Dalam kehidupan sehari-hari, kita menyaksikan betapa besarnya perhatian yang dicurahkan oleh para ahli kesehatan, demi menemukan cara-cara paling efektif guna menanggulangi pelbagai penyakit yang timbul dalam tubuh manusia. Padahal, ia hanya membahayakan kehidupan jasad yang sementara, di alam dunia yang fana ini.
Sedangkan penyakit-penyakit yang bersemayam dalam kalbu manusia, akan menyengsarakan jiwanya, tidak hanya terbatas di alam dunia, tetapi akan terus berlanjut secara langgeng dan abadi, di alam akhirat yang baka. Maka sudah selayaknyalah apabila lebih besar lagi perhatian dicurahkan guna menanggulanginya segera.
Untuk itulah, ilmu yang membahas tentang cara-cara mengobati pelbagai penyakit hati ini, menjadi lebih penting dan lebih mendesak untuk dipelajari oleh setiap manusia berakal sehat. Lebih-lebih lagi, mengingat tak satu pun hati manusia yang sama sekali terhindar darinya, yang jika dibiarkan, pasti akan menjadi makin parah dan makin sulit diobati.
Buku ini menguraikan tentang penyakit-penyakit hati serta cara penanggulangannya, dengan menjadikan pengobatan fisik sebagai perumpamaan, agar lebih mudah dipahami oleh setiap orang. Di samping itu, ia juga menjelaskan tentang cara-cara terbaik untuk melatih jiwa kanak-kanak sejak pertumbuhannya yang dini.
Dan sebagaimana biasanya, uraian Al-Ghazali di bidang-bidang pembahasan seperti ini, sangat menarik dan mengesankan, dan karena itu, tidak memerlukan banyak komentar.
Muslim theologian and philosopher Abu Hamid al-Ghazali of Persia worked to systematize Sufism, Islamic mysticism, and in The Incoherence of the Philosophers (1095) argued the incompatibility of thought of Plato and Aristotle with Islam.
Born in 1058, Abū Ḥāmid Muḥammad ibn Muḥammad al-Ghazālī ranked of the most prominent and influential Sunni jurists of his origin.
Islamic tradition considers him to be a Mujaddid, a renewer of the faith who, according to the prophetic hadith, appears once every century to restore the faith of the ummah ("the Islamic Community"). His works were so highly acclaimed by his contemporaries that al-Ghazali was awarded the honorific title "Proof of Islam" (Hujjat al-Islam).
Al-Ghazali believed that the Islamic spiritual tradition had become moribund and that the spiritual sciences taught by the first generation of Muslims had been forgotten.[24] That resulted in his writing his magnum opus entitled Ihya 'ulum al-din ("The Revival of the Religious Sciences"). Among his other works, the Tahāfut al-Falāsifa ("Incoherence of the Philosophers") is a significant landmark in the history of philosophy, as it advances the critique of Aristotelian science developed later in 14th-century Europe.
أبو حامد محمد الغزّالي الطوسي النيسابوري الصوفي الشافعي الأشعري، أحد أعلام عصره وأحد أشهر علماء المسلمين في القرن الخامس الهجري،(450 هـ - 505 هـ / 1058م - 1111م). كان فقيهاً وأصولياً وفيلسوفاً، وكان صوفيّ الطريقةِ، شافعيّ الفقهِ إذ لم يكن للشافعية في آخر عصره مثلَه.، وكان على مذهب الأشاعرة في العقيدة، وقد عُرف كأحد مؤسسي المدرسة الأشعرية في علم الكلام، وأحد أصولها الثلاثة بعد أبي الحسن الأشعري، (وكانوا الباقلاني والجويني والغزّالي) لُقّب الغزالي بألقاب كثيرة في حياته، أشهرها لقب "حجّة الإسلام"، وله أيضاً ألقاب مثل: زين الدين، ومحجّة الدين، والعالم الأوحد، ومفتي الأمّة، وبركة الأنام، وإمام أئمة الدين، وشرف الأئمة. كان له أثرٌ كبيرٌ وبصمةٌ واضحةٌ في عدّة علوم مثل الفلسفة، والفقه الشافعي، وعلم الكلام، والتصوف، والمنطق، وترك عدداَ من الكتب في تلك المجالات.