“Love gives you wings. It makes you fly. I don’t even call it love. I call it Geronimo.”
(Jerry Fletcher – Conspiracy Theory)
Tara Solange dan Maxwell Ravindra terikat oleh pertemuan dan pertemanan yang unik. Sejak awal mereka tahu jika terhubung oleh satu kisah masa lampau yang tak indah untuk dikenang. Hubungan keduanya rumit. Mungkin seperti rahasia makam Putri Dai atau Tutankhamum. Namun, atas nama cinta yang meluap-luap, segala rintangan berubah menjadi debu. Tak ada yang mustahil untuk diatasi. Termasuk godaan orang ketiga atau restu keluarga yang tidak sepenuhnya turun. Akan tetapi, ketika kecemburuan membaur dengan kesalahpahaman, masih diimbuhi dengan kekelaman masa lalu yang sulit untuk dimaklumi, semua menjadi lebih kusut. Tara pernah berbuat salah. Maxwell pun tak kalah berdosanya. Mungkinkah ada jalan kembali?
“Aku nggak kenal istilah ‘cinta tak harus memiliki’. Bullshit itu.”
(Tara Solange)
“Saya nggak yakin bisa nemuin orang kayak Tara di masa depan. Mungkin terdengar gombal dan emosional, tapi buat saya Tara adalah soulmate. Belahan jiwa saya.”
Indah Hanaco penyuka novel-novel historical romance. Tergila-gila pada segala hal yang berbau tahun 90-an. Juga sederet serial kriminal dan film-film romance. Mendadak mellow hanya karena gerimis. Kolektor majalah dan buku-buku resep yang jarang dimanfaatkan.
Fans sejati Michael Schumacher yang memilih berhenti menonton balapana Formula Satu begitu sang idola pensiun. Tidak bisa lepas dari kopi meski sangat tidak menyukai kopi.
Indah Hanaco pernah bekerja kantoran, tetapi benar-benar merasa menemukan "dunia" saat menjadi penulis. Cita-cita saat ini adalah pindah dan menetap di Yogyakarta, keliling Eropa serta menghabiskan sisa hidup untuk menulis.
Indah Hanaco telah menerbitkan 23 novel, beberapa buku anak dan parenting. Indah Hanaco juga menulis novel dengan pseudonym Aimee Karenina.
Mungkin review ini bertaburan spoiler. Jangan lanjut membaca kalau nggak mau kena spoiler. Sudah saya peringatkan lho ya...
Saya suka dengan profesi arkeolog yang diangkat dalam Job Series #2 ini. Dan penjelasan tentang situs-situs yang dikerjakan oleh Maxwell mengambil porsi lumayan. Yang suka sejarah, pasti senang membaca bagian dari novel ini. Soal arkeolog dan situs-situs itu mendapat satu bintang khusus dari saya. Sayangnya profesi party planner tidak mendapat porsi yang sama.
Baca ini agak lama karena tebal. Seru tapi aku kurang begitu tertarik sama bagian kisah arkeolog. Dasarnya akunya ajah kali ya nggak terlalu minat. Kisah Tara dan Max ini naik turun. Banyak rintangan buat mereka. Aku suka interaksi mereka. Bahkan masa lalu Max nggak terduga. Pengemasannya bagus. Cuma mungkin ya terlalu lama penyelesaiannya jadi sedikit bosan 🙈 overall bagus dan manis
Fyuhh, selesai juga trilogi Job Series ini. Menurut saya pekerjaan dari tokoh di novel ini sih yang paling mantul dibanding 2 yang lain. Arkeolog booo. Keren aja gitu, apalagi dengan rentetan penjelasan yang menurut saya oke banget.
Yah.. walaupun panjangnya kaya kareta dan narasinya mirip laporan ilmiah, tapi okelah wkkw. Jujur, saya baca ini pake mode sekip-sekip karena emang narasinya puanjang dan buanyak bangettt. Cape bacanya. Padahal konflik cerita bisa langsung to the poin tapi penjelasannya dibuat bertele-tele.
Mungkin hal itu juga ya yang buat sebagian pembaca jadi bosan karena narasinya jauh lebih panjang dibanding dialognya. Bayangkan hanya untuk menjelaskan kata cemburu aja harus membaca rangkuman mumi-mumi di dia dunia duluu.
Geronimo bercerita tentang Maxwell seorang arkeolog yang dihianati kekasih dan sahabatnya. Selang 3 tahun setelah peristiwa menyakitkan itu, ia bertemu dengan Tara, seorang plant planner di sebuah resor di Lombok. Berawal dari saling cerita mengenai pekerjaan, merekapun jadi dekat. Tara sangat menyukai Max begitupun sebaliknya. Namun apakah perasaan mereka bisa bersatu jika sahabat Max yang berhianat dan berselingkuh dengan kekasihnya itu adalah kakak Tara? Belum lagi ada seorang klien yang memutuskan batal menikah karena jatuh cinta dengan Tara. Seolah belum cukup, Max memiliki sebuah rahasia kelam yang rasanya tidak dapat diterima oleh Tara.
Mungkin pribahasa dunia selebar daun kemangi lebih cocok untuk novel kali ini, karena ya masalahnya muter-muter di orang terdekat, kaya efek domino. Ini saya mau spoiler dikit ya gaess gimana lingkaran setan ini bermula.
