Ketika pada akhir abad ke-15 Columbus dan awak kapalnya mencapai pulau-pulau yang kini disebut Bahamas, mereka sesungguhnya telah membangun sebuah jembatan tak kasatmata yang menghubungkan Dunia Lama (Benua Eropa) dengan Dunia Baru (Benua Amerika). Jembatan maya itu lebih tepatnya menghubungkan Semenanjung Iberia dan daratan Amerika Selatan.
Buku ini berisi kisah pengelanaan wartawan senior Diah Marsidi ke berbagai tempat di Eropa dan Amerika, ke negeri-negeri yang namanya pernah muncul dalam tulisan-tulisan lama dari masa awal penemuan Benua Amerika oleh para pelaut Spanyol dan Portugal, dua bangsa Eropa yang mewariskan pengaruh kebudayaan yang luar biasa besar pada bangsa-bangsa asli dan pendatang lain di sana.
Namun, kisah-kisah pelancongan ke Spanyol, Portugal, hingga ke Brasil dan Venezuela ini bukanlah cerita perjalanan sejarah. Tulisan-tulisan dalam buku ini lebih merupakan sebuah mosaik kisah-kisah perjumpaan penulis dengan aneka bangsa, tempat, dan kebudayaan yang diharapkan dapat menambah pemahaman kita tentang dua lokasi geografis berbeda di muka bumi, yakni Semenanjung Iberia di Eropa bagian selatan dan Amerika Latin, serta jembatan maya yang menghubungkan keduanya.
Buku yang mencatatkan pengalaman mengembara (mahupun bekerja sambil melihat tempat orang) penulis di Portugal, Sepanyol, Mexico dan di sebahagian negara Amerika Selatan seperti Brazil, Argentina, Chile, Peru, Colombia dan Venezuela. Boleh dilihat perkaitan antara negara-negara yang disebut ini. Dua yang awalnya adalah negara penjajah suatu masa dahulu, manakala yang kemudiannya antara negara-negara yang pernah dijajah oleh mereka.
Pekerjaan hakiki penulis sebagai seorang wartawan sepenuh masa di Indonesia sememangnya membantu beliau di dalam menghasilkan buku berkonsep separa travelog ini. Beliau berjaya menukilkan kisah yang nyata berdasarkan pemerhatian beliau dari perspektif seorang pengamal media, namun dalam versi yang lebih santai yang lebih sesuai dengan buku bergenre travelog layaknya.
Sedikit cebisan sejarah, budaya, senibina, dan semestinya pelbagai tempat tarikan pelancong berjaya beliau satukan ketika menceritakan setiap tempat yang beliau pergi. Pelbagai tips berkaitan pengangkutan dan itinerari ringkas juga ada dinukilkan penulis di beberapa tempat yang beliau rasakan mampu membantu pembaca sekiranya kesana satu hari nanti.
Sebagai seorang peminat bola, pengalaman berharga penulis dapat menyaksikan sendiri perseteruan di antara Boca Junior dan River Plate di Stadium La Bombonera, Buenos Aires semestinya yang paling mengujakan untuk dibaca. Lebih kepada cemburu sebenarnya haha. Tidak semua orang berpeluang untuk menyaksikan antara perlawanan bolasepak yang berprofil tinggi seperti ini di sepanjang hidup mereka. Sememangnya menjadi wartawan ini banyak juga kelebihannya jika anda boleh hadapi tekanannya juga.
Buku yang bagus buat rujukan ringkas sekiranya anda ingin ke negara-negara ini suatu hari nanti. Lebih-lebih lagi sekiranya anda adalah peminat seni arkitek zaman silam, serta keindahan budaya asing.
"Di bagian puri yang dulunya dipakai sebagai penjara digelar sebuah pameran Escritas de Amor, kata-kata cinta yang dituliskan di sapu tangan para kekasih. Sapu tangan-sapu tangan dari Vila Verde dari abad ke-18 itu dibordir dengan gambar dan tulisan warna-warni.
Menurut kebiasaan zaman itu, seorang gadis yang sudah mencapai usia untuk menikah akan menyulam sebuah sapu tangan yang akan diberikan kepada pria pujaannya. Bila pria itu mengenakan sapu tangan itu di muka umum, maka hubungan mereka akan dimulai." Hal.7.
Kebiasaan yang terjadi di Lisbon, di masa lampau ini tentu saja unik. Dan inilah salah satu cerita yang dibagikan oleh Diah Marsidi, wartawan yang berkarir lebih dari 35 tahun di Kompas. Di bukunya Travelog dari Iberia ke La Bombonera ini saya diajak ke banyak sekali tempat yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Dari Semenanjung Iberia, Meksiko dan Amerika Tengah hingga ke Amerika Selatan.
