Dahulu, Orang Rimba melihat orang luar yang pandai membaca dan menulis menggunakan bacaan hukum dan peraturan untuk mencaplok hutan mereka. Karena itulah Orang Rimba menyebut pensil sebagai “setan bermata runcing”. Setan ini begitu menyeramkan karena ia membawa perubahan-perubahan yang sering kali merugikan kehidupan masyarakat adat yang sedianya damai dan berkecukupan dari sumber daya alam yang mereka kelola.
Buku ini merupakan kumpulan pengalaman Sokola dalam mengembangkan program-program pendidikan sebagai upaya untuk membantu masyarakat adat menghadapi persoalannya sembari tetap mempertahankan adat. Tinggal bersama masyarakat adat dan beradaptasi dengan budaya setempat, serta murid-murid yang kritis, justru menjadi “sekolah” bagi para relawan Sokola hingga akhirnya membentuk metode dan pendekatan pendidikan yang ramah budaya dan dapat merespon persoalan kontekstual.
Buku ini akan membantu para guru, pegiat dan relawan pendidikan, pemerintah, perusahaan, atau siapapun yang tengah mengembangkan program pendidikan dan pemberdayaan komunitas. Buku ini juga memberi pemahaman dan meningkatkan penghargaan akan kekayaan budaya Indonesia.
Butet Manurung was born in Jakarta, Indonesia in 1972. She developed a love of the outdoors while earning her degrees in anthropology and Indonesian literature from Padjajaran University, Bandung, Indonesia. In 1999, Butet joined the conservation NGO, WARSI, to lead their educational program for the Orang Rimba, (People of the Forest) indigenous to the rainforests of Jambi. Her work in the jungle evolved into co-founding SOKOLA, a non-profit organization providing educational opportunities for marginalized people in remote areas of Indonesia.
As an educator and activist, Butet has received international recognition – UNESCO’s “Man and Biosphere Award” in 2001, TIME Magazine’s “Hero of Asia” in 2004, “Ashoka Fellow” in 2006, “Asia Young Leader” in 2007, “Young Global Leader” in 2009 and most recently, Ernst and Young Indonesian Social Entrepreneur of the Year 2012.
In 2011 she completed a Masters Degree in Applied Anthropology and Participatory Development from the Australian National University and in 2012 a course in Leadership and Public Policy at the Harvard Kennedy School, Boston.
The Jungle School is Butet’s first book. Originally published in Indonesian as Sokola Rimba, the book was launched in Washington DC on April 10, 2012,
The book is currently being adapted into a feature film by award winning Indonesian film makers Mira Lesmana (Producer) and Riri Riza (Director). Now in pre-production, shooting in the Jungle is planned for June 2013 and its Indonesian cinema release is scheduled for December 2013. It is hoped that Film festivals and International distribution will follow.
As Director of SOKOLA, Butet lives mainly in Jakarta Indonesia. Married in 2010, she spends part of each year in Canberra Australia.
Apa itu Setan Bermata Runcing? Itu adalah sebutan 'anak rimba' untuk pensil. Kenapa pensil kok bisa disebut setan? Karena dia sadar bahwa banyak yang sudah bisa menulis dengan pensil justru menipu mereka, misalnya dengan perhitungan mata uang. Ya, orang-orang yang mengaku modern kerap "menjadi setan" untuk golongan mereka.
Standardisasi pendidikan adalah yang pertama. Padahal setiap daerah, terlebih seperti mereka, jelas membutuhkan hal yang beda dengan standar Jakarta. Kemudian industrialisasi yang merenggut alam mereka.
Tapi selepas membaca buku ini, saya kemudian bertanya, jadi pendidikan itu muaranya apa sih? Mendidik atau menghasilkan calon-calon buruh pabrik? Kalau sekadar menjadi buruh, maka standar angka yang dikejar. Tetapi bila mendidik adalah memanusiakan manusia, maka yang dilakukan Butet Manurung dan relawan lainnya adalah yang sebenarnya pendidikan.
Kenapa membaca buku ini bertepatan dengan beberapa waktu lalu membaca Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela? Mungkin ini sebagai pengingat, bahwa makin banyak yang mengejar angka tanpa mengasah daya peka manusia.
Terima kasih, Raafi, sudah diizinkan membaca buku ini. Dan mohon maaf terlalu lama membacanya.
Menemukan kecocokan pada buku yang benar-benar berangkat dari pengalaman, memberikan banyak pelajaran, namun sekaligus menyertakan filosofi mendalam bukan hal mudah.
Untungnya, Aditya Dipta Anindita, Butet Manurung, Dodi Rokhdian, serta Fadilla M Apristawijaya yang menggawangi Sokola di berbagai daerah di Indonesia memutuskan menulis Melawan Setan Bermata Runcing. Bukan hanya kurikulum yang mereka bawa yang bersifat kontekstual, buku ini juga terasa kontekstual bagi saya.
