Jump to ratings and reviews
Rate this book

Di Kaki Bukit Cibalak

Rate this book
Perubahan yang mendasar mulai merambah desa Tanggir pada tahun 1970-an. Suara orang menumbuk padi hilang, digantikan suara mesin kilang padi. Kerbau dan sapi pun dijual karena tenaganya sudah digantikan traktor. Sementara, di desa yang sedang berubah itu muncul kemelut akibat pemilihan kepala desa yang tidak jujur. Pambudi, pemuda Tanggir yang bermaksud menyelamatkan desanya dari kecurangan kepala desa yang baru malah tersingkir ke Yogya. Di kota pelajar itu Pambudi bertemu teman lama yang memintanya meneruskan belajar sambil bekerja di sebuah toko. Melalui persuratkabaran, Pambudi melanjutkan perlawanannya terhadap kepala desa Tanggir yang curang, dan berhasil. Tetapi pemuda Tanggir itu kehilangan gadis sedesa yang dicintainya. Dan Pambudi mendapat ganti, anak pemilik toko tempatnya bekerja, meski harus mengalami pergulatan batin yang meletihkan.

176 pages, Paperback

First published January 1, 1986

53 people are currently reading
674 people want to read

About the author

Ahmad Tohari

47 books506 followers
Ahmad Tohari is Indonesia well-knowned writer who can picture a typical village scenery very well in his writings. He has been everywhere, writings for magazines. He attended Fellowship International Writers Program at Iowa, United State on 1990 and received Southeast Asian Writers Award on 1995.

His famous works are trilogy of Srintil, a traditional dancer (ronggeng) of Paruk Village: "Ronggeng Dukuh Paruk", "Lintang Kemukus Dini Hari", and "Jantera Bianglala"

On 2007, he releases again "Ronggeng Dukuh Paruk" in Java-Banyumasan language which is claimed to be the first novel using Java-Banyumasan. Toward his effort, he receives Rancage Award 2007. The book is only printed 1,500 editions and sold out directly in the book launch.

Bibliography:
* Kubah (novel, 1980)
* Ronggeng Dukuh Paruk (novel, 1982)
* Lintang Kemukus Dini Hari (novel, 1985)
* Jantera Bianglala (novel, 1986)
* Di Kaki Bukit Cibalak (novel, 1986)
* Senyum Karyamin (short stories, 1989)
* Bekisar Merah (novel, 1993)
* Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1995)
* Nyanyian Malam (short stories, 2000)
* Belantik (novel, 2001)
* Orang Orang Proyek (novel, 2002)
* Rusmi Ingin Pulang (kumpulan cerpen, 2004)
* Mata yang Enak Dipandang (short stories, 2013)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
252 (23%)
4 stars
472 (43%)
3 stars
323 (29%)
2 stars
32 (2%)
1 star
11 (1%)
Displaying 1 - 30 of 226 reviews
Profile Image for Sulin.
331 reviews56 followers
August 12, 2015
Bintang lima karena memang patut dibintangi lima.

Banyak yang sering ngomongin Tohari karyanya keren, tapi saya gakmau ketipu dengan baca buku best-sellingnya "Ronggeng Dukuh Paruk", saya mau buktikan keunikan karyanya denga buku lain yang jauh lebih gak terkenal dan gak tebel tentunya.--> Di Kaki Bukit Cibalak

WAH! Jujur saya langsung jadi gandrung sama beliau. Mungkin saya penggemar bau kencur, tapi saya akui beliau memang layak jadi pionir kepenulisan sastra. Bahasanya enteng, ringan, tidak membosankan, tapi dapet banget nilainya.

Banyak pilihan diksi yang berbahasa Jawa, tidak jadi soal buat saya(karena saya Jawa), tapi kadang saya kepikiran bagaimana orang-orang yang bukan suku Jawa mengerti ini artinya apa :)

***
Jadi, buku ini bercerita tentang Pambudi atau "Pam", yang merupakan warga asli desa Tanggir, tepatnya Cibalak. Nah, zaman dahulu kan lagi musimnya KKN, sayangnya warga masih belum paham KKN itu apa mereka "nrimo ing pandum" pokonya mengiyakan aja apa kata atasan dan itu nggak banget.

Akhirnya si Pam ini menguak lurahnya yang suka korupsi, main wanita, judi dan berbuat curang itu.

Pambudi ini pikirannya paling visioner di kampung itu, saya juga bingung dia dapat ide seperti itu darimana karena sangat kontras ketika semua warga nedha nrima, sisi kemanusiaan dia menggelora.
Petualangan pertama ketika Pambudi membantu warga Cibalak yang miskin lehernya kena kanker getah bening, dibawa ke Yogya dan dia cari sponsor lewat Harian Kalawarta supaya membantu membiayai operasi kanker itu.

Dia diusir dari kampungnya, pake guna-guna. Tapi untungnya tercegah akhirnya dia hengkang sendiri.

Kuliah lagi di Yogya tujuannya untuk menggulingkan si lurah, jurusan teknik kerja di Tacik penjual jam tangan nyambi juga jadi kacung.

Di Tacik ketemu jodohnya Cina cantik namanya Mulyani-anaknya Tacik,dan akhirnya melupakan cinta pertamanya yang dinikahi lurah Tangggir secara paksa, Sanis.

Akhirnya lurah Cibalak yang KKN, digulingkan dengan cara penjebakan sama camat Tanggir.

Happy ending.
***

Tapi ceritanya nggak seaneh sinopsis saya, ceritanya baguuuuus, enteng, ringan dan bermakna <-ditekankan.

Plotnya mudah ditebak sih, tapi bukunya entah kenapa membawa kebahagiaan bagi saya karena kasus yang dibahas cocok banget dengan kondisi zaman sekarang. Kritis banget padahal dialognya cuma sedikit, kebanyakan narasi.
Sebagai bonus akan saya hadiahkan beberapa dialog favorit saya di buku ini.

Halaman 99-100
"Pam, kukira banyak anak muda seperti kita ini yang memiliki semangat Don Quichote, meskipun tarafnya berbeda-beda. Terkadang kita ingin mengenakan baju besi, memanggul tombak dan menantang musuh. Tetapi ingat! hanya Arjuna kecil yang dapat mengalahkan Nirwatakawaca yang raksasa. Hanya si kecil Daud yang bisa mennag atas Goliath. Semuanya cerita lama. Bukti kebenaran kataku itu adalah apa yang telah kualami sendiri. Aku percaya bulat, kau punya itikad yang bening di desamu sendiri. Kau menginginkan kemajuan yang sehat, kau memikirkan perbaikan dalam kehidupan masyarakat. Kau hendak membawa suara dan nilai-nilai pembaharuan ke tengah kalangan orang-orang yang memiliki pengetahuan dasar tentang pembangunan pun belum. Akibatnya kau sendiri yang jatuh bukan?"
*****
Halaman 124-125
Penyalahtafsiran nilai-nilai ketimuran sama jeleknya dengan pameran isi celana dalam yang konon bersala dari kebudayaan Barat. Akhirnya orang harus berpikir kritis dan objektif, misalnya mengapa di negeri ini belum pernah dipentaskan secara utuh cerita Arjuna Wiwaha. Mengapa orang tidak berani menampilkan adegan Arjuna yang sedang digeluti tujuh bidadari bugil yang diamuk syahwat. Tetapi anehnya tak ada orang yang menyangkal Arjuna Wiwaha adalah buatan Indonesia, yang mestinya termasuk bercorak ketimuran.
*****
Halaman 155
"Persis! Ayahku telah menjadi veteran tua,"
"Sabarlah, akan kutempuh jalan kebijaksanaan. Sekali lagi kebijaksanaan!"
"Maaf, Ayah, yang namanya kebijaksanaan selalu muncul dari kewenangan. Patokannya sangat subjektif dan baur. Kebijaksanaan tidak akan menyelesaikan masalah ini dengan tuntas. Ia hanya akan menggeser masalah itu ke samping, bukan menyelesaikannya sama sekali."

nb. saya nakal, membaca buku ini di tengah UAS semester 5, taruhannya nilai.
nnb. Semoga ada yang mau baca review saya yang panjang dan subjektif serta serba amatir ini.
* coba di like
** coba di komentari :p
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books62 followers
December 10, 2025
Buku Ahmad Tohari pertama yang aku baca. Patutlah jika nama beliau termasuk yang disegani dalam kancah penulisan di Indonesia.

