Orang-orang tua sering berkata, lelaki diharapkan tidak menangis. Tangis itu mengurangi keperwiraan. Setetes air mata yang jatuh ke bumi bisa menyebabkan bumi menjadi sangar, tidak subur. Kesedihan tidak untuk dipampangkan kepada semua orang. Itu adalah sesuatu yang seharusnya diimpit-diindit, diselinapkan di balik lapisan penutup. Karena kesedihan adalah hal yang sangat pribadi, seperti rahasia, harus disembunyikan dari pandang orang lain. Namun, ketika Pak Cokro—pimpinan kelompok wayang orang Kridopangarso meninggal, Wardoyo tidak hanya mengeluh. Dia menangis.
Kepergian Pak Cokro membuat kelompok wayang orang itu limbung. Kehidupan orang-orang yang bergiat di Kridopangarso semakin kewalahan di tengah kondisi masyarakat serbasulit. Tak terkecuali bagi Wardoyo, Sumirat, Kintel, dan Kedasih—empat tokoh yang menggerakkan cerita dalam novel ini.
Tirai Menurun ditulis Nh. Dini dengan menggunakan pembabakan pentas wayang orang. Kisah keempat tokoh tersebut dimulai ketika Republik Indonesia Serikat baru kembali menjadi negara kesatuan. Empat tokoh tersebut sekaligus wakil dari arus perpindahan penduduk dari kawasan pedesaan ke kawasan urban, yakni Semarang. Seperti seorang dalang, Nh. Dini membuka tirai, melakonkan wayang, menghidupkan cerita, dan memotret kondisi sosial masyarakat pada masa itu.
Nh. Dini (Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin) started writing since 1951. In 1953, her short stories can be found in most of national magazines like Kisah, Mimbar Indonesia, and Siasat. She also writes poems, radio play, and novel.
Bibliography: * Padang Ilalang di Belakang Rumah * Dari Parangakik ke Kampuchea * Sebuah Lorong di Kotaku * Jepun Negerinya Hiroko * Langit dan Bumi Sahabat Kami * Namaku Hiroko * Tirai Menurun * Pertemuan Dua Hati * Sekayu * Pada Sebuah Kapal * Kemayoran * Keberangkatan * Kuncup Berseri * Dari Fontenay Ke Magallianes * La Grande Borne
Entahlah, setiap kali aku membaca karya Bu Dini, buku berikutnya selalu terasa lebih bagus lagi dari buku sebelumnya. Kepiawaian beliau menulis kini dipadu dengan wawasan menyeluruh tentang seni dan budaya Jawa kuno, terutama seluk beluk pertunjukan wayang orang keliling. Pemilihan katanya selalu bersahaja namun menghasilkan kalimat-kalimat yang elok dan serasi, apalagi dibumbui dengan pesan-pesan moral yang menyentuh. Namun kali ini aku tidak menangkap kritik pedas yang biasanya menjadi ciri khas karya Bu Dini. Tokoh-tokoh dalam buku ini lebih terkesan pasrah, lebih menuruti takdir dan norma-norma sosial yang berlaku. Walaupun demikian hal ini sama sekali tidak mengurangi kenikmatanku membaca.
Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2019
3,4 dari 5 bintang!
Saya ingat beberapa waktu dulu mengoleksi banyak karya ibu Nh Dini salah satunya buku ini. Dulu saya mengira buku ini rangkaian cerita masa kecil beliau yang dimulai dari Sekayu ternyata berbeda jauh dari apa yang saya perkirakan sebelumnya
Kalau saya bisa katakan buku ini termasuk roman banget ya astaga kehidupan tokoh-tokoh didalam buku ini diceritain semuanya dari masa kanak-kanak hingga dewasa dan meninggal dengan detail udah begitu alur ceritanya juga sangat lambat. Wah udah sabar aja membaca buku ini perasaan gak kelar-kelar
diluar hal itu banyak hal yang saya sukai di dalam buku ini seperti ceritanya Indonesia banget. Budaya Indonesia disini mengenai wayang orang itu kental sekali. aku jadi mengenal persiapan wayang orang itu bagaimana lalu suka duka dibalik layarnya seperti apa.. wanita yang menjadi penari dianggap seperti apa. hebat sih ibu Nh Dini benar-benar detail mengungkapkan kehidupan para seniman yang hidup dari wayang orang ke satu daerah ke daerah lain bagaimana
Hal ini semakin dibuat menarik ketika setting cerita dibuat dari jaman Indonesia masih baru merdeka jadi status kondisi perekonomian indonesia saat itu juga masih belum stabil sehingga untuk teaer wayang orang ini juga mempengaruhi para pemainnya..
