kering" saat dibaca). Walhasil banyak adegan-adegan yg bagi saya gak penting, ditampilkan terus-menerus, bikin inti cerita gak fokus.
- Tokoh-tokoh yg eksis di novel ini terlalu banyak, memang sih kalau dibandingkan dgn penduduk Jakarta yg jumlahnya 10 juta atau penduduk Indonesia yg jumlahnya 250 juta, apalah artinya jumlah tokoh-tokoh di novel ini.
- Ini ceritanya nanggung, mau cerita ttg kalangan menengah atas tapi koq terlalu banyak kearifan lokal disini. Seperti kumpul-kumpul keluarga, teman-teman, kawinan (bahkan ada 2 scene ttg kawinan). Mall yg agak sering disebut-sebut adalah Mall Taman Anggrek. FYI, MTA ini sekarang mall biasa aja di Jakarta, justru yg nge-hype utk anak muda itu mall tetangganya, Central Park. Makan-makan dan makanan yg disajikan di buku ini juga makanan dgn kearifan lokal. Emang salah? Ya kagak sih seandainya yg makan itu bukan anak anggota DPR yg ortunya tinggal di Kelapa Gading, produser tv swasta, dan bawa gandengan nan ganteng arsitek lulusan dari Inggris yg pake arloji Patek Phillipe. Ini serasa nonton sinetron tahun 80an yg isinya idealis melulu yg hrs sesuai dgn yg dicanangkan ORBA ketimbang realistisnya.
- Saya koq jadi merasa kualat dgn Ollyjayzee ya? Waktu dulu saya gak suka dgn bukunya ttg bawahan yg pacaran dgn boss-nya. Di novel ini memang si Ajeng (tokoh utamanya) menolak tegas cinta boss-nya sih selain krn memang gak ada rasa, juga plus gak enak hati dgn koleganya, Evelyn yg baper dan kesengsem banget dgn bossnya itu. Tapi koq saya jadi merasa author meng-humblebragging si Ajeng, alias mengagungkan si Ajeng dgn menjatuhkan Evelyn (yg emang gak banget sih jadi cewq, gagal move on gitu). Dan saya gak suka novel ini krn itu, bener kan gw kualat?
- Romance antara Gandi dan Ajeng itu garing alias gak lucu bagi saya. Sepanjang baca novel ini, senyum aja kagak, boro-boro ketawa ngakak. Lagian tiap ada sedikit konflik, kenapa sih mereka selalu butuh orang ketiga utk menyelamatkan hubungan mereka? Kayak gak punya skill buat cari solusi tanpa melibatkan orang lain aja. Beneran kan kearifan lokalnya sampe segitunya.
- Dan master yg paling bikin saya ngamuk di novel ini adalah...... siapa lagi kalau bukan mamanya si Ajeng. Yup, ini gambaran bini orang berduit tapi tololnya (sayangnya) gak dikarbit juga. Sepanjang novel ini tujuannya si mama ini adalah spy Ajeng buruan menikah gak peduli calon suaminya punya track record buruk, yg penting cepetan nikah deh ky korban gempa bumi buru-buru ngungsi. Tapi etapitapitapi.... giliran si Ajeng udah dpt calon serius buat masa depannya, si mama ini tega-teganya menghalangi dgn alasan super konyol menurut saya, anaknya gak boleh jauh-jauh darinya. Ya Tuhan, gw pengen banget deh menghunuskan samurai buat nih orang. Gimana sih alasannya bisa super egois ky gitu? Dan bego-nya (bego sedalam-dalamnya Sungai Nil) si Ajeng yg biasanya super tegas ke mamanya yg dablek ini, bisa-bisanya nurutin kemauan mamanya yg absurd ini.
- Sisi bagusnya adalah (ini mungkin satu-satunya) gak ada adegan dramatis yg malu-maluin ky jambak-jambakan, tampar-tamparan (yah kecuali saat si Gandi ditampar Ajeng). Semuanya masih dlm ambang batas normal walau ada adegan baperan.
Ini emoji yg mewakili perasaanku baca ini 😊😂😆😍🤨😡😢😭☹️😍 aku suka ceritanya rapi, ngalir, manis, hangat. Suka banget sama Gandi 🤭. Dan jadi bikin mikir suatu hari nanti kalau punya anak ga boleh macem mamanya Ajeng 🙈.
3.5 sayap, awalnya agak terganggu dengan karakter Gandi, tapi semakin ke belakang ok lah.
Yang suka baca romance dan lebih ingin menikmati sebuah proses akan sebuah hubungan, yang suka tulisan aqessa atau Larasati, mungkin bakalan cocok sama gaya nulisnya soraya. Ceritanya nggak melulu cinta-cintaan, ada tentang pekerjaan, teman kerja, sahabat dan keluarga, konfliknya juga lumayan seru. Bukunya tebal tapi nggak bikin bosan. Sebuah awal yang baik.
Bagiku, tulisannya soraya ini kayak tarina arkand, bagus tapi dari segi cerita belum bisa membuatku puas sepuasnya, ditunggu buku selanjutnya.
2019-37 Membaca ini di Gramed digital semalam dan kumenikmati membacanya. Cukup tebal untuk citylite tapi kutak mati bosan saat membacanya. Kusuka hubungan yang dijalin pelan-pelan dan tidak tiba-tiba bermerah muda. Tokohnya lumayan banyak memang, tapi tidak begitu menganggu. Dunia dibalik layar dan arsiteknya pun cukup kental meskipun soal arsitek tidak begitu kental karena ini pov Ajeng. Sukses untuk penulisnya 🐱🐱
Gandi kurang ajar banget, gak ada justifikasi buat nyium cewek sembarangan, sampe 4 kali lho (seinget saya)!! Dan bukan cuma cium aja, Gandi emang suka seenaknya dan maksa ini-itu.