- Max memiliki kekasih bernama Sheva. Tapi Sheva berselingkuh dengan Jacob, kakak Tara. Saat akhirnya Max dekat dengan Tara, Tara justru dikejar-kejar oleh seorang klien bernama Noah. - Lalu selain Noah, Tara juga memiliki klien bernama Amanda. Yang ternyata menjadi selingkuhan Jacob. Dan Sheva yang kesal mencoba kembali dengan Max.
- Terakhir ada Kishi, adik Max yang diam-diam naksir berat Noah.
Daun kelor mah kegedean ya buat kerumitan drama mereka. Daun kemangi aja udah cukup wkwk.
Sebenarnya drama dari semua tokohnya menarik, cuma apa ya... ada beberapa problem yang menurut saya menye-menye banget. Misalnya saat Tara memergoki Max dan Sheva selingkuh. Tara seorang gadis yang selalu rasional, mengutamakan logika, objektif, santai dan blak-blakan tiba-tiba berubah kaya bocah SMP saat melihat Sheva di apartment Max. Dia marah, emosi tak terkendali. Padahal Max dengan sangat jelas menjelaskan kejadianya secara runtut beserta problem slovenya seperti cek CCTV . Tapi seolah watak rasionalnya hilang ia bersikap apatis dan egois. Cemburu buta dan ngambek ala remaja tantrum. Padahal fakta udah didepan mata. Mulai dari penjelasan Jacob tentang kunci apartment hingga CCTV tapi dia tetep aja dia marah nggak jelas dan memutuskan hubungan dengan Max selama berbulan-bulan. Jujur sih, ini konflik kekanak-kanakanan banget untuk novel tokoh dewasa begini.
Atau problem antara Noah dan Tara yang membuat saya bertanya-tanya "fungsinya buat apa??" Menguji kesetiaan Tara? Lah ngaruh aja engga kok. Menurut saya penambahan kisah Noah yang naksir Tara itu nggak perlu banget. Karena nggak ngaruh blas di konflik antara Tara-Max. Jadi seandainya kisah mereka dibuang, cerita masih baik-baik aja. Lagian alasan Noah suka sama Tara aja nggak jelas kok. Jadi Noah itu kaya tokoh tempelan doang yang kebetulan aja ditaksir Kishi.
Padahal narasi udah panjang begini yah tapi masih ada plot holenya. Kadang saya kesel, udah baca banyak, cape tapi kok tetep nggak dijabarin nasib tokoh-tokoh yang lain kaya Jacob dan Sheva, malah sibuk bahas dunia arkeolog kaya skripsi. Untung aja nggak DNF.
Dan hal yang bikin saya kesel ke-2 adalah kilas balik waktu disini tuh nggak jelassss. Udah baca bab sekian tentang ABCD yang saya fikir udah selesai ehhh begitu baca bab selanjutnya yang mana udah panjang, cape pula ternyata cuma bahas kilas kejadian A yang udah berlalu donggg. Kan bikin kesel ya. Terus ada beberapa hal yang nggak sinkron juga, contohnya di hal. 274, dihalaman tersebut dikatakan bahwa Max hari itu tak ada jadwal mengajar tapi di hal. 275 justru dikatakan Max masih punya waktu 2 jam sebelum jam mengajarnya tiba.
Yah walaupun secara keseluruhan novel ini bisa dibilang OK sih. Narasinya enak, udah pasti. Kayaknya nama Indah Hanaco udah wara-wiri di dunia pernovelan sejak lama deh. Tapi saya baru berkesempatan baca karya pertama beliau yang ini.
Terakhir saya suka banget kemistri antara Tara dan Max pas diawal. Bikin blushing-blushing banget! Apalagi moment "perasaan yang berbahaya" wkwkwk. Tapi makin kesini sayangnya makin hambar, mungkin karena udah ada di fase saling menerima kali ya jadi nggak seatraktif saat PDKT. Tapi saya tetep suka sih, karena mereka mulai dewasa pikiranya.
Oh iya saya baru 'ngeh kalau setiap tokoh disini tuh dikasih problem masing-masing. Termasuk Helga wk
NB : Saya kasih big applouse buat mbak Indah atas semua pembahasan tentang dunia Arkeolognya. Keren banget! Terlepas dari saya ngomel-ngomel karena kepanjangan lah, cape bacanya lah tapi saya bener-bener apresiasi karena beliau pasti berusaha keras buat cari risetnya. Good job!!
Actual rate 3,5/5 Why why? Despite romancenya yang agak mainstream, Saya suka banget sama historical-thingy yang diceritakan didalemnya. Semacam nambah ilmu aka pengetahuan baru soal dunia, ngga melulu cinta-cintaan doang.
Khas mba Indah Hanaco ya, meskipun masuk ke #JobSeries tapiko saya malah ngga nangkep feelingnya ya. Ini malah kaya pas baca #AroundTheWorldWithLove gitu. Bedanya biasanya setting di LN ini 80% di Indo. Kalo cerita jobseries2 itu sik biasanya kan sekantor apa selingkup gitu, but not a big prolem karena ceritanya tetep menarique.
