Jump to ratings and reviews
Rate this book

Anak Gembala Yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman

Rate this book
Novel Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman menuturkan kisah Rara Wilis dan Suko Djatmoko. Alurnya maju dan mundur, mencakup masa lebih dari tiga dekade, menembus dan mengaburkan batas antara realitas serta mimpi, bermain-main dalam kabar gaib serta penafsirannya, melompat-lompat di antara bahasan seks dan teologi, iman dan skeptisme, pelacur dan Tuhan, hikayat babi dan epos Mahabharata.
Lebih dari itu, novel ini diangkat dari kisah nyata. Maka benarlah, sesungguhnya kehidupan manusia sering kali lebih ganjil dari cerita fiksi mana pun.

364 pages, Paperback

First published October 1, 2019

21 people are currently reading
393 people want to read

About the author

A. Mustafa

1 book1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
90 (34%)
4 stars
118 (44%)
3 stars
44 (16%)
2 stars
9 (3%)
1 star
3 (1%)
Displaying 1 - 30 of 74 reviews
Profile Image for Ayu Ratna Angela.
215 reviews11 followers
January 8, 2020
Membaca buku yang bagus akan membuat kita terhibur, tapi membaca buku yang luar biasa akan membuat kita termenung untuk menyerap emosi dan pesan-pesan yang dibawa olehnya.
Begitulah yang saya rasakan ketika selesai membaca novel Pemenang II Sayembara Dewan Kesenian Jakarta 2018 ini.

Novel Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman menuturkan kisah yang diangkat dari kisah nyata, tentang Rara Wilis dan Suko Djatmoko. Penulis menuturkan kisah dengan alur yang maju mundur hingga akhirnya bertemu di tengah dan memberikan kejutan bagi pembaca. Bahasanya kocak tapi juga sarat dengan pesan-pesan. Cerita mengalir dengan sangat menarik sehingga sulit rasanya berhenti sebelum menyelesaikan buku yang lumayan tebal ini.

Di akhir zaman yang serba absurd, di mana semakin banyak orang yang menutup mata dan merasa paling benar, kisah segar yang menyentil ini akan sangat cocok untuk mengingatkan dan menyadarkan kita.

"Mau tahu bukan berarti setuju. Mau tahu berarti kamu belajar. Bila yang kamu terima adalah baik, ambil baiknya. Bila yang kamu terima dari seseorang adalah tidak baik, maka ajaklah dia berbicara, nasihati dia, bersabar, dan jangan membencinya. Bila kamu ragu, mintalah petunjuk Allah karena Dia-lah yang paling tahu jalan yang paling benar."
Profile Image for Marina.
2,042 reviews361 followers
February 14, 2020
** Books 17 - 2020 **

Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Challenge 2020 dan Baca Bareng Pemenang DKJ 2018

4 dari 5 bintang!


"Tapi, kenapa setelah Nabi Besar Muhammad SAW. justru Allah berhenti mengirimkan pemberi ingat? Apakah karena Allah marah kepada manusia yang semakin lama semakin rusak moralnya? Apakah dunia sekarang sudah menjadi kotor, banyak orang-orang jahatnya, sampai-sampai nabi yang tentunya suci tidak dibolehkan lagi ke dunia?" (Halaman 270)

Review lengkap menyusul ya!

Terimakasih Shira Media dan Solusi Buku!
Profile Image for Wahyu Novian.
333 reviews44 followers
July 17, 2021
Entah karena sebelumnya saya habis membaca The Wind-Up Chronicle-nya Haruki Murakami yang sangat aduhai dan bikin lemas, saya merasa buku ini datar sekali. Padahal topik yang dibahas berani sekali untuk ukuran novel di Indonesia. Mengambil topik-topik sensitif Ahmadiyah dan waria, tentang minoritas yang jarang sekali diperhatikan (sekalinya diperhatikan, kesan yang tersebar buruk semua). Juga perpaduan waktu yang loncat kesana kemari, ditambah sedikit fantasi yang bikin bingung, dan akhir yang cukup bagus. Mungkin pengaruh penjabaran yang terlalu detil sehingga beberapa terasa remeh? Atau ya itu tadi, waktunya saja yang tidak tepat.
Profile Image for Khalisha.
48 reviews1 follower
November 23, 2025
Pertama kali baca buku ini di tahun 2023, tapi memutuskan untuk berhenti dan masuk ke tumpukan DNF. Saat itu, alur cerita yang sangat maju mundur ini berhasil bikin aku bingung dan cape bacanya. Sampai aku kira buku ini mungkin bukan tipe bacaanku dan ikhlas masuk DNF. Tapi 2 tahun kemudian coba baca lagi dan wow ternyata bagus bgt!!! Buku ini ngingetin aku ke dua karya Okky Madasari, "Maryam" yang juga bahas Ahmadiyah, dan "Pasung Jiwa" yang bahas waria.

Sampai pertengahan cerita aku masih bingung kaitan cerita-cerita di buku ini, bahkan aku sempat mengira buku ini memang punya beragam plot. Tapi ternyata masuk beberapa bab terakhir jadi jelas semua deh hehehe!

Menurutku buku ini sangat berani mengangkat kisah dua minoritas di Indonesia yang sama-sama mendapatkan stigma buruk dari masyarakat. Sangat kagum dengan kisah Suko dan ternyata buku ini diangkat dari kisah nyata! Walaupun perjalanan hidup Suko cukup menyedihkan, tapi buku ini berhasil memperlihatkan bagaimana kuasa Tuhan itu baik dan ajaib sekali!!

Perjalanan Suko menemukan jati dirinya memang mendapatkan beragam siksaan dan hal-hal menyakitkan lainnya dari lingkungan sekitarnya, tapi aku salut dengan ketabahan dan keikhlasan yang ada di hatinya. Suko berhasil membuktikan kalau seburuk apapun penilaian masyarakat, masih ada Tuhan yang akan selalu melindungi.