Ajeng juga plin-plan banget begitu berhadapan sama Gandi. Saya juga gak liat ada aksi apa-apa yang dilakuin Ajeng di akhir buat dapetin Gandi lagi selain nangis-nangis.
Dan tentu aja saya emosi banget sama mamanya Ajeng. Saya bener-bener gak bisa ngasih toleransi buat dia.
Yah, sebenernya banyak yang mau saya tulis tapi agak males😬, intinya buku ini bukan buat saya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Ajeng baru saja pulang dari S2 di Loughborough, Inggris dan langsung kembali dalam tim program Gayatri TV di Jakarta, ketika mendapat desakan menikah dari Mama. Sebagai anak tunggal dengan umur 29 dan masih single, tentu saja membuat orangtuanya khawatir.
Pertemuan kembali dengan Gandi Alfareza Siregar, Arsitek muda yang menjadi salah satu narasumber program Gayatri TV, bukanlah yang diharapkan Ajeng.
Pengakuan Vino, bosnya, membuat persahabatannya dengan Evelyn nyaris retak jika ia tidak menerima bantuan Gandi. Perhatian-perhatian Gandi pada akhirnya membuat Ajeng luluh. Tapi ada banyak drama yang menunggu.
Ini pertama kalinya aku membaca tulisan kak Soraya Nasution. Tokohnya superbanyak, teman-teman kantor Ajeng, teman-teman SMA Ajeng yang disebut sebagai Geng Pandawa 5, keluarga Ajeng dan keluarga Gandi.
Pov 1 Ajeng, jadi pembaca akan lebih bisa memahami konflik dari sudut pandang Ajeng. Plot mengalir dan tidak banyak kejutan. Penulis menjabarkan latar belakang tokoh di bidang pekerjaan dan kondisi keluarga dengan cukup detail.
Alur maju, dan sedikit flashback. Cerita lebih berfokus untuk pembangunan chemistry Ajeng-Gandi. Untuk novel citylite dengan ketebalan 416 halaman, tokohnya cukup rame dan konfliknya sederhana.
Mengambil setting di Jakarta dan Medan, dengan deskripsi lokasi dan budaya yang cukup kental. Sayang sekali tidak ada catatan kaki untuk istilah-istilah bahasa Medan, tapi tidak terlalu banyak dan tidak mempengaruhi jalan cerita.
Karena membaca via digital, aku agak terganggu dengan ukuran font yang terlalu kecil.
Secara umum aku merekomendasikan novel ini untuk siapa saja yang tertarik dengan dunia broadcasting dan arsitektur. Rating usia 18+.
Judul: Over The Moon. Penulis: Soraya Nasution. Penerbit: Elex Media Komputindo. Tahun Terbit: 2019. Jumlah Hal.: 416. Genre: CityLite. ISBN: 9786020497525. . . Over The Moon --> Informal, British. when describing your feeling when something great had happened to you. . . . KEPO, pas baca judulnya. Apa nih yang Over The Moon? Karena ketinggalan baca yang di platform baca online, hanya sempat "ngintip" sisa-sisanya. . . Here we go! . . Blurb: . . SEBUAH HUBUNGAN ITU UJUNGNYA CUMA DUA. KALAU BUKAN JADI PASANGAN, YA JADI KENANGAN. . . Sekembalinya dari Loughborough, Ajeng membawa serta ingatan menyebalkan setelah seorang asing mencuri cium darinya. Namun takdir mempertemukannya kembali dengan laki-laki lancang itu di Jakarta. Gandi Alfareza Siregar, seorang arsitek tengil yang berkat perhatiannya juga telah berhasil mencuri hatinya. Masalahnya sekarang, Mama tidak merestui hubungan mereka. Gandi lebih memilih memperjuangkan impiannya ke luar negeri, alih-alih berkomitmen menikahi Ajeng. Saat Gandi akhirnya memutuskan untuk menikahi Ajeng lalu membawanya ke luar negeri, drama lain pun berlanjut. Mama tidak ingin putri semata wayangnya pergi jauh darinya. Akankah Ajeng memilih Gandi dan tinggal jauh dari orangtuanya, atau malah mengakhiri hubungan mereka demi mamanya? . . Ok, akan ada 2 post mengenai review (keseluruhan) Over The Moon. . . Dipostingan ini aku mau bahas Tagline novelnya yang "NGENA" banget dan Blurbnya yang buat aku "MEH" banget (sorry to say that). . . Tagline: . SEBUAH HUBUNGAN ITU UJUNGNYA CUMA DUA. KALAU BUKAN JADI PASANGAN, YA JADI KENANGAN. . Nampol banget kan!?. . . Blurb.. Karena sempat ngintip dan baca di WP. Kenapa bisa ngintip? Pas lagi cari² nemu Blurb yang buat aku "KEPO". Pas baca ternyata ada info sedang proses terbit. Aku excited dong ya. Terus mulai lah Tim Marketing promosi..... Dan Door... Munculah Blurb versi cetak yang buat aku aasgdhdjskakakksk 😪😪😪😪. What The Hell.... Mengurangi kadar kekepoan, Aku belum baca yak...! (mbak @liarasati yang sempet baca di WP dan mau mendengarkan kebawelan aku mengenai Blurb... Danke!!! ). . Tapi gengs tenang aja.... Meskipun sempet down... (gaya banget sih gue)....
