Aku membaca buku ini lewat electronic book yang disediakan iPusnas. I have no expectation because this book is suddenly passing my timeline, and I decided to read it. It’s only aroud 200 pages and not really long for me, aku menghabiskan semua narasinya dalam satu hari.
Buku ini berisi alur yang sedari awal sudah berkonflik dan tentu saja, bikin gereget sampai gigit jari, haha. Overall, seru, tapi aku gak suka dengan beberapa karakter di dalamnya (or all of them?) Totok, male lead character, menurutku sangat tidak tegas dalam membina perasaan dan rumah tangganya. I think we all agree kalau buku-dengan-perjodohan itu memang cukup klise. Tetapi, aku cukup kesal dengan bagaimana Totok menyelesaikan permasalahannya. Sebagai seorang lelaku yang sudah lima tahun berumah tangga, agak aneh ketika dia goyah dan banyak sekali meluangkan waktunya untuk mantan pacarnya ketimbang istrinya. I mean, aku tahu banyak kasus yang sama di dunia nyata, tapi Totok dari awal hanya tidak bisa mengenali perasaannya bahwa perlakuannya kepada mantan pacarnya hanya sebatas rasa bersalah dan ingin bertanggung jawab. Selain itu, Siska sebagai female lead character juga konyol karena secara gamblang memperbolehkan suaminya untuk menjalin hubungan dengan perempuan lain. When it comes to an end, I didn’t expect about this kind of conflict resolution. Okay, at first I was okay with the conflict, tapi aku terkejut ketika membaca penyelesaiannya, “hah, cuma begini?” Aku pikir untuk menyelesaikan permasalahan yang berbelit seperti pada buku ini, butuh lebih banyak usaha yang harus dilakukan kedua karakter. In a simple words, aku tidak puas dengan resolusi dan endingnya, karena terkesan terlalu singkat dan terburu-buru. Padahal aku menantikan momen “balas dendam” Siska terhadap mantan pacar Totok.
Sekian. Tiga bintang berarti masih worth untuk dibaca buatku. Selamat membaca.