Melawan Setan Bermata Runcing bukan hanya menyajikan suka-duka pengalaman dari tim Sokola, tapi juga membedah detail pijakan dasar filosofi pendidikan yang mereka anut, juga teknis bagaimana tim Sokola membentuk sebuah kurikulum dari nol. Mereka banyak menyetujui ucapan Freire di buku ini. Tentang bagaimana ketertindasan mestinya tak ada dalam dunia pendidikan.
Tim Sokola sungguh-sungguh dalam menanamkan konsep dasar tentang hal yang mereka lakukan. Daripada ingin menjadi pahlawan dengan apa yang mereka kerjakan, mereka lebih memilih “jalan” kerendahhatian, juga keberpihakan pada komunitas sebagai pijakan atas semua yang dikerjakan. Hal itu dibarengi dengan kesadaran bahwa masyarakat sendirilah yang nantinya akan menjadi kunci penyelesaian dari persoalan yang mereka hadapi, bukan pertolongan instan malaikat volunter yang datang. Singkatnya bentuk perlawanan terhadap dominasi yang disebut sebagai establishmentarianism.
“Kita sebagai volunter juga harus percaya kepada komunitas bahwa komunitas bukanlah entitas kosong. Mereka berdaya, lebih dari itu, mereka memiliki pengetahuan atas persoalannya. Dengan demikian, kita harus menempatkan komunitas sebagai subjek dalam kegiatan kesukarelawanan, bukan objek.” (hal 66)
Sokola pernah menjadi teman seperjalanan warga Aceh ketika terjadi bencana, mendampingi masyarakat adat di berbagai daerah seperti di pedalaman Jambi, Sokola Pesisir di tengah Kota Makassar, hingga Tengger. Sokola bukan hanya mengajarkan baca-tulis sebagai bekal literasi dasar, namun juga literasi terapan yang disesuaikan dengan masing-masing masalah yang sedang dihadapi komunitas setempat. Tujuan akhirnya, agar warga setempat bisa mengadvokasi komunitas mereka sendiri.
Pembaca dibukakan jalan untuk mengenal proses tim Sokola sejak dalam tahap penjajakan dengan warga, mengidentifikasi berbagai hal, menyusun etnografi, hingga bagaimana menyampaikan materi kurikulum dengan cara yang menarik untuk warga. Buku ini menyampaikan itu semua. Selain konten yang penuh bobot, buku ini juga memberikan selingan ilustrasi dan halaman quote yang bisa menjadi ruang rehat pembaca sebelum melanjutkan pada bagian berikutnya.
Melawan Setan Bermata Runcing baik sekali untuk dibaca para volunter, pendidik, petualang, atau siapa saja untuk menelisik kembali pada diri. Kita bisa belajar tentang bagaimana menghargai sesama dan alam, pentingnya menanamkan kerendahhatian, dan bagaimana mengabdi dengan sepenuh hati.
“Bekerja, apa pun itu, termasuk pekerjaan sukarela, menurut saya selalu dimulai dari menghargai diri sendiri, menghormati hidup kita sendiri. Bahwa kita begitu berharga, bermanfaat, dan berarti sehingga kita ingin membagikan anugerah yang kita punya kepada orang lain melalui segala daya dan kreativitas.” – Butet Manurung.
Buku ini memberikan gambaran apa saja yang telah dilakukan penulis saat berkegiatan di Sokola. pengalaman unik setiap penulisnya memberikan insight dan fakta baru tentang dunia pendidikan juga kerelawanan yang kontekstual.
Sebuah buku yang berisikan kumpulan kisah pendiri Sokola Institute, para relawan yang masuk ke pelosok - pelosok tak terjamah di Indonesia untuk mendidik masyarakat adat.
Setiap kali dengar kisah para relawan, selalu kagum. Di buku ini aku menyimpulkan kalau menjadi relawan itu semacam "panggilan jiwa" untuk orang - orang tertentu, mungkin.
Membayangkan mereka pergi atas kemauan dan biaya sendiri, risiko ditanggung sendiri, ke pedalaman yang tak ada listrik, rumah dan toilet pun terpisah, masih banyak hewan buas berkeliaran... belum lagi harus mengajar dengan sekreatif mungkin dan sumber daya yang terbatas. Sungguh orang - orang hebat.
Buku ini juga memberikam perspektif baru mengenai pendidikan, bahwa pendidikan sebaik - baiknya adalah kontekstual, bukan seragam. Dan bahwa hadirnya pendidikan untuk para masyarakat adat itu bukan untuk mengubah atau membuat mereka menjadi masyarakat modern, tapi sesederhana hanya untuk membuat mereka lebih mudah menjalani kehidupan sehari - hari dan diatas segalanya, bisa mempertahankan & bangga akan identitas mereka.
