Jump to ratings and reviews
Rate this book

Te O Toriatte

Rate this book
Meutia Ahmad Sulaiman baru berusia 14 tahun ketika tsunami Aceh menewaskan kedua orangtua dan ketiga adiknya pada tahun 2004. Dia selamat setelah tersangkut di tiang kapal yang terdampar di pemukiman warga. Kisah Meutia mendapat liputan media massa internasional dan menarik perhatian suami-istri Hiroshi & Harumi Mishima di Fukushima, Jepang, untuk mengadopsinya.

Untuk beberapa tahun selanjutnya Meutia merasakan kebahagiaan sebuah keluarga. Namun, triple disaster yang menghancurkan Tohoku (gempa bumi dan tsunami) serta Fukushima (kebocoran reaktor nuklir) pada tahun 2011 dan menewaskan orangtua angkatnya, membuat hidup Meutia kembali terpuntir pusaran traumatik yang meretakkan jiwanya.

Di tengah perangkap PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) akut yang dialaminya, Meutia berjibaku mewujudkan mimpi menjadi Doktor Computer Engineering sekaligus memilih satu di antara tiga lelaki yang mencintainya; pakar genom ternama berkebangsaan Jepang, penyiar televisi Indonesia yang merupakan cinta pertamanya, atau psikiater—yang memiliki trauma karena ibunya bunuh diri—namun diam-diam mengidolakan Meutia sampai tahap obsesi.

326 pages, Paperback

First published November 18, 2019

9 people are currently reading
49 people want to read

About the author

Akmal Nasery Basral

25 books28 followers
Akmal Nasery Basral adalah wartawan dan sastrawan Indonesia. Kumpulan cerpen pertamanya Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006) yang terdiri dari 13 cerpen termasuk long-list Khatulistiwa Literary Award 2007. Dia menyelesaikan pendidikan sarjana di Jurusan Sosiologi Universitas Indonesia. Saat ini tinggal di Cibubur, Bekasi, bersama istri, Sylvia, dan ketiga putri mereka, Jihan, Aurora, Ayla.

Sebagai wartawan ia pernah bekerja untuk majalah berita mingguan Gatra (1994-1998), Gamma (1999), sebelum bekerja di majalah Tempo (2004-sekarang). Ia juga pendiri dan pemimpin redaksi majalah tren digital @-ha (2000-2001), serta MTV Trax (2002) yang kini menjadi Trax setelah kerjasama MRA Media Group, penerbit majalah itu, dengan MTV selesai

Sebagai sastrawan ia termasuk terlambat menerbitkan karya. Baru pada usia 37 tahun, novel pertamanya Imperia (2005) terbit, dilanjutkan dengan Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006), serta Naga Bonar (Jadi) 2 (2007), novel dari film box-office berjudul sama yang disutradarai aktor kawakan Deddy Mizwar.

Di luar minatnya pada bidang jurnalistik dan sastra, Akmal Nasery Basral juga dikenal sebagai pengamat musik dan film Indonesia. Ia termasuk anggota awal tim sosialisasi Anugerah Musik Indonesia. Ketika sosialisasi terhadap penghargaan utama bagi insan musik Indonesia ini dilakukan pada 1997, kalangan jurnalis diwakili oleh Akmal dan Bens Leo. Pada pergelaran AMI ke-10 (2006), Akmal ditunjuk sebagai ketua Tim Kategorisasi yang memformat ulang seluruh kategorisasi penghargaan.

Di bidang perfilman Akmal menjadi satu dari lima juri inti Festival Film Jakarta ke-2 (2007), bersama Alberthiene Endah, Ami Wahyu, Mayong Suryo Laksono, dan Yan Widjaya.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
12 (22%)
4 stars
30 (55%)
3 stars
9 (16%)
2 stars
2 (3%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 19 of 19 reviews
Profile Image for Fahri Rasihan.
478 reviews123 followers
December 1, 2019
Membaca kisah cinta yang dewasa dan matang memberikan gambaran yang selalu menarik. Di mana terkadang cinta tak hanya melulu urusan hati, tapi juga kondisi dari dua insan itu sendiri. Ini bisa kita lihat dalam gejolak batin dan jiwa yang dirasakan oleh tokoh Meutia di novel ini. Bagaimana penulis tidak hanya menghadirkan cerita cinta, tapi juga bagaimana kondisi yang memengaruhinya. Latar belakang musibah tsunami yang menimpa Meutia bahkan hingga dua kali menjanjikan isi cerita yang pastinya menarik dan berbeda. Tidak hanya itu bagi saya sampul bukunya pun memberikan nuansa yang sendu sekaligus indah di saat bersamaan. Perpaduan warna biru, putih, kuning, dan jingga menegaskan suasana pantai yang memabukan, tapi sekaligus bisa berbahaya. Apalagi keempat elemen warna tersebut ditampilkan seperti goresan lukisan yang semakin menguatkan unsur artistiknya. Letak judul buku dan nama penulis pun terlihat serasi membaur dengan keempat elemen warna tersebut. Apalagi aksen huruf O yang dibuat seperti matahari dengan siluet burung terbang semakin memperindah sampul bukunya.

Cerita romansa yang dikupas dalam Te O Torriate merupakan kisah cinta yang matang dengan latar belakang yang menguras emosi pembacanya. Isu tentang mental illness khususnya PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) dibahas dan diperlihatkan dengan baik melalui tokoh Meutia. Bagaimana bencana yang menimpanya hingga dua kali dan merenggut nyawa orang-orang yang dicintainya menyebabkan rasa trauma yang mendalam dalam hati dan jiwanya. Luka yang akan terus terbuka dan sulit untuk disembuhkan. Sebagai pembaca saya ikut merasakan rasa frustrasi, kekecewaan, dan kesedihan yang dirasakan oleh tokoh Meutia. Selain itu cerita cinta segi empat antara Meutia dan ketiga pria yang hadir dalam hidupnya pun seru untuk diikuti. Penulis memperlihatkan bagaimana perkembangan dan asal-usul terbangunnya hubungan antara Meutia dan ketiga pria tersebut. Prosesnya tidak terburu-buru dan realistis sehingga tidak akan sulit bagi kita untuk ikut larut dalam gejolak hubungan mereka.