Buku ini juga sedikit mengangkat kisah Mahabarata, sehingga orang awam sepertiku bisa sedikit paham alur cerita dari kisah tersebut. Di bagian akhir buku terdapat Glosarium yang baru aku ketahui ketika selesai baca bukunya, sebaiknya bagian tersebut diletakkan di awal saja, agar lebih bermanfaat sehingga pembaca tidak perlu berulang-kali searching makna dari suatu kata yang tidak mereka pahami. Selama membaca buku ini aku merasa jijik, ngeri, sedih, takut, dan beragam perasaan lainnya. Perasaan-perasaan tersebut membuktikan kalau buku ini memang keren dan berhasil dinikmati oleh pembacanya!! Dari buku ini aku juga jadi punya beragam kosa kata baru, karena cukup banyak kata yang kurang familiar dan mendorongku untuk mencari artinya di KBBI.
Profile Image for Ariel Seraphino.
Author 1 book52 followers
December 2, 2019
"Bukankah setiap makhluk hidup di dunia mendambakan surga, walau secuil saja, sehingga rela mengembara ke mana pun demi menemukannya?" Hal. 91.

Saya selalu suka dengan kisah fiksi yang berangkat dari kisah nyata. Hal ini membuat saya selalu ingin tahu bagaimana dan seperti apa tokoh-tokoh aslinya di dunia nyata, membanding-bandingkan juga mereka setiap kisah dan perkataan yang bisa jadi pernah ada. Dan buku ini adalah salah satu dari kisah nyata yang bukan saja dikemas dengan baik oleh penulisnya tetapi juga menawarkan suatu pemikiran yang mendalam terutama bagi saya pribadi. Saya menimbang-nimbang hal apa yang begitu kuat menjadi pesan dalam buku ini ketika akhirnya berhasil menamatkannya. Dan saya sampai pada kalimat di halaman 91 seperti tertera di atas.
Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman adalah sebuah novel getir tentang kehidupan orang-orang yang terpinggirkan, dalam hal lain saya bisa bilang bahwa mengangkat kisah ini tentu adalah keberanian tersendiri bagi penulisnya. Bayangkan tentang tokoh-tokoh yang berprofesi sebagai waria dan tokoh agama yang memilih Ahmadiyah sebagai jalan dakwah. Di Indonesia kombinasi keduanya sudah barang tentu adalah hal yang ajaib. Yang satu dianggap sampah masyarakat yang satu lagi dianggap organisasi terlarang bahkan dimusuhi oleh orang Islam sendiri. Kita diajak menyelami sisi manusiawi tokoh Rara Wilis dalam profesinya sebagai waria dengan kenyataan yang sebenarnya cukup mengagetkan pembaca di awal dengan kalimat "pada Jumat siang yang gerah di pertengahan tahun 1994, Mbok Wilis memakai sepatu tumit tinggi untuk bertemu dengan seorang nabi." Pada kalimat pembuka ini saja sebagai pembaca kita seolah dibuat takjub dan penasaran, seorang yang biasa dipanggil dengan sebutan "mbok" memakai sepatu tumit tinggi tentu adalah hal yang aneh sekaligus lucu bukan main apalagi ketika hal itu dilakukan ketika hendak bertemu seorang nabi. Ini adalah salah satu kalimat pembuka favorit saya selain kalimat pembuka dalam novel Cantik Itu Luka, dan hei, keduanya menggunakan cara yang sama sepertinya ya?
Rara Wilis yang waria menjalani hidup sehari-hari dengan nyebong alias melacurkan diri di jalanan. Tapi waria yang satu ini bukan sembarang waria karena dia adalah waria yang berpengaruh di wilayahnya. Pasar surut kehidupan Rara Wilis ditulis beriringan dengan kisah seekor babi lumpur yang menjadi alegori luar biasa dalam setiap irisan cerita. Alur cerita yang maju dan mundur ditulis sedemikian lancar dan mengalir, meski secara pribadi saya sempat memberikan jeda membaca buku ini karena merasa tidak "terikat" dengan buku-buku yang menggunakan alur seperti ini tetapi begitu masuk pertengahan buku, kita akan diajak memahami cara berpikir tokoh utama dan apa yang menjadi tujuan hidupnya kelak.
Jangan lupakan kisah tentang Pak Wo, pedagang jamu keliling yang juga seorang Ahmadiyah. Periode tahun 90an organisasi ini sudah menjadi sesuatu yang dianggap meresahkan dan tak ketinggalan tokoh kita satu ini juga mengalami periode-periode sulit tersebut. Yang semakin menjadi momok tentu saja ketika seseorang berusaha mengajarkan apa yang sudah ia pelajari dalam Ahmadiyah kepada orang banyak. Diramu dengan kesukaannya akan kisah wayang purwo membuat dakwah unik Pak Wo menjadi sesuatu yang ditolak orang-orang sekelilingnya.
Sesuatu yang sangat prinsipil seperti memilih menjadi waria dalam tokoh Rara Wilis dan mengemban dakwah Ahmadiyah pada tokoh Pak Wo diangkat ke permukaan dalam jalinan drama di mana si lemah akan dikalahkan dan yang berbeda akan disingkirkan. Kita melihat betapa negara kita belum ramah terhadap perbedaan apalagi jika menyakut agama atau pilihan hidup seperti dua tokoh kita tadi. Padahal sejatinya setiap orang tentu memiliki pandangan-pandangannya sendiri yang dipercayai dalam membentuk karakternya.
Yang menjadi daya tarik dari kisah ini adalah tentang bagaimana penemuan jati diri mampu mengantarkan seorang manusia menempuh berbagai jalan terjal dan berliku. Kita juga perlu memahami betapa kasih sayang Tuhan tak akan habis dan tak luput kepada semua makhlukNya.

