Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kairos

Rate this book
“Karena ketika rasa cinta itu berakhir, berakhirlah segalanya.”

Marco
Cowok pencinta serangga yang suka membuat keonaran. Menurut Floriska, kemampuan mengumpatnya dengan bahasa Latin sangat berbeda dengan kemampuan otaknya yang hanya menguasai pelajaran biologi.

Floriska
Cewek rajin yang berprestasi sekaligus juara kelas. Menurut Marco, omelan Floriska lebih dahsyat daripada tonjokkan tangannya sendiri.

Meskipun memiliki sifat yang bertolak belakang, mereka saling menyayangi. Floriska tidak ingin jatuh cinta dengan Marco, sehingga Arga adalah satu-satunya jalan keluar agar persahabatannya dengan Marco tidak hancur.

Tapi, semudah itukah?

311 pages, Paperback

Published November 1, 2019

2 people are currently reading
19 people want to read

About the author

Macelyna Y

1 book1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (8%)
4 stars
4 (33%)
3 stars
6 (50%)
2 stars
1 (8%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 8 of 8 reviews
Profile Image for Pradnya Paramitha.
Author 19 books461 followers
October 18, 2020
Marco dan Floriska adalah sepasang sahabat yang terjebak dalam relasi yang superumit. Semacam friendzone tingkat lanjut. Sebenarnya mereka saling sayang, tapi saling denial juga dan menolak untuk bersama, terutama dari sisi Flo.

*********


Whoaaaaa, betapa susahnya diriku mencari buku ini di Goodreads. Harus scroll sampai bawaaaaaaaaaaaah baru ketemu.

Aku baca tulisan Marcelyna pertama di Storial, judulnya Kallem. Ceritanya sederhana tapi mengena, dan I superlike it! Jadi, ekspektasiku cukup tinggi ketika buku ini keluar.

Seru sih. Buku ini punya tokoh yang tak biasa. Marco, si cowok slengean pecinta serangga yang hobi maki-maki orang dengan nama latin serangga. Dan Floriska, si jenius yang bebal (?) yang punya relasi menyedihkan dengan ibunya.

Aku suka proses pembangunan ceritanya, gimana Marko punya peran besar dalam hidup Flo, yang mana selain membuat Flo jatuh cinta sekaligus ketakutan pada perasaannya itu. Tapi menurutku hubungan mereka terlalu dirumit-rumitkan. Ya wajar sih, mungkin karena mereka masih remaja. Jadi masalah percintaan ini bikin pusing banget. Kalau aku sih, lebih pusing mikirin deadline dan cicilan.

Aku juga suka persoalan antara Floriska dengan Mamanya. Relasi Floriska dengan Ibunya. Aku sempet mau nangis pas bagian Mamanya nggak datang di ultah Bio. Sayangnya, permasalahan ini nggak dijelaskan lebih detail, terutama bagian penyelesaiannya. Kayak nggak ada proses apa-apa atau penyebab apa-apa, tau-tau mamanya sadar aja.

Aku nggak suka relasi Flo dan Marko. Mungkin orang melihat mereka sweet. Tapi menurutku terlalu aneh untuk sepasang remaja, sampe tiap malam makan bareng (Flo yang masak, Marco yang cuci piring, udah kayak suami istri 3 bulan menikah aja) bahkan menjurus ke toxic, menilik gimana mereka terlalu bergantung satu sama lain dan posesipnya minta ampun. Ya walaupun di cerita ini dijelaskan kenapa mereka saling membutuhkan dan terikat begitu sih. Tapi tetap aja itu nggak sehat menurutku. Kalau aja di akhir cerita ini Marco menyerah soal rencana studinya, aku mungkin bakal kurangi satu atau dua bintang.

Satu lagi yang mengganggu. Typo-nya banyak banget! Ejaan salah, kalimat nggak lengkap, tanda baca salah, kata-kata dobel, kurang huruf, kurang tanda baca, harusnya kapital tapi ditulis kecil, kadang "napas" kadang "nafas", reflek kurang s, banyak banget! Aku biasanya nggak terlalu cerewet soal ini. Karena pasti ada aja yang kelewat mata. Tapi ini banyak banget, sampai di tahap yang menurutku nggak bisa ditolerir karena mengganggu.

Oh ya, ada satu tokoh lagi namanya Arga. Tapi aku nggak terlalu tertarik sama dia. Hahaha

Btw, Kairos itu artinya apa sih? Nanti harus googling.
Profile Image for Lelita P..
632 reviews59 followers
February 4, 2020
Saya pernah baca suatu artikel yang menyatakan bahwa kisah cinta remaja zaman sekarang jauh lebih rumit dan bikin stres daripada kisah cinta orang dewasa.

