Manusia harus saling mengingatkan kepada kebaikan karena hutan, gunung, sawah, dan lautan hanya bisa mengingatkan kita kepada mantan.
Demi itu buku ini ada. Tapi, aku tak ingin mendudukkanmu sebagai pembaca, aku mau mengajakmu duduk sebagai teman ngobrol.
Banyak jalan menuju Roma, tapi tak ada yang sepasti setiap jalan menuju takdir. Saat dipamiti adik atau anak ke sekolah, kita menjelma sebagai kakak atau orang tua. Bertemu teman kuliah atau sejawat kantor, mendadak kita menjadi sohib atau saingan. Sepernano detik yang lalu kamu kekasihnya dan kini malah menjadi mantannya.
Begitulah. Hidup selalu bergerak seperti kisah-kisah Talijiwo yang hendak aku obrolkan kepadamu. Aku akan mendengarmu. Dengar aku juga. Siapa tahu setiap kata yang kuobrolkan, mengandung senandung untuk kita nyanyikan berdua. Please, tak perlu lagi keluh kesah itu. Hidup hanya mengolah keluhan menjadi senandung. Heuheuheu.
Agus Hadi Sudjiwo (lahir di Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962; umur 47 tahun) atau lebih dikenal dengan nama Sujiwo Tejo adalah seorang budayawan Indonesia. Ia adalah lulusan dari ITB. Sempat menjadi wartawan di harian Kompas selama 8 tahun lalu berubah arah menjadi seorang penulis, pelukis, pemusik dan dalang wayang. Selain itu ia juga sempat menjadi sutradara dan bermain dalam beberapa film seperti Janji Joni dan Detik Terakhir. Selain itu dia juga tampil dalam drama teatrikal KabaretJo yang berarti "Ketawa Bareng Tejo".
Dalam aksinya sebagai dalang, dia suka melanggar berbagai pakem seperti Rahwana dibuatnya jadi baik, Pandawa dibikinnya tidak selalu benar dan sebagainya. Ia seringkali menghindari pola hitam putih dalam pagelarannya.
Membaca buku ini karena tugas negara. Sempat merasa heran dengan dua sosok yang dihadirkan sebagai lakon, tapi begitulah adanya. Kata kunci utama adalah, bebaskan imajinasi ketika meembacanya sehingga bisa lebih menikmati kisah yang disajikan. Ilustrasi cantik membuat buku ini makin menarik untuk dinikmati.
Buih di samudra belumlah samudra, Kekasih. Begitu juga seluruh kata yang berbuih-buih di dalam cinta ... belumlah cinta. Hlm. 150
Sujiwo Tejo, namanya tidak asing, tapi aku baru pertama kali membaca karyanya. Buku Senandung Talijiwo ini meruapakan sebuah buku dengan kisah inspiratif dari Sastro dan Jendro.
Berbalut sampul putih di bagian depan dan biru dibagian belakang membuat buku ini terlihat cantik. Ditambah kutipan menarik di bagian sampul depannya menambah rasa penasaran dengan isinya.
Seperti yang tercantum di blurb, penulis tidak sekedar menempatkan pembaca sebagai pembaca saja, melainkan diajak bercengkrama tentang kehidupan cinta, masyarakat hingga politik.
Yes. Jangan membayangkan kisah cinta dalam buku ini terlalu berlebihan seperti cerita romance fiksi yang sering kamu baca. Karena lebih dari sekedar cinta dalam kehidupan nyata. Dari sini kamu akan lebih mengerti tentang cinta yang sesungguhnya. Hati-hati saja jangan sampai baper.
"Galau itu saat tak sanggup kau bedakan mana yang memenuhi hidupmu dan mana yang cuma menuh-menuhin'' Hlm. 60
Penulis mengkolaborasikan isu-isu yang berkembang di masyrakat dengan perasaan cinta. Isu tentang pemilu pemilihan presiden dan lainnya. Pokonya hasilnya keren.