Di post ini aku akan review novelnya kwkwwk . . 1. Karakter. Aku suka karakter yang ada di novel ini, mereka konsisten. Ajeng & Gandi the main lead, chemistry mereka dapet banget dan sukses buat aku Baper. I'm so envy, kapan ya aku dapet yang kaya Gandi juga? (Halu). Side characters, teman² kantor Ajeng, Pandawa 5 dan keluarga interaksi mereka hidup, mulus sih buat aku. Jadi ga cuma sebagai "tambahan". Oh iya Untuk Evelyn duh aku malah kepo banget sama kelanjutan 'hati' doi. . . 2. I wish novel ini lebih panjang... Aku ketagihan sih... Padahal novel ini cukup tebal 416 halaman. Tapi ya karena isinya 'enak' bawaanya kurang terus. . . 3. One thing, I would ask the author.... Apa kabar Pak Vino? Wkwkwkwkwkkw.. . 4. I think, my favorite part itu pada saat Ajeng bertemu kembali dengan Gandi di Marketing Gallery. . . 5. Untuk penulisan... Aku ga ngeh sih masalah typo karena keenakan baca. Cuma yang mengganggu aku tuh Fontnya kecil banget around 9-10... Asumsi aku: Mungkin sengaja di buat kecil karena dengan font kecil saja sudah 416 halaman. . . 6. Aku suka sih cara penulis menyampaikan novel ini. Novel ini menggunakan sudut padang orang pertama, yaitu Ajeng. Jadi dalam novel ini Semua perasaan Ajeng Tersampaikan dengan baik ke pembaca. Dalam novel ini juga ada point² (bijak) yang bisa diambil. . .
Well, Over The Moon buat aku sebuah novel debut yang baik. Gandi masuk dalam jejeran Boyfriend/Husband versi Halu aku kwkwkwkew. . . . . Thank you @liliyanahalim sayong yang baik hati dan tidak sombong 😂😂😂😂
Rasa-rasanya aku mulai tidak punya harapan sama terbitan dari penerbit ini. Karena susah banget nemu buku yang emang sesuai sama seleraku.
Yah, buku ini nggak jelek sih, aku malah lebih suka ini ketimbang Fit and Proper Test karena menurutku buku ini lebih page turning, cumaaaan aku beneran deh risih sama semua tokih di buku ini kecuali ke Ajeng and the gank ya. Oh bukan Pandawa 5, tapi genk nya d kantor.
• Pros:
Bukunya page turning di setengah awal. Narasi yang dibawain Ajeng juga ngalir dan enak banget dibaca dan kocak. Temen-temennya Ajeng juga mood banget sih. Aku ngakak mulu kalau baca ada Nina, Roby, sama Evelyn.
Aku juga suka hubungan Ajeng sama Papanya. Manis aja gitu. Papanya ngertiin Ajeng banget. Satu-satunya tokoh di sini yang nggak egois selain Ajeng ya Papanya ini, ya. Hubungan mereka juga menghangatkan hati.
Ada bagian yang bikin aku berkaca-kaca. Momen Ajeng ngobrol sama mamanya. Itu sedih sih. Gimana ya, duh aku suka banget sama Ajeng yang sayang keluarga banget. Ngomong2 aku juga suka sama layer karakternya Ajeng. She's definitely people pleasure ya dn Ajeng ini apes banget karena dia dikelilingi orang-orang yang manfaatin dia.
• Cons:
Masalah terbesar buku ini tuh Gandi. Sumpah ya risi banget aku sama Gandi. Aku juga nggak suka gimana buku ini menormalisasi tingkah Gandi yang red flag ini. Seakan-akan yang dilakukan Gandi tuh wajar aja dan bisa dimaafkan. Padahal dia ini cuman cowok omes yang nggak biaa nahan dirinya buat cium bibir orang sembarangan. Jujur ya aku benci banget sama Gandi dan gimana buku ini mendeskripsikan Gandi. Beberapa hal yanh bikin aku benci dia itu ya:
1. Dia ini manipulatif parah. Aku suka tokoh yang pinter dan cerdas dan tahu apa yang mau dia lakukan. Tapi Gandi ini, dia gaslight banget orangnya. Kalau Ajeng udah marah sama dia, dan sebenernga Ajeng patut marah, dia bakalan bawa-bawa kisah sedihnya biar Ajeng merasa bersalah.
2. Dia ini Egois banget. Dia ini pas ngajak Ajeng ke 'sana' tuh kek semuaaaa tentang dia. Dia nggak mikirin banget keadaan Ajeng. (Ya baguslah endingnya begitu) cuman sebenernya aku udah ilang respect ama dia setelah dia 4 kali cium Ajeng tanpa persetujuan Ajeng. Dan, sekali lagi, aku nggak suka gimana isu ini digambarkan sesimpel itu ya di buku ini. He's creepy!!!!!!!
Itu baru Gandi ya. Terus ada juga mama nya Ajeng yang menurutku terlalu berlebihan. Aku ada di sisi mamanya ya klo masalah pergi-pergi itu, tapi dia ini sama aja kaya Gandi. Dia manipulatif parah dan nggak mau ngertiin Ajeng sama sekali. Serem banget deh orangtua kaya gini. Yang apa-apa harus selalu tentang dirinya.
Oh ya terus ada Iin yang kesannga juga nyalahin Ajeng. Heran deh, kenapa semua orang nyalahin Ajeng ketika yang dia lakukan adalah memilih yang menurut dia nggak begitu menyakitkan.
Oke, selain para tokoh, aku nggak ngerti ya kenapa buku ini juga maksa aku sebagai pembaca ini buat kenal Pandawa 5. Aku yang udah tahu soal Pandawa 5 ini jelas nggak rooming karena aku emang bacanga ngurut di Wattpad, tapi tuh kalau aku sebagai pembaca novelnya, nggak penting banget. Kek, dihapus pun nggak bikin esensi buku ini jadi kurang. Nggak bikin plot holes. Apalagi yang keliatan banget pas ada Haris. Serius deh, nggak perlulah jelasin Alika ini, orang nggak ngaruh sama sekali ke plotnya. Yang nggak baca Denial di WP juga keknya nggak akan ngerti dan malah rooming.
