Jump to ratings and reviews
Rate this book

Helen dan Sukanta

Rate this book
Di restoran Indonesia Lachende Javaan, Haarlem, Belanda, tahun 2000, Nyonya Helen bercerita kepada saya tentang masa lalunya selama dia tinggal di Hindia Belanda, yang kini bernama Indonesia. “Saya lahir dan tumbuh di Ciwidey. Masa remaja saya, saya habiskan di Bandung, sampai kemudian Jepang datang pada tahun 1942 dan mengubah semuanya.” Nyonya Helen kemudian menceritakan juga kisah asmara yang dia jalin bersama Sukanta, seorang pribumi. “Firasat saya benar, saya menyukai Sukanta. Itulah yang saya rasakan.” Harus ada yang mengerti bagaimana Nyonya Helen merasakan semua kenangannya. Tidak ada yang tahu sudah berapa banyak rasa rindu menguasai dirinya sejak dia mengucapkan selamat tinggal kepada Indonesia.
“Nah, sekarang, diamlah. Ini cerita saya, dan semuanya benar-benar terjadi.”

364 pages, Paperback

First published October 1, 2019

39 people are currently reading
382 people want to read

About the author

Pidi Baiq

26 books1,449 followers
Pidi Baiq adalah seorang seniman yang punya banyak kelebihan. Selain sebagai seorang musisi dan pencipta lagu, ia juga seorang penulis, ilustrator, pengajar dan komikus.
Pidi Baiq mengaku imigran dari surga yang diselundupkan ke Bumi oleh ayahnya di Kamar Pengantin dan tegang.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
94 (33%)
4 stars
107 (37%)
3 stars
63 (22%)
2 stars
11 (3%)
1 star
7 (2%)
Displaying 1 - 30 of 75 reviews
Profile Image for yun with books.
717 reviews243 followers
December 20, 2019
Saya setelah menyelesaikan buku ini:


Ketika tau Surayah akan menerbitkan buku baru berjudul Helen dan Sukanta, saya langsung sangat excited. Saya penyuka karya-karya beliau, mulai dari Dilan Bagian Kedua: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991, Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990, Milea: Suara Dari Dilan, Drunken Monster: Kumpulan Kisah Tidak Teladan dan masih banyak lainnya.
Tentu Helen dan Sukanta ini tidak akan saya lewatkan!

Helen dan Sukanta berkisah tentang perempuan keturunan Belanda yang tinggal di Ciwidey. Anak tunggal dari pasangan Belanda juga, Helen jatuh cinta dengan laki-laki pribumi bernama Sukanta, dipanggil Ukan. Lika-liku perjalanan kisah cinta mereka yang berawal dari persahabatan ini menjadi fokus utama buku ini. Dengan latar belakang Bandung, Ciwidey, Lembang dan sekitarnya pada tahun 1930-an hingga Jepang datang ke Hindia-Belanda (sekarang Indonesia), buku ini memberikan cerita yang sangat jauh berbeda dari buku-buku Pidi Baiq sebelumnya.

Pertama-tama, saya agak susah menghilangkan jejak Milea dan Dilan dalam buku ini, salah satu alasannya adalah cerita sama-sama yang berlatar tempat di Bandung dan sekitarnya. Bawaannya pasti Helen itu Milea, Ukan itu Dilan. TAPI TERNYATA SAYA SALAH. Menurut saya, Surayah sudah cukup baik melepas image Milea dan Dilan, sehingga pembaca menjadi fokus ke Helen dan Sukanta.
Untuk karakter, Helen sangat mendominasi di sini, iya karena Helen adalah orang pertama dalam cerita ini. Karakternya yang liberal - khas ras Eropa - membuat Helen menjadi karakter yang pemberani dan tidak terikat oleh batasan apapun.
Sebaliknya, Sukanta, menjadi karakter yang submisif, bahkan Ukan terkenal jarang banyak bicara. Saya tahu alasannya, karena pada saat cerita ini terjadi, gap antara golongan Belanda dan pribumi sangat terasa. Singkatnya, ya banyak yang rasis.

Buku ini sangat asik dibaca pada 100 halaman pertama, saya sangat menyukai imajinasi saya ketika membaca buku ini, Ciwidey yang dingin, alam yang asri. Kehangatan persahabatan Helen dan Ukan dapat mengimbangi dinginnya Ciwidey.

Saya sangat suka karakter wanita yang kuat dan setia, salah satunya Helen ini. Saya sangat suka akhir cerita buku ini. Membuat saya berpikir kalau cinta pertama memang benar-benar sejati.

Profile Image for Suci Nordlys.
39 reviews
July 29, 2020
Ok langsung aja review-nya.

Kalo dari segi kepenulisan, ada beberapa kepenulisan yang bikin aku sakit kepala. Pemborosan kata, kesalahan ejaan, kalimat tidak efektif, bahasa baku campur tidak baku, ketidakkonsistenan tulisan; ada yg pake aku, ada yg pake saya. Ada yg pake kamu, ada yg pake kau. Dan masih banyak lagi yang bikin aku gemes. Trs lagi tanda pembatas (tanda bintang tiga) di setiap adegannya tuh suka ditempatin di saat yang tidak tepat. Padahal adegannya masih bersambungan, tapi malah dikasih tanda pembatas.

Kalo dari segi plot, sebenernya aku ngerasa kalo kisah cinta antara Helen dan Sukanta itu kurang kuat. Aku gak dapet point kenapa Helen bisa sebegitu cintanya ke Sukanta. Apalagi saat itu Helen masih 13thn. Dan aku gak dapet hal yang begitu "wah" juga dari Sukanta. Dan cinta Sukanta ke Helen juga gak terlalu terlihat, dia gak banyak ngomong dan gak banyak usaha juga. Padahal yg naksir dan berusaha ke Helen itu banyak bgt, saking banyaknya aku sampe ngerasa kalo semua laki2 di novel ini emng tercipta hanya untuk Helen.

Tapi banyak bgt hal yg dapet dipetik dari novel ini sih. Bahas tentang rasis, perjuangan, sejarah, agama, budaya, sosial, dll. So far aku cukup menikmati, meskipun terkadang kesel sama penulisannya itu.
Profile Image for Lelita P..
632 reviews59 followers
February 4, 2020
Saya udah lamaaa banget nggak baca novel historikal Indonesia. Dulu tuh saya hobi banget baca novel historikal Indonesia, tapi historikalnya itu zaman-zaman kerajaan. Jarang-jarang saya membaca novel historikal Indonesia yang berlatar pra/pascakemerdekaan. Novel ini menjadi salah satunya.

