“Kalau bisa hidup penuh makna dan bahagia, kenapa cuma mengejar jabatan dan uang?” adalah pertanyaan mendasar Billy ketika dia berani keluar dari zona nyaman, meninggalkan kariernya yang cemerlang, dan memutuskan untuk memulai dan mengembangkan Young On Top dari nol.
Apa arti sukses menurutmu? Kaya raya? Punya jabatan tinggi? Apakah kamu yakin kalau kamu kaya raya dan punya jabatan tinggi, kamu pasti akan bahagia?
Billy, yang memutuskan untuk mulai menjalani purpose hidupnya ketika berusia 30 tahun, kini merasa hidupnya jauh lebih bermakna dan bahagia dibanding ketika dia masih fokus mengejar kesuksesan karier semata.
Di buku ini, kamu akan mendapatkan semua yang dipikirkan dan dirasakan Billy selama perjuangannya menjalani purpose hidupnya hingga merasakan hidup yang penuh berkat. Jadikanlah buku ini sebagai pemicu pandangan baru akan arti kesuksesan dan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Buku yang Billy tulis ini sangat inspiratif dan dapat menuntun kita untuk menemukan tujuan kita masing-masing dan memberikan dampak bagi dunia.” –Veronica Colondam Founder Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB)
“Buku ini memberi pemaknaan dari tujuan hidup yang seharusnya kita jalani.” –Suryopratomo Presiden Direktur Metro TV
Disclaimer: I haven't read any other books by this author.
I knew him from a friend on Twitter, suggesting me to read his book YOT (but I couldn't find that book and found his newest book on the store instead).
I don't know. I expected more, I guess? It's not like I don't like his writing (or maybe I do?), but this book failed to intrigue me. It's too self-centred and not that inspiring, imo. Some topics and sentences were repeated several times, making me like speaking “I know. You've told me that.” to an old person with Alzheimer's.
Well, overall, I don't feel satisfied reading this one. I might want to read his other books, though.
"Ketika berhasil mencapai cita-cita msaa kecil pada usia 26 tahun, ketika terpilih menjadi orang nomor satu di Oakley Indonesia, saya merasa sangat hepi dan bangga."
Billy Boen membuka buku ini tentang kisah hidupnya sendiri. Bagaimana ia, di saat pemuda lainnya masih mengalami quarter life crisis, ia malah sudah memiliki jabatan tinggi di sebuah perusahaan. Ia juga mengaku bahwa banyak orang yang ia temui hingga bahkan ingin bertemu dengannya. Pekerjaannya ketika itu adalah makan-makan enak, melakukan perjalanan dinas, dan merasakan tidur di hotel mewah tanpa menggunakan kocek sendiri. Enak sekali hidupnya.
Namun pada tulisan selanjutnya ia mengatakan bahwa berada pada posisi itu tidaklah memberikan kepuasan batin. Ia mengundurkan diri dari gemerlap korporasi dan memilih untuk mengikuti apa yang menjadi passion dan purpose hidupnya: berbagi dengan sesama.
Terdengar mulia ya? Memang
Tapi narasi selanjutnya terasa terlalu indah. Bahkan untuk seseorang yang sebetulnya perlu sebuah bacaan motivasi yang tetap realistis.
Ekspektasi saya ketika memulai buku ini adalah terdiri dari beberapa step by step dalam mendefinisikan apa itu passion dan purpose dalam hidup. Bisa jadi dalam bentuk narasi atau malah ada worksheet tersendiri (ada sih, tapi hanya sedikit). Namun ternyata, ekspektasi saya sama sekali tidak terbayarkan.
Alih-alih mendapatkan pencerahan, buku ini malah memamerkan kisah hidup si penulis. Okelah, dia didaulat menjadi seorang penulis muda, tetapi rasanya tidak perlu membesar-besarkan hal itu. Narsisme buku ini tidak hanya muncul sekali. Lebih bahkan. Dan seringkali muncul dalam bentuk penilaian diri oleh sang penulis itu sendiri. Bukan dari pihak lain (misalnya ia berani mengatakan sebagai penulis muda karena menurut MURI baru dialah yang menerbitkan buku di usia sebelum 30 tahun).
Pemberian 2 bintang terhadap buku ini bisa jadi sangat bias. Dari beberapa buku self improvement yang sudah pernah saya baca, buku ini terkesan sangat biasa. Isinya adalah kisah sukses dari penulis itu sendiri. Bagaimana ia berbagi kisah sukses kepada pembaca yang bisa jadi adalah mereka yang baru saja duduk di bangku perkuliahan. Untuk saya (atau kita) yang sebelumnya sudah pernah merasakan naik-turun "kesuksesan kecil", membaca Y ini rasanya kurang relevan.