Tapi ya itulah beberapa keluhanku terkait buku ini.
Re-read malah kerasa ambyar. Nangisnya nggak kaleng-kaleng, tapi ya banyak gemasnya, sih. Gandi such a moodbooster.
Seperti blurb bukunya, Ajeng mengalami hal nggak mengenakkan waktu kuliah di Loughborough. Ada c0wok yang asal cium dia, tanpa permisi. Sebel? Jelas. Aslinya aku nggak mau ngaku nggak ada apa-apa, sih, karena memang ada apa-apa. Kelakuan si Casanova Gila a.k.a Gandi memang super kurang ajar, masuknya udah pelecehan. Memang ada alasan kenapa Gandi grusa-grusu banget, ya salah satunya karena selama ini dia tinggal di luar negeri, budayanya lebih bebas. Pas balik ke sini jelas kelakuannya nggak bisa dianggap enteng atau dimaklumi.
Setuju banget Ajeng judesin itu cowok dan Gandi juga untungnya ada itikad buat minta maaf dan karakternya berkembang. Buku ini tipe cowoknya feels first, he feels harder, ya, kayaknya. Mengesampingkan kelakuan minus Gandi, sebenernya aku enjoy banget baca ini. Ajeng emang mulutnya suka kelewatan, tapi ya karena dia nggak punya pengalaman dan dia memang kepengin bangun tembok aja, biar nggak gampang rubuh kalau perasaannya disentuh.
Hal yang bikin sebel bukan apa, tapi siapa. Yep, emaknya Ajeng. Iya, iya, tahu surga di telapak kaki ibu, tapi emaknya naudzubillah banget. Bisa-bisanya nge-push anaknya, tapi nggak lihat para calon yang dikenalin tuh gimana dalemnya. Sifatnya terutama. Udah nahan sabar banget waktu Ajeng berusaha sabar aja dikenalin sana-sini karena bagaimanapun, dia sayang sama mamanya, tapi waktu adegan Ajeng memilih bonyoknya dan stay tuh aduh emosi. Emaknya segampang itu senyum. Kek nggak mempertimbangkan gitu after effect ke anaknya gimana.
Udah, selebihnya aku suka. Kayaknya buku ini bakal kujadiin obat kalo lagi slump.
***
Ajeng membawa kenangan tak termaafkan sekaligus membuat darahnya naik─dari Loughborough─ketika seorang cowok mencuri cium darinya. Selama 29 tahun hidup, tidak ada yang berani melakukan hal itu. Dan sepertinya Tuhan selalu punya rahasia ketika ia dipertemukan kembali dengan cowok super kurang ajar itu yang ternyata adalah arsitek kelas dunia dari Atkins, Gandi.
Pertemuan keduanya berakhir menjadi ketiga, keempat, dan seterusnya. Darah Ajeng yang selalu naik ketika berhadapan dengan wajah tengil Gandi menambah kelucuan dalam alur cerita.
Akhirnya bisa membaca kelanjutan kisah Ajeng-Ganda setelah melihat worknya dari Wattpad. Well, sangat menarik sekaligus mengaduk emosi.
Bahasanya super ringan dan sangat disarankan bagi kamu pencinta kisah romance. Kadar romansanya tidak kurang juga tidak berlebih. Pas banget!
Buku ini kuberi rating 4.7. Sayang banget banyak typo bertebaran dan ukuran fontnya yang super duper bikin mata harus melek ekstra (oke ini hiperbolis). Alur dan penokohannya sudah oke sekali, meskipun agak sebel sih sama mamanya Ajeng yang labil dan super childish.
Overall, kisahnya menarik, sangat. Terutama sikap mandi Ajeng sebagai anak tunggal pun putri dari seorang yang nggak bisa dibilang orang biasa membuka pikiran dan skema bahwa anak tunggal itu manja dan nggak bisa mandiri.
Rating 3.5 Aku belum bisa kasih bulat 4 bintang sebenernya gara-gara masih terganggu sama karakter atau penggambaran ekspresi Ajeng dan Gandi. Entah kenapa aku merasa kurang pas atau gimana.
Overall sih ini buku tidak mengecewakan, dari segi cerita dapat menjadi santapan pelipur hati, bisa ketawa dan sedih saat mengikuti kisah Ajeng mencari belahan hati 😄. Pengembangan karakter okei dan tulisan mengalir gitu aja.
Bagi yang perlu bacaan ringan ditengah padatnya dan capek habis kerja, buku ini aku rekomendasikan 😊
"Suatu hubungan itu ujungnya cuma dua, kalau bukan jadi pasangan, ya cuma jadi kenangan." (hal. 379)
Aku baca ini nano-nano, di awal gemash lalu sedikit lega eh di nyungsepin sama kenyataan-kenyataan yang ah bikin greget. Apalagi sceene Mama Ajeng yang tiba2 punya keinginan dan pemikiran yang agak kolot abisss itu kesal sih aku. Ini pertama baca karya ka Soraya, aku malah nyesel diemin buku ini di rak 5bulanan. Ini bagusss bukunya hehe Karakter dan penokohannya kuat. Gimana Ajeng keras kepala, tengilnya Gandi, Mama Ajeng yang super nyebelin, dan tokoh lain yang bikin hidup ceritanya. Chemistry antar tokoh juga feelnya kuat dan konsisten sih menurutku Konfliknya nggak usah di tanya. Klimaks abis. Walau banyak konflik2 ringan menuju konflik ending. Tapi, aku suka. Pengemasan dan penyelesaiannya rapih dan detail. Nggak bertele2. Judulnya pun menarik. Covernya simple tapi bagus. Gaya bahasa juga cukup ringan, walau aku agak terganggu dengan penyebutan Gandi yang Saya-Kamu. Gemes ajasih kenapa bukan Aku-Kamu gitu? Aku suka Gandi. Dia itu uh suamiable. Tapi, aku lebih suka Ajeng jadi cewek kuat abis. Apalagi ambisinya itu sama cita2. Mirip2 aku sih ehh 😂 Mungkin ceritanya memang ringan. Tapi, ada hal yang bikin aku ngerasa "buku ini bakal book hangover" gituh. Maybe, si Gandi yang uwuuu abis kali yah 😂 Overall, sukak dan recomended. Bukan hanya tentang percintaan, tapi juga tentang kekeluargaan, tanggung jawab, juga ketulusan
Setelah baca Progresnya Berapa Persen dan jadi salah 1 metropop terbaik versi gue, engga salah dong kalau punya ekspektasi tinggi buat buku ini?