ولد وعاش في طوس، ثم انتقل إلى نيسابور ليلازم أبا المعالي الجويني (الملقّب بإمام الحرمين)، فأخذ عنه معظم العلوم، ولمّا بلغ عمره 34 سنة، رحل إلى بغداد مدرّساً في المدرسة النظامية في عهد الدولة العباسية بطلب من الوزير السلجوقي نظام الملك. في تلك الفترة اشتُهر شهرةً واسعةً، وصار مقصداً لطلاب العلم الشرعي من جميع البلدان، حتى بلغ أنه كان يجلس في مجلسه أكثر من 400 من أفاضل الناس وعلمائهم يستمعون له ويكتبون عنه العلم. وبعد 4 سنوات من التدريس قرر اعتزال الناس والتفرغ للعبادة وتربية نفسه، متأثراً بذلك بالصّوفية وكتبهم، فخرج من بغداد خفيةً في رحلة طويلة بلغت 11 سنة، تنقل خلالها بين دمشق والقدس والخليل ومكة والمدينة المنورة، كتب خلالها كتابه المشهور إحياء علوم الدين كخلاصة لتجربته الروحية، عاد بعدها إلى بلده طوس متخذاً بجوار بيته مدرسةً للفقهاء، وخانقاه (مكان للتعبّد والعزلة) للصوفية.
Penggalan dari kitab Ihya' Ulumiddin ini layak dibaca oleh setiap Muslim ataupun pelajar agama-agama yang berminat mendalami mistisisme/tasawuf dan etika agama Islam. Dalam buku ini yang paling menarik ialah Al-Ghazali tidak mendukung gagasan bahwa 'manusia memang pasti akan salah dan lalai' --walaupun memang bisa jadi benar--karena hal itu akan membuat orang meremehkan kesalahan dan dosa, yang justru memperburuk watak orang yang melakukan. Jikapun ada kecenderungan manusia untuk salah membuat keputusan dengan sebab apapun,, ia dapat berlatih mengendalikan semua kapasitasnya, pikiran, emosi, dan wawasannya, menjadi lebih efektif dan mantap. Kecerdasan mengolah emosi sangat banyak dibicarakan terutama bagi para peniti karier, dan dengan nilai spiritual yang banyak dikandung buku ini, dengan dalil yang sangat mendukung, kaum Muslimin dapat melampaui segala kecemasan dan kekhawatiran dan dapat menyadari betapa ketenangan dan pengendalian penuh sebenarnya akan menguntungkan dirinya dan penting bagi setiap orang, terutama orang yang beragama karena mereka dituntut untuk hidup sesuai tuntunan agama mereka dan untuk dapat melakukannya mereka perlu latihan, yang juga dikemukakan kategori-kategorinya dalam buku ini. Mengenai gaya penerjemahan, biasanya saya tidak benar-benar nyaman dengan gaya terjemahan selama ini dilakukan atas kitab-kitab kuning, namun untuk buku ini saya benar-benar menikmatinya sampai selesai.
Segala sesuatu yang terdapat di dalamnya sangatlah ringan untuk dinikmati namun dapat memberikan efek yang luar biasa guna memperbaiki akhlak. Segala sesuatu yang terdapat didalamnya sangatlah benar dan tidak ada bantahan untuk itu, hanya saja ada beberapa contoh yang mungkin sudah tidak relevan dengan mental umat masa kini (menurut pendapat saya pribadi). Walau demikian saya tidak mengatakan bahwa hal tersebut salah mengingat kitab tersebut ditulis hampir 10 abad yang lalu, mungkin sikap tersebut cocok pada era itu namun kurang koheren untuk masa sekarang. Namun satu yang pasti, nilai-nilai yang terdapat dalam buku ini sangatlah baik.
Panduan yang jelas, padat, dan praktikal soal membentuk akhlaq yang baik sesuai syariat Islam; despite you're born with it or you create it. Membaca ini butuh fokus yang lebih karena antar bab saling berkaitan dan personally harus baca beberapa kalimat berulang kali karena susunannya yang lumayan kompleks. Suka banget bagaimana Al Ghazali memberikan banyak contoh akhlaq baik dengan kisah2 orang2 terdahulu. Superb.