Tadinya saya kira novel ini novel romansa biasa ... tapi ternyata tidak. Setelah menyelesaikan bukunya, saya bisa bilang ini novel historikal--meskipun jangan berekspektasi novel historikal yang ini "nyastra" sebagaimana novel-novel historikal yang kita tahu. Novel ini novelnya Pidi Baiq dengan segala ciri khas Kang Pidi. :')


Sebelum pulang, Ukan berkata bahwa besok sudah mulai memasuki bulan Ramadhan dan dia berencana akan puasa. Katanya, kalau sudah puasa, tidak ada lagi makan jika ingin makan di siang hari. Kami semua harus makan pada waktu yang sama ketika maghrib.
"Minum?"
"Tidak boleh."
"Senyum?"
"Boleh."


Duhhh cuma Kang Pidi yang bisa bikin kalimat-kalimat gemes kayak gitu. :')

Cerita novel ini konon katanya diangkat dari kisah nyata Nyonya Helen (yang dikisahkan juga di prolog). Bagian-bagian awal novel ini tuh bercitarasa Dilan sekali. Mengisahkan Helen, keluarganya, kehidupannya, pertemuannya dengan Sukanta (Ukan), bagaimana mereka saling jatuh cinta, dan bagaimana cinta itu berkembang. Kemudian ... sesuatu terjadi. Hidup Helen berubah selamanya.

Saya punya perasaan yang begitu campur aduk akan novel ini. Yang pertama, bagi saya novel ini twisty karena saya nggak menyangka ceritanya akan seperti itu. Tapi karena cerita ini merupakan kisah nyata Nyonya Helen, twist tersebut tidak dibuat-buat, melainkan memang betul-betul terjadi. Dan hati saya rasanya patah membacanya.

Kedua ... war sucks. Kadang kita melihat betapa di film-film perang, banyak hal tragis terjadi yang membuat sesuatu yang sudah direncanakan jadi tidak bisa terjadi gegara meletusnya perang. Hal-hal itu sungguh nyata. Dan itu menyedihkan.

Sebagaimana yang saya katakan di atas, saya lebih akrab dengan sejarah kerajaan-kerajaan Indonesia daripada sejarah-sejarah zaman penjajahan menjelang kemerdekaan, jadi rasanya membaca ini tuh membuka mata saya bahwa zaman itu mengerikan. Arc terakhir novel ini menceritakan kondisi Indonesia pada zaman akhir masa penjajahan Belanda di Indonesia, yang kemudian digantikan Jepang yang kejam, dan kemudian transisi menuju pemerintahan merdeka. Ceritanya cukup rinci--dengan garis waktu yang jelas, narasi mengenai situasi politik internasional, serta deskripsi situasi yang detail, membuat saya jadi merinding sendiri membayangkan zaman itu.

Saya tuh suka banget fiksi historis berlatar Perang Dunia, dan arc terakhir Helen di sini benar-benar mengingatkan saya pada buku-bukunya Ruta Sepetys. (Bukan arc terakhir doang sih sebenarnya, melainkan keseluruhan tipe ceritanya.) Bedanya, ini tanah kita sendiri yang menjadi latarnya, bukan Lithuania seperti buku-bukunya Mrs. Sepetys. Betapa Perang Dunia itu memang berdampak ke berbagai negara, dan betapa banyak aspek cerita yang belum kita ketahui tentangnya--ribuan, jutaan, miliaran kisah terkubur begitu saja, bersama korban yang sudah tak bisa bicara lagi. Makanya saya berterima kasih banget karena Kang Pidi menulis ini. Menurut saya cerita ini penting sekali. Bagi saya, Helen dan Sukanta ini adalah Between Shades of Gray atau Salt to the Sea-nya Indonesia, hanya saja dengan sentuhan Pidi Baiq. (Bukan berarti Pidi Baiq adalah Ruta Sepetys-nya Indonesia. Beda style.)

Ending novel ini menghantam saya dengan telak. Rasanya emosional, sedih, brokenhearted, dan pada akhirnya novel ini sempat bikin saya book hangover. Saya ingin menangis untuk Helen, bersimpati untuknya, ikut mendoakannya, dan berterima kasih karena dia sudah bersedia membagi kisahnya untuk menjadi sepotong sudut pandang sejarah. Sebenarnya saya nggak terlalu suka dengan karakter Helen dalam cerita, tapi saya terhanyut dalam dan bersimpati untuk kisahnya bersama Ukan, dan buat saya itu sudah cukup untuk terus mengenang mereka sebagai salah satu karakter novel yang memorable.
Profile Image for Fadila setsuji hirazawa.
350 reviews4 followers
May 24, 2022
"Mudah-mudahan menjadi bijaksana, untuk tidak mengadili masa lalu dengan keadaan di masa kini."
.
Di restoran Indonesia Lachende Javaan,Haarlem,Belanda,tahun 2000, nyonya Helen bercerita kepada saya tentang masa lalunya selama dia tinggal di Hindia Belanda,yang kini bernama Indonesia, termasuk kenangannya bersama seorang pribumi bernama Sukanta...

❤ Ayah Pidi Baiq menghadirkan sebuah karya yang berlatar di dua tempat berbeda,yakni Ciwidey dan Belanda. Bagian awal dimulai dengan sebuah obrolan antara si 'aku' dalam novel dengan Nyonya Helen Maria Eleonora yang merupakan wanita keturunan Belanda. Kemudian kisah nyonya Helen dan Sukanta pun diceritakan.

❤ Peristiwa di masa sebelum kemerdekaan digambarkan dengan begitu apik oleh Ayah Pidi. Sebagai pembaca,saya merasa mendapatkan gambaran bagaimana kehidupan rakyat Indonesia dan warga negara Belanda terutama di Ciwidey. Ini bisa menjadi media belajar sejarah yang menyenangkan dan bikin baper juga

❤ Kisah romansa Sukanta yang seorang pribumi dengan Helen yang orang Belanda,dengan perbedaan yang begitu kentara,mungkin dapat kita temui dalam beberapa novel roman Indonesia,namun ayah Pidi berhasil meramu kisah mereka sehingga dapat menjadi sebuah cerita yang manis sekaligus mengharukan untuk saya.

❤ Lika-liku kehidupan rakyat Indonesia pada zaman sebelum kemerdekaan,termasuk Sukanta dan Helen membuat saya merasa sesak dan menangis karena membayangkan situasi yang harus mereka lewati selama masa Belanda memegang banyak sektor penting dan paling utama ketika keadaan jadi mencekam karena serangan bom mulai dilancarkan tentara Jepang.