Tokoh utama dalam novel ini adalah Meutia Ahmad Sulaiman yang merupakan seorang ahli Computer Engineering. Meutia merupakan seorang anak nelayan yang lahir dari keluarga sederhana. Akibat musibah yang dialaminya, Meutia tumbuh menjadi sosok yang mandiri, polos, dan cerdas. Namun, dibalik ketegarannya dalam menghadapi musibah yang menimpanya, Meutia tetap memiliki sisi rapuh yang bisa menghancurkan dirinya. Maka tak heran jika Meutia mengalami trauma yang mendalam dan mengidap PTSD. Fisik Meutia digambarkan sebagai seorang wanita dengan kulit yang eksotis selayaknya masyarakat Indonesia. Wajahnya rupawan dengan bentuk tubuh yang ideal. Selain Meutia terdapat juga ketiga sosok pria yang membayang-bayangi kehidupannya. Pertama ada tokoh Ryoichi Yamaoka atau Ryo yang memiliki sifat perhatian, cerdas, dan pantang menyerah. Ini terlihat dari kegigihannya dalam merebut hati Meutia. Kedua ada tokoh Tuta yang merupakan seorang pembawa acara televisi. Tuta memiliki karakter yang percaya diri, cuek, dan berani. Ketiga ada tokoh Farhan, seorang psikiater yang juga merupakan teman Meutia di SMA dulu. Farhan memiliki sifat yang alim, soleh, dan jujur. Tokoh-tokoh pendamping di sini pun tak kalah penting dan menyita perhatian, seperti Haula, Alin, Tere, dan Kak Halimah. Semua tokoh yang dikembangkan oleh penulis terasa sangat berkarakter dan kuat. Penulis bisa menghidupkan semua karakter tokohnya dengan ciri khas serta latar belakang mereka masing-masing. Interaksi Meutia dengan tokoh-tokoh ini pun terlihat hidup dengan porsi yang sesuai.

Te O Torriate memiliki alur cerita yang maju-mundur. Di mana kita akan menyaksikan kehidupan Meutia di masa kini dengan PTSD yang dideritanya dan kita juga akan melihat kehidupan Meutia saat berjuang menghadapi musibah yang dialaminya. Keduanya berjalan dengan seimbang dengan porsi yang pas dan jelas. Gaya bahasa yang tersaji di sini bisa dibilang indah sekaligus menghipnotis. Penulis bisa memilih kosakata yang tepat dan tidak berlebihan. Jujur saja saya sangat menyukai dan menikmati gaya bahasa dan bercerita penulis yang tergolong menghanyutkan. Novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga lewat tokoh Meutia. Kita bisa ikut melihat dan merasakan gejolak emosi Meutia yang naik turun akibat PTSD yang dideritanya. Latar tempat yang dipergunakan kebanyakan terjadi di kota Jakarta, dan sebagiannya terjadi di Aceh dan Fukushima, Jepang.

Ada dua konflik yang bisa saya nikmati, yaitu pertama adalah kebimbangan Meutia dalam memilih pria yang tepat bagi hatinya dan kedua bagaimana Meutia berjuang dalam menghadapi penyakit PTSD-nya. Kedua konfliknya ini melebur menjadi satu menciptakan sebuah konflik yang lebih intens dan kompleks. Di satu sisi Meutia dihadapkan pada keputusan untuk memilih satu di antara ketiga pria yang mencintainya. Di sisi lain Meutia pun harus berjuang melawan PTSD yang sering kali muncul dan membuatnya menderita. Konflik yang terjadi bisa dibilang menguras emosi dan berhasil membuat pembaca bertanya-tanya akan pilihan Meutia. Konfliknya tidak sesederhana kisah romansa kebanyakan. Di sini ada kompleksitas dan rasa trauma dalam usaha Meutia untuk mengambil keputusan. Eksekusi konfliknya cukup meledak-ledak apalagi saat Meutia mencoba meredam PTSD-nya. Bagi saya ini merupakan sebuah konflik yang memggetarkan jiwa dan hati. Apalagi melihat kondisi Meutia yang menarik simpati.

Te O Torriate menunjukkan realita akan penyakit mental pun bisa muncul akibat kondisi yang tidak terduga, seperti tokoh Meutia yang mengalami PTSD akibat bencana tsunami. Rasa trauma yang dialami oleh Meutia ditulis secara nyata dan apa adanya, sehingga saya sebagai pembaca bisa ikut merasakan gejolak dalam diri Meutia. Dikombinasikan dengan kisah cinta segi empat semakin menambah kedalaman ceritanya. Di sini kita tak akan melihat kisah cinta yang menye-menye dan berlebihan, tapi justru kisah romansa yang kuat, matang, dan berkarakter. Perkembangan hubungan antara Meutia dan ketiga pria yang mencintainya diulas dengan latar yang kuat dan jelas. Satu hal lagi yang saya suka adalah dengan menyisipkan Bahasa Jepang ke dalam percakapannya menunjukkan bahwa Meutia yang hidup di Jepang bukan hanya sekadar pemanis cerita. Secara keseluruhan Te O Torriate merupakan karya sastra yang dikemas dengan matang, penuh dinamika, dan realistis. Tak sulit bagi kita untuk menyukai novel ini.
Profile Image for Nur Reti Jiwani.
109 reviews27 followers
March 22, 2024
** #2 - 2020 **
Novel yang romantis dan berkelas.

Te O Toriatte (Genggam Cinta), novel yang ditulis oleh Akmal Nasery Basral ini benar-benar diluar ekspektasiku! (yang justru meremehkan di awal). Aku nyesel deh, sungguhan. Saat menilik latar belakang penulisnya secara singkat, aku langsung merasa novel ini akan sangat membosankan :"

Dengan kata-kata indah atau nyastra begitu, yang kemungkinan besar bikin aku bingung dan sulit menikmati cerita, juga keterangan-keterangan detail yang biasanya cenderung membosankan. But wait, that is not the case with this one, unexpectedly!

JUSTRU AKU SANGAT PUAS DAN MENIKMATI CERITANYA. HERAN.

Bukan berarti novel ini tidak ditulis dengan indah dan nyastra loh, ya. Justru aku herannya karena novel ini benar-benar ditulis dengan kata, frasa dan kalimat yang baguuuuus banget. Tapi, enggak bikin aku pusing. Deskripsi terkait tokoh, kemudian latar tempat, latar kejadian, penggambaran emosi, semuanya juga ditulis dengan sangat-sangat detail. Itulah, heran aku juga kenapa sampai bisa memberikan 4 bintang penuh untuk novel ini.

