Tiba-tiba Izrail lenyap digantikan oleh sekuntum malaikat lain yang berbeda. Tubuh malaikat yang muncul tiba-tiba itu berubah-ubah bentuknya, dari mawar, lalu melati, kemudian kenanga, lantas bunga matahari, lalu berubah lagi menjadi anggrek putih dengan sejumlah noktah berwarna violet, hijau, dan oranye. Kembang-kembang itu ukurannya lebih besar ketimbang manusia. Kadang mekar besar sekali memenuhi angkasa. ... Ternyata kematian itu membahagiakan. Sungguh di luar dugaan. Kematian itu tak berbatas, luas bagai cakrawala. Mengapa harus ditangisi?...
Seorang laki-laki mendadak mati karena mengejar teroris dan kemudian mendapati kematian tidak semengerikan yang ia bayangkan. Seorang suami kehilangan istri yang memilih menggaib. Seorang penulis obituari sering dihindari orang karena takut si penulis bakal membawa kabar buruk sampai suatu hari ratusan ribu orang mendatanginya. Sementara hujan ikan turun dari langit dan ikan raksasa dari Laut Merah minta dipersembahkan kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW, serta kiai-kiai luhur muncul dari arah tak terduga dan memetik duit dari udara. Kacapiring adalah karya terbaru Danarto dalam tujuh tahun terakhir. Cerpen-cerpen dalam buku ini membuktikan bahwa Danarto masih menjadi salah seorang yang terdepan dalam penulisan fiksi Indonesia.
Danarto adalah sastrawan pelopor realisme magis di Indonesia—Goenawan Mohamad
Danarto dilahirkan pada tanggal 27 Juni 1941 di Sragen, Jawa Tengah. Ayahnya bernama Jakio Harjodinomo, seorang mandor pabrik gula. Ibunya bernama Siti Aminah, pedagang batik kecil-kecilan di pasar.
Setelah menamatkan pendidikannya di sekolah dasar (SD), ia melanjutkan pelajarannya ke sekolah menengah pertama (SMP). Kemudian, ia meneruskan sekolahnya di sekolah menengah atas (SMA) bagian Sastra di Solo. Pada tahun 1958–1961 ia belajar di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta jurusan Seni Lukis. Ia memang berbakat dalam bidang seni. Pada tahun 1958—1962 ia membantu majalah anak-anak Si Kuncung yang menampilkan cerita anak sekolah dasar. Ia menghiasi cerita itu dengan berbagai variasi gambar. Selain itu, ia juga membuat karya seni rupa, seperi relief, mozaik, patung, dan mural (lukisan dinding). Rumah pribadi, kantor, gedung, dan sebagainya banyak yang telah ditanganinya dengan karya seninya.
Pada tahun 1969—1974 ia bekerja sebagai tukang poster di Pusat kesenian jakarta, Tam Ismail Marzuki. Pada tahun 1973 ia menjadi pengajar di Akademi Seni Rupa LPKJ (sekarang IKJ) Jakarta.
Dalam bidang seni sastra, Danarto lebih gemar berkecimpung dalam dunia drama. Hal itu terbukti sejak tahun 1959—1964 ia masuk menjadi anggota Sanggar Bambu Yogyakarta, sebuah perhimpunan pelukis yang biasa mengadakan pameran seni lukis keliling, teater, pergelaran musik, dan tari. Dalam pementasan drama yang dilakukan Rendra dan Arifin C. Noor, Danarto ikut berperan, terutama dalam rias dekorasi. Pad tahun 1970 ia bergabung dengan misi Kesenian Indonesia dan pergi ke Expo ’70 di Osaka, Jepang. Pada tahun 1971 ia membantu penyelenggaraan Festival Fantastikue di Paris. Pada tahun 1976 ia mengikuti lokakarya Internasional Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat, bersama pengarang dari 22 negara lainnya. Pada tahun 1979—1985 bekerja pada majalah Zaman. Kegiatan sastra di luar negeri pun ia lakukan. Hal itu dibuktikan dengan kehadirannya tahun 1983 pada Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda. Tulisnanya yang berupa cerpen banyak dimuat dalam majalah Horison, seperti “Nostalgia”, “Adam Makrifat”, dan “Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaekat”. Di antara cerpennya, yang berjudul “Rintrik”, mendapat hadiah dari majalah Horison tahun 1968. Pada tahun 1974 kumpulan cerpennya dihimpun dalam satu buku yang berjudul Godlob yang diterbitkan oleh Rombongan Dongeng dari Dirah. Karyanya bersama-sama dengan pengarang lain, yaitu Idrus, Pramudya Ananta Toer, A.A. Navis, Umar Kayam, Sitor Situmorang, dan Noegroho Soetanto, dimuat dalam sebuah antologi cerpen yang berjudul From Surabaya to Armageddon (1975) oleh Herry Aveling. Karya sastra Danarto yang lain pernah dimuat dalam majalah Budaya dan Westerlu (majalah yang terbit di Australia). Dalam bidang film ia pun banyak memberikan sumbangannya yang besar, yaitu sebagai penata dekorasi. Film yang pernah digarapnya ialah Lahirnya Gatotkaca (1962), San Rego (1971), Mutiara dalam Lumpur (1972), dan Bandot (1978).