Protes terbesar terhadap sesuatu bukan teriak-teriak sampai bakar-bakaran ban. Itu masih cemen. Puncak protes tertinggi dan tersuci terhadap sesuatu adalah tsk sudi lagi membicarakannya walau cuma sehuruf. Hlm. 88
Ada dua tokoh yang dominan yaitu Sastro dan Jendro. Coba tebak siapa yang berkelamin perempuan dan laki-laki? Betul! Sastro di sini laki-laki dan Jendro alias Jendrowati adalah perempuan. Entah kenapa buatku lebih baik Jendro yang laki-laki dan Sastro sebaliknya. Seperti ada pesan terselubung dari penamaan tokoh. Apa pun itu, mari kita ngobrol saja. Haha
Penggunaan bahasa di sini beranekaragaman seperti negeri tercinta, Indonesia. Indonesia-Jawa-Sunda. Yang gak ngerti jawa seperti aku ini, tenang saja ada artinya di bagian bawah.
Overall, aku menikmati Senandung Talijiwo. Benar-benar menarik dengan isinya, walau terkadang ada bagian yang harus aku baca ulang saat gak paham maksudnya.
Buat kamu yang pengin cari kisah inspiratif seputar kehidupan dua insan yang dimabuk cinta dan politik wajib baca buku ini.
Btw, pesan yang bisa aku ambil dari buku ini adalah cinta, aku tidak yakin apa itu cinta? Atau bisa saja aku tidak tahu apa-apa. Yang kutahu hidup terus berjalan ada atau tanpa adanya cinta.
Cinta macam-macam pengertiannya. Semuanya sudah kubaca, Kekasih. Sudah kualaminya pula. Semua dan menyeluruh. Kalau kuceritakan akan lebih panjang dari garis khatulistiwa. Garis besarnya: ternyata aku tidak tahu apa-apa tentang cinta. Hlm. 176
Senandung Talijiwo, judul buku yang keren dan indah. Ilustrasi covernya cantik dan artistik. Ilustrasi dalam bukunya yang bertebaran yang juga bagus menambah ketertarikan dalam membaca sekaligus memperkuat makna apa yang ingin disampaikan oleh Sujiwo Tejo. Di buku ini Sujiwo Tejo menceritakan berbagai kisah tentang Sastro dan Jendro dengan berbagai peran yang berbeda di setiap kisahnya.
Bahasa yang digunakan di sini penuh dan disusun dengan kalimat yang indah dan saking tinggi tingkat sastra dan bahasa budaya yang dipakai Sujiwo Tejo di sini membuat saya agak kesulitan dalam memahami berbagai kisah yang diceritakan, apalagi jika beliau menggunakan bahasa Jawa yang tidak diterjemahkan oleh editor :D. Sujiwo Tejo memang budayawan yang sangat hebat, saya sulit memahami keseluruhan isi buku ini, dan mungkin ini juga disebabkan saya jarang membaca buku jenis seperti ini.
