Jump to ratings and reviews
Rate this book

Stasiun

Rate this book
Lelaki tua yang kumal, bau, dan tulalit itu melakukan perjalanan pulang dengan kereta api. pulang! Alangkah indahnya kata itu! Segala kerinduan akan masa lalu, akan dapat terpenuhi. Masa-masa kecil yang bahagia seakan dapat diraih kembali dalam pelukan. Dapatkah lelaki tua itu sampai ke rumahnya? Tidak! Ia sudah mencoba ratusan kali, tetapi tidak pernah berhasil. Ia bahkan melihat mayatnya sendiri di rumahnya, dan para tetangga meyakinkan bahwa itu memang mayatnya. Kembali ke stasiun ia akhirnya terpaksa 'mengangkat kopor dan berjalan tanpa kata',

Perjalanan ulang aliknya yang sia-sia itu ia komentari sendiri sebagai sebuah puisi. Sebuah puisi yang berkisah tentang perjalanan kembali ke akar yang selalu gagal, pencarian diri yang selalu luput. Tetapi ia terus mencoba dan mencobanya, sampai akhir hayatnya. Lingkar alur pencarian diri akan terus berputar sampai maut menjemputnya.

150 pages, Paperback

First published January 1, 1977

29 people are currently reading
288 people want to read

About the author

Putu Wijaya

77 books106 followers
Putu Wijaya, whose real name is I Gusti Ngurah Putu Wijaya, is an Indonesian author who was born in Bali on 11 April 1944. He was the youngest of eight siblings (three of them from a different father). He lived in a large housing complex with around 200 people who were all members of the same extended family, and were accustomed to reading. His father, I Gusti Ngurah Raka, was hoping for Putu to become a doctor, but Puti was weak in the natural sciences. He liked history, language and geography.

Putu Wijaya has already written around 30 novels, 40 dramas, about a hundred short stories, and thousands of essays, free articles and drama criticisms. He has also produced film and soap-opera scripts. He led the Teater Mandiri theatre since 1971, and has received numerous prices for literary works and soap-opera scripts.

He's short stories often appear in the columns of the daily newspapers Kompas and Sinar Harapan. His novels are often published in the magazines Kartini, Femina and Horison. As a script writer, he has two times won the Citra prize at the Indonesian Film Festival, for the movies Perawan Desa (1980) and Kembang Kertas (1985).

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
45 (26%)
4 stars
68 (40%)
3 stars
44 (26%)
2 stars
7 (4%)
1 star
5 (2%)
Displaying 1 - 22 of 22 reviews
109 reviews
March 23, 2019
Membaca novel ini menyadarkanku bahwa aku ini manusia dan masih manusia. Kepalaku tidak pernah tidak terisi oleh kebimbangan atas apa yang telah, sedang, dan akan terjadi. Aku memandang si orang tua dalam novel ini dengan perasaan yang campur aduk; marah, kesal, sedih, kasihan, jijik, getir, heran; tidak ada satu perasaan senang. Atau mungkin senang itu memang hadiah-hadiah kecil nan langka yang tak semua orang bisa mendapatkannya. Mungkin itu juga caraku memandang diri sendiri di sebagian besar waktu, akhir-akhir ini. Heran akan ketidakberdayaan diri sendiri di muka nasib yang acap kali mencabik-cabik tanpa permisi. Pun begitu, aku tetap menyerahkan aku pada nasib yang entah apa inginnya. Dunia terus berputar, hidup terus memaksa kita untuk memilih di antara pilihan-pilihan. Gerbong demi gerbong, kereta demi kereta, stasiun mana yang kita tuju? Kita terus menerus menumpangi waktu dan tempat, mencari makna-makna yang tiada dan berujung pada kesimpulan bahwa segala apa-apa yang telah kita lalui hanyalah sebait puisi yang disumbangkan untuk sehimpun sajak kehidupan manusia-manusia. Begitu kecil, tidak berdaya, penuh ketidakniscayaan, dan lambat laun dilupakan. Dan hidup terus bergulir tanpa pernah peduli.
Profile Image for Hib.
47 reviews6 followers
February 22, 2022
Sebuah kereta memekik. Itu adalah kereta dalam hidupnya sendiri yang tak pernah sampai ke stasiun yang ditujunya. (64)
Kutipan ini sepertinya bisa menggambarkan alur cerita buku ini. Kebimbangan hidup si "orang tua" dari stasiun ke stasiun yang lain, dari peristiwa ke peristiwa yang lain, kebimbangan ke kebimbangan yang lain, dari kekalahan ke kekalahan yang lain, dan dari kematian ke kematian yang lain.

