Menulis adalah salah satu bentuk komunikasi, dan tujuan komunikasi pada dasarnya adalah penyampaian pesan. Oleh karena itu, setiap kali membaca sebuah tulisan, kita harus mencoba menangkap apa pesan yang ingin disampaikan oleh penulis.
Akmal Nasery Basral (ANB) baru saja meluncurkan sebuah novel berjudul Te O Toriatte (Gramedia Pustaka Utama, 2019, 328 hal., 20 cm). Novel ini adalah kisah cinta dari Meutia Ahmad Sulaiman, gadis penyintas tsunami Aceh (2004) dan triple disaster Jepang (Fukushima,2011), seorang perempuan istimewa, bukan perempuan biasa. Meutia selamat dari tsunami Aceh karena tersangkut di tiang kapal yang akhirnya terdampar di Gampong Lampulo. Kisah cinta ini dituturkan dengan cara yang sangat menarik, dengan plot yang melompat-lompat dan berubah cepat, kilas-kilas balik yang tetap menjaga alur cerita membuat kita merasa penasaran untuk terus membacanya, bertanya: lalu bagaimana? Meskipun cerita ini utamanya hanya terjadi pada malam tahun baru dan tahun baru 1 Januari 2019 di Jakarta, namun kilas-kilas balik yang berzig-zag membawa kita ke berbagai masa, tempat, dan peristiwa.
Ada beberapa pesan yang saya tangkap dari kisah ini. Pertama, selamat dari sebuah bencana tidaklah selalu berarti keberuntungan dan kebahagiaan. Sering sekali bagi penyintas bisa menjadi duka dan luka yang dalam yang sukar sekali disembuhkan. Si penyintas mengalami PTSD (post traumatic stress disorder), mengalami lucid dream, halusinasi, mimpi buruk, dan munculnya keinginan bunuh diri (skizoprenia) akut. Itulah yang dialami oleh Meutia, namun dia sangat tangguh, malah bisa menjadi kandidat doktor dalam bidang ilmu komputer di Jepang.
Kedua, kecerdasan, ilmu dan teknologi dapat membawa seseorang menjadi sesat. Apalagi ilmu yang menghasilkan teknologi canggih seperti artificial intelligence, expert system, teknologi genetika, dan selanjutnya. Perkembangan teknologi digital membuat manusia berubah menjadi “budak teknologi”. Klaus Schwab dalam buku Revolusi Industri Keempat (Gramedia Pustaka Utama, 2019), mengingatkan bahwa: “Akhirnya, semuanya akan kembali pada diri kita masing-masing untuk memastikan bahwa kita dilayani dan bukan diperbudak oleh teknologi (hal. 135). Namun, betapa banyaknya manusia sekarang yang menjadikan dirinya budak teknologi. Sebagai contoh saja, saya beberapa kali menyaksikan jamaah sholat Jumat asyik bermain ponselnya ketika khatib sedang berkhotbah! Teknologi rekayasa genetika yang mampu “memperbaiki” DNA seseorang, misalnya, dapat membawa manusia “merasa” menjadi tuhan. Itulah yang terjadi pada Ryo, sang ahli GENOM dalam buku bung ANB ini, seperti tertulis di halaman 261: “Karena ambisimu untuk menguasai rekayasa genetika sudah membuatmu mengambil alih posisi Tuhan, Ryo.”
Pesan ketiga yang saya tangkap adalah kegalauan penulis tentang lahirnya pemikiran-pemikiran “super-bebas” yang meninggalkan bahkan menantang nilai-nilai yang selama ini hidup di masyarakat Timur, seperti Indonesia. Sebagai contoh, lahirnya “penganut” sistem nilai open married, yang bersepakat untuk membolehkan pasangannya untuk berselingkuh dengan orang lain. Suami membolehkan isterinya berselingkuh dengan pria lain, dan sang isteri membolehkan si suami berselingkuh dengan wanita lain, hanya dengan syarat yang dikatakan mereka sebagai 3 golden rule, yakni: safe sex, jangan bawa penyakit ke rumah, dan jangan punya anak selain dari pasangan resmi. Faham-faham seperti ini akan mulai bermunculan dan berkembang bila kita tidak mencari solusinya.
Solusi itu ditawarkan oleh ANB secara tersirat, sangat halus. Pendidikan dasar agama di masa kanak-kanak. Kenapa Meutia bisa selamat dan bertahan dengan segala cobaan itu? Meutia adalah gadis Aceh yang sejak usia dini sudah mendapat didikan keagamaan yang kuat. Nilai-nilai ketuhanan, kejujuran, keluhuran budi sudah ditanamkan kedua orang tua dan masyarakat sekelilingnya. Itulah yang menyebabkan ketika Meutia diambang stress yang sangat berat, di puncak keputusasaannya yang membimbing dia ke jendela kamar hotel untuk lompat, bayangan bapak, ibu, dan adik-adiknya yang tewas akibat tsunami itu berteriak mengingatkannya: “Jangan lakukan itu, Mut!” ujar Bapak, “Tuhan membenci orang yang putus asa dan bunuh diri”! (hal. 268-269).
Itu juga yang membuat Farhan, teman SMA Meutia, bisa meniti karirnya meskipun hanya anak angkat dari majikan ayahnya (yang hanya seorang supir). “Tuhan selalu menolong umatnya dengan cara-Nya sendiri, pada waktu yang Dia kehendaki. Bukan menurut cara dan waktu yang kita inginkan.” (hal. 304). Nilai-nilai dasar agama yang tertanam sejak kecil menyelamatkannya dari segala godaan keduniawian. Itu yang tidak dipunyai Tuta, teman Meutia yang lain.
Kisah ini adalah kisah cinta, tiga pemuda memperebutkan seorang penyintas bencana alam yang luar biasa. Namun diceritakan dengan sangat menarik, dengan plot yang sangat apik sehingga sulit bagi kita untuk tidak terus membacanya. Kedahsyatan tsunami Aceh dan triple disaster Fukushima, indahnya gunung Gede-Pangrango, dan indahnya danau Inawashiro.
Buku yang sangat dianjurkan untuk dibaca. Perlu sekali, dan enak membacanya.
Catatan khusus: peluncuran resmi buku ini akan dilangsungkan di Unsyiah pada tanggal 26 Desember 2019, sekaligus memperingati 15 tahun peristiwa tsunami Aceh.
#ayomembaca
#ayogemarmembaca