Jump to ratings and reviews
Rate this book

Merdeka Sejak Hati

Rate this book
Sejak kecil, Lafran Pane, anak piatu yang lasak dari kaki Gunung Sibualbuali hanya ingin menemukan kemerdekaan dan cinta yang hilang. Tapi pencariannya ini nyaris membunuhnya secara ragawi, tapi terbangkitkan secara rohani.

Ikuti petualangan adik sastrawan Sanusi Pane dan Armijn Pane ini, menunaikan misi hidupnya dan menemukan cintanya di bawah penjajahan Belanda dan Jepang. Dari tukang protes guru menjadi guru besar. Dari penjual es lilin menjadi pahlawan nasional.

Baginya merdeka itu ketika berani jujur dan sederhana di tengah riuh rendah dunia.

Baginya, merdeka itu sejak hati, Islam itu sejak nurani.

380 pages, Paperback

Published May 26, 2019

61 people are currently reading
429 people want to read

About the author

Ahmad Fuadi

22 books1,429 followers
Fuadi lahir di nagari Bayur, sebuah kampung kecil di pinggir Danau Maninjau , tidak jauh dari kampung Buya Hamka. Ibunya guru SD, ayahnya guru madrasah.

Lalu Fuadi merantau ke Jawa, mematuhi permintaan ibunya untuk masuk sekolah agama. Di Pondok Modern Gontor dia bertemu dengan kiai dan ustad yang diberkahi keikhlasan mengajarkan ilmu hidup dan ilmu akhirat.

Gontor pula yang membukakan hatinya kepada rumus sederhana tapi kuat, ”man jadda wajada”, siapa yang bersungguh sungguh akan sukses.

Juga sebuah hukum baru: ilmu dan bahasa asing adalah anak kunci jendela-jendela dunia. Bermodalkan doa dan manjadda wajada, dia mengadu untung di UMPTN. Jendela baru langsung terbuka. Dia diterima di jurusan Hubungan Internasional, UNPAD.

Semasa kuliah, Fuadi pernah mewakili Indonesia ketika mengikuti program Youth Exchange Program di Quebec, Kanada. Di ujung masa kuliah di Bandung, Fuadi mendapat kesempatan kuliah satu semester di National University of Singapore dalam program SIF Fellowship. Lulus kuliah, dia mendengar majalah favoritnya Tempo kembali terbit setelah Soeharto jatuh. Sebuah jendela baru tersibak lagi, Tempo menerimanya sebagai wartawan. Kelas jurnalistik pertamanya dijalani dalam tugas-tugas reportasenya di bawah para wartawan kawakan Indonesia.

Selanjutnya, jendela-jendela dunia lain bagai berlomba-lomba terbuka. Setahun kemudian, dia mendapat beasiswa Fulbright untuk program S-2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University. Merantau ke Washington DC bersama Yayi, istrinya—yang juga wartawan Tempo—adalah mimpi masa kecilnya yang menjadi kenyataan. Sambil kuliah, mereka menjadi koresponden TEMPO dan wartawan VOA. Berita bersejarah seperti peristiwa 11 September dilaporkan mereka berdua langsung dari Pentagon, White House dan Capitol Hill.

Tahun 2004, jendela dunia lain terbuka lagi ketika dia mendapatkan beasiswa Chevening untuk belajar di Royal Holloway, University of London untuk bidang film dokumenter. Kini, penyuka fotografi ini menjadi Direktur Komunikasi di sebuah NGO konservasi: The Nature Conservancy.

Fuadi dan istrinya tinggal di Bintaro, Jakarta. Mereka berdua menyukai membaca dan traveling.

”Negeri 5 Menara” adalah buku pertama dari rencana trilogi. Buku-buku ini berniat merayakan sebuah pengalaman menikmati atmosfir pendidikan yang sangat inspiratif. Semoga buku ini bisa membukakan mata dan hati. Dan menebarkan inspirasi ke segala arah.
Setengah royalti diniatkan untuk merintis Komunitas Menara, sebuah organisasi sosial berbasis relawan (volunteer) yang menyediakan sekolah, perpustakaan, rumah sakit, dan dapur umum secara gratis buat kalangan yang tidak mampu.

Untuk informasi lebih jauh, silakan klik www.negeri5menara.com, http://fuadi.multiply.com, http://duotravelers.wordpress.com,htt... dan laman Facebook penulis http://www.facebook.com/ahmad.fuadi1

Untuk menghubungi penulis, silakan email ke negeri5menara@yahoo.com .
Atau add "Ahmad Fuadi" di Facebook dan follow "fuadi1" di twitter

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
80 (38%)
4 stars
77 (37%)
3 stars
37 (17%)
2 stars
10 (4%)
1 star
4 (1%)
Displaying 1 - 30 of 41 reviews
Profile Image for Vivin.
26 reviews
June 1, 2019
Gak butuh waktu lama untuk menyelesaikan buku ini, karena ketika halaman pertama sudah dibaca, rasanya sulit untuk berhenti sampai di halaman terakhir.

Ahmad Fuadi sudah menjadi salah satu penulis favorit saya sejak Negeri 5 Menara. Pada saat saya melihat bahwa Beliau menerbitkan buku baru, jujur saja ekspektasi saya sudah tinggi terhadap buku Beliau.