Ini menyedihkan. Ia pun tak pasti lagi terhadap keputusan-keputusan yang telah diambilnya. Ia tegak di situ, digerayangi oleh kebimbangan. (8)
Hidup memang seperti itu, bukan? Keputusan dan kebimbangan yang dialami "orang tua" ini merepresentasikan kita sebagai manusia pula yang tidak pernah selesai diselimuti oleh keputusan dan kebimbangan bahkan hingga setelah kematian.

Ia tak dapat menetapkan kini apakah ia sedang beruntung atau sebaliknya. Apakah ia akan berangkat atau akan sampai. Dalam perjalanan atau sedang kembali. Mulai dan menyudahi ternyata sama. (44)
Terkadang, tak ada batas yang pasti dalam ruang dan waktu. Seperti ketika kalian membaca buku ini, plot cerita, ruang, dan waktu terasa terpecah-pecah dalam suatu kepingan kaca yang sukar untuk disatukan kembali. Semua terasa begitu abstrak dan membingungkan. Pun keberuntungan menjadi suatu omong kosong belaka.

Seperti kata Radhar Panca Dahana dalam pengantar novel ini, kita tidak akan berhasil menemukan dengan segera, plot cerita yang utuh, alur yang tegas, karakter atau penokohan, yang subtil dan konsisten, atau bahkan logika sederhana atau menyambung dan membuat logika sederhana yang menyambung dan membuat semuanya jadi cerita. Seperti ketika orang tua ini didapati berkali-kali mendapati dirinya mati, namun sering pula dilihatnya dia masih hidup.
Kalau aku harus mati, itu karena aku setujui bukan karena aku dipaksa menanggungnya. (147)
Tubuhnya ternyata masih berdiri di sana. Memegang erat kopor itu dan sedang membeli karcis dari seorang tukang catut. (148)

Banyak isu-isu secara gamblang disinggung dalam perjalanan demi perjalanan yang dialami orang tua ini. Sebut saja, suicide, pemerkosaan, LGBT, juga kemiskinan yang membuat orang waras menjadi "gila" bahkan hanya dalam hitungan detik.

Menariknya lagi, novel ini diawali dan diakhiri dengan hal yang sama, puisi.
Ini sebuah puisi, pikir orang itu waktu ia menjenguk ke balik jendela. (1)
"Ini sebuah puisi," gumam orang tua itu. (150)

Last to say,
"Sunyi ini, ingin kubagikan pada saat ini, tapi kau entah di mana."

- Hib, Bogor 2022
Profile Image for Mel.
111 reviews
September 17, 2008
buku yang dikatai jorok, menakutkan, dll ini buat saya malah memberi beberapa inspirasi.

ada satu paragraf dari kata pengantar sang penulis yang telah benar-benar mengembalikan kepercayaan diri saat saya membutuhkannya dan ingin saya bagikan disini,

'Dalam peristiwa mengarang saya, tak ada rasa susila, etika, moral, politik, kekuasaan, malu, bahkan juga agama yang membatasi. Bukan karena saya kuat, atau ingin kurang ajar. Justru karena saya lemah. Tak seharusnya dunia mengarang hanya dikuasai oleh orang-orang yang tahu, bijaksana, pintar, alim, bermoral, dan sudah pasti masuk surga. Dunia mengarang juga menerima orang yang setengah-setengah, gugup, gagu, kerdil, tak berdaya, dan tak punya pandangan pasti, yang selalu bimbang dan mencari apa yang juga tidak diketahuinya sendiri. Mengarang buat saya juga adalah tumbuh dan menggapai-gapai.'