Buku yang ringan namun dalam. Beliau pandai bermain kata-kata tanpa harus mengernyitkan sudut mata pembacanya.

Suka buku ini. Walaupun kalau ingat Pak Dirga, salah satu tokoh di buku ini, aku jijik bukan kepalang.

8,5/10
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,037 reviews1,963 followers
May 13, 2015
Lelah setelah membaca Chomsky, lelah karena hampir setiap hari bergelut dengan buku teks yang berbahasa Inggris, aku memutuskan untuk membeli buku Tohari yang satu ini. Sebenarnya sudah ada dalam daftar bacaku, hanya saja aku selalu melewatkannya dengan alasan ingin membaca buku YA barat yang sedang ramai dibicarakan oleh kaum Booklr. Maka kembalilah aku pada penulis Indonesia favoritku ini.

Gaya Bahasa, Kosa Kata, dan Penyampaian
Kalau sudah pernah membaca karya Tohari yang paling fenomenal, Ronggeng Dukuh Paruk, aku rasa pembaca tetap tahu bagaimana gaya bahasa dan cara penyampaian pesan yang ditulis olehnya. Tegas, namun dengan rangkaian diksi yang indah. Permainan kata-katanya bagiku tidak sembarang memberikan arti denotasi, ada unsur konotasi yang ternyata masih relevan dengan keadaan masyarakat Indonesia saat ini. Meskipun buku ini ditulis pertama kali pada tahun 1994, tetapi permasalahn sosial yang diangkat oleh Tohari masih saja ada di negara kita.

Tulisannya selalu menyoroti masalah sosial, seakan memberi sindirian bahwa negara Indonesia yang katanya merdeka ternyata tidak sepenuhnya bebas. Penggunaan kosa katanya masih konsisten. Siapapun yang sudah pernah membaca karya Tohari pasti tahu kata-kata yang sering ia sematkan di dalam cerita. Khas Tohari itulah yang membuat aku suka dengan tulisan-tulisannya (dan dalam tahap mengoleksi karya-karya beliau). Khas tulisan pada era itu namun tidak membingungkan. Malahan memberi perasaan tersendiri kepada pembaca bahwa tulisan Tohari tidaklah sama dengan yang ada di pasaran saat ini. Kalau boleh aku berpendapat, membaca tulisan Tohari secara langsung menambah perbendaharaan kata kita, di samping pembaca menjadi peka dan mau melihat ke bawah.

Plot
Di awali dengan kilas balik keadaan desa Tanggir yang berada di kaki bukit Cibalak, tentang bagaimana masyarakat desa itu secara umum dan pak lurahnya. Barulah kemudian cerita di dalamnya menjadi beralur maju. Sudut pandang yang diambil adalah dari orang ketiga serba tahu.

Penokohan
Tokoh utama dari kisah desa Tanggir ini adalah seorang pemuda berusia 24 tahun bernama Pambudi. Kalau bagiku pribadi, sosok Pambudi digambarkan sebagai lelaki yang pasti ingin dinikahi. Wataknya serba positif, tidak mudah tersulut amarah, ditambah dengan ketulusannya ketika membantu sesama. Tokoh utama ini aku rasa agak sulit ditemukan di tanah yang sudah terpaksa menjadi modern (atas nama pembangunan dan kemajuan bangsa, padahal itu semua adalah alibi kapitalis). Memang sih ada kemungkinan orang-orang seperti Pambudi belum punah, tapi aku rasa kecil kemungkinannya bukan?

Tokoh "lawan" dari Pambudi adalah seseorang bernama Pak Dirga. Namanya juga lawan, seakan semua perangai buruk ada padanya. Tohari menggambarkan Pak Dirga seperti apa yang terjadi pada banyak pejabat sekarang: berbohong agar keuntungan yang melimpah masuk ke kantong pribadinya. Pak Dirga pun tidak hanya berlaku curang, melainkan juga melakukan guna-guna agar tercapai tujuannya itu. Gambaran Pak Dirga kurang lebih bagiku seperti memberi tahu mereka yang ada di perkotaan, bahwa akibat modernisasi, tingkah laku orang-orang desa yang kabarnya sangat humanis berubah menjadi hanya berorientasi pada uang semata.

Masih ada lagi tokoh pendukung seperti Sanis dan Mbok Ralem. Namun keduanya bukanlah fokus utama dari buku ini.

Ide Cerita
Tetap yang diangkat oleh Tohari adalah isu-isu sosial. Bahwa kemajuan yang diidolakan oleh banyak orang desa ternyata hanya sebatas pada fasilitas tanpa adanya perkembangan untuk sektor pendidikan bahkan kesejahteraan hidup orang desa itu sendiri. Yang kaya akan semakin kaya karena bisa membodohi orang-orang yang sudah bodoh itu. Praktik KKN bahkan sudah dimulai semenjak berada di taraf desa hingga akhirnya fitnah demi fitnah menyebar untuk menutupi kejahatan oknum yang korup.

Belum lagi soal menjadi yang benar diantara mereka yang salah dianggap sebagai suatu keburukan. Menolak bekerja sama melakukan tindakan korupsi dianggap sebagai perbuatan tercela yang membuat orang akhirnya menerima fitnah dan terpaksa melangkah pergi. Tohari pandai menuliskan kisah tersebut dan sangat terasa sebagai fenomena sosial yang memilukan namun tetap eksis hingga kini.

Diantara rumitnya kehidupan pedesaan yang penuh intrik dan guna-guna, Tohari masih sempat menyelipkan kompleksitas kisah percintaan. Konfliknya hampir mirip dengan kisah Ronggeng Dukuh Paruk, si perempuan pendidikannya tidak setinggi si laki-laki, belum lagi adanya halangan-halangan dan pergolakan batin yang menyakitkan.

Tohari selalu tampil dengan konflik sosial pedesaan ketimbang perekonomiannya. Membuat pembaca terbelalak bahwa adanya fasilitas yang memudahkan lantas tidak membuat hidup pedesaan jadi lebih makmur dan sejahtera. Fasilitas-fasilitas tersebutlah yang menjadi penyebab nilai-nilai luhur pedesaan menjadi luntur. Teguran Tohari pada bab terakhir begitu nyata. Teguran yang ditujukan kepada pembacanya yang pasti, tidak berada di pedesaan. Tegurannya seperti tamparan panas yang menghampiri pipi.

---

Aku berani beri 5 bintang dari 5 bintang karena bagiku kisah yang berada di kaki bukit Cibalak seperti memang benar terjadi. Belum lagi permainan kosa katanya yang indah dan mudah diikuti. Aku bingung ingin mengatakan apa lagi selain, bacalah buku ini.
Profile Image for Michiyo 'jia' Fujiwara.
428 reviews
May 24, 2012

Pilihan..

Pambudi seorang pemuda baik dan santun dari Desa Tanggir, ia dihadapkan oleh sebuah pilihan; ikuti perintah atau menentang perintah lurahnya. Ia memilih pilihan yang kedua, ia menentang perintah lurahnya, Pak Dirga. Pilihannya ini membuatnya harus menerima konsekuensi, terasing dan disingkirkan. Harga yang harus dibayar dari sebuah idealisme dari anak muda ini, atas dorongan dari sahabatnya, suatu saat Pambudi bisa membalas perbuatan jahat dan fitnah yang ditujukan kepadanya dengan cara yang cerdas dan cara yang terhormat.

Perubahan..

Bukit Cibalak, bukit yang awalnya rindang penuh pepohonan dan satwa yang menghuni didalamnya, makin lama makin terdegradasi hingga habis tak tersisa, tidak ada pohon, tidak ada satwa, dan bahkan tidak ada air. Cuma seonggok bukit kapur. Semua itu terjadi karena sikap serakah dari manusia, mengambil semua pohon jati yang ada dan membakar habis bukit itu pada masa kerusuhan politik tahun 1965.

Ajaran dari buku ini:
‘I have not begun to fight yet’
Kata seorang Admiral terhadap pemberontakkan yang dilakukan oleh anak buahnya sendiri. Dalam kasus Pambudi: ia belum cukup modal untuk menantang berkelahi terhadap kepalsuan dan kemunafikan yang terjadi di desanya.