Membaca buku ini rasanya adem ayem, kayak nonton wayang. Konflik-konflik yang ada dan "klimaks" (kalaupun ada) tidak terasa menggebu-gebu atau memacu adrenalin. Santai. Tapi terenyuh, membaca bagaimana nasib para lakon di dunia anak wayang. Saya jadi jatuh hati pada mereka. Sayang, penulis mengakhiri cerita di saat yang sebenarnya bisa lebih menarik lagi kalau dilanjutkan tentang perjuangan masing-masing tokoh yang tertinggal. Lucu juga mengetahui bagaimana NH Dini gemar sekali mematikan banyak tokoh laki-laki dengan cara mirip-mirip. Mestinya bisa lebih kreatif, ya.
Sebagai salah seorang penggemar Nh. Dini yang belum membaca banyak karyanya, buku ini menyuguhkan sebuah kisah yang menarik dan memiliki kekhasan dari Sang Penulis yang berasal dari Jawa Tengah pula. Terlebih lagi, topik utama yang diangkat di sini adalah mengenai wayang wong—dunia yang kini sudah menjadi asing bagi kalangan masyarakat luas.
Saat aku membaca buku ini, kebetulan aku sedang menonton The Makanai—serial drama di Netflix yang menceritakan tentang perjalanan 2 orang gadis muda menjadi Maiko (geisha muda) dan Makanai (juru masak di rumah didik geisha). Menurutku, buku ini memiliki kemiripan yang luar biasa dengan serial drama tersebut. Pertama, keduanya sama-sama menceritakan tentang 2 gadis muda yang bersahabat dan memiliki satu ketertarikan dan ambisi yang berakar pada budaya tradisional. Kedua, perjalanan kedua gadis tersebut untuk bisa mencapai impian mereka bertahap—pertama dimulai dari "magang," hingga menjadi pemain tetap dan niscaya menjadi pemain kawakan. Baik menjadi geisha/geiko maupun menjadi sripanggung, kurang lebih sama seperti itu.
Secara keseluruhan, aku cukup menikmati kisah yang terkandung dalam buku ini. Gaya penulisan Nh. Dini mudah dimengerti dan menarik untuk dibaca—penggunaan berbagai kata dalam Bahasa Jawa sungguh menarik untukku, jadi menambah wawasanku. Nh. Dini juga tidak malu-malu menggambarkan adegan-adegan intim dan nafsu-nafsu asmara dari para karakter. Namun, bisa dipastikan bahwa banyak sekali bagian dari kisah ini yang moralnya bisa dipertanyakan. Bagiku pribadi, perbedaan usia Wardoyo dengan Sumirat atau Kintel dengan Dasih sungguh meresahkan. Entahlah apakah di zaman dulu hal itu dianggap lebih lumrah, tapi aku betul-betul tidak bisa menerimanya dan merasa cukup jijik dengan perkembangan hubungan mereka—terutama mengingat para lelaki ini sudah mengenal gadis-gadis ini dari mereka masih bocah, sungguh mengerikan.
Aku juga merasa cerita ini cukup bertele-tele di beberapa bagian, khususnya bagian awal. Aku yakin, jika bagian awal buku ini (yakni "Asal-Usul") dihilangkan, kisah akan tetap bisa berjalan dengan wajar dan dimengerti oleh para pembaca. Sangat disayangkan bahwa informasi tentang latar belakang para tokoh ini tidak dihubungkan lagi dengan akhir kisah, sehingga kesempatan untuk membuat ceritanya berakhir bulat lenyap begitu saja. Adapula beberapa hal yang rasanya berakhir dengan mengganjal bagiku, namun tidak pernah dipermasalahkan oleh para karakter yang terlibat—misalnya kenyataan dibalik hubungan Karso dengan Yu Irah. Apa benar moral masyarakat pada zaman itu (sebut saja itu sekitar tahun 1950-1980an) betul-betul serusak itu?