Danarto, bagi saya, adalah salah satu cerpenis terbaik Indonesia. Namanya dapat disetarakan dengan A.A Navis, Kuntowijoyo atau Budi Darma. Saya langsung menyukai suguhan narasi Danarto sejak membaca Godlob yang penuh dengan pesan dan simbol eskatis ataupun ketuhanan. Meski demikian, ia bukanlah pengarang dengan intensi menyampaikan amaran didaktis kepada pembaca, symbol-symbol dibalik teks Danarto dapat dipahami secara luas dan tidak selalu tunggal. Ada banyak kemungkinan cara berpikir dalam menalar cerita-ceritanya. Selain cerita yang menjadi judul buku ini, Nistagmus adalah cerita lain yang paling berkesan bagi saya.
Buku ini sudah berapa tahun ya di tangan saya. haha. Akhirnya selesai dibaca juga. Pertama beli buku ini karena konon Pak Danarto ini adalah masternya realisme magis, genre yang belakangan ini saya gemari. Dan memang realisme magisnya terasa sekali, sebagian besar bernuansa Islami. Beberapa cerita buat saya lebih mirip masuk majalah Hidayah, tapi beberapa lainnya apik dan memukau, jadi saya beri nilai tengah.
Jadi ingin baca Godlob, karena konon buku itu adalah karya terbaik beliau.
Andai tidak membaca nama penulisnya, sekilas buku ini mungkin akan dikira buku desain interior karena kovernya yang bergambar satu set meja makan di sudut ruangan di bawah jendela kaca (ya, jendela kaca, bukan kaca jendela, nama jalan tempat penerbit Banana berdomisili. Hehehe.) Setelah kita cermati barulah akan terlihat tulisan “cerpen” di sudut kanan atas dan nama penulisnya, Danarto, persis di bawah judulnya.
Danarto, meski telah menulis novel, namun publik pembaca sastra negeri ini lebih mengenalnya sebagai cerpenis. Ia telah menggeluti dunia penulisan fiksi sejak masih remaja. Cerpen-cerpennya dikenal beraliran surealis atau ada juga yang menyebutnya sebagai realisme magis. Belakangan, karya-karyanya terasa lebih relijius, bicara tentang spiritual dan semangat keagamaan (Islam).
Tak terkecuali dalam buku yang berisi 18 cerita pendek ini. Cerpen-cerpen relijius mendominasi disusul kemudian tema-tema realitas sosial dengan tetap berada di jalur sureal.
Lihat saja, misalnya, cerpen berjudul “Lauk dari Langit” (hlm.58). Dari judulnya pun kita sudah bisa menduga “benda”-nya. Cerpen ini berkisah tentang satu keluarga petani miskin yang tiba-tiba mendapat karunia hujan ikan dari langit. Begitu banyaknya, sampai-sampai mereka kebingungan hendak diapakan ikan-ikan tersebut.
Lalu ada lagi yang tak kalah “magis”-nya, yakni “Jejak Tanah” (hlm.20) yang bertutur ihwal sesosok jenazah yang ditolak bumi lantaran semasa hidupnya orang yang kini telah jadi jenazah itu pernah berlaku sewenang-wenang membebaskan tanah rakyat untuk pembangunan sebuah real estate. Temanya memang agak mirip dengan sinetron hidayah di televisi yang marak beberapa waktu lalu, ya?
