Satu lagi novel karya penulis Norwegia, Jostein Gaarder, Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng (seterusnya disebut Putri Sirkus saja), diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia menyusul tiga novel sebelumnya : Dunia Sophie, Misteri Soliter, dan Gadis Jeruk. Jika pada dua novel pertama Jostein memasukkan kandungan filsafat yang cukup kental, maka untuk Gadis Jeruk dan Putri Sirkus nyaris tanpa bumbu filsafat, sehingga, buat pembaca awam filsafat seperti saya, lebih mudah mengunyahnya.
Novel Putri Sirkus dan Penjual Dongeng ini, dari segi penceritaan mirip Gadis Jeruk : cerita berbingkai, cerita dalam cerita. Jika Gadis Jeruk hanya terdiri dari dua kisah, maka pada Putri Sirkus ini punya banyak sekali "anak cerita".
Cerita utama novel ini tentang seorang lelaki bernama Petter yang memiliki segudang cerita rekaan dalam imajinasi melimpah-ruah yang dijualnya kepada para penulis baru yang tidak tahu harus menulis apa atau penulis lama yang mengalami kebuntuan ide. Dongeng-dongeng yang dijual Petter inilah yang saya sebut sebagai "anak cerita"; menjadi semacam "bonus" di luar riwayat hidup Petter si Laba-laba itu sendiri.
Sebermula (seperti Sapardi saja) adalah saat Petter kecil yang senang berfantasi dan menulisi seluruh dinding rumahnya dengan cerita ciptaannya. Ia tak puas hanya dengan media sempit seperti buku atau kertas gambar. Dinding dan lantai jauh lebih menarik sebagai media eksperesinya. Maka, dinding-dinding rumah pun jadi sasaran, termasuk kamar orang tuanya yang berakibat pada kemarahan sang bunda.
Tadinya, Petter kecil berkhayal dan berharap, sang bunda akan membaca "cerita dindingnya" dan memberikan pujian. Namun, ternyata justru hal sebaliknya yang ia peroleh. Patahlah hatinya. Patahlah semangatnya. Sejak itu, ia bersumpah, sumpah yang benar-benar dilaksanakannya kelak, bahwa ia tak akan pernah lagi menulis. Tak akan jadi penulis.
Alhasil, daya imajinasi dan fantasi Petter yang tak terbendung itu - bahkan sampai dewasa ia punya teman khayalan setia : seorang kerdil dengan tinggi satu meter yang selalu membawa tongkat bambu - kemudian hanya dituangkannya ke dalam bentuk dongeng-dongeng yang dituturkannya secara lisan kepada orang-orang terdekatnya. Ia pendongeng yang handal. Cerita-cerita rekaannya memiliki tema beragam, plot memikat, dan ending yang mengejutkan.
Saat semakin dewasa dan kondisi keuangannya sekarat, Petter lantas memutuskan untuk menjual cerita-ceritanya kepada para penulis atau calon penulis yang memerlukannya. Tanpa diduga sebelumnya, bisnis jualan dongeng itu - Petter menyebutnya "Writer's Aid" - berkembang pesat, membuatnya kaya-raya.
Sementara itu, kehidupan sosial dan seksualnya berjalan terus. Ia mengencani banyak gadis tanpa bermaksud menikahi salah satunya. Ia bukan jenis pria yang betah bertahan membina relasi jangka panjang dengan satu wanita untuk kemudian dikawini. Baginya, cinta tak perlu berujung pada ikatan pernikahan yang akan membelenggu kebebasannya.
Tak banyak gadis yang bisa menerima jalan pikirannya itu. Kebanyakan mereka menyimpan harapan pada sebuah bentuk hubungan serius seusai berkencan. Kecuali Maria, wanita matang berusia 10 tahun lebih tua darinya. Bersama Maria Petter menemukan kecocokan dan kesamaan pandangan tentang perkawinan, meski pun mereka tak bisa terus bersatu selamanya sebab Maria memilih pergi jauh meninggalkan Petter bersama anak perempuan dari hasil percintaan mereka.
Seperti kepada hampir semua kencannya, kepada Maria pun Petter kerap kali mengisahkan dongeng-dongeng indah karangannya. Jika gadis-gadis lain tak peduli dan segera melupakan dongeng-dongeng fantastis itu, lain halnya dengan Maria. Perempuan ini menyimpannya dengan baik dalam ingatan.
Ada satu dongeng favorit Petter, yaitu tentang seorang gadis putri tunggal pemilik sirkus. Nama gadis itu Panina Manina. Saking sukanya, kisah Panina Manina ini sering diceritakan berulang-ulang termasuk pada Maria dan putrinya, Poppet. Petter tak pernah mengira, kelak dongeng putri sirkus ini akan mempertemukannya kembali dengan sepenggal masa lalu dan mengubah jalan hidupnya selanjutnya.
Jalinan kisah menarik seputar tokoh Petter dengan kecenderungan asosial menjadi semakin menarik dengan selingan cerita-cerita tambahan karya Petter. Cerita-cerita selingan itu, bisa menjadi novel tersendiri yang tak kalah menawan. Gaarder mengolahnya dengan berpanjang-panjang, terkesan mengulur-ulur cerita. Beberapa kali saya tergoda melewati beberapa bagiannya yang agak bertele-tele.
Yang paling mengerikan dari imajinasi Petter, eh maksud saya, Gaarder adalah ihwal "Writer's Aid" itu. Bayangkan, akan mengerikan sekali seandainya organisasi atau lembaga serupa "Witer's Aid" itu benar-benar ada. Barangkali ini hanya semacam sindiran halus ala Gaarder kepada para penulis mau pun calon penulis dengan modal pas-pasan. Modal di sini maksudnya tentulah gagasan-gagasan cemerlang sebuah cerita yang seharusnya dimiliki seorang penulis.
Atau bisa jadi juga "Writer's Aid" ini adalah nasihat Gaarder untuk para calon penulis agar benar-benar siap memasuki hutan belantara kepenulisan yang seringkali tidak ramah. Menjadi penulis (yang baik) itu bukan perkara mudah. Kudu punya mental kuat serta sumur ide yang seolah tak pernah kering supaya terhindar dari perbutan paling 'keji' di dunia kepenulisan : menjadi plagiat.