berterimakasih sekali rasanya sama om putu..
sementara beberapa hal lain yang sudah menginspirasi, biar saya keep sendiri saja. hehe..
Profile Image for WA.  Prakosa.
106 reviews2 followers
April 15, 2024
Novela yang menceritakan tentang kehidupan di sebuah stasiun. Ditulis dengan cukup baik, hanya saja saya merasa kurang nyambung dengan maksud cerita, cukup membingungkan dan perlu perlu perhatian tambahan untuk membaca karya ini.
Profile Image for dvd.tbg.
16 reviews
June 6, 2014
Cerita ini dimulai dari monolog batin seorang tokoh yang mengucap "Ini puisi" saat melihat ke luar jendela melihat pohon, daun, awan, dan merasakan angin gerak angin dalam kesendiriannya; lalu diakhiri dengan gumam seorang tua "Ini puisi" setelah melihat adegan seorang gelandangan di tepian rel kereta mencekik seekor kucing hingga mati lalu melemparkan bangkai kucing itu ke dalam api yang menyala-nyala hanya karena hidungnya mencium aroma masakan yang digoreng dari kampung yang berada di sebelah tepian rel kereta.
Profile Image for Puterica.
138 reviews21 followers
February 12, 2023
not gonna pretend i understand the whole story, bab 1-3 masih masuk ke otak tapi kayaknya sisanya blur🙂 but anyway, narasinya cantik sekali!
Profile Image for Cep Subhan KM.
343 reviews26 followers
June 13, 2020
The novel could be called as postmodernist novel signed by the vague border between the reality and the imaginary. It will be confusing to read it with the mind of a realist who see the events told in the story as similar to reality in a linear move since in "Stasiun" they are mixed in a unique way: the way which makes the circular move where the ending is a beginning becomes possible.

Or maybe there no more something called as beginning and ending. What we read in "Stasiun" is unlimited events in the old man's mind mixed with the weird views of the same person toward what we called as the reality. Surely we will find old man's loneliness as the primary motive for his action (including his "mind's actions"), but at the same time we also find repetition as the significant symbol of a boring situation, or more exactly the culdesac of the mind to find its own motive(s).
Profile Image for 沈沈.
738 reviews
September 24, 2021
Seorang Tua yang ramah dan selalu perpikir atau mengkhayal, saat ia sampai distasiun, dimana saat itu ia dituduh mencuri dan tangannya yang sempat di tembak oleh polisi itu hanyalah khayalannya saja.

Seorang Tua sering sekali duduk di warung kopi yang dekat dengan kereta api, itu membuatnya lupa dengan istri dan anaknya. Seorang Tua sudah terlalu asyik dengan pikiran dan khayalannya saja.
Profile Image for Abu Wafa.
Author 2 books2 followers
April 25, 2025
novel seperti ini yang seharusnya menjadi eksplorasi penulis-penulis novel Indonesia lain, tidak melulu tentang lokalitas atau mengangkat G30SPKI yang membosankan.
Profile Image for Hany Andayani.
38 reviews1 follower
April 18, 2020
Aku baca Stasiun edisi penerbit Basabasi. Blurb yang ada di cover bagian belakang sebenarnya sangat membantu pembaca memahami makna dari cerita yg dikisahkan novel ini. Selain itu adanya tulisan pengantar dari Putu Wijaya sendiri dan dari Radhar Panca Dharma, menjadi bekal pembaca untuk menikmati novel ini.

Novel ini terdiri dari 9 Bab. Penokohanya tidak di beri nama, hanya menghunakan kata ganti misal, "orang tua itu, wanita itu, kepala stasiun itu, kuli itu, dlll". Tidak masalah sebenarnya dengan gaya seperti ini, tapi buat pembaca yang males mau mikir tapi inginya menikmati kisahnya kayaknya agak kurang cocok. Setting waktu dan suasana yang digunakan untuk menggambarkan stasiun sesuai dengan kondisi stasiun tahun 70an
Profile Image for May.
56 reviews3 followers
September 22, 2022
“Kehidupan adalah perjalanan panjang melintasi stasiun-stasiun asing yang tak putus-putusnya.”

“Barangkali perjalanan ini akan panjang sedemikian rupa dengan banyak soal-soal yang tak disukainya. Lalu timbul pertanyaan-pertanyaan yang aneh. Seakan-akan ia tidak tahu dengan pasti apa sebetulnya yang sedang terjadi. Ini menyedihkan. Ia pun tak pasti lagi terhadap keputusan-keputusan yang telah diambilnya. Ia tegak di situ, digerayangi oleh kebimbangan.”