Lalu ada juga “Pohon Rambutan” (hlm.84). Sebatang pohon rambutan yang tumbuh begitu saja di tepi jalan, di tepi sawah. Tak bertuan, tak berteman. Ia sudah ada sejak jaman Jenderal Sudirman berperang melawan Belanda. Buahnya selalu lebat dari musim ke musim, dinikmati oleh siapa saja. Pohon ini menjalin persabahatan dengan seorang lelaki. Sebuah pertemanan yang abadi, sejak si lelaki masih belia hingga tua renta. Saya kok menafsirkannya sebagai “persahabatan” antara Golkar (partai berlambang pohon beringin itu) dengan penguasa Orde Baru yang barusan meninggal, Soeharto.
Ada satu cerpen terpanjang (aneh ya kalimat saya, cerpen kok panjang?) di buku tipis ini, yaitu “Alhamdulillah, Masih Ada Dangdut dan Mi Instan” (hlm.114). Dengan menarik dan jenaka, Danarto mendongeng tentang perjalanan panjang kehidupan seorang Slamet yang mengalami jatuh bangun sejak jaman sebelum kemerdekaan hingga era reformasi. Melalui tokoh jelata Slamet, Danarto menjadikan cerpen ini semacam catatan dan kritik kepada pemerintah–tak peduli rezim manapun yang berkuasa–kerap menindas rakyatnya dengan mengatasnamakan kepentingan negara. Cerpen ini juga menggambarkan karakter umum rakyat kecil yang bukan saja nrimo tetapi sekaligus juga ulet dan tahan banting meskipun berulangkali didzalimi. Rakyat kecil terbukti memiliki kekuatan sendiri untuk bertahan hidup di negeri yang carut-marut.
Musibah banjir yang sempat menenggelamkan Jawa Timur dan sekitarnya tak luput dari jamahan Danarto. Ia mengabadikannya dalam “Pantura” (hlm. 108). Atau soal riuh rendah UU Antipornografi, diresponsnya melalui “Telaga Angsa” (hlm. 70).
Tetapi dari 18 cerpen ini, favorit saya adalah “Nistagmus” (hlm. 45). Entah apa artinya kata ini, saya baru menemukannya di cerpen ini. Cerpen yang sebelumnya pernah juga saya baca di Kompas Minggu dan buku Kumpulan Cerpen Terbaik Kompas 2006 ini secara cerdas dan menawan merekam peristiwa gempa besar tsunami yang meluluhlantakkan bumi Serambi Mekah, Nanggroe Aceh Darussalam. “Nistagmus” bercerita mengenai bencana tanpa meratap dan mengiba-iba. Malah cenderung jenaka. Danarto baru memunculkan peristiwa bencana itu pada akhir kisah. Jenius!
Oya, judul Kacapiring diambil dari salah satu cerpen di buku ini.
Karya seseorang sering dianggap sebagai cerminan pribadi orang tersebut. Apakah kehidupan pribadi Danarto juga relijius, saya tidak tahu persis. Saya tak cukup mengenal beliau. Kami hanya bertemu sesekali pada perhelatan dan acara-acara sastra di TIM. Ada satu peristiwa yang mengesankan saya bersama pria kelahiran Sragen, 1940, ini.
Sekali tempo beliau menraktir saya baso di warung paling pojok di TIM. Kami bertiga waktu itu dengan Ita Siregar. Tengah enak-enaknya mengunyah baso sembari ngobrol ngalor-ngidul, seorang bocah lelaki penyemir sepatu menawarkan jasanya. Tanpa ba bi bu, Pak Danarto langsung menyerahkan sepatu sandalnya untuk dipoles. Beliau kemudian menatap juga sepatu kami berdua. Dan kiranya hanya sepatu saya yang paling mungkin untuk disemir. Maka, Pak Danarto yang selalu berbusana putih-putih ini meminta saya untuk memasrahkannya juga kepada si bocah tukang semir. Wah, padahal saya paling malas meladeni para penyemir ini. Sama malasnya seperti kepada tukang asongan atau pengamen. Tetapi kali ini apa boleh buat.
