Membaca Relikui Jarak, kita disuguhkan cerita tentang waktu, tentang tempat dan tentang puisi itu sendiri. Arco menyajikan diksi yang terkadang membuat penasaran; mengapa dan bagaimana diksi itu dipilihnya. Kadang ada kejutan di sela-selanya, penuturan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, membuat kita kemudian tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala. . . "Pikiranku melanglang buana ke tempat lain yang jauh, malah bertanya-tanya tentang hal-hal di luar puisi yang sedang kubaca." . . . Relikui jarak; jauh, sunyi dan lembut.
One thing I like about reading poems: they create images in my mind. Relikui Jarak does it. Even the title makes me imagine things, and that's about what "jarak", distance can leave us with. Distance, we can apply it to either the physical one between places, or persons, or time of things happened.
And those things happened within the passing time somehow left you with things you may take as something you cherish, even if it is in a sad tone because of the distance it has created. "Relikui" itself means "something left behind". Within my Catholic background, i would even take that "relikui" as something holy the distance has left.
I found Arco's poems created a quiet, sad reflective images in my mind. A room of loneliness. A glance to even how death looks like. His poems make me stop and think. His poems make me feel deeply.
Relikui Jarak mengajak kita mengenang masalalu yang menggenang. Mencoba memaafkan memori yang tercipta dengan sengaja. Haru dan senang yg dicampur dan menjadi kata perkata.
Relikui Jarak adalah kitab kecil tentang sunyi yang menjadi warisan, tentang kesendirian yang tak mengikis keutuhan jiwa, dan tentang ruang antara – di mana jarak tak lagi melukai, tetapi menyisakan cahaya halus. Arco Transept memampatkan waktu, kenangan, dan rindu menjadi puisi yang berbicara dengan lirih: memberi arti pada setiap ruang batin yang pernah lembek diterpa kehilangan. Buku yang menarik untuk dibaca.