Jump to ratings and reviews
Rate this book

Mengapa Aku Harus Membaca?

Rate this book
...
Ayahku tidak seperti Mufasa.Tapi itu tidak membuat aku jadi cengeng seperti Simba. Hakuna matata, saja! Aku mempunyai ibu. Aku baik-baik saja walaupun ayahku tidak melakukan apa-apa untukku. Aku baik-baik saja walaupun ayahku tidak bisa mengantarku sekolah, tidak bisa menemaniku main sepeda, tidak bisa mengantarku ke dokter jika aku sakit, tidak bisa mengambil raporku, tidak bisa mengajak aku makan es krim, tidak bisa menemaniku menggambar.

Ayahku mungkin sudah menjadi orang sibuk sekarang. Jadi dia tidak bisa menengokku atau meneleponku sebentar saja. Aku tidak tahu kapan dia akan datang. Aku juga tidak tahu sedang apa dia di sana tepat saat ini. Aku sudah membuatkannya sebuah puisi. Puisi yang bikin ibuku menangis dan memelukku. Aku membahas tentang ketiadaan ayahku di puisiku. Tapi aku sedih sekali ketika ayahku hanya bilang,semangat terus ya Naya, terus berkarya. Aduh ayah, aku membuat puisi itu untuk ayah.

Tapi setelah aku pikir-pikir, aku tidak mau bodoh seperti Simba. Hakuna Matata! Walaupun tidak ada ayah. Walaupun ayah lupa rencananya datang, melihatku, aku bisa bertahan hidup. Duniaku belum berakhir. Aku baik-baik saja. Aku masih punya bunda dan om. Buktinya, aku masih bisa menulis, membaca, menerbitkan buku, dan melakukan hal menyenangkan lainnya. Hakuna matata!

Sebagai kalimat penutup, aku punya pesan untuk semua ayah di dunia, Ayah, tolong dengarkan aku, kali ini saja. Tapi jika ayah tidak bisa, hakuna matata!
(Tidak Ada Ayah di Dekatku, Hakuna Matata Saja!)

122 pages, Paperback

Published October 31, 2019

2 people are currently reading
67 people want to read

About the author

Abinaya Ghina Jamela

5 books11 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
25 (37%)
4 stars
34 (50%)
3 stars
8 (11%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 22 of 22 reviews
Profile Image for raafi.
931 reviews451 followers
December 27, 2020
Menarik untuk menelusuri jalan pikiran anak-anak melalui tulisan-tulisan mereka.

Di buku ini, Abinaya menjabarkan pemikiran-pemikirannya atas situasi yang terjadi di sekitarnya dan hal-hal personal dirinya. Itu dari orang-orang yang tidak sabaran dan yang merasa heran atas kesukaannya pada membaca, sampai kedekatan dirinya dengan buku dan kerenggangan hubungannya dengan sang ayah.

Selain itu, penulis juga banyak menyampaikan opininya atas buku-buku yang dibacanya, termasuk "Matilda" karya Roald Dahl dan "The Name of the Rose" karya Umberto Eco. Pembaca (baca: aku) dibuat minder dengan bacaan yang dibaca penulis melalui ulasan buku yang dihadirkan di buku ini. Aku bertanya-tanya apa saja ya buku-buku yang kubaca dulu saat seumuran penulis.

Buah pikiran Abinaya tanpa tedeng aling-aling dan jujur. Ia banyak mengkritik penulis seperti Roald Dahl dan Neil Gaiman sampai mengatai mereka patriarki dengan alasan yang, canggihnya, bisa diterima. Penulis juga banyak mengumpat dan menghardik para orang dewasa yang polahnya bikin lelah dan tidak habis pikir. Penulis bahkan mengata-ngatai anggota dewan.

Dua pesan penting yang menguar dari buku ini: (1) baca buku itu menyenangkan dan mari mulai dengan membiasakan diri serta (2) mohon untuk menulis apa saja setelah membaca, sebagaimana yang diingatkan oleh ibunda penulis berikut.

