Waktu itu Tarina datang membawa draf naskah ini, judulnya masih berbeda dengan yang versi terbit. Dia tipe penulis yang mengambil ide cerita dari orang terdekat, dikembangkan dengan cukup baik, dan jadilah sebuah cerita yang terasa sangat real, yang ketika membacanya, kita merasa seperti mendengar cerita seorang teman. Jadi, saya langsung mendengarkan penjelasan Tarin mengenai cerita terbarunya ini.
"Ini cerita temenku," katanya. "Cerita betapa frustrasinya dia punya suami yang ganteng."
"Lho?" Saya agak kaget mendengar itu. Bukannya itu kelebihan, maksudnya, sesuatu yang bisa si temannya itu bangga-banggakan di hadapan cewek lain yang nggak seberuntung dirinya. Mungkin.
"Setiap hari, dia ngelayanin inbox dan WA dari cewek-cewek yang ngakunya pacar suaminya, pernah tidur bareng suaminya, ngirim pic bareng suaminya itu dalam keadaan nggak pantes, dan hal-hal yang bikin dia pengin menggugat cerai kalau seandainya dia nggak inget anaknya yang masih batita."
Lalu berlanjutlah obrolan kami mengenai naskah dan juga temannya Tarin yang menjadi inspirasi penulisan novel ini.
"Tapi aku nggak bisa nulis sebagai si tokoh utama yang punya suami ganteng itu. Aku nggak tau gimana perasaannya, maksudnya buat benar-benar tau isi hati dan pikirannya. Ya, kan, dia curhat gitu, sampe pengin cerai tapi masih bertahan. Siapa tau dia bertahan, karena ya, suaminya ganteng. Siapa yang nggak pengin punya suami ganteng, coba? Itu kayaknya lebih masuk akal," lanjutnya.
"Gimana dengan kamu?" tanya saya, iseng. "Soal punya suami ganteng itu."
"Hei, fokus sama cerita, editor kepo!" balas Tarin.
"Jadi?"
"Jadi ... aku nulis dari sudut pandang orang lain lah, yang bisa menggambarkan perasaan si tokoh cewek itu dari permukaan, tanpa menghakimi. Jadi, kita benar-benar orang di luar lingkaran, tau tapi masih abu-abu. Ya gitulah pokoknya."
"Yah, Sherlock Holmes jadi terkesan misterius gara-gara diceritakan Watson. Fitzgerald juga milih Nick Carraway buat menceritakan sosok Gatsby."
"Tapi jangan bereskpektasi terlalu besar dulu, Tor. Ini cuma aku yang nulis, lho. Jadi, belajar menerima kekurangan dan kesederhanaan aja. Ngeditnya nanti jangan sadis-sadis. Dan satu hal, jangan terus menganggap pernikahan buruk hanya gara-gara baca kisah di novel ini."
"Penulis sok tau!" ejek saya balik, dan kira-kira seperti itulah obrolan saya dengan penulis, sebelum naskah ini masuk meja redaksi untuk diulas dan diterbitkan.
Banyak hal yang saya dapat di sini, tapi yang begitu melekat adalah quote dari si tokoh yang harusnya kita benci dalam cerita ini. "Nggak ada pernikahan yang sempurna," katanya, "Yang ada dua manusia yang selalu berkompromi." Yah, seperti, kan, hidup?
Selamat membaca