Internally this book serves as an ideal milestone for Sokola, both in real-practice after 8 Sokola Kampus have-been initiated and also in a reflection level through the four books previously published (Sokola Rimba - The Jungle School by kak Butet Manurung , Yang Menyublim di Sela Hujan dan Seandainya Aku Bisa Menanam Angin by kak Fawaz Al Batawwy). Externally we can frame the book both in national and international context. Nationally, a new Education Minister with very strong informational-technology background just been chosen. This background only raise the eyebrows of many education activists, particularly those in the field of community education. How would the new minister balance between the tidal wave of technological innovation with the steps of natural-based community education, particularly just like the one upheld by Sokola? Internationally, the capital-industrial based educational landscape just been struck by the action of -the- Greta Thunberg, which blatantly unveil how the policy maker lied and only sweeping the dust of natural disaster and extinction under the carpet of interest-talent-based educationi.
In the frame of those phenomenon Sokola remind us that education not just merely cultivating the interest and talent of individual through limited options provided by the capital-industrial civilization (prolog), education must serve both individual and community to become a critical entity (Paulo Freire), implementing critical perspective in how they grow and develop through a reflective praxis (epilog). While the narration of Fadilla A Apristawijaya allowed us to identify deeper the character of each Sokola Kampus, then Butet and Fawaz both offer the sharing of contextual effective and efficient teaching practice. In the other hand Dodi Rokhdian and Aditya Dipta Anindipta complementing each other with kang Dodi sharing enlightenment on cultural-friendly practice in initiating community action, kak Indit explaining the foundation concept and philosophy which led Sokola to be an institution as they are right now.
As listening to a harmonious melody or gazing to a color mixing, this book was curated effectively under the guidance of Saleh Abdullah (INSIST) and serve as a stabbing hook for Indonesian, that long before there was Greta, there were already exist The Jungle.
Ditulis dengan bahasa yang mudah dicerna tapi membutuhkan pemahaman yang kritis untuk mampu menangkap maksud dari buku ini. Salah satu bacaan yang bagus untuk memahami gerakan literasi di Indonesia.
Buku ini memberikan gambaran mengenai bagaimana Sokola berupaya mengintegrasikan pendidikan yang kontekstual, memiliki nilai tambah, serta berpihak bagi masyarakat adat. Berisi kumpulan tulisan penggiat Sokola. Buku ini di kemas dalam bentuk semi-akademis dan terstruktur sehingga kita dapat memahami dinamika dan proses yang terjadi mulai dari sejarah sokola, pendekatan, strategi, aksi-reaksi dan refleksi Sokola terhadap proses dan dinamika yang selama ini mereka alami dalam mendampingi masyarakat adat.
Pengalaman Sokola dalam memberikan pendidikan literasi dasar ini banyak diperoleh dari Sokola Rimba. Mungkin karena sokola rimba adalah program pertama dan terlama mereka. Bagi yang sudah pernah membaca Sokola Rimba: Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba, tidak ada hal yang baru. Hanya strukturnya saja yang disesuaikan.
Cerita mengenai pencarian anggota atau volunteer, serta pengalaman volunteer di lapangan benar-benar mewakili realita yang ada. Semangat menggebu diawal, Keragu-raguan, hingga ketidakberdayaan karena ekspekatasi dan realita yang berbeda dilapangan. Jadi volunteer itu tidak mudah, namun membaca pengalaman langsung dari tulisan para volunteer sokola di buku ini juga membangkitkan rasa optimisku, bahwa masih ada yang peduli pada nasib masyarakat yang termarjinalkan ini.
Keunikan setiap masyarakat tradisional juga banyak diceritakan dalam buku ini. Orang rimba berjumlah ribuan dengan ruang gerak puluhan ribu hektar, sedangkan warga pesisir makassar hidup berimpitan. Bagaimana kehidupan warga asmat ketika keterisolasian mereka dari dunia luar tiba-tiba hilang. Pengalaman mengenai cara hidup masyarakat adat, aktivitas sehari-hari, aktivitas dengan dunia luar hingga bagaimana setiap masyarakat memandang pendidikan dan bentuk kesuksesan secara berbeda-beda. Hal ini membuat kurikulum pendidikan dan cara pengajaran yang selama ini dianggap normal menjadi kaku, berjarak dan tidak relevan bagi masyarakat adat.