Satu hal yang pasti disini, setiap orang terlepas ia berbuat baik atau buruk akan mendapatkan kharmanya masing-masing. Buku tipis dengan cerita yang sederhana, tidak se-kompleks cerita dalam Ronggeng Dukuh Paruk. Buku yang layak untuk diajarkan sebagai bahan pembelajaran moral, ada aspek cinta lingkungan, saling toleransi dan menghargai sesama manusia.

Satu lagi, ada sebuah kisah cinta unik, kisah cinta antara Mulyani dan Pambudi.
Profile Image for tata.
109 reviews5 followers
March 13, 2023
Niatnya aku hendak memutus reading slump, ternyata malah bertambah parah. Aku kira membaca karya Tohari bakal bikin bacaanku lebih cepat, ternyata malah melambat dan nggak kubaca-baca lagi. Meski novel ini pernah menang sayembara, aku ngerasa ini bosenin parah. Aku pikir isu yang dari awal mulai digambarin tentang pejabat amoral, misalnya, akhirnya kurang dibawa lagi sampe akhir. The romance was really unnecessary. I said what I said. Buat apa juga karakter Sanis jadi aneh, dan munculnya karakter Mulyani buat “pelengkap” Pambudi? Ya udahlah ya akhirnya selesai juga, tapi aku kurang suka sih, tetep.
Profile Image for Juniar.
103 reviews31 followers
January 28, 2008
Sederhana tapi menyentuh, dan bukannya novel ringan dalam arti kandungan cerita, meskipun betul ringan dalam konteks jumlah halaman.
Profile Image for Wina S. Albert.
164 reviews2 followers
October 18, 2024
Simbolisme dalam Di Kaki Bukit Cibalak memperkaya narasi dan memberikan kedalaman pada tema yang diangkat. Dengan menggunakan berbagai simbol, Tohari mengeksplorasi tema perubahan, identitas, dan konflik antara tradisi dan modernitas, serta tantangan yang dihadapi masyarakat dalam mempertahankan nilai-nilai mereka di tengah arus perubahan yang cepat.

1. Jalan setapak yang dulunya dilalui oleh kerbau melambangkan kehidupan agraris yang harmonis dengan alam. Ketika jalan ini beralih menjadi jalan yang dilalui traktor, simbol ini menunjukkan pergeseran dari tradisi ke modernitas. Ini mencerminkan konflik antara cara hidup tradisional dan dampak negatif dari industrialisasi.

2. Kerbau dalam cerita ini bukan hanya sekadar hewan ternak, tetapi juga simbol dari ketahanan dan tradisi. Ketidakberadaan kerbau, yang digantikan oleh traktor, mengisyaratkan hilangnya koneksi masyarakat dengan warisan budaya mereka. Kerbau juga mencerminkan peran masyarakat desa yang kini terpinggirkan oleh kemajuan yang tidak mereka kuasai.

3. Alat-alat modern, seperti obat semprot ketiak yang diceritakan oleh Pak Danu, menjadi simbol dari pengaruh budaya konsumerisme dan nilai-nilai yang terdistorsi. Ketergantungan pada barang-barang ini menunjukkan bagaimana masyarakat desa terpengaruh oleh iklan dan tren, yang pada gilirannya mengubah cara pandang mereka terhadap diri sendiri dan lingkungan.

4. Proses pemilihan lurah adalah simbol dari politik lokal yang korup dan manipulatif. Di sini, pemilihan bukan hanya soal siapa yang terbaik, tetapi lebih kepada siapa yang memiliki koneksi dan uang. Ini mencerminkan realitas pahit dari sistem politik yang sering kali tidak adil dan tidak bisa diandalkan.

5. Burung srigunting yang kini punah menjadi simbol dari hilangnya keindahan dan kebebasan. Kehadirannya yang dulu melambangkan kehidupan yang berwarna dan kaya di desa kini digantikan oleh suara mesin dan kebisingan, menunjukkan dampak negatif dari perubahan lingkungan.

6. Pawuan yang dipenuhi sampah plastik menggambarkan realitas kehidupan masyarakat yang tidak lagi menghargai lingkungan. Ini mencerminkan ketidakpedulian terhadap akibat dari modernitas dan konsumerisme, serta penurunan nilai-nilai tradisional yang mengajarkan penghormatan terhadap alam.

Ahmad Tohari menyoroti betapa mudahnya manusia terjebak dalam ilusi modernitas, tanpa menyadari bahwa mereka telah kehilangan jati diri. Akhirnya, Di Kaki Bukit Cibalak adalah sebuah satir tajam yang menggugah kesadaran saya tentang realitas masyarakat desa.
Profile Image for Munadhia.
2 reviews
December 26, 2021
Konflik antara Pambudi dengan lurah yang tamak seperti dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Ceritanya ringan dengan alur maju sehingga mudah dibaca. Sosok Pambudi punya karakter idaman dan bisa jadi panutan untuk muda-mudi saat ini. Sayangnya akhir dari konflik antara Pambudi dan Pak Lurah diceritakan dengan buru-buru dan tidak detail, sehingga emosi saya terhadap Pak Lurah kurang tersalurkan hehe.
4 reviews
June 6, 2025
[Bambang reminds me of Mr. Vice President if he had true critical thinking back then (instead of making shady business scheme and mocking his-now-partner on Kaskus)]

Overall still relevant until today, give us the perspective how feudalism, animism, grassroot democracy and bureaucracy (the corrupt one) works together somewhere in Java

And also about destiny that lead someone to the better life and soulmate

p.s: gw bangga sama Pambudi, mau rela lapang dada shg dpt ganjaran yang lebih wah
Profile Image for Chels.
180 reviews3 followers
December 23, 2023
Cerita perihal peran pemuda untuk memajukan desanya. Seperti biasa atas karya Ahmad Tohari, nilai-nilai kearifan lokal banyak muncul di sini: masyarakat dengan falsafah nrima pandum, kearifan alam Bukit Cibalak, dll. Tokoh Pambudi menggambarkan semangat pemuda berjiwa jujur, berani. Ia menempatkan kemanusiaan di atas segalanya. Potret korupsi di pemerintah desa dan pernikahan kanak-kanak yang lumrah ditolaknya. Ia membantu orang miskin. Ia berrjuang untuk mendapatkan kekuatan dalam berperang melawan ketidakadilan, kecurangan, dan kemunafikan warga desanya. Kisahnya tetap relevan hingga saat ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for ki.
82 reviews6 followers
Read
July 29, 2025
Kisah kehidupan masyarakat desa di kaki Bukit Cibalak dengan dengan segala permasalahan sosial dan politiknya, sambil mengangkat budaya koruptif, mistisisme, dan patriaki pedesaan Jawa. Juga diselingi kisah romansa Pambudi dengan Mulyani yang manis sekali..
Profile Image for Seara Maheswari.
79 reviews1 follower
June 30, 2024
Baca ini ga pake lama sebenernya. Alurnya ringan, sangat ringan. Tapi maknanya, luar biasa dalam. Relate banget sama kehidupan desa: kamu punya kuasa, kamu menang.
Profile Image for fara.
280 reviews42 followers
August 19, 2022
Kalau soal tulisan dan gaya bercerita Ahmad Tohari, emang selera saya sejak lama. Namun, saya nggak berekspektasi kalau novela (karena lumayan tipis) ini bakal sebagus itu. Mengesampingkan deskripsi dan nuansa pedesaannya (yang udah pasti saya suka karena superdetail dan sangat menjiwai), sebenarnya plot ceritanya biasa-biasa saja dan cenderung datar. Konfliknya ada, tetapi nggak sampai menjadi kasus besar yang penyelesaiannya maharibet kayak di novel-novel Ahmad Tohari yang lain. Bercerita seorang pemuda dari Desa Tanggir bernama Pambudi yang memiliki pemikiran yang berbeda dan lebih revolusioner daripada kebanyakan penduduk desanya. Oleh karena sikapnya itu, Pak Dirga si kepala desa yang korup dan culas membuatnya dikucilkan.