Aku juga suka sekali bagaimana Pak Akmal, penulisnya, menjadikan sosok Meutia Ahmad Sulaiman, sangat-sangat real dan manusiawi. Justru aku akan tertawa ngakak dan tidak akan melanjutkan membaca kalau sampai si Meutia ini digambarkan sebagai sosok gadis yang tegar, tabah, penuh iman dan nyaris sempurna meski sudah melewati sekian kali cobaan hidup yang menyakitkan. Menjalani hidup yang lurus dengan iman kepada Tuhan, WAH, GAK BANGET DEH. HALU ITU NAMANYA.

Tapi, ternyata enggak gitu. Aku salut dengan pemilihan kata-kata yang ditulis untuk Meutia saat dia sedang mengalami 'kondisi' gangguan mentalnya. Keren deh, rasanya mau bilang: Anjiiirrrr.... HAHAHAHA.

Jadi apa ya, novel ini tuh tetep nyastra, keren, mendeskripsikan segalanya dengan baik, detail tapi enak dibacanya. Banyak quotes yang perlu diabadikan juga. Banyak pelajaran hidupnya juga. Paket komplit. Sepertiga akhir ceritanya patut jadi perhatian. Ketika unsur romansa mulai datang mewarnai ceritanya. Bagi yang sudah baca pasti akan setuju kalau 2 kata di awal ulasanku ini akan sangat-sangat mewakili isi ceritanya, ROMANTIS DAN BERKELAS.
Tuhan selalu menolong umatnya dengan cara-Nya sendiri, pada waktu yang Dia kehendaki. Bukan menurut cara dan waktu yang kita inginkan. Tugas kita sebagai manusia hanyalah melakukan yang terbaik dan setelah itu bersikap ikhlas terhadap apa pun ketetapan-Nya.
Profile Image for Laily.
29 reviews
February 7, 2025
ini definisi novel tanpa tedeng aling-aling plot twistnya, ngga bisa mengharap cerita normal. jujur kegocek judulnya yang meninggikan ekspektasi untuk baca novel romansa yang kalem :)

bacalah, kalau kamu suka sama cerita cinta yang ngga kaya biasanya.
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
July 3, 2020
Teo Toriatte merupakan novel pertama Kak Akmal yang kubaca. Novel ini merupakan perkembangan cerita dari kisah Meutia yang pernah ditulis dalam bentuk cerita pendek yang berjudul "Swans of the Rising Sun" beberapa tahun lalu.

Tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi Kak Akmal untuk mengembangkan kisah Meutia menjadi sebuah novel yang layak untuk dinikmati. Apakah Kak Akmal berhasil? .

Aku bilang YA. Aku menikmati membaca kisah Meutia, yang harus kehilangan berkali-kali. Meutia yang menjadi salah satu korban keganasan gempa bumi dan tsunami Aceh. Meutia yang harus kehilangan seluruh sanak keluarganya, meninggalkan dia seorang diri.

Aku bisa merasakan pergolakan batin Meutia, bagaimana kehilangan membuatnya terluka begitu dalam hingga depresi dan trauma. Apalagi ternyata musibah tak berhenti disana, dia harus mengalaminya sekali lagi dan kembali kehilangan.

Isu PTSD yang diangkat disini cukup detail digambarkan, membuatku memahami efeknya yang luar biasa bagi penderitanya. Bagaimana Meutia bisa tak terkendali di suatu waktu karena sulit untuk membedakan mana nyata dan mana khayalan.

Dipadukan dengan kisah romansa, kisah menjadi semakin menarik untuk diikuti. Aku bisa merasakan kegalauan Meutia memilih diantara Ryo, Tuta dan Farhan, 3 pria potensial yang tampak sempurna, ternyata menyimpan kejutan.

Walaupun sejak awal aku sudah menentukan pilihan kepada siapa, tapi aku tak menyangka kalau ketiganya memiliki rahasia masing-masing yang menjadi plot twist. Cukup mengagetkan, Kak Akmal berhasil mengeksekusinya dengan baik.