Singkat kata, aku lumayan menikmati buku ini. Aku jadi belajar banyak tentang wayang wong dan mendapat intipan sedikit tentang dunia panggung Jawa pada masa itu. Kini wayang wong sudah tidak sepopuler dulu lagi—aku saja belum pernah menonton wayang wong—tapi konon katanya masih ada kelompok-kelompok yang rajin melestarikan budaya tersebut dan terkadang masih tampil di panggung. Mungkin suatu saat nanti aku pun akan pergi menonton pagelaran ini.
Sempat tidak percaya untuk baca buku N.H Dini yang tebalnya sekitar 450 halaman ini. Ada pertanyaan, "Yakin gitu?"
Pernah mau DNF ketika sampai di halaman 100-an. Tapi kok ya selesai. Sebab ceritanya itu gak berat-berat amat. Cuman narasinya luar biasa panjang. Berparagraf-paragraf, berhalaman-halaman, isinya narasi aja. Dialognya dikit gitu.
Bagian paling bikin berat membacanya adalah tipografinya yang berspasi rapat, tulisannya kecil, paragrafnya panjang. Hmmm. Btw, saya tidak baca yang bersampul hijau bunga-bunga ini, tetapi yang bersampul gambar wayang dan ada semburat warna-warni. Versi yang saya baca gak terdaftar di Goodreads, jadi gak tahu juga kalo beda isinya.
Tirai Menurun mengisahkan empat tokoh, yaitu Kedasih, Sumirat, Karso (Kintel), dan Wardoyo. Kedasih lebih tua satu tahun dengan Sumirat. Ketika ia masih duduk di SD, ia sering keluyuran ke kota karena malas bersekolah. Hingga, ia bertemu dengan paguyuban wayang wong Kridopangarso. Paguyuban tersebut didirikan dan dikelola oleh beberapa orang, salah satunya Wardoyo.
Pada waktu bersamaan, Sumirat sering datang ke paguyuban tersebut mengikuti teman sekaligus tetangganya, Arum. Lama kelamaan, keduanya ikut latihan dan mulai berminat menjadi pemain wayang wong.
Di lain sisi, ada Kintel yang pindah dari desa ke kota mengikuti kekasihnya yang berkedok jadi mbakyunya bernama Jeng Irah. Si Mbakyu sangatlah kaya sebagai pedagang sehingga sering menyuruh Kintel mengurusi perdagangan ke luar kota.
Saat berada di kota, Kintel beberapa kali bertemu Wardoyo dan menjalin persahabatan dengannya sehingga ia mengenal wayang wong.
Konflik antarpemain wayang wong dan konflik rumah tangga pun mulai bermunculan setelah itu. Hingga, membuat hubungan keempatnya semakin erat sebagai sahabat, sesama manusia, dan sesama pemain wayang wong. Kedekatan itu pula yang memunculkan rasa suka antara tokoh perempuan dan tokoh laki-laki tersebut. Saya tidak sebut siapa nikah sama siapa agar tidak spoiler. Cerita pun berlanjut hingga beberapa tokoh meninggal. Hmm buku ini kayaknya juga termasuk roman. Cukup ceritanya sampai sini agar suatu saat saya bisa mengingatnya lagi.
Cerita Tirai Menurun banyak mengisahkan sikap hidup orang Jawa. Banyak disebutkan petuah-petuah, seperti jangan 5 m (main, madon, madat, minum, maling. Jangan banyak omong. Bicara seperlunya saja. Dan beberapa ajaran sejenis itu.
Alurnya pun tidak terlalu mbelenduk-mbelenduk. Tipe yang lurus terus, ada tikungan, terus selesai. Karena itu, saya merasa buku ini termasuk roman.
Dan sekali lagi, buku ini ada mirip dengan buku N.H Dini yang lain, panjang-panjang narasinya. Sepertinya ciri khas tulisan N.H Dini memang ada pada narasinya yang indah; kalimat-kalimat yang agak panjang; kesan halus, lembut, tenang.
Cocok buat pembaca yang suka cerita dengan narasi panjang. Gak cocok buat yang suka cerita banyak narasinya dan alurnya lurus-lurus lambat.