❤ Alurnya bergerak perlahan, membuat saya lebih mengerti bagaimana dalamnya perasaan nyonya Helen kepada Sukanta. Dan kisah nyonya Helen dan Sukanta ini pun diakhiri dengan cara yang realistis. Sedikit banyak,akhir kisahnya sedikit mengingatkan saya dengan perasaan yang saya rasakan pada waktu membaca kisah Dilan-Milea.
Profile Image for Anggi Hafiz Al Hakam.
329 reviews5 followers
December 23, 2019
Selalu menyenangkan untuk membaca tulisan-tulisan Pidi Baiq yang mengaku sebagai imigran dari surga. Setelah serial Dilan dan Milea-yang dengan gagahnya menghancurkan imaji saya tentang mereka usai difilmkan, Helen dan Sukanta agaknya menjadi sebuah pengecualian untuk cinta yang mendayu-dayu khas anak remaja.

Entah, saya sudah lupa kapan, saya pernah berkunjung ke blog Pidi Baiq dan membaca beberapa paragraf awal dari Helen dan Sukanta. Begitu pula dengan Dilan, yang catatan awalnya dapat dibaca dalam blog sang penulis. Harapan saya satu per satu menjadi kenyataan. Dilan sudah terbit-sekaligus difilmkan. Kemudian, menyusul Helen dan Sukanta. Sebuah novel romantis dengan ending yang tragis.

Membaca Helen dan Sukanta berarti mengembalikan ingatan kepada Bumi Priangan-utamanya Tjiwidei, masa kolonial pasca politik etis. Kisah romantis antara seorang Noni belanda dengan anak pribumi saat itu adalah hal yang tabu. Demikian pula dengan Helen dan Sukanta. Terlalu banyak perbedaan untuk menjadi hambatan kisah cinta mereka.

Saya tidak akan menyoroti bagaimana kisah cinta mereka, darimana Helen bisa kenal dengan Sukanta, dan segenap perjalanan yang mengasah cinta mereka. Helen dan Sukanta adalah sebuah kisah tragis, walaupun hanya baru bisa ditemukan pada seperempat terakhir buku.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pendudukan Jepang atas koloni Hindia Belanda membawa banyak perubahan. Tidak hanya bagi kaum kolonial tetapi juga pada kaum pribumi yang mendambakan kemerdekaan. Kisah Helen dan Sukanta berada pada tengah masa peralihan itu.

Helen yang pulang ke Tjiwidei untuk menemui ibunya yang sakit dan kemudian meninggal tidak pernah menyangka bahwa perpisahan dengan Ukan (panggilan untuk Sukanta) itu adalah perpisahan untuk selamanya. Pasukan Jepang berhasil menduduki Kalijati, kemudian menyeberang ke Lembang. Ukan, entahlah dimana. Helen kemudian masuk kamp tawanan Jepang dimana ia harus kehilangan buah hati yang sedang dikandungnya. Pernah sekali Helen kembali untuk mencari Ukan ke Lembang. Hasilnya sia-sia saja. Bahkan, kalau tidak karena kenalannya di perkebunan dulu, Helen tidak akan tahu nasibnya.

Saya mendapatkan kesan bahwa novel ini sangat humanis. Penulisnya berhasil membawa ingatan tentang masa kolonial beradu dengan masa pendudukan ditambah konflik antara dua hati yang saling mencinta. Tetapi, adalah tragis ketika kita tidak pernah tahu nasib tentang orang-orang yang kita cintai. Begitulah, Helen dan Sukanta dalam pergulatan takdirnya masing-masing.

Ciputat-Cengkareng, 23 Desember 2019.
Ulasan penuh pertama usai Bapak tidak ada.
Profile Image for Lunar Angel.
79 reviews12 followers
April 4, 2021
Buku ini bercerita tentang perjalanan cinta seorang Helen yang notabennya adalah seorang Belanda asli dan Sukanta yang adalah orang pribumi. Novel ini mengambil tema waktu di jaman penjajahan Belanda. Cukup membuatku bertualang melintasi waktu ke masa lalu. Terutama Novel ini juga berlatar di daerah Jawa Barat tepatnya di Ciwedey meskipun aku belum pernah ke Jabar tapi lewat novel ini aku bisa merasakan sedikit suasana di daerah pegunugan di Bandung.

Namun, menurutku kisah nya terlalu klise aku dah banyak mendengar tentang kisah beda kasta seperti ini. Cerita kisah cinta Helen dan Ukan juga terkesan mengalir saja. Dimana mereka bertemu di rumah Helen karena Ukan dibawa oleh pamannya. Lalu mereka sering main bareng lalu Helen jatuh cinta ke Ukan.

Mulai seru malah di bagian akhir pas tentara Jepang mulai datang ke Indonesia dan Belanda dipukul mundur. Lalu ada juga diceritakan bagaimana perlawanan rakyat Indonesia melawan penjajah. Aku malah lebih tertarik ke cerita ini wkwk

Overall 3 🌟
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Indri Juwono.
Author 2 books307 followers
February 21, 2022
Dibaca bareng @bacabareng.sbc selama sejam, terus selesai acara malah asik namatin. nggak nyangka sih kalau yang nulis Pidi Baiq, karena waktu ambil di rak buku, kirain penulis klasik gitu, tapi ternyata ceritanya sangat klasik apalagi menceritakan banyak lokasi di kota Bandung, yang begitu dikenal Pidi.

(apalagi story saya dibales oleh kang pidi)

tapi penasaran, ini teh beneran interview dengan helen?
Profile Image for Arnetta Ismail Agustian.
1 review
December 23, 2019
Nyesek bgt sumpah.
Ngebayangin dr sudut Helen sakit bgt
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Hamim Alkhawarizmi.
52 reviews
March 19, 2020
Tjiwidey yang hijau Dan dingin,
Mungkin itu kata kata yang pas untuk pelataran tempat yang diceritakannya, dilihat dari sudut pandang cerita nya seperti nya ini dari kisah nyata, bisa lihat jelas disinopsisnya yang berbicara seperti itu.

Kalian yang ingin Tau istilah istilah yang seperti bahasa Indonesia banget tapi ternyata itu adalah bahasa belanda ya yanggg Salah pengejahan oleh Kita, disini dibahas, pasti kalian ngakak baca nya haha. . .

Okay Kita riview ke penokohannya, disini tidak sedikit tokoh yang ayah pidi gambarkan Dan jangan samakan dengan dilan ya 😋 walaupun awal nya gue Kira wah bakal sama nih tokoh cowok nya tapi enggak kok. Penokohoannya nya menurut gue pribadi secara subjective pengembangan setiap karakter nya masih terlalu dangkal Dan seakan terburu buru, salah satu contoh nya nanti karakter yang sangat marah sama anak nya tapi ga dapet banget atau karakter sosok yang sudah lama ditinggal tapi bukan dia atau ga diceritakan dikisah ini kalau dia mencari nya atau beberapa teman yang Hanya sekilas tapi menurut gue itu penting. Jadi kurang terhanyut oleh emosi nya.