"Bunda bilang, otak manusia seperti gelas. Gelas diisi dengan membaca. Agar tidak tumpah, maka isinya harus dituang ke gelas lainnya. Jika tidak, bisa merusak."


Awalnya, aku berpikir semua anak-anak pasti akan seperti Abinaya bila diberi akses pada bacaan. Namun, buku ini menyadarkan satu elemen krusial perihal kegemaran membaca: orang tua. Jika orang tua tidak mendukung dan tidak memberi waktu (dalam hal ini membiasakan) anak-anak untuk membaca, bagaimana anak-anak bisa memegang buku lalu menikmati cerita di dalamnya?

Buku pertama penulis yang kubaca dan aku dibuat penasaran dengan tulisan-tulisannya yang lain: terutama yang fiksi.
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,043 reviews1,969 followers
June 20, 2020
Menurutku, membaca itu menyenangkan. Aku bisa berkeliling dunia, pergi ke mana saja ketika membaca. Aku bisa menjadi apa saja ketika membaca. Aku bisa menjadi detektif, aku bisa menjadi pesilat, aku bisa menjadi pelaut, aku bisa menjadi anak gelandangan, bahkan aku juga bisa menjadi pencuri dan pembohong.


Aku mengetahui buku ini ketika bertandang ke Klub Buku Narasi bulan Januari silam. Salah seorang partisipan merekomendasikan buku ini. Mendengar nama Abinaya yang asing, aku berusaha mencari tahu. Tidak lama kemudian, sekumpulan teman-teman Bookstagram yang aku follow membaca buku ini. Mengatakan kalau Mengapa Aku Harus Membaca? adalah sebuah buku yang boleh dicoba.

Mengapa Aku Harus Membaca? merupakan kumpulan tulisan Naya--panggilan Abinaya--tentang isi pikirannya terhadap membaca dan buku. Jangan kaget apabila Naya yang masih berusia 9 tahun itu sudah membaca buku-bukunya Orwell, Steinback, Dahl, hingga Umberto Eco. Tulisannya ke belakang adalah seputar karya penulis itu. Naya memberikan resensi verisnya dari kacamata seorang siswa kelas 3 SD.

Beberapa tulisannya memang memantik diskusi lebih lanjut. Naya terlihat kritis dan bisa merespon teks yang ia baca dengan nilai yang ia pegang. Seperti misalnya ketika ia berkata bahwa Dahl itu jahat karena membiarkan Matilda banyak membaca tetapi tidak memberikan kesempatan padanya untuk menulis. Kalau dipikir, betul juga. Kemampuan berliterasi bukan soal membaca. Menulis juga masuk ke dalam tataran literasi. Bak koin yang punya dua sisi.

Disamping itu, Naya juga mengisi tulisannya dengan keluhan-keluhan khas anak-anak yang masih logis untuk dibaca oleh orang dewasa. Terutama soal pemaksaan anak-anak untuk membaca tapi di satu sisi menuntut mereka untuk taat dan patuh. Padahal kan membaca memantik pemikiran dan menghasilkan diskusi yang seharusnya bisa disambut baik oleh orang tua.

Orang dewasa selalu merasa diri mereka yang terbaik dan tahu segala hal tentang anak-anak. Mereka sering bilang jika anak-anak itu seperti sebuah kertas kosong dan harus diisi. Tapi orang-orang dewasa tidak benar-benar tahu bagaimana cara menulis yang baik. Mereka mencorat-coret kertas kosong itu. Padahal, mereka bisa mendiskusikannya dengan kami, anak-anak.


Membaca buku ini, aku ingatkan, tidak perlu merasa minder dengan deretan penulis dunia yang sudah dibaca oleh Naya. Perlu diingat, Naya memiliki seorang Bunda yang sangat memperhatikan asupan literasinya (silakan baca esainya mbak Yona Primadesi berjudul Dongeng Panjang Literasi Indonesia). Wajar jika Naya lebih cakap membaca ketimbang rekan sebayanya--atau bahkan kita-kita ini. Ada aspek-aspek yang bisa disebut sebagai privilise ketika membaca buku ini yang aku rasakan.

Mengapa Aku Harus Membaca? bisa dijadikan sebagai salah satu opsi esai yang unik karena ditulis oleh anak berusia 9 tahun yang pikirannya bisa sangat jujur dan tidak takut sama sekali.

PS: Menerima buku ini sebagai sebuah kado ulang tahun.
Profile Image for Op.
375 reviews125 followers
May 11, 2020
Oh wow.

Jika anak-anak berpendapat dan mengkritisi sesuatu, memang kadang orang dewasa banyak terkejutnya. Seperti tidak percaya dan tidak terima kalau mereka bisa menulis sebegitu lantang dan bebas. Kadang ada juga rasa takut apakah pemikiran seperti itu harus benar-benar dibebaskan.

Tapi kalau mengingat diri ini kembali ke usia Naya menulis, 9 tahun, rasa-rasanya apa yang dituliskannya memang wajar apa adanya. Perasaan setelah membaca, kerisauan tentang kejadian sehari-hari, kesenangan dan kekesalan dengan dunia sekitar, ya memang begitu adanya. Hanya saja Naya bisa menuliskannya dan itu patut disyukuri.

Minder? Nggak. Kalau Naya mampu menulis dengan porsi dan waktunya, kita yang dewasa juga punya porsi dan waktu masing-masing. Yang pasti ingin baca buku Naya yang lain :)
Profile Image for Wahyu Novian.
333 reviews44 followers
December 18, 2019
Abinaya masih anak-anak dan sudah banyak sekali membaca buku. Juga buku-buku dari penulis-penulis besar yang bukunya tidak biasa diberikan untuk dibaca anak-anak: Steinbeck, Hesse, Orwell, Tolstoy, Pram. Tulisan-tulisan Naya membuat saya mengintip kemungkinan kalau anak diberi kesempatan untuk bebas membaca seluas-luasnya. Tidak melulu harus buku berilustrasi besar dan warna-warni. Seru nih buat bahan obrolan bagaimana kasih bacaan buat anak.

Ulasan-ulasan Naya juga sedikit banyak menunjukkan pandangan-pandangan yang diajarkan pada Naya. Beberapa agak sedikit terlalu satu dimensi. Ya, sama seperti anak-anak pada umumnya sih. Yang akan berkembang kebijaksanaannya dengan lebih banyak membaca buku dan dunia. Dan setiap keluarga memiliki nilai masing-masing.

Naya pandai juga menghubungkan bacaannya dengan nilai-nilai yang ia pelajari dan ketahui. Cuma memang ternyata banyak yang Naya keluhkan. Semoga Naya tetap bisa menikmati bacaan dan kehidupan anak-anak, ya.

Senang sekali bisa membaca tulisan-tulisan Naya. Beberapa harus saya kejar baca biar bisa mengobrol
Profile Image for Umara' Nur Rahmi.
62 reviews5 followers
December 31, 2020
"𝑆𝑎𝑎𝑡 𝑖𝑛𝑖, 𝑏𝑢𝑘𝑢 𝑎𝑛𝑎𝑘 𝑠𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑜𝑙𝑖𝑡𝑖𝑠𝑎𝑠𝑖 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑒𝑤𝑎𝑠𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑑𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑎𝑛𝑎𝑘 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑔𝑎𝑖 𝑜𝑏𝑗𝑒𝑘. 𝑃𝑎𝑑𝑎ℎ𝑎𝑙, 𝑎𝑛𝑎𝑘-𝑎𝑛𝑎𝑘 𝑠𝑒𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑝𝑢𝑛𝑦𝑎 𝑘𝑒𝑚𝑎𝑚𝑝𝑢𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑖𝑡𝑢. 𝑆𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑠𝑎𝑎𝑡𝑛𝑦𝑎 𝑏𝑢𝑘𝑢 𝑎𝑛𝑎𝑘 𝑑𝑖𝑡𝑢𝑙𝑖𝑠 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑎𝑛𝑎𝑘" ~ 𝐼𝑏𝑢 𝑁𝑎𝑦𝑎 ~

(𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑎𝑐𝑎𝑟𝑎 "𝐿𝑖𝑡𝑒𝑟𝑎𝑠𝑖 𝐴𝑛𝑎𝑘 : 𝑃𝑒𝑛𝑔𝑎𝑙𝑎𝑚𝑎𝑛 𝑁𝑎𝑦𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑌𝑜𝑛𝑎" 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑎𝑑𝑎𝑘𝑎𝑛 𝐾𝑒𝑑𝑎𝑖 𝑇𝑒𝑟𝑜𝑘𝑎 𝑣𝑖𝑎 𝑍𝑜𝑜𝑚 𝑀𝑒𝑒𝑡𝑖𝑛𝑔 20 𝐽𝑢𝑛𝑖 2020)
➖➖➖➖➖➖

Saya mulai berkenalan dgn karyanya Naya sekitar pertengahan tahun ini (sekarang masih 2020 kan ?😅). Dan buku "Mengapa Aku Harus Membaca ?" ini menjadi buku pertama yg saya miliki. Judul yg menarik. Sebuah pertanyaan yg juga sering saya coba cari tahu jawabannya 📝

Membaca nama² penulis tersohor yg karyanya sudah dibaca dan disukai oleh Naya seperti Orhan Pamuk, Dickens, Tolkien, Orwell, Ernest Hemingway, Cerventes, Pramoedya Ananta Toer dan banyak lainnya, membuat saya tidak heran jika apa yg ditulis oleh anak manis berusia 11 tahun dalam bukunya ini, tersaji dgn cara yg rapi, berani, dan penuh percaya diri 👏

Cara Naya menulis ulasan tentang buku yg dibaca dan film yg ditonton, kemudian dikaitkan dgn hasil pengalaman dan pengamatannya dalam kehidupan sehari-hari, berhasil membuat saya kagum dan mengacungkan dua jempol secara bersamaan 👍👍

Sebagai manusia yg berdasarkan umur sering dianggap orang dewasa, saya kerap merasa "tersentil" membaca sindiran² yg cukup "lantang" dari Naya terkait tingkah laku menyebalkan orang dewasa 🙈

"Orang dewasa selalu merasa diri mereka yg terbaik dan tahu segala hal tentang anak². Mereka sering bilang jika anak² itu seperti sebuah kertas kosong dan harus diisi. Tapi orang² dewasa tidak benar² tahu bagaimana cara menulis yg baik. Mereka seenaknya mencoret-coret kertas kosong itu. Padahal, mereka bisa mendiskusikannya dgn kami, anak-anak." (Hlm. 17)

Walaupun begitu, karena membaca buku ini pula, saya dibuat sadar untuk saatnya berbenah menjadi orang dewasa yg lebih baik lagi 😊

Buku yg terhitung tipis ini (108 halaman), mungkin bisa saja diselesaikan dalam sekali duduk. Tapi, mungkin tidak untuk perenungan yg didapat setelahnya. Buku yang menurut saya "semi berat", namun sangat layak untuk dijadikan bahan bacaan kita semua, terkhususnya lagi untuk para orang tua 🤗

Selamat membaca 💕
Profile Image for Naila Mel0njus.
39 reviews
Read
June 9, 2020
Karya hebat dari Nay.
Aah tentu bukan Nayla wkwkwk tapi Abinaya Ghina Jamela. Penulis cilik yang baru berumur 10 tahun ini punya gaya yang unik dalam tulisannya. Aku akui, itu kritis sekali! Rasanya seperti buku Le Petite Prince, melihat sesuatu dari sudut pandang anak-anak.

Pada buku ketiga ini berisi kumpulan ulasan-ulasan juga esai dari Naya, tidak hanya ulasan buku ya, ada pendapatnya juga tentang Woody dalam film Toy Story 4, bahkan anggota dewan juga ikut diulas oleh Naya!

Review yang dilakukan Naya ini beda dari yang lain dalam hal penyampaiannya. Ini membuatku membuka mata lebar-lebar. Aku terlalu banyak membaca (dan diarahkan) untuk mengulas buku dengan format baku, harus mencakup semua unsur intrinsik dan ekstrinsik cerita, dan harus berurutan. Pendahuluan, ringkasan, unsur intrinsik, unsur ekstrinsik, penutup. Tapi.. di buku ini hilang semua pakeman itu. Ketika membaca kamu lebih merasa mendengar Naya bercerita daripada membaca sebuah ulasan, ia menceritakannya dengan sangat luwes, mengalir begitu saja tentang apa yang dia pikirkan. Kalian pasti pernah kan mencoba menulis apa saja yang ada dalam pikiran kalian, alur loncat-loncat, pokoknya tulis aja. Nah seperti itu tulisan Naya.

"Anak-anak atau Anggota Dewan yang Lebih Kekanak-kanakan?" Adalah judul yang aku suka. Haha. Aku langsung teringat video anggota dewan yang tidur saat rapat dan diberi lagu Hindia - Secukupnya.

Menurutnya tingkah laku anggota dewan itu memalukan. Bagaimana bisa saat sidang mereka malah tidur, sedangkan anak-anak kalau tidur dikelas langsung ditegur. Ia pikir kalau seperti itu mereka cuma dapat mimpi dan iler saja.
Satu lagi, mereka bahkan juga berteriak, memukul meja dan membantingnya. Bagaimana bisa mereka berteriak kepada yang lebih tua? Apa mereka tidak diajarkan sopan santun saat kecil?

"Kami anak-anak diharuskan bersikap dan bicara yang sopan pada orang tua, pada guru, atau pada siapa saja. Tapi lihat apa yang mereka lakukan? Lalu jika nanti anak-anak bersikap seperti itu, kami akan dimarahi. Kami dianggap kurang ajar. Itu benar-benar tidak adil!"

Dan masih banyak lagi pendapat kritis dari Naya yang akan membuatmu bergumam, hmm ada benarnya.
Profile Image for Annas Karyadi.
15 reviews
December 12, 2019
Buku yang sangat menarik untuk dibaca! Pembaca akan diajak menyelami pikiran Naya atas pembacaannya terhadap buku, film maupun kehidupan. Membaca buku ini, pembaca akan tidak sabar untuk segera menghabiskan setiap judul tulisan namun juga tidak ingin buku ini segera habis dibaca. Rasanya seperti sedang berdiskusi dengan Naya secara tidak langsung.
Profile Image for Sukmawati ~.
79 reviews34 followers
January 10, 2023
Mengapa Aku Harus Membaca? (MAHM?) adalah kumpulan esai karya penulis muda asal Yogyakarta, Abinaya Ghina Jamela. Tujuh belas tulisan dalam buku 108 halaman ini menyajikan sesuatu yang berbeda dari buku anak-anak pada umumnya. Boleh dibilang buku ini bercerita tentang anak-anak yang ditujukan untuk orang dewasa.

Di usia belia, Naya —panggilan Abinaya— sudah mampu mengkritisi soal karya penulis-penulis luar negeri seperti George Orwell, Steinbeck, Roald Dahl, Umberto Eco, dll. Belum lagi sambatan Naya soal susahnya menjadi anak-anak. Bagian ini sungguh menunjukkan daya nalar seorang anak dalam merespon keadaan ataupun perintah orang dewasa.

Di samping kritik karya sastra dan celotehan Naya seputar dunia anak dan membaca, Mengapa Aku Harus Membaca? (MAHM?) juga memberikan sedikit sentuhan perspektif ihwal gender dan patriarki. Untuk anak seusia Naya, pemahaman terhadap dua hal tersebut menjadi salah satu hal yang menarik.

Aku sering kesal dengan buku pelajaranku. Setiap ada cerita tentang keluarga atau gambar tentang keluarga, pasti ayah sedang membaca koran, adik sedang main mobil-mobilan, ibu sedang memasak di dapur dan aku sedang menyiram tanaman. Memangnya kami pembantu? —hal.46

Saat Naya menulis MAHM? mungkin usianya masih sangat muda bahkan belum pas untuk disebut remaja, namun Naya ini terbilang kritis dalam menangkap teks dan konteks yang ia tulis. Ini tentu saja tidak lepas dari peran Bunda — ibunya Naya- yang memang menaruh perhatian terhadap dunia literasi; lebih dari sekadar baca-tulis.

Salut sih dengan upaya Bunda Yona Primadesi dalam mengenalkan literasi kepada anaknya. Semoga bisa diikuti juga oleh para (calon) bunda lainnya.

Bunda bilang, otak manusia seperti gelas. Gelas diisi dengan membaca. Agar tidak tumpah, maka isinya harus dituang ke gelas lainnya. Jika tidak, bisa merusak. —hal. 67

Buku esai ini ringan. Renyah dibaca dan bisa dimulai dari halaman berapa saja. Karena nggak ada aturan khusus yang mengharuskan pembaca membaca MAHM? secara runut. Buku ini layak baca oleh siapa saja dari rentang usia anak-anak hingga dewasa.

Salam takjub buat Naya! :))
Profile Image for Dinda.
118 reviews6 followers
June 20, 2024
Setelah membeli buku ini, aku menemukan bahwa ternyata Naya, adalah seorang remaja, kelahiran 2009. Astaga!

Buku ini sendiri adalah kumpulan review dari beberapa tontonan dan bacaannya kala ia berusia 9 tahun. Diantaranya, Ia menonton Toy Story 4, Lion King dan Maleficent juga membaca Animal Farm, Matilda hingga In the Name of The Rose karya Umberto Eco.

Wow!

Reviewnya sungguh mencengangkan. Kupikir, seorang anak 9 tahun bisa memahami dengan baik Animal Farm dan metaforanya terhadap kehidupan manusia adalah sesuatu yang luar biasa.

Susah untuk tidak membandingkannya dengan anak sendiri, ahahhah! Dibutuhkan energi yang banyak untuk mengalihkan anakku Malik dari komik-komik yang sangat dicintainya, ke novel yang penuh teks. Padahal ia termasuk anak yang suka sekali membaca.

Dan pastinya akan butuh konsistensi tingkat tinggi untuk mengajak Malik mulai menulis review sekompleks ini alih-alih menullis 3-4 kalimat ringkasan isi buku dan menunjukkan bagian kesukaannya seperti yang selama ini kulakukan.

Thanks to this book, i have more ideas to do it. Terimakasih Kakak Naya sudah memberi inspirasi (juga menepis ketakutanku untuk mengenalkan buku-buku yang lebih ‘berat’ ke anakku!)


Profile Image for Safira.
17 reviews4 followers
August 18, 2022
Emang sepertinya cocok dibilang esai, karena isinya banyak bercerita dari pikiran Naya, si penulis, tentang anak kecil yang suka membaca. Di dalamnya ada beberapa bab tentang ulasan buku-buku, The Surprising Adventures of Balthazar, Animal Farm, Matilda, Fortunately Milk, dll.

Dari semua itu, ada satu poin yang berulang kali disampaikan: penulis sangat senang baca buku; dia juga menegaskan anak-anak bisa kok suka baca buku tanpa dipaksa dan punya pemikirannya sendiri. Menurutnya orang dewasa masih menganggap anak-anak gabisa ngapa-ngapain. Penulis juga berulang kali membandingkan kondisinya dengan teman-temannya (anak-anak lainnya) yang lebih suka menonton tv atau bermain handphone dan tidak membaca buku. Ya pada akhirnya keliatan pola ini semua karena didikan orang tua. Orang tua Naya sudah kasih dia buku dari kecil dan untungnya Naya juga suka baca jadi sampe sekarang dia senang baca dan nulis.
Profile Image for Putu Winda.
302 reviews2 followers
December 4, 2023
Saya iri pada Abinaya!
Sangat iri. Ketika buku ini diterbitkan ketika umurnya 10 tahun tapi tulisannya membuat saya malu! Tulisannya super keren.
.
Bayangin aja anak 10 tahun menulis tentang Feminisme, Patriarki, politik Indonesia, sampai urusan sosio-cultural dengan sangat rapih!
.
Menurut Abinaya, dia menulis karena banyak membaca. Selain membaca itu menyenangkan (kecuali buku-buku pelajaran), membaca juga membuat kita menjadi cerewet dan bisa menulis.
.
Ketika mengetahui referensinya, lagi-lagi saya iri! Umur 10 tahun dia sudah kenal Orwell, Tolkien, Dahl, Gaiman, dan banyak penulis kelas kakap lainnya. Waktu seumur itu, saya masih membaca novel-novel Agatha Christie sambil membaca komik Mahabharata-nya R.A Kosasih, pinjam dari perpus SMA dengan kartunya bapak.
.
Jadi bapak ibu yang baik, mohon anak-anaknya diberikan akses ke banyak buku, masa ga mau anaknya jadi sepintar Abinaya?!?!
Profile Image for Gifty Zabina  Agung.
75 reviews
February 15, 2022
Oh My God! I Love Essay! Terlebih jika esai-esai itu ditulis oleh anak yang baru berusia sembilan tahun!

Yah, gak aneh kok. Bahkan aku pernah lihat ada anak usia delepan tahun udah sarjana aja, wkwk.

Sungguh menarik sekali buku ini. Abinaya menulis esai-esai yang dia dapatkan dari pengalamannya membaca buku-buku. Apalagi, buku-buku yang menurutku bukan target seusianya. Like, what the-- dia udah baca karya Umberto Eco? Ckck. Bisa kubilang, pemikiran Abinaya udah seperti pemikiran mahasiswa aja. Dia membahas di buku ini beragam fenomena sosial, hm, yang bahkan ada yang belum pernah terlintas di pikiranku sebelumnya.

Intinya, amazing sekali pemikiran anak ini.

Terus berkarya ya, Naya!

Di sisi lain, sehabis membaca ini aku berpikir ulang soal masa laluku. Usia sembilan tahun aku ngapain aja, ya? Jangankan nulis esai, mau tidur aja masih dibacain dongeng sama Papaku, wkwk.
Profile Image for Kalya Dinanti.
15 reviews
June 30, 2025
saya baca buku ini setelah membaca bukunya: kucing, lelaki tua, dan penulis yg keliru yg dibaca untuk pelajaran b Indo. Karena saya pikir buku ini bersifat semacam dgn buku itu dan benar. tapi seingat saya buku ini lebih bertopik ringan dibanding buku yang baru itu karena kak Abinaya menulisnya saat masih di bangku SD (setahu saya) .

dan review saya tak jauh beda dengan review saya untuk buku kak Abinaya yang KLTDPYK. Ini juga semacam buku mengoceh, bukan sampai ngoceh juga sih tapi mereview soal sesuatu. tapi juga ada ditulis pendapat kakak Abinaya yang kadang saya anggap lucu karena dia menulis pengalaman2nya juga.