“Ia memang tidak lebih dari sampah.”

“Barangkali ia harus belajar menikmati kekalahan dari segi yang lain — kalau ia memang benar-benar kalah.”

“Seandainya memang damai saja sudah cukup.”

“Tiba-tiba ia terkejut, mungkin juga anak itu bagian dari masa mudanya.”

Stasiun bercerita dengan premis awal kebimbangan manusia dalam menjalani kehidupan, berhenti di satu stasiun dan stasiun berikutnya. Sesuai dengan pernyataan Putu Wijaya pengarang buku ini, dia memaknai kehidupan adalah perjalanan panjang melintasi stasiun-stasiun asing yang tidak pernah putus. Namun, saat kita menunggu kereta di stasiun, ke mana sebenarnya kereta yang kita tunggu itu? Kita bisa memilih kereta yang membawa kita ke stasiun berikutnya, atau terus saja, pulang.

Pemaknaan dari novel pemenang DKJ 1975 ini sangatlah filosofis, tanpa membawa melankoli sejarah atau benturan kultur yang dahsyat, Putu Wijaya bak menampar pembacanya, seorang manusia, bahwa hidup tidak lebih dari satu kebimbangan dan kebimbangan lain, atau sejatinya, hidup hanya menunggu kereta kematian menjemput.

Dalam perjalanan kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang tidak terduga, yang membuat emosi dan perasaan kita naik turun. Semua itu bagian dari kehidupan, menentukan arah langkah kita berikutnya. Pun dalam perjalanan kita akan sering mengalami kondisi yang dialami Lelaki Tua, tokoh utama novel ini: tidak ikhlas, malu, merasa hidupnya direnggut orang lain, lebih-lebih harga dirinya. Saat dia berusaha meraih apa yang sebenarnya bisa dia raih, dia baru menyadari bahwa langkahnya tanpa tujuan dan hanya untuk menyenangkan egonya, sampai Lelaki Tua merasa apa yang dilakukannya hanya sia-sia saja.
Profile Image for Eva Novia Fitri.
163 reviews1 follower
December 10, 2024
Kalau cari plot, tidak akan ditemukan di novel Putu satu ini. Alur maju mundur berputar tanpa petunjuk apapun. Mulanya seperti terombang -ambing meraba-raba arah bacanya kemana. Serasa dilempar-lempar untuk kembali lagi ke tempat yang sama. Tapi akhirnya, setelah menyerah dan cukup nikmati saja apa yang disuguhkan, maka potongan-potongan kisah yang disebar acak itu justru bikin candu. Maka kesan akhirnya, ini sungguh sebuah tunnel ke dalam jiwa seorang 'si bapak tua'. Kita "menjelma" dirinya. Tidak banyak penulis sepiawai ini menyihir pembaca.
Profile Image for July.
71 reviews2 followers
March 10, 2022
Susah banget buat cerna kata-katanya. Tapi pas baca buku ini mendadak sedih karna ngerasa masyarakat mudah sekali asal tuduh begitu saja. Dan ditambah sikap apatis orang sekitar memang membuat sadar kalo hidup di dunia ini sangat sulit dan penuh perjuangan, terlebih orang yang kurang beruntung.
Profile Image for Faj.
238 reviews
September 1, 2023
Meski novel ini tidak terlalu tebal, isi ceritanya bisa dibilang berat. Bahkan saya butuh waktu bertahun-tahun untuk menamatkannya.
104 reviews
January 10, 2026
Ceritanya berputar di sekitar seorang lelaki tua yang terus-menerus melakukan perjalanan pulang dengan kereta — perjalanan yang selalu gagal dan tidak berujung. Ia ingin kembali ke masa lalu yang ia anggap “rumah” atau “akar” hidupnya, tetapi setiap kali ia mencoba, ia menghadapi kebingungan, surreal, kejadian aneh, bahkan menyaksikan versi dirinya sendiri sudah mati di rumahnya.
Perjalanan lelaki tua ini bukan sekedar fisik, tetapi psikologis dan filosofis: perjalanan batin menuju pemahaman tentang makna hidup, pilihan, kematian, serta identitas diri. Keseluruhan cerita terasa seperti “puisi” panjang tentang eksistensi manusia — tidak ada alur yang jelas, logika linear sering runtuh, ruang dan waktu bergeser, dan peristiwa nyata bercampur dengan imajinasi.

