ENDORSEMENT Saya sangat menikmati gaya penuturan seorang dokter mengenai orang yang istimewa ini, semua peristiwa digambarkan dengan rapi, kadang juga ada kejutan-kejutan yang menyegarkan dengan tidak lupa dikaitkan dengan alam pikir kedokteran. Sebuah tulisan yang layak dibaca dan direnungkan bagi kolega medis.”
(Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Ph.D., SpOG(K) Dekan Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta).
SEKAPUR SIRIH Ini buku yang saya tulis intensif setiap harinya, selama tiga tahun. Masih buku bertema kesehatan, meski kali ini tidak sepenuhnya murni bernuansa kesehatan. Sepanjang diperkenankan Allah kesempatan menuliskan karya-karya, saya memang tidak mungkin menjauh dari profesi saya, dunia medis. Dunia kesehatan adalah orbit, tempat dimana saya berpijak, juga menjadi jendela bagi saya untuk melihat suatu horizon kehidupan yang lebih luas.
Kata guru saya, fenomena kehidupan ini aslinya adalah “satu yang memecah”. Seluruh keragaman tema kehidupan hakikatnya merupakan sebuah realitas yang bulat. Dan diantara tugas penting kita adalah merajut puzzle-puzzle agar kelak tersusun gambar besar hidup ini.
Buku ini, akan mengulas tentang seorang tokoh, "Muhammad Ainun Nadjib" (Emha). Bukan untuk mempelajari Emha, melainkan justru belajar dari seorang Emha. Belajar tentang kesehatan dari Emha, apa mungkin?
Mereka yang tetap sehat hingga usia senja tentu sangat banyak, kita bisa dengan mudah menemukannya di sekeliling kita. Begitu pula dengan para tokoh yang usianya di atas Emha dengan fisik bugar juga masih teramat banyak. Sosok Emha menjadi menarik karena kehidupan yang dijalaninya penuh dengan produktivitas dan kreatifitas namun dijalaninya dengan cara yang jauh dari pakem standar kesehatan modern. Bagaimana Emha bisa tetap produktif dan energik hingga usianya saat ini? dengan segala kesibukan yang seakan tak ada habisnya? Jika mendiskusikan tentang sosoknya, pertanyaan di atas adalah salah satu diantara pertanyaan yang sering dilontarkan banyak orang. Mempelajari kesehatan itu bersifat teoretis ilmiah, tapi “belajar kesehatan dari cara hidup seseorang merupakan hal empirik”. Saya percaya, belajar kesehatan dari kearifan hidup seseorang tentu biar sedikit, akan ikut menyumbangkan khazanah kekayaan di dunia medis.
Emha adalah sosok polymath, begawan besar yang muatan pribadinya telah bertransformasi dari sosok individu menjadi institusi. Dia memiliki banyak mutiara kehidupan, yang lebih dari sekadar “teladan kesehatan”. Maka, sambil mencoba menyelami dan menggagas makna kesehatan yang paripurna—sehat fisik, sehat sosial, sehat mental, dan sehat spiritual- dalam kekayaan pribadinya, sayapun ingin berlayar menyisir rute-rute lain untuk menapaktilasi segala nilai, fatsun, dan filosofi hidup darinya. Emha adalah tokoh yang saya ikuti karya tulisnya selama 30 tahun. Menurut saya, Ia adalah satu diantara legenda literasi hidup terbaik yang dimiliki negeri ini; yang telah menulis ratusan buku- membagi ribuan esai- ratusan antologi puisi.
Hemat saya bila ada yang layak disebut sebagai "guru bangsa", maka beliaulah orangnya. Lebih dari dua dekade belakangan ini, ia menggelar lapak kemesraan kemanusiaan secara kolosal. Secara rutin Emha bertemu puluhan bahkan ratusan ribu manusia secara langsung setiap minggunya, di ribuan titik diseantero nusantara (lebih dari 4000 titik) bahkan meretas hingga ke 5 benua. Emha menemani dan mengajak kita untuk menjalani "kebersamaan hidup dengan mesra" bersama Allah SWT dan Nabi kinasih (saw) utusanNya dalam forum yang kemudian dikenal dengan trade mark "MAIYAH". Dan saya (meski secara offline) juga mengikuti forum Maiyah itu, setidaknya selama dua belas tahun . Saya sangat banyak belajar pada beliau, Seorang yang yang punya kontribusi kemaslahatan sosial (baca: sedekah sosial) yang besar bagi negeri ini.
Thank you Reader, for visiting my pages, especially for all the book lovers who has read my books. I’m an anesthesiologist, writing is a part hobies between my days. I wrote around genre of health, Islamic theme, daily reflections. Until now, there are 6 books published in Indonesia, one of it was published in Malaysia.