Saya baru pertama kali baca karya Nh. Dini, dan tidak butuh waktu lama untuk saya langsung jatuh cinta pada keindahan narasinya. Pilihan dan susunan kata-kata hingga kalimat yang disajikan dalam buku ini sungguh menawan. Tak hanya dalam menggambarkan suasana adegan, tetapi juga suasana hati dan pergulatan batin yang dialami tokoh-tokohnya.
Cerita bermula dengan kepingan kisah dari tokoh-tokoh yang berbeda, yaitu Kedasih, Kintel (atau kemudian dikenal juga sebagai Karso), Sumirat, dan Wardoyo yang masing-masing punya titik tolak yang berbeda-beda. Lalu pelan-pelan kepingan tersebut bertemu, kemudian berkelindan erat dalam jalinan benang merahnya, yakni Kridopangarso, sebuah paguyuban wayang wong di kota Semarang yang pasang-surutnya menjadi "jiwa" bagi cerita dalam buku ini.
Ceritanya berkutat pada kehidupan sehari-hari para anak wayang dan orang-orang terdekat di lingkungannya. Kisahnya bergulir hingga berpuluh-puluh tahun, sejak sebelum Kridopangarso terbentuk, lalu mencapai masa-masa emasnya, hingga pada saat paguyuban tersebut mulai sekarat dan berada diambang "kematian". Konfliknya pun cukup umum dan sehari-hari, seperti taksir-menaksir dan kecemburuan dalam hal asmara antarpemain wayang, persaingan dalam hal pementasan, perselisihan rumah tangga sebab perkara ekonomi, dsb.
Begitu panjang rentang kisah ini membentang, begitu ragam pula persoalan yang muncul dalam buku ini. Sayangnya, nyaris tidak ada konflik atau ketegangan yang cukup intens untuk menghasilkan klimaks dalam sajian ceritanya. Jika umumnya grafik keasyikan atau ketegangan sebuah cerita berangsur-angsur naik hingga mencapai titik puncak atau klimaks sebelum berangsur-angsur turun, dalam novel ini, saya merasa makin ke belakang intensitas ceritanya hanya berangsur-angsur turun saja tanpa saya tahu apakah ia bahkan sudah mencapai titik klimaksnya.
Tapi tak apalah. Saya kepalang jatuh hati pada kesusastraannya. Maka dalam waktu mendatang, rasanya saya masih tetap akan menambah koleksi bacaan saya dengan judul-judul lainnya dari Nh. Dini.
this is actually the third book i’ve read from her, ibu dini, and i have to say, the first two books i read completely pulled me in. after those, i already knew i wanted to read more, and tirai menurun only reinforced that feeling—it made me even more curious about the rest of her work.
the story itself is reflective, intimate, and quietly powerful. ibu dini has this effortless style that makes even the smallest moments feel meaningful. you get inside the characters’ heads—their thoughts, struggles, little joys, and subtle sorrows. it’s introspective and human in a way that sticks with you long after you close the book.
the characters in tirai menurun feel really real and human. they’re not perfect or overly dramatic—they’re messy, sometimes awkward, and full of contradictions, which is exactly what makes them relatable. you get to see their thoughts, struggles, little joys, and regrets, and it feels like you’re walking alongside them, seeing the world through their eyes.
what’s cool is that ibu dini doesn’t just focus on big dramatic events—she’s really good at showing the small, subtle moments that reveal a lot about who the characters are. you notice the way they think, the way they react to tiny things, and how their inner world sometimes clashes with the outer world.
honestly, tirai menurun confirmed why i keep coming back to her writing. quiet, thoughtful, and deeply human, it makes you reflect, feel, and notice life in subtle ways. after this third book, I’m more excited than ever to explore everything she’s written—her stories have this rare ability to linger in my mind and heart.
Ini pertama kali saya berkenalan dengan karya Nh. Dini dan saya sangat suka dengan cara penulis menceritakan setiap detail alur cerita.
Novel ini bercerita tentang perjalanan grup Wayang Wong, dengan empat tokoh utama yang diperkenalkan di awal cerita dan saling berhubungan seiring jumlah halaman yang saya baca menipis. Membaca novel ini memang perlu kesabaran ekstra, karena sepertinya penulis tidak mau melewatkan penjelasan sedikitpun.