Untungnya, seperti novel-novelnya yang lain, novel biografi ini pun memenuhi ekspektasi saya dan menurut saya bagus. Sebagai pembaca, kita akan dibawa ke cerita biografi dari Bapak Lafran Pane, salah satu pahlawan nasional yang mungkin kurang begitu dikenal tapi sangatlah dermawan dan rendah hati. Cerita tentang Beliau dan sejarah hidupnya sejak lahir hingga dinobatkan sebagai pahlawan nasional dijelaskan dengan bahasa yang mengalir dengan indah dan membuat kita terbuai menikmati karya ini.

Boleh dibilang, novel ini mengingatkan saya kembali akan sejarah Indonesia dan mengajarkan banyak nilai kehidupan. Terima kasih, Ahmad Fuadi atas buku-buku yang selalu berkualitas :)
Profile Image for Makarim Muhammad.
16 reviews
December 14, 2020
Kesederhanaan Lafran Pane berhasil menyihirku sepanjang buku ini, betapa sosok seperti beliau kian langka di masa sekarang.
Buku ini mengajarkan kita untuk bersikap sederhana dalam sikap dan perbuatan kita. Jabatan yang menjadi keniscayaan dalam dunia organisasi juga seharusnya bukan menjadi sesuatu yang terlalu diingini. Biarkan ia menjadi formalitas saja dan kita harus mengembannya dengan sikap rendah hati dan penuh tanggung jawab. Apabila ada orang lain yang lebih berhak, maka serahkan saja ia. Setidaknya itulah yang aku pelajari dari buku ini. Sifat-sifat mulia itulah yang selalu lekat dalam keseharian sang tokoh utama. Lafran Pane sang pendiri HMI
Profile Image for Rully Resa.
59 reviews6 followers
September 15, 2021
Saya melihat buku ini ada di deretan Best Seller toko buku Gramedia, saya tertarik melihat judulnya "Merdeka Sejak Hati" seperti ada tatanan bahasa yang kurang pas. Bukankah seharusnya: "Merdeka Sejak (Dari) Hati" atau "Merdeka Sejak (Di)Hati"? tapi dari situ saya jadi tertarik melihat sinopsis dibelakang buku. Nama Lafran Pane asing bagi saya, tapi saat mengetahui beliau adalah adik Dari Arjmin Pane dan Sanusi Pane saya jadi tertarik juga untuk membeli buku ini karena dua nama itu tidak asing lagi bagi pembaca sastra indonesia. Dan juga yang membuat saya tertarik adalah penulisnya. Saya ingat kesederhanan tulisan dan cerita dibuku Negeri 5 Menara. Maka ngga ragu lagi segera saya beli buku ini.

Ternyata cerita biografi fiksi ini sangat menarik dibaca. Saya tidak kesulitan menghabiskan buku dengan tebal 308 halaman ini. Hanya dalam waktu 2-3 hari saja. penggunaan diksi dan alur cerita menurut saya cukup baik. Walaupun jika saya baca beberapa pendapat sesama pembaca, banyak yang berkomentar saat Era HMI cukup membosankan. Mungkin karena ceritanya banyak menyinggung politik, sedangkan halaman awal bercerita kehidupan sehari-hari yang entah bagaimana seperti sedang menyaksikan layar bioskop. Hari-hari awal Lafran Pane penuh dengan intrik kehidupan baik dari sisi keluarga, pertemanan, lingkungan sekolah, bahkan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari dalam hatinya. Mencari makna merdeka. Sejak kecil Lafran pane tidak menyukai segala bentuk penjajahan dan berusaha sekuat tenaga membebaskan penjajahan tersebut. Dan suatu ketika nyawanya sempat jadi taruhan.

Membaca cerita Lafran Pane sekaligus menjadi refleksi bagi saya bagaimana caranya hidup sederhana. Sederhana rasanya makin jauh dari pola hidup masyarakat, khususnya yang tinggal diperkotaan. Hal-hal sederhana seperti pola makan atau cara berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya yang seharusnya sederhana terkadang dibuat rumit oleh kita sendiri. Dari cara hidup Lafran Pane yang hanya bertumpu pada fungsi saya menggali lagi makna hidup. Sesederhana: Kalau belum rusak, kenapa harus diganti? Kalau masih berfungsi, kenapa beli yang lain?