Novel ini ... merupakan salah satu pembuktiannya. :))))

Literally, sepanjang membaca novel ini dari bagian pertengahan sampai akhir I was like, "Buset dah, kenapa mereka rumit amat sih?"

Soalnya si Floriska dan Marco ini lho, padahal segalanya akan sederhana kalau mereka saling mengakui perasaan masing-masing aja dari awal dan nggak pake drama macem-macem, rahasiain ini-itu ... tapi ini malah enggak. Masalah mereka muteeeeeer aja di tempat yang sama, bikin geregetan setengah mati (terutama si Floriska sih ahahaha). Mana bawa-bawa Arga dan Safira juga, kan kasihan mereka jadi kayak pelarian doang. :)))
(Btw, saya kok nge-ship IbramXVanesa ya? xD)

Tapi secara umum saya suka sih. Tema besarnya bisa dibilang klise banget yah--"sahabat jadi cinta"--tapi saya sukaaa banget pengemasannya. Saya suka penguraian hubungan Marco dan Floriska dari awal, dan chemistry di antara mereka ini merupakan salah satu chemistry terbaik antarpasangan tokoh utama yang pernah saya baca di novel remaja. Menurut saya karakterisasi keduanya kuat banget--mulai dari latar belakang (masalah keluarga) yang menyebabkan mereka memiliki karakter seperti itu, sifat dan kelakuan mereka sehari-hari, bagaimana cara mereka berdua memperlakukan satu sama lain yang berbeda dengan cara mereka memperlakukan orang lain (jadi kelihatan betapa dalamnya hubungan mereka dan betapa mereka memandang satu sama lain tuh istimewa). Mbak Marcelyna berhasil mempertahankan karakterisasi Flo dan Marco secara konsisten dari awal sampai akhir, dan saya angkat topi. Saya sangat menikmati perjalanan mereka berdua dengan segala tarik ulurnya yang bikin geregetan itu--Floriska sih, bebalnya ampun-ampunan. :))))

Yang saya sukai lagi dari novel ini adalah ciri khas tokoh-tokohnya yang unik dan antimainstream (kapan lagi nemu cowok pecinta serangga dan cewek penggila belajar?), juga adegan sehari-harinya yang terasa sangat sehari-hari. Gimana ya ... susah menggambarkannya. Yang jelas saya belum pernah baca teenlit bercitarasa seperti ini. Malahan rasanya nggak kayak baca teenlit--melainkan kayak nonton sinetron superpanjang yang bikin geregetan sendiri tapi karena penasaran akhirnya tetap dipantengin sampai akhir.
(Udah berapa kali saya menyebut kata 'geregetan' coba?)

Cuma ya karena terlalu banyak tarik ulur, novel ini jadi putdownable karena alurnya tidak cepat. Tensinya baru meningkat sekitar seperempat halaman terakhir menjelang buku habis. Oya, saya sempat bertanya-tanya sendiri soal ini. Makanya saya jadi baru benar-benar semangat membaca ya menjelang akhir itu.


Saya suka gaya bahasa novel ini, yang nggak cheesy seperti teenlit kebanyakan. Suka juga muatan bergizinya--bagaimanapun, meski genre utamanya romansa, unsur family juga kental banget di sini, dan saya selalu suka membaca tokoh remaja dengan latar belakang keluarga yang nggak "normal". :))) Dan oh--tentu saja saya dapat banyak pengetahuan baru soal serangga, haha.

Sayangnya masih cukup banyak kesalahan "tidak adanya titik di akhir kalimat". Beberapa kali saya temukan seperti itu. Satu-dua sih nggak apa-apa, tapi di novel ini cukup banyak ada yang seperti itu dan yah lama-lama gatel juga ngeliatnya, haha.
Oya, terus saya juga agak terganggu dengan Safira yang dikenalkan-dikenalkan lagi di halaman-halaman belakang, padahal menurut saya sudah cukup dikenalkan satu kali saja ketika dia muncul untuk pertama kalinya. Kita inget kok dia siapa, anak kelas sebelas yang ngefans sama Marco. Tapi di halaman-halaman selanjutnya, pada kemunculan dia berikutnya, si Safira ini semacam diperkenalkan lagi ke pembaca.

Terus ... ini bias pribadi sih. Saya suka penokohan karakter-karakter di sini kecuali satu: Mbak Alma. Jujur saya paling susah menerima penokohan pustakawan yang buruk--bawaan alami sebagai Sarjana Ilmu Perpustakaan, apalagi saya pernah menulis semacam esai soal representasi penokohan pustakawan dalam budaya populer. Memang sih di novel saya sendiri tokoh pustakawannya juga bukan orang suci, tapi Mbak Alma ini keterlaluan parahnya, dan saya kecewa. :(
Tapi sekali lagi, ini bias pribadi saja.