Setelah selesai sepatu kami dibuat separuh mengilap, Pak Danarto pun membayar upahnya. Beliau bukan cuma membayar untuk sandalnya tetapi juga sekalian untuk sepatu saya. Walah, saya jadi malu sekali. Bukan lantaran ditraktir dua kali–baso dan semir–namun karena seperti disentil dan disadarkan betapa saya selama ini sudah jadi orang yang pelit.
Akan tetapi kalau saya katakan, bahwa buku ini layak dinikmati terutama bagi para penggemar cerpen, itu bukan lantaran saya pernah ditraktir beliau loh, ya. ***
Baru kali ini saya membaca realisme magis. Beberapa mirip seperti cerita-cerita di majalah Hidayah yang suka saya baca zaman sekolah dasar dulu, bedanya ini lebih 'nyastra'. Pengetahuan Pak Danarto akan dunia luas sekali. Isu-isu yang diangkat ini bukan cuma soal agama, tapi juga sosial dan seni, ya yang semuanya pasti ujung-ujungnya nyerempet agama. Membaca cerita-cerita di sini seperti mendengar seorang khatib ceramah tapi tidak menggurui. Nasihatnya memang seringkali gamblang, tapi fiksi tetaplah fiksi. Ia melahirkan tafsir yang jamak.
pernah diterbitkan dalam judul yang lain, kacapiring. saya sudah menyelesaikan buku ini bulan maret 8 tahun yang lalu. time flies so fast...
'alhamdulillah masih ada dangdut dan mie instan' adalah cerpen terasik dalam buku kumpulan cerpen ini. pilihan kedua jatuh pada nigtamus. sungguh mengherankan, membaca buku yang sama di waktu yang berbeda bisa menyebabkan efek samping yang sama sekali berbeda.
mari sama-sama bacakan alfatihah untuk Mbah Dar yang 2 tahun lalu berpulang.
Tak menyangka ada kumcer sebagus ini,sufistik dan askestisme lagi. Telaga Angsa,salah satu cerita di sini mungkin bukan yang saya favoritkan tapi cukup relevan dengan kondisi saat ini,antara murni seni atau pornografi(dua hal yang selalu dipermasalahkan dalam sebuah bentuk pertunjukkan tari atau koreografi oleh orang awam). Di sini juga ada cerita dengan fokus berbeda tapi terikat satu kejadian,yaitu tsunami.
Cerpen-cerpen Danarto dalam buku ini masih menampilkan kekuatan terbaiknya seperti kupulan cerpen Godlob dan Adam Marifat. Menarik, pantas masuk longlist Khatulistiwa Award 2008
Lagi-lagi saya mendapatkan cakrawala baru sejauh saya membaca. Danarto sangat 'aneh' dalam merangkai sebuah cerita. Namun, anehnya keanehan tersebut merupakan aneh yang dapat dinikmati. Buku ini menjadi bukti bahwa imajinasi manusia memiliki kekuatan tidak terbatas di dalam hidup yang serba terbatas ini.
Kumpulan cerita pendek karya Danarto ini menjadi salah satu alasan mengapa kita dilahirkan sehingga kita dapat menikmati karya-karya Almarhum.
Dari buku ini, saya mendapati diri semakin merenungi hari ke hari tentang siapa saya sebenarnya dan tentunya segala perenungan mengenai apa yang menjadi kepercayaan hati ini.
Saya paham Danarto ingin membuat cerita yang akhirnya twist. Tapi sangat disayangkan, sering kali penggunaan twist ini terlalu ujuk-ujuk, tak ada kesinambungan dan bahkan tidak ada remah- remah petunjuk yang disebarkan sepanjang cerita menuju akhir. Selain itu, konsistensi dalam menggunakan bahasa bercerita sering berubah-ubah dan hal ini cukup mengganggu.
Untungnya saya cukup suka dengan tema-tema yang diangkat. Sehingga buku ini masih enak untuk dinikmati.