Pada akhirnya muncul kesimpulan bahwa merdeka sejak hati itu memerdekaan diri dari segala penjajahan. Penjajah tidak mesti muncul sebagai orang asing yang datang menguasai hidup kita. Tapi penjajah sering kali hadir berupa jabatan, beragam keinginan, ingin dipandang, ingin dihargai, bangga diri dan nafsu menguasai.
Profile Image for Khoirun Nikmah.
Author 3 books5 followers
June 19, 2019
penuh makna, pelajaran serta petuah penting yg pada akhirnya saya merasa ini bukan hanya sekadar biografi Lafran yang biasa saja, namun justru inilah obat bagi keringnya keteladanan negeri ini dalam kondisi yg kini semakin tak tentu arah. Buku ini mengajarkan mendirikan sesuatu bukan untuk dijadikan ego/sekadar gagah gagahan agar tampil di podium, justru Lafran mengajarkan pada kita semua makna religiusitas, kebangsaan dan kemerdekaan sejati. So proud of you, Lafran! terumakasih kak Fuadi, senantiasa menuliskan novel yg memiliki ruh agama islam dengan baik.
Profile Image for Gita Arimanda.
35 reviews3 followers
June 27, 2019
Bab-bab awal dari buku ini memikat hati saya. Cara bang Fuadi menggambarkan sosok Lafran yang kehilangan cinta seorang Ibu sejak kecil membuat mata basah mengalir. Tentang sepak terjangnya menemukan kasih sayang keluarga yang bisa menerimanya apa adanya. Namun lambat laun cerita menjadi monoton dan repetitif. Sayang sekali setelah 90% halaman terbaca, rasanya sudah tidak sanggup lagi saya melanjutkan karena bosan.
Profile Image for Ridho AS.
41 reviews
August 4, 2019
Saya membaca buku ini. Di awal buku ini, hentakan nya cukup terasa. Apa yang di ceritakan saat Lafran Pane memulai perjalanan hidupnya cukup menarik, menginspirasi anak muda dalam pencarian hidup. Memberi nasihat kepada anak muda yang membaca nya soal pilihan pilihan hidup.

Di tengah cerita, saya sebagai pembaca, merasakan alur yang datar dan cenderung mudah di tebak. Hanya kisah cinta Lafran Pane pada dewi yang tidak bisa dilupakan oleh saya. Ini menarik. Letupan cinta di tengah membuat saya ingin terus membaca novel ini.

Puncak dan klimaks dari buku ini adalah di akhir. Duka yang diceritakan di buku ini menggambarkan cinta sejati yang membuat sudut mata saya tergenang air mata.

Secara umum, Terimakasih A Fuadi telah membawakan sejarah pahlawan nasional ini dengan baik. Alur dan pilihan plot cerita disajikan dengan baik. Terus berkarya ya bang!
Profile Image for Rania Yasmine.
10 reviews1 follower
August 28, 2022
Buku yang masi fresh benget di otak, baru kemarin lusa tamatin. Bercerita tentang biografi pahlawan nasional negeri ini, lafran pane. Walau biografi namun buku ini seperti novel fiksi, seru dan menarik untuk dibaca. Jiwa lafran ini langka ditemui saat ini. Ia adakah pemerkasa organisasi HMI namun dengan jadinya pencetus organisasi yang kini sudah besar dan ada di sekeliling negri tidak membuatnya menjadi tokoh dengan jabatan besar pula. Ia tetap dengan kepribadiannya sendiri. Tetap dengan keinginannya sendiri. Yaitu merdeka. Merdeka dari apa yang dibilang orang², merdeka dari apa yang harusnya dilakukan orang², merdeka dari utang jasa kepada orang². Dengan minatnya, ia menjadi guru besar. Menjadi dosen dibeberapa kampus, walau dengan gaji kecil. Namun mereka mau apa? Kalau lafran suka, ya tentu akan dilakukannya tak peduli konsekuensi. Prinsip hidupnya membuat saya membuka dunia lebih luas. Bagaimana kata 'merdeka' lebih dari sebuah sorakan untuk membangkit gelora. Dimana bukan hanya tanah negeri saja yang harus merdeka, melainkan tiap insan juga harus merdeka. Merdeka dari apa yang tak disuka. Sejatinya, Lafran Pane berjasa. Berjasa pada dirinya sendiri, berjasa pada keluarganya, berjasa pada mahasiswa yang diajarnya, dan pada lingkungan disekitarnya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Fajrin Yusuf.
37 reviews4 followers
March 11, 2020
This real life story of Lafran Pane is an extraordinary story. This story has all the potential to be a classic, like the story of Minke in Bumi Manusia (which was also inspired by a real story of Tirto Adhi Soerjo). Unfortunately, the storytelling in this book is somewhat disappointing for me.

Started with an adventure of an eccentric child, Lafran, seeking his freedom, the story then escalated to a nation seeking freedom. But as more exciting historical events unveiled, the story was instead trapped in a stereotypical history book dullness. Which is very unfortunate, because the events unveiled is massive historical events for Indonesia, but without a decent storytelling, it's just become a typical history book explanation of those events. As Lafran should've had more depth in his eccentric character, he becomes a dull character.

In storytelling strength, the author is still behind many other Indonesian novelist, such as Puthut EA, Eka Kurniawan, or Yusi Avianto P. But nevertheless, this is a good read.
Profile Image for Nyut.
123 reviews1 follower
September 5, 2023
Semi biografi Bapak Lafran Pane.