Secara keseluruhan, kamu suka membaca kisah mental illness dipadukan dengan kisah romansa, aku rekomendasikan novel ini untuk kamu baca. Terutama buat kamu yang ingin tahu lebih banyak tentang Post Traumatic Stress Disorder
Profile Image for Darwin Salim.
13 reviews4 followers
April 4, 2021
Menulis adalah salah satu bentuk komunikasi, dan tujuan komunikasi pada dasarnya adalah penyampaian pesan. Oleh karena itu, setiap kali membaca sebuah tulisan, kita harus mencoba menangkap apa pesan yang ingin disampaikan oleh penulis.
Akmal Nasery Basral (ANB) baru saja meluncurkan sebuah novel berjudul Te O Toriatte (Gramedia Pustaka Utama, 2019, 328 hal., 20 cm). Novel ini adalah kisah cinta dari Meutia Ahmad Sulaiman, gadis penyintas tsunami Aceh (2004) dan triple disaster Jepang (Fukushima,2011), seorang perempuan istimewa, bukan perempuan biasa. Meutia selamat dari tsunami Aceh karena tersangkut di tiang kapal yang akhirnya terdampar di Gampong Lampulo. Kisah cinta ini dituturkan dengan cara yang sangat menarik, dengan plot yang melompat-lompat dan berubah cepat, kilas-kilas balik yang tetap menjaga alur cerita membuat kita merasa penasaran untuk terus membacanya, bertanya: lalu bagaimana? Meskipun cerita ini utamanya hanya terjadi pada malam tahun baru dan tahun baru 1 Januari 2019 di Jakarta, namun kilas-kilas balik yang berzig-zag membawa kita ke berbagai masa, tempat, dan peristiwa.
Ada beberapa pesan yang saya tangkap dari kisah ini. Pertama, selamat dari sebuah bencana tidaklah selalu berarti keberuntungan dan kebahagiaan. Sering sekali bagi penyintas bisa menjadi duka dan luka yang dalam yang sukar sekali disembuhkan. Si penyintas mengalami PTSD (post traumatic stress disorder), mengalami lucid dream, halusinasi, mimpi buruk, dan munculnya keinginan bunuh diri (skizoprenia) akut. Itulah yang dialami oleh Meutia, namun dia sangat tangguh, malah bisa menjadi kandidat doktor dalam bidang ilmu komputer di Jepang.
Kedua, kecerdasan, ilmu dan teknologi dapat membawa seseorang menjadi sesat. Apalagi ilmu yang menghasilkan teknologi canggih seperti artificial intelligence, expert system, teknologi genetika, dan selanjutnya. Perkembangan teknologi digital membuat manusia berubah menjadi “budak teknologi”. Klaus Schwab dalam buku Revolusi Industri Keempat (Gramedia Pustaka Utama, 2019), mengingatkan bahwa: “Akhirnya, semuanya akan kembali pada diri kita masing-masing untuk memastikan bahwa kita dilayani dan bukan diperbudak oleh teknologi (hal. 135). Namun, betapa banyaknya manusia sekarang yang menjadikan dirinya budak teknologi. Sebagai contoh saja, saya beberapa kali menyaksikan jamaah sholat Jumat asyik bermain ponselnya ketika khatib sedang berkhotbah! Teknologi rekayasa genetika yang mampu “memperbaiki” DNA seseorang, misalnya, dapat membawa manusia “merasa” menjadi tuhan. Itulah yang terjadi pada Ryo, sang ahli GENOM dalam buku bung ANB ini, seperti tertulis di halaman 261: “Karena ambisimu untuk menguasai rekayasa genetika sudah membuatmu mengambil alih posisi Tuhan, Ryo.”
Pesan ketiga yang saya tangkap adalah kegalauan penulis tentang lahirnya pemikiran-pemikiran “super-bebas” yang meninggalkan bahkan menantang nilai-nilai yang selama ini hidup di masyarakat Timur, seperti Indonesia. Sebagai contoh, lahirnya “penganut” sistem nilai open married, yang bersepakat untuk membolehkan pasangannya untuk berselingkuh dengan orang lain. Suami membolehkan isterinya berselingkuh dengan pria lain, dan sang isteri membolehkan si suami berselingkuh dengan wanita lain, hanya dengan syarat yang dikatakan mereka sebagai 3 golden rule, yakni: safe sex, jangan bawa penyakit ke rumah, dan jangan punya anak selain dari pasangan resmi. Faham-faham seperti ini akan mulai bermunculan dan berkembang bila kita tidak mencari solusinya.
Solusi itu ditawarkan oleh ANB secara tersirat, sangat halus. Pendidikan dasar agama di masa kanak-kanak. Kenapa Meutia bisa selamat dan bertahan dengan segala cobaan itu? Meutia adalah gadis Aceh yang sejak usia dini sudah mendapat didikan keagamaan yang kuat. Nilai-nilai ketuhanan, kejujuran, keluhuran budi sudah ditanamkan kedua orang tua dan masyarakat sekelilingnya. Itulah yang menyebabkan ketika Meutia diambang stress yang sangat berat, di puncak keputusasaannya yang membimbing dia ke jendela kamar hotel untuk lompat, bayangan bapak, ibu, dan adik-adiknya yang tewas akibat tsunami itu berteriak mengingatkannya: “Jangan lakukan itu, Mut!” ujar Bapak, “Tuhan membenci orang yang putus asa dan bunuh diri”! (hal. 268-269).
Itu juga yang membuat Farhan, teman SMA Meutia, bisa meniti karirnya meskipun hanya anak angkat dari majikan ayahnya (yang hanya seorang supir). “Tuhan selalu menolong umatnya dengan cara-Nya sendiri, pada waktu yang Dia kehendaki. Bukan menurut cara dan waktu yang kita inginkan.” (hal. 304). Nilai-nilai dasar agama yang tertanam sejak kecil menyelamatkannya dari segala godaan keduniawian. Itu yang tidak dipunyai Tuta, teman Meutia yang lain.
Kisah ini adalah kisah cinta, tiga pemuda memperebutkan seorang penyintas bencana alam yang luar biasa. Namun diceritakan dengan sangat menarik, dengan plot yang sangat apik sehingga sulit bagi kita untuk tidak terus membacanya. Kedahsyatan tsunami Aceh dan triple disaster Fukushima, indahnya gunung Gede-Pangrango, dan indahnya danau Inawashiro.
Buku yang sangat dianjurkan untuk dibaca. Perlu sekali, dan enak membacanya.

Catatan khusus: peluncuran resmi buku ini akan dilangsungkan di Unsyiah pada tanggal 26 Desember 2019, sekaligus memperingati 15 tahun peristiwa tsunami Aceh.

#ayomembaca
#ayogemarmembaca
Profile Image for daydreamerstardust.
31 reviews1 follower
March 29, 2020
3,8
#TW: PTSD, Suicide, Sexual abuse

“Hatimu bukanlah piala atau trofi yang harus diperebutkan dengan strategi tarung gladiator zaman purba, atau adu memanah, atau siapa lelaki yang paling sanggup menangguk margin paling besar dari bursa saham di zaman sekarang. Hatimu, Meutia, adalah mahkota yang akan menentukan sendiri kepala siapa yang pantas menjadi tempat bertenggernya secara pantas. Penuh wibawa dan bermartabat.” – h. 229

Buku ini berat. Suram. Berlatar tsunami di Aceh, tokoh utama diceritakan satu-satunya yang selamat dengan alasan tersangkut di tiang kapal. Keselamatan Meutia apakah suatu berkah atau penderitaan? Menjadi satu-satunya yang harus melanjutkan hidup sementara Bapak, Ibu, dan ketiga adiknya tewas dalam bencana menggemparkan itu?

Meutia mengidap PTSD, peristiwa traumatis yang merenggut semua orang yang dikasihinya itu menjadi benih berkembangnya gangguan-gangguan mental yang kemudian ia alami selama masa hidupnya. Ia anak yang cerdas dan pekerja keras. Dan beruntung. Karena di tengah keterpurukannya mencoba menerima kenyataan, ia disodorkan kebahagian dalam bentuk keluarga baru di negeri yang tidak pernah ia bayangkan, Jepang. Kedua orangtua angkat Meutia untungnya adalah orang-orang yang dermawan, yang membantu Meutia untuk kembali bangkit melanjutkan mimpi-mimpinya.

Sampai pada suatu hari, bencana yang dulu merebut seluruh keluarga Meutia, meruntuhkan dunianya untuk kedua kali. Tsunami di Jepang tahun 2011. Membuat Meutia sekali lagi kehilangan orang-orang yang ia kasihi.