Pambudi pun memutuskan untuk pindah ke Yogyakarta dan merelakan cinta pertamanya, Sanis. Di sana ia tinggal bersama teman lamanya dan bekerja di toko jam sebelum kemudian bekerja menjadi jurnalis di surat kabar yang dahulu pernah menolongnya. Saya suka bagaimana karakter gigih Pambudi ini dan pemikiran-pemikirannya yang melampaui zaman (bahkan kalau boleh saya katakan, sepanjang cerita saya naksir berat sama Pambudi, duh). Apalagi ketika saya membaca isi pertentangan isi hatinya soal Sanis: Memang, di Tanggir bukan hal yang aneh bila seorang pengantin perempuan baru pertama kali memakai kutang sesaat sebelum menghadap penghulu. Gadis seperti itu akan segera menjadi seorang istri selagi usianya baru tiga belas, selagi dadanya masih rata. Nah, aku sendiri menganggap perkawinan kanak-kanak seperti itu tidak berbeda jauh dari perkosaan. Bagaimana bisa jadi, seorang anak yang juga masih berjiwa anak-anak dapat langsung mengambil peran seorang perempuan dewasa, seorang ibu rumah tangga.

Bahkan seorang Bambang yang merupakan anak laki-laki Pak Camat yang punya pengaruh saja sampai menaruh hormat padanya. Saya melompat kegirangan ketika sampai pada bab di mana Pambudi akhirnya memutuskan untuk kembali berkuliah sambil bekerja. Bagaimana ia menulis dengan lugas (dan juga terang-terangan) soal permasalahan di Desa Tanggir melalui surat kabar juga menurut saya menjadi bahan balas dendam paling elegan. He's officially my current boy crush. Bahkan seperti halnya di awal-awal cerita ketika ia membantu seorang janda miskin, Mbok Ralem yang terkena kanker, untuk berobat ke kota. Pambudi yang heroik adalah antitesis dari Pak Dirga yang merupakan cerminan dari birokrat kolot nggak tahu malu.

Saya juga suka (bahkan selalu suka) cara Ahmad Tohari menambahkan hal-hal yang relevan dan dekat dengan gambaran nyata pedesaan. Seperti kepercayaan masyarakat soal klenik dalam kutipan berikut: Hari Anggara Kasih adalah sebutan mistik bagi hari Selasa Kliwon. Senin malamnya dianggap sebagai saat yang baik untuk penduduk sekitar Bukit Cibalak guna memasang sesaji atau guna-guna. Mereka yang masih percaya pada takhayul merasa yakin bahwa membakar kemenyan dan memasang sesaji pada malam itu akan mendatangkan rupa-rupa kebaikan, gampang menemukan jodoh, dekat rezeki, atau terhindar dari guna-guna yang jahat. Selain itu, masalah lingkungan yang diangkat juga insightful meski tipis-tipis: Pernah ada serombongan mahasiswa dari Bogor datang memberi ceramah kepada para penduduk. Mereka menerangkan dasar-dasar pengertian ekologi dan ekosistem dengan cara yang paling mudah dimengerti. Tetapi orang-orang Tanggir yang datang menghadiri ceramah itu hanya berangkat karena dipaksa oleh Lurah.

Menurut saya, deskripsi Ahmad Tohari soal alam dan pedesaan memang selalu sempurna. Saya nggak bisa memungkiri bahwa karya-karyanya telah sedikit banyak memengaruhi gaya menulis saya. Lokalitas, sosial budaya, adat istiadat, kepercayaan, kebiasaan, ciri khas, hingga vibes dari masyarakat kecil memang selalu menjadi daya tarik tersendiri yang ditawarkan Ahmad Tohari lewat tulisan-tulisannya. Meski agak kurang sreg pada pemotongan waktu di tengah jalan yang sedikit dipaksakan (tahu-tahu Pambudi lulus sarjana), saya masih bisa mengabaikannya karena untuk pertama kalinya saya jatuh cinta yang romantically pada tokoh utama novel lokal. Duh, Mas Pam!
Profile Image for Teguh.
Author 10 books335 followers
June 20, 2014
Sehabis membaca novel tipis ini saya bertanya: Intrik pedesaan macam apa yang belum dituliskan oleh Ahmad Tohari?. Maka novel-novel setelah Ahmad TOhari, yang berlatar budaya agraris Jawa dan pedesaan tidak akan sehebat Ahmad Tohari. Hal ini sangat mungkin disebabkan karena Ahamd Tohari menjalaninya sendiri kehidupan desa itu.

Berkisah tentang kehidupan Desa Tanggir, di kaki Bukit Cibalak. Pak Dirga adalah lurah yang culas, korup, dan bajul (istilah di novel ini untuk menyebut suka main perempuan). Lalu dikonfrontasikan dengan Pambudi, pemuda Tanggir yang meski hanya bersekolah SMA tetapi memiliki pmikiran lebih maju dan jujur. Bahkan Pambudi berani melawan Lurah Dirga karena tidak mau membantu pengobatan Mbok Ralem, yang terkena kanker.

Berkat kecerdikan Pambudi, dan kerjasama dengan surat kabar Kalawarta di Yogya untuk membuat dompet amal, Mbok Ralem sembuh dan berhasil operasi. Maka konfliknya bermula di sini. Lurah Dirga merasa dilangkahi dan menganggap Pambudi duri dalam daging. Terlebih diam-diam pambudi juga menarih hati dengan Sanis, anak Pak Modin yang juga dialem oleh Lurah Dirga si lelaki bajul.

Demi menjaga ketenangan, Pambudi merantau ke Yogya. Menemui teman SMA-nya yang kuliah di sana. Sebelum kuliah Pambudi bekerja di toko jam tangan, dan disana bertemu dengan anak juragannya, Mulyani. Pambudi kuliah dan bekerja sebagai wartawan di Kalawarta. Sedang Mulyani yang mencintai Pambudi, sebagai adik tingkat di kampus Pambudi. Intriknya ada di sana...

Tetapi novel ini seperti membenturkan dua kubu. Kubu Pak Dirga dan Kubu Pambudi.Kubu orang tua kolot dan kubu anak muda dengan semangat meletup2 unutk perubahan. Juga ada kubu modernisasi dan kubu tradisi, saat Lurah Dirga bermaksud mengguna-guna Pambudi atau Bu Lurah Dirga yang mendatangi dukun. Semua ada tumplek blek di novel ini. Semacam sebuah keniscayaan akan perubahan. Ada yang kolot kekeh mempertahankan adan ynag sudah melaju dengan cepat.

Tetapi ternyata jiwa Pambudi tetaplah jiwa anak muda Tanggir, yang bersifat kawula, dengan falsafah wani ngalah luhur wekasane. Maka saat di akhir-akhir, Pambudi terjerat permasalahan asmara dengan Mulyani, Pambudi sadar diri. Dan terus saja menyimpan rasa sukanya pada anak juragannya itu. Entah Pembudi sedang diam merencanakan sesuatu, atau justru kembali memakai falsafah sebagai kawula yang tak masalah harus terus mengalah. Karena novel ini diakhiri dengan tidak menyebutkan solusi itu:

Cibalak diam, sabar menanti apa pun yang bakal terjadi pada dirinya. Tetapi seolah-olah Cibalak mengerti seorang pecintanya sedang pergi meninggalkannya. Seandainya ia bisa bertutut kata, pastilah Cibalak akan berseru, "Karena Mulyani, apakah kau akan meninggalkanku, Pambudi?". Seruannya tidak pernah terdengar orang. Dan Bukit Cibalak membisu abadi.

Sepintar-pintarnya orang, memajukan tempat tinggal adalah kewajiban pertama.



Profile Image for Indri Juwono.
Author 2 books307 followers
June 24, 2010
#2010-52#

Isu kelestarian lingkungan yang ditukar oleh sikap konsumtif mengawali cerita ini. Melihat hutan yang semakin berkurang, pembangunan pedesaan yang berlandaskan kekuasaan, membuat miris.

Apa yang ditulis oleh Tohari mungkin benar-benar terjadi bertahun-tahun lalu. Seorang Lurah selalu tamak, dan hobi berganti istri. Seorang camat yang hanya takut pada atasan. Seperti kisah-kisah di sinetron karya Nizar Zulmi dan Tabah Penemuan yang sering diputar di TVRI dulu.