Si Arkeolog dan si Mahasiswi/PartyPlanner. Agak ga nyambung kan? Tapi semesta punya caranya sendiri kalau mau mempersatukan cinta. How did they met? Tara si Party Planner kudu terbang ke Lombok buat nemenin clientnya yang bakalan bridal shower disono, nah disaat yang sama, pasca kejadian 3tahun lalu yang menyebabkan doi batal ngelamar cewenya dan ogah balik ke Indo, Maxwell si Arkeolog dipaksa adeknya buat liburan disana. Karena nginep di resort yang sama disanalah mereka bertemu.
Max bukan orang yang banyak omong, tapi setelah beberapa kesempatan ngobrol sama Tara yang kelewat antusias banget dengerin Max cerita soal kerjaannya bikin Max nyaman ama Tara. Nggak lama, setelah pada balik ke Jakarta mereka akhirnya jadian, ngga semulus itu juga prosesnya gaes. Penyebab gagalnya hubungan Max dan simantan pacar nggak lain si Kakak sulung Tara, Jacob. Doi ketahuan selingkuh sama eksnya si Max, padahal si Jac ini sahabat Max dari jaman sekolah, oh my. Jac yang tahu kalau adeknya pacaran sama Max ngga terima dan berusaha bikin Tara sama Max putus. Doi ngira Max cuma manfaatin Tara buat bales dendam soal kejadian 3 tahun lalu tsb. Nah disini bagusnya si Tara ini meski masih bocah tapi mayan dewasa uga, doi ga masalahin soal masa lalu Max sama Kakak dan calon Kakak iparnya, karena dia tahu yang salah siapa.
Pas pacaran pun Tara-Max penuh cobaan, baru jalan sekian bulan harus ada drama lagi. Kali ini cemburu membabi buta, duh. Max emang pernah ngasih kunci apart-nya ke temen-temen dan si mantan yang skrg dah resmi jadi isteri Jac. Jadi ceritanya si Jac ini baru kawin sekian bulan tapi udah selingkuh aja—udah ada di DNAnya si Jac kali ya—nah sang isteri, which ku lupa namanya—yang sama gilanya sama Jac ini bikin semacam trap gitu, doi dateng ke apart Max pake kunci yang nggak pernah dibalikin dari dulu-dulu itu. Nah sialnya nggak lama setelahnya Tara dateng dan si Mak lampir bilang kalau misalnya dia abis bobok disana ama Max. Max yang cengo karena baru bangun setelah begadang sampai subuk ngga tahu kalau si mak lampir dateng terus bikin ulah macem itu. Parahnya si Tara percaya aja sama semua tipu-tipi mak lampir dan milih buat putus sama Max.
Max nggak tinggal diem dong, mulai dari hubungin via telepon, datengin rumahnya, ke Geronimo juga tapi Tara kaya ditelan bumi. Puncaknya uda 2mingguan Max usaha buat yakinin Tara kalau dia salah paham but Tara tetep kekeuh ngga mau denger apalagi balik sama Max. Disaat yang sama Max dapet tawaran menggiurkan buat penggalian di China sama di Herculaneum. Max yang patah hati milih nyibukin diri sama kerjaan, meskipun sebagian besar pikirannya tertuju ke gadisnya—udah mantan woy. Cara lain buat move on dari Tara, Max macarin temen sepenggalian?nya yang emang udah lama naksir ama Max. Nah si cewe bule ini sering posting di IG soal kebersamaannya sama Max. Tara yang aslinya masih cinta ama Max patah hati karena tahu kalau Max udah jadian sama yang lain.
Penggalian di Herculaneum kelar, Max dan si pacar baru balik Indo. Adik Max—Kishi—yang emang dari awal nganggep Max&Tara ini relationship goal banget ngga rela dong kalo Max & Tara udahan. Doi bikin “dinner” buat mempertemukan 2 manusia kelewat gengsi itu. Sialnya acara Kishi ngga berjalan sesuai mestinya karena Max keburu jealous dan bikin semuanya makin berantakan. Uh-oh tenang aja nggak lama eh malah ada yang balikan gaes! Yups Max&Tara’s ship sailing again.
Ended? Oh jangan salah, masih ada lanjutannya, panjang yah? Wakaka. Seteleah balikan pun masih ada satu ganjalan buat hubungan Max&Tara, kali ini datang dari masa lalu Max, nggak cerita detailnya yah biar pada baca sendiri, awokoko. Tapi berkat hal ini ada keputusan besar yang akhirnya harus diambil keduanya. Apakah hal itu? Cerita selengkapnya bisa dibawa di novel Geronimo! Ciao!
Setelah baca Genesis karya mbak Indah Hanaco yg di salah satu tokohnya bercita-cita ingin menjadi Arkeolog, akhirnya di buku ini aku menemukan tokoh utamanya yg berprofesi sebagai Arkeolog.
Lumayan tebal buku ini, 470an lembar, tapi bacanya gk ngebosenin, aku suka di bagian Maxwell yang bercerita tentang pengalaman kerjanya sebagai Arkeolog kepada Tara, berasa masuk ke dalam buku itu sendiri, dan aku berasa jadi Tara yang lagi dengarin Maxwell bercerita. Apalagi profesi Arkeolog di Indonesia itu sangat jarang sekali.