"Lebih baik mati karena berusaha untuk hidup, ketimbang mati karena tidak mampu bertahan hidup." Hal. 131.

Apalagi yang cukup kuat memotivasi manusia dalam mengarungi setiap cobaan hidup selain kenyatan bahwa kita semua mengharapkan akhir yang bahagia. Betapa setiap dari kita dalam menemuo persoalan dalam hidup tentu berharap akan datangnya sebuah cahaya di ujung terowongan sana dan kita akan serta merta menghamburkan diri padanya. Baik tokoh Rara Wilis dan tokoh Pak Wo bisa jadi adalah orang-orang kecil yang terpinggirkan dari masyrakat kita yang memuja segala hal yang normal dan penuh dengan status quo. Kedua tokoh ini seolah menjadi kebalikan dari apa yang selama ini kita jumpai. Mereka adalah orang-orang yang nyata dan menemukan persoalannya sendiri setiap hari, seraya terus mengharap surgaNya kelak mereka mungkin berbelok arah, berbuat dosa lagi tetapi jalannya tetap kepadaNya.
Saya membayangkan Rara Wilis dan Pak Wo sebagai dua sosok manusia yang sama seperti kita dan memerlukan perhatian dan penghargaan yang sama jua.
Salah satu perhatian saya dalam novel ini adalah tentang betapa kaya kosakata dan bahan mentah materi sang penulis dalam meramu kisah nyata ini menjadi sebuah fiksi. Disuguhkan dengan adegan babi dan segala polahnya satu hal, mengakrabi kehidupan malam para waria ketika melacur adalah soal lainnya dan inilah yang menjadi kekuatan novel ini menggiring pembaca hingga tamat. Saya merekomendasikan buku ini sebagai bacaan penting di akhir tahun dan tentu saja sebagai bahan renungan di awal tahun nanti, sudah benarkah selama ini jalan kita menuju surgaNya?
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
245 reviews40 followers
November 18, 2019
Seperti mengulang pengalaman membaca dua novel favorit saya: Tiba sebelum Berangkatnya Faisal Oddang dan Maryamnya Okky Madasari tetapi dengan narasi yang lebih detil dan jujur. Menyenangkan sekali. Alurnya lompat-lompat, tetapi dengan mudah bisa diikuti. Satu hal lagi yang menyenangkan saya adalah setting tempatnya: kota favorit saya, Semarang.

Novel ini pastilah ditulis dengan nyali tinggi karena menggabungkan dua isu sensitif di Indonesia: LGBT dan Ahmadiyah. Apakah akan heboh? Saya yakin tidak. Beda dengan film, hanya segelintir orang yang suka sastra. Jadi, tidak akan terdeksi. Berani taruhan!

Oh iya, nilai minus dari saya adalah covernya hehe. Entah kenapa, kurang catchy. Don't judge a book by its cover, but a good cover can boost your joy of reading.
Profile Image for Satria Indra.
7 reviews3 followers
November 25, 2019
Pada awal membaca Novel ini, saya begitu menikmati cerita soal pewayangan; mengisahkan antara Pandawa v Kurawa. Namun yg istimewa dri kisah wayang dalam novel ini ternyata, ajaran Ahamadiyah juga ditautkan dengan kisah kelima Pandawa yg menjadi dasar rukun Islam.

Berlanjut ke halaman berikutnya, memasuki cerita Mbok Wilis saya dibuat sedikit bosan dengan alur cerita. Bagi saya, pd bagian ini cukup membosankan karena hanya bercerita tentang Ahmadiyah melalui tokoh Pak Wo yg kisahnya mirip dengan Novel Maryam yg ditulis Okky Madasari sebelumnya juga soal Waria yg juga dibahas dalam Pasung Jiwa.

Ntah kenapa saya yg merasa bosan dengan cerita ini, terus saja membacanya tanpa jeda. Ternyata, apa yg saya lakukan tersebut , saya menemukan sesuatu pengalaman yg baru (tentunya bagi saya) yakni antara Tokoh Pak Wo dan Mbok Wilis merupakan orang yg sama. Sebelumnya saya kira dalam novel ini terdapat dua kisah. Hahaha amaze. Tentu merupakan teknik penulisan yg bagus.

Lalu, saya rasa juri sayembara DKJ tidak salah dalam melakukan penilaian, seperti cerita yg dituturkan sangat simpel (gak banyak bahasa ndakik-ndakik yg bikin ribet), mudah dipahami. Jd saya rasa tidak ada alasan bagi saya untuk tidak memberikan 5 bintang untuk novel ini.

Tabik.
Profile Image for Tragatra.
16 reviews2 followers
February 23, 2020
[image error]
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Beruntung membaca buku pemenang ke-2 Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2018 ini tanpa baca resensi pembaca lain yang kadang mengandung beberan akhir cerita. Karena itu di sini coba saya tulis resensi tanpa bocorkan akhirannya.

Ada tiga tokoh utama dalam buku ini. Mbok Wilis si waria yang rutin “nyebong” demi dapat hidup selain juga puaskan birahinya atas lelaki. Lalu Pak Wo si penjual jamu yang pandai menyampaikan ajaran Islam. Terakhir, si Babi Lumpur yang gemar berbuat hal kotor di tempat kotor.

Menurut saya, novel ini bertema besar tentang transformasi. Mbok Willis terlahir sebagai laki-laki, tapi merubah fisik serta penampilan seperti wanita. Pak Wo adalah penjual jamu yang meracik ajaran Islam ke dalam epos Mahabharata. Babi Lumpur belajar menyadari dirinya di antara satwa-satwa lain baik yang lebih klinis atau juga bengis.