Walaupun begitu ada beberapa kisah yang dapat saya pahami maksudnya dan ada beberapa bagian yang nyangkut entah karena lucu maupun penuh makna, seperti: "Jangan kau sia-siakan hidupmu dengan tidak kuliah. Kuliah itu penting. Yaitu untuk memperbanyak mantan...." (hal. 15)
"Semoga aku bukan orang permukaan. Aku sudah bosan merasakan warna yang terlihat. Maka aku menyelam, Kekasih. Di dasar laut yang gulita, aku ingin merasakan warna yang terdengar, yang bergema di dasar cinta." (hal. 23)
"Buih di samudra bukanlah samudra, Kekasih. Begitu juga seluruh kata yang berbuih-buih di dalam cinta...belumlah cinta." (hal. 150)
"Tapi dia asing terhadap pekerjaannya sendiri. Dia bekerja di bidang yang sesungguhnya bakat dan kemampuannya sama sekali tidak di situ. Itulah sebenar-benarnya tenaga kerja asing. Ibarat bakatnya dagang, tapi masuk partai politik atau birokrasi. Mereka asing terhadap pekerjaannya sendiri." (hal. 95)
"Kamu selalu bilang, Sas, mending hasilnya salah asal prosesnya benar. Kalau tekun, diulang-ulang, dibiasakan, lama-lama hasilnya akan benar. Prosesnya salah hasilnya benar? Ah, itu kebetulan. Kebetulan tak bisa diulangi, Sas!" (hal. 57)
Senandung Talijiwo adalah kisah inspiratif dari tokoh yang bernama Sastro dan Jendro. Ini tidak sepenuhnya membahas tentang cinta tetapi juga dibalut dengan persoalan seperti isu-isu politik, pendidikan, pekerjaan dan hal lainnya yang sering terjadi di masyarakat. Aku sempat salah mengira bahwa Sastro adalah wanita, sebelum aku tahu ternyata nama lengkap Jendro adalah Jendrowati. Hehehe.. Banyak jalan menuju Roma, tapi setiap jalan menuju takdir. Ya, banyak jalan yang sudah dilalui Sastro dan Jendro. Alur cerita pada masing-masing bab ini membuatku agak sedikit bingung yang membahas masa muda Sastro Jendro hingga dilain kisah menjadi sepasang suami istri dan dikaruniai seorang anak. Banyak menggunakan bahasa Jawa yang aku juga tidak tahu artinya.
Latar cerita ini adalah suasana saat pemilu, pilpres, pilkada dan Asian Games. Ada bagian cerita anak-anak riang bernyanyi-nyanyi apa saja dari mars Nasdem, mars Perindo, atau mars partai apa saja.
Buku ini disisipkan beberapa ilustrasi berwarna hitam-putih dan banyak sebaris puisi atau nasihat dengan sapaan Kekasih disetiap babnya. Seperti yang aku kutip berikut ini:
"Aku suka perempuan manis yang kopi pahitnya tetap terasa pahit, tidak ikut-ikutan manis gegara diseduh oleh perepuan manis. Aku tak suka apa pun yang ikut-ikutan, Kekasih."(Hlm. 82) "Protes terbesar terhadap sesuatu bukan teriak-teriak sampai bakar-bakaran ban. Itu masih cemen. Puncak protes tertinggi dan tersuci terhadap sesuatu adalah tak sudi lagi membicarakannya walau cuma sehuru."(Hlm. 88) "Harusnya kesabaran itu seperti keinginan, tak ada batasnya. Yang bertapal batas cuma kebutuhan, Kekasih." (Hlm. 158) "Batas sombong dan percaya diri itu sejuta kali lebih tipis dari sayatan bawang, Kekasih. Dan, yang menyarankan agar kamu tak sombong, biasanya orang yang sama dengan yang menyarankan agar kamu punya rasa percaya diri."(Hlm. 180) "Sebaik-baik wajah adalah senyum yang gampang dikenang." (Hal. 185)
Aku tidak tahu apakah cerita Senandung Talijiwo ini ada kaitannya dengan cerita Talijiwo karena ini baru pertama kalinya aku membaca karya Sujiwo Tejo.
"Hadapilah hidup, betapapun kamu jijik. Jangan menunggu hidup menjadi sempurna dulu baru kamu hadapi, Sastro." (Hlm. 152 - Senandung Talijiwo)
Selalu suka bagaimana Mbah Tejo menumpahkan pikiran-pikirannya lewat tulisan-tulisan yang berbunyi. Buku ini mengandung quotes yang bagus-bagus dan dalam dan membuat berpikir, oh ya juga ya, ih iya benar benar, uwuwu uwuwuw, ahiw~
Setiap bab dan sub bab, kita disajikan berbagai cerita namun hanya ada Sastro dan Jendrowati. Terkadang, membacanya terkesan apa aja diomongin, terus lagi ngomongin ini eh tiba-tiba ngomongin itu. Tapi itu justru kerennya, dan begitulah sejatinya hidup. Halah 😂
Cukup banyak quotes yang sudah sering aku baca di postingan atau cuitan Mbah Tejo di sosmednya, tapi tetap saja enak untuk dibaca lagi berulang-ulang. Juara memang.
