Membangun sebuah rumahtangga memang tidak mudah. Di mana dua insan yang berbeda dipersatukan lewat sebuah pernikahan. Saling pengertian dan saling percaya merupakan kunci utama dalam menjalankan rumahtangga. Seperti cerita Rayya dan Gandhi yang di mana dua kunci utama tadi tidaklah mereka pergunakan dalam pernikahan mereka. Sehingga terjadi kesalahpahaman dan ego masing-masing pun menguasai. Melihat sampul bukunya yang berwarna biru sudah cukup untuk memikat mata untuk membacanya. Selain warnanya yang eye-catching, gambar pada sampulnya pun terkesan ringan, sederhana, dan menggemaskan. Di mana gambar seorang wanita yang sedang tertidur di ranjang sendirian sudah menggambarkan isi ceritanya. Perpaduan warna, gambar, dan judul buku menciptakan sebuah ilustrasi yang menghibur netra.
Cerita pernikahan yang ditulis oleh Malashantii kali ini adalah tentang perselingkuhan. Bagaimana sebuah pernikahan yang kurang pengertian dan kurang perhatian bisa memancing suami mencari kesenangan pada wanita lain. Alasan mengapa Gandhi berselingkuh dari Rayya terdengar masuk akal dan tidak berlebihan. Efek yang ditimbulkan dari perselingkuhan itu pun tergambarkan dengan baik dan penuh emosi. Saya menyukai cara penulis yang terlihat matang dalam mengangkat tema ini. Di mana penulis tidak hanya mengambil sudut pandang wanita, tapi juga bagaimana sudut pandang pria ketika melakukan perselingkuhan. Naluri pria yang memang selalu memcari kepuasan dengan egonya yang tinggi tersalurkan pada tokoh Gandhi. Di sini terlihat jika perselingkuhan terjadi bukan seratus persen karena kesalahan dari pihak pria, namun pihak wanita pun turut andil di dalamnya.
Dua tokoh utama dalam novel ini adalah Rayya dan Gandhi. Rayya merupakan seorang wanita muda yang telah menikah dan berprofesi sebagai penulis. Rayya memiliki karakter yang keras kepala dan cuek, tapi juga memiliki sisi yang rapuh di dalam dirinya. Sementara Gandhi digambarkan sebagai seorang pria dewasa yang bekerja sebagai aparat negara. Gandhi bersifat playboy, perhatian, dan sedikit dewasa sih menurut saya. Meskipun berselingkuh Gandhi tetap mengakuinya sebagai seorang pria dewasa. Sementara Rayya meskipun memang selingkuh itu menyakitkan, tapi terkadang ada sisi kekanakan yang saya lihat dari dirinya. Selain dua tokoh tersebut tidak banyak tokoh-tokoh pendamping lainnya, seperti Budhe Pur, Diara, Rendra, dan Han. Meskipun minim tokoh, tapi penulis cukup berhasil memperkuat ceritanya hanya melalui tokoh Rayya dan Gandhi. Kedua tokoh utamanya bisa dibilang cukup kuat, namun saya berharap tadinya jika penulis bisa lebih menggali latar belakang keluarga Rayya.
Kota Surabaya dan sekitarnya menjadi latar tempat yang digunakan dalam cerita cinta Rayya dan Gandhi. Menurut saya kota Surabaya sudah digambarkan dengan baik sehingga nuansanya terasa. Gaya bahasanya ringan dan mengalir. Tidak sulit untuk segera tersedot masuk dalam jalinan ceritanya. Alur cerita berjalan cepat dan langsung menyentuh inti utama cerita. Alur yang cepat ini akan memudahkan kita untuk segera menyelesaikannya dalam sekali duduk saja. Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang ketiga lewat tokoh Rayya dan Gandhi. Penulis dengan cerdas sukses memberikan sudut pandang yang adil antara Rayya dan Gandhi. Sudut pandang yang adil ini juga akan memudahkan pembaca untuk memahami gejolak emosi dari masing-masing tokohnya.
Mungkin konflik yang terjadi dalam jalan ceritanya akan terdengar klise, yaitu seorang suami yang selingkuh akibat kurang perhatian dari istrinya sehingga menyebabkan ledakan dalam rumahtangga mereka. Dan inilah yang tepat terjadi pada pernikahan Rayya dan Gandhi. Di mana Gandhi merasa jika Rayya lebih mencurahkan perhatiannya kepada naskah novel daripada kepada dirinya. Maka sesuai insting laki-laki, Gandhi pun menemukan perhatian lain di luar sana. Dan terjadilah sebuah perpecahan dalam mahligai rumahtangga Rayya dan Gandhi. Walaupun terlihat klise dan biasa, tapi menurut saya penulis dengan baik memperlihatkan setiap aspek dan alasan dari mengapa konflik ini bisa terjadi. Penulis tidak menghakimi Rayya maupun Gandhi, tapi memerlihatkan jika keduanya memang salah. Di satu sisi Rayya terlalu cuek, tapi di sisi lain Gandhi terlalu berani. Kedua sisi ini diceritakan dengan cukup kuat dan beralasan.
Tema perselingkuhan sebenarnya adalah salah satu tema favorit saya dalam lini Le Mariage. Menurut saya ada sebuah faktor yang menarik dari tema ini. Bagaimana perselingkuhan bisa terjadi dan seperti apa pihak yang diselingkuhi bisa menghadapinya. Cloud Above My Bed cukup menggambarkan itu semua dengan baik. Meskipun singkat dan ringkas, tapi penulis tidak lupa memasukkan poin-poin penting dalam jalan ceritanya. Namun sayangnya menurut saya porsi perselingkuhan Gandhi ini masih terlalu sedikit dan kurang mendalam. Saya berharap jika chemistry Gandhi dan selingkuhannya ini bisa terjalin lebih kuat lagi. Atau bahkan mungkin perselingkuhan mereka bisa lebih ekstrim lagi. Satu hal lagi yang menurut saya nggak terlalu penting adalah kehadiran Han. Jika memang Han ini ingin di masukkan dalam cerita mungkin alangkah baiknya mendapatkan porsi cerita yang lebih banyak lagi. Saya merasa jika Han dan Diara ini hanya sekadar tempelan belaka. Secara keseluruhan Cloud Above My Bed memperlihatkan bagaimana perselingkuhan terjadi hanya bukan kesalahan dari satu pihak, tapi kedua belah pihak. Di mana perhatian dan kepercayaan merupakan modal utama dalam membangun sebuah hubungan.