Sebenarnya ini buku terbitan lama yang diterbitkan kembali oleh gramedia. Untuk pertama kalinya, saya bisa mengakses informasi yang akurat, terstruktur, dan lengkap tentang perang Padri. Sangat menarik, disamping menelaah tentang jalannya perang dengan sangat detail (lengkap dg tanggal, jam, dan nama kampung kecil yang bahkan tidak ada di google maps), penulis juga memberikan informasi ttg keadaan sosial budaya yang menjadi pemicu terjadinya perang padri. Hal ini dikarenakan penulis mengambil sumber langsung dari catatan2 Jendral Belanda yang terdokumentasi dengan baik dan tersimpan di Leiden.
Yang paling menarik adalah penilaian orang Eropa terhadap orang minangkabau saat itu, terutama residen dan jendral perang dari Belanda yang diutus ke Sumatra Barat. Mereka terheran heran dengan karakter masyarakat minang yang sangat jauh berbeda dengan masyarakat Jawa yang terlah lama ditaklukannya.
Saya kutip dari halaman 90, "Seorang opsir Belanda yang telah lama bergaul dengan orang Jawa yang patuh ketika ditempatkan di Sumatera Barat menulis tentang keheranannya betapa orang disana membenci orang asing, suka membantah, dan tinggi hati tidak beralasan........ Jika saya melihat mereka gila main dan melakukan keburukan lain lain, saya mulai yakin bahwa bangsa itu tidak akan terbaiki pekertinya, dan tidak berharga dilindungi, lebih baik dibiarkan hancur oleh musuh musuhnya"
Kekesalan opsir Belanda ini sangat beralasan, karena Kaum Adat (Padang Darat) lah yang memohon mohon kepada Belanda di Padang Hilir atau Kota Padang sekarang, untuk membantu mereka melawan Pemerintah Padri. Tetapi ketika ditolong Belanda dalam pertempuran, sering kali kaum adat yang lari duluan.
Tentu, Tuanku Imam Bonjol sangat terkenal karena Bonjol adalah kota yang paling susah ditaklukan oleh Belanda, berkali2 Belanda mengganti Jendralnya untuk menaklukan kota ini, ratusan tentara Belanda yang mati, butuh bertahun tahun bisa menerobos dinding pertahanan Bonjol. Ingat, ini perang dimana sudah pasti kaum Padri hanya bermodalkan Pedang, Bambu Runcing, dan Senjata rampasan berupa meriam dan senapan yang keakuratannya sangat buruk.
Nama2 penting lainnya seperti Tuanku Nan Renceh, Tuanku Koto Gadang, Haji Miskin, adalah para pemuka Padri yang bersikeras memberantas kebatilan di bumi Minagkabau yang sudah 150 tahun menganut islam tapi masih suka menyabung ayam, menghisap madat, mengunyah sirih, berjudi, dan perbuatan dosa lainnya. Tuanku Nan Renceh yang bahkan belum berumur 30 tahun, menganggap bahwa jalan kekerasan adalah cara satu satunya menegakan Islam di bumi Minangkabau, kegiatan ini diawali dengan membunuh bibinya sendiri yang kedapatan memakan sirih, dan mayatnya dipertontonkan di kampung. Yang sulit saya pahami adalah, ternyata kekejaman Padri juga sangat luar biasa, membunuh penyabung ayam, memenggal kepala mereka (saya pikir cuma suku kaya-kaya di Boven Digul sana yang suka penggal bapak punya kepala), menjadikan tawanan perang dari kaum adat sebagai budak mereka. Kekejaman yang luar biasa inilah mungkin yang membuat kaum adat tidak tahan dan gelap mata meminta bantuan kepada pihak asing
Rasa penasaran kita tentang kenapa tidak ada uang belasting di Sumatra Barat? Kenapa Kaum Adat minta Inggris (Bukan Belanda) untuk menolong mereka melawan Padri? Kenapa Lintau sangat sulit ditaklukan? Kenapa masyarakat Mandailing benci sekali dg Padri? Kenapa Padri begitu gampang membunuh orang hanya karena makan sirih, padahal mereka juga shalat 5 waktu? kenapa tidak semua ulama sepakat dg penegakan islam dg kekerasan? Kenapa orang Minang tidak ada yang memeluk agam lain selain Islam sedari lahir? Kenapa Belanda tidak menyebarkan kristen di Sumatera Barat? Kenapa Belanda tidak mau mencampuri urusan perang padri awalnya? Kenapa Padri berbaju putih dan kaum adat berbaju hitam?
Yang pasti, yang membentuk karakter orang minangkabau hari ini, bisa tercermin dari watak para pendahulunya, terlepas mereka padri, atau kaum adat. Dan tulisan yang saya baca adalah tulisan yang ditulis 200 tahun lalu, dan dikumpulkan menjadi buku. Sangat Menarik!
Buku yang bagus menceritakan kejamnya penjajahan yang digencarkan oleh penjajah Belanda, di lain kutub terdapat juga pengkhianat dibalik sebuah perjuangan menambah dramatis kelamnya sebuah alur sejarah