Kalau dari segi cerita nya simple Dan mudah dipahami walaupun alur cerita nya sedikit lompat terlalu cepat, bisa dibilang gue baru jalan dikit DOI udah 500 meter aja didepan gue, jadi nya Ada beberapa gambaran yang baru mau gue nikmati eh udah lompat aja padahall kalau di percantik dikit bakal mengalun nih cerita nya.

Karakter utama nya yang ayah Vidi visualkan lewat skecth nya sih ga seperti yang gue harapakan sejujur nya dengan sosok nya yang kurang pas gitu, tapi enttah apa yang merasuki ku... Haha hingga Kau tidak pas dengan pemikiran ku 😋

So buat yang santai Dan ingin cerita simple it so so kata gue untuk dibaca.

Sekian Dan selamat membaca.
Profile Image for wafa.
29 reviews2 followers
March 28, 2020
Setelah membaca sekali sinopsisnya—dan tahu bahwa ini adalah novel romansa historikal—saya langsung tertarik. Awalnya saya sedikit bias, sedikit berekspektasi bahwa nuansanya akan ada kemiripan dengan Dilan. Tapi ternyata tidak sama sekali. Hehe.

Saya suka dengan cover bukunya. Dari segi penulisan, saya senang dengan gaya bahasa yang dibawakan, tidak terkesan bertele-tele, khas Pidi Baiq, meski tidak bisa memungkiri kalau ada pemborosan kata dan kesalahan pengetikan di sana-sini.

Tokoh Helen membuat saya terkagum-kagum. Mungkin kekukuhannya di bagian awal cerita terkesan naif—dengan latar belakang lingkungan dan pergaulannya semasa kecil—tapi semakin ke sini, saya bisa dibuat mengerti. Entah mengapa saya merasa tokoh Ukan cenderung kurang dideskripsikan, tapi mungkin karena (1) cerita ini lebih berpusat di sudut pandang Helen sebagai tokoh utama pencerita dan (2) Ukan sendiri tidak terlalu vokal, atas dasar segala perbedaan yang ada.

Latar waktu zaman pra dan pasca-kolonialisme memang mempunyai pesona sendiri. Hubungan antara orang Belanda dengan Pribumi dijelaskan dengan apik di sini, bikin bergidik sendiri kalau seandainya saya hidup di zaman tersebut... Perang memang tidak pernah menyenangkan. Saya sudah menyangka bahwa perang berperan besar dalam penyelesaian cerita, tapi saya tetap terbengong-bengong saat tahu seperti apa persisnya.

Tadinya saya akan memberikan bintang lima, namun saya urungkan dan akhirnya memberi bintang empat dengan pertimbangan: (1) penyuntingan yang masih dirasa kurang dan (2) ada beberapa hal yang bisa lebih digali lagi. Misalnya,

Definitely a good read. Saya tutup dengan kutipan favorit saya, yang dikemukakan oleh Tineke:
Profile Image for Thalia Tashya.
93 reviews1 follower
January 2, 2022
Lagi lagi bandung dan pidi baiq! Dengan awalan buku yang bikin penasaran dengan nasib hubungan Helen dan Sukanta, buku ini sukses bikin gue asik tenggelam dalam dunia mereka berdua yang dimana pada saat itu Belanda sedang menjajah Indonesia dan jatuh cinta dengan pribumi bukanlah hal yang disenangi oleh kaum mereka. Makanya cerita Helen dan "Ukan" panggilan Helen ke Sukanta berhasil menarik gue ke Indonesia di masa perjuangan kemerdekaan. Gue jadi tau nama-nama jalan di Bandung pada masa Indonesia belum merdeka dan tempat-tempat yang dulunya hanya hutan belantara mungkin sekarang sudah ramai penduduk dan gedung baru. Meskipun sedikit nggak terima dengan endingnya tapi sepertinya buku ini dibuat realistis sebagaimana adanya, mengingat banyak pertempuran yang terjadi di masa itu.
This entire review has been hidden because of spoilers.
1 review
August 28, 2020
Pertama kali baca karya Pidi. Beli karena judulnya sama kayak namaku.
Jujur pada halaman2 pertama aku ngantuk bacanya.. sampai mau udahan aja. Tp coba tetap aku baca.

Setelah masuk ke kisah langsung si Helen mulai agak cerah gimana ceritanya. Debgan latar orang pertama. Seakan2 akulah si helen. Tp jujur lagi nih, aku rasa flat. Krn kayak baca diary orang gitu. Tp still bagus buat kita2 yg mau tau keadaan zaman tahun 40an..
Profile Image for Dannyart.
90 reviews3 followers
October 14, 2021
Setuntas membacanya, novel setebal 362 halaman ini cukup memenuhi ekspektasi saya dalam hal penggambaran suasana kota kesukaan saya, Bandung, sejak 1924 hingga tahun 2000. Tjiwidei, Bragaweeg, Oedjoengberoeng, Lembang, Tjihapit, dan berbagai tempat lain terlukis indah, sebelas duabelas dengan yang saya rasakan saat liburan 3 hari ke Bandung minggu lalu.

Pidi Baiq masih mengambil dari sudut pandang pemeran utama wanita, Helen Maria Eleonora, seperti Milea, yang tergila-gila dengan lelaki yang dicintainya. Ukan tak banyak bicara, romansa kali ini lebih banyak menceritakan halang rintang hubungan seorang pribumi dan darah Belanda asli pada masa sebelum kemerdekaan. Masalah lebih banyak datang dari mama, papa, dan keluarga Helen dengan sifat asli darah londo-nya, juga peperangan antar Jepang-Belanda yang membawa ke bagian puncak kisah cinta Helen dan Ukan.

Saya menikmati setiap babnya, meski terkadang kisah cintanya terasa hambar, tidak mengusung banyak aksi pengorbanan, mengalir saja menceritakan bagaimana Helen dan orang-orang di sekitarnya menghabiskan waktu serta menghadapi persoalan dari hari ke hari. Padahal saya ingin menyaksikan bagaimana Ukan merayu Helen sampai Helen tersipu sendiri saking senangnya, seperti Dilan Milea gitu namun dengan balutan kearifan bahasa tempo dulu.

Helen sangat mencintai Sukanta hingga Ia tidak bisa berpaling kepada lelaki manapun, sesekali terasa seperti cinta monyet yang kekanak-kanakan, tapi tak apa, mungkin saja cerita yang sederhana itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri di masa itu, sebelum media sosial dan telepon pintar menyerang.