Duh, Indonesia. Mudah-mudahan lulusan STPDN sekarang yang suka tendang menendang itu menggunakan kekerasannya untuk melawan kecoa-kecoa yang menggerogoti uang rakyat. Bukannya untuk menakuti warganya sendiri.

Akhirnya kurang menggigit, walaupun ide ceritanya menarik. Seandainya diolah lebih dramatis, mungkin lebih seru.
Profile Image for Ciciek Farcha.
15 reviews
September 8, 2015
Buku roman Indonesia biasanya ambil cerita dan bahasa yang agak berat. Tapi buku ini ceritanya enteng dan menarik. Tiap tokoh punya karakter yang unik dan akhirnya masing-masing punya porsi yang pas buat cerita ini.

Sebenarnya tema buku ini lumayan berat. KKN. Tapi Ahmad Tohari berhasil mengangkat tema KKN ini jadi ringan. Yaaa itu tadi, enteng dan menarik. KKN, masalah sosial-kemanusiaan, dibumbui sedikit percintaan bikin ceritanya makin syedap. Oh, ada juga sedikit dukun-dukunan juga disini.

Ibarat masakan, ini pas, nggak kemanisan, nggak keasinan, dan mudah dicerna. *apasih
BTW makasih Sulin yang udah mau minjemin bukunya hehe


63 reviews4 followers
March 19, 2015
Sangat mengalir dan menyentuh. Cerita tentang jurang tatanan kemasyarakatan sebuah pedesaan yg memetakan kehidupan manusia menjadi dua kubu yg saling bersebrangan, priayi dan kawula. Dengan heroiknya seorang pemuda dengan itikad yg bening memikirkan kemjuan yg sehat, berusaha melakukan perbaikan pada tatanan itu. But he have not begun to fight yet, Dia belum memiliki tenaga untuk mendobrak kepalsuan dan kemunafikan pada desanya itu.
Profile Image for Darnia.
769 reviews113 followers
January 7, 2016
Kisah pemuda Pambudi, pemuda desa yg menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran. Tokoh yg ada di novel ini tampak jelas sekali hitam dan putih. Tokoh favorit (entah kenapa malah) Bambang Sambodo :D

Berhubung bacanya di perpus umum, bener-bener setengah mati nggak mewek pas bagian Mbok Ralem saat keluar dari RS. Mengharukan.... :')
Profile Image for Uzlifatul Azmiyati.
57 reviews6 followers
January 11, 2016
Pertama kalinya baca novel Ahmad Tohari. Meski tipis tapi buku ini berbobot karena pesan yang ada di dalamnya.
Mengangkat isu lingkungan hidup, politik, serta semangat untuk menentang keserakahan dan kesewenangan dikemas dalam kalimat-kalimat yang menggelitik hati nurani.
Profile Image for nana.
69 reviews9 followers
November 10, 2025
Buku ini membawa kita untuk melihat ke desa fiktif bernama Tanggir, sebuah wilayah kecil di lereng Bukit Cibalak. Lewat cerita ini, Ahmad Tohari menghadirkan potret masyarakat desa yang hidup di antara kesederhanaan, kemiskinan, dan ketimpangan kekuasaan.

Cerita berpusat pada Pambudi, seorang pemuda idealis yang berusaha mempertahankan kejujuran dan nurani di tengah masyarakat yang mulai tergerus oleh keserakahan dan korupsi. Ia menjadi saksi sekaligus korban dari ketidakadilan sosial yang terjadi di desanya—ketika para pejabat lokal mempermainkan rakyat demi keuntungan dan kepentingan pribadi.

Meski tampak sederhana, kisah ini perlahan membuka mata pembaca bahwa pembangunan dan “kemajuan” sering kali hanya mempercantik permukaan, tanpa benar-benar mengangkat martabat manusia di dalamnya.

Tokoh utama, Pambudi, digambarkan sebagai sosok muda yang jujur, tulus, dan teguh memegang nilai-nilai moral. Ia memiliki pandangan hidup yang lurus, percaya bahwa keadilan harus diperjuangkan tanpa pamrih. Dalam diri Pambudi, penulis seolah ingin memperlihatkan sosok ideal manusia desa—seseorang yang memegang kebenaran walaupun hidup di tengah lingkungan yang kotor dan munafik.

Namun, justru keteguhan moral inilah yang membuat Pambudi harus menghadapi berbagai penderitaan. Ia dituduh, difitnah, dan dikucilkan karena menolak ikut arus korupsi yang dilakukan para pejabat desa seperti Pak Dirga—Kepala Desa—yang menjadi simbol kerakusan dan kemunafikan kekuasaan.

Bagi saya pribadi, Pambudi bukan hanya tokoh fiktif, tetapi representasi dari nurani yang masih berusaha bertahan di dunia yang mulai kehilangan rasa kemanusiaan. Dalam dirinya, pembaca bisa menemukan cermin idealisme yang mungkin kini semakin langka.

Sebagaimana karya-karya Ahmad Tohari lainnya, novel ini sarat akan kritik sosial. Nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan, kesetiaan pada nurani, dan kepedulian terhadap sesama menjadi pondasi cerita. Penulis menyoroti bagaimana modernisasi dan pembangunan sering kali menimbulkan kesenjangan sosial—yang kaya makin berkuasa, yang miskin makin tak bersuara.

Fenomena tersebut tentu masih sangat relevan dengan kondisi sosial-ekonomi masyarakat Indonesia saat ini. Korupsi, manipulasi jabatan, penyalahgunaan kekuasaan, dan hilangnya rasa gotong royong masih menjadi masalah nyata. Pambudi, dalam hal ini, mewakili suara-suara kecil yang berusaha mempertahankan integritas di tengah sistem yang rusak.

Novel ini seperti mengingatkan pembaca bahwa pembangunan tanpa keadilan sosial hanyalah ilusi kemajuan.

Novel ini sendiri ditulis dengan bahasa yang indah namun lugas. Diksi yang ia pilih tidak hanya sekadar naratif, tetapi juga reflektif—menyimpan makna konotatif yang menembus batin pembaca. Ditulis dengan kesederhanaan, namun setiap kalimat terasa mengandung lapisan makna sosial dan spiritual.

Sebagaimana dalam Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari menghadirkan suara rakyat kecil yang tidak berdaya, tetapi justru lewat suara itulah pembaca menemukan makna kejujuran dan kemanusiaan sejati. Suasana pedesaan yang diciptakannya begitu hidup, lengkap dengan aroma tanah, bahasa rakyat, dan suasana sosial yang autentik.

Secara pribadi, satu hal yang membuat novel ini kurang memuaskan adalah bagian ending-nya dieksekusi. Setelah konflik panjang dan penderitaan yang dialami oleh Pambudi, akhir ceritanya terasa terlalu cepat dan sedikit menggantung. Tokoh-tokoh jahat seperti Pak Dirga seolah tidak mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya.

Namun, ini mungkin lebih pada persoalan preferensi saja. Penulis sepertinya memang ingin menegaskan bahwa dalam realitas sosial, keadilan tidak selalu berpihak kepada yang benar. Ending yang tidak “memuaskan” justru membuatnya terasa nyata dan jujur, bahwa dunia tidak sesederhana antara hitam dan putih.

Kesimpulannya: Di Kaki Bukit Cibalak adalah potret sosial yang tajam dan menyentuh. Ahmad Tohari berhasil mengajak pembaca untuk merenungkan arti kemajuan, kejujuran, dan kemanusiaan. Meskipun ditulis pada tahun 1978, pesan yang disampaikan masih terasa relevan hingga kini.

Kelebihan utamanya terletak pada kekuatan bahasa, kedalaman tema, dan kehangatan humanisme yang khas karya Ahmad Tohari. Sedikit kekurangan mungkin hanya pada bagian penutup yang menyisakan rasa tidak puas, tetapi justru di sanalah letak kejujuran realistiknya.
Profile Image for Edy.
273 reviews37 followers
November 7, 2016
Kisah ini mengambil setting desa Tanggir pada tahun 1970-an. Desa ini sedang mengalami perubahan dari pertanian tradisional kea rah mekanis. Suara orang menumbuk padi hilang, digantikan suara mesin kilang padi. Kerbau dan sapi pun dijual karena tenaganya sudah digantikan traktor.