Dalam merubah diri, pastilah ada rintangan baik dalam diri maupun orang sekitar. Pada rintangan internal, ada ketidakpercayaan diri. Di rintangan eksternal, ada yang menentang mengajak perang walaupun yang ditentang hanya ingin tenang. Sang waria selalu dipandang berlumur dosa pemuas birahi, sang pengajar dituduh bertaktik untuk jebloskan orang-orang ke neraka, dan babi kotor yang ingin dijadikan bahan pangan oleh pemangsa kotor sejenisnya sendiri.

Cerita disampaikan dengan sudut pandang orang ketiga. Gaya bahasanya sederhana, dengan kebingungan kecil di sana-sini dikarenakan ada beberapa kosakata bahasa Jawa dan istilah-istilah Islam dalam bahasa Arab, yang ternyata, setelah saya rampung membacanya, dijelaskan di halaman glosarium bagian belakang buku.

Kesimpulan cerita, membacanya mungkin membuat jijik untuk menyantap babi, tapi mengingatkan kita untuk sadar ketika memandang benci kepada mereka yang pandangannya tak sesuai dengan pemikiran. Terinspirasi dari kisah nyata, penulis berhasil membumbuinya dengan fantasi yang menghormati realita. Ini adalah novel yang bikin kenyang tanpa takut gempal, pesan-pesan bahan renungan tak disampaikan dengan menonjolkan hal-hal tragis yang mencekik.

Kekurangan yang saya temukan adalah gaya penulisannya yang di beberapa titik merupakan pengulangan. Lalu beberapa kalimat dalam kurung yang menurut saya tak perlulah dikurung. Serta hal kecil lainnya yang untungnya, semua hal kecil itu tetap tak menganggu kenikmatan membaca.

Bicara tentang fisik bukunya, buku cetakan pertama dari Shira Media ini baik, dengan ukuran huruf cetak yang pas sekalipun saya pribadi lebih suka baca buku yang hurufnya sedikit lebih kecil. Dari segi tata letak, setiap bab tidak diberi penanda angka, melainkan kalimat pembuka, yang menurut saya sangat menarik. Sarannya, bagian glosarium dipindah ke bagian depan agar memudahkan orang lebih mengerti, utamanya pembaca seperti saya yang tak banyak tahu tapi takut membuka halaman belakang karena sering gatal ingin tahu akhir cerita. Atau ya, saya aja sih.

Selain isi cerita, yang terbaik adalah sampulnya, buah goresan tangan Sekar Bestari yang baru saya amati dan lebih mengerti setelah rampung membaca.
Profile Image for nuhakhr.
61 reviews2 followers
June 25, 2022
Unapologetically beautiful and thought provoking.

Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman adalah fiksi yang berangkat dari fakta; dari kisah nyata seorang mantan waria yang malih jadi lelaki tulen setelah menerima pencerahan dari arah tak terduga-duga.

Novel ini mengangkat setidaknya tiga tema besar yang masih tabu tapi bukan barang baru di dunia sastra: pelacuran, homoseksualitas, dan—coba tebak? Ahmadiyah. Terdengar tidak nyambung, tapi justru itulah yang membuatnya menarik.

Ketidaknyambungan yang pasti dirasakan pembaca di awal-awal justru memunculkan rasa penasaran, terlebih dengan pembagian alur cerita ke dalam tiga bagian yang, lagi-lagi, tampak tidak nyambung. Sepanjang membaca, aku dibuat bertanya-tanya, apakah ketiga bagian ini akan memiliki benang merah atau tidak, sebab salah satu bagian yang bercerita tentang seekor babi tampaknya metaforis belaka. Bagiku, petualangan mencari tahu keterkaitan ketiga cerita ini menjadi satu pengalaman seru yang akan selalu membekas di hati dan kepala. Sumpah, belum pernah aku menjumpai fiksi yang modelannya begini.

Soal karakternya sendiri, duh, aku jatuh cinta sama Mbok Wilis. Ketangguhannya, keteguhan hatinya, perjalanan spiritualnya, semuanya. Pun Pak Wo dengan sudut pandangnya yang menarik tentang kisah para Pandawa. Pak Wo yang selalu sabar dan sumeh meski terus-menerus mendapat perlakuan tak menyenangkan dari saudara dan tetangga karena keyakinan Ahmadiyahnya yang berbeda dengan mayoritas.

Oh iya, selain tiga tema besar yang telah disebut di atas, novel ini juga menyinggung relasi toksik yang penuh dengan perilaku abusif sehingga mungkin akan kurang nyaman buat sebagian pembaca.

Satu lagi yang kusuka: novel ini membuatku begitu sering membuka aplikasi KBBI! Banyak penggunaan istilah yang masih asing di telinga—kebanyakan berupa variasi arkaik atau bahasa daerah dari istilah-istilah yang sebebarnya familiar. Alih-alih mengganggu keasyikan membaca, buatku, ini justru seru, karena bisa sekalian nambah perbendaharaan kosa kata.

Hands down one of my 2022 best read.

P.S. Pas iseng main-main ke Instagram penulisnya, menjumpai kenyataan bahwa Pak Suko yang jadi sumber utama penulisan novel ini telah wafat. Alfatihah untuk Pak Suko.
Profile Image for Winny.
96 reviews
August 23, 2022
Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman
Karya : A Mustafa
Hal : 354

Buku ini mendapat perhatian khusus dari aku sedari awal melihat judulnya. Namun, sebenarnya aku butuh dua kali baca untuk memahami alur cerita dalam buku ini. Apa yang dibahas oleh buku ini? Apa betul ini cerita fiksi berbasis kisah nyata? Rasanya sulit dan tidak sulit untuk bisa dipercaya.
Menurut aku, yang selalu berusaha mencermati setiap kejadiannya, buku ini benar-benar di luar dugaan.

Buku ini mengisahkan mengenai seorang bernama Rara Wilis atau mbok Wilis, dalam perjalanannya menemukan jati diri yang sebenarnya, dan lebih baik. Banyak hal terjadi yang bahkan mungkin nggak bisa terbayangkan oleh aku, menariknya banyak juga hal yang dijelaskan dalam buku setebal 354 halaman ini. Meski alurnya berputar-putar dan bikin aku bingung, tapi perlu digarisbawahi bahwa buku ini sangat aku rekomendasikan.

Layaknya bawang yang mempunyai banyak lapisan, penulis memberikan pandangan yang tidak ada batasan mengenai iman dan skeptisme, seks dan jati diri, hikayat hewan dan epos Mahabarata, ketuhanan, agama, serta pelacur. Bagian yang paling aku suka, ialah ketika kisah Mahabarata diceritakan dalam buku ini, namun dalam sudut pandang agama yang mana ini menarik banget, meskipun aku tahu kisah itu nggak bisa sepenuhnya diambil secara utuh tanpa skeptis.

"Dirinya sang anak gembala yang telah terbangun dan sadar sepenuhny. Sekarang, ya siap menyongsong hidup baru di dunianya yang telah bersemi kembali halaman", hal. 340.
Profile Image for Maghfira Annisa Fajri.
41 reviews
October 6, 2020
Ada 2 topik menarik yang diangkat dalam buku ini, keduanya memiliki kesamaan dari sudut pandang publik terhadapnya, yaitu sama-sama dianggap menyimpang dari norma yang ada. Kedua topik tersebut ialah transgender dan islam golongan ahmadiyah. Sayangnya, keduanya kemudian diceritakan dengan sangat hitam putih dan subjektif, dimana transgender dianggap kotor dan penuh dosa dan tokoh transpuan musti bertaubat masuk kedalam ahmadiyah sebelum bisa dianggap sebagai 'manusia'. Hal ini bagi saya sungguh disesalkan karena orientasi seksual dan gender pada masa sekarang bukan lagi hal yang kaku dan harus diubah menuruti mayoritas publik, biarpun kesulitan dan rintangan dari tokoh transpuan mencerminkan keadaan yang dirasakan para transpuan di Indonesia yang terpaksa menjadi psk, namun transpuan dalam buku ini masih didemonisasi sedemikian rupa, saya sungguh berharap tokoh transpuan dalam cerita ini tadinya dapat menggugah opini masyarakat yg membaca karya sastra ini sehingga mereka setidaknya paham dan dapat menganggap transpuan sebagai saudara mereka juga tanpa berpikir bahwa ada yang harus disembuhkan dari diri mereka, karena sesungguhnya kami semua manusia biasa. Namun cara penceritaan yang menerangi topik ahmadiyah secara demikian rupa tidak sama dengan cara penulis menggambarkan transpuan.
Profile Image for Andris Sambung.
39 reviews3 followers
August 14, 2020
Anak Gembala membawaku ikut merasakan kehidupan seorang manusia dengan segala kepiluannya. Perjuangan lagi-lagi adalah bahan bakar keindahan yang akan diraih. Kisah tentang pak Suko dan Rara Wilis adalah kisah manusia yang utuh tanpa pretensi dan ceramah2 usang tentang manusia minoritas. Kita diberi gambaran beginilah nasib anak manusia yang terpinggirkan secara moral dan iman. Buku yang fresh menurut saya, dengan latar yang sensitif bagi sebagian orang. Syukurnya kita bisa tahu pernah ada atau bahkan masih terjadi kejadian pilu semacam itu, apalagi buku ini ditulis berdasarkan kisah nyata. Buku yang layak sekali dibaca,
Profile Image for apricot.
26 reviews1 follower
April 24, 2023
Dari awal, buku ini cuman menjanjikan beberapa hal simpel, yakni gabungan fantasi dan bildungsroman mengenai Roro Wilis dan Suko. Tapi buku ini sudah menawarkan banyak kejutan-kejutan sejak bab pertama hingga bab akhir!
Betapa sedihnya hatiku ketika tahu ternyata sang Anak Gembala kini ternyata sudah tertidur selamanya. Innalilahi wa innalilahi rojiuun, semoga ia tertidur dengan tenang dan bahagia.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Erlinda Dian  Aprilia.
41 reviews1 follower
July 8, 2020
Novel ini menceritakan kisah nyata . Menggunakan teknik etnografi. Novel ini dapat membuka mata kita untuk melihat bagaimana seorang pria yang bekerja sebagai pelacur dengan menyamar menjadi waria. Dalam novel ini dapat saya simpulkan bahwa didikan dan pengasuhan orang tua sangatlah penting. Dan lingkungan memang dapat berpengaruh terhadap perkembangan seseorang.
Profile Image for Stebby Julionatan.
Author 16 books55 followers
August 24, 2020
sebagai naskah pemenang DKJ, aku kurang puas. terutama soal Ahmadiyahnya.
Profile Image for N.  Jay.
244 reviews10 followers
January 21, 2020
Mungkin antusiasme saya berlebihan saat menyimak nama salah satu pemenang sayembara novel dkj menjelang akhir 2018, dari topik yg diangkat memang tak biasa, waria yg juga seorang Ahmadiyah. Dan mana saya tahu kalau sebetulnya sumber yg menjadi fondasi novel ini adalah cerita seseorang namun tanpa menambahkan embel-embel diangkat dari kisah nyata karena materi yg sudah diolah kembali dengan cara yg dipilih oleh penulis.