Perjalanan dua manusia saling jatuh cinta, dengan segala usaha mereka melawan batasan yang sialnya diciptakan oleh sesama manusia lainnya, memang menjadi tema yang menyenangkan bagi saya, apalagi sedang sendiri seperti ini, rasanya jadi ingin merajut kisah saya sendiri, hehe. Hindia pernah menjadi saksi romantis Helen dan Ukan, Tjiwidei dan Lembang lebih tepatnya, perkebunan yang saya duga di wilayah Rancabali juga menjadi tempat favorit mereka berdua berbicara hal-hal kecil sehari-harinya.

Dalam epilog Helen masih tetap mencintai Ukan dengan seluruh hati dan dirinya, di rumahnya di Amsterdam. Pidi Baiq memang lihai membuat pembacanya jatuh cinta pada latar yang diciptanya, entah benar terjadi maupun tidak. Saya belum mencari tahu lagi apakah kisah ini nyata atau tidak, dan rasanya saya tidak mau tahu.

Biarkan Tanah Hindia dan Amsterdam menjadi dua negara yang pernah bermusuhan hebat satu sama lain, namun perkara hati, bahkan horizon dan darah yang mengalir di tubuh pun tak akan bisa memaksa berhenti dua manusia yang sepakat saling menaruh hati.

Saya selalu percaya, tak ada yang namanya cinta beda agama, beda golongan, beda kelamin, apalagi beda kasta. Mereka hanya sesederhana dua manusia yang ingin berbagi kasih dan menyayangi satu sama lain, memutuskan dalam hidupnya, bahwa dengan kamu, saya ingin menghabiskan sisa waktu.
Profile Image for Mou Mia.
85 reviews
January 17, 2020
Complete review di blog saya!



Gimana ya?

Saya selesai baca ini setelah saya nonton ulang film Hunger Games yang Catching Fire. Di tengah isu-isu perang dunia 3 mau pecah. Jadi... salah nggak kalau saya bilang itu ngefek ke reading experience saya?

Helen dan Sukanta bercerita tentang masa lalu Helen Maria Eleanora, kelahiran Belanda yang lahir dan besar di Ciwidey, yang berkonflik pada hubungan asmaranya dengan Sukanta, seorang laki-laki pribumi. Latarnya sebelum Indonesia merdeka, sebelum Jepang. Kalau boleh semuanya disingkat, satu buku ini manis... tapi tragis. Ini roman, tapi juga bahas banyak isu yang penting dan sebetulnya masih relevan seperti rasisme (kesenjangan sosial antara Belanda dan pribumi) dan feminisme (dari pemikiran-pemikiran Helen), ditulis apik dengan gaya Surayah yang nyeleneh parah tapi nagih. Kayak beng-beng. Ngomong-ngomong, iya. Gayanya Surayah masih nyeleneh. Mungkin akan ada yang nggak suka, tapi aku sih suka-suka aja.

Yaaaa, bagus kok. Nggak kayak Dilan-Milea, tapi kayak Dilan-Milea. Nah lho, gimana maksudnya? Hehe, maksudnya bayang-bayang Dilan-Milea masih ada sedikit, in little ways, kayak cara ngobrol Helen-Ukan yang gemes dan latar Bandung yang kuat banget. Tapi ini cerita yang beda buanget dengan Dilan-Milea, nggak bisa disama-samain banget juga. Eh, tapi barusan aku nyama-nyamain ya? Huehehe.

Tapi buatku yang lebih berkesan justru terakhir-terakhirnya, ketika perang tiba-tiba mulai. Nggak ada bagian yang senang di sana, dan kupikir itu fitting. Nggak ada yang indah dari perang, its a horrible thing. Baca buku ini, jadi bisa ikut melihat sepersekian rasa seseorang yang pernah mengalami perang lewat kacamata Helen. Cukup untuk aku bilang kalau memang ada World War 3, kayaknya kita harus siap-siap kehilangan semua yang kita punya.

4.5 of 5, it was a nice experience. Might probably pick it up again, karena aku cukup suka. (Plus, percaya atau nggak, waktu dengar Surayah mau bikin Helen dan Sukanta aku excited banget. Ini buku pertama dalam seumur hidup yang aku pesan lewat pre-order. Nggak nyesel sih. Sayang aja aku terlambat PO-nya, jadi nggak dapat tomat. Huehehehe.)
Profile Image for Resaldi.
8 reviews
February 21, 2020
Helen dan Sukanta

“Kisah cinta seperti inilah yang pantas di sebut sebagai Cinta Tak Lekang Oleh Waktu”

Helen Maria Eleonara, lahir pada tahun 1924 di daerah Tjiwidey. Putri dari keluarga belanda yang kaya. Helen menghabiskan waktu untuk dirinya sendiri, bermain biola dan membaca buku. Helen memiliki paras yang cantik, sangat polos, dan lucu. Untuk pertama kalinya, Helen melihat seorang anak muda berumur 15 tahun di depan halaman rumahnya. Anak muda itu bernama Sukanta (Ukan) yang merupakan keponakan dari salah satu pekerja di rumahnya. Berlalunya waktu, Helen dan Ukan menjadi akrab, berteman, dan akhirnya mereka menjalin cinta. Tetapi keadaan tidak mendukung mereka karena haram hukumnya seorang belanda menjalin kasih dengan seorang pribumi. Helen pergi ke bandung untu melanjutkan sekolah di sana, sampai kemudian Jepang datang pada tahun 1942 dan mengubah semuanya. “Nah, sekarang, diamlah. Ini cerita saya, dan semuanya benar-benar terjadi.”

Setelah membaca buku ini, saya mencoba sedikit melakukan riset alakadarnya tentang cerita tersebut. Karena kisah ini merupakan kejadian nyata yang di alami oleh Helen pada saat masih tinggal di Hindia Belanda. Informasi yang saya dapatkan bahwa, kisah ini sudah ada sebelum Pidi Baiq menulis tentang Dilan. Di karenakan data yang di kumpulkan belum sepenuhnya cukup.

Kisah Helen membuat saya merasakan perasaan yang campur aduk. Mulai dari prolog yang membaut saya merinding, kemarahan terhadap konflik yang terjadi dan penutup yang membuat saya sedih (sedihnya minta ampun). Cukup Helen yang mengalami hal seperti itu, jangan sampai kita merasakan juga apa yang terjadi pada zaman itu.

Awal cerita disuguhkan keindahan alam Tjiwidey. Imajinasi saya bermain ketika mendiskripsikan desa tersebut, meskipun belum pernah menginjakan kaki di sana. Kemudian berpindah pada konflik di mana Jepang datang memukul mundur tentara Hindia Belanda. Dan Cerita di sini merupakan sudut pandang Helen sebagai anak keluarga belanda, jadi mungkin apa yang di lihat Helen tidak seperti yang kita ketahui pada buku-buku sejarah.