Konflik di cerita ini terlalu banyak, setelah konflik yang satu selesai pasti akan muncul konflik yang lainnya. Dan konflik-konflik itu yang buat aku terkejut sendiri, apalagi di bagian Jacob yang berulah dengan Amanda. Dan bagian Tara yang sengaja nyiram air ke Sheva yang buat aku gk sanggup buat nahan ketawa. Akhirnya Sheva dapat hukuman juga.
Oiya satu lagi yg buat aku penasaran dengan buku ini karena aku pengen tau masa lalu Maxwell.
Walaupun buku ini tebal, tapi menurutku gk ngebosenin, karena gaya tulisan mbak Indah yang menurutku selalu ringan.
Btw buku ini happy ending, gk nyangka aja sih aku.
“Rasa percaya itu jadi modal peting dalam suatu hubungan.”
“Masa lalu, sepanjang tidak lagi terus terhubung pada kekinian dan memengaruhi masa depan, bukan sesuatu yang patut dijadikan masalah.”
“Nyari orang yang sempurna dan sesuai keinginan kita itu, nggak gampang. Kalau dia punya ‘cacat’ tapi bisa dimaafin, ya nggak usah dibikin ribet. Itu kalau kamu ngerasa masa lalunya jadi ganjalan.”
Akhirnya selesai juga membaca semua seri dari Job Series terbitan Elex. Kapan, ya, ada series begini lagi?
Baik, Geronimo ini agak struggle aku menyelesaikannya. Selain karena tebal, juga konfliknya ngeselin to the Max.
Pada act 1 ceritanya sungguh menjanjikan. Tara yang terpaut 7 tahun dari Max begitu dewasa dan rasional. Max pun tipe yang matang dan berpikiran tenang. Sampai sini, aku menebak-nebak konfliknya akan seperti apa kalau keduanya sama-sama rasional. Mana di 28% cerita udah jadian, 72%-nya mau ada apaan nih?
Dan di act 2 ternyata semua ini diuji. Keluarlah sifat dan perangai ngeselin terutama dari Tara. Ya, sebenarnya ada bagusnya. Dari segi usia, Tara masih anak kuliah dan belum 23 tahun, cocok dengan usianya yang masih gamang-gamang agak sumbu pendek.
Tapi, sayangnya, perubahan sifatnya sungguh fluktuatif. Dari yang rasional, tough, berani berdiri di kaki sendiri, tetiba jadi kepala batu yang sama sekali nggak mau denger penjelasan Max. Bahkan Max minta buat lihat CCTV pun, Tara nggak mau. Udah emosi aja diduluin, nyesel, kan? Act 2 ini bikin aku hampir dnf, tapi dipaksakan karena mau lihat akhir cinta sang party planner dan sang arkeolog.
Di act 3 ini seperti biasa. Karena udah tebel di act 2, konklusinya jadi kecepatan. Masa lalu Max yang akhirnya terungkap, penting nggak penting juga. Padahal itu hooked banget, cuma karena seperti asal ada aja, jadi nggak berkesan. Tidak merefleksikan apa-apa untuk Max di masa sekarang.
Penulisan ceritanya pun telling banget. Sang 3rd person sungguh orang yang serba tahu. Kebanyakan diceritain lewat narasi daripada aku sebagai pembaca yang menyimpulkannya sendiri. Malah ada narasi yang "spoiler" buat next chapter-nya.
Untuk hal yang aku suka di buku ini adalah bidang Arkeologinya. Detail banget jelasin ekspedisi dan perjalanan Max sebagai arkeolog. Jarang juga ada novel Indonesia yang pemeran utamanya sebagai arkeolog.
Meski ini job series, tapi job yang paling banyak dibahas adalah pekerjaan Max. Sementara pekerjaan Tara cuma ngambil nama event organizer-nya yaitu Geronimo sebagai judul novel ini aja. Teknis party planner-nya nggak dijelasin mendalam. Cuma keruwetan personal kliennya aja yang lebih banyak diceritakan.
Akhir kata, tiga bintang untuk pekerjaan Maxwell sebagai Arkeolog.
I like but sedikit boring untuk penuturan mengenai arkeolog yg padahal jarang bngt metropop mengusung pekerjaan itu. Mungkin gaya penulisan yg harus ditingkatkan lagi,, gimana caranya cerita sepanjang itu ga membuat reader ngantuk cause so history hehe. Di awal aku suka dengan tokoh Tara dimana dia cewek dengan kepribadian tegas, namun dipertengahan aku mulai berubah ga suka karena dia annoying bngt dan ga rasional (mungkin karena dia masih berumur 22 tahun kali ya, walaupun umur bukan patokan menjadi dewasa).
Tokoh Tara berpacaran dengan Maxwell yang terpaut 8 tahun. Jadi total umurnya 30 tahun lah ya. Seksi dan mapan :) Aku suka pembawaan Maxwell yang memang dewasa sesuai umur dalam memecahkan masalah jadi dia bisa membimbing Tara. Moga aku bisa dapet yg kayak Maxwell deh di my real life huhu.