Novel diawali dengan cerita si waria dan perkenalannya dengan Ahmadiyah lalu melompat pada bab-bab masa lalu, gambaran fantasi tentang dirinya sebelum melakukan pendekatan spiritual pada hidupnya. Melompat-lompat lihai hingga memasuki paruh menjelang akhir di mana terjadi perubahan dalam cara berpikirnya.

Mengapa saya merasa berlebihan, karena mengira saya bakal merasa terpenuhi keinginan untuk mengenal sisi lain kehidupan penjaja raga ini, namun nyatanya porsinya disesuaikan. Apalagi bagian bagaimana terjadinya kisah-kisah asmara pertamanya lalu soal seksualitas, hanya segi vulgar yg terlampir (kurang penggalian saya rasa).

Dan mencoba bertahan dari satu bab ke bab lain terasa menyusahkan saat saya merasa naskah ini datar saja, kecuali bagian penutup. Mungkin saya mulai merasa bosan waktu itu meski tetap berhasil menyelesaikan pembacaannya.

Novel ini bukan semata-mata soal perjalanan hijrah, tapi lebih pada kembali mengenali diri di mana hakikatnya sisi bocah angon dalam diri itu ada meski masih tertidur dalam pencariannya. Dan bintang empat itu kurang tepat, saya hanya menyematkan 3 koma sekian.
Profile Image for Mumtaza Rizky Iswanda.
113 reviews2 followers
November 10, 2019
Gaya bercerita sangat bagus, saya menitikkan air mata saat membaca akhir ceritanya, kenapa cerita yang begitu bagus harus berakhir.

Alur waktu penulisan yang dibagi menjadi tiga cerita yang berjalan barengan disatukan dengan sangat baik, semua revelation disuguhkan pada saat yang tepat, dan secara keseluruhan cerita sangatlah solid

Terdapat beberapa penggunaan kata yang maknanya kurang cocok dengan kesebangunan kalimat maupun paragraf (terasa sedikit dipaksa untuk menjadi puitis namun tidak pada tempatnya), jadinya menghambat pembaca untuk beneran menyelam ke dalam cerita (karena bingung mau masuk melalui kalimat ringan atau puitis)

Namun pada akhirnya, saya pribadi sangat menikmati novel ini secara keseluruhan
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Matchanillaaa.
93 reviews1 follower
February 26, 2025
True story.
Bercerita tentang perjalanan hidup seorang waria dari seorang pekerja seks komersial sampai akhirnya bertaubat. Kisah Mbok Rara Wilis (nama waria) yang diceritakan sejak awal terjerumus ke dalam kehidupan gelap, sampai akhirnya terkena penyakit kelamin, lalu akhirnya kembali ke jalan yang lurus, semuanya terasa sangat menyentuh hati pembaca.

Terutama perjalanan mbok Wilis untuk sembuh dari gonore dan sifilis yang digambarkan secara detail membuat perasaan pembaca ikut miris, sedih sekaligus pasrah. Karena mau bagaimanapun itu adalah bentuk ujian yang datang karena ulahnya sendiri.

Ada beberapa topik sensitif di buku ini, diantaranya: Ahmadiyah, waria, penyakit menular. Ahmadiyah merupakan ajaran Islam yang menurutku rasanya masih subjektif karena aliran ini memang dianggap sesat oleh MUI. Namun melihat perjuangan Mbok Wilis untuk kembali ke jalan Tuhan, aku cukup bersimpati karena akhirnya mbok Wilis bisa 'kembali' meski ajaran yang dianutnya masih tabu.
Satu lagi, buku ini udah baguuus banget meskipun tanpa penambahan cerita perwayangan dan Mahabarata. Topik pewayangan justru membuat cerita jadi meleber kemana mana.
Profile Image for Fahrul Khakim.
Author 9 books98 followers
April 21, 2020
Bagus banget. Jarang novel Indonesia yang membahas dua isu yang sangat sensitif di negara kita jadi satu novel yang utuh. Klimkas-nya benar-benar nikmat. Apalagi terinspirasi dari kisah nyata.
Profile Image for Az Zahra Sabrina.
9 reviews
April 28, 2023
Wahh, ada perasaan baru yang muncul setelah menyelesaikan novel ini. Rasanya ngeri, marah, juga takjub. Topiknya yang sangat sensitif, mengangkat Ahmadiyah dan kehidupan PSK waria ditulis secara gamblang oleh A.Mustofa.
Alurnya maju mundur, melompat-lompat. Ini yang perkembangan cerita semakin menarik. Sekelibat teringat dengan gaya penulisan Eka Kurniawan yang selalu rinci membahas hal-hal yang tabu.

Yang saya suka, novel ini diangkat dari kisah nyata dan berlatar di Semarang. Tentu saja saya paham betul kawasan Simpang Lima, Taman KB (yang saat ini berubah nama menjadi Taman Indonesia Kaya), Jalan Erlangga, Gajahmada, Menteri Supeno, dan Masjid Baiturrahman. Imajinasi saya tergambar lebih jelas. Suka juga dengan dialog Rara Wilis dan Metty. Apa adanya dan jujur, saling menghormati dan menghargai sesama manusia.