But in the end, buku ini agak flat dan terlalu panjang, yg menurut gue seharusnya bisa lebih dipersingkat, supaya lebih terasa intensnya. 2 karakter utamanya too perfect for my taste, paket lengkap, jadi unreal dan membosankan.
Side charactersnya juga engga terlalu terasa solidnya seperti karakter2 di PBP. Terlalu banyak malah, circle di kantor dan Pandawa 5 beserta anak2nya. Gue rasa circle di kantor aja udah cukup. Bahkan gue sama sekali engga inget dan engga mau capek2 inget personil Pandawa 5 beserta para suami dan anak masing2. Kaya kurang ada kontribusinya untuk ceritanya sendiri, kecualin Iin yg perannya lumayan keliatan sebagai sepupu Gandi sekaligus ala2 mediator antara Gandi dan Ajeng.
Kalau di PBP gue betul2 merasa terhibur, engga sama halnya dengan buku ini. Sentuhan humornya kurang bangetttt. Bisa dihitung jari berapa kali gue mesem2, hanya hampir ketawa doang, bukan real ketawa :')
Uh-oh kesan pertama malah: mayan tebel uga nih buku, semoga ga bikin bosyen aja deh ya. Dan untungnya.... kucing-tikusan ala Gandi dan Ajeng yang hampir makan separuh buku berakhir bahagia ((yaelah spoiler banget masih diawal juga)). Benci sama cinta mah ga boleh berlebihan gitu yes, agabaik bisa switch tuh dua-duanya. Kaya si Ajeng dan Gandi ini.
Dari dua bukunya mba penulis satu kesimpulan saya, doi suka bikin cerita love-hate relationship gitu lah. Si cewe yang benci mampus sama karakter cowonya eh pas udah luluh ngalemnya naudzubilah.
Kali ini ngga bakalan ketemu sama con-block lagi gaes, meski profesi si laki architect tapi detail soal gambar2an ngga muncul kok. Malah serunya disini si Ajeng kerja di stasiun TV kan jadi berasa nonton the East di net gitu, haha. Dramanya? Seputar cewe aja sik ya, but realistis banget kok jadi ngga too much sampe bikin cringe. But si mamah yang kelewat semangat jodohin si Ajeng ini kadang suka bikin saya gedeg sendiri—she’s worry and love her too death, i know. Emang suka aja ama karakter si Ajeng maupun Gandi. Ajeng ini meskipun kadang sedikit rebel tapi sayang pol sama mama-papanya, terus si Gandi juga pinter banget ngambil hati orang tua, ngga egois terus mau nerima keputusan Ajeng meski aslinya nyesek.
“Ternyata benar apa yang dikatakan orang-orang. Jika kita mendahulukan kedua orangtua diatas segalanya, Tuhan akan mengirimkan hal yang indah sebagai balasannya.”—page 406.
Buku kedua Soraya Nasution yang saya baca. Seperti sebelumnya, saya suka. Penggambaran suasananya selalu bikin kita terbayang-bayang dan terbawa emosi. Cinta-cintaannya pun pas. Endingnya bikin deg-degan mikirinnya. Pas tau ini dari wattpad, agak terkejut. Ternyata ini nggak terlalu wattpad-wattpad banget. Suka lah, sama Gandi juga suka ahaha. My exact rating, 4.6.
Awalnya aku nyariin buku Alicia Lidwina, tapi ternyata buku itu terbitnya minggu depannya. Sebel huhu. Tapi aku dikasyih rekomendese ama temen aku nich. Dia demen Metropop ato Citylite gitu deh, biasa anak kosmopolitan haha.
Ceritanya cukup asik diikuti ternyataaaa. Surprised sih awalnya gak terlalu nyambung kaya pas baca mikir, "Apasi inih muter-muter bae." Terus karakternya ga nyantol gitu loh. Tapi lama-lama bisa dinikmati. Sampe ga berasa 2 hari kelar.
Riviu lengkapnya nyusul, mau riviw buku AL dulu mumpung inget dan baper. Ckiaw.
