Beriman kepada Allah dan membenarkan ajaran Rasul-Nya adalah pondasi yang paling mendasar dalam struktur berislam (‘aqidah). Sebab keimanan ini akan menjelma menjadi cara pandang, framework dan worldview bagi seorang Muslim dalam menjalani kehidupannya. Aqidah bukan sekadar soal keyakinan, tetapi juga sebagai ilmu. Sebab keyakinan yang benar harus berasaskan ilmu, fa’lam annahu la ilaha illallah, kenalilah dengan ilmu bahwa tiada Tuhan selain Allah. Islam tidak hanya mengatur masalah ibadah dan hukum halal, haram, wajib, sunnah dan makruh, tetapi juga mengatur umatnya sejak cara berfikirnya. Inilah Islam yang menjadi Asas Pandangan Hidup (worldview) dan motor pembangkit peradaban (din-tamaddun-madinah).
Kurangnya kepedulian kepada pemikiran Islam dan ilmu Kalam, karena dianggap terlalu berat dan tidak praktis, bahkan diharamkan oleh sebagian kalangan; sering membuahkan kebingungan kolektif, dan memunculkan kerancuan dalam mendudukkan suatu perbedaan; antara yang bersifat variatif dan kontradiktif; mana yang seharusnya dalam porsi furu’iyyat (cabang), dan mana yang usuliyyat (utama). Akhirnya, terjadi saling mengkafirkan, dan pembid’ahan sesama saudara seiman, namun “toleran” dan membela penganut aliran-aliran sesat dan agama lain. Di sinilah peran ilmu kalam dalam menanamkan prinsip wala’ wal bara’ (konsep loyalitas berbasis iman dan ilmu) dan merawat ukhuwwah Islamiyyah.
Buku ketiga di bulan Ramadhan :) Lumayan lama juga nyelesaiinnya karena topik buku ini lumayan berat, tentang pengantar ilmu kalam. Seperti dikatakan di dalam buku ini, ilmu kalam ini tidak ada di zaman Rasulullah SAW maupun sahabat dan baru muncul di zaman tabi'in setelah bermunculan banyak aliran pemikiran dalam Islan dan juga karena pengaruh aliran filsafat dari Yunani. Mempelajari ilmu kalam sendiri hukumnya adalah fardhu kifayah karena tidak semua orang butuh ilmu kalam. Saya pribadi bersyukur dengan diberikannya taufik dan hidayah dalam keimanan saya sehingga sangat jarang sekali (bahkan hampir tidak pernah) merasa ragu akan agama saya dan sangat mudah menerima keimanan dalam hati. Tapi tidak dipungkiri, ada sebagian orang yang harus diyakinkan dengan berbagai logika yang rumit sampai bisa tercapai pada keimanannya dan disitulah guna adanya ilmu kalam. Jujur, saya ga bisa paham 100% dari argumen-argumen yang disampaikan buku ini karena emang logika saya kurang tokcer, hehe. Tapi overall banyak hikmah dan ilmu yang saya dapatkan. Recommended !