Ingin sekali rasanya bisa bertemu dengan Pak Suko!!!
Profile Image for Steffie.
32 reviews2 followers
June 18, 2025
Demikianlah duka orang-orang yang termarginalkan, harus menderita dan menjerit keras terlebih dahulu sebelum bantuan datang; berbondong-bondong, bersamaan dengan euforia menolong sesama anak bangsa, tetapi kemudian banyak juga yang lantas menghilang, kehabisan energi untuk berjuang karena semangatnya hanya setengah-setengah.
Profile Image for R.A.Y.
292 reviews47 followers
January 9, 2020
Seru banget. Jenis buku yang tebal dan memang sebaiknya dibaca dalam waktu yang lama. Setelah kelar baca, rasanya ada hangover-hangover dikit, kayak nggak rela gitu berhenti baca kisah Rara Wilis dan Pak Wo. Ceritanya progresif banget meskipun alurnya nyampur-nyampur antara masa kini dan masa lampau, jadi nggak membosankan. Juga nggak akan membingungkan kalau kamu bacanya tanpa kebanyakan mikir; pokoknya ikuti aja apa yang tertulis. Entar juga bisa nggathuk-nggathukke semuanya sendiri. Menyambung-nyambungkan setiap peristiwa dan memasukakalkan mereka dengan pemahaman kita sendiri. Sebuah pengalaman membaca yang keren.
Profile Image for Rahma Fadhila.
20 reviews1 follower
April 6, 2023
Dalam buku ini, saya menemukan detail dari pandangan kehidupan seorang waria dan seorang Ahmadi. Tentang bagaimana Rara Wilis tumbuh hingga menemukan jati diri menjadi waria hingga tentang titik balik Suko Djatmoko memutuskan untuk memeluk Ahmadiyah. Rara Wilis terkadang dihantui laki-laki yang menghinanya sebagai orang yang tidak menerima kodrat sekaligus penikmat tubuhnya hingga rasa bersalahnya terhadap kedua orang tuanya yang selalu memberi perhatian kepadanya—tak seperti orang tua dengan anak waria lainnya. Rara Wilis bahkan beberapa kali harus menerima nasib sial akibat pandangan masyarakat yang menganggapnya sebagai sampah atau pembawa petaka. Suko sendiri menjadi seorang yang begitu mendalami kepercayaannya dan selalu rendah hati meskipun masyarakat di sekitarnya bahkan saudara-saudaranya tak menerima kepercayaannya. Meskipun ia memiliki kepercayaan yang berbeda dengan keluarganya, orang tuanya justru mendukungnya karena ia jauh lebih tenang dan santun ketika mendalami apa yang ia yakini.

Buku ini menyajikan beberapa penggambaran surealis fantasi tentang kehidupan Rara Wilis dan Suko serta cerita wayang. Hal-hal realistis yang cukup mendetail tentang penggambaran suasana pada novel ini juga mengalir dengan baik. Bahkan tentang keyakinan Ahmadiyah sendiri diungkapkan lebih detail sehingga yang mulanya memiliki pemahaman atau stigma yang buruk terhadap Ahmadiyah menjadi lebih empati dalam melihat apa yang orang lain percayai. Ketika membaca novel ini, kita seolah diajak untuk berdialog dengan mereka yang berbeda dengan kita. Saya cukup menikmati dialog-dialog dari berbagai sudut pandang baru dari novel ini.
Profile Image for Feby.
Author 3 books19 followers
April 19, 2024
4/5

Judul yang aneh dan terjawab di akhir cerita... Ini kisah tentang dunia malam waria, Ahmadiyah, hubungan toksik, pertobatan, persekusi dan lain sebagainya. Intinya isu-isu sensitif. Tetapi karena dibawakan dengan santai dengan gaya satir2 dan kiasan2 yg bikin saya nggak mikir terlalu banyak. Walaupun memang alurnya yang maju, mundur, melayang, turun, masuk ke dunia dongeng, begitu terus sampai akhir, ya suka-suka penulisnya aja, awalnya bikin saya bingung. Tetapi begitu saya lepasin kebingungan saya dengan hanya menikmati satu per satu bab aja, jadi tidak terlalu membingungkan dan malah sangat bisa saya nikmati.

Perjalanan membaca ini saya jalani bersama 3 (atau 4) karakter yang punya representasi mereka masing-masing: Mbok Willis, Pak Wo, Babi Lumpur, dan Suko. Dan tak disangka-sangka punya benang merah yang ternyata sesederhana itu. Endingnya pun tuntas lepas dengan pesan yang cukup kuat tentang sebuah rumah. Bacaan yang bagus untuk masa libur lebaran 2024, selesai dalam waktu 4 hari (setelah menimbun buku ini selama 5 tahun wkwkwk).
Profile Image for Gerhanala.
15 reviews
December 9, 2021
Selesai baca novelnya hari Jumat sore.
Tadi, setelah salat Jumat saya diajak makan bareng bapak-bapak di masjid. Ada Mbah Naryo, Ustaz Aziz, Pak Kayim, sampai Mas Rikun. Sambil makan pada cerita-cerita soal lahan masjid yang lagi diributin sama pemilik tanah di sampingnya. Belum tahu juga kelanjutannya gimana, mereka nggak lanjut bahas itu, mereka ketawa-ketawa aja ngobrolin rumah baru Ustaz Aziz yang ada kolam ikannya.

".... 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘔𝘢𝘴𝘫𝘪𝘥 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘤𝘪, 𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮𝘯𝘺𝘢."
(hal. 311)

Nggak ada Mbok Wilis di masjid tempat saya salat Jumat barusan. Tapi kalau anak gembala lain yang menunggu waktu bangun dan sadarnya, mungkin ada. Belum tahu juga.
Profile Image for ara.
56 reviews
March 28, 2023
Unexpectable!
Prior to middle chapter, I didn't see any specific correlation between 3 kinds point of view, besides pig's routine and wayang. After realizing they are connected to each other, omg!!

Because this fiction book is based on true story, so it became so fascinating and related to the era at which this story begin.

It's kind of influencing from an islamic group, that made me read it unconveniently.

Overall, I like the message, that we should not despair due to our sins, there is always one way that we can atone.
Profile Image for Puterica.
138 reviews21 followers
August 30, 2022
Gokiiiillll, wajar bgt jadi juara 2 Sayembara DKJ👍🏻👍🏻
Profile Image for Isma.
43 reviews2 followers
April 6, 2022
Novel setebal vi+358 halaman ini memberi pertanyaan penting bagi saya: "Jika kesesatan membuatmu menjadi orang yang lebih baik, apakah itu suatu jalan yang benar?"

