Pernah membayangkan jika kamu dijodohkan atau menikah dengan seseorang yang belum kamu kenal bahkan belum kamu cintai? Tanyakan pada Hessa, bagaimana rasanya...
Hessa memiliki wajah yang cantik, penampilan yang menarik, sayangnya untuk urusan percintaan Hessa harus gigit jari. Kekasih yang lama dipacarinya ternyata tidak berniat serius dengannya. Di usianya yang sudah matang dan pantas untuk menikah, belum ada satu pun calon suami potensial yang hadir.
Hingga akhirnya orangtua Hessa pun turun tangan. Mama Hessa pun mencoba mengenalkan Hessa dengan anak sahabatnya sejak kecil. Mama Hessa yakin Afnan calon suami yang cocok untuk Hessa. Awalnya Hessa agak curiga dengan Afnan, karena Afnan memiliki segalanya yang diinginkan oleh wanita, karir yang mapan dan wajah yang tampan.
Namun, kecurigaan itu akhirnya luntur, karena Afnan ternyata pria baik-baik dan memang terlalu sibuk dengan karirnya sehingga tidak sempat untuk menjalin hubungan dengan wanita mana pun. Hanya dalam 2x pertemuan saja, Afnan langsung melamar Hessa menjadi istrinya. Hessa tentunya kaget, apalagi mereka belum saling mengenal.
Afnan tidak ada waktu lagi untuk menjalani hubungan layaknya pacaran, seperti pedekate, jadian kemudian menikah. Afnan menginginkan istri, bukan hanya kekasih. Namun, Afnan tak memaksa Hessa untuk langsung menerima lamarannya, Afnan siap menanti apapun jawabannya.
Hessa tentunya bingung sekali, bagaimana pun juga Afnan tetaplah pria asing untuknya. Hessa pun harus menerima bahwa dia hanya bisa berkomunikasi jarak jauh via video call maupun media lainnya, karena jarak Aarhus dan Indonesia begitu jauh membentang. Komunikasi yang terjalin beberapa bulan dan restu orangtua Hessa, membuat Hessa pun mantap menerima Afnan.
Afnan dan Hessa pun akhirnya menikah. Karena Afnan bekerja di Aarhus, Denmark akhirnya diputuskan bahwa Hessa akan mengikuti Afnan untuk tinggal disana. Dimulailah kehidupan baru mereka sebagai pengantin baru. Tidak mudah saling menyesuaikan diri. Hessa tidak hanya harus menyesuaikan diri sebagai istri Afnan saja, tetapi juga lingkungan barunya, Aarhus. Hessa masih saja sering merasakan kerinduan yang mendalam terhadap Indonesia, bahkan Hessa seakan tidak bisa menyukai kehidupan barunya di Aarhus. Apalagi Afnan sibuk dengan pekerjaannya dan susah untuk menghabiskan waktu bersama Hessa.
Hessa ternyata sulit untuk beradaptasi, puncaknya Hessa didiagnosis menderita Seasonal Affective Disorder, karena kurangnya paparan sinar matahari. Hessa depresi dan tertekan dengan lingkungan barunya dan malah makin merindukan kehidupan lamanya di Indonesia. Hessa pun harus mendapatkan terapi dan minum sejumlah obat anti-depresan. Keinginan untuk memiliki anak pun harus ditunda.
Kurangnya komunikasi membuat Hessa dan Afnan sering bertengkar, pertengkaran kecil demi pertengkaran kecil. Apalagi Afnan sama sekali tidak mengizinkan Hessa untuk pulang ke Indonesia tanpa Afnan. Bagaimana nasib pernikahan Afnan dan Hessa? Sanggupkah cinta membuat mereka saling bertahan?
"Life is not about happily ever after. It's about finding happiness event in the darkest of times."
Ini adalah karya debut Ika Vihara. Kali ini melalui debutnya, Mba Ika mencoba mengangkat kisah pasangan yang menikah karena perjodohan dan pasangan beda bangsa. Disinilah kamu akan diajak berkenalan dengan sosok Hessa dan Afnan. Perkenalan mereka yang cukup singkat, kemudian akhirnya memutuskan untuk menikah dan memulai hidup baru di tempat yang baru tentunya tidak mudah.
Banyak sekali penyesuaian yang harus dilakukan. Tidak hanya terhadap pasangan satu sama lain, juga lingkungan barunya. Hessa yang baru pertama kali jauh dari orang tuanya dan hanya bisa menggantungkan diri terhadap suaminya, Afnan. Dulu, di Indonesia Hessa punya keluarga, sahabat dan pekerjaan yang menyenangkan. Sedangkan setelah menikah, Hessa pun berubah status menjadi istri dan ibu rumah tangga.
Mba Ika secara perlahan dan cukup mendetail mengisahkan kepada pembaca bagaimana Hessa dan Afnan bertemu hingga kehidupan baru mereka sebagai pasangan suami istri. Setting Aarhus pun cukup detail dijelaskan, benar-benar mendukung cerita ini, tidak sekedar tempelan belaka, aku seakan diajak berkeliling bersama Hessa. Jujur, aku sama sekali tidak pernah mendengar tentang Aarhus, melalui novel ini aku jadi mengetahui banyak info baru tentang kota yang ternyata indah ini.
Novel ini pun memotret kehidupan pernikahan dengan cukup baik. Pasangan yang sudah saling mengenal lama saja, pada awalnya akan terasa sekali perbedaan dan butuh penyesuaian apalagi buat Hessa dan Afnan yang semula memang hanyalah asing satu sama lain. Sebuah pernikahan itu perlu kerjasama kedua pihak, toleransi, kompromi dan komunikasi.
Novel ini memang mengangkat tema yang mainstream, tapi salut buat Mba Ika. Walau aku sejak awal sudah bisa menebak akan dibawa kemana kisah ini, aku tetap saja penasaran dan terus membaca hingga akhir.
Baik Hessa dan Afnan sama-sama hidup dan karakter yang dibangun membuatku seakan lebih dekat dengan keduanya. Ah, Afnan ini mungkin bukanlah pria romantis yang suka memberi bunga atau menghadiahkanmu kejutan-kejutan, tapi Afnan mencintai dengan caranya sendiri. Karakter Afnan yang agak "nerd" dengan obsesinya terhadap Gundam ini malah menjadikan Afnan sebagai sosok yang menarik. Begitu juga dengan karakter pendukung lainnya, membuat novel ini semakin menarik untuk dibaca. Kayaknya Mba Ika bisa mengembangkan kisah lainnya ney, mungkin kisah Lily atau Mikkel, saudara Afnan :)
Overall, buat kamu pecinta kisah pernikahan beda budaya dan bangsa, atau kisah perjodohan, aku rekomendasikan novel ini untukmu. Semoga jatuh cinta dengan kisah Hessa-Afnan.