Aku beri 3,9 / 5 bintang ( aku bulatin jadi 4 bintang deh hehe)
Harusnya tinggal dikit lagi, tapi banyak banget faktor yang kalau aku jabarin nggak bakal kelar-kelar. Intinya, dari awal udah oke, pertengahan mulai bertanya-tanya karena jujur aja, dialog karakter cowok dan cewek enggak terasa beda. Bahkan, yang cewek beda usia aja rasanya sama, nggak ada warnanya. Karakter cowoknya oemji kok cringe ya, Om? 😫 memang kesannya rada diseret baca ini, serius 🤧 menjelang akhir cepet banget. Ada beberapa bagian yang sebenarnya masih bisa dikembangkan, tapi malah berhenti sampai situ dan nggak tau lah, beneran nggak mood buat lanjut.
Barangkali kalau mood membaik bisa langsung selesaikan ini, tapi nggak dalam waktu dekat 😆
Sebagai pecinta buku romance comedy, bisa aku akuin ini buku yang cukup beda. Pertama, dari karakter itu sendiri yaitu si maxwell ini aku lihat sangat too good to be true karena aku tidak bisa cari jeleknya dimana, ya mungkin untuk tingkat kekurang pekaannya dan kekakuannya. Tapi cowo mana juga yang sangat perhatian sampai nyetok makanan ringan di kulkas apartmentnya karena tahu cewenya suka makan? Cuman Max kayaknya. Dan aku juga cukup relate sama Maxwell saat dia bilang Tara yang sangat excited mendengarkan ceritanya itu menjadi nilai plus untuk cewe itu. Karena memang betul, punya attentive listener itu sangat menyenangkan bagi certified yapper yang ga pernah didengerin kayak aku dan Max ini. Keunikan Max dan buku ini juga mungkin di profesi Max itu sendiri, untuk aku sendiri, membaca cerita sejarah yang ga aku tahu menahu seputar arkeologi ini ternyata menyenangkan. Aku jadi Tara juga pasti bakal tanya-tanya banyak tentang pekerjaan Max. Nah, untuk Tara sendiri, cerita tentang posisinya di keluarganya ini juga mungkin cukup menarik, tipikal anak bungsu pemberontak. Keluarga kayak keluarganya Tara ini juga pasti relate bagi setiap orang walaupun ga mungkin sekejam itu sih. Aku juga suka dengan bagaimana penulis memberi sebuah impact bagi para tokohnya akan personality mereka. Seperti contohnya personality Tara yang supel dan pendengar yang baik ini membuat siapa pun pasti gampang naksir sama dia, dan itu dibuktikan di cerita ini. Juga Maxwell yang kurang peka dan sedikit impulsif juga berdampak akan hubungan keduanya nanti.
Satu lagi hal yang paling penting dan bikin aku sangat sensitif terhadap semua buku yang pernah aku baca adalah karakter, aku akan sangat bingung dan mungkin terganggu jika ada karakter yang dibuat hanya untuk meramaikan situasi saja. Itu mungkin akan menjadi nilai minus untuk aku terhadap buku tersebut. Tetapi di buku ini, semua karakter memiliki peran penting yang mendukung jalannya cerita. Walaupun perannya mungkin tidak terlalu menonjol, tetapi membantu membuat buku ini semakin menarik dan tau arahnya mau kemana.
Minus dari buku ini yang membuat aku sedikit kesal adalah ceritanya tidak jauh - jauh dari kata selingkuh, ya rasanya agak sinetron banget sih selingkuh disana sini serta memutuskan hubungan karena kesalah pahaman. Tetapi aku bisa maklumin dan nangkep apa yang si penulis mau katakan kepada kita, bahwa sebenarnya jodoh adalah cerminan diri, ya kalau kamu tukang selingkuh pasti dapet tukang selingkuh juga :)
Overall itu aja review dari aku, semoga bermanfaat, terima kasih sudah baca sejauh ini.
dengan ini aku udah selesai baca semua buku dalam job series 🤩 pas unduh bukunya di gramdig, aku gak ngeh kalo buku ini setebal itu ... dan alasan tebalnya adalah penjelasan yang panjang tentang dunia arkeolog.
tokoh utama kita adalah tara dan maxwell. tara adalah seorang mahasiswi, sementara maxwell adalah seorang arkeolog. penjelasan yang panjang itu nunjukkin kalo penulis emang gak perlu diragukan lagi risetnya.
untuk di bagian awal aku rasa penjelasan itu masih oke, mungkin memang untuk perkenalan aja, tentang profesi maxwell ini. tapi semakin ke belakang, ternyata pembahasannya memang sebanyak itu ...
tara sendiri adalah mahasiswa yang juga punya usaha party planner bersama 2 sahabatnya. yang mana menurut aku keren banget, karena gak semua orang bisa kuliah sambil kerja. keputusan tara buat bangun bisnis tentu aja dikecam keluarganya.
apalagi keluarga tara bisa dibilang semuanya punya profesi yang oke, dan tara dituntut untuk mengikuti jejak 2 kakaknya. tara adalah anak bungsu, dia punya kakak laki laki namanya jacob, dan kakak perempuan namanya helga.
