Tiba-tiba dia mendengar tangis anak kecil dari kamar sebelah.
Tangisnya begitu jelas. Begitu nyaring.
Ada hantukah di rumah ini?
Atau… itu cuma halusinasi?
Sudah dua tahun dia mengidap amnesia disosiatif.
Anaknya hilang. Tidak ada yang tahu sang anak diculik atau tewas.
Sebagai mekanisme pertahanan diri, dia memendam trauma itu ke alam bawah sadarnya.
Ketika kenangan pahit itu kembali ke permukaan, timbul masalah lain yang tak kalah membingungkan. Dia merasa seperti bertemu kembali dengan mantan kekasihnya. Yang sedang sakit parah dan memerlukan operasi seperti pasiennya yang meninggal di atas meja operasi….
Lalu cinta pun berubah menjadi benci.
Karena batas antara cinta dan dendam cuma secarik tirai tipis….
Terlahir sebagai Mira Widjaja, seorang dokter lulusan FK Usakti (1979) dan penulis novel yang begitu aktif. Karyanya begitu banyak. Yang terlaris Di Sini Cinta Pertama Kali Bersemi mencapai oplah 10.000, dan mengalami lima kali cetak ulang.
Sejumlah karyanya sudah difilmkan: Kemilau Kemuning Senja, Di Sini Cinta Pertama Kali Bersemi, Ketika Cinta Harus Memilih, Permainan Bulan Desember, Tak Kupersembahkan Keranda Bagimu, dll. Pemfilman karyanya mungkin karena faktor ayahnya, Othiel Widjaja, yang dulunya produser Cendrawasih Film.
Mira mengakui karyanya tidak mendalam. Karya-karyanya dipengaruhi oleh karya- karya Nh Dini, Marga T., Y.B. Mangunwijaya, Agatha Christie, Pearl S. Buck, dan Harold Robbins. Karena berasal dari lingkungan yang sama, kedokteran, Mira yang bungsu dari lima bersaudara ini merasa karyanya dekat dengan karya Marga T.
Ia mengaku mulai menulis sejak kecil, dan karangan pertamanya, Benteng Kasih, dimuat di majalah Femina, 1975, dengan honor Rp 3.500. Pengarang yang populer di kalangan remaja ini memakai bahasa yang komunikatif, bahkan dalam dialognya banyak menggunakan bahasa prokem.
Mira sudah melanglang di lima benua, dengan honor tulisannya. Praktek dokter dibukanya petang hari, sedangkan pagi ia bertugas sebagai Ketua Balai Pengobatan Universitas Prof. Dr. Moestopo, Jakarta.
Bibliografi: + Dari Jendela SMP, + Bukan Cinta Sesaat, + Segurat Bianglala di Pantai Senggigi, + Cinta Cuma Sepenggal Dusta, + Bilur - Bilur Penyesalan, + Di Bahumu Kubagi Dukaku, + Trauma Masa Lalu, + Seruni Berkubang Duka, + Sampai Maut Memisahkan Kita, + Tersuruk Dalam Lumpur Cinta, + Limbah Dosa, + Kuduslah Cintamu, Dokter, + Semburat Lembayung di Bombay, + Luruh Kuncