“Dunia boleh menghiburku, dunia boleh memujaku, tetapi aku yang tahu, apa yang kurasakan dari sejak perkawinan hingga saat ini. Dan aku tidak sepakat dengan ketidakadilan yang dibebankan kepadaku. Hukum yang kalian bentuk meminta perempuan sebagai istri untuk setia, untuk taat atas segala apa pun yang kalian nyatakan sebagai kebenaran. Bahkan atas nama dharma, atas nama kebenaran. Jujurlah kepadaku, tanpa perempuan, kehidupan di muka bumi akan habis. Tetapi kalian takut untuk mengakuinya, dan membiarkan kekuatan tulang dan senjata menentukan masa depan hidup ini.”
Sita
***
Ini kisah tentang Sita, perempuan yang lahir dari bumi, yang dinikahi Rama sebagai hadiah sayembara, yang dienggani Agni karena kesetiaannya, dan yang dicintai sepanjang masa oleh Rawana
Cok Sawitri adalah penulis perempuan bernama lengkap Cokorda Sawitri, kelahiran Karangasem, Bali, dan kini tinggal di Denpasar, Bali.
Selain sebagai aktivis teater, Cok juga menulis beberapa artikel, puisi, cerita pendek dan juga aktif dalam aktifitas budaya sosial sebagai pendiri Forum Perempuan Mitra Kasih Bali di tahun 1997 dan Kelompok Tulis Ngayah di tahun 1989.
Cok tercatat sebagai salah satu dari penasehat The Parahyang untuk majelis Desa Pekraman atau desa adat di Sidemen, Karangasem, Bali. Ia juga aktif dalam organisasi yang bergerak dalam bidang perempuan dan kemanusiaan sampai grup-grup teater di Bali.
(Sita) "Apakah kini engkau masih mencintaiku?" (Rawana) "Apakah cinta mengenal kata masih? Ia tak pernah bersifat sementara dan juga tidak seperti musim. Hanya yang tertipu birahi yang mengira cinta dapat datang dan pergi dari hatinya, lalu seolah setia disebabkan ikatan yang ditindas oleh norma dan etika." (page 279-280)
Sudah lama saya tidak terlalu mengidolakan Rama dalam epos Ramayana. Sebagaimana saya tidak terlalu menyukai Arjuna, justru lebih suka sosok Karna dalam epos Mahabharata. Mengapa? Banyak hal. Rama adalah tipe lelaki manja yang memiliki previlege tapi tak bisa mempertahankan apa yang diyakini, dan justru sekadar mengimani orang sekitar demi kejayaan Ayodya. Sebaliknya, Rawana memang tampak betul bengal. Tapi soal urusan Sita,dia tidak main-main.
Mungkin kisah Rama-Sita-Rawana bisa kita baca dalam beragam versi. Seno Gumira Ajidarma pernah menulis Kitab Omong Kosong, yang kurang lebih mengisahkan Sita pasca menceburkan api, diasingkan bersama Rsi Wilmiki, dan lahir Kusa Lawa. Tapi Cok Sawitri menafsirkan kembali dengan gaya bahasa dia sendiri. Tapi mungkin karena suara perempuan dan ditulis oleh perempuan, jadi kerasa betul betapa bencinya Sita kepada Rama yang nggak tegas itu.
Dan puncak paling aku suka adalah ketika Sita sewot besar kepada Rama dan Ayodya, "Kalau mereka tidak mau menerima Kusa Lawa, tak apa. Mereka adalah anak Sita. Bukan anak Rama!"
Ini jegggeerrrr! Banget! Ah, dimana-mana perempuan selalu dijadikan kambing hitam. Coba tafsirkanlah! Mengapa Sita yang dijadikan "sebab" perang, sebab banyak kematian, sebab perseteruan Rama-Rawana? Dan juga sebab para lelaki mempertahankan ego dan harga diri. Suka. Suka. Covernya sumpah cantik banget.
Ah setelah baca ini saya jadi semakin 'gemes' aja ama tokoh Rama, kayak... Tuhkan! Memang betul kata Rawana, Rama adalah pengecut yang takkan pernah pantas untuk sosok seorang Sita. Cok Sawitri berhasil melahirkan sosok Sita sebagai wanita yang berhak berdiri dengan pilihannya sendiri... cara penulisannya membuat saya turut ikut meresapi petualangan akan duka hidup yang dialami Sita, yang pada akhirnya ia malah terkenang dan merindu akan sosok Rawana, yang selalu dikenal jahat namun sesungguhnya merupakan pejuang cinta.
Sita harus menghadapi kenyataan bahwa ternyata Rama, bukanlah sosok yang seperti ia duga dari dulu. Rama berjuang tidak seperti Rawana, ia berjuang untuk harga dirinya saja sebagai laki-laki dan sebagai seorang raja yang harus terpandang di Ayodya, intinya itu. Sedih banget tau jadi Sita, udah jadi 'hadiah sayembara'... diculik... digunjing-gunjingkan sebagai penyebab perang... diragukan kesuciannya sama dewan kerajaan dan suaminya sendiri, sampai harus berakhir layaknya 'tawanan' kerajaan yang diasingkan ke hutan.
Banyak sekali kutipan-kutipan penuh makna yang sangat bagus di dalam buku ini dan terima kasih Cok Sawitri karena telah berhasil membangun dan menerjemahkan sisi lain seorang Sita, yang sungguh sangat menyentuh. Ya, ini bukan kisah Ramayana, ini tentang Sita.
Epos Ramayana pada umumnya telah dikenal oleh semua oran. Kisah cinta, keberanian dan kesetiaan antara Rama dari Ayodya dan istrinya Sita yang diculik raksasa semena-mena berkepala 10 dari Alengka, Rawana. Rama dibantu adiknya Laksmana dan si kera putih Hanuman memporakporandakan negeri Alengka, membunuh Rawana dan menyelamatkan Sita. And they all lived happily ever after. BS!
Novel Sitayana ini memberikan pencerahan baru ttg hal tersebut. Diawali dari asal-usul Rawana, Ramayudha, atau perang Rama yang hanya diceritakan singkat di sepertiga awal novel ini, dan dilanjutkan dengan perjalanan hidup Sita SETELAH peperangan itu dimenangkan Rama. Kisah Rama-Sinta versi ini bukanlah baru pertama kali kudengar, bahkan ini versi pertama dari dongeng wayang yg dulu sempat diceritakan bapak. Ya, ttg dewa Agni yang tidak membakar dan dewi bumi yg membuka. Aku tahu itu. Nah tapi aku tak tahu tentang masa di antaranya dan pergolakan isi hati Sita. Dan di sini aku merasa Rama ini keragu-raguannya njelehi banget. Syebel akutu. Untuk tahu selengkapnya, aku rekomendasikan buku ini sepenuh hati. Sangat pantas untuk dibaca dan untaian kata-katanya enak sekali dinikmati.
Nah jadi drpd ngomongin Rama, mari kita ngobrol tentang 2 pria lainnya di novel ini, Laksmana dan Rawana. Laksmana adalah adik Rama yang sejak awal menjadi saksi hidup kejadian-kejadian antara Rama dan Sita, pengasingan Rama dari Ayodya, sayembara perkawinan mereka, penculikan sang istri, penyelamatannya hingga pertapaannya. Di sini Laksmana sering menyuarakan suara hati pembaca yang gemas melihat tindakan Rama dan tingkah polah Dewan Istana. Sayang novel ini tidak mengulik kehidupan pribadi Laksmana lebih jauh, padahal ada satu dua hal yang ingin kutahu. *uhuk*
Sedangkan untuk Rawana, yaaa... dari deskripsinya saja sudah jauh berbeda dari versi umum. Ia digambarkan sangat tamvan, dengan kemampuan membekukan karma dan waktu, mengalahkan Indra dan disayangi Siwa. Ia telah mengenal, bahkan menunggu Sita, sejak berpuluh generasi, karena cintanya pada titisan Sita sebelumnya, seorang petapa bernama Wedowati. Inilah alasan mengapa ia menculik Sita. Bukan karena birahi, tapi karena cinta sepanjang zaman. Hanya saja jentera karma membuat semuanya menjadi tidak sederhana. Dan sepanjang kisah, ketidakbecusan Rama membahagiakannya membuat Sita (dan aku) mempertanyakan apakah Sita tidak telah membuat keputusan yang salah.
Endingnya... yah, lebih baik nikmati saja kisah ini sendiri. Pokoknya memuaskan.
Sejak mengikuti kisah ramayana, aku udah agak kurang sreg dengan tokoh Rama. Kurang gentle gitu, dia mengalahkan Rawana dengan pasukan dari negara lain. Itu pula dengan bantuan informasi dari Wibisana yang notabene adiknya Rawana langsung.
Apalagi setelah baca ini. Hih! Emang Sita upil apa, yang susah-susah dicari akhirnya untuk dibuang lagi. Pengen tak jites si Rama ini. Hih! 😖
Tapi aku suka banget dengan novel ini. Memberikan sudut pandang baru. Bukan dari Rama yang diagung-agungkan berjiwa ksatria (katanya 😅), melainkan dari sudut pandang Sita — seorang perempuan yang dicintai ayahnya, yang menikah karena sayembara, yang diculik Rawana, dan yang harus diasingkan karena sebab yang bukan salahnya.
Serius, novel ini terasa pilu. Tapi indah. Apalagi ketika menceritakan besarnya cinta Rawana kepada Sita. Love sekebon pokoknya sama Rawana. 🥰
Belum pernah baca kisah ramayana dengan serius, sekali dapet buku eh Sinta nya tipe cewe kekinian🙂 wanita yang gamau nasib dan takdirnya ditentuin oleh lawan jenis. She should find her true self and all. She defines it for her.
Harus aku beritahu dulu, aku ga ada background sastra. Kisah Ramayana yang kutahu juga hanya berdasarkan nonton pertunjukan tari kecak dan pendet di Bali. Jadi ini adalah opini dari orang yang awam.
Jujur, aku ga bisa lanjut lebih dari 50 halaman. Padahal aku tertarik dengan blurb-nya yang menyiratkan pesan-pesan feminisme. Aku tertarik banget dengan bagaimana Sinta bila digambarkan sebagai tokoh perempuan yang independen dan kuat. Sayangnya, 50 halaman pertama sulit kulalui 😅😅
Alasannya adalah:
1. Gaya bahasa. Penulisannya tidak seperti tulisan novel pada umumnya. Menurutku, membaca Sitayana seperti membaca hikayat zaman dahulu. Benar-benar kaku dan begitu banyak kiasan bertebaran. Aku suka kiasan, tapi ini hampir di setiap saat ada.
2. Sampai 50 halaman pertama aku masih bingung dengan plotnya 😶😶. Mungkin karena tidak familier dengan latar belakang legenda Ramayana jadi aku sedikit lost di beberapa bab awal. Dan aku merasa penulis seperti berusaha memadatkan alur yang begitu panjang dan kompleks menjadi satu buku. Sehingga penggambaran tokoh serta kejadian cepat sekali.
3. Aku bosan membacanya. Menanti-nanti kapan Sinta muncul tapi tidak kunjung juga.
Sekalipun demikian, aku suka pesan yang mau disampaikan penulis. Soal derajat perempuan yang tidak hanya menjadi istri saja. Sayangnya, aku tidak cocok dengan gaya penulisannya. Maka, aku ga bisa kasih rating tinggi.
Sitayana merupakan novel karya Cok Sawitri yang bercerita tentang sisi lain dari epos pewayangan yang fenomenal tentang penculikan Sita oleh Rawana dari sang raja Ayodya, Rama.
Sisi lain yang dimaksud adalah cerita yang ada dalam buku ini seperti anomali dari kisah yang mungkin sudah kita ketahui sebelumnya. Hal-hal yang menurut saya menjadikan kisah ini menarik (karena ke-anomali-an) itu yaitu: 1. Penggambaran Rawana yang menjadi penuh welas asih, bermata jenaka dan rupawan menjadi suatu anomali yang paling menonjol. Singkat kata, pembaca akan menjumpai sosok Rawana yang loveable. 2. Sosok Sita yang memiliki keteguhan hati sekaligus rasa penasaran yang begitu tinggi. Ia gemar mempertanyakan tentang karma dirinya. Apa sebab dibalik semua perkara yang terjadi dan melibatkan dirinya.
3. Karakter Rama yang digambarkan begitu kikuk, peragu dan tidak berpendirian.
4. Fokus utama dalam novel ini bukan melulu tentang perebutan kuasa, tapi tentang keagungan cinta,tata krama dan saling menghargai.
Meskipun cerita ini memiliki banyak kesamaan dengan cerita dalam pewayangan. Namun, pengambilan POV dari Rawana dan Sita menjadikan novel ini menarik dan tidak membosankan untuk dibaca. Selain itu, banyak sekali pelajaran hidup yang dapat diambil dari kisah Sitayana.
Sebelumnya sila menghela nafas panjang sejenak untuk menyimak ulasan singkat epos Ramayana yang diagungkan dalam batas hitam-putih yang gamblang dalam novel Sitayana. Mahakarya ini lahir dalam mata telanjang seorang penulis, Cok Sawitri. Karya sastra yang lahir dengan ketajaman intuisi yang mampu menembus batas pemikiran pembaca. Menampilkan segala bentuk persoalan moralitas relasi antara perempuan dan laki-laki. Sebuah karya sastra yang terlahir dengan jujur, menebar pelajaran hidup, yang bisa dituai lewat perjalanan kisah kasih Rawana, Sita, dan Rama. Atau mungkin kisah tak sampai antara Trijata dan Hanuman. Novel yang cukup menghipnotis, membuat semakin mengagumi Rawana sebagai tokoh yang bengal tapi tak pernah main-main soal rasa. Serta Sita perempuan tabah yang kuat berdiri di kakinya sendiri. Sedikit mengutip dialog Rawana "apakah cinta mengenal kata 'masih'? Ia tak pernah bersifat sementara dan juga tak seperti musim. Hanya yang tertipu birahi yang mengira cinta dapat datang dan pergi dari hatinya, lalu seolah setia disebabkan ikatan yang ditindas oleh norma dan etika". Terima kasih @cok_sawitri tulisanmu sampai! Selesai di halaman 356 di akhir bulan April dengan bahagia
Sebagai orang uang suka nyoret2in hal penting atau hal yang menurutku bagus, buku ini tergolong buku yang akhirnya ‘kotor’ banget. Satu halaman bisa hampir separohnya stabiloan. Menurutku buku ini agak gelap. Entah aku yang baru tau, atau memang penulis buku ini cenderung berusaha mengungkapkan hal2 di balik sesuatu yg udah terlalu lama ‘duduk di atas’. Walaupun kelihatan banget kalau cenderung memihak salah satu pihak, tapi apa yg ingin disampaikan nggak keluar dari batas penyampaian awal, yaitu keadilan dan dharma buat Sinta. Aku pribadi baca ini banyak kagetnya. Banyak “oh gitu?” Dan semacamnya. Banyak hal yg seolah dibongkar, tapi balik lagi sih, barangkali memang aku yang baru tau. Saran banget buat yg mau baca ini kayaknya bakal lebih baik kalo baca juga/cari tau/sudah tau keseluruhan hal terkait setiap tokohnya. Supaya nanti kalau condong ke salah satu tokoh, nggak berat sebelah. But still, buku ini sakit👍🏻 Selamat menikmati buku ini⭐️
Ini termasuk Buku yang kubaca kurang dr 24 jam. Sebagai penggemar sastra dan budaya, ini buku super menarik karena Ramayana yang biasanya diceritakan hingga akhir perang Ayodhya dan Alengka, justru disini konflik mulai bercerita setelahnya. Dan bagaimana sita jauh dari sosok perempuan yang harus patuh pada seluruh hukum; melainkan dirinya bertumbuh menjadi sosok perempuan yang kuat, memiliki prinsipnya sendiri dan bahkan mengubah hukum-hukum sosial yang ada saat itu. Ini bukan hanya cerita cinta rama dan rahwana tapi juga seni politik dan kekuasaan.
3,5ish⭐ Setelah membaca Sitayana, jadi mendapat sudut pandang baru.. epos Ramayana biasanya menjadikan para raksasa sebagai villain, tetapi di Sitayana mereka ternyata sama seperti manusia biasa, bahkan lebih baik.
"Waktu tidak pernah memburu anakku, tetapi pasti saatnya nanti, mereka akan datang menjemputmu. Aku tidak akan mengharapkan penjemputan, tetapi ada yang kupikirkan sebagai cara agar engkau terbebaskan." Hal.187
"...batasan dalam pikiran kita adalah perbudakan dari ketakutan oleh batasan itu sendiri, dan kita membuarkannya menjadi penguasa." Hal.268
Ini gimana Sita malah condong ke Rawana dibanding ke Rama. Sebagai yang sejak kecil terpapar Rama-Sita, aku jadi merasa anu. Namun terlepas dari itu, cerita lama ini dikisahkan dengan cukup menarik. Banyak kalimat bagus, puitis, layak dikutip. Yang dibahas pun nggak melulu soal cinta segitiga tapi juga soal cara menjadi pemimpin yang baik. Seratus jempol buat Rawana dan Alengka. Btw, Trijata magirl!!
Buat aku yang cuma tau epos Ramayana hanya sekedar Sita diculik Rawana, terus Rama dibantu Hanuman melawan Rawana untuk mengambil kembali Sita, dengan membaca buku ini jadi menambah sudut pandang baru.
Jatuh cinta banget sama Rawana disini. Rawana yang digambarkan tampan, dan seorang yang mempertahakan dan memperjuangkan cintanya terhadap Sita. Sebaliknya, kesel dan gregetan banget sama Rama yang pengecut dan gak tegas.
Buku baguss, menambah pengetahuan ku tentang epos Ramayana
Saya membaca buku ini karena review sekilas dari dosen saya, dan ternyata buku ini benar benar menarik. Bagaimana kisah yang selama ini kita baca diceritakan kembali dari sudut pandang dewi sita. Bgaiamana seorang perempuan bisa teguh terhadap kehidupannya, selain itu kalimat di buku ini puitis dan terangkai indah jadi membuat saya terbuai ketika membacanya.
Sangat menarik, karena awalnya aku kira gak bakal suka baca cerita fiksi-sejarah gini, tp ini keren banget sih. Jd pengetahuan baru, perasaan baru dan pelajaran baru. Cocok banget, jd pengen beli semua buku yang ditulis penulisnya😀
Setelah membaca ini, Rama yang dulu saya agungkan, tak lebih kurang adalah seorang pengecut, hehehe. Maaf fans Rama. Novel ini sungguh membawa saya bagimana perasaan perempuan yang diwakilkan oleh Sita “dikerjai” oleh kekuasaan dan kroni-kroninya.
Perjalanan Sita yang penuh kesedihan, Rama yang ngga bisa tegas dalam mengambil keputusan dan Rawana yang benar-benar mencintai Sita, semoga Sita mendapatkan kebahagiaannya bersama Rawana.
This entire review has been hidden because of spoilers.
tanpa disadari, di zaman ini perempuan2 yang bernasib seperti sita juga masih ada di sekitar kita. yang disalah-salahkan padahal sebenarnya ia adalah korban
Bagus sih buku ini. Istilahnya plagiasi dari epos Ramayana sebelumnya, tapi buku ini diceritakan dari sudut pandang Sita. Menurut aku, bukunya lebih baik berjudul Sitawana huhu~ Ga nyangkaaa ternyata Rawana yg aku kenal sebelumnya yaitu jahat lah, keras lah, berkuasa lah ternyata selembut dan seromantis itu terhadap Sita.... Dan Rama, aaa rada kesel dikit wkwkw, gemes gitu lah. 'ternyata bener apa kata Rawana' Intinya buku ini merubah pandanganku terhadap epos2 Ramayana sebelumnya. Luv it!
Suka banget sama novel Ini, Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari novel Ini... Jujur saat baca, terenyuk banget rasanya sakit saat membayangkan posisi Sita, kecewa sama sikap Rama, tersentuh rasanya saat secara tidak langsung 'menyaksikan' perjuangan cinta & pengorbanan Rawana untuk Sita, bener-bener terenyuk ... Salut sama perkembangan tokoh Sita. Dari novel Ini saya bisa belajar, kadang keegoisan serta dorongan untuk mempertahankan derajat diri sendiri secara tidak langsung bisa menyakiti perasaan orang sekitar, bahkan membuat kita bisa merasakan kehilangan yang amat dalam...