aku sebenernya amaze sama penulis yang bisa bikin kejutan tentang keterkaitan antara satu tokoh dengan yang lain, tapi kalo dibikin terlalu sering, aku malah ngerasa ... kok dunia mereka-para karakter ini sempit banget 😩
bagian bagian awal buku ini aku suka banget ✨️ pokoknya suka sama tara yang selalu antusias dengerin cerita maxwell, juga maxwell yang gak ngomentarin porsi makan dan cara tara berpakaian.
menurut aku mereka manis banget 🥹 apalagi pas adegan maxwell nyamperin tara di resepsi jacob. itu tuh beneran bikin aku senyam senyum mesem guling guling 🥹🫣
nah di bagian pertengahan sampai akhir menurutku ceritanya agak kurang bisa dinikmati :") apalagi pas bagian tara gak mau dengerin penjelasan maxwell, maxwell juga sama ternyata cari pelampiasan dan main hakim sendiri.
dan ya emang aku rasa "kemanisan" mereka berdua itu rasanya berkurang aja gitu seiring berjalannya waktu. tapi mungkin emang di dunia nyata hubungan romantis gak selamanya manis ya ... di buku ini mungkin manisnya udah habis semua di awal 🤔
di luar dari narasi tentang dunia arkeolog yang panjang banget, aku suka sih sama gaya nulisnya. yakin pasti risetnya gak main main sih untuk bisa bikin narasi sedetail itu. karakter2nya emang gak semua likeable tapi mungkin itu yang nunjukkin kalo mereka tuh "manusia"
Judul: Geronimo Penulis: Indah Hanaco Penerbit: Elex Media Komputindo Dimensi: 463 hal, cetakan pertama 2019, edisi digital RBK ISBN: 9786230008344
Love gives you wings. It makes you fly. I don't even call it love. I call it Geronimo.
Itulah asal nama Geronimo yang menjadi judul utama sekaligus nama perusahaan party planner yang dibuat Tara bersama Ruth dan Noni. Berawal dari Lombok, tempat Tara menyusun bridal shower untuk kliennya, pertemuan pertama dengan Maxwel (yang berbeda usia 8 tahun di atasnya) tidak pernah disangka akan mengubah banyak hal dalam hidupnya. Hubungan rumit antara Maxwel dengan kakak dan calon kaka iparnya: Jacob dan Sheva, tidak direstui oleh orangtua, masa lalu kelam dan risiko pekerjaan Maxwel sebagai arkeolog yang bisa berbulan-bulan bekerja di sebuah situs bisa dihadapi oleh Tara. Namun, saat kepercayaannya luntur pada Maxwel, hubungan mereka pun kandas. Masalah kecil yang membuatnya menyesal. Bisakah Tara dan Maxwel kembali bersama?
Ini adalah buku kedua job series yang saya baca. Senang sekali mengetahui PoV arkeolog di Indonesia yang masih jarang dan kendala yang dihadapi berupa dana penelitian. Untuk romancenya sendiri awalnya seru, tapi di pertengahan mulai terasa agak dipanjang-panjangkan, konflik mulai kurang kuat, meski ada beberapa plot twist yang penulis siapkan. Overall, seru mengikuti series ini, saya pun bersiap membaca buku ketiga tentang job series lainnya.
Cocok dibaca bagi yang suka genre romance, city lite, dan gambaran profesi arkeolog serta party planner.
Fyuhhh... akhirnya selesei juga baca Job Series #2 ini, kisah Geronimo karya Kak Indah Hanaco yang kesekian aku baca.
Jujur, untuk ide ceritanya sendiri sama fresh nya dengan Job Series pertama ya, anti mainstream.
Menceritakan tentang Maxwell, seorang pria yang bekerja sebagai arkeolog dan dengannya kita akan diajak masuk kedalam dunia arkeolog yang sering melakukan penggalian situs sejarah. Lalu ada juga sosok Tara, seorang mahasiswi yang membangun bisnis Party Planner bersama kedua sahabatnya yang diberi nama 'GERONIMO'.
Meskipun karena geronimo ini yang membuat Tara terbang ke lombok untuk acara bridal shower salah satu klien-nya dan akhirnya membuat dia bertemu dengan Maxwell disana yang sedang liburan, secara keseluruhan geronimo yang diangkat sebagai judul novel ini menurutku kurang banyak di eksplor disini, mengingat novel ini memiliki jumlah halaman yang mencapi 500.
Untuk alurnya sendiri buatku menarik buat diikutin. Setiap halamannya selalu membuatku penasaran, akan ada apa dibalik halaman selanjutnya. Ditambah lagi banyak kejutan beruntun yang membuatku semakin semangat untuk menyelesaikan ceritanya.
Konfliknya juga cukup rumit dan juga berkepanjangan, kenapa? Karena setelah satu masalah terselesaikan akan muncul lagi masalah lainnya. Ibaratnya setelah kita menghela nafas kita bakalan dibikin tarik nafas lagi dikemudian. Itu salah satu poin yang bikin cerita ini makin menarik buatku wkwk
Karakter tokonya pun menurutku pas, ngga ada yang to good to be true pokonya, digambarkan sewajarnya aja.
Overall aku juga suka dengan Job Series #2 ini, dan ngga sabar buat baca series ketiganya.