Gak seperti kedua abangnya, Sanusi Pane dan Armijn Pane yang lebih dikenal sebagai sastrawan, beliau lebih dikenal sebagai pendiri HMI dan Guru Besar Ilmu Tata Negara di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Meskipun buku ini gak tebel-tebel amat, tapi kisah hidup Bapak Lafran Pane dari lahir hingga meninggal dunia diceritakan dengan cukup lengkap, runtut, dan jelas. Aku cukup menikmati membaca kisah hidup beliau yang dimulai dari anak kampung yang kurang kasih sayang dan perhatian kedua orangtua, tumbuh menjadi remaja pemberontak yang mencari kebebasan, menemukan tujuan hidup yang sebenarnya ketika menjelang masa dewasanya, hingga menjadi sosok yang rendah hati dan selalu merasa cukup di masa tuanya.

Meskipun kontennya agak berat dan bagiku lumayan membosankan di pertengahan akhir, tapi banyak hal yang bisa aku pelajari dari beliau, dari apa yang ditulis di buku ini. Terutama pemikiran beliau yang selalu merasa cukup, asalkan kita sudah memiliki segala sesuatu yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan, maka tidak perlu lagi merasa kurang.
Profile Image for lilgirl 💕.
137 reviews9 followers
August 8, 2019
Buku kedua A. Fuadi yang saya baca dan bahkan Lafran Pane pun belum mampu menggantikan posisi Hepi di hati saya. Bab-bab awal jujur agak sedikit membosankan dan terkesan terlalu di fast forward sehingga terlihat begitu terburu-buru, membuat saya agak lama mempause untuk membaca buku ini. Namun ketika sudah memasuki fase pembentukan HMI, saya malah sengaja melama-lamakan agar bukunya jangan cepat habis. Saya terasa tertampar dengan kata-kata yang mengalir dalam buku ini. Ketika Islam dipadukan dengan intelektual seorang pemikir bernama Lafran dan diceritakan kembali oleh sang penulis terasa begitu mengena pada diri saya sebagai seorang mahasiswa yang bahkan belum pernah melakukan apa-apa. Buku ini membuat saya tertawa lepas dan bisa dengan mudah mengeluarkan air mata. Hemat kata, ini adalah sebuah karya yang begitu menyenangkan untuk dinikmati.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
244 reviews39 followers
August 9, 2019
Sudah kuduga, terlalu normatif. Memanglah ini novel biografi Lafran Pane, pendiri organisasi kemahasiswaan Islam, tetapi narasi doa-doa beliau yang diulang-ulang membuat saya seakan-akan menonton sinetron Hidayah. Cukuplah keislaman beliau digambarkan dengan kerendahan hati dan prinsip-prinsip ajaran agama yang dipegangnya teguh.

Novel ini diceritakan dengan sudut pandang orang pertama, tetapi ada beberapa peristiwa penting negeri ini diceritakan dengan terburu-buru sehingga seperti membaca buku teks sejarah tanpa sentuhan personal.

Saya baru menikmati cerita ketika Lafran menjadi mahasiswa. Cerita masa remaja Lafran menurut saya, enggak banget. Terlalu dilebih-lebihkan.
Profile Image for Alif Indiralarasati.
18 reviews
July 7, 2021
Sederhana, penuh makna, dan mengena. Ahmad Fuadi berhasil menyihir dan memikat pembacanya untuk menyelami kehidupan akademisi dan pejuang berintegritas pada masanya, Lafran Pane, yang namanya diambil dari peraih Nobel bidang Kedokteran, Laveran. Penuh lika-liku, namun menyiratkan bahwa perjuangan mencapai visi hidup itu diawali dari kecil dan berakhir tanpa mengenal walaupun jasad telah dikebumikan. Walaupun buku ini terdapat kekurangan seperti kesalahan penulisaan dan ejaan, namun tidak mengurangi esensi kisah agung yang berusaha diceritakan. Sehingga, bintang 5 rasanya sangat tepat untuk diberikan kepada buku yang cukup underrated ini di kalangan pembaca tanah air
Profile Image for Asdar Munandar.
169 reviews4 followers
September 15, 2021
Pada sore hari ini, Rabu, 14 Rabiul Awal 1366 bertepatan dengan 5 Februari 1947, di ruang kuliah STI Jalan Senopati No. 30 Yogyakarta, HMI telah mengabarkan kelahirannya. Tanpa pakai spanduk, tanpa undangan, tanpa pengumuman. Hanya pakai Bismillah. (hal. 189)

Perkenalanku pertama dengan organisasi ini, di pelataran masjid kampus di masa-masa saya masih mahasiswa baru dulu. Seorang senior datang mengajakku bercakap-cakap. Awalnya masih terkesan biasa, namun belakangan pertanyaannya semakin aneh. Pertanyaan-pertanyaan diluar nalar anak baru yang masih polos dan imut seperti saya. Bayangkan tiba-tiba seseorang menanyakan kepadamu “apakah kau percaya Tuhan ?. apakah kau bisa membuktikan kalo Tuhan itu benar-benar ada. Atau bisakah tuhan menciptakan sesuatu yang lebih besar dan lebih kuasa dari dia”.

Beruntung adzan duhur menghentikan berondongan pertanyaan yang menurutku omongkosong belaka itu. Selepas sholat, diam-diam saya meninggalkan masjid melalui pintu yang berbeda, bagaimana mungkin saya bisa percaya seseorang bisa menjelasskan tentang ketuhanan saat Tuhannya sendiri memanggilnya untuk bersujud, dia masih tidak bergeming, masih tetap asik cekakak cekikian dengan teman perempuannya di pelataran masjid.