Mata pencaharian masyarakatnya sebagian besar petani, dengan beberapa bangsawan kecil yang mendominasi. Di desa yang sedang berubah itu muncul kemelut akibat pemilihan kepala desa yang tidak jujur. Pak Dirga yang culas berhasil mengalahkan pak Badi, calon yang dinilai oleh banyak orang sebagai orang yang jujur.

Pambudi, pemuda Tanggir yang mengelola Lumbung Desa ditekan oleh Pak Dirga untuk melakukan kecurangan dalam pembukuan Lumbung Desa. Pambudi melawan kehendak Kepala Desa tersebut. Penolakannya semakin keras ketika Pak Dirga tidak mengijinkan Pambudi menolong Mbok Ralem warga miskin yang ingin meminjam beras untuk biaya berobat di Yogyakarta. Terpanggil oleh rasa kemanusiaannya, Pambudi dengan sedikit tabungan yang dimilikinya akhirnya membantu Mbok Ralem tersebut berobat di Yogyakarta. Ternyata biaya pengobatan yang dibutuhkan sangat besar. Pambudi kemudian mendatangi sebuah koran local, untuk memasang iklan mencari donator guna pengobatan Mbok Ralem. Tanpa diduga donasi para dermawan mengalir deras dan akhirnya cukup untuk biaya pengobatan Mbok Ralem.

Keberhasilan Pambudi mencarikan pengobatan untuk Mbok Ralem, membuat dia jadi pahlawan di kampungnya. Termasuk di mata Sanis, gadis SMP jelita yang sedang mekar. Mereka saling memendam rasa cinta. Namun di mata Pak Dirga, keberhasilan Pambudi merupakan tamparan baginya karena dia sebagai lurah dimarahi Bupati dan Camat karena dianggap lalai mengobati warganya.

Rasa dendam Pak Dirga membuatnya berupaya menyingkirkan Pambudi ke luar desa. Pambudi akhirnya mengalah pergi ke Yogya. Di kota pelajar itu Pambudi bertemu teman lama yang memintanya meneruskan kuliah sambil bekerja di sebuah toko. Pindah kerja dari toko, Pambudi akhirnya diterima di surat kabar Kalawarta yang dulu membantunya mencari donasi untuk Mbok Ralem.

Pak Dirga yang merasa menang dari Pambudi akhirnya menikahi Sanis, kekasih Pambudi. Di Yogyakarta, melalui persuratkabaran, Pambudi melanjutkan perlawanannya terhadap kepala desa Tanggir yang curang, dan berhasil menjatuhkannya. Tetapi pemuda Tanggir itu kehilangan gadis sedesa yang dicintainya. Meski demikian akhirnya Pambudi mendapat ganti, anak pemilik toko tempatnya bekerja, yang diam-diam telah mencintai dirinya sejak lama.......

Buku ini sebenarnya alurnya cukup sederhana dengan pesan moral yang mudah dicerna. Kepandaian Ahmad Tohari dalam memilih dan merangkai kata, serta penguasaannya dalam menggambarkan kehidupan pedesaan membuatr buku ini enak untuk dinikmati.
Profile Image for Dedul Faithful.
Author 7 books23 followers
October 17, 2016
Judul: Di Kaki Bukit Cibalak
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan Kelima, Maret 2015
Tebal: 170 Halaman

Bukit Cibalak tahun 1970 tidak seindah dulu, banyak perubahan di sana-sini yang semakin membuat penampakan alam semakin tergerus keelokannya. Di kaki Bukit Cibalak sendiri, seorang pemuda berusia 24 tahun bernama Pambudi tengah bergelut dengan konflik-konflik yang lumayan pelik. Pam, sapaan akrabnya, terjerumus ke dalam kasus yang sangat-sangat membuatnya kerepotan. Ia difitnah oleh lurah desa yang merupakan orang nomor satu di kawasan tempat tinggalnya.

Novel ini merupakan karya kesekian Ahmad Tohari. Di Kaki Bukit Cibalak mengisahkan konflik yang terjadi pada Pambudi, pemuda sangat alim dan lurus. Terlebih ia cerdas dan berbudi. Pambudi dulunya adalah pegawai koperasi lumbung Desa Tanggir. Ia bekerja ulet dan jujur. Sayang, lurah baru melakukan kecurangan pada perhitungan lumbung padi yang mengakibatkan penduduk desa mengalami kerugian. Pam yang tidak sejalan memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan melalangbuana ke Kota Yogya. Ia kuliah di kota pelajar tersebut sekaligus bekerja.

Idealisme Pambudi tampak saat ia membantu seorang warga Desa Tanggir. Warga tersebut mengidap kanker di lehernya dan pemerintah desa tidak bisa berkutik dikarenakan terlalu pelit untuk memberikan pinjaman pada warga tersebut. Dikarenakan sang warga miskin itu masih menunggak hutang, maka pemerintah Tanggir enggan memberi pinjaman. Pam mengambil sikap tegas dengan membawa warga tersebut ke kota. Ia menghubungi salah satu media cetak di sana untuk membuat iklan dompet sumbangan. Usahanya berhasil, warga tersebut tertolong.

Saat itulah pemerintah Desa Tanggir merasa iri. Didorong rasa risih juga karena ditegur bupati dan camat, sang lurah desa bahkan hampir berhasil mengguna-guna Pambudi. Untung saja pemuda itu selamat dari guna-guna lurah.

Novel ini mengajak pembaca untuk membuka mata bahwa korupsi telah menjalar bahkan ke sendi-sendi penopang negeri, yaitu desa. Lewat novel ini pembaca akan sadar bahwa negeri ini bahkan tak kunjung lebih baik karena di desa pun terjadi banyak penyelewengan. Tak pelak, pembaca seharusnya tersentuh dengan karakterisasi Pambudi yang idealis. Sosok Pambudi memang terasa komikal, namun kehadirannya dalam novel penuh konflik ini seakan memberikan tanda bahwa di dunia nyata pun seharusnya masih ada sosok-sosok Pam yang bersih dan masih memegang prinsip bahwa korupsi tidak seharusnya ada dan dilestarikan.

Ahmad Tohari sebagai penulis mencoba memengaruhi pembaca untuk berlaku positif. Selain mengajak pembaca menjadi sosok idealis seperti Pambudi, Tohari juga seakan-akan membisikkan pada pembaca semua bahwa kearifan desa perlu dijaga, karena novel ini sungguh menggambarkan desa di kaki Bukit Cibalak yang masih asri meskipun semakin lama semakin tersampingkan modernitas. Di Kaki Bukit Cibalak sangat direkomendasikan dibaca pencinta sastra Indonesia.[]

Profile Image for Tamira Bella.
177 reviews
February 21, 2025
Di Kaki Bukit Cibalak karya Ahmad Tohari merupakan cerita yang menggambarkan kehidupan di sebuah desa kecil bernama Tanggir, yang terletak di kaki Bukit Cibalak pada tahun 1970-an.

Di tengah kehidupan desa yang sederhana kita diajak mengenal sosok Pambudi, yakni seorang pemuda yang memiliki tekad untuk membantu masyarakat sekitar. Buku ini mengangkat tema yang cukup kuat mengenai ketidakadilan sosial dan realitas politik desa, yang dibalut dalam kisah kehidupan sehari-hari dari para tokohnya.

Di awal cerita, kita diperlihatkan dengan pemilihan lurah yang menjadi ajang pertarungan antara Pak Budi, seorang calon yang baik dan jujur, melawan Pak Dirga, yang licik dan penuh kepentingan pribadi. Meski Pak Budi memiliki segudang kebaikan, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa ia kalah dari Pak Dirga yang culas (Pak Dirga nyogok warga). Fenomena ini menggambarkan realitas di banyak tempat, di mana kebaikan sering kali kalah oleh kepentingan dan kekuasaan.

Salah satu hal yang menarik dalam buku ini adalah karakter Pambudi yang tidak hanya peduli pada dirinya sendiri, tapi juga pada masyarakat sekitar. Ia berusaha membantu ibu-ibu yang sakit, dengan menggalang donasi hingga ke kota, namun sayangnya meskipun niat baiknya berhasil, hal ini membuatnya dimusuhi oleh Pak Lurah yang merasa terancam dengan eksposur Pambudi. Konflik-konflik semacam ini menggambarkan betapa dalamnya ketimpangan sosial yang terjadi dalam masyarakat yang ‘menyimak’ ketidakadilan.

