Jump to ratings and reviews
Rate this book

Roman Medan

Rate this book
Tembakau yang telah ditanam sejak 1862 menjadikan tanah Deli daerah yang lebih maju daripada kota-kota lainnya. Selain menjadi salah satu pusat seni pertunjukan, industri penerbitan majalah, surat kabar, komik, dan roman juga tumbuh bagaikan jamur di musim hujan. Modernisasi adalah napas kehidupan kota ini.

Joesoef Sou'yb dan Matu Mona menjadi sosok yang sangat diperhitungkan dalam sejarah keberadaan roman-roman Medan. Karya-karya mereka sekarang disimpan di Perpustakaan Universitas Leiden (Belanda). Roman Medan lainnya juga disimpan di banyak negara seperti di Amerika Serikat, Prancis, Jerman, Jepang, serta dimiliki oleh sekumpulan kolektor buku antik sebagai benda yang sangat bernilai.

Seiring dengan berputarnya roda sejarah, pelopor roman Medan mengalami banyak tantangan pada masa kolonial. Tantangan juga menghajar mereka ketika kondisi perekonomian terjun bebas di masa Indonesia baru merdeka. Munculnya sikap sinis dan skeptis tak terhindarkan lagi. Namun, di saat itulah masyarakat berpikir untuk bangkit, kembali menata diri dan hidup, termasuk dalam hal kesenian. Tebersit harapan untuk menghidupkan kembali penerbitan roman.

Para pengarang roman mendapat pengakuan internasional dan menjadi idola banyak pembaca. Grafik penjualan pun naik karena pemasarannya sampai ke Malaya, Singapura, hingga Arab Saudi.

Buku ini berusaha membentangkan perjalanan roman Medan dan menyajikan kembali imbasnya terhadap perkembangan sastra di Tanah Air. Perjalanannya menunjukkan bahwa kisah roman Medan adalah bagian masa lalu yang penting dalam perjalanan kesusastraan Indonesia.

278 pages, Paperback

Published January 1, 2018

1 person is currently reading
19 people want to read

About the author

Koko Hendri Lubis

5 books1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
3 (23%)
4 stars
4 (30%)
3 stars
6 (46%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Truly.
2,802 reviews13 followers
July 19, 2020
Roman Medan sebenarnya adalah seri dari majalah mingguan, dua mingguan, atau bulanan. Bentuknya berupa buku-buku kecil beriai cerita yang diterbitkan dalam seri ...."
hal x

Isinya sungguh cocok dibaca bagi mereka yang menyukai topik sosial budaya. Aneka uraian dan ilustrasi memperkaya penegtahuan pembaca perihal makan Roman Medan sebenarnya.
Profile Image for Fathiyah Azizah.
110 reviews34 followers
April 25, 2019
Roman Medan, berjumlah 348 halaman ini adalah buku non-fiksi yang membahas Asal mula dan perkembangan Roman Medan. Penulis membagi menjadi 4 bahasan: Kontribusi Roman bagi kebudayaan; Keberagaman dalam lembaran Roman; Keunikan dan Konteks Lokal; Pasang Surut Penerbitan Roman.


Riset penulis buku ini bukan main telitinya, Cover buku-buku Roman Medan yang tak sedikit jumlahnya ditampilkan di buku ini, iklan buku, foto suasana dalam penerbitan, pengumuman, pemberitahuan lembaga sensor, bahkan kuitansi pembayaran dari penerbitan di zaman dahulu kala ditampilkan pula. Segala polemik diungkap dengan netral, ditampilkannya 2 kubu yang saling berlawanan. Polemik Roman Medan yang dianggap picisan oleh Balai Pustaka dan Kritikus Jawa. Polemik Plagiat yang dituduhkan kepada Hamka.


Roman, awal aku kira semua karya roman fokus pada kisah percintaan. Aku keliru kawan-kawan. Roman adalah karangan prosa yang melukiskan perbuatan pelakunya menurut watak dan isi jiwa masing-masing. Bisa dikatakan fiksi adalah wahana untuk menyampaikan atau mencitrakan sesuatu, apapun pemikiran atau ideologi yang mengikutinya.
Ada Roman Medan yang mengisahkan tentang detektif juga. Roman Medan Hidup di Masa Penjajahan dan Kemerdekaan. Kentara sekali nilai perjuangan dalam Roman Medan. Ada nilai perlawanan terhadap feodalisme. Maka dari itulah sering kali dijatuhkan stigma Roman Medan oleh Balai Pustaka. Baru aku tahu ternyata Balai Pustaka perpanjangan tangan gubernemen. Kritikus sastra Indonesia yg berideologi barat menganggap bahwa Roman medan adalah Roman Picisan. Roman Medan penting pula mengimbangi bacaan dari asing yang berbau cabul.


Sebagai Penutup, mengutip penulis, "Roman Medan adalah Pelita Kecil yang memyuarakan keanekaragaman pikiran manusia. Pengarangnya boleh tiada dan zaman keemasannya mungkin telah berlalu, namun jejak perjuangan dan apa yang mereka lakukan akan tetap ada di dalam dunia literasi masa kini." 
Profile Image for Lisna Atmadiardjo.
146 reviews24 followers
January 31, 2021
Wow setahun baru kelar baca ini hahaha.

Roman Medan. Bagi anak yang tumbuh dengan segala yang Jawa-sentris, buku ini memberikan pengetahuan baru, A-Z kesusasteraan di Sumatera, yang pada jaman itu luar biasa pesat. Ada banyak sekali nama pengarang, penerbit, serta judul roman yang diterbitkan. Gak perlu khawatir, di glosarium dirangkum semua nama pengarang, penerbit, dan judul-judul romannya.

Tapi setelah selesai membaca buku ini timbul pertanyaan-pertanyaan:
1. Bagaimana rasanya hidup di jaman dimana terbit sebuah majalah yang hanya berisi roman? Pemikiran. Bukan berisi katalog yg merayumu untuk berbelanja.
2. Jika kita memiliki sejarah kesusasteraan yang demikian baik, berarti dulu kita punya kebiasaan membaca yang cukup baik pula kan? Lalu, kemana perginya terbitan-terbitan itu? Kemana perginya kebiasaan itu? Bagaimana bisa mereka berhenti dan menghilang begitu saja (Sastra Indonesia ya maksudnya, bukan hanya Roman Medan)? Kenapa tidak ada kelanjutanmya pada masa sekarang? Kenapa sastra sekarang hanya menjadi bagian kecil di halaman sebuah koran?
3. Mengapa tidak ada pengarang perempuan pada masa itu? Dan kapan mulanya gerakan menulis oleh perempuan? Kapan mulanya perempuan masuk Dalam kesusasteraan Indonesia?

Teman-teman yang baca review ini apakah punya referensi buku-buku lain yang harus saya baca? Mohon share di komen ya. Terima kasih sebelumnya 🙏🏼
Displaying 1 - 3 of 3 reviews