Pergolakan batin Meutia dalam cerita ini benar-benar nyata. Perjalanannya dari mengabdi pada Tuhan, mempertanyakan, membangkang, agnostik, hingga ia kembali percaya pada kasih Tuhan. Semua dijabarkan dengan penuturan yang membuat pembaca simpatik. Di tengah pergolakannya itu, Meutia masih bisa mempertahankan prestasinya yang cemerlang bahkan menjadi kandidat Ph.D di usianya yang 28 tahun! Sosok Meutia yang bangkit dari keterpurukan benar-benar menginspirasi.

Tapi manusia tidak sempurna, selalu ada cela. Meutia yang berparas cantik, bertubuh ideal, dengan karier cemerlang harus menjalani setiap menit hidupnya dalam keadaan emosional yang tidak stabil. Mengandalkan obat penenang ketika serangan paniknya kambuh. . Belum lagi delusi dan halusinasi yang terus menghantuinya hampir setiap hari.

Di tengah kerumitan hidupnya ini, ia dihadapkan pada tiga sosok laki-laki yang berusaha merebut cintanya. Ryoichi Yamaoka, pakar genom jenius yang selama 5 tahun terakhir sangat getol mendekati dan memperhatikan Meutia. Ibnu Batuta Vespucci atau Tuta, seorang penyiar berita kondang yang juga merupakan cinta pertama Meutia (dan masih menyimpan perasaan yang belum tertuntaskan). Dan Farhan Abdul Muiz, seorang psikiater saleh yang selama 10 tahun memendam perasaannya pada Meutia.

Meutia beranggapan bahwa tidak ada yang bisa mencintainya sepenuh hati dan menerimanya dengan kerumitan masa lalunya. Meskipun ia sendiri ingin mencintai dan dicintai. Ryo dan Tuta mendadak mendeklarasikan cinta (dan ajakan menikah) mereka pada Meutia di waktu yang bersamaan. Ditambah lagi akhir-akhir ini Meutia sering kambuh dan histeris. Semua hal yang terjadi secara bersamaan membuat Meutia tertekan. Berharap Farhan bisa membantunya menetapkan pilihan dengan niat mencari sudut pandang laki-laki, ia malah semakin terkejutkan karena Farhan akhirnya mengungkapkan perasannya pada Meutia. Siapa yang harus ia pilih??

Di bagian akhir cerita, ada sesuatu yang tidak terduga ia temukan mengenai masa lalu dan motif ketiga laki-laki itu mendekatinya. Kenyataan yang semakin meruntuhkan realita Meutia. Apakah ada laki-laki di dunia ini yang mencintainya dengan tulus?
Profile Image for Jurnal Si Bugot.
225 reviews7 followers
January 5, 2020
Saat membaca blurb novel Te O Toriatte, saya sudah bergidik membayangkan bagaimana perjuangan Meutia--tokoh utama di novel ini untuk bangkit dari trauma akibat musibah beruntun yang dialaminya. Meutia Ahmad Sulaiman masih berusia 14 tahun saat tsunami Aceh menewaskan kedua orang tua dan ketiga adiknya. Mutia kemudian diangkat anak oleh suami istri berkebangsaan Jepang, Hiroshi dan Harumi.
.
Namun, saat Meutia mulai merasakan kehangatan keluarga, triple disaster melanda Jepang (gempa, tsunami dan kebocoran reaktor nuklir). Kedua orang tua angkat Meutia tewas dalam peristiwa itu.
.
Bersama PTSD yang tak mungkin sembuh, Meutia tetap berhasil mewujudkan mimpinya menjadi doktor computer Engineering. Meutia yang berparas cantik dan jelita juga dihadapkan pada pilihan sulit di antara tiga laki-laki yang mencintainya : pakar genom ternama berkebangsaan Jepang, Penyiar TV yang merupakan cinta pertamanya, serta seorang psikiater yang mengidolakan Meutia sejak lama. Sayangnya, kondisi kejiwaannya yang unstable membuat Meutia ragu ketiga laki-laki itu (atau laki-laki manapun) mampu menerima dia apa adanya.
---
First impression saya setelah membaca novel ini : pak @akmalbasral adalah story teller yang luar biasa. Saya tak pernah terlalu "mementingkan" diksi yang dipilih penulis dalam sastra populer. Tapi, pilihan kata-kata yang ditulis Pak Akmal benar-benar terasa berbeda--dan saya menikmatinya. Saya mengerti sekarang kenapa banyak kritikus "ngeyel" banget tentang hal ini. Ternyata memang kalimat-kalimat nyastra yang indah itu memberikan pengalaman membaca yang berbeda.
.
Novel Teo Toriatte (Genggam Cinta) ini adalah buku pertama yang saya tamatkan di tahun 2020. Novel ini berhasil meng-enhance minat baca di tahun baru ini karena contentnya yang sangat "kaya".
.
Saat membaca blurbnya pertama kali, saya tak berekspektasi terlalu tinggi. Saya justru agak "segan" membacanya karena berpikir novel tentang bencana alam itu pasti bakal bikin mewek. Dan memang banyak banget part-part di novel ini yang membuat dada saya sesak. Tapi cerita Teo Toriatte ini sangat dinamis, ada romance yang bikin gemas dan terharu, ada bagian thriller yang bikin adrenalin saya terpacu dan ada teka-teki yang bikin saya gak bisa berhenti baca. Lalu begitu rahasianya terungkap saya terkaget-kaget. Karena saya sempat mendukung si A untuk menjadi pendamping Meutia. (Padahal kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya penulis sudah memberi clue kalau ada yang salah sejak awal 🙈).
.
Ada banyak sekali isu yang disisipkan penulis ke dalam cerita ini : mental illness (yang jadi concern utamanya), perjalanan spiritual, sains (yang disertai dengan sumber relevan), feminisme, lingkungan dll. Hebatnya, semua hal itu memang mendukung cerita dan disinggung dengan porsi yang pas. Jadi tidak serta merta dijejalkan begitu saja.
.
Kalau harus mencari kekurangannya, mungkin cuma soal pekerjaan Meutia di Jakarta. Saya masih kurang ngeh tentang apa saja yang dikerjakan Meutia dan timnya (yang kayaknya jarang banget disebut) selain pembahasan di awal tentang koreksi data BMKG itu. Dia sangat sibuk sampai-sampai tak mau menghubungi teman-temannya. Tapi masih sempat melakukan wawancara dan (ternyata) melakukan beberapa sesi temu kangen 🙈. (Not a big deal. Bisa jadi saya kurang teliti)
.
Pokoknya, novel ini sangat saya rekomendasikan kepada seluruh teman-teman booklover, dengan syarat kamu sudah berusia minimal 17 tahun. Karena beberapa hal di novel ini hanya relevan untuk pembaca dewasa.
.
My Rating : 4.5 ⭐
Romance : 4.5 ❤ (not your tipycal romance story)
Sensualitas : 3.5 💋 (cukup banyak detail eksplisit)
.
Profile Image for Diday Tea.
Author 8 books12 followers
June 8, 2021
*CINTA BUKAN MATEMATIKA*