Efek dari pendidikan literasi dasar yang diberikan Sokola kepada masyarakat adat membuatku mengkalibrasi ulang cara berfikirku tentang pendidikan. Dari buta huruf menjadi melek huruf benar-benar memberi efek langsung yang luar biasa. Masyarakat adat bisa melangsungkan jual-beli yang adil dan menguntungkan, mereka tidak lagi mudah tertipu atau dicurangi, bahkan pada kasus tertentu dapat mengadvokasi dirinya dan komunitasnya sehingga punya daya tawar. Itu baru dari masyarakat yang buta huruf ke melek huruf, lalu bagaimana dengan kita yang sudah melek huruf lebih dulu ? Epilog buku ini mengajak kita masuk ke dalam tahapan literasi kritis, tahapan setelah melek huruf yang selama ini masih kita abaikan.
Sangat insightful! Butet dan rekan-rekan berhasil mengemas dan memadatkan kisah mereka dalam 266 halaman buku ini. Jelas pengalaman hampir dua dekade tidak akan cukup diceritakan dalam 20 buku sekalipun, namun esensi dari Sokola telah berhasil disuratkan. Ragam penulis juga memberikan sumbangan keragaman cerita. Melalui buku ini saya jadi berkenalan dengan pendidikan kontekstual, walaupun dari dulu saya sudah punya keresahakan tentang keseragaman kurikulum nasional kita. Bayangkan susahnya teman-teman di daerah 3T jika kemajuan pendidikan mereka diukur dengan standar yang sama dengan teman-teman di Jawa. Itu saja sudah tidak adil, apalagi jika dibandingkan dengan masyarakat adat. Saya rasa dalam guratan pena mereka, para penulis bukan cuma memperkenalkan metode Sokola. Tapi juga memberikan bekal step-by-step pendekatan dan kurikulum yang mereka pakai, kalau-kalau pembaca ingin mencoba PDKT dengan sistem Sokola. Selain isu pendidikan kontekstual bagi masyarakat adat dan kelompok marginal, penulis juga membahas isu yang saya rasa sangat relevan, yaitu tentang kesukarelawanan (volunteering). Bagian kesukaan saya adalah bab lima dan epilog. Senang sekali rasanya membaca buku ini. Saya tidak hanya belajar tentang pendidikan kontekstual, tapi juga tentang masyarakat adat, pendekatan antropologi, dengan bonus sedikit hint prodi saya, Hubungan Internasional haha. SANGAT DIREKOMENDASIKAN!
Melawan Setan Bermata Runcing, Pengalaman Gerakan Pendidikan Sokola
Melawan Setan Bermata Runcing, merupakan buku yang menjabarkan dengan detail tentang Sokola yang di inisiasi oleh Kak Butet dan kawan-kawannya pada tahun 2003, dimana Sokola berfokus menyelenggarakan layanan program pendidikan "kontekstual" untuk kelompok masyarakat adat di Indonesia yang tak terakses atau tak mau mengakses sekolah formal karena alasan geografis.
Pertama melihat buku ini di Instagram Sokola Institute sedikit bingung dengan judulnya, setau saya kalo bermata runcing ya semacam tombak begitu kan tapi kenapa ada setannya? Sekarang terjawab sudah. Dulu beli buku ini karena sepenasaran itu tentang sokola, dan sekarang setelah penasaran terobati muncullah kegaguman yang luar biasa pada kak Butet dan kawan-kawanya 😍.
Setelah selesai membaca ini, saya jadi mengingat kembali masa-masa sekolah saya dulu yang kemudian sekarang baru terfikir, iya ya dulu belajar itu gunanya untuk kehidupan sehari-hari untuk apa ya? Oh iya semua pelajaran itu berguna untuk jenis pekerjaan menjadi dokter, ASN, guru, perawat, dan berbagai cita-cita lain yang selalu disebutkan oleh anak-anak pada waktu itu hehehe
Butet and her friends' view on contextual education and its relation to indigenous culture development to not be crushed by the development of civilization are just so mindblowing! Reading this book, I felt enlightened over and over. One time, I listened Endgame podcast by Pak Gita, the quote goes like this, "The utopia of civilization is Wakanda, the people embrace their culture with technology. Otherwise, the distopia would be Asgard, when the people itself are leaving the city because of political clash.", this came from Sharlini Eriza. This just hit me hard.
This just highlighted how our education are not contextualized with everyday problem, thus making education as a currency for personal benefit. Would gave big thanks and appreciation to Kak Butet for creating this masterpiece! More people should read this, you guys could buy it at IG: @toko_sokola to also donate for education for the indigenous!
Membaca buku ini saat mengikuti pelatihan dari Sokola Institute. Di dalam buku ini bukan hanya memberikan teori ataupun cerita ngalor-ngidul dari penulisnya. Buku ini berhasil menggambarkan keadaan di lapangan yang sesungguhnya. Yang paling menarik adalah buku ini memberikan panduan kepada pembaca apabila ingin terlibat di dalam masyarakat adat.