Oka Rusmini was born in Jakarta, July 11, 1967. She lives in Denpasar, Bali. She writes poetry, novel, and short story. Her published works are Monolog Pohon (1997), Tarian Bumi (2000), Sagra (2001), Kenanga (2003), Patiwangi (2003), Warna Kita (2007), Pandora (2008), Tempurung (2010), Akar Pule (2012), Saiban (2014). Her novel Tarian Bumi has been translated into foreign languages: Erdentanz (Deutsch edition, 2007), Jordens Dans (Svenska edition, 2009), Earth Dance (English edition, 2011), and La danza della terra (Italian edition, 2015). In the year 2002, she received the Best Poetry Award from Poetry Journal. In 2003, The Language Centre, Ministry of Education of the Republic of Indonesia, gave her the Literary Appreciation Award of Literary Works for her novel Tarian Bumi. In 2012, she received the Literary Appreciation Award from the Agency of Language Development and Cultivation, Ministry of Education of the Republic of Indonesia, and the South East Asian Write Award, Bangkok, Thailand, for her novel Tempurung. Her book of poems Saiban (2014) won the national literary award, “Kusala Sastra Khatulistiwa 2013-2014”. She was invited to national and international events, such as Literary Festival Winternachten in Den Haag, Amsterdam, Netherland (2003), Singapore Writer Festival (2011), and OZ Festival, Adelaide, Australia (2013). She was also invited as guest writer in Hamburg University Germany (2003).
Oka Rusmini can be contacted at Twitter: @okarus Email : tarianbumi@yahoo.com. Facebook Page: oka rusmini
Puisinya bagus-bagus, sangat bersuara "perempuan" tapi sayang sebagai puisi newbie saya masih bingung maksud dari puisi2nya tapi melalui rasa. Saya terpukau.... Puisi ini juga sarat akan nuansa Bali, mungkin lain kali akan saya baca lagi
Buku Oka kelima yang saya baca di awal tahun ini. Sama seperti buku-bukunya yang lain, Oka seperti punya dimensi tersendiri dalam tulisannya. Puisi-puisi di dalam buku ini terasa familiar, dan ternyata memang ada beberapa yang sudah saya baca sebelumnya di bukunya yang berjudul "Patiwangi". Saya suka sekali puisi-puisi Oka. Bahkan, saya membaca ini sekali duduk dalam sehari. Mengalir begitu saja, begitu tegas bahasanya, dan dekat dengan kita 'perempuan'.
Menurut saya, dalam buku ini, Oka Rusmini sedang mencoba untuk mendobrak adat bali yang dirasa merugikan perempuan bali, melalui puisi-puisi yang dia tulis. Saya suka buku ini karena banyak kata-kata lokal bali yang bisa saya pelajari. Menambah perbendaharaan kata yang saya miliki :D