Intinya aku suka banget sama buku ini. Ngalir dan terarah. Ringan tapi mendalam.
Sebagai penutup :
"Karena adakah hari selain hari ini, Kekasih. Tak ada. Yang ada cuma hari ini. Kenangan adalah hari ini yang merenungkan kemarin. Harapan adalah hari ini yang mengkhayalkan esok." (Hlm. 74 - Senandung Talijiwo)
"Pada intinya dunia ini terdiri atas keaslian dan kepalsuan, tapi aku tak begitu yakin bahwa keaslian itu ada, Kekasih." (Hlm. 215 - Senandung Talijiwo)
Review singkat dan yang lebih objektif: Jika dalam seri sebelumnya, Talijiwo seperti membawa nuansa jatuh cinta, disini ia membawa nuansa patah hati.
Review yang lebih panjang dan subjektif: Buku ini sangat personal buat saya. Seri Talijiwo ini menemani perjalanan hubungan saya dengan mantan. Saat kami berpisah, buku ini hadir menjadi bacaan saya dan sangat mengena hati. Tulisan-tulisan beliau sederhana namun mengandung kebenaran. Selain itu, grafis yang ditampilkan sangat membantu saya untuk menikmati membaca buku ini. Kalimat-kalimat inti yang ada ditulis dengan font berbeda dan sangat memudahkan saya untuk meresapinya.
Ini pertama kali aku mencoba mengenal sang seniman sastra Sujiwo Tejo dan aku langsung jatuh cinta dengan tulisannya, bagaimana beliau menulis kalimat, menorehkan kata, yang sangat gampang untuk dicerna, perumpamaannya pun jauh dari bertele-tele. Selipan humor yang sama sekali nggak garinggg.
Kata-kata yang paling aku suka di buku ini "Kalau kita tak peduli, kekasih, kulit selalu tak mau kehilangan kesempatan untuk menjadi keriput. Demikian juga dengan umur. Kita perlu terus peduli umur dengan cara tak memperhatikannya sama sekali. Maukah engkau menjadi saksi uban pertama dalam hidupku?"
Rangkaian cerita khas mbah tedjo, yang tidak hanya soal cinta dan filosofinya, namun dilengkapi dengan sentilan tentang kehadiran cinta di sekitar kita
Bagi yang pernah membaca Talijiwo, pasti sudah paham bahwa untuk membaca buku semacam ini diperlukan kebebasan pikiran dan keliaran imajinasi. Melalui dua tokoh utama Sastro dan Jendro, kita dipaksa menyusuri isu-isu terkini. Melihat keseharian dari sudut pandang yang berbeda. Memaknai kejadian sederhana dengan lebih dalam. Mungkin karena terbit di tahun politik, jadi lebih banyak isu politik yang disinggung di buku ini. Tidak hanya itu, isu sosial, teknologi, dan permasalahan cinta juga tak luput diungkit-ungkit. Apalagi kalimat-kalimat sarat makna nan khas ala @president_jancukers yang dilabeli sebagai "Talijiwo" makin lantang nadanya. Buku ini juga makin lengkap dengan adanya ilustrasi cantik dari Francisca Ayu. Sama seperti pada buku sebelumnya, Sastro dan Jendro kembali menjelma menjadi siapapun yang mereka suka. Bedanya, kali ini jenis kelamin Jendro selalu sama; wanita, gadis, perempuan, cewek, dan berbagai sebutan sejenisnya. Duhai Kasih, cara terbaik untuk mengeluh memang dengan menyenandungkannya. Maka mari bersenandung bersama.
Suka sekali dengan gaya penyampaian Mbah Jiwo di buku ini. Ngalir dan berisi. Ya seperti di blurb, Mbah Jiwo tidak memposisikan pembaca sebagai pembaca, tapi sebagai teman ngobrol dan buku ini benar-benar seperti obrolan yang sesekali membuat saya berpikir "Oh, iya ya. Hmmm."