The books are: 1. Mengobati dengan Hati (Blantika 2002) 2. Kenapa Rasulullah saw Tidak Pernah Sakit (Hikmah, 2008) 3. Mengapa Rasulullah Tidak Pernah Sakit (PTS Bhd. Milenia Malaysia, 2010). 4. Karena Kita Begitu Berharga, (Republika, 2012). 5. Rahasia Kesehatan Rasulullah, (NouraBooks, 2013). 6. Kitab Akhir Hayat (Republika, 2016). 7. Cinta, Kesehatan dan Munajat Emha Ainun Nadjib (Bentang Pustaka, 2019). 8. Melawan Kematian Menuju Keabadian (PTS Bhd. Milenia Malaysia, 2021)
Hopefully with all prayers from friends that I was given the ability by Allah to remain work & fixed passion for review writing in another time.
Saya akui membaca buku ini tidak mudah. Sebuah alasan klasik, idak ada waktu padahal bukan itu, karena memang malas saja hahaha.
Bab-bab awal dari buku ini dengan mudah mengantarkan saya menuju stanza-stanza selanjutnya. Namun perlu dipahami bahwa hal ini adalah untuk mempermudah pembaca kelak.
I would like to say that this book is like east meet west. Sebuah paradigma kedokteran yang kini mulai saling "diadu". Kedokteran barat dengan segala daya ilmu pengetahuan dan risetnya bertemu dengan kedokteran timur yang lebih holistik dalam memandang kesehatan tubuh manusia.
Saya tidak ahli di bidang itu, namun Islam, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW, sudah menyediakan jalan tengah untuk mencapai kesehatan yang kini mulai dianggap mahal.
Bagi jamak orang yang mengikuti Maiyah, sebagian besar selalu terbesit pada satu pertanyaan: di tengah kesibukan Cak Nun di pelbagai acara, melompat dari satu tempat ke tempat lain, durasi acara dari surup ke subuh, masihkah ada ruang istirahat dalam pengertian “kesehatan modern” baginya?
Pertanyaan elementer ini lazim dipikirkan jamaah Maiyah, khususnya saya pribadi, karena kepadatan jam terbang ternyata tak mengurangi stamina Cak Nun. Ia selalu energetik di depan audiens yang beraneka rupa itu.
Fenomena kesehatan Cak Nun demikian ternyata gayung besambut untuk ditelisik secara saintifik. Dokter Ade Hashman, penulis buku bertajuk Cinta, Kesehatan, dan Munajat Emha Ainun Nadjib (2019), menghamparkan hasil risetnya yang kemudian dibukukan sekaligus diterbitkan Bentang Pustaka.
Ia tergelitik untuk meneliti rekam jejak Cak Nun dalam perspektif kedokteran karena sebelumnya mengikuti pengajian Mocopat Syafaat cukup lama. Atas dasar antusiasme serta takjub akan kiprah Cak Nun di dunia sosial-kemasyarakatan tapi selalu terlihat segar-bugar, dr. Ade berinisiatif untuk ikut berkontribusi dalam program penulisan berbasis penelitian volunter empat tahun silam yang diadakan Progress.
Buku ini disusun berdasarkan pendekatan etnografis dengan mengumpulan data berupa pengamatan langsung selama Cak Nun menggelar Maiyah, wawancara mendalam, dan pendarasan literatur lisan maupun tulisan, sehingga data yang terkumpul bukan sekadar dihamparkan, melainkan juga dianalisis secara kritis. Pada aras ini dr. Ade berhasil menyajikan bangunan utuh konsep sehat dan kesehatan ala Cak Nun.
Yang membuat buku ini menarik dibaca masyarakat luas adalah dr. Ade tak semata-mata membedah fenomena kesehatan Cak Nun secara medis-akademik. Ia juga melakukan peneropongan lewat lintas perspektif disiplin keilmuan. Itu kenapa buah pena yang ia uraikan sedikit-banyak menyentuh sisi nonmedis seperti gejala santet yang sempat menyerang Cak Nun.
Fenomena yang kerap dihindari, bahkan acap kali dianggap irasional, oleh sebagian dokter konvensional semacam itu, didobrak dr. Ade dengan sejumlah argumen nonakademik. Sebagai seorang dokter yang tiap hari bekerja di atas tanggung jawab ilmiah tak membuat gentar dr. Ade untuk menjelaskan peristiwa nonmedis yang diderita Cak Nun pada tahun 2002.
Sepanjang hidupnya Cak Nun pernah sekali mengalami peristiwa sakit yang menurut keterangan dokter dianggap di luar nalar. Perubahan fisik secara ekstrem pernah dialami Cak Nun, yakni kehilangan bobot 26 kilogram, sehingga hanya menyisakan berat badan 46 kilogram. Wajahnya kala itu pucat pasi.
“…membawa Emha ke bagian radiologi Rumah Sakit Umum Pusat dr. Sardjito untuk menjalani pemeriksaan diagnostik dengan radioaktif (Pc 99). dr. Bambang Supriyadi, Sp.Rad(K) lalu memeriksa dan menemukan adanya unsur logam (dicurigai semacam zat uranium) pada kelenjar tiroid Emha sehingga menyebabkan intoksikasi pada organ tersebut” (hlm. 37).