Pengalaman tidak menyenangkan itu meninggalkan stigma tersendiri bagiku pada organisasi ini. Itulah kenapa saya sama sekali tidak pernah tertarik untuk bergabung atau bersinggungan dengan apapun tentang organisasi ini. Begitu selesai membaca buku ini, rasa-rasanya saya ingin kembali ke masa lalu, membawa buku ini dan menimpukkannya di wajah senior saya dulu itu. Berteriak di wajahnya dan memintanya memahami prinsip dasar yang menjadi landasan kokoh organisasi ini dibentuk.

Menurutku A. Fuadi sukses menceritakan secara menarik kisah hidup Lafra Pane dari masa kecil hingga detik-detik terakhir kehidupannya yang luar biasa. Esensi dari buku ini ada dasarnya bukan tentang lafran, tapi tentang HMI, organisasi yang dilahirkan dari kegelisahannya untuk memberiksan kontribusi bagi negeri ini.

Novel ini bukan hanya sekedar hikayat seorang tokoh di masa lalu. Buku autobiografi ini adalah sebuah kisah yang layak dijadikan cerminan untuk generasi saat ini. Bagaimana seorang Lafran Pane, pahlawan nasional itu yang mungkin kurang dikenal menunjukkan kematangan hati dalam memegang prinsif kemerdekaan, nasionalisme, dan juga Islam. Baladatun Tayyiban wa Robbun Ghafur. Begitu selalu cita-cita dan bayangannya tentang masa depan Indonesia. Negeri yang baik dan diridhoi Tuhannya

Saya benar-benar jatuh suka dengan prinsip kemerdekaan yang dianut Prof Lafran, merdeka sejak hati sebagaimana judul buku ini. Kemerdekaan berarti ketidakterikatan pada perkara-perkara dunia yang nisbi. Kemerdekaan dari belenggu penjajahan fisik maupun psikis. Kemerdekaan dari utang budi apalagi utang materi.

Ahmad Fuadi selalu sukses menghasilkan karya-karya yang luar biasa. Dari tangan dinginnya beliau telah melahirkan banyak karya-karya best seller. Buku ini menurutku buku autobiograpi terbaik untuk pahlawan Indonesia yang pernah saya baca selama ini. Gaya bertutur yang runut, pemilihan diksi dan bagaimana beliau mengatur alur kisah hidup seseorang yang membentang panjang dengan segala pergolakannya diberikan porsi yang pas. Tidak lebih dan tidak kurang. Tidak ada bagian dari kisah di buku ini yang terkesan terburu-buru. Semuanya diatur sesuai porsi yang tepat, sehingga kita tak sempat dibuat jenuh membacanya. 4 bintang untuk buku ini.
Profile Image for Alfa the Bookish.
47 reviews
June 8, 2024
Title: Merdeka Sejak Hati
Author: A. Fuadi
Format: 365 pages, paperback
Published: May, 2019 by Gramedia Pustaka Utama
Edition: Cetakan ke-2, August 2019
ISBN: 9786020622965
Genre: Autobiography, Historical Fiction

“Bagiku, kedudukan itu untuk diamanahkan kepada yang lebih mampu, bukan untuk diperebutkan bagai piala. Agar ada kemajuan, ada progress, agar harkat martabat bangsa ini naik, agar hilang kolusi dan korupsi. Kekuasaan bukan alat untuk memperkaya diri sendiri, tapi untuk memperkaya bangsa. Inilah yang menurutku kebiasaan yang benar. Bukan membenarkan yang biasa.” (hal. 2-3)


Jujur, awalnya saya tidak tahu siapakah Lafran Pane ini, tokoh yang menjadi cerita pada buku ini. Salah satu alasan membeli buku ini adalah karena faktor penulisnya yaitu A. Fuadi. Dimana Trilogi Negeri 5 Menara nya sudah khatam saya baca beberapa tahun yang lalu. Itu pun saya terlambat mempunyai buku ini, yaitu baru di 2024. Padahal buku ini terbit di tahun 2019.

Baru saja membaca halaman ke-2, saya pun langsung terhenyak dengan kutipan di atas. Sontak saja pikiran ini membayangkan, bakal menarik nih bukunya.

Ditinggal ibunya saat berumur dua tahun, juga ditinggal terus ayahnya yang mengajar di negeri Rantau, masa kecil Lafran Pane lebih banyak dengan nenek dan kakak tercinta. Hidup dalam kesederhanaan. Lafran kecil yang sudah terbiasa hidup mandiri, sudah mempunyai keinginan merdeka minimal untuk dirinya sendiri. Seperti tidak mau jadi beban keluarga. Sering bolos sekolah, demi merasakan kehidupan bebas dan merdeka di jalanan, membuat perjalanan akademis Lafran kecil tidaklah semulus yang dikira, sering berpindah-pindah sekolah karena drop out.

Kecintaan akan tanah air akhirnya timbul setelah beliau mulai menginjak bangku kuliah, mengikuti jejak ayah dan kakak-kakaknya yaitu Sanusi Pane & Armijn Pane. Dimana Lafran menjadi salah satu pelopor pendiri persyerikatan mahasiswa muslim yaitu HMI (Himpunan Mahasiswa Islam).