Setuju sama Ajeng, Gandi is disgusting gor sure. Tapi aku penasaran dr yg berkali kali di katain menjijikan sampe beneran jadi tuh gimanaa. Mana sadar diri pake ngomong ‘why you gotta be so rude’ segala, tapi ya gitu aja, selesai deh
Rating 2,5 Novel ini tebalnya 400 halaman. Wow tebal banget ini. Beberapa hal yang menjadi kekurangan novel Over the Moon:
1. Karakter pendukung yang telalu banyak. Anak-anaknya sobatnya Ajeng, para suami sobatnya Ajeng. Nama anaknya banyak banget yang kudu dihafal. Belum lagi, tiba-tiba ada nama tokoh disebut tapi ngga ada penjelasan dia siapa. Contoh, ada nama Double H, Dimas. Tapi info tentang mereka baru disebutin pas pernikahan sepupunya Iin yang lain. Kan bingung hamba. 2. Aku merasa perasaan Gandi ke Ajeng itu muncul terlalu cepat dan ngga ada alasan. Semacam instant love--sebagai pembaca aku blas ngga ngerasain percikan cintanya Gandi ke Ajeng. Lha wong awal ketemu langsung main cipok, terus ilang. Ketemu lagi pas kerja, cipok lagi, lanjut flirting terus. Kesannya malah Gandi cuma main-main aja. 3. Aku suebeeeel e ora eram sama ibunya Ajeng. Tiap baca dialog ibunya sama Ajeng ikutan emosi. Tipe ibunya Ajeng itu egois dan suka maksa. Aku tau sih niatnya baik tapi kok memaksakan kehendak. Maksa-maksa Ajeng kenalan sama cowok yang ngga dicek sikapnya gimana, kelakuannya gimana. Aku ngeliatnya kayak si Ajeng diobralin biar cepet dipinang sama cowok-cowok itu. Padahal kan Ajeng punya hak buat menolak dan memilih. 4. Part si Ajeng sama timnya yang nyari narasumber CEO aplikasi/website belajar online itu menurutku info yang terlalu bertele-tele. Mulai dari background sekolahnya apalah-apalah itu langsung aku skip. maap :( Selebihnya pas ceritanya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Ajeng, anak tunggal yang berusia 29 tahun, saat ini sedang dalam bursa perjodohan oleh Mamanya. Beberapa pria disodorkan ke Ajeng sebagai calon menantu, tapi tak satupun diterima oleh Ajeng. Sampai akhirnya ada Gandi. Awalnya Ajeng benci pada Gandi, yang pernah menciumnya di Inggris. Masalahnya waktu itu, Gandi tiba-tiba saja menciumnya tanpa penjelasan. Ketika mereka bertemu kembali karena pekerjaan Ajeng, Gandi tidak mengulur waktu mendekati Ajeng. Setelah ditampik beberapa kali, akhirnya Ajeng luluh juga. Sayangnya Gandi yang berkarir di Inggris bukan menantu ideal di mata Mamanya Ajeng.
Jujur saja, saya nggak begitu suka dengan karakter Ajeng. Dia ingin terlihat sebagai cewek tangguh, bahkan tidak segan berkata kasar pada Gandi. Yah, nggak bisa disalahkan sepenuhnya juga karena Gandi main nyosor aja sampai 2x tanpa penjelasan ke Ajeng. Belum lagi tingkah Mamanya Ajeng yang benar-benar annoying. Sinetron bangetlah. Kemudian Pandawa 5 yang katanya penting dalam hidup Ajeng, nyatanya malah kurang berperan dalam novel ini. Masih mending Nana Cs.
Di novel ini kamu akan bertemu dengan Ajeng, seorang host 'tomboy' berusia 30 tahun yang belom punya pasangan hidup dan udah dipaksa nyokabnya sendiri untuk cari pasangan hidup atau dijodohin , namun Ajeng ini tipe wanita yg digambarkan cantik cuman gak mudah terpikat oleh pesona pria, buktinya pesona Pak Vino dan Gandi yg digambarkan super ganteng bikin banyak wanita klepek2, hanya si Ajeng yg gak terpesona. Ajeng lebih tertarik pada karirnya, mimpinya yg menjadi produser. Di masa lalu Ajeng ini mengalami kejadian tak terduga dari Gandi yg justru bikin si Ajeng ampe benci sama si Gandi. Saking bencinya, semua hadiah Gandi gak sudi dia makan / gunakan.
Ikutin cerita mereka berdua seruu guyss, menarik. Bacanya juga gak ngebosenin, walaupun butuh effort lebih dibanding Novel Soraya yg lain ya. Gimana gak effort, ini tulisannya agak kecil. Hehehe. Konflik yg disajikan menurutku berat loh. I mean klo aku di posisi Ajeng atau Gandi, aku juga bingung sih harus gimana.
Overall, I like it. Aku suka dengan penyelesaian konfliknya jg. Buat you guyss yg suka bacaan dgn tema romance, try this yaah. Recommended!
Setelah kemarin baca Progresnya Berapa Persen? Saya jadi ketagihan buat baca novel lain karya Soraya Nasution, dan ketemulah dengan novel ini! Suka banget sama gaya penulisanya. Apalagi ceritanya juga maniss banget. Sampai bikin sakit mulut karena kebanyakan senyum wkwk.
Over the Moon bercerita tentang Ajeng, seorang produser muda berusia 29 tahun yang cantik, pekerja keras, ambisius dan keras kepala. Di usianya yang matang dan berkarir gemilang, dia masih saja menjomblo yang akhirnya membuat mamanya khawatir dan terus mendesaknya agar segera menikah.
Disisi lain ada Gandi, arsitek jenius yang tampan, kaya raya, periang, suka bercanda, chessy dan menguasai berbagai taktik cassanova. Dia sangat menyukai Ajeng, namun dengan segala sikap kasar, keras kepala, galak dan dinginya gadis itu, mampukah si playboy tersebut merebut hati Ajeng yang seperti batu?
Well, seperti saya bilang diatas, ceritanya itu manisss banget. Segala perlakukan Gandi terhadap Ajeng selalu bikin senyam-senyum karena dia pintar sekali men-treat wanita. Gandi yang selalu bersikap romantis, tidak pantang menyerah, baik hati, manis, lembut dan sebagaimnya terhadap Ajeng sebenarnya cukup membuat saya bingung. Saya masih nggak ngerti sih, tentang apa yang membuat Gandi begitu sangat menyukai Ajeng, bahkan bisa dibilang terobsesi terhadap gadis itu.
