Setelah lolos dari maut dalam perburuan Kitab Ibnu Silat Kupu-Kupu Hitam ke kota mistik Shambala, pendekar tanpa nama meneruskan perjalanan ke Chang'an, ibukota Negeri Atap Langit berpenduduk dua juta manusia dari segala bangsa, menyusuri jejak harimau Perang, tersangka pembunuh Amrita kekasihnya.
Seno Gumira Ajidarma is a writer, photographer, and also a film critic. He writes short stories, novel, even comic book.
He has won numerous national and regional awards as a short-story writer. Also a journalist, he serves as editor of the popular weekly illustrated magazine Jakarta-Jakarta. His piece in this issue is an excerpt from his novel "Jazz, Parfum dan Insiden", published by Yayasan Bentang Budaya in 1996.
Buset, pas mengecek di Goodreads, buku bantal volume II-nya ternyata kubaca pada... bulan Februari 2011! Hampir 9 tahun lalu!
Kalau sudah begini jadi diingatkan kembali betapa bermanfaatnya Goodreads buatku untuk menelusuri bacaanku dan kapan aku membacanya bertahun-tahun yang lalu. Thank you, Goodreads!
Dan aku juga jadi diingatkan kalau pertama bergabung di Goodreads pada Oktober 2008, sudah lebih dari 11 tahun!
N.B. And you know what... cerita ini masih bersambung!!! Kapan buku IV-nya terbit???
Setelah menamatkan Nagabumi II, sebetulnya aku mulai gelisah tentang kelanjutan Pendekar Tanpa Nama, sebab di akhir cerita masih terdapat tulisan “bersambung”. Lantas, aku mencoba untuk menyusuri sepanjang pesisir utara Jawa, lalu menyeberang ke daerah Champa, tapi tak terendus juga bayangan Pendekar Tanpa Nama. Aku berbingung ria karena tidak bisa bertanya tentang seseorang yang aku cari, sebab memang tanpa nama.
Nagabumi III ini adalah oase di Gurun Gobi. Sempat tahu sih kelanjutan cerita Pendekar Tanpa Nama sebagai cerita bersambung di Jawa Pos. Lantas, aku tinggal berharap kepada penerbit yang terhormat untuk melanjutkan kisah Pendekar Tanpa Nama menjadi buku. Setelah sekian purnama, akhirnya Pendekar Tanpa Nama kembali terlahir di Tiongkok, bukan di Celah Kledung.
Bagaimanapun juga jilid ketiga ini meneruskan perjalanan dari Pendekar Tanpa Nama. Setidaknya menurutku ada tiga plot besar di jilid ketiga ini: pertama, Mahaguru Kupu-Kupu; kedua, Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang; dan ketiga, Chang’an. Meskipun kemudian untuk alur yang berada di Kota Chang’an memiliki plot alur yang bercabang tersendiri. Secara garis besar, novel ini lebih ke alur maju meskipun ada beberapa plot yang mundur ke beberapa waktu sebelumnya tapi itu tidak banyak.
Penokohan cukup sentral dengan keberadaan tokoh utama sejak jilid pertama yaitu Pendekar Tanpa Nama. Tokoh antagonis dan protagonist dalam novel yang cukup tebal ini dapat dihitung jari. Penulis memang cenderung lihai memainkan kata daripada menambah banyak tokoh. Ada cita rasa Game of Throne dengan tokoh-tokoh yang berganti karena meninggal.
Selain filsafat, di jilid ketiga ini cenderung menampilkan sisi vulgar dari politik. Terutama untuk plot cerita di Kota Chang’an, yang memang menjadi subjudul dalam Nagabumi jilid kali ini. Mulai dari Harimau Perang, jaringan mata-mata dan Maharaja Bayangan. Filsafat yang cenderung ditekankan pada jilid ini adalah “kerahasiaan”.
Bagi penggemar drama Wuxia, sangat dapat beradaptasi dan memungkinkan berandai-andai dengan imajinasi yang liar. Bahasa yang digunakan penulis cukup rumit tapi sangat menarik, tidak membosankan, sangat sastrawi. Terdapat beberapa quote dari pepatah kuno yang dikutip oleh penulis. Indah nian.
Meskipun lebih dari seribu halaman, namun tak kutemukan jemu. Rasanya tidak sabar menunggu cerita selanjutnya Pendekar Tanpa Nama. Mungkin jilid terakhir dari Nagabumi, karena menurutku ada beberapa alasan. Pertama, kemungkinan perjalanan ke barat setelah Chang’an akan menyelesaikan yang menjadi persoalan Pendekar Tanpa Nama. Kedua, dalam alur majunya di Jawa – setelah petualangan di luar Jawa – sudah mulai menampakkan alur pungkasan dengan kembalinya ke Celah Kledung.
Ah, buku ini terlalu panjang untuk diulas. Salah-salah justru jadi cerita sendiri nantinya. Sangat-sangat untuk direkomendasikan bagi pecinta cerita silat, filsafat dan sejarah. Zzuper tenan pokok e!
Pembaca yang budiman, Setelah dengan lambat, sangat lambat, dan bahkan tiada yang lebih lambat dalam merampungkan jilid terakhir (untuk saat ini) dari biografi Pendekar Tanpa Nama asal Javadvipa ini, agaknya membuat saya lebih dari cukup berharap agar si penulis yang terhormat, Seno Gumira Ajidarma, untuk mengeluarkan jilid keempatnya.