Buku yang sudah lama saya simpan ini akhirnya di baca juga, Danarto begitu pintar dalam membuat cerita pendek yang kuat akan nasihat di dalamnya, realisme magis yang di bangun pun begitu kuat, karena di beberapa cerita ini menggandung unsur ngawur, mengada ngada, namun danarto lihai dalam menganaolgikan sebuah kisah ke dalam nasihat religius. Merefleksikan bahwa hidup banyak sekali takhayul yang di percaya dan ujung-ujungnya "ulahmu.olehmu"
Salah satu buku kumpulan cerpen paling menarik yang pernah saya baca. Danarto berhasil mengajak saya memasuki sebuah 'pengalaman baru' dari setiap tulisan yang ada di dalam buku ini.
Terlebih saya dipahamkan bahwa cerpen memang 'boleh' untuk seperti ini. :)
Butuh waktu untuk tenggelam ke keseluruhan cerita Danarto di kumcer ini, dan persepsi awal saya di awal bagian cerpen memiliki begitu banyak bias terutama dengan cerpen yang memiliki banyak unsur agama dan kepercayaan. Terdapat nuansa Jawa yang kental, dan pemujaan terhadap Bung Karno yang membuat kumcer ini menjemukan (dan biasa ditengah dominasi sastrawan dengan gaya, latar belakang, dan tema kepenulisan yang serupa), namun kisah epik (yang mengingatkan saya kepada cerpen Samsara oleh YAP di Muslihat Musang Emas) di Alhamdulillah, Masih Ada Dangdut dan Mie Instan memberikan pengalaman membaca yang memuaskan bagi saya secara keseluruhan.
Realisme Magis terasa dan memiliki coraknya tersendiri dalam kumcer ini, dan Danarto memang menjadi pelopor, namun Eka Kurniawan dalam cerpen dan novelnya saya rasa lebih mampu dan unggul dalam menulis dengan gaya kepenulisan ini.
Tidak ada yang bisa meragukan kereligiusitas dalam setiap cerpen Danarto. Kalimat-kalimat yang berkaitan dengan agama islam berceceran dalam buku ini (pun dengan buku yang lain:Berhala, Gergasi, Adam Makrifat, Godlob, Setangkai Melati di Saya Jibril). Sebagai contoh: langit, malaikat, izrail, lailatul qodar, Allah, dll.
Aku membaca buku KACAPIRING ini seperti diajari filsuf dan tasawuf lewat fiksi. Sebagai contoh bagaimana Danarto menjelaskan prespektif kematian menurutnya, ....Kematian itu membahagiakan. Sungguh di luar dugaan. Kematian itu tak berbatas. Terhadap kematian, sungguh seharusnya tidak diucaokan ikut berduka-cita sedalam-dalamnya. Yang diucapkan mestinya ikut bersuka-ria semeriah-meriahnya.... (hal.10 dalam cerpen Jantung Hati).
Menurut Danarto kematian berarti bebas dari dunia yang memenjarakan, dunia yang penuh kefanaan, dan menuju akhirat yang kekal tanpa batas. Dalam cerpen itu, disebutkan seorang polisi yang tiba-tiba mati saat menyelidiki kasus terorisme.
Di beberapa cerpen Danarto sangat terasa hawa mistis, mungkin karena keilahian yang sering diangkat Danarto erat hubungannya dengan dunia gaib-tak kasatmata. Misal dalam cerpen Kacapiring yang dijadikan judul, mengisahkan seorang ibu yang memiliki kamar sendiri yang penuh misteri. Juga dalam cerpen Lailatul Qadar bagaimana keluarga yang sedang mudik dari jakarta-jogja merasa dimudahkan dengan munculnya jalan gaib yang lengang hingga dimudahkan.
Selain itu kisah para orang salih juga diangkat Danarto, misal dalam cerpen Ikan-ikan Dari Laut Merah. saya pernah mendnegar kisah macam ini saat dulu nyantri di masjid, tentang seorang yang dengan ikhlas menyerahkan hadiah pada orang salih dengan ketela, tetapi karena keikhlasannya ia membawa kambing pulang.
Isu tentang Tsunami juga sangat bagus diceritakan Danarto, dalam cerpen Lauk dari Langit, Nistagmus, Pohon Sebatang Itu.
Silakan baca selanjutnyaaa.... Tak rugi membaca cerpen2 ini. SUKA!!!
