Sejatinya hidup merupakan pertarungan yang tak ada habisnya. Sejak lahir hingga tanah meminta. Bertarung melawan kebatilan. Bertarung melawan sistem yang korup. Bertarung melawan perusakan alam. Bertarung dengan keinginan demi keinginan. Namun, pertarungan yang jauh lebih besar adalah pertarungan melawan hawa nafsu diri sendiri.
Ia yang mampu mengendalikan hawa nafsu, sejatinya akan lebih bijak dalam memaknai hidup. Sementara ia yang masih menuruti hawa nafsu, tak lebih sekadar menjadi budak nafsu yang tak berkesudahan.
Pada titik itulah kematangan berpikir seseorang dipertaruhkan. Novel Proelium mengajakmu bertualang menyelami pertarungan dan pertempuran dalam hidup.
Sejatinya hidup adalah perjalanan. Irham mengajarkan betul betapa dinamisnya hidup. Banyak hal tak terduga kemudian muncul saat berkelana. Meski ada kalanya kita berjalan jauh sebagaimana langkah membawa, sungguh banyak di sekitarmu yang ternyata sadar akan hal itu. Namun, tak semuanya mampu untuk menyampaikan kepadamu. Kadang kala kita pun tak sadar sedang berkelana tak tentu arah. Butuh nian dengan pengingat-pengingat kecil dari siapa saja yang mengutarakan isi pikirannya tentang kita.
Sepotong memori muncul, barangkali #noteed ada sebab teryakinkan Irham yang juga mengabadikan perjalanannya dalam tulisan, juga lagu. Irham, pengelana yang setia bersama gitarnya yang senang berbagi cerita di sosial media juga surat kabar.
Betapa aku sepakat dengan cukup banyak nilai-nilai yang diangkat dalam novel ini—saat orang lain betulan berkelana raganya, ada aku yang isi kepalanya senang berkelana dari timur ke barat mengelilingi semesta tanpa batas. Alur sederhana yang tak sederhana. Saat perjalanan tak berujung, menemui sahabat-sahabat saat berkelana menjadi obat bagi sang layangan putus. Sebuah perjalanan menjadi makna 'pulang' hingga sesaat setelah hakikatnya ditemui, firasatku ia betulan pulang ke sisi Tuhannya meski katanya ia hilang tersesat dalam perjalanannya di gunung.
#noteed
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku Proelium, lagi-lagi saya bisa menuntaskan membaca karya @edelwisbasah karena nyaman dan hanyut dalam alur cerita.
Saya menangkap bahwa hidup adalah perjalanan panjang dalam sebuah pencarian, yang mungkin tiada batas. Kita mungkin berjalan terlalu jauh, sampai buta akan yang ada di sekitar kita. Mencari apa? Ketenangan dan kebahagiaan, mungkin itu di antaranya.
“Kebahagiaan itu bukan dicari, Dik, tapi diciptakan. Percuma jika kita berjalan sejauh apa pun, tapi kita tidak menciptakannya.” (Hal. 77)
Kita berjalan jauh, terlalu jauh tanpa menemukan kepuasan. Ingin menjadi yang utama dan nomor satu. Berusaha melupakan yang lalu dengan sekuat tenaga. Pun, melakukan apapun agar tidak dipandang sebelah mata oleh sesama. Tetapi kadang kita lupa, melakukan itu semua untuk apa dan untuk siapa?
“Nggak penting terkenal atau nggak. Yang terpenting apakah ilmu kita bermanfaat bagi orang lain atau enggak. Percuma dong kita pintar, sukses, kaya raya, tapi cuma untuk diri sendiri. Sementara orang lain tidak merasakan sama sekali kehadiran kita di sekitar mereka.” (142)
Sejatinya, hidup adalah untuk melakukan kebaikan dan kebermanfaatan untuk diri kita dan orang lain. Karena makna hidup sendiri adalah penantian untuk kembali pulang.