Saya suka dengan karakter Helen, meskipun polos tapi cukup berani untuk menentang beberapa peraturan bapaknya. Seperti dilarang bermain bersama Ukan, tapi tetap saja melanggar peraturan tersebut. Helen mencoba untuk bebas memilih apa yang dia sukai dan tidak terikat oleh batasan apapun. Ibunya tidak seperti bapaknya, dia membebaskan Helen tentang apa saja bahkan setuju Helen dan Ukan berpacaran karena ibunya punya cerita tersendiri yang tidak ingin hal tersebut terjadi kepada diri Helen. Sebaliknya, Ukan sangat cuek dan irit untuk berbicara kepada Helen. Ada gap antara Ukan dan Helen dengan alasan kesenjangan sosial, Ukan seorang pribumi sedangkan Helen Belanda dan kita sudah tahu mengenai hal itu. Ukan sadar akan hal itu juga makannya dia membatasi diri untuk berinteraksi dengan Helen. Tetapi ketika Ukan berbicara, alam semesta akan berpihak kepadanya dan menarik jiwa-jiwa wanita yang kesepian (halah). Jangankan Helen, Prilly pasti akan suka juga sama Ukan (sotoy).

Di akhir cerita, saya tidak bisa berkata-kata. Cukup berterima kasih kepada Helen yang sudah mau membagikan cerita indahnya dan untuk Pidi Baiq yang mau menulis cerita ini menjadi sebuah buku. Helen dan Ukan semoga tenang di alam sana dan di pertemukan kembali.

Eh! kalian yang suka kisah romansa nyata dengan ending yang tak terbayang, apalagi penggemar ayah Pidi Baiq. Saya merekomendasikan buku ini untuk kalian baca. Jangan lupa setel lofi hujan biar feelnya terasa.






1 review
December 21, 2020
Buku ini menceritakan dua insan yang bernama Helena dan Sukanta, yang dikenal dengan Ukan. Pada awal - awal membaca buku ini terasa seperti membaca ulang kisah Dilan dan Milea, karena sama-sama berlatar di Bandung, dan hanya berbeda latar waktu saja pikirku.
Namunnnn, setelah membaca lembar demi lembar lanjutannya, ternyata salah, Helena dan Ukan bukanlah Dilan dan Milea. Helena yang digambarkan dengan perempuan muda Belanda yang menginginkan kebebasan, tidak setuju dengan kebanyakan orang Belanda yang merasa superior, derajatnya lebih tinggi dari para pribumi, dan perempuan setia - ya walaupun dipertengahan ada sedikit luntur dalam kata 'setia'. Sedangkan Ukan digambarkan sebagai pribumi yang merupakan anak dari pemberontak perjuangan Hindia, yang hidup bersama Ibunya, karena Ayahnya telah dibunuh ketika mencoba memperjuangkan tanah kelahirannya. Hubungan antara kedua insan yang memiliki perbedaan 180 derajat.
Di dalam buku ini diceritakan dengan detail mengenai keadaan Hindia ketika masih dibawah kekuasaan Belanda. Di pertangahan menyinggung sedikit permasalahan perang dunia ke-2 hingga masuknya Jepang untuk mengambil alih tanah Hindia, dan pada akhirnya Hindia berdiri di kakinya sendiri.
Menurutku buku ini menawarkan cerita sejarah Indonesia pada masa pendudukan Belanda sampai akhirnya merdeka, dari sudut pandang seorang perempuan Belanda, sehingga kita sebagai pembaca dapat memahami dari gambaran-gambaran yang diberikan penulis dari sudut pandang yang lain
Profile Image for Tricia Hartanto.
60 reviews3 followers
July 13, 2020


“Dan Bandung bagiku bukan cuma urusan wilayah belaka. Lebih jauh dari itu melibatkan perasaan yang bersamaku ketika itu.” Demikianlah lirik lagu yang ditulis oleh Surayah, lagu yang lekat dengan film Dilan. Tapi saya yakin, arti Bandung bagi Surayah bukan hanya kesuksesan buku dan film Dilan. Ada yang personal bagi Surayah di balik romantisnya Paris van Java itu. Ada yang personal juga bagi Helen, tokoh dalam kisah Surayah kali ini.

Berlatar Bandoeng tahun 20 hingga 40an, Helen Maria Eleonora mentitipkan kenangan dan kisahnya, seorang gadis keturunan Belanda yang menjalin kasih dengan Sukanta, anak lelaki pribumi. Dari kisah Helen ini lah, kita bisa melihat bahwa ada saja pribadi-pribadi dari kelompok antagonis yang ternyata tidak mengamini perilaku sebangsanya, yang ternyata berpikiran terbuka dan berjiwa damai, yang tidak memandang perbedaan ras, warna kulit dan status. Sesuatu yang tabu sekali pada zamannya.

Menyenangkannya membaca Helen dan Sukanta adalah ketika saya dibawa berjalan-jalan khayali ke Bandoeng kala itu. Melalui narasi yang baik, rasanya Bragaweg dengan toko-toko yang berbaris, rumah Belanda di Ciwidei dengan kebun dan hawa dinginnya, sawah tempat Helen dan Sukanta bermain sewaktu kecil, dan Bandung yang mencekam ketika serbuan awak pesawat Jepang yang menjatuhkan bom serta kengerian yang menyertainya.

Selain itu, berbeda dari naratif Dilan dan catatan harian Pidi Baiq, Helen dan Sukanta menggunakan diksi dan cara berbicara Helen, seorang asing yang walaupun bahasa Indonesianya lancar, tapi masih mendapat sentuhan pola bahasa Belanda.

Menjelang akhir cerita, Surayah menitipkan pesan melalui kusir dokar yang membantu Helen:

“Kita telah mengalami hidup bersama-sama. Jangan melupakan hal itu. Tdak ada Indonesia, tidak ada Belanda, tidak ada Jepang. Semuanya adalah manusia. Orang-orang harus rukun dan saling membantu. Itu adalah hal yang paling utama.”