_Sebuah resensi untuk novel Te O Toriatte(Genggam Cinta) karya Akmal Nasery Basral_

Oleh: Diday Tea


Ketika hidung masih kembang kempis karena resensi novel Disorder dikomentari langsung oleh penulisnya, uda akmal juga mengusulkan untuk membaca novel beliau yang lain.

Kali ini saya pilih Te O Toriatte.

Yang membuat penasaran dengan novel ini tentu judulnya yang asing. Ketika saya obrolkan dengan mas Google, jawaban pertama yang muncul adalah link ke video lagu Queen yang berjudul sama: Teo Toriatte. Arti harfiahnya kurang lebih "marilah kita bergenggaman tangan". Tapi di dalam novel ini Uda Akmal menerjemahkannya menjadi "genggam cinta".

Seperti karya sastra bernilai tinggi lainnya, pemilihan judul tentunya tidak sembarangan. 

Judul yang menjadi kepingan besar dari perjuangan hidup dan perjuangan meraih cinta dan cita- cita seorang Mutia Ahmad Sulaiman. 

Jarang ada manusia yang bisa menjalani hidup dengan normal ketika ditimpa gunung bencana  yang sama bertubi-tubi.

Tahun 2004 tsunami Aceh merampas nyawa kedua orangtua dan ketiga adiknya. 

Tahun 2011, lagi-lagi  tsunami yang disebabkan oleh gempa di Tohoku merenggut nyawa kedua orang tua angkatnya.

Di tengah balutan  perangkap PTSD(Post-Traumatic Stress Disorder) akut yang mencengkramnya, Mutia masih berjibaku dengan cita-citanya menjadi Doktor Computer Engineering.

Keahliannya ini walau pun hanya sedikit sekali disebutkan dan Mutia tumpahkan di dalam novel ini, tapi menjadi titik balik yang melindunginya dari kesalahan besar.

Seperti novel Dilarang Bercanda Dengan Kenangan 1 & 2, Uda Akmal juga membuat tokoh utama berada dalam posisi sulit tak terperi ketika harus memilih dari tiga lelaki yang dicintainya.

Saya dibuat tak henti-henti menebak dan menduga siapakah yang akan dipilih. Seperti jalan zig-zag dengan belokan tajam, seperti itulah sensasi kita ketika terus menerus salah menebak siapa yang akan menjadi cinta sejati Mutia.

Saya beberapa kali tertipu dengan sepenuh hati mendukung pilihan Mutia, untuk ternyata berbelok ke arah lelaki lain, dan kembali tertipu lagi sampai betul-betul di ujung novel ini.

Letupan-letupan halus, dan percikan konflik yang tersebar tak terduga di sepanjang novel sungguh renyah tapi lembut untuk dinikmati. 

Pelajaran terbesar dari novel ini untuk saya adalah ungkapan "Kalau jodoh tidak akan ke mana-mana, tapi kalau tidak ke mana-mana, ya bagaimana mau berjodoh?".

Tapi, walaupun Mutia sempat mengatakan kalimat "I Love you scientifically" kepada salah seorang kandidatnya, sesungguhnya cinta dan jodoh bukanlah matematika.

Siiapakah yang pada akhirnya akan menggenggam cinta Mutia?

Apakah mualaf pakar genom dari Jepang yang mencintainya sepenuh hati, penyiar terkenal yang merupakan cinta pertamanya yang selalu bisa membuat hati Mutia meleleh dengan kejutan-kejutan romantisnya,  atau seorang psikiater sholeh ganteng yang dengan sempurna menutup rapat-rapat obsesi cintanya sejak SMA kepada Mutia?

Selamat penasaran!

Diday Tea

Doha, 18 Mei 2021
Profile Image for A.A. Muizz.
224 reviews21 followers
December 31, 2019

⁣⁣
🔖⁣⁣
"Bahagia adalah cara kita beradaptasi menghadapi masalah, memeluknya dengan ramah, dan mencari jalan keluarnya tanpa menyerah."⁣⁣
—hlm. 136⁣⁣
⁣⁣
📖 Novel setebal 328 hlm. ini merupakan pengembangan cerpen berbahasa Inggris berjudul "Swans of the Rising Sun" yang ditulis untuk antologi Project Sunshine for Japan, sebuah proyek solidaritas sebagai bentuk dukungan terhadap warga Pantai Timur Jepang di wilayah Tohoku yang mengalami triple disaster (gempa bumi, tsunami, kebocoran reaktor nuklir) pada 2011).⁣⁣
⁣⁣
📖 Novel ini bercerita tentang Meutia Ahmad Sulaiman, korban selamat pada tsunami Aceh tahun 2004 saat usianya 14 tahun. Musibah itu menewaskan kedua ortu dan ketiga adiknya. Dia diadopsi pasangan suami-istri dari Jepang, yang kemudian menjadi korban triple disaster tahun 2011.⁣⁣
⁣⁣
Dengan musibah bertubi-tubi yang dua kali menewaskan seluruh anggota keluarganya, Meutia mengalami Post-Traumatic Stress Disorder yang membuatnya sering berhalusinasi dan berkepribadian ganda. Tiga lelaki yang mengungkapkan cintanya membuat Meutia mengalami dilema. Harus memilih yang mana: sang ilmuwan yang membantunya kembali kepada keimanan, sang penyiar TV yang merupakan mantan sekaligus cinta pertamanya, atau sang psikiater yang selama ini memuja Meutia dalam diam? Mampukah mereka bertahan dengan kondisi Meutia yang seperti itu?⁣⁣
⁣⁣
📖 Sejak awal, novel ini mengungkapkan hasil riset penulis yang tidak main-main. Mulai dari ilmu genom, psikologi, sampai muamalah dijadikan pembangun dan penguat plot yang membuat novel ini menjadi "bergizi" sekaligus memikat.⁣⁣
⁣⁣
📖 Alur maju yang diselingi flash back membuat alurnya terjaga dan jauh dari membosankan. Ini pula yang membuat rahasia-rahasia para lelaki itu terjaga dan terungkap sebagai plot twist yang bikin geram. Rahasia-rahasia kelam yang membuat Meutia tenggelam dalam stres akut yang bisa membahayakan nyawanya.⁣⁣
⁣⁣
Karakter tokoh-tokohnya yang kuat sekaligus penuh kejutan membuat saya tidak mau mengira-ngira apa yang akan terjadi. Jadi, saya menikmati saja apa yang tersaji—yang alhamdulillah menyenangkan.⁣⁣
⁣⁣
📖 Satu hal yang mengganggu saya adalah ketika para lelaki itu menjumpai Meutia, selalu kecantikan fisiknya yang pertama diutarakan hatinya. Ya, mungkin lelaki memang makhluk visual, tetapi tidak begini juga. 😅😅😅⁣⁣
⁣⁣
📖 Ada beberapa narasi dan dialog yang cukup dewasa. Jadi, pastikan usiamu sudah 17+ saat membaca novel ini ya.⁣⁣
⁣⁣
Saya suka!
11 reviews2 followers
May 4, 2024
🖇 Te O Toriatte (Genggam Cinta) by Akmal Nasery Basral - #katalogfiksirahel #katalograhel