Karena rasanya cukup aneh mengingat hanya gara-gara ciuman di lapangan dulu. Yang bahkan setelah itu mereka tidak bertemu selama setahun, namun secara tiba-tiba Gandi menjadi sangat tergila-gila dengan Ajeng. Apa sebenarnya yang membuat Gandi menyukai Ajeng? Bener-bener engga terjawab disini. T.T
Yah walapun saya sangat menikmati dan menyukai interaksi Gandi-Ajeng ya wkwk. Interaksi mereka itu gemess banget. Gandi dengan segala perilaku cassanovanya, sedangkan Ajeng dengan segala cuek dan galaknya. Mereka berdua cocok banget, saling melengkapi wkwk. Saya suka banget perjuangan Gandi dalam mendapatkan Ajeng di bab-bab awal.
Yah pokoknya secara keseluruhan suka lah dengan cerita ini. Hanya saja mungkin ada beberapa hal yang terasa mengganjal yang membuat saya sedikit terganggu, yaitu tentang orang tua Ajeng.
Oke, orang tua Ajeng terutama Mamanya memang digambarkan toxic ya disini tapi rasanya karakter beliau justru terlalu dibuat berlebihan dan seperti ada ketimpangan.
Mama Ajeng sangat menyayangi putrinya karena dia anak tunggal. Beliau memberikan berbagai fasilitas agar anaknya hidup nyaman dan bahagia. Tapi disisi lain beliau jugalah yang justru menjerumuskan putri semata wayangnya sendiri pada kehancuran.
Bagaimana tidak? Beliau dengan egoisnya selalu mencoba menjodohkan anak satu-satunya yang KATANYA sangat beliau sayangi itu dengan sembarang pria. Beliau bahkan tidak memperdulikan latar belakang, sifat dan sikap laki-laki yang dijodohkan. Yang beliau inginkan hanya sebatas "anaknya laku" tidak peduli nantinya anakanya akan bersanding dengan duda muda beranak satu, seperti teman Papanya atau laki-laki kurang ajar yang suka menghina fisik seperti anak temannya sendiri.
Inilah yang saya bilang ketimpangan disini. Status Ajeng sebagai anak tunggal yang Mamanya seakan lupa dengan tittle tersebut. Sebagai anak satu-satunya, bukankan seharusnya orang tua justru memilihkan jodoh dengan sangat teliti untuk satu-satunya anak yang dimilikinya? Bukan asal comot pria begitu saja?
Yah.. kecuali jika Ajeng memiliki saudara, itu baru lain cerita. Misalnya Mamanya frustasi karena kakak atau adiknya Ajeng sudah menikah semua, sehingga Ajeng dijodoh-jodohkan oleh Mamanya asalkan bisa cepat menikah, itu lebih bisa saya terima sih.
Lalu lagi dengan penggunaan panggilan "Ajeng" yang entah mengapa sangat menggangu saya sebagai pembaca. Terutama untuk percakapan antara gadis tersebut dengan kedua orang tuanya. Ada kalimat seperti ini :
"Ya terserah Ajeng. Ajeng kan sudah dewasa. Ajeng tau mana yang terbaik untuk Ajeng. Ajeng tau apa yang Ajeng perlukan dan Ajeng inginkan"
Argghhh! Berapa kali kata Ajeng harus diulang coba?? Dan kalimat seperti itu hampir disepanjang halaman? Repetitif yang tidak perlu. Kenapa tidak diganti dengan kata "kamu" atau "Jeng" saja?
Ingat, Ajeng ini udah dewasa loh, 29 tahun! Dan orang tuanya justru berbicara dengan gaya mengobrol pada anak SMP atau SMA.
Ah benar, sedikit banyak karakter Ajeng tiba-tiba mengingatkan saya akan April di Progresnya Berapa Persen? Mulai dari gaya umpatanya yang suka bilang asem, kesukaanya pada martabak mesir, hobi makanya, sikap engga enakanya, 88% mirip banget dengan si April.
Bukunya memang bisa dikategorikan tebal ya, saya saja sampe 2 hari menyelesaikan novel ini. (Selain tebel, tulisanya juga kecil-kecil dan tipisss bangettt. Ditambah lagi per halaman juga padat). Untuk novel dengan halaman 400-an, saya bisa katakan konfliknya tidak terlalu WOW. Standar aja karena lebih banyak tentang bab-bab pendekatan Gandi. Tapi saya justru sangat menikmati bagian itu.
Terakhir, mungkin tentang Genk Pandawa 5 yang menurut saya nggak begitu penting kehadiranya. Serius deh, buat apa juga disebutin siapa saja anggota Genk Pandawa 5 beserta suami dan anak-anaknya yang justru bikin pusing jika kehadiran mereka tidak menambah bobot cerita? Mending langsung aja deh sebut sahabat Ajeng itu Iin (hanya satu) dari pada bertele-tele dengan menambah daftar tokoh figuran.
Betewe, Evelyn jadinya sama siapa nih? Penasaran saya? Wkwkw.
Oh iya, saya jadi inget lagi. Apakah nantinya usaha Gandi di Kuningan itu akan dinamai Gandi Partners, perusahaan di masa depan yang akan dilamar oleh Naufal di PBP? Wkwkwk.