overally this is a good book and I'd hand my future child this book to read the second she's in 4th grade
Profile Image for Febri Hasanah.
Author 1 book7 followers
November 5, 2023
Buku ini berisi kumpulan cerpen dari Naya, seorang gadis yang berusia 10 tahun saat buku ini pertama kali terbit. Rasanya sudah lama tidak membaca tulisan yang cukup menyegarkan. Perspektif Naya menurutku cukup matang untuk anak diusianya—dan ia pembaca yang kritis. Sayangnya, aku menemukan beberapa typo yang menjadi hal teknis dalam beberapa tulisan. Terlepas dari hal tersebut, aku kagum pada Naya yang bisa dengan berani menyampaikan ini dan itu lewat tulisan, mungkin karena ia masih berumur 10 tahun. Kami orang dewasa seringkali ragu-ragu untuk saling mengkritisi satu sama lain, Nay.
Profile Image for Vira Tanka.
36 reviews2 followers
December 9, 2021
mengagumkam sekali bahwa buku ini ditulis oleh anak berusia 9 tahun! Naya mengkritik banyak hal di sini, yang menunjukkan dia itu cerdas. bagaimana tidak. dia sudah baca banyaaak sekali buku di usia yang sangat belia, termasuk LOTR, Of Mice And Men, dan buku-buku Neil Gaiman. tulisan Naya dalam sebagian besar bab di buku ini mengacu pada buku-buku yang sudah dibacanya. sebagian lainnya ia membahas hal-hal umum seperti sikap para wakil rakyat dan pengendara lalu lintas yang kurang terpuji.
Profile Image for gowi.
141 reviews26 followers
November 24, 2019
Naya dari kecil sudah terbiasa melahap buku dan sudah menerbitkan beberapa buku. Bahkan dia udah baca bukunya Pram dong. Nayaaaa, you’re superb cool.
Profile Image for Raka Adyaraka.
4 reviews
January 20, 2024
Bukunya kurang seru juga gak menantang tapi halamannya agak banyak, karena itu aku kasih bintang 3 aja yaa.
Profile Image for Antin Aprianti.
46 reviews1 follower
February 10, 2024
Melihat sudut pandang seorang anak kecil seru juga. Diajak melihat banyak hal, dan mengenal banyak buku-buku yang bahkan belum aku baca
Profile Image for Dessy Irene.
31 reviews1 follower
June 16, 2023
Buku ini benar-benar asik untuk dibaca. Buku ini juga bisa diselesaikan dalam sekali duduk. Walaupun begitu, aku gak mau melahap buku ini secepat itu, xixixi.

Buku ini ditulis oleh anak perempuan berumur 9 tahun yang suka membaca dan pandai menulis. Dalam buku ini, penulis membagikan pendapatnya tentang buku-buku yang sudah ia baca.

Opini-opini yang ia tuliskan sangat menarik, cerdas, dan bisa jadi kritik pedas bagi orang dewasa. Itu yang membuat buku ini asyik dan menarik. Aku seperti sedang mendengar anak kecil berceloteh namun celotehannya berbobot.

Aku suka dengan gaya penulisannya yang natural. Penulis sangat lugas dan berani dalam menyatakan pendapatnya terutama terkait penulis buku Matilda yang dia baca, para orang tua, bahkan anggota DPR.
Tidak hanya itu, aku juga kagum dengan ibunya si penulis yang mampu mendorong anaknya untuk gemar membaca dan melibatkan anaknya untuk diskusi bersama, baik hal ringan maupun berat. Seolah tidak ada hal yang terlalu dini untuk dibahas, tidak ada "kamu masih anak kecil, ini urusan orang dewasa", atau "ya emang udah begitu harusnya. Ga usah banyak tanya." Justru ibunya memberi ruang untuk bertanya, dan juga kerap mempertimbangkan opini anaknya, sehingga anak juga mampu menjadi pribadi yang utuh, berwawasan luas dan lugas dalam menyampaikan pendapat-pendapatnya.

Aku merekomendasikan buku ini untuk kamu yang pengen memulai untuk membaca. Aku yakin, kamu bisa menemukan keseruan membaca dari tulisan-tulisannya Abinaya ini, dan kamu bisa menemukan buku-buku lainnya untuk dibaca dari ulasan-ulasan yang dia berikan di sini.

#bookrecommendations #bookstagram #bukuanak #bookreview
Displaying 1 - 22 of 22 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.