Saya kira dengan judul Geronimo, maka saya akan melihat behind the scene proses kemunculan ide-ide kreatif Tara sebagai party planner. Namun, saya salah besar. Tidak ada satu pun membahas mengenai proses kreatif Geronimo sebagai party planner. Apakah Geronimo layak menjadi judul novel yang halamannya 400+ ini? Saya rasa tidak ya. Mungkin lebih cocok dengan judul yang berhubungan dengan arkeolog, toh yang dibahas melulu adalah Max, bukan Tara. Pembaca lain bagaimana? Hehe.
Lalu muncul pertanyaan, jika tidak membahas Geronimo, lantas novel ini membahas apa? Akan saya jabarkan di bawah.
1. Membahas karir Max yang saya rasa tidak ada kaitannya dengan Geronimo a.k.a judul dari novel ini sendiri. Penulis setiap babnya menulis cerita-cerita arkeologi dan menjadikan Max sebagai pusat dunia. Saya tidak suka, padahal karir Tara sebagai party planner juga layak untuk diperbincangkan. Heran deh kenapa penulis romance selalu saja membuat laki-laki menjadi pusat dunia.
2. Drama FTV yang membuat saya sebal sepanjang membaca. Aduh, tolonglah, banyak yang bisa dikembangkan ☺️
3. Yang bikin herannya adalah Max yang masih cari peluang ekskavasi. Bang, Anda tinggal di negeri yang sumber sejarahnya banyak tertimbun tanah loh. Penulis, saya rasa Max harus banyak bergaul ke komunitas arkeolog lokal, bukan ke arkeolog luar negeri ☺️ Nggak perlu cari proyek di luar negeri kok untuk nyombongin diri ke calon mertua hehe #JustSaying
4. Isinya hanya yapping tak berisi antara Max dan Tara.
Apa ya? Barangkali, Geronimo adalah cerita paling ribet yang pernah gue baca.
Disini tuh nyeritain tentang penghianatan, yang mana hampir setiap cela atau setiap waktu, yang namanya penghianatan itu selalu aja ada dan menghampiri si kedua pemeran utaman itu.
Tentang Max yang dikhianati Pacar dan Sahabatnya, lalu tentang klien-nya si Tara yang juga dihianati sama Kakak dan calon suaminya, terus tentang Tara sendiri yang membuatnya dalam masalah karena klien-nya yang harusnya nikah malah batal karena dia suka sama Tara, terus Kakak-nya Tara yang juga berkhianat, terus Max yang juga berkhianat. Hmmm, kayaknya tema cerita ini lebih kearah pengkhianatan deh dari pada job series.
Terus gue juga kesel sama keluarga tara terutama sama Emaknya. Duh, kok gitu banget dia, kek ibu tiri. Apalagi waktu Tara, Sheva (calon mantunya) Emaknya, terus sama Kakak cewek-nya lagi nyoba kebaya buat pesta pernikahan Jacob dan Sheva. Gue kesel banget sama Emaknya dan hampir aja gue DNF gegara keluarga Tara yang ajaib banget itu.
Well, tapi gue suka sama pekerjaan arkeolog yang diangkat. Itu sebuah pekerjaan keren dan juga anti mainstream buat diangkat disebuah cerita.
Dan yang terpenting gue suka sama karakter Maxwell dan juga entah kenapa gue suka sama Noah. XD
First of all, penulisannya aku suka. Narasinya enak dibaca dan mudah dipahami. Pekerjaan dari mainlead nya bukan cuma tempelan, bener-bener dijelaskan detail bgtt mengenai arkeolog. Jujur aku juga seneng baca nya kalo Maxwell udah sedikit cerita pengalaman selama kerja dia. Tara nya juga dewasa bgt tapi malah jadi gak keliatan anak kuliahannya. Terus dibayangan aku tuh circle nya dia orang dewasa semua jadi kayak aku ga bisa ngebayangin dia masih kuliah... Konflik nya menurutku gak banget, ngeselin. Satu hal yang mau aku sampaikan, Vanessa deserved better😪. Pun banyak plot twist (yang gak plot twist bgt sih sbenernya) yang menurutku gak penting. Sejujurnya aku belum selesai sih baca ini karena waktu peminjamanku udah abisss:( tapi aku ngerasa gapapa dan gak penasaran lagi sama kelanjutan bukunya jadi yaudahh, tinggal 80an halaman lagi padahal...
such a looong story, menurutku ceritanya agak flat dan bertele-tele. banyak penjelasan-penjelasan tentang situs arkeolog yang menurutku kurang relevan sama ceritanya, jadinya bosen. ngerti banget kalo penulis mungkin pengin sisipin info-info tentang situs bersejarah di dunia, tapi 3 paragraf atau lebih cuma jelasin situs itu tanpa ngaruh ke ceritanya seems tiring for me, aku bacanya jadi skip skip karena gak berkontribusi ke alur. entah karena kondisi pribadi atau gimana, tapi feel yang dirasain tiap karakter juga gak nyampe di aku, not to mention relasi "Geronimo" sama isi ceritanya juga gak terlalu keliatan. terus, terlalu banyak kebetulan. I know ini fiksi tapi jadinya kayak gak realistis:) gak mungkin dunia sesempit itu sampe tokohnya cuma dia lagi dia lagi. tapi cerita ini cukup ringan buat dibaca, so so gitu sih, good 👍🏻
Kisah tentang cewek dan cowok yang menjalin cinta gak akan habis untuk dieksplor dari berbagai segi baik konflik atau solusinya. Membangun dan mengembangkan cerita itu sulit kalau temanya hanya dua orang yang bertemu, jatuh cinta, menjadi kekasih, lalu berantem dan happy ending.