3,5 👍🏻👍🏻👍🏻 the book is pretty good. overall suka. tapi terlalu banyak yang ngga penting malah menurutku. jadinya bacanya lumayan kerasa. tapi cukup menyentuh terutama di bagian ajeng, mama dan papanya. aku beberapa kali nangis. kadang ketawa juga kalo ajeng udah jadi galak. gandi juga sabaaaaar banget dan mau ngalah. walaupun ya kissing a girl he doesn't know intimately is a little disgusting to me. DAN OMG AKU KANGEN LIN DAN FACHRI karena dulu sempet baca di wattpad
3.5 stars to be exact!! I love how Ajeng start to fall slowly to Gandi. Ga buru2 dan ngalir. The story is so realistic and related to the real world. bacanya di gramed digital, font nya kecil bgt dan bacanya sekali duduk yg menjadikan aku migren setelahnya. Hahahaha. But it’s okay, the story worthy bgt buat di baca pas weekend atau di waktu luang. Keep up with the good work kak author!!
02.03 dini hari. Akhirnya nyelesaiin ini buku. Nangis aku bacanya wahahaaa nggak tahu ini kenapa sampai ngeluarin air mata. Will review it ASAP pokoknya.
Sukaaa... Bikin ketawa ketawa... Tp bikin nangis juga... Hehehehehe... Like it, enjoy it
Pertama-tama lihat halamannya kayanya banyaaaak banget, bayangan awal adalah, novel ini akan ada banyaaak sekali masalahnya. Ternyata, setelah dibaca, g berasa tiba-tiba sudah di halaman 200.... Dan, Karena sering baca novel yang POV nya ganti2... Jadi kadang penasaran pengen tau POVnya Gandi gimana...Hehe..
Alur ceritanya bagus, nggak terlalu cepat, tapi nggak ngebosenin. Meski bukunya tebel, malah bikin pengen baca terus. Cocok dinikmati di kala senggang.
Emosi yang dibangun lewat dialog dan narasi pov Ajeng di setiap setting tersampaikan dengan baik. Pas Gandi godain Ajeng, gemesnya Ajeng sama si 'arsitek gila', yang baca ikutan gemes. Pas Gandi sedih di depan makam orang tuanya, pas Ajeng berantem sama mamanya / ngobrol sama papanya yang sakit, pas Ajeng milih stay sama orang tuanya daripada ikut ke Inggris sama Gandi, ya ikutan sedih juga. Pas Gandi tiba-tiba muncul di apartemen Ajeng ngasih kejutan, atau pas baca endingnya, ikutan seneng juga. Adegan-adegan lucu digambarkan dengan ringan, nggak terkesan garing.
Suka banget penulis membangun karakter Ajeng yang keras kepala, kuat, cuek, kasar -sama Gandi- perlahan-lahan luluh sama Gandi. Di awal cerita Gandi emang digambarkan tengil banget, super ngeselin dan nggak sopan malah -haha, atuuh..pria macam apa yang nyium anak orang dua kali nggak izin terus sok kepedean dan sok kegantengan- . Tapi kemudian penulis menunjukkan sisi humanis Gandi yang sensitif, pedulian, dan pendengar yang baik. Menurutku novel ini nggak terlalu menonjolkan romansa Ajeng-Gandi (nggak ada stereotype tarik-ulur hubungan, nggak ada konflik orang ketiga yang terlalu intens, nggak banyak adegan mesra-mesra nggak penting - dan aku suka ini), tapi lebih ke how they work on for their relationship together. Gitu.
Karakter dalam cerita banyak banget. Misal, Pandawa 5 sama pasangannya. Padahal nggak semua karakter di Pandawa 5 diceritain panjang. Buatku, yang berkesan cuma Iin sama Oliv aja. Sampai pada satu titik, aku bingung 'mencocokkan' suami-suami dan anak-anaknya Pandawa 5, di pengenalan karakter bacanya harus pelan-pelan banget.
Pak Vino ini, bos (atau cowok?) yang paling nggak peka dalam cerita. Tapi bener, yang utama bagi pria tuh perasaannya sendiri ya. Nih Pak Vino gemesin. Ngajak dansa Ajeng padahal Ajeng lagi sama Eve. Udah di tolak, malah nyamperin bawain muffin sama black tea terus minta Ajeng makan/minum di depannya (like...for what? haha), masih nanya soal tawaran mamanya Ajeng main ke rumah padahal tau Ajengnya punya pacar. Atuhlah Bapak....haha. Usaha Pak Vino -yang katanya udah suka sama Ajeng dari awal masuk Gayatri TV- nih abu-abu banget, kurang keliatan usahanya. Terutama di awal-awal. Cuma sekadar nawarin anter/jemput mah ojek online juga bisa. lol.
Konflik Ajeng sama Mama asli bikin aku yang bacanya aja desperate. Apa penulis emang pengen membangun opini pembaca kayak gini ya, capek sama sikap Mama. 'Sayang' jadi tameng untuk bikin Ajeng nurut dan mengambil keputusan memilih tinggal orang tuanya daripada Gandi. Maksudku, ini Mama tipe orang yang manipulatif gitu nggak sih? Okelah Ajeng anak tunggal, tapi Mama digambarkan sebagai orang yang paling sering ngenalin Ajeng ke anak-anak temennya, tanpa ngeliat karakter mereka dulu -terbukti ternyata nggak ada yang bener-. Padahal seengaknya minimal kasih satu lah yang bener, yang bisa jadi saingan Gandi gitu, buat ngebuktiin kalau Mama tuh bukan sekedar ngejodoh-jodohin doang. Aku masih kesel sama Mama dan aku ngerasa 'dosa', hahaha, tapi gimana yak, emang mamanya ngeselin dengan segala keegoisannya. Ada kali ya mama gitu di dunia nyata? Semoga nggak ya. Kalaupun ada semoga nggak ada mama-mama tipe gini yang aku kenal.
Anyway, I enjoyed this story so much. Keep up the good work Mbak Soraya!