Uji laboratorium yang telah Cak Nun lalui akhirnya menuai hasil. Tubuhnya ditaksir hanya bertahan paling lama sekitar 3,5 bulan. Ahli radiologi angkat tangan. Para dokter yang memeriksanya masih terbelalak bingung: bagaimana bisa benda sejenis logam bersemayam di tubuh Cak Nun? Suatu peristiwa yang masih menuai tanda tanya di antara para dokter yang menangani Cak Nun saat itu. Belakangan diketahui kalau fenomena itu terjelaskan sebab-musbabnya, namun dilihat dari sudut pandang klenik.
Pendek kata, sebagaimana diuraikan dr. Ade, “Saat ilmu medis sudah angkat tangan, dan tidak ada lagi ikhtiar yang mampu dilakukan, tepat pada momen itulah kita harus menyerahkan seluruh sepenuhnya kepada Allah” (hlm. 39). Berpakaian rapi dengan peci berwarna merah-putih khas Maiyah, Cak Nun kemudian menjalani tarekatnya sendiri. Ia duduk bersila di bawah pancuran air di kamar mandi. “Merapal doa, berzikir, dan menjalin kemesraan dengan Allah” (hlm. 40).
Usai melakukan tarekat itu Cak Nun sembuh total. Badannya kembali pulih. Ia beraktivitas seperti biasa, menemani rakyat kecil di acara Maiyah, baik di dusun maupun kota. Titik peristiwa itulah yang membuat dr. Ade sebagai seorang dokter antusias ingin mendapatkan penjelasan dari pendekatan alternatif itu.
Ia bertanya-tanya bahwa segala prognosis buruk terhadap kesehatan Cak Nun yang sempat dicemaskan para dokter di UGM akhirnya tak terbukti. Apa kaitannya antara pancuran air, merapal doa, dan kesembuhan penyakit yang sebelumnya disimpulkan mematikan itu? Barangkali rasio manusia belum mampu mewedarkannya secara ilmiah. Namun, setidaknya, dr. Ade di dalam buku ini mampu menguak kejadian yang menimpa Cak Nun secara fenomenologis.
Penyembuhan Holistik
Buku ini menyodorkan pernyataan klise di dunia medis, yakni sejauh ini masih banyak terbentang misteri penyakit yang belum terpecahkan. Sekalipun alat kedokteran telah berkembang secara canggih, belum tentu ia menjadi jaminan atas terpecahnya misteri pelbagai penyakit berikut obat mujarabnya. Penyakit Cak Nun dan cara penyembuhannya merupakan salah satu objek material yang dr. Ade teliti.
“Lantas, bagaimana mengobati secara tuntas penyakit karena infeksi virus? Senjata biologis apa yang efektif mengeliminasi virus secara radikal? Mengapa ada peristiwa autoimun, saat sel-sel kekebalan yang seharusnya menjaga tubuh dari invasi agen asing malah berubah menjadi ‘tentara gila’ hingga gagal mengindentifikasi mana musuh dan mana bagian dari diri sendiri? Bagaimana manajemen gangguan alergi yang ampuh…dan, banyak lagi pertanyaan lainnya” (hlm. 42).
Uraian-uraian yang dihamparkan dr. Ade di buku ini seperti melengkapi pandangan konvensional yang biasa dipercakapkan di dunia medis. Ia tak ingin menjadi dokter yang hidup dalam tempurung yang sekadar bermazhab “ekstrem materialistis” yang seputar menyodorkan obat-obatan farmakologis sebagai jawaban atas penyakit fisik maupun nonfisik. Di balik teknologi medis, menurutnya, terdapat erosi komunikasi yang seharusnya tak terjadi karena jagat kedokteran harus penuh empati antara dokter dan pasien.
Itu kenapa, bagi dr. Ade, pengobatan paling besar adalah sebuah proses, termasuk dalam konteks komunikasi. “Saya percaya bahwa proses penyembuhan bukan hanya melibatkan peristiwa fisik, melainkan jauh lebih kompleks dari itu. Manusia tak sekadar otot, tulang, dan darah. Penyembuhan melibatkan unsur mental, bahkan bertautan dengan hal-hal spiritual. Sejatinya, penyembuhan merupakan ‘peristiwa langit’. Obat bukan faktor utama kesembuhan. Obat adalah wasilah yang logis dalam upaya penggalian ijtihad terhadap sunatullah untuk menuju proses penyembuhan” (hlm. 43).
Kelebihan buku yang ditulis dr. Ade, sepanjang pendarasan saya, berpusar pada poin-poin itu. Ia meneliti fenomena kesehatan Cak Nun yang tak sebatas dikarenakan peristiwa fisik, tapi juga meliputi laku-laku Cak Nun selama hidupnya. Demikianlah bila membincang kesehatan ala Cak Nun maka dibutuhkan penyelidikan secara menyeluruh. Khususnya bagaimana laku puasa yang telah lama dipraktikkannya. Tak banyak buku yang sebegitu rinci dalam meneliti kehidupan sekaligus kesehatan Cak Nun kecuali buah pena karangan dr. Ade ini.