Overall, Kairos ini salah satu teenlit yang sangat bagus, intens, mendalam karakterisasinya, dengan gaya penulisan yang cukup segar dan pembangunan chemistry kedua tokoh utama yang sangat baik ... plus bikin meleleh juga haha. Si Marco manis banget sih minta digigit. xD
Profile Image for Autmn Reader.
883 reviews92 followers
February 20, 2021
Uwow uwow, endingnya menyelamatkan, sih. Kayaknya kalau nggak ginimah aku bakalan tambah kerut-kerut kening, wkwk.

Aku nggak tahu apa aku emang udah nggak cocok baca cerita teenlit atau gimana, tapi rasanya kalau ngebayangin anak SMA bertingkah kek bgini tuh kek gimanaaaa gitu, ya. Pikiranku langsung auto mikir "Yaelah bocil. Pikirin sekolah sana."

Terus aku lupa, nggak sedikit anak2 yang beres SMA itu ya menikah, jadi ku mikir lagi, "Oh, mungkin emang mereka udah lebih dewasa pemikirannya daripada aku pas zaman SMA." Make me feel better-lah.

•Pros•

Ini buku ada kocak2nya. Aku suka banget sama hubungan Marko-Bio. Brother ship goal bangetlah menurutku. Bahkan, scene paling sedih itu ya pas Bio marah ke Flo gara-gara sesuatu. Kek sedih menyayat hati banget.

Marko-nya juga comic relief banget. Omongan-omongan dia beberapa bikin ngakak, aslinya, haha. Aku juga suka dia itu karena dia passionate gitu lho sama serangga.

•Cons•

Ini bukan masalah di cerita, tapi teknis. Asli bung, typo-nya banyak banget. Aku bukan tipe peduli tipo di buku, tapi ini ke notice banget cuy. Kayak enggak dieditin. Masa typo-nya ada yang nambah huruf 'p.' setelah kata apa gitu aku lupa. Aku langsung, "Hah? Asli nih? Enggak diedit apa gimana? Kok bisa ada typo gitu?" terus juga ada padanan kalimat yang nggak enak banget.

Kenapa tiba-tiba Marco bersikap itu seperti padanya. -Hal. 196


Kek, why? Why kayak gitu? Why?

Terus banyak kata yang double. Kek misal kata 'ada' dua kali. Banyak yang kayak gitu.

Terus, mari lanjut ke isi cerita. Gimana ya, aku nggak paham kenapa mama-nya ini nggak jelas banget? Maksudku, ya emang ada tersirat dia kek liatin Flo nangis, tapi ya masa gitu doang langsung berubah? Feel-nya nggak dapet dan jadinya rada kentang gitu, tah. Aturan ada ngobrol dari hati ke hati dulu atau gimana gitu, kan.

Terus ini Flo-nya aduuuh neng, kamu nggak bisa jdiin orang lain pelampiasan gitu dong. Ya tapi Arga-nya juga sih yang apa banget.

Terus ini Marko kenapa posesif banget seeeeeh. Aduh Kang, yakin ini kamu nggak bakalan jadi cowok ekstrim, kan? Ngeri bat kamu Kang, ngeri.

Tapi yasudahlah, ya. Semoga yang begini cuman ada di novel aja gitu tah, wkwk.
Profile Image for Jessica.
1,219 reviews40 followers
September 3, 2021
if only this book is not a teenlit, I think i'd give it a 3 stars. why?
1. gaya bahasa para karakternya yang notabene anak SMA, terlalu kaku. sekaku apapun orangnya (kayak Floriska), ga mungkin dia ga menggunakan gaya bahasa luwes anak2 seumurannya. terkadang, karakter Arga yang ngomong bahasa luwes juga kecolongan jadi bahasa kaku kayak Flo dan Marco yang kesannya jadi dangdut menurut saya. dangdut dan ya emang ciri khas gaya bahasa penulis wattpad romance.

2. adegan ciuman Flo dan Marco di akhir is kinda out of place for me. kenapa ya, saya masih melihat mereka sebagai anak-anak. 17 tahun tuh belum dewasa banget menurut saya. or maybe it's just me (been single since forever lol). seingat saya pun, novel2 teenlit di jaman saya ga pake adegan ciuman sih. apa saya yang lupa aja ya.

juga, menurut saya, latar belakang Flo tuh rumit, dibikin rumit sih tepatnya, padahal gampang dan bisa dijelasin di awal. bilang aja klo mama papanya tuh berantem karena papanya selingkuh. she knows it, bahkan di akhir cerita dia pun tau dan menjelaskan, tapi kenapa ga dari awal, yg bikin tingkah laku mamanya jadi tak terjelaskan begitu menurut saya dan sakit hatinya Flo yang seakan2 udah di set up buat dia sakit hati aja gitu sama mamanya yang jaga jarak begitu. and I think it would be cool kalo mamanya juga diberi kesempatan untuk menjelaskan diri kenapa dia begitu dingin sama Flo di akhir cerita (because they got closure at the ending but without explanation, only Flo saying "gila bukan?")