⭐: 5/5
📖: 319 pages
📆: 8–12 Mar 2024

𝐜𝐮𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢 𝐬𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐮𝐤𝐚 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐭𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐧𝐜𝐚𝐧𝐚 𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐭𝐚𝐥 𝐡𝐞𝐚𝐥𝐭𝐡??!! ☝️🏼

📚 buku ini menceritakan seorang Meutia, survivor bencana Tsunami Aceh (2004) dan Triple Disaster Jepang (gempa bumi, tsunami, dan kebocoran reaktor nuklir, 2011).

akibat Tsunami 2004, dia kehilangan semua anggota keluarganya. untungnya, ada keluarga Jepang yang mau adopsi dia jadi anak. nah tapi sebelum ke Jepang, Meutia memilih untuk menyiapkan segalanya dulu, mulai dari bersekolah di SMAN 8 Jakarta, les bahasa Jepang, dan lain-lain!

berbagai bencana yang dialami Meutia bikin dia jadi punya mental disorder, mulai dari stres, halusinasi, sampai berkepribadian ganda. di sisi lain, karena paras, jiwa survivor, dan prestasi yang diraih Meutia, ketiga laki-laki jadi jatuh cinta kepada Meutia. mereka adalah Tuta (penyiar televisi sekaligus first love-nya Meutia), Ryo (pakar genom ternama dari Jepang), dan Farhan (psikiater yang udah memendam perasaan terhadap Meutia selama 13 tahun).

perjalan Meutia dalam memilih pasangan hidup ternyata membuka satu per satu cerita dari ketiga laki-laki tersebut, yang akhirnya membuat dia memilih satu orang yang benar-benar bikin dia jatuh cinta. kira-kira, siapa yaa? 🤔

----

📚 buku ini punya banyak plot twist gilaa!!!

📚 humornya dapett! beberapa kali aku ngakak kecil bacanya 🤣

📚 alur flashback-nya rapii bangett ga bikin pusing

📚 penulisannya rapii banget sampe typo yang aku sadar cuma nemu satu 👏🏼

📚 novel ini adalah novel fiksi pertama yang aku kasih banyak bookmark!

📚 banyak banget insights tentang sains, mental health, budaya, dan lain-lain yang disisipin di buku ini. jadi ga cuma kisah percintaan aja yang diangkat

📚 cocok dibaca buat kalian yang suka banget topik bencana, sains, mental health, yang dibalut dengan kisah percintaan!!

📚 bonus slides terakhir bab ter-plot twist 🫣
13 reviews
December 13, 2023
Menurut penuturan penulis, novel ini adalah pengembangan cerita pendek Bahasa Inggris berjudul "Swans of The Rising Sun" (2013) yang ditulis penulis untuk antologi project 'Sunshine for Japan', yang merupakan solidaritas penulis dan seniman instalasi internasional sebagai dukungan terhadap warga wilayah Pantai Timur Jepang di wilayah Tohoku yang mengalami triple disaster pada 2011.

Novel ini menceritakan tentang kelanjutan hidup seseorang bernama Meutia yg menjadi korban tsunami Aceh 2004 dan Fukushima 2011. Bagaimana perjuangannya menyongsong kehidupannya kembali setelah ditinggal seluruh anggota keluarga, hingga mengidap skizofrenia 😭😭😭

Agak ngeri saya membayangkan bagaimana rasanya berada dalam musibah itu. Turut berduka sedalam-dalamnya untuk para korban dan mereka yg ditinggalkan semoga dapat hilang rasa traumanya 🥺

Novel ini dikemas dengan tulisan apik. Kisah cinta yg dewasa ditulis secara runut, alur maju - mundur dan saling berkesinambungan. Realitanya, banyak di sekeliling kita bahwa orang dapat menemukan dan memanfaatkan kelemahan kita. Namun, hidup bagai hitam & putih yg selaras.