Pambudi juga mengalami pergulatan batin yang cukup mendalam mengenai perasaan cintanya pada Sanis, seorang gadis ber-usia 14 tahun. Namun, karena Pambudi merupakan pria yang berakalia menyadari bahwa ia yang lebih tua 10 tahun perlu batasan dalam perasaan terhadap gadis belum cukup umur tersebut. Konflik antara Pambudi dan Pak Dirga semakin memanas dengan Pak Dirga yang juga menaruh hati pada Sanis.

Singkat cerita, Pambudi mendapatkan fitnah hingga terpaksa pergi dari desa, merantau ke kota Jogja, hingga berhasil meneruskan kuliah, bagaimana cerita kelanjutannya? Silahkan dibaca saja ya teman-teman, sepertinya saya telah cukup banyak bercerita. Takutnya spoiler, buku ini juga tidak tebal, kurang dari 200 halaman saja.

Secara kesimpulan bisa dikatakan Di Kaki Bukit Cibalak merupakan sebuah karya yang menggugah pemikiran tentang ketidakadilan, perubahan sosial, dan perjuangan individu dalam menghadapi sistem yang penuh kekuasaan.
5 reviews2 followers
August 27, 2022
Merawat kewarasan dengan membaca buku legend dari penulis senior Ahmad Tohari. Kebetulan banget akhir-akhir ini seneng sama konten pedesaan. Makanya buku ini seperti angin segar yang dihadiahkan oleh semesta. Dan ternyata benar-benar relevan dengan budaya desa.

Meskipun ada beberapa hal yang berbeda, mungkin dikarenakan buku ini ditulis pada tahun 1994. 26 tahun silam tentu bukan waktu yang sebentar untuk mengubah keadaan desa pada saat ini. Tapi pokok-pokoknya tentang pertanian, kelurahan dan beberapa konflik desa masih relevan.

Berkisah tentang pemuda bernama Pambudi yang luhur tumbuh di sebuah desa dengan berbagai problema. Mulai dari sistem pemerintahan desa yang tidak sehat, isu kemiskinan, pemimpin otoriter dan oligarki, hingga gadis desa yang menjadi incaran banyak orang.

Di desa yang masyarakatnya punya citra rukun, gotong royong dan peduli sesama ternyata tetap saja menjadi manusia yang manusia itu berat. Karena seringnya kita bersikap baik kepada 'sesiapa' yang ada di hadapan bukan tentang 'apanya' yang perlu dibantu.

Tidak mengherankan bukan? Jika manusia picik itu dapat tumbuh dimana pun tempatnya. Bahkan pada sebuah desa yang kerap dianggap komunitas ayem tentrem.

Pambudi yang punya tekad baja itu perlu dijadikan cermin bagi anak-anak zaman sekarang yang mudah putus asa. Ia juga mengusahakan hal-hal yang menjadi perkataan nuraninya. Kalau kata anak zaman sekarang enggak fake dan pencitraan gitu lah hehehe.

"Terkadang kita ingin segera mengenakan baju besi, memanggul tombak, dan lari menantang musuh. Tapi ingat, hanya Arjuna kecil yang dapat mengalahkan Nirwatakawaca yang raksasa. Hanya si kecil Daud yang bisa menang atas Goliat." Hlm 99

"Inilah saatnya kau memercayai kata-kata seorang admiral yang sedang menghadapi pemberontakan anak buahnya sendiri, 'I have not begun to fight yet.' Kau belum cukup mempunyai modal untuk menantang berkelahi kepalsuan dan kemunafikan yang terjadi di desamu." Hlm 100-101

Karena akhirnya, hasil akan tetap berpihak pada proses. Sekeras apapun usaha dan sesering apapun kegagalan itu menjadi teman, tetap tidak ada yang sia-sia dari kebaikan.

Buku yang membuat mata hati menjadi melek akan kepedulian terhadap sekitar dan mencintai tempat berasal. Bukan soal memikirkan kepentingan individu tapi juga bagaimana memberi manfaat seluas-luasnya.
Profile Image for Ninda.
16 reviews
October 26, 2025
Di Kaki Bukit Cibalak | Historical Fiction | 170 halaman | 1986

"Memang tidak gampang menemukan seorang lurah yang bersih. Sulit juga mencari seorang lurah yang mampu mengimbangi gagasan-gagasan pembaruan yang dicanangkan oleh orang-orang pandai di pusat. Lurah Tanggir bukan hanya tidak bersih dan tidak mampu, malah keadaan dirinya menjadi penghalang bagi terlaksananya gagasan-gagasan pembaruan dan pembangunan."
_

Novel ini menceritakan tentang dinamika kehidupan di sebuah desa bernama Desa Tanggir. Masyarakat Desa Tanggir hidup dengan berlandaskan prinsip 'nrimo' sehingga berulang kali mereka harus dipimpin oleh lurah yang culas dan korup. Namun, ada seorang pemuda di desa itu yang peduli akan perkembangan desa dan masyarakatnya, Pambudi namanya. Oleh karena itu, ia tidak pernah sejalan dengan lurah yang baru dalam berbagai hal. Impiannya untuk menyelamatkan desa akhirnya membawa Pambudi mengarungi berbagai fase kehidupan yang berpengaruh pada kisah pertemanan, pengalaman, bahkan percintaannya.
_

Pertama kali menemukan buku ini di rak buku tempat les di mana aku mengajar dan syukurnya boleh aku pinjam. Jujur, saat melihat siapa penulisnya aku seperti menemukan harta karun (kesan novel Ronggeng Dukuh Paruk sepertinya masih tertinggal). This book really match with my own book genre, HISTORICAL! Halaman-halaman awal dibuka dengan cerita kehidupan masyarakat Desa Tanggir yang membuatku merasa miris-miris lucu. Tadinya aku berniat berhenti membaca waktu diagnosa penyakit Mbok Ralem keluar, like I should stop, I really really cannot! Tapi aku ingat lagi kalau buku genre historical apalagi setting Indonesia memang biasanya kelam, maka aku melanjutkan baca lagi sampai akhir. Well, kalau soal masalah pemerintahan di Desa Tanggir ekspetasiku benar-benar terpenuhi. Tapi buat kisah percintaannya? No! What do you mean I should guess the story alias menggantung skskks! No wonder sih karena buku booming karya Ahmad Tohari sebelumnya, untuk ending kisah percintaan sama saja. Maybe penulisnya lebih fokus sama plot tentang kehidupan sosial. Overall, novel ini bagus, tapi belum bisa mengalahkan Ronggeng Dukuh Paruk hehe

Oh ya, mau yapping sedikit lagi hehe, anyway pemerintah kaya Dirga itu banyak di Indonesia. Aku bisa puas sama alur di novel ini karena villain-nya kalah, tapi kalau di real life? Cuma mimpi!
Profile Image for Mazdan Assyayuti .
58 reviews3 followers
December 23, 2021
(#BukuUntuk2021)
Selesai baca buku ke-23

Ketika membaca karya Ahmad Tohari ini, aku seperti terbang pada masa-masa kejayaan Orde Baru. Lekat kepada aspek kehidupan yang begitu nuansa Orba, ala-ala cerita Si Doel, Warkop, dan lain-lain. Ternyata ketika begitu terjun membaca kata demi kata, aku seperti langsung terbius dan masuk ke dalam dunia Tanggir.

Beberapa kali Ahmad Tohari menyindir pembangunan. Narasi itu begitu aku rasakan karena perbandingan dimensi masa lalu dan masa kini yang terjadi di Bukit Cibalak. Ahmad Tohari mengekspose wilayah keasrian alam semesta kemudian membandingkannya dengan pasca pembangunan. Pembangunan yang mengenyampingkan kelestarian atau keberadaan endemik lokal.

Namun, yang jauh lebih penting, novel ini menyindir budaya masyarakat kita sehari-hari. Inilah yang diangkat sebagai konflik sederhana namun bermakna. Inti dari pelajaran yang dapat diambil setelah membaca buku ini adalah budaya korupsi, manipulatif dan nepotisme, terutama para perangkat pemerintahan.