Namun menjadi membosankan kalau hanya seputar itu-itu saja. Hubungan Tara dengan Maxwell seakan jadi mainan roller caster naik turun sementara Geronimo gak diangkat sama sekali. Konfliknya sih lumayan rame mirip ftv.
Satu-satunya yang saya suka justru tentang cerita arkeologi dari Maxwell. Tapi kalau kebanyakan juga rada membosankan sih.
Tara Maxwell smooth bgd dr awal kenal sampai pacaran. Manis banget pacarannya terlebih gombal-gombalnya mereka.
Tapi bagian sedihnya juga kerasa banget. Apalagi pas Tara tau Maxwell jadian sama Vanesha. Sakit hatinya double. Kenapa ya kalau kayak gini pasti lebih ngerasa lebih sakit yang cewek. Yah walau Tara juga salah karena enggak denger penjelasan Maxwell dulu.
Aku cinta sama kamu, Tara. Cinta banget sampai mau mati rasanya sejak kita pisah.
Langsung teriak-teriak nggak jelas pas Maxwell ngomong begitu.
Apalagi pas Maxwell ngelamar terus mereka nikah uh Maxwell bener-bener sweet to the max.
Aduhlah aku udah cape dan kesel sama karakter Tara, makin cape lagi baca isi buku yang tebal ini tapi kebanyakan bahas soal arkeologi yang isinya nggak related banget sama jalan ceritanya a.k.a too much laaa :( Nggak masalah kalo emang mau nulisin/ngasih keterangan/nyeritain ke kita banyak-banyak soal arkeologi, but... asksksk aduh, aku bingung karena memang nggak feel :( Idk antara "nyambungin" satu informasi tentang arkeologi/sejarah yang kurang "smooth" atau emang aku berekspektasi tinggi sama buku ini, intinya aku nggak bisa nemuin hal yang bikin aku suka sama banyaknya informasi tadi.
Romance setebal 400++ halaman itu sebenarnya sudah lumayam mengintimidasiku. Tapi dengan cara bercerita Mbak Indah yang nyaman dibaca dan konflik yang seru, ternyata aku bisa menyelesaikannya tanpa mengalami kesulitan.
Perselingkuhan demi perselingkuhan dan antagonis yang jahatnya seperti dalam sinetron di sini menjadi pedang bemata dua: membuat konflik lebih hidup sekaligus bikin sebal. Namun, karakter tokoh utama yang loveable membuat hal itu terkesampingkan.
Bukan, bukan karena bukunya nggak asik atau nggak menarik. Gaya bahasa penulisnya enak, pekerjaan hero-nya juga menarik: arkeolog, dimana ini mungkin buku pertama tentang profesi ini yang kubaca. Bukunya juga informatif karena banyak mengulas situs-situs terkenal, tapi ini juga jadi bumerang karena lama kelamaan bikin gumoh. Ditambah konfliknya terlalu banyak, ada beberapa informasi yang diulang-ulang, juga beberapa adegan yang bikin bingung apakah itu flashback atau bukan?
kisah cinta Tara Maxwell keren banget, ternyata begini ternyata begitu hehehe pas baca rasanya seru banget, apalagi berkaitan dengan dunia arkeologi, entahlah Kak Indah hanaco seru banget mengisahkan tentang pekerjaan Maxwell ini, pekerjaan yang bagi sebagian orang tidak keren namun di sini dijelaskan dengan sangat baik.
jaring - jaring kisah di novel ini membuat saya bingung juga namun saya sangat memuji karena berakhir manis.
Maxwell Ravindra mempunyai karier sebagai arkeolog yang mengharuskan dirinya bepergian dalam jangka waktu yang lama. Tara Solange bersama dua sahabatnya, Noni dan Ruth merintis Geronimo bisnis kecil-kecilan yang menyediakan Jasa party planner. Kisah cinta antara Maxwell dan Tara bisa dibilang rumit.
Bukunya lumayan informatif karena banyak di jelaskan mengenai arkeolog dan situs-situs penemuan. Banyakan ngebahas profesi arkeolog, party planner nya cuman dibahas secuil, sekilas² aja.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sempet merasa bosan pas nerangin situs arkeologi di part Maxwell. Secara keseluruhan suka sama novel ini karena membuat kita optimis walaupun orang di sekeliling kita itu mandang sebelah mata ke kita. Cerita cinta si max dan tara juga ga yang menggebu gebu, biasa aja.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Ceritanya baguuuuus banget!! Suka sama alurnya, sama cerita dan tokoh di dalam cerita. Aku merasa hal yang terjadi related sama kehidupan nyata. Engga berlebihan, pokoknya sukaaaakkk luvluv..
unik bgt kerjaan cowonya arkeolog??????????? Tara keras kepala yg nyebelin. Maksudku udah tahu si kakaknya pacaran sm tukang selingkuh trs dia malah percaya sama tukang selingkih, aneh bgt.