Pengalaman membaca novel ini saya baca selama beberapa babak, setiap pagi sebelum saya berangkat kerja sekitar seminggu barangkali; dan satu sore penuh untuk menamatkan sisanya di bulan yang lain. Kisa Roro Wilis alias Mbok Wilis alias Suko Djatmiko alias Pak Wo, seorang waria yang telah memakan asam, pahit, dan ngelu-nya kehidupan, membuat saya terpekur sejenak. Nama Suko Djatmiko memiliki filosofi unik, yang artinya suka bekerja. Meski saya tak paham kenapa di babak yang lain dia dinamai Pak Wo.

Novel ini mengingatkan saya akan Semarang. Kampung halaman saya yang lain di mana saya pernah tinggal 1,5 tahun lamanya. Mbok Wilis mengajak saya bernostalgia di area kawasan Simpang Lima, Jalan Pemuda, dan berbagai tempat tersembunyi lain di Semarang yang digunakannya untuk nyebong bersama Mety dkk. Dikisahkan pula masa-masa saat pembangunan Mall Ciputra berdiri dan dikerjakan oleh para kuli proyek di sana. Yang ternyata kehidupan mereka tak kalah pelik. Ingatan saya yang lain juga adalah perkumpulan waria di Semarang. Suatu hari saya pernah melakukan wawancara dengan salah seorang ketuanya.

Banyak protagonis dalam novel ini yang saya bisa ambil pelajaran darinya, yaitu orangtua Mbok Wilis, Pak Tedjo dan Bu Sri. Kasih sayang dan pengorbanan mereka mau menerima dan merawat anak yang di luar umum, punya penyakit kencing nanah/raja singa tak membuat orangtua ini membuang anaknya. Dan si narator benar, meski seorang anak telah berbuat baik selama tujuh kehidupan berturut-turut, ia takkan mampu membalas orangtuanya. Sebagaimana yang tertulis dalam Sutra Bakti Seroang Anak,

"Bila ada seseorang yang mengangkat ayahnya dengan bahu kirinya dan ibunya dengan kanannya dan oleh karena beratnya menembus tulang sumsumnya sehingga tulang-tulangnya hancur menjadi debu, dan orang-orang tersebut mengelilingi Puncak Sumeru seratus ribu kalpa lamanya sehingga darah yang keluar dari kakinya membasahi pergelangan kakinya, orang tersebut belum cukup membalas kebaikan yang mendalam dari orang tuanya."

Salah satu bagian yang paling saya suka adalah laporan pertanggungjawaban penulis di halaman paling belakang. Meski saya ada firasat penulis adalah seorang Ahmadi (cmiiw)--sehingga ia sangat fasih menggiring pembaca untuk begitu memahami aliran yang dianggap menyimpang itu, latar penulis ini menurut saya penting sebagai punggung berdirinya cerita--LPJ itu semacam proses kreatif otentik bagaimana suatu karya dilahirkan. Novel yang berangkat dari kisah nyata, wawancara, dan observasi lapangan ini bisa menjadi metode yang belum banyak dikembangkan ulang oleh penulis. Atau apa boleh ini disebut novel etnografi?

Bagian mengejutkan lain adalah alur. Saya tak mengira jika Pak Wo, Mbok Wilis, mungkin juga simbolisasi babi adalah orang yang sama. Alur maju mundur ini sangat bahasa lisan sekali, karena kabanyakan orang akan sering bercerita dengan maju mundur ketika berkisah masa lalu. Di akhir-akhir novel saya cukup terhenyak, "Ternyata bisa ya dibuat seperti ini." Di samping banyaknya kosa kata menarik yang menyenangkan.
Profile Image for Muhammad Rajab Al-mukarrom.
Author 1 book28 followers
November 6, 2019
“Dituturkan dengan gaya berkisah yang rileks dan menyenangkan, dengan jelajah bentuk narasi realis dan alegoris yang bersisi-sisian. Ia cukup berhasil sebagai upaya menuju novel polifonik.” —Pertanggungjawaban Dewan Juri Sayembara Novel DKJ 2018. Dengan kata lain pembaca boleh jadi setuju pada pendapat dewan juri. Anak Gembala ditulis dengan kalimat-kalimat yang tidak rumit, pembaca dapat membacanya dengan mudah dan membayangkan adegannya dengan baik, khas gaya bercerita penulis-penulis yang lahir dan besar di pulau Jawa. Ketika membaca novel ini pembaca akan dibawa ke jalinan cerita tak biasa: protagonis yang unik, bab-bab pendek yang menjadikan kalimat pertama sebagai judul bab tersebut (atau malah sebenarnya memang tak berjudul), hingga kisah pendukung yang merupakan alegori dari kisah utamanya. Beruntungnya semua itu ditulis dengan baik. Ada hal lain yang barangkali dapat membuat pembaca kagum pada novel ini, ialah datang dari penggambaran hidup tokoh protagonis utamanya, Roro Wilis, mulai dari ia kecil hingga dewasa. Dari halaman 97 hingga 190 adalah pengalaman membaca yang mengasyikkan sekaligus memilukan. Tidak banyak novel Indonesia yang terbit untuk mengabulkan keinginan pembaca seperti: Ah, aku kepengin baca novel yang kisahnya begini, begini, dan begini, kira-kira bakal ada atau enggak, ya. Kemudian siapa sangka Anak Gembala hadir untuk menjadi salah satunya. Semoga nasib buku ini kelak kian baik. Ada sebuah tulisan/pesan dari penulis yang berbunyi: “Cintailah semua & jangan benci siapa pun”. Kita semua setuju.
Displaying 1 - 30 of 74 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.