Ketika di sinopsis disebutkan "novel ilustrasi", hal pertama yang terlintas di kepalaku adalah seperti light novel ala jepang (terdapat beberapa gambar di beberapa chapter yang mewakili skenario tertentu). Setelah membaca catatan penulis, barulah jelas bahwa novel ini adalah adaptasi dari ilustrasi bercerita atau komik.
(-) Catatan di atas membuktikan gaya penulisan di novel ini, yang justru menjadi minus bagiku, yaitu penulisan dari 3rd PoV tapi pergantian PoV antar dua tokoh terlalu cepat, sampai seolah-olah pembaca harus mikir, "ini lagi di PoV siapa sih?". kurang ada sinyal-sinyal yang mengindikasikan transisi. Benar-benar terkesan membaca komik, cuma pakai full paragraf tanpa gambar. Aku menemukan komentar ini di pembaca yang lain sebelum membeli, tapi kupikir, "bisa jadi aku punya pendapat atau pengalaman berbeda". Ternyata sama saja.
(-) Lalu, saking PoV nya berjalan cepat, sampai-sampai sulit sekali skimming. Kalau skimming sedikit, tahu-tahu yang awalnya dia baru mau keluar jalan, malah sudah duduk di rumah.
(-) Penggunaan font atau tanda yang mengindikasikan lagi dalam percakapan telfon, SMS, dan sebagainya gak konsisten. Kadang pakai font berbeda, kadang pakai [...], kadang pakai "..". Semua dalam paragraf. padahal bisa dibuat per satu kalimat kalau ingin mengindikasikan sebuah SMS. Kesannya jadi kaya hmm... pelit space?
Pendapat di atas terkesan seperti teknis, yang bisa jadi sepele. Tapi penting juga diperhatikan karena mempengaruhi kenyamanan pembaca menyelami cerita.
(+) Sekarang plus nya adalah novel ini menawarkan hal yang jarang ada, yaitu kebebasan pembaca untuk memilih cara memaknai keseluruhan cerita (apakah mau dari hal yang berbunga-bunga kemudian putus, atau dimulai dari kehilangan hingga kemudian bernostalgia).
(+) quote atau cara karakter memaknai pengalaman tentang cinta. relate banget. Aku paling suka ketika mereka berpisah, karakter utama perempuannya Emily kurang lebih bilang, "di dalam memori aku masih mencintainya, tapi aku tidak dapat menemukan cinta tersebut di masa sekarang" karena berbagai konflik yang terus bergesekan seperti arang.
(+) konfliknya sendiri sepertinya karena Eddie agak patriarki (masa apa-apa harus disiapin, bahkan odol di sikat gigi?!! lalu baju kotor digeletakin di lantai depan kamar mandi seenaknya supaya nanti di ambil Emily). Lalu kesannya Eddie seperti memandang Emily tidak cekatan dalam melakukan semua pekerjaan rumah, padahal Emily sendiri sedang sibuk atau habis membereskan pekerjaan rumah yang lain. Di sisi lain, Emily sendiri wanita yang ingin mengasah autonomi dan kebebasan kreativitasnya.
(+) konflik batin Emily sebagai penulis buku dan influencer tentang percintaan tapi merasa munafik karena hubungan percintaannya yang terus menegang hingga kandas. Lalu juga ia sendiri berandai-andai dan bertanya, "padahal tinggal sedikit langkah lagi hubungan ini akan seperti hubungan sahabatnya, yaitu bertunangan"
(+) konflik batin karakter utama laki-laki, Eddie, ketika masih dihantui memori dari Emily. Walaupun sudah merelakan hubungannya, tapi tetap sulit jika melihat mantannya bersanding dengan laki-laki lain.
Kesimpulan: Apakah aku merekomendasikan buku ini?
Dengan harga yang normal, aku sangat tidak merekomendasikan karena membacanya akan membuat kamu merasa, "aku ingin mengakhiri semua ini segera, karena aku sudah membelinya!".
Waktu itu aku dapat diskon sangat miring saat sedang festival buku. Meski begitu, aku masih merasa hal yang sama, haha... Tapi hikmahnya adalah aku jadi lebih menghargai poin plusnya.
Jika kamu sedang patah hati dan kehabisan bahan bacaan, kamu bisa mengambil buku ini sebagai selingan.