Melalui novel ini saya bisa tahu sedikit gambaran Wayang Wong bagaimana. Paguyuban wayang yang mengalami berbagai macam cerita di perjalanan mereka selama masa revolusi hingga reformasi. Tapi menurut saya, novel ini lebih dari sekadar menceritakan tentang Wayang Wong, novel ini bercerita juga tentang keinginan manusia, cita-cita yang tidak bisa dibelokkan, dan keteguhan diri untuk selalu memegang prinsip yang dianut, bercampur dengan nilai-nilai sosial yang masih banyak dipercaya masyarakat di jaman itu.
Tokoh-tokoh di novel ini diceritakan sangat dinamis, memiliki sifat manusia kebanyakan, jadi tidak ada 'pahlawan' di sini, karena semua adalah manusia dengan sifat baik dan buruknya masing-masing yang membikin karakter setiap tokoh ini sangat manusiawi.
Saya baru paham makna dari judul Tirai Menurun untuk novel ini dan sejujurnya itu membikin hati saya sedikit kosong begitu saya selesai membaca.
Mulai dari empat tokoh kecil, kemudian bertemu di kota (urbanisasi), kemudian bersua dengan Kridopagraso kelompok wayang orang, bergelut membesarkan dan pentas di mana-mana, namun akhirnya redup dan menjadi sarang yang berkuasa di kelompok itu "mengeruk" sumbangan dari Pemda.
Bagi saya yang orang Jawa, kadang kisah-kisah sederhana tokoh dalam novel ini membuat saya ingin pulang. Duduk di teras depan, pakai sarung, nyeruput kopi tubruk, pisang goreng, dan seekor kutilang bersiul riang di kandang. Damai banget. Perlahan. Dan memang Nh Dini adalah jagoan soal detail. Soal siwur, soal kuih, kembang gula, lodong-lodong berisi penganan begitu detail. Apalagi soal wayang? Jagoan!
Narasi seksualnya menurutku juga perlu dikasih tanda pujian. Indah, dan gelora tokoh terutama perempuan ya begitu adanya. Nggak ditutup-tutupi, apalagi seperti Yu Irah, suaminya gombal mukiyo, ketemu Kintel uuuh siapa yang nggak ngibrit kepincuut.
Menurutku, Nh. Dini punya tempat tersendiri dalam sastra Indonesia. Tempat yang khusus yang tak akan tergantikan sampai jauh, jauh hari kemudian. Bahkan dengan kehadiran penulis-penulis perempuan sekelas Ayu Utami atau bahkan yang lebih populer semacam Dee sekali pun. Tempat itu akan abadi untuk Nh. Dini seorang.
Buku ini menceritakan kehidupan para seniman wayang orang di Semarang. Bagaimana mereka berjuang dari bawah sekali. Bagaimana mereka menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Bagaimana mereka bertahan hidup dengan sangat sederhana. Sebuah cerita yang penuh dengan falsafah hidup Jawa. Layaknya falsafah hidup itu sendiri, novel ini pun begitu apa adanya. Begitu sederhana dalam berkisah. Tidak ada plot yang membara. Bahkan tak ada klimaks sama sekali. Namun begitu trenyuh. Begitu membekas. Terutama bagian penutupnya. Aku sangat suka bagiamana Nh. Dini menutup buku ini dengan membuka pemahaman kita tentang tirai yang menurun.
Tirai Menurun bercerita tentang kehidupan pelaku seni wayang wong yang mana keempat tokoh utamanya berimigrasi dari pedesaan ke Kota Semarang. Lika-liku kehidupan anak wayang dalam buku ini dinarasikan dengan sederhana, detail dan penuh kehangatan oleh NH Dini. Konflik yang dibawakan juga cenderung ringan. Interaksi setiap tokoh juga sangat menarik untuk disimak. Sebagai pembaca yang tidak begitu mengerti wayang wong, buku ini bisa dibilang cukup memberikan gambaran bagaimana pertunjukan seni itu berjalan dan bagaimana kehidupan mereka di belakang panggung. Sangat disayangkan kesenian ini (keliatannya) sudah tidak begitu populer di saat ini (sama seperti apa yang diangkat dalam ceritanya juga).
Di awal, saya sedikit malas membaca novel ini. Mungkin karena pengenalan tokoh-tokohnya yang kelewat panjang. Namun, setelah mengikuti alurnya ternyata ceritanya bagus juga. Ya, meskipun tema lokalitas sudah ditulis dalam banyak novel atau prosa Indonesia. Novel ini menceritakan kehidupan empat tokoh utama yang meninggalkan desa dan hidup di kota. Mereka bertemu dalam satu wadah kesenian, yaitu paguyuban wayang wong Kridopangarso.