Setuju kah? Setuju dong ya. Saya sih setuju, dan tentu dalam lingkup yang lebih besar lagi 🙂
Profile Image for Ronald Otong.
112 reviews4 followers
March 27, 2023
3/5

Entah mengapa, sy berfikir bahwa buku ini bisa lebih keren lagi. Secara benang merah cerita uda kuat banget, cerita tentang Helen dan Sukanta punya potensi yg kuat untuk jd cerita yg besar. Mngkn eksekusi nya yg kurang menurut sy. Agak kurang pas rasanya ketika sentuhan Pidi Baiq, masuk ke penokohan di novel ini. Terlalu banyak pengaruh Pidi Baiq atau bahkan Dilan menurut sy di dialog antar tokoh di sini, terutama antara Helen dan Sukanta. Bercandaan, obrolan dan bberapa tingkah laku mereka itu Dilan/Pidi Baiq banget, tp justru itu yg membuat penokohannya kurang pas menurut sy. Kita jd tidak bisa melihat Helen dan Sukanta secara real. Belum lagi menurut sy, buku ini seperti terlalu terburu2 dieksekusi, pdhal sepertinya masih bisa diurai lebih dalam. Misal hubungan antara Adriaan dan istrinya, lalu detail2 lain diantara hubungan Helen dan Sukanta, kisah kehidupan di jaman Belanda lalu Jepang, atau cerita detail tentang kehidupan di Ciwidey, Bandung dan Lembang saat itu (masih kurang detail). Sayang banget menurut sy. Pdhal klo secara penokohan, buku ini punya potensi seperti Bumi Manusianya Pramoedya. In the end, sy tetap suka buku ini dengan segala kisah tragis yg dialami oleh Helen dan Sukanta (RIP), belum lagi bbrpa tempat ikonik Bandung yg disebut di dalam novel ini.
Profile Image for Zy.
1 review
December 21, 2021
let me tell you all

this book is just A MASTERPIECEE

dari themenya yang prakemerdekaan and like this vintage feel-ish is just amazing 10000/10. gaya bahasanya juga oh woww banget, I mean omg ITS SO DETAILED IM GONNA CRY T______T
pembentukan character juga fine banget, both helen dan sukanta mempunyai kelebihan and kekurangan sendiri such as helen yang mempunyai sifat "rebel" and ukan "gak pekaan" I guess? WHEVSHEVHS
their love story omg childhood friends into lovers AAAAAA IN LOVEE BANGETT
such a shame story nya "akhir tak bahagia", I did not expect a VERY plot twist jadi angst gini and whats sadder is that katanya ini diambil dari kisah nyata T__T
like come on love story nya dari mereka masih kecil sampe besar tuh bukan seperti kisah cinta yang bikin eneg or whatsoever malahan hati berbunga-bunga saat bacanya ( helen sukanta coty <3 )
not only that it is such a great book its also very educational tentang apa saja yang terjadi dulu sebelum Hindia Belanda or Indonesia merdeka, also colonialism back then ( ps I learned so many bahasa belanda from this book, very recommended! )

so yea, thank uu ayah pidi baiq udah create such a beautiful masterpiece!!
Profile Image for Suciwani Nan Sedayu .
7 reviews
December 18, 2022
SUPER DUPER BAGUSS!! 100/10!!!!
Aku ngabisin buku ini cuma dalam 4 hari!
Fyi aku tipe pembaca yang baca satu buku perlu waktu yang lama, berminggu Minggu bahkan berbulan bulan. Tapi, aku ngabisin buku ini cuma dalam waktu 4 hari. Karena memang seru banget.

Cerita hidup seorang Helen Maria Eleonora, seorang anak Belanda, yang lahir dan tinggal di Hindia Belanda, lebih tepatnya di Ciwidei. Ia menjalani hari harinya dengan monoton, membosankan, hingga akhirnya ia bertemu seorang anak pribumi. Sukanta namanya, bisa dipanggil Ukan. Anak yang cerdas, tampan, baik, serta sopan. Karenanya hidup Helen berubah.

Mengangkat sisi gelap masa revolusi Indonesia yang disebut "Masa Bersiap" dimana setiap orang "asing", seperti Belanda di buru oleh pribumi, dibunuh, disiksa, berbagai macam. Hingga orang Belanda harus dipulangkan ke negara asalnya, termasuk Helen. Ia harus meninggalkan tanah tempatnya lahir dan tumbuh, serta meninggalkan belahan jiwanya. Yang hingga akhir hayatnya, ia belum bertemu lagi denga Ukan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Nike Andaru.
1,643 reviews111 followers
December 25, 2022
106 - 2022

Beli ebook ini secara dadakan aja di airport karena buku yang dibawa udah kelar dibaca. Eh ke-skip juga dengan bacaan lain, sampe akhirnya baru diselesaikan malam ini.

Pidi Baiq menulis lagi tentang cerita cinta, kali ini bukan lagi Dillan dan Milea, tapi Helen dan Sukanta, persamaannya ini masih sama-sama soal Bandung. Jelas pasangan Helen dan Sukanta beda dengan Dillan dan Milea, jauh settingnya di tahun-tahun penjajahan Belanda di tahun 1940an.

Ditulis ulang dari kisah yang diceritakan Oma Helen yang ditemui Pidi Baiq di Belanda. Cerita ini memang terasa sederhana, si cewek londo yang naksir akang Tjiwidei, Sukanta atau Ukan. Kayaknya udah sering ya kita melihat film ada cerita begitu, tapi ceritanya Helen dan Sukanta ini begitu terasa tragis. Sebagai pembaca kita gak hanya diajak menyelami kisah cinta Helen - Ukan tapi masa penjajahan Belanda hingga Jepang memang membawa dampak besar untik kehidupan setiap orang pada zaman itu. Keluarga yang hilang, terpencar sana sini, mungkin masih hidup atau bahkan sudah mati.
Profile Image for Yana Silvana.
19 reviews
September 25, 2024
Helen dan Sukanta is a heartwarming story about the unexpected connection between two people from very different backgrounds — Helen, a non-Muslim, and Sukanta, a Muslim. Set in the context of Indonesian culture and traditions, their story is filled with lighthearted moments, deep conversations, and growing understanding.