Novel ini wajib kamu baca, bagi pecinta fiksi berlatar belakang mental health. Rasanya juga seperti diajak ke Jepang, membayangkan bermain di Danau Inawashiro dan juga menghirup sakura yg menguar ❤

#reviewbuku #teotoriatte #novelmentalhealth #MentalHealth #bukumentalhealth #reviewbuku #bookreview #bookrecommendations
5 reviews
March 18, 2023
Salah satu novel yang masih sulit saya pahami ini sebenernya mau penulisnya ke arah mana. Banyak percakapan bahasa Jepang yang keliru dan menyimpang penggunaannya. Padahal jika tak memakai percakapan bahasa Jepang pun cerita akan tetap padu karena dijelaskan karakter Ryo sudah mahir berbahasa Indonesia. Saya cukup muak dengan sifat karakter Meutia yang seakan tidak punya pendirian. Di awal bilang kalau dirinya akan sulit menikah karena masalah mentalnya dan ragu ada lelaki yang menghendaki perempuan seperti dirinya. Tapi, di tengah cerita dia bilang dia ingin menikah meski bingung memilih antara Tuta atau Ryo. Bagian mendekati akhir cerita adalah yang paling amburadul menurut saya. Tiba-tiba saja karakter Ryo yang sudah dibangun dengan rapi dan berkepribadian baik, apalagi dia digambarkan sebagai muslim, menjadi seorang psikopat(?). Lalu karakter Tuta yang memang sejak awal cerita adalah karakter paling aneh. Orang tuanya yang absurd, saudaranya yang gila, eh taunya Tuta sendiri penggila seks. Aneh sekali. Tiba-tiba karakter Farhan memenangkan hati Meutia yang tidak punya pendirian itu. Cuma dalam waktu dua hari satu malam saja Farhan bisa buat Meutia jatuh cinta? Terus buat apa dia pendam rasa cintanya selama 13 tahun? Sebenarnya alur ceritanya, di luar alur flashback-nya, yang cuma diceritakan dalam waktu dua malam dua hari saja sudah sangat aneh. Kembali ke percakapan bahasa Jepang yang saya rasa sangat tidak perlu di atas. Terlihat jelas penulis tidak memiliki benchmark atau sedikit sekali bersentuhan dengan hal-hal yang berbau Jepang. Penggunaan kata-kata bahasa Jepang terlihat sekali hanya sekedar menerjemahkan menggunakan google translate. Penggunaan gaya bahasanya juga tidak konsisten dan justru terlihat memuakkan. Padahal topik yang diangkat cukup menarik, yaitu PTSD karena pengalaman karakter Meutia mengalami dua kali bencana tsunami. Tapi topik ini jadi tertutup oleh hal-hal yang saya tulis dari atas.
Profile Image for E.T. Woorden.
Author 1 book2 followers
August 5, 2020
It’s an enjoyable read. It’s fun guessing who Meutia will be with in the end. There are some heart tingling moments every now and then. The plot twists are great as well - didn’t see some coming. Another worth mentioning point of this book is that it builds awareness to mental health issues, especially PTSD (post-traumatic stress disorder). To be honest, after reading this book, I feel like my understanding has incredibly improved (it’s different than when I just read about it from the net or hear it from some videos). Reading Meutia’s struggles with PTSD definitely triggers something inside me. I think the writer has done a pretty great job at portraying this big element of the story. It’s personal and readers will definitely empathise with Meutia. At the same time, one will appreciate her spirit to live life, and not give up despite anything that the universe throws at her. Recommended.
Profile Image for Amelia.
13 reviews
July 7, 2024
awal membaca cerita ini sebenarnya agak sedikit bosan dengan alurnya tapi lama kelamaan ceritanya menjadi seru. plottwist yg dihadirkan lumayan membuat terkejut terutama tentang ryo, atte, dan zac. di bagian sinopsis ditulis mengenai psikiater yg mengidolakan meutia hingga tahap obsesi, saya jadi berpikir bahwa hal ini hal yg berbahaya namun untung saja hal tersebut maksudnya adalah meutia membawa inspirasi kepadanya. saya agak greget sama endingnya karna terasa nanggung gitu haha... saya berharap bisa membaca hingga farhan dan meutia menikah hehe.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for rakiti.
5 reviews
January 20, 2025
Kok bisa sih nulis gini dan punya ide si tokoh setega itu ke Meutia ditengah perangkap PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) akut yang dideritanya untung ada Farhan. Siapa itu Farhan? Apa yang telah dilakukannya ke Meutia? Kenapa bisa setega itu tokoh yang diperankan bersama Meutia? Kata aku sih jahat banget ya emosi aku dibawa naik turun mulu
Profile Image for Alfaridzi.
109 reviews3 followers
April 3, 2022
Bercerita tentang seorang gadis cantik nan pintar bernama Meutia Ahmad Sulaiman, dimana saat umurnya 14 tahun dia harus kehilangan seluruh anggota keluarganya karena bencana tsunami Aceh pada tahun 2004. Kemudian, dia diadopsi oleh pasangan suami istri asal Jepang dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Namun, kebahagiaan yang dirasakannya tidak berlangsung lama. Pada tahun 2011 terjadi "triple disaster" berupa gempa bumi, tsunami dan kebocoran reaktor nuklir yang menewaskan orang tua angkatnya.

Runtutan peristiwa yang terjadi dalam hidupnya membuat dia menderita PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) akut yang dialaminya. Ditengah penyakit yang dideritanya, dia masih mempunyai impian untuk menjadi Doktor, sekaligus mesti memilih salah satu dari tiga pria yang mencintainya. Ketiga pria ini memiliki kesan tersendiri bagi dirinya. Hingga akhirnya, Meutia menemukan berbagi kejanggalan pada ketiga pria tersebut dan membuatnya frustasi.

Novel ini sangatlah menarik. Semua isi di dalamnya sangat membuat candu dan tak berhenti membacanya. Latar suasana yang digambarkan memang cukup mengerikan, tetapi penulis mampu meng-imbanginya dengan berbagai cerita dan konflik yang menarik. Berbagai isu sosial yang marak terjadi di kalangan masyarakat disinggung dalam novel ini ; open married, pelecehan seksual, toxic relationship, dan lain sebagainya. Selain itu, buku ini cukup kental dengan nuansa ke Islaman.

Hal yang paling menarik dari buku ini adalah, bahwa judul buku ini terinspirasi dari lagu yang memiliki judul yang sama yaitu "Teo Torriatte" dari band legendaris Queen. Fakta ini disampaikan secara tersirat oleh penulis di dalam ceritanya. Selain itu, buku ini cukup kental dengan nuansa ajaran Islam. Dimana penulis mendeskripsikan beberapa tokoh termasuk tokoh utama sebagai sosok yang religius dan taat ajaran agama.

Secara keseluruhan aku sangat menyukai buku ini. Narasinya enak dibaca, gaya bahasa yang sederhana dan beberapa kalimatnya terkesan puitis, serta berkat buku ini, aku jadi tau sedikit banyak tentang apa itu penyakit gangguan mental serta bahayanya bagi kehidupan.
Displaying 1 - 19 of 19 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.