kesian si Arga, haha, cuma jadi ban serep doang. well, at least he did his best to get Flo's attention.

tbh, gaya bercerita di buku ini juga kayak novel2 romance wattpad yang aku baca, jadi ga berasa luwes macem teenlit. mungkin ini juga gaya khas si penulis ya, i don't know. i bought this book because the summary is really interesting, tema pecinta serangga kan jarang ada dan uniknya ada banyak nama2 ilmiah serangga yang bertebaran di buku ini.
Profile Image for Nadiatus Sufla.
18 reviews
March 10, 2022
Marco suka berantem, Floriska suka baca buku.
Bad boy dan Kutu buku.
Salah satu jenis couple yang sempat membelah lautan perwattpadan.

Sudah lama sejak terakhir kali aku membaca buku tentang persahabatan dan percintaan masa SMA yang penuh lika-liku dan kebimbangan yang kelihatan rumit, padahal tidak juga. Kairos membawaku kembali ke masa-masa kegemaranku pada cerita sejenis ini pada masanya, duluu. Aduh, aku udah kayak orang tua nggak sih? Pas SMP, aku sering baca cerita anak SMA. Nah sekarang, saat aku udah SMA (bahkan hampir lulus sebentar lagi) malah suka baca cerita anak kuliahan atau dunia kerja. Hmm, selera kita mungkin memang akan berputar seperti roda pada waktu-waktu tertentu.

Sifat-sifat labil khas remaja para karakternya juga sangat bagus, membuat kesal dan sebal, artinya sang author menulis dengan baik hingga rasa sebalnya sangat terasa, wkwk.

Misalnya, sifat Marco yang mudah emosi dengan siapa pun, tapi akan berubah lunak seperti jeli pada Floriska.

Lalu, Floriska si kutu buku yang tidak peka dengan sekitarnya.

Adalagi yang namanya Arga, kapten futsal yang langganan olimpiade Nasional.

Overall cukup menarik, pembaca dibuat mudah memahami konflik dan perasaan para tokoh, tidak terlalu berbelit-belit dan ramah untuk berbagai kalangan usia.

Ah, tindakan Marco memang kadang membuat tertawa, terima kasih Kak Marcelyna, aku suka Marco dan segala ilmu serangga miliknya.

My Rate: 3.7/5 ⭐
Profile Image for Laven.
347 reviews15 followers
January 22, 2022
Sepanjang baca buku ini jujur aja aku sebal karena masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan cepat, tidak dilakukan dengan efisien dan berujung pada penyelesaian yang rumit. Apa karena mereka masih anak SMA ya, hemm tapi untuk anak SMA yang masih sibuk olimpiade, memikirkan masuk PTN atau lanjut keluar ke luar negeri, aku sendiri merasa pola pikir mereka terasa jauh lebih dewasa.

True, aku mengakui bahwa Marco sedikit terlalu posesif dan merasa hubungan antara Marco dan Flo menjurus ke toxic meski telah dijelaskan seberapa ketergantungan mereka satu sama lain. Tapi aku juga masih tidak mengerti dengan jalan fikir dari Flo, dan juga Arga. Oh My Gosh, are you guys dumb or what? Sampai akhir aku sendiri merasa beberapa hal masih terasa mengganjal, ada beberapa hal yang masih dibiarkan menggantung begitu saja tanpa penyelesaian.

Warning! Typo bertebaran dimana-mana.
Profile Image for Greenshe.
78 reviews2 followers
July 1, 2021
보통이지만 괜찮아요

Covernya lucu, karakter-karakternya juga oke. Tapi secara pribadi aku merasa konfliknya kurang greget. Honestly i can guess the plot from the beginning.. too predictable. But overall it's okay, i love the characters, Marco who has a particular dreams of being seorang peneliti serangga. He's unique. Tapi keunikannya kurang dikeruk lagi untuk memantapkan konflik.

Ceritanya simpel, mungkin aku baca ini juga di waktu yang kurang tepat kali ya, jadi kurang merasa tersentuh atau tergugah sama ceritanya. Jadi 3 stars~
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Jefri S.
85 reviews2 followers
December 22, 2024
Sebagai buku yang berhasil menghilangkan reading slump saya selama ini, buku yang ringan dibaca.

Berkisah tentang dua sahabat, Marco dan Floriska yang dulu dipertemukan dengan nasib yang hampir sama. Mulai dari situ berkembanglah kisah mereka tentang percintaan.
Displaying 1 - 8 of 8 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.