Ceritanya bukan sekadar plot dan karakter, tetapi permainan bahasa dan pemikiran yang mengaburkan batas antara realitas dan imajinasi. Gaya penulisannya terasa seperti puisi yang dipanjang-panjang. Kehidupan sebagai “kereta yang tak pernah sampai”, stasiun sebagai simbol persinggahan tanpa tujuan pasti, dan pengalaman “melihat versi diri sendiri yang sudah mati” semuanya menjadi simbol kehidupan manusia yang terus berulang dan mencari makna.

Pesan yang Dipelajari :
-Hidup adalah perjalanan yang tak pasti.
-Kehidupan manusia tak hanya berjalan di jalur logika
-Kesunyian dan keterasingan sebagai bagian manusiawi.

🌟4/5. Sebuah perjalanan batin tentang kepastian dan kebimbangan hidup, keterasingan, dan pencarian makna diri.
Profile Image for upiqkeripiq.
79 reviews4 followers
August 1, 2012
Saudara saya selalu bertanya : "Sudah baca stasiun? Mudeng nggak maksudnya?".

Karena rasa penasaran dan sedikit rasa sepi beberapa hari ini. Akhirnya saya putuskan untuk membaca buku ini.

Baca cover belakang. "Hemm, menarik.".
Baca 2 Kata Pengantar. "Hemm, Kelihatannya bakal beda ini isinya."
Bagian 1, Bagian 2."Hemm, agak jorok isinya."
Dst sampai bagian 7. "Ohh... Mungkin begini maksudnya"
Dst sampai halaman terakhir. "Cerita ini memang tidak akan pernah selesai."

Oke. Apa saya perlu menyimpulkan apa yang saya baca? Mungkin sedikit catatan kecil saja ya. Kenapa Putu Wijaya pake kata ganti "orang itu" di dalam buku ini? Mungkin karena kejadian-kejadian didalam buku ini bisa terjadi pada banyak orang, di berbagai waktu, di berbagai tempat.

Akhir kata. Banyak "Teror" di daam buku ini. Kalau anda penggemar Putu Wijaya. Anda harus baca ^_^
Profile Image for Debby .
51 reviews11 followers
April 27, 2016
"Pernahkah kau merasa sunyi, ya sunyi seperti yang aku rasakan, padahal kamu mempunyai anak-anak, suami, pekerjaan, penghasilan, rumah, keluarga, teman-teman, rencana, masa depan, dan harapan. Sunyi semacam itu, yang tidak terjamah oleh kata-kata yang kasar, yang kukira dimiliki oleh siapa saja, datang padaku sepanjang malam dalam seluruh hidupku. Tatkala aku berbaring dalam kamar sendiri, dalam terang lampu yang samar, dingin kasur dan masa depang yang menakutkan. Sunyi ini, ingin kubagikan pada saat ini, tapi kamu entah di mana. Pernahkah kau merasa sunyi, ya sunyi yang seperti kaurasakan padahl kamu tidak mempunyai anak-anak, suami, pekerjaan..."
Profile Image for Raiya.
30 reviews4 followers
January 15, 2011
Buku 'berat' ini hanya kuberi 3 bintang karena penulis mengajak kita berjalan memutari stasiun dan meneropong berbagai bentuk kehidupan di dalam stasiun kumuh membuatku sedikit bingung, apa maksud dari penulis ini? Keterbatasan otakku memahami penuturan buku ini membuatnya menjadi kurang menarik dan membosankan.
Profile Image for Anggraeni Purfita Sari.
84 reviews9 followers
August 6, 2012
Sampai halaman terakhir, saya tetep nggak ngerti jalan cerita buku ini, haha. Mungkin bagi saya, buku ini memang bukan untuk dimengerti, hanya sekedar untuk dinikmati bahasanya. :)
Displaying 1 - 22 of 22 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.