Karakter utama novel ini adalah Pambudi, pemuda kampung yang pada awalnya menjadi pengurus koperasi namun kemudian hengkang dan melanjutkan studinya di Yogyakarta. Cara Ahmad Tohari membangun karakter Pambudi sangatlah detail. Terutama dalam rangka mempertahankan prinsip yang jujur itu, di tengah praktik budaya tak tepuji.

Hal yang sangat menjadikan novel ini begitu dekat dengan kehidupan kita adalah hal-hal yang diangkat memang berasal dari keseharian masyarakat kita. Seperti, praktik perdukunan yang digunakan ketika terpojok oleh keadaan, stratifikasi sosial yang kentara, hubungan hierarkis pejabat yang selalu ada maunya, dan lain-lainnya.

Jadi, novel ini sebenarnya layak dibaca oleh para perangkat desa, kecamatan hingga kabupaten. Setidaknya, mereka dapat berkaca diri, sejak Orba sampai sekarang ternyata sama saja, tidak semakin maju budayanya, hanya teknologinya saja yang maju, otaknya masih jalan di tempat. Yuk baca yuk.
Profile Image for Rewina Pratiwi.
58 reviews2 followers
January 22, 2023
Weleh, aslinya ini kebetulan yang ajaib atau bagaimana, ya? Aku membaca "Di Kaki Bukit Cibalak" dibersamai oleh berita-berita lurah yang demo meminta perpanjangan masa jabatan. Wis edhan. 😵‍💫

Seperti biasa dan nggak ada yang berubah, bahwa tulisan-tulisan Pak Tohari inilah zona nyaman dari tipikal bacaan yang kusuka. Lugas, sederhana, dan tepat sasaran.

Dalam novel yang terbit pertama kali di tahun 1986 ini, Pak Tohari menyuguhkan kita keculasan seoranh lurah lewat tokohnya yang bernama Pak Dirga, lengkap dengan simbolisasi welas asih dan rasa kemanusiaan yang selalu menjadi idaman melalui seorang pemuda cerdas, tangkas, dan berani bernama Pambudi.

Dalam sejilid buku yang nggak kurang dari 172 halaman ini, kita bisa melihat bahwa korupsi di tingkat desa itu sama atau bahkan jauh lebih ngeri dari yang kita saksikan selama ini di tingkat jabatan yang lebih tinggu. Bupati, gubernur, dan anghota DPR misal.

Buku ini memaksa kita melek dan menelan bulat-bulat realita kehidupan desa yang selama ini sudah berkelindan dan menjadi kebiasaan sehari-hari: pemakluman. Pemakluman atas tingkah nyeleneh carik dan lurah, pemakluman atas tinggakh merepotkan pengurus koperasi, bahkan pemakluman atas apa saja demi keberlangsungan hidup kita di lapisan paling dasar tidak tersandung perkara. Bahkan mungkin ini nggak hanya berlaku di kampung-kampung pedesaan, kampung-kampung kota tentu saja hanya dengan beberapa karakter masyatakatnya yang berbeda.

Melalui lurah yang korup, warga Desa Tanggir yang lugu dan manutan, serta adanya anak-anak muda berpendidikan yang melek terhadap permasalahan sosial desanya, kupikir cukup membuat "Di Kaki Bukit Cibalak" menjadi amat simbolis dalam megungkapkan angan-angan ideal seperti apa seharusnya desa dikelola dan seperti apa seharusnya warga mengawal pemimpinnya.

Terakhir, aku selalu suka banget sama gaya Pak Tohari menggambarlan sesuatu melalui paragraf-paragrafnya yang kuat. Ulasan cepat ini bias kali ya, soalnya emang aku ngefans. 🥴
Profile Image for Arik Riuh.
7 reviews
February 10, 2020
Jadi orang jujur terkadang malah banyak dimusuhi. Apalagi jika hanya punya peran sebagai orang kecil, hidup di desa, dgn pendidikan seadanya. Terlebih jika lawannya adalah penguasa, bisa menggerakkan massa untuk melancarkan berbagai aksi. Fitnah dan pengucilan misalnya.

Paragraf tersebut dialami oleh Pambudi, seorang lelaki pegawai koperasi desa. Harus keluar dari pekerjaan karena memilih sikap yang berbeda dgn lurah-nya. Pam harus keluar dari desa lantaran kehidupan keluarganya diusik dgn berbagai cara, termasuk ilmu guna-guna. Bukan tanpa pertimbangan Pam bisa memilih untuk keluar desa. Dianggap kalah, bersalah, dan tinggalkan pujaan hati si Sanis anak Pak Modin merupakan pilihan berat.

Namun, dari luar desa, Pam punya rencana untuk melawan. Sebab dia ingin menjadi Daud bagi Goliat, maka dia bertekad mengisi otak dan kemampuannya saat berada di kota. Selama tiga tahun Pam menimba ilmu, rupanya orang yang dicinta dan dibenci malah saling berhubungan. Sanis dirabi Pak Lurah. Njadis-lah Pam.

Baca saja lah kalau kau ingin tahu si Pam jadi setres atau malah bisa bangkit. Novelnya hanya setebal 170 halaman. Habis dalam dua seduhan kopi. Tanpa gangguan grup WhatsApp, tentu saja.

Sebelum baca Kaki Bukit Cibalak, sa baca Novel Kubah. Dengan sama-sama berlatar pedesaan, sa kagum dengan gaya Pak Ahmad Tohari menulis unsur flora, fauna, hingga konflik ala desa. Detail.

Ada tapinya. Sebagai pembaca dgn pikiran rada liar, beberapa hal yang seharusnya berpotensi menaikkan denyut jantung dan tumpahnya air liur, justru dituliskan dgn diksi yang bias. Ngambang. Kontradiktif dgn cara beliau menulis diksi-diksi ensiklopedia flora dan fauna. Kurang menantang, Pak.

Novel Kaki Bukit Cibalak saya rekomendasikan untuk kau yang menjunjung tinggi nilai kejujuran, merasa kecil saat melawan oligarki, serta pernah ditinggal rabi.
Profile Image for Nanny SA.
343 reviews41 followers
February 12, 2019
Ahmad Tohari adalah salah satu penulis lokal yang gaya bercerita dan pemilihan tema nya saya sukai.

Cerita ini bertutur tentang kehidupan di desa Tanggir yang berada di kaki Bukit Cibalak. Tentang lingkungan alam yang sangat asri yang kemudian berubah sesuai 'kemajuan' jaman, tentang kehidupan sosial di masyarakat yang masih menyisakan tradisi pembagian golongan/ kasta antara turunan ningrat dan orang biasa, tentang kekuasaan seorang lurah yang ditakuti warga nya.

Pambudi seorang pemuda yang jujur dan idealis, dia berani menentang Dirga, lurah yang baru saja menjabat.Dia merasa kebijakan lurah sangat merugikan warga dan lurah ini sama seperti pendahulunya; bermental korup yang mencari kesempatan untuk mendapat keuntungan bagi diri dan kroninya. Pambudi diasingkan dari pergaulan, begitu pun ayahnya dipersulit hidupnya. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke Yogya. Di sana dia melanjutkan sekolah sambil bekerja di sebuah koran daerah.
Bagaimana kemudian perjuangan Pambudi menyelesaikan masalah yang dihadapi dan bagaimana kisah percintaannya setelah mengalami kekecewaan dan menyakitkan dengan Sanis gadis sekampung. Akankah dia mendapat pengganti Sanis?

Sila membacanya sendiri.



================/====/===///==/=====



Seperti biasa Ahmad Tohari becerita dengan lancar dan gaya bahasa yang lugas dan mudah dimengerti. Deskripsi tentang tempat sangat jelas sehingga mudah membayangkannya.

Jalan cerita menarik sayang tidak banyak twist seperti biasanya dan penyelesaian terakhir seperti agak terburu-buru dan kurang greget. .Ibarat sedang naik kendaraan yang melaju cepat dan direm mendadak.

Tapi saya tetap menyukainya.



".....Kebijaksanaan selalu muncul dari kewenangan.Patokannya sangat subjektif dan baur.." hal.155







Displaying 1 - 30 of 226 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.