Kehidupan sederhananya dia terapkan juga pada anak-anaknya. Seorang ayah yang layak dijadikan teladan. Dari seorang anak jalanan di emperan toko di Medan, mencari duit dengan jadi petinju di pasar malam, sampai cross boy motor di Senen, menjadi kepala keluarga yang teladan dan seorang Guru Besar. Profesor.

“Aku tanamkan juga jiwa kemandirian dan tidak membiasakan diri untuk mendapat fasilitas dan memberi dari orang lain. Merdekakan diri dari ikatan dan kait ketergantungan dengan siapa pun. Sehingga kita Merdeka sebenar-benar Merdeka. Merdeka hati, Merdeka jiwa, Merdeka badan”. (hal. 303)


Sebuah buku Biografi dan Fiksi Sejarah yang wajib dibaca oleh anak muda Indonesia.
Terima kasih uda A. Fuadi, karyanya bagus sekali.

Rating: 4.25/5
Profile Image for Aardbewoners.
49 reviews
December 14, 2022
The synopsis that I read in the back of this book made me think about tips for not being shackled by colonialism about myself, my mind, the environment, and being independent from the heart. But my expectations missed, this book actually tells the biography of an orphan born in Padang Sidempuan, Lafran Pane.

It is told that Lafran Pane was born as an orphan and lacked the love of a mother so that his dark childhood led him to the principle of being independent from anything, to liberate himself without being regulated by the interference and influence of other people. This book describes all of his actions from his dark past to his migration and wanting to liberate this nation.

This led him to establish a Muslim student movement which aims to elevate Indonesia's dignity and develop Islamic religious teachings called the Indonesian Student Association (which still exists today) until the end of his life he was crowned a national hero.

The book, which consists of 360 pages, initially captivated the heart, still hoping that it would be explained by tips for releasing the shackles of colonialism within yourself. However, starting from the beginning of this book, it is too focused on one point which fully tells the history of the struggle of the Indonesian people and the role of Lafran Pane in fighting for independence, the challenges to the founding of HMI which are considered divisive and their political conditions. This historical explanation seems a bit monotonous and repetitive. I thought about stopping reading, but finally I managed to swallow the contents of the book.

Even though it was a bit boring for me, who had high expectations from the start, we have to be observant of the moral message implied that Lafran Pane wants to instill the values of honesty, idealism, simplicity, and respect for parents. With the weapon of simplicity and honesty, He teaches us to be free human beings. Freedom from material and worldly ties.

Freedom from the heart, Islam from the conscience.

Overall, I don't feel sorry for devouring this book, at least reviewing the struggles of the Indonesian people when they were colonized by the Japanese and the Dutch until independence and gained new insight from Mr. Lafran Pane's thoughts.
3 reviews1 follower
August 4, 2021
Sebuah novel biografi tentang tokoh Kebangsaan Indonesia iaitu Lafran Pane. Beliau merupakan adik bungsu kepada sasterawan/wartawan Sanusi Pane dan Armijn Pane. Lahir di era kolonialisma Belanda, tanpa mendapat kasih sayang seorang ibu, yang meninggal saat dia masih kecil membuat jiwanya selalu memberontak inginkan perhatian. Seorang anak kecil yang nakal tapi pintar. Selalu memboloskan dari sekolah dan bergaul dengan anak jalanan dan golongan rendahan. Dari kecil telah menunjukkan sikap suka menolang golongan teraniaya. Susah dikawal dia dipindahkan dari Medan ke Jakarta untuk tinggal bersama abangnya Sanusi dan Armijn Pane. Tabiatnya tidak dapat diubah. Pernah ditangkap polis kerana merempit. Zaman pendudukan Jepun dia dipanggil balik ke Medan oleh ayahnya. Hampir dihukum pancung oleh Jepun kerana tuduhan memberontak akibat sikapnya yang suka menolong golongan miskin dan teraniaya. Camportangan bapanya yang amat disegani oleh Jepun telah membebaskannya dengan syarat dia harus meninggalkan Medan. Sikapnya mula berubah apabila dia balik ke Jakarta dan kuliah di Sekolah tinggi Islam. Mula timbul kesedaran tentang pentingnya ilmu dan pengetahuan Islam. Dia adalah tokoh yang telah menubuhkan Himpunan Mahasiswa Islam sebuah gerakkan yang aktif hingga kini. Kalau orang berjuang dengan senjata untuk kemerdekaan maka Lafran Pane berjuang dengan pena dan lidahnya. Dia mengotakan apa yang dikatakan bukan cakap kosong. Tidak mengambil jika bukan haknya. Anak-anaknya dilarang mengambil biasiswa kerana katanya ada yang lebih memerlukan walaupun anaknya layak. Walaupun berpangkat sebagai pensyarah Universiti, hidupnya simple. Dia hanya berbasikal untuk kemana-mana tidak punya motosikal apalagi mobil. Tidak mau menerima hadiah dari sesiapapun kerana takut termakan budi atau subahah. Dia dimusuhi PKI kerana gerakan Islamnya dan dia juga tidak berpihak pada mana-mana partai politik. Slogannya, Merdeka sejak hati, Islam sejak nurani.
Profile Image for Truly.
2,764 reviews12 followers
October 5, 2019
"Bagiku, kedudukan itu untuk diamanahkan kepada yang lebih mampu, bukan untuk diprerbutkan bagai piala. Agar ada kemajuan, ada progres, agar harkat martabat bangsa ini naik, agar hilang kolusi, dan korupsi. Kekuatan bukan alat untuk memperkaya diri sendiri, tapi untuk memperkaya bangsa."

Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk berjodoh dengan buku. Demikian juga dengan cara menikmati sebuah buku. Mungkin ada kesamaan antara satu penggila buku dengan yang lainnya, mungkin juga berbeda. Tak ada yang salah, atau yang lebih asyik. Semuanya kembali pada diri Anda

Kebiasaaan saya (jelek kalau menurut teman-teman yang lain), jarang membaca blurd sebuah buku jika ditulis oleh penulis yang menurut saya sudah memiliki jaminan mutu karyanya. Misalnya, Mas Yudhi Herwibowo. Apapun buku yang ditulis Mas Yud, saya pasti antusias membacanya. bahkan jika buku termasuk dalam genre sejarah (jangan salah duga, saya hanya bukan penyuka kisah sejarah saja).

Demikian juga dengan karya A. Fuadi. Sejak ketiban membaca naskah awal Negeri Lima Menara, saya sudah jatuh hati dengan karyanya. Terserah yang bersangkutan mau menulis dalam genre apa, selama ini novel yang tercatat sebagai karya seorang Fuadi, saya akan bersemangat membacanya.

Maka sangat wajar saya begitu bersemangat menuntaskan buku ini. Langsung dibaca, tanpa membaca tulisan yang ada di kover belakang. Sudah sekian lembar yang saya baca, belum ada gambaran mengenai tokoh kita ini. Hanya saya ingat, Fuadi pernah membagikan informasikan akan membuat sebuah buku yang bisa dianggap sebagai biografi seorang pahlawan nasional.

---
---
---
https://trulyrudiono.blogspot.com/201...
Profile Image for Ayu Istiyani.
94 reviews6 followers
December 1, 2025
Buku pertama A. Fuadi yang saya baca. Tentang biografi seorang Lafran Pane, seorang pahlawan nasional, yang mungkin kurang begitu dikenal, karena memang begitulah keinginan beliau.

Lafran Pane yang dari kecil diasuh oleh neneknya, karena ibunya meninggal tidak lama setelah melahirkan. Ayahnya, yang saat itu telah menikah lagi dan tinggal bersama istri keduanya. Lafran seorang anak bungsu, yang pada saat itu tidak sempat merasakan pengasuhan dari seorang ibu. Sebab bagaimanapun juga, kasih seorang Nenek tidak bisa sepenuhnya menggantikan ibu. Mungkin karena hal itulah, Lafran tumbuh menjadi laki-laki yang tidak seperti kakak-kakaknya. Berpindah-pindah sekolah, menjadi petinju, ikut geng motor.

Segala perjalanan hidup Lafran Pane sejak masa kecil, remaja, tumbuh dewasa, menikah, memiliki anak cucu hingga akhirnya nanti beliau meninggal. Sekolah yang kerap berpindah, akhirnya mau menuntut ilmu di Taman Siswa, kuliah, mendirikan HMI, pindah kuliah, hingga ia memilih untuk mengajar. Latar waktu terlalu panjang, karena dari masa pra kemerdekaan, merdeka, agresi militer, hingga masa PKI, bahkan sampai setelahnya. Jujur saja itu cukup membuat saya agak bosan. Namun, karena ini benar-benar dari Lafran Pane lahir hingga meninggal, wajar saja kalau waktunya akan cukup panjang.