Danarto menawarkan realisme magis yang berbeda dengan sastra-sastra amerika latin yang saya baca sebelumnya. Unsur asketisme dalam cerpen-cerpennya, lebih mudah diterima akal sehat dan cenderung terjelaskan, meski bisa jadi itu karena 'magis' islam yang diangkatnya sudah akrab dengan saya. Runtutan ketertarikan Danarto terhadap suatu pun juga terlihat jelas. Ia juga sesekali mengorientasikan ulang sejarah, meski saat melakukannya unsur magis tak lagi terdeteksi seperti dalam cerpennya yang lain.
Ini adalah perkenalan saya dengan karya-karya salah satu seniman besar Indonesia saat ini. Selain fakta bahwa saya baru punya buku beliau ini. Eh tapi ingat-ingat ke belakang, ternyata bokap punya buku jadul Danarto lainnya yang berjudul Orang Jawa Naik Haji. Tak sabar segera membacanya. Dalam kumpulan cerpen ini masih terasa sekali bahwa beliau bermain-main dengan tema realisme magis yang ia kembangkan sejak dulu. Dan sejujurnya saya juga suka dengan tema-tema yang diangkat. Gaya bercerita Danarto terasa ringan sekaligus mendalam tanpa menghilangkan keindahannya bermain kata-kata. Beberapa kalimat dalam buku ini pantas dijadikan kuotasi tersendiri yang menarik dari seorang seniman besar seperti beliau. Sadarlah kita ketika membaca bku ini, bahwa Danarto adalah seorang seniman yang lengkap. Tidak hanya bermain cerita pendek tetapi juga berbagai bidang seni lainnya. Cerpen yang saya suka dalam buku ini adalah Alhamdulillah, Masih Ada Mie Rebus dan Telur. Sebuah kisah yang bisa dbilang panjang ternyata mampu dipadatkan menjadi cerita pendek. Juga beberapa cerita pendek di awal yang menarik. Rasanya Kacapiring layak dikoleksi bagi penggemar Danarto.
(rating sementara karena belum usai baca, berarti yang berikut juga komen sementara)
pertama, arsitek tidak makan rujak di tengah malam saat mereka sedang mengejar deadline. percayalah, om. kami terlalu mumet untuk bikin rujak. kami pilih indomie goreng telur kornet. kedua, saya suka sekali dengan imaji malaikat izrail yang bermata miliaran itu. ketiga, mudik lebaran dengan mobil boleh dibilang 'sama sekali tidak menyulitkan; saat terjebak macet, bisa lewat jalur selatan' jika dan hanya jika terjadi pada tahun 2000 atau sebelumnya. keempat, dialog-dialog yang muncul begitu teatrikal, sahut-menyahut dengan cepat (kami menyebutnya dialog ping pong), dan satir.
Nggak seberat Adam Ma'rifat, buku ini jauh lebih 'membumi'. Aliran yang dipakai pun tak melulu realisme-magis mengingat banyaknya cerpen yang lekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga kita tak perlu mngerutkan kening saat membaca. Misalnya saja di cerpen tentang "Slamet" yang sangat lekat dengan keseharian kita.
Danarto menurut saya, adalah penulis religius, tanpa perlu menggunakan campuran bahasa arab dan setting di timur tengah. :)
real events + Kafkaesque phenomena = awesomeness. I actually forgot what I wanted to write about this book, hmm...
eta: untuk editor: - kayanya waktu jaman hp udah ga ada yang namanya sltp, udah ganti smp - anak sma tidak membaca cosmopolitan di dalam mobil saat bersama orang tuanya (just saying...)
Another Danarto's finest work. To me Danarto's stories is about families with more than one children in it with a single sufistic stories in each. I do like a lot "Kacapiring" story amongst other short story in this book which are all contained at least one of the family member dead.
Danarto masih salah satu pencerita terdepan di negeri ini. Ia bisa memungut tema apa saja, dan mengolahnya menjadi cerita yang fantastis khas Danarto. Namun tidak semua cerita di buku ini kuat. Salah satu yang paling saya sukai adalah yg judulnya 'Lauk dari Tuhan'. Merinding baca akhir ceritanya.