Tirai Menurun terasa sangat damai dan nyaman untuk dibaca. Konflik yang ada di dalam cerita tidak terkesan menggebu-gebu. Buku ini menceritakan kehidupan manusia sehari-hari yang dibalut oleh budaya Jawa—namun tetap berpandangan secara global.
Karena klimaks dari ceritanya tidak menggebu-gebu, membuat kita jadi merasa kosong, galau, dan kepikiran banyak hal saat membaca akhir dari setiap bab. Seolah kita diuji oleh penulis untuk berpikir bagaimana kelanjutan dari ending cerita tersebut.
Gaya penulisan yang baru banget buatku. Bercerita tentang wayang orang dengan 4 tokoh utama. Semua tokoh menceritakan adegan berdasarkan perspektifnya. Yang somehow membikin ku bingung menyusun ulang adegannya. Seru membayangkan Indonesia pada tahun-tahun itu, lengkap dengan budaya yang terasa seperti dongeng. Terima kasih Bu Dini :)
Sangat suka dalam pembangunan alurnya dari awal hingga tengah. Pertemuan awal antar karakternya begitu memberi kesan yang saya jarang temui. Banyak belajar tentang sejarah wayang wong dan kehidupan di masa lalu masa kemerdekaan yang pastinya tidak tertulis detail dalam buku sejarah kita. Namun, saya rasa penutup cerita ini kurang 'wahh'.
"Aku sering terbangun karena takut gelap. Apalagi kalau Bapak dan Mak bertindihan, keduanya mendengus-dengus. Pagi kalau kutanya mengapa, mereka menjawab membikinkan kami adik lagi. Jadi mereka bergelut untuk memberi kami adik." ---> hal 115
Penggambaran karakter-karakter Kedasih, Sukmo, Wardoyo dan Sumirat yang sangat kuat. Novel ini memiliki plot yang sangat padat, karakterisasi yang sejalan dengan pengembangan tokoh-tokohnya. Ada juga konflik asmara yang sangat membangun kedalam ceritanya. Semakin dalam sampai akhir cerita.
Ini karya Nh. Dini pertama yang saya baca. Ternyata isinya sangat sastra sampai kadang-kadang saya masih kesulitan dengan bahasanya.
Menceritakan empat tokoh utama yang awalnya tak saling mengenal tapi akhirnya bertemu di sebuah panggung pewayangan Kridopangangarso. Empat orang itu adalah Kedasih, Kintel, Sumirat, dan Wardoyo.
Kedasih punya sifat ceria, terbuka, dan cerewet. Hidupnya cukup bahagia dengan orang tua yang berkecukupan dan bisa membelikannya barang yang diinginkan. Nantinya ia bakal jadi penari tetap di panggung pewayangan.
Kintel pemuda sederhana berhati lapang yang giat bekerja. Mungkin dia tidak terlalu berpendidikan tapi kesetiaan tampak jelas dari kelakuannya. Dia berawal dari pekerja kasar dan nantinya jadi pengusaha becak.
Sumirat gadis pendiam yang sangat feminin. Dia penurut dan sangat berbakti pada ibunya. Tapi ia lebih memilih menari daripada sekolah.
Wardoyo adalah salah satu pemain kawakan di panggung Kridopangarso. Sifatnya penyabar dan tenang. Ia mengabdikan hidupnya untuk seni pewayangan.
Cerita berlatar waktu di waktu Indonesia baru merdeka. Saya sangat suka deskripsi Nh. Dini tentang keadaan kampung zaman itu. Bagaimana interaksi antartetangga dan antarsaudara, betapa sederhananya masalah kehidupan, dan yang paling lengkap adalah penjelasan seni pewayangannya.
Buku ini menunjukkan betapa panggung pewayangan bisa menjadi sebuah pelarian. Hidup boleh susah dan tidak bahagia, tapi saat pentas dimulai para artis panggung itu menjelma menjadi dewa dewi atau pangeran dan putri. Kridopangarso bagai organisasi di mana para pemainnya saling senasib sepenanggungan dan menemukan keluarga di dalamnya.
Entah kenapa sewaktu membaca buku ini saya merasa plotnya acak-acakan. Mungkin pembagian babnya kurang pas atau bagaimana. Karena sebentar saya baru selesai satu bagian, di bagian selanjutnya ternyata sudah beberapa tahun kemudian. Kok rasanya ada yang dilewat. Dan itu sering banget. Saya pikir sastra roman seharusnya lebih lambat kecepatan plotnya. Yah, itu pendapat saya sih.
Selain itu tokoh utamanya kan empat orang menurut sinopsis di belakang buku, tapi rasanya kurang pas juga. Ceritanya lebih berpusat di seni pewayangannya yang perlahan hancur dengan berkembangnya dunia teknologi. Siapa sih yang mau nonton wayang wong lagi kalau ada televisi? Dan epilognya bahkan bukan tentang empat orang itu tapi tentang salah satu tetua Kridopangarso. Itulah jebakan sebuah sinopsis belakang buku, menipu hahaha...
Seperti semua roman, akhirnya tragis. Cuma saya kesal sama nasib Kintel, nggak dijelasain gimana, lalu tiba-tiba sudah meninggal. Aneh, ah. Beneran, dasar manusia. Sudah menikah, lupa sama diri sendiri. Judi melulu.
Tambahan, untuk baca buku ini harus setidaknya mengerti sedikit tokoh-tokoh wayang. Untung saya pernah baca Mahabharata dan Ramayana. Di sekolah juga dulu diajarkan. Karena kalau nggak, saya bisa bingung. Sebentar-bentar nyebut tokoh ini, tokoh itu, Prabu sana, dewa situ. Alamak!
Kehidupan anak wayang. Sungguh kehidupan yang dari dulu ingin sekali saya sentuh dan saya cicipi entah dari melihat, membaca atau merasakan sendiri. Ya, sama seperti yang digamblangkan jelas oleh buku ini bahwa kebudayaan sudah semakin lama meluntur, tidak lagi digemari orang banyak. Hal yang kebarat-baratan atau serba impor lebih disenangi. Sama seperti Sumirat dan Kedasih, saya pun terbentur dengan apa kata orang dan bagaimana masa depan jika menggeluti diri dalam dunia ledek, penari ataupun berkecimpung banyak di bidang kesenian jawa kuno. Sama seperti Wardhoyo dan Tirto ada pula keinginan di hati saya sebagai orang Jawa untuk melestarikan budaya Jawa juga.
Buku ini secara penceritaan benar-benar mantap sesuai ekspektasi saya dari seorang NH Dini yang termasyhur. Diawali dengan penceritaan latar belakang dari masing-masing karakter utama sehingga kita bisa merasuki perasaan masing-masing karakter. Kisah yang dibangun juga benar-benar perlahan-lahan mendaki seperti sebuah pentas saja. Sampai ketika ternyata kelima pemeran utama bertemu dan saling menjalin kasih mengasihi yang agaknya menyedihkan hati. Semuanya dikemas perlahan-lahan dan dalam kuatnya latar Jawa dan kehidupan anak wayang yang jauh dari jangkauan. Hal ini membuat novel ini tidak terasa murah dengan hanya isi percintaan anak muda atau tragedi rumah tangga.
Banyak pelajaran pula yang bsia diambil dari novel ini. Pesan tersurat dan tersirat begitu nyata dan apik disuguhkan. Bahwa kehidupan adalah selayaknya drama di atas pentas. Perbedaannya hanyalah kita yang menjadi pemeran utama tanpa adanya cahaya yang menyinari untuk dijadikan sorotan. Sebagian drama hidup kita sangatlah pahit dan kita harus menahannya serta mengatasinya. Ada yang drama hidupnya begitu mulus dan akhirnya membantu orang-orang di sekitarnya yang bernasib tidak semujur dia. Tidak heran bagian belakang buku mengatakan bahwa buku ini layaknya menonton 'wayang wong'. Ya, wayang wong yang dimainkan para tokohnya di luar panggung. Kehidupan drama mereka semenjak tinggal berpisah-pisah sampai akhirnya disatukan di Kridopangarso.
Novel ini benar-benar dikemas apik dan saya sungguh sangat menyarankan novel ini untuk orang-orang yang tertarik budaya Jawa karena penggunaan bahasa Jawa di buku ini sangatlah praktis. Sebagian diartikan, sebagian lagi tidak karena hanyalah sebuah logat yang tidak memiliki makna. Untuk yang memang orang Jawa seperti saya, buku ini membangkitkan rasa untuk kembali menengguk pengetahuan mengenai budaya sendiri, mengenai bagaimana sesungguhnya orang jawa berkelakon dan menumbuhkan rasa rindu yang mendalam akan kampung halaman. Sangat saya rekomendasikan!!!
Baca buku ini serasa nonton pertunjukkan wayang orang, tidak hanya pas pentasnya lengkap juga dengan kisah dibalik layar dari para pelakonnya. 4 tokoh utamanya: Kadasih, Kintel, Sumirat dan Wardoyo. Ke-empatnya disatukan dalam paguyuban wayang orang yang bernama Kripdopangarso. Kadasih dan Sumirat, gadis remaja dan teman akrab, awalnya mereka hanya sebagai penari latar, waktu terus berlalu dan membentuk mereka menjadi Sripanggung, konflik mulai terjadi ketika Kadasih merasa kalah saing dengan Sumirah dalam mendapatkan peran utama, ada Kintel yang jatuh cinta pada Sumirah, tapi Sumirah malah menyukai Wardoyo, dan kisah tentang jatuh bangunnya sebuah paguyuban Kripdopangarso, Kripdo pernah merasakan masa jayanya pada masa kepemimpinan Pak Cokro, dan ketika beliau wafat, Kripdo diteruskan oleh keponakannya Darso, disinilah kanflik mulai muncul, Tirto dalang dalam pertunjukkan Kripdo, lebih memilih melepaskan diri, hal ini dikarenakan ketidakcocokkan dengan kepemimpinan Darso, kripdo terus digempur dengan masalah yang terus menderanya hingga pada akhirnya jatuh juga..lantas bagaimana nasib ke empat tokohnya? Apakah mereka dapat bertahan, ditengah maraknya hiburan lain yang lebih modern dan mampukah wayang orang ini dapat terus bertahan?
This book is epic! Nh dini ketika smp sudah membuat cerpen dan salah satu cerpennya mendapat perhatian dari H.B Jassin, well, she just born with it? Kalimat dibuku ini mengalun dan sangat nikmat. Ini buku pertama yang saya miliki dari sang penulis, dengan kepastian mutlak saya akan mencari karya lain beliau.
Buku yang sangat sesuai realita kehidupan. Kata demi kata mengalir begitu saja, membuat kita bisa memahami keempat karakter yang digambarkan bergantian di tiap bab, bahkan saya yang pecinta happy ending tetap harus mengangkat topi untuk N.H Dini karena telah menciptakan karya lekat suasana jawa diikuti dengan nilai kebudayaannya.
Terpesona. Nh. Dini tetap menunjukan kemampuannya sebagai salah satu penulis terkemuka di negeri ini. Penggambaran kehidupan anak wayang yang mempesona, jalinan hubungan antar manusia yang sarat makna, ditutup oleh akhir yang miris namun realistis menggambarkan tantangan kearifan lokal yang hampir tergilas laju perkembangan zaman. Sungguh, terpikat di tiap lembarannya ...
Bis kasih insight tentang kenapa dunia kesenian tradisional mulai redup sejak masuk tahun 80 an. Gw yang ngga doyan wayang aja tiba-tiba kok jadi merasa kehilangan, harusnya wayang kalo didalemin pasti punya filosofi dan nilai seni yang ngga kalah dari alet
Seperti karya NH Dini lain, unsur jawa selalu kental terasa, apalagi di buku ini. Bagaimana kerasnya kehidupan di kota dipersonifikasikan dalam bentuk wayang hingga tirai menurun.
Saya banyak belajar tentang wayang orang di buku ini. Layak baca :)
Saya suka novel yg memberi ilmu baru. Semisal saja novel ini yg menceritakan ttg suasana negeri di jaman perubahan kemerdekaan dan kisah di balik layar mengenai wayang orang dan lika likunya. bahasanya juga enak, seperti saat membaca karya2 pujangga lama. hahaha...
Hampir sebagian besar sy membaca karya nh dini. Dimulai sejak sma hingga kuliah. Sy menyukai produktivitasx dlm menulis namun tetap menjaga sbg karya sastra yg habat