Overall ini bagus, semangat Lafran yang sangat bisa ditiru juga cukup menginspirasi. Sifatnya yang sederhana, yang selalu ingin merdeka, yang sangat berhati-hati membedakan keinginan serta kebutuhan, yang lebih sering tidak ingin terlihat.
1 review
January 2, 2022
Buku yang menarik dimana menceritakan perjalanan hidup seorang pahlawan nasional, Lafran Pane. Dari seorang anak kecil yang tumbuh dan berkembang tanpa adanya kasih sayang sosok 'ibu' juga kurang perhatian sosok ayah karena kesibukannya akan hal pekerjaan. Hingga akhirnya lafran pane kecil ini menjadi seorang yang bebas ingin mencari kemerdekaan, dengan sekolah yang sering tidak lanjut kemudian hidup di jalanan. Akan tetapi seiring tumbuh dewasa, lafran pane menemukan makna merdeka yang sesungguhnya. Ia belajar, berdiskusi dengan banyak orang untuk memperjuangkan kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan hingga mengisi kemerdekaan Indonesia.
Tanpa disangka, hidupnya sangat berubah dari yang sebelumnya hidup di jalanan kemudian memprakarsai sebuah organisasi mahasiswa bernama Himpunan Mahasiswa Islam. Perjuangan organisasi tersebut adalah untuk keindonesiaan dan keislaman. Lafran pane merupakan sebuah contoh kesederhanaan, dimana hidup untuk merdeka. Merdeka dari apapun, termasuk merdeka dari utang budi. Ia tidak gila jabatan bahkan dengan senang hati memberikan jabatan kepada orang yang nilai mampu dan mau untuk mengisinya. Hingga akhir hidupnya ia berhasil menjadi manusia merdeka sejak hati, islam sejak nurani.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Retno.
58 reviews2 followers
June 10, 2019
Novel biografi Lafran Pane yang merupakan adik bungsu dari Sanusi dan Armijn Pane.
Terlahir piatu dan jauh dari pengasuhan ayah membuat lafran kecil haus kasih sayang dan perhatian keluarga. Bimbingan nenek dan ayahnya dari jauh tak membuat Lafran kecil menjadi anak penurut dan baik, malah terbilang nakal. Disaat anak seumurannya seharusnya sekolah dan mengaji (seperti keinginan ayah dan neneknya) ia malah berjualan es dan menggelandang dari satu emperan toko ke toko serta mencari pekerjaan di jalanan hingga menjadi petinju di arena pasar malam dan menjadi cross boy (bergabung dengan kelompok geng motor) karena prinsip ia harus merdeka dari pengaruh siapapun. Siapa yang sangka titik hijrahnya dimulai karena menepati janji kepada guru madrasahnya ketika dia dijebloskan ke penjara. Sejak saat itu, dimulailah perjalanan hijrahnya hingga tercetuslah ide mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang terus eksis hingga saat ini. Kesederhanaan dan idealisme nya hingga akhir hayat sungguh menggugah. Ia adalah pribadi yang merdeka sejak hati.
Profile Image for audy.
29 reviews3 followers
March 24, 2023
temen aku selalu semangat ngebahas lafran pane yg bikin aku jadi penasaran sama buku ini dan setelah aku baca ternyata emang seru banget. alurnya tertata rapi dan jelas disetiap halaman, ceritanya juga ga terburu-buru dan buku ini berhasil bikin aku penasaran sama halaman selanjutnya. aku suka sama kesederhanaan lafran pane sama juga aku nemu kalimat ini "biarlah kita sederhana, tapi kita jujur" itu kalimat yg selalu aku ingat sampe sekarang dan masih banyak lagi pemahaman yang aku dapet dari buku ini.
Profile Image for Morning Dew.
32 reviews
March 12, 2021
Di awal2 bagus cerita nya, penulisan dan gaya bahasa nya bikin pembaca ga bosen. Tetapi dipertengahan buku saat Pak Lafran mulai tinggal di Batavia, menurut ku agak membosankan gaya bahasa nya karena jarang dialog. Tapi ya nama nya juga ini semi biografi jadi wajar jika tidak terlalu banyak dialog.

Paling suka di 5 bab terakhir, cerita kehidupan pak lafran benar2 menginspirasi khususnya kepada diri saya. Overall, must read sih buku ini.
Profile Image for Emjimj.
51 reviews
August 13, 2019
Kisah hidup Lafran Pane diceritakan apik dalam buku ini. Mulai dari kecil, remaja, menikah, menjadi ayah dan sampai beliau wafat. Banyak pelajaran hidup yang bisa diambil dari kisahnya. Bagaimana seharusnya menerima takdir, empati, pantang menyerah, semangat dan bagaimana dalam memandang harta. Selain itu kita dapat belajarah sejarah kemerdekaan dari buku
Profile Image for Rd. Sya'rani.
61 reviews3 followers
February 12, 2021
sulit mencari kisah seseorang yang mempunyai idealisme tinggi dan sekaligus mempunya pengalaman hidup yang luarbiasa.

buku ini merupakan bentuk biografi yang bagus, diceritakan dalam bentuk novel, dengan gaya bahasa yang rapi.

yang tidak saya duga adalah bonus berupa sejarah pendirian HMI dan cerita tentang kampus-kampus di Jogja di masa lampau.
15 reviews1 follower
January 21, 2021
bahasa penulisan sangat halus. mungkin juga karena saya baca buku ini persis setelah menyelesaikan cantik itu luka-nya eka kurniawan. tetapi sarat akan nilai yang dipatri oleh lafran pane selaku ayah, pemimpin diri sendiri, sampai organisasi yang merangkak bertumbuh waktu itu.
Profile Image for Hikmah Meilani.
12 reviews2 followers
March 7, 2021
Kisah seorang dengan idealisme yang tinggi namun penuh kebersahajaan. Meskipun dibeberapa bagian terasa terburu-buru dan terasa kurang menyentuh, namun buku ini patut dibaca untuk merasakan pergerakan islam, semangat mahasiswa dan sederhananya hidup secara bersamaan.
Profile Image for M_agunngh.
299 reviews4 followers
November 17, 2019
Cerita semasa mash di kampung dan di Medan (pra STI) lbih bikin seru dan bisa dinikmati. Novel syarat sejarah
Profile Image for Ismie.
2 reviews
February 4, 2020
Sebuah buku biografi yang dikemas dengan baik oleh Bang Fuadi.
Displaying 1 - 30 of 41 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.