Although Helen dan Sukanta is not as widely known as Dilan, Milea, and Ancika, it is just as romantic and sweet. The story explores love through cultural differences, showing that love can bridge any gap. One of the charming moments in the book is when Sukanta explains fasting to Helen:

*"We all have to eat at the same time when it’s Maghrib."*
*"Drink?"*
*"Not allowed."*
*"Smile?"*
*"Allowed."*

This playful conversation reflects the tender and respectful dynamic between Helen and Sukanta, making their romance stand out just as much as Dilan and Milea's love story. It's a beautiful exploration of love, faith, and understanding that will leave readers with a smile.
31 reviews3 followers
July 5, 2020
Latar belakang ceritanya tentang sejarah perang dunia II dan kemerdekaan RI sebenarnya jadi daya tarik yg lumayan menggugah untuk membaca kisah ini. Tapi entah kenapa pas membaca di awal2, aku merasa ceritanya agak lambat. Penulis seperti ingin membuat latar dan pengenalan tokoh2nya lebih detil. Di pertengahan cerita, jadi sedikit kehilangan alur cerita, dam menuju klimaks agak terburu2. Di samping itu, kurang bisa juga mendalami perasaan cinta Helen dan Ukan, mungkin karna aku gak terlalu paham apa yg membuat Helen benar2 mencintai Ukan, selain menjadi teman bermain dan sikap Ukan yg pendiam nan misterius. 😅
Penggunaan bahasa indonesia dalam kalimat2nya juga agak membingungkan, jd kadang harus mengulang atau membaca lebih perlahan agar bisa lebih memahami maksudnya. Tapi untuk ending cerita, cukup mengesankan. Perjuangan Helen untuk tetap hidup dan menjalani kehidupannya dalam kesendirian membuat hati tersentuh. 4 bintang untuk kisah ini. ❤️
14 reviews
October 14, 2020
Cinta Helen dan Sukanta, terasa sangat manis. Meski ditimpa kenyataan pahit bahwa noni Belanda 'dilarang' berhubungan dengan pribumi. Bahkan saking manisnya, saya tidak merasa bahwa saat itu orang-orang Belanda begitu menyebalkan, karena menganggap rendah bangsa kita. Menjadikan orang pribumi babu di rumahnya sendiri. Helen menjadikan saya menyayangi nona Belanda yang lembut, anggun, dan cantik ini. Nona Belanda yang mencintai Sukanta, sang pribumi rendahan dengan tulus dan setia. Meski mendapat penolakan keras pada awalnya. Jangan dibayangkan karakter helen sama seperti gambaran milea dan ukan seperti dilan ini jauh sekali. Sekedar informasi novel ini sudah jauh duluan hanya perampungan lama mengingat pidi baiq amat detail pada setiap plot tempat dan situasi sama seperti kondisi tahun 1930-1950 an.

Sudah pernah di publikasi di
https://www.instagram.com/p/B9JPCwFH5...
Profile Image for Mira Widyawati.
69 reviews4 followers
December 26, 2020
Apa aku yang punya ekspektasi tinggi sama novel ini ya? Dulu sempat baca di blognya dan jadi penasaran kelanjutannya bagaimana dan baru ada kesempatan sekarang-sekarang untuk baca novelnya.

Cukup menarik karena settingnya pada jaman Hindia Belanda, sekitar tahun 1930an di Ciwidey dan Bandung pula! Uh saya suka ngebayangin gimana Bandung dan sekitarnya pada tahun segitu pasti sejuk dan indah banget!

Diceritakanlah Helen, gadis Belanda yang lahir dan besar di ciwidey dan dia bertemu dengan pemuda pribumi asli sunda bernama Sukanta kemudian keduanya jatuh cinta. Agak membosankan karena kisah cinta monyet mereka diceritakan terlalu lama dan bertele-tele. Lalu, bagian cerita yang menarik menurut saya ada dipertengahan menuju akhir ketika Helen menlanjutkan studi di Bandung dan bertemu kembali dengan Sukanta kemudian mereka menikah dan tidak lama kemudian kebahagiaan mereka seakan lenyap karena keadaan Hindia Belanda pada saat itu juga pada saat kemerdekaan Indonesia tiba.
17 reviews
March 13, 2020
Baru beres baca ni buku, iya agak telat wkwkwkw
Saya sih suka, cara penulisan nya pak pidi disini ringan banget, walau dengan latar peperangan sebelum kemerdekaan, gaya tulisan nya mirip seperti pas saya baca buku nya pak pram.
Banyak sekali pembelajaran yang bisa diambil dari buku ini, mulai dari perbedaan ras sampai bagaimana kita menghargai sesama manusia dengan berbagai macam kepercayaan. Kalopun ada minus dari buku ini, mungkin dibagian akhir agak sedikit terburu-buru dan terlalu berfokus ke cerita indonesia merdeka(ya ga masalah sih wkwkwk) hanya saja kurang kompleks, dan mungkin saya berharap lebih banyak lg cerita keluarga ukan wkwkwk. But overall ini keren, sangat berkesan, bucin dengan level berbeda, dan yg pasti sangat rekomen!
3 reviews
February 21, 2021
Novel karya Pidi Baiq memang selalu memiliki ciri khasnya tersendiri, dari segi pembawaan cerita hingga dialog antar tokohnya. Bagi pembaca setia karya beliau pasti sudah fasih dengan bagaimana beliau membawakan ceritanya. Dari segi cerita cukup menarik dengan latar belakang zaman penjajahan Belanda yang beralih ke Jepang hingga kemerdekaan Indonesia. Kisah cinta antara Helen dan Sukanta memiliki alur yang rumit, membawa kita untuk merasakan bagaimana perbedaan ras yang mencolok antara pribumi dengan orang Belanda, serta ketegangan dalam mempertahankan hubungan ditengah - tengah pecahnya perang dalam memperebutkan kekuasaan Hindia (Indonesia). Hingga bagaimana rasanya kehilangan dan perpisahan dengan bumi kelahiran serta cinta yang telah dipertahankan.
Profile Image for Annasthasya.
17 reviews
August 8, 2021
Bercerita tentang Helen yang lahir di Ciwidey, bertemu dengan sosok Sukanta. Jatuh cinta pada seorang pribumi bukan hal mudah, sangat di ceritakan dalam buku ini.
3 bintang untuk buku ini.

Gue sendiri suka banget sama Dilan, penulisannya. Bagaimana kita bisa ikut jatuh cinta dengan karakter dilan. Namun buku ini kurang magis dalam segi romansa, Ukan atau Sukanta terasa jauh untuk dikenang. Masalah yang kompleks ngebuat fokus gue sebagai pembaca agak terpecah belah.

Baca buku ini terasa kaya lagi baca buku biografi, untuk buku bergendre romansa sayang sekali kisah dengan ukan terasa terlalu cepat apalagi ketika awal-awal mereka bertemu.

My opinion about this book is here : https://www.instagram.com/tv/CSTjbq_l...
Profile Image for wrtnbytata.
204 reviews3 followers
September 8, 2022
The story is light and sweet, I think it is easier for readers to follow the story. It mainly focused on how the romance formed between two individuals of different social class. I really like how soft and sweet the interactions are described through each sentences.

There is also a slight touch of Indonesia history within the story, mainly focus on the daily life of people back then — the perspectives on natives and how people from different social class spent their lives.

I like how pure and brilliant the main character is. Lovely too, as she is able to embrace each bitter and sweet part of her memories, keeping them to stay alive in her mind.

“Waktu akan membuat kita lupa, tapi yang kita tulis akan membuat kita ingat.”
Displaying 1 - 30 of 75 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.