Di tulisan "Mencecap Manisnya Anggur Porto" saya baru tahu kalau di tahun 1678 saat Inggris menyatakan perang terhadap Perancis (serta memblokade pelabuhan-pelabuhan Perancis), warga Inggris terkena imbas tak lagi dapat menikmati anggur yang enak.
"Para pedagang anggur Inggris pun berpaling ke Portugal, yang selama ini adalah sekutu dagang mereka, untuk mendapatkan alternatif anggur Perancis. Untuk melihat dan mengawasi proses produksi, mereka masuk ke pedalaman melalui Sungai Duoro dan menemukan jenis anggur merah yang lebih gelap dibandingkan dengan yang terdapat di dekat pantai, selain anggur putih, dari lembah yang disebut Lembah Douro." Hal.39.
Salah satu tempat yang saya cukup familiar dan dibahas di buku ini adalah Machu Picchu. Namun, baru dari tulisan beliau saya mengetahui jika, "Beberapa tahun lalu, beberapa ahli geologi Jepang melakukan survei di sana dan menyimpulkan bahwa gunung yang menjadi tempat bertengger kota di ketinggian 2.250 meter itu kemungkinan bisa longsor dalam beberapa tahun mendatang. Machu Picchu, menurut mereka, dibangun di tempat yang bergerak di dalamnya. Prakiraan mereka, dalam 10 atau 15 tahun lagi, kalau tidak dilakukan tindakan apa pun, Machu Picchu akan lenyap dari muka bumi karena tanahnya bergerak satu sentimeter per bulan. Hal 112 dan 113.
Ramalan itu emang tidak dihiraukan banyak pihak, namun ada ancaman lain yang tak kalah mengerikan yakni gempa bumi. Machu Picchu ya sebagaimana banyak orang adalah salah satu wishlist saya juga. Sayangnya ke sana jauh banget dan mahal banget, euy.
Lantas, bagaimana Diah Marsidi dapat mendatangi tempat-tempat yang jauh dan wow itu? sekali lagi, pekerjaannya sebagai jurnalis banyak membawanya ke tempat paling asing dan jauh. Kedekatannya dengan orang-orang yang bekerja di kedutaan juga turut mempermudah pergerakannya.
Misalnya, saat bertugas ke Brasil dan mendadak presiden Venezuela, Hugo Chaves meninggal dunia seketika kantor langsung menugaskannya beliau Caracas. Untuk ukuran beliau yang jurnalis saja dan sudah dibantu pihak kedutaan visa tak mudah didapatkan. Apalagi pelancong biasa yang "hanya" mau jalan-jalan.
Sayangnya, latar belakang beliau sebagai jurnalis itu tidak dituliskan lebih detail di buku. Beberapa kali saya kebingungan saat beliau menulis jika dia sudah pernah ke tempat yang ia datangi sekian bulan/tahun lalu. Ya, dulu datangnya buat apa? liputan? belajar? atau apa?
Profil penulis baru saya dapatkan setelah iseng googling sesaat sebelum menuliskan ulasan ini. Dan baru saya ketahui jika beliau telah meninggal dunia 2021 lalu dan sepak terjangnya di dunia jurnalistik begitu banyak. (Selengkapnya baca di https://www.kompas.id/baca/opini/2021...)
Buku ini bisa dibilang jadi salah satu legacy beliau. Saya banyak dapat informasi walaupun gaya menulisnya sangat wartawan dan tidak begitu mendalam (saya kelihangan sedikit ruh dalam tulisannya), namun secara keseluruhan ini buku setebal 157 halaman yang disertai berbagai macam foto hitam putih ini bagus untuk dibaca. Sekaligus juga mempupuk asa kelak bisa mendatangi tempat-tempat yang beliau tuliskan di buku ini.
Jujur saja: saya tak menangkap banyak kesan selama baca buku ini. Tak ada yang benar-benar istimewa. Isinya hanya catatan perjalanan, entah saat penulisnya liburan atau dinas liputan. Hanya itu, tanpa informasi lebih mendalam, tanpa perspektif yang segar, atau minimal keberpihakan penulis ketika melihat kejadian politis di depan mata.
Dalam teks-teks perjalanan, saya merasa perspektif asli dari penulis bisa lebih menonjol ketimbang hanya detail-detail laporan mata yang membosankan. Berbeda, misalnya, saat membaca Agustinus Wibowo, Linda Christanty, atau Sigit Susanto.
Saya hanya tahu sedikit informasi soal penulisnya yang merupakan poliglot—yang mahir bahasa Prancis, Inggris, Italia, Spanyol hingga Portugas.
Semoga jalanmu lapang diterima di sisi-Nya, Mbak Diah.***