Sesuai dengan apa yang diungkapkan penulis di halaman awal kalau ia terinspirasi gaya penulisan khotbah lewat bercerita ala almarhum Cak Rusdi, buku ini bikin aku nostalgia ke buku Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya. Mirip, menyerupai, tapi tidak sama persis. Gaya penuturannya tidak sekocak Cak Rusdi. Di sini, Ahmad Khadafi "melahirkan" sosok Gus Mut, Kiai Kholil, Fanshuri, dan Mas Is.
Penulis mengangkat banyak tema kehidupan sehari-hari, termasuk menyentil berita yang ramai dibicarakan publik. Caranya menyajikan dakwah bukan serta-merta menyodorkan isi Al Qur'an dan hadist, tapi lewat obrolan santai. Entah itu sambil main catur, memberi makan ikan, menguras kolam ikan, dll. Caranya menuliskan cerita membuat buku ini tidak segmented hanya bisa dibaca oleh mereka yang beragama Islam, tapi juga yang beragama lain.
Nggak semata-mata defensif ke kalangan puritan, tapi justru memilih menyodorkan sudut pandang lain yang lebih manusiawi, lebih menerima perbedaan, dan lebih bijaksana. Beberapa cerita bahkan menimbulkan efek semacam, "eh, iya juga, ya?", ketika selesai membaca.
Sebuah permulaan yang baik untuk melanjutkan membaca karya penulis selanjutnya, Khotbah dari Bawah Mimbar.
Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2020
3,8 dari 5 bintang!
Pertama kali tertarik sama buku ini karena sinopsisnya dan benar dong barusan kelar isinya bagus! Menjelaskan islam dalam kehidupan sehari-hari dengan bahasa yang enak dan mudah dicerna. Penulis sekaligus mungkin mengambil isu-isu yang relevan terjadi di masyarakat yang apa-apa dianggap murtad atau haram sehingga membaca buku ini jujur membuatku berpikir
Buku ini sekilas mengingatkanku dengan Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya: Kisah Sufi dari Madura oleh cak Rusdi Mathari namun banyak hal yang tentang islam yang saya kembali pelajari didalam buku ini. Islam itu agama yang damai dan indah
Awal baca buku ini karena tertarik dengan judulnya. Aku kira isi dari buku ini adalah sindiran akan ajakan agar umat Islam kembali ke Islam yang kafah. Ternyata aku salah, bahasan tentang 'Islam kita nggak ke mana-mana kok disuruh kembali' ini hanyalah satu dari beberapa pokok bahasan yang ada di buku ini.
Buku ini merupakan media bagi penulis untuk maido alias mengomentari beberapa persoalan yang ada di masyarakat dengan cara storrytelling. Tokohnya tentunya adalah tokoh khayalan. Tapi ceritanya menurutku memang menggambarkan beberapa persoalan yang terjadi di tengah masyarakat, tentu persoalannya yang berkaitan dengan agama. Melalui buku ini, aku bisa belajar tentang hal baru dengan sudut pandang yang berbeda dari sebelumnya. Berkali-kali aku dibuat manggut-manggut sambil menggumam 'Oalah gitu ternyata'. Dan yang lebih aku suka dari buku ini adalah cerita-ceritanya di bawakan secara enteng dan diselipi humor. Hal itu membuat aku sangat menikmati saat membacanya.
Meskipun sebagian besar cerita dan tema yang diangkat berangkat dari kisah orang lain yang dimodifikasi, buku ini cukup berhasil menawarkan sesuatu yang segar ke dalam ranah literasi kita. Ditambah dengan cara modifikasi yang terinspirasi dsri kisah Cak Dhalom dalam buku Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya, menambah bobot buku ini sebagai sebuah buku dengan cerita-cerita khas para wali dan kiai yang disarikan dengan apik kepada pebaca muda kita agar tidak terlalu berat memandang agama sebagai salah satu tema dalam penulisan.
Beli buku ini awalnya karena judulnya yang menarik tapi setelah dibaca ternyata isinya sangat bagus. Bikin nambah pengetahuan baru dan banyak juga memberikan nasihat untuk saya pribadi. Saya suka bagaimana penulis menjelaskan berbagai hal dalam Islam dengan baik dan tidak menggurui, dalam hal ini bagaimana Gus Mut dan Kiai Kholil merespon dan menjelaskan setiap ada yang bertanya kepada mereka.
Buku karangan Ahmad Khadafi terbitan mojok mojok, jika kamu pernah baca buku Alm. Rusdi mathari yg berjudul Merasa pintar, bodoh saja tidak punya, maka menurut penulisnya buku ini terinspirasi dari buku itu, mirip-miriplah.
Dalam buku ini ada beberapa tokoh yang paling sering disebut yaitu Gus Mut, Kiai Kholil, Mas Is dan Fanshuri. Di tiap chapter diadaptasi dari beberapa kisah di zaman nabi maupun kisah nyata lainnya yang berhubungan dengan agama lalu dikaitkan dengan masa sekarang di buku yg mereka alami kasusnya meskipun tidak semua chapter begitu karena ada juga beberapa chapter yg membahas isu hangat yg terjadi di tahun itu yg juga tahun politik yaitu sekitar tahun 2019 di mana itu tahun buku ini terbit, namun ada juga beberapa isu yg selalu ulang² tiap tahun tentang halal haram suatu perkara dibahas dalam buku ini & berbagai kisah lainnya yg berkutat dengan tokoh di atas
Beberapa kisah diantaranya adalah kisah yg jenaka namun tetap memiliki makna secara agama, menambah wawasan kita terhadap sesuatu bahkan ada juga kisah yg membuat sy berpikir luas tentang suatu pemahaman dan toleransi. Meskipun saya bukan seorang Nahdliyyin tapi saya sangat senang sekali membaca buku ini.
Menurutku, Jika kamu seorang Nahdliyyin maka buku ini cocok secara pemahaman lebih condong kepada pemahaman organisasi Islam NU atau Islam secara umum di Indonesia, mungkin bagi sebagian kelompok tertentu tidak akan cocok dengan beberapa chapter tapi disitulah letak menariknya buku ini, meskipun berbeda dengan pemahaman lain kita tetap harus tetap saling menghormati bukannya antipati terhadap yg lain yg berbeda pemahaman dengan kita.
Buku ini sangat bagus dibaca santai namun tetap memiliki daging, saya sendiri baca buku ini kebetulan libur dan saya mulai baca dari subuh hingga selesai subuh juga.
"Lah, memang kita selama ini hidup harus selalu pakai itu. Kita nggak pernah dan nggak boleh kemana-mana memang. Lah masa nggak kemana-mana kok disuruh kembali. Rumah ya Al-Qur'an dan As-Sunnah. Lah ngapain aku disuruh kembali kalau aku sudah di dalam rumah? Jangan-jangan justru yang mewanti-wanti itu itu yang sebenarnya belum kembali?."
akhir-akhir ini mood baca lagi berantakan bgt. ada kali 10 menit diem di depan rak buku cuma buat milih mau baca buku yg mana :") nonfiksi parenting? bosan. fiksi tentang kehidupan mamak²? bosen juga. fiksi cinta-cintaan? lagi males. nonfiksi yg dibalut curahan hati? males juga. apa yaa yg pas buat balikin mood?
pilihan pun jatuh pada buku karya salah satu penulis mojok.co ini. pas bgt sedang ingin memperbaiki kualitas iman melalui bacaan, tapi juga pengen mulai dari yg ringan dulu.
buku ini berisi banyak ragam tulisan yg berlatar belakang islami (obviously), dgn Kiai Kholil sbg kyai / tokoh agama sebuah daerah di Jogja, ada jg sang anak Gus Mut, Fanshuri, dan Mas Is. keempatnya secara bergantian membentuk ensemble yg cukup asyik & menyenangkan tatkala berperan menjadi si "penanya" dan si "yg lebih ahli" atau si "pendakwah". hal-hal seputar islam yg seringkali jadi pertanyaan di kalangan warga awam, sedikit banyak berhasil dijawab dan dijelaskan dgn bahasa yg mudah dipahami.
bagian yg paling aku suka adalah 2 bab terakhir yg membahas ttg kewajiban orangtua. sbg orangtua newbie, bab itu jleeebb bgt sih. apa sih isinya? baca sendiri ye? hehehe.
kalau yg nggak disuka...hmm apa ya, mungkin ada beberapa bagian yg entah rasanya kyk kurang penjelasannya, harusnya bisa lebih panjang. tapi yaa mau gimana lagi, namanya jg kumpulan artikel, jd pasti dibuat ringkas dong hehe.
overall, setelah sekian tahun punya buku ini (udah dari 2019 cuy!), ternyata masih relevan dibaca skrg. two thumbs up buat mas penulis 👍
Menemukan buku ini adalah salah satu fenomena jatuh cinta di hidup saya. Enggak niat mencari tapi pada akhirnya dibeli. Kalau biasanya ingin cepat-cepat selesaikan baca, buku ini secara ajaib bikin saya menahan diri sekuat tenaga untuk mencicilnya setiap membaca. Enggak mau buru-buru selesai rasanya.
Cerita-cerita pendek dalam buku ini diurai dari tausiyah dan dawuh/pitedah para ulama dan kiai. Dengan latar cerita di lingkungan yang sederhana, kalimat-kalimat yang bisa dipahami oleh otak saya yang tidak seberapa, serta cara penulis bercerita betulan mampu menginspirasi saya untuk terus membaca dan bahkan mengilhami cara saya untuk bercerita juga. Oke ini agak lebay sepertinya tapi beneran itu yang saya rasakan. Maturnuwun, Kang Khadafi.
Penuh makna, lalu diselingi realita nyeleneh di sekitar kita dan guyonan yang khas orang Jawa juga. Menggelitik, mengkritik dan karakteristik tokoh-tokoh di dalamnya juga unik. Dibaca tuh rasanya mengalir dan asik.
Ini sampe halamannya menguning dan bahkan beberapa juga sudah copot dari perekatnya tapi saya sedemikan cintanya sama buku ini, kemanapun diri merantau saya usahakan bawa dan saya baca waktu sela. Buku ini menemani remaja jompo seperti saya laksana ditemani seorang teman masa kecil yang akrab.
Pada awalnya, aku mengira buku ini merupakan kumpulan esai mirip modelnya Pak Edi. Ternyata menceritakan kisah Gus Mut dan kawanannya yang super berisik itu (lagi). Sebab aku mengira judul ini sama seperti Tuhan Maha Selow, ternyata sama seperti Khutbah di Bawah Mimbar.
Ahmad Khadafi menarik dalam mengemas sebuah pesan sosial keagamaan yang sering kali menuai perdebatan dan tak kunjung selesai. Menuangkan pesan moderasinya pun mengena melalui pendekatan dari para tokohnya.
Gaya berceritanya sangat related dengan kehidupan masyarakat sehingga mudah untuk dipahami. Seperti buku Khutbah di Bawah Mimbar, kumpulan cerita ini mengisahkan dari inspirasi materi yang disampaikan oleh Gus Baha, Gus Muwafiq, dan para kiai lainnya.
Buku baik ini perlu diperluas penyebarannya. Memperpanjang sumbu keagamaan, memperdalam keimanan dan memperlebar toleransi dalam berkehidupan kebangsaan. Kalau bisa harus dipaksa menjadi bahan bacaan anak-anak rohis, biar tidak terjebak oleh kamuflase alumninya.
Judul Buku: Islam Kita Nggak Ke Mana-Mana Kok Disuruh Kembali Penulis: Ahmad Khadafi Tahun Terbit: 2021 (Cetakan keempat) Penerbit: Buku Mojok
'Islam Kita Nggak Ke Mana-Mana Kok Disuruh Kembali' ini, setelah saya hitung-hitung terdiri atas 36 subjudul. Bersama Gus Mut, Kiai Kholil, Fanshuri, dan Mas Is, kita akan diajak membahas tentang fenomena sehari-hari yang menyangkut agama Islam.
Tenang, obrolannya ringan, kok, meski kadang temanya berat. Ngobrolnya sambil main catur, ngopi, ngasih makan ikan, nguras kolam ikan, atau duduk di serambi masjid setelah salat berjemaah. Jadi berasa ada di tengah-tengah mereka, biarpun saya nggak pernah main catur, ngerokok, ngopi, dan ngasih makan ikan juga. Wkwkwk.
Obrolan mereka kadang bikin nyengir, bahkan ketawa ngakak. Contohnya adegan di bawah ini, ketika Mas Is tanya hukum mengonsumsi air mani yang suci itu halal atau tidak:
"Silakan kalian makan sajadah ini," kata Kiai Kholil.
Tiba-tiba terdengar tawa yang keras dari si makmum. Mas Is bingung, apa yang ditertawakan.
"Maksudnya gimana, sih? Kok saya nggak paham?" tanya Mas Is.
"Sajadah ini suci lho, Is. Coba kamu makan. Kamu doyan nggak, kira-kira? Bisa kamu telan nggak kira-kira?
Mas Is lalu ikut tertawa.
"Logika fikih untuk halal dan haram ya hampir sama saja. Yang halal dimakan itu sudah pasti suci tapi bukan berarti yang suci itu otomatis halal dimakan. Itu baru sajadah. Belum dengan lantai masjid, bedug, karpet masjid, itu semua suci tapi apa iya halal dimakan? Kan nggak?" kata Kiai Kholil yang disambut tawa oleh Mas Is dan si makmum. (Halaman 190).
Isinya benar-benar dekat dengan keseharian. Sering bikin nyengir, meski ada beberapa yang bikin terharu. Nggak ada hadits plus terjemahannya yang nongol secara ujug-ujug pula. Dengan begini, saya jadi nggak ngerasa lagi LDR pengetahuan dan pengalaman sama penulisnya, walau pada kenyataannya memang jauh sejauh-jauhnya.
Buku ini berisi tentang cerpen-cerpen yang menarik untuk dibaca. Cerpennya pun gak jauh-jauh dari cerita kita sehari-hari. Tapi, menariknya kamu bisa sambil ngaji baca cerpennya. Mungkin untuk beberapa orang yang merasa ngaji itu hal yang sulit dilakukan apalagi kalau bahasnya udah dosa dan pahala, neraka dan surga, saya rasa sudah banyak orang yang tahu tentang mana yang salah dan benar di hadapan agama. Bedanya, kamu ngaji dengan membaca buku ini itu jadi lebih fun. Karena ya ngajinya gak menghakimi ke sana kemari. Isu yang diangkat juga isu-isu baru dan sangat nyambung sama kehidupan di sekitar kita. Cerdas banget mengemas ngaji akidah ke dalam novel dengan cerpen-cerpen pendek seperti ini.
Suka sekali cara pengemasan dan penyampaian samg penulis. Dikemas dan disampaikan dengan cara yang tidak sedikit pun terdengar menggurui.
Cerita dalam buku ini konfliknya sangat dengat dengan kita, iya, kamu, saya dan mereka. Atau bisa jadi selama ini tanpa kita sadari, kita memeluk konflik-konflik dalam buku ini?
Terima kasih, sudah menulis buku ini. Ringan, tak menggurui, tapi penuh akan makna.
Buku yg aku baca selama bulan Ramadlàn and my best read! Mempunyai gaya pembawaan yg sama dg buku Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya, aku malah belajar banyak mengenai Islam secara mudah dan gak belibet Terimakasih ke Gus Mut, Kyai Kholil atas jawaban2 mereka yg mudah difahami dan thanks juga ke Mas Is dan Fanshuri atas pertanyaan2 mereka yg juga mewakili atas ketidaktahuanku.
Pertama kali mengenal karya Ahmad Khadafi ini melalui essay-essay yang beliau tulis di situs Mojok, (terima kasih Mojok!) dengan judul dan pembahasan yang nyeleneh serta ringan, namun memiliki dampak mendalam bagi saya. Layaknya tokoh Mas Is dan Fanshuri yang selalu melayangkan pertanyaan aneh, saya merasa berada di circle yang sama dan mendapatkan guru yang baik.
Buku Islam Kita Nggak ke Mana-mana Kok Disuruh Kembali, sama seperti essay dalam artikelnya, memiliki bahasa pembahasan yang ringan, seperti percakapan sehari-hari yang kadang nyambi sambil main catur, ngerokok, nguras dan ngasih makan ikan. Buku dengan jumlah 36 bab ini memiliki nuasansa baru dalam dunia literasi saya, karena selain dari gaya berceritanya yang tidak seperti buku islam pada umumnya, buku ini pun cukup singkat, padat, serta jelas. Tidak ada kesan menggurui, beberapa hal membuat saya tertawa, beberapa hal membuat saya mengangguk paham, baru tau mengenai ilmunya, dan mengerutkan kening karena muncul pertanyaan dari dalam diri saya, "Apakah bener kayak gitu?". Beberapa sub-bab yang ada di dalam buku ini, beberapa pembahasan tersebut sebetulnya ada yang masih membuat saya bingung dan nggak paham, adapun kisah-kisah yang menurut saya aneh, dan rasanya ada yang salah, maka dari itu, kiranya saya butuh teman lain untuk berdiskusi mengenai masalah tersebut agar saya tidak berasumsi sendirian.
Terlebih tentang pemahaman mengenai pernyataan logika yang selalu diberikan oleh Gus Mut dalam menjawab setiap pertanyaan yang diberikan kepadanya.
Dan menurut saya inti dari buku ini ialah, bab terakhir mengenai keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan. (Atau karena saya suka aja dengan bab itu, ya?)
Nggak tau deh, tapi menurut saya kalau kamu ragu untuk membeli dan membaca buku ini, kamu cukup lihat saja judulnya, judulnya udah menarik gitu kok kamu nggak tertarik juga melihat isinya bagaimana?
Belajar lebih dalam tentang Islam dari kehidupan sehari-hari. Buku ini berisi kumpulan cerita pendek kehidupan Fanshuri, Mas Is, dan Gus Mut, seorang ustadz anak dari Kiai Kholil yang disegani di kampung. Cerita-ceritanya dikemas dengan santai dan penuh humor tapi pesannya tetap tersampaikan dengan baik. Dengan bentuk seperti ini, penulis berhasil menjelaskan hal-hal yang sering menjadi perdebatan tanpa terkesan menggurui. Banyak pesan yang di dapat dari buku ini, seperti contohnya saling menghargai perbedaan pendapat antar golongan umat islam selama itu tidak keluar dari ajaran yang seharusnya. Salah satu judul yang aku suka di antara banyak cerpen di dalamnya yaitu "Pondok Pesantren Memang Tempatnya Santri Nakal". Ahmad Khadafi menyebutkan bahwa tulisan-tulisannya terinspirasi dari buku "Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya karya Rusdi Mathari. Belum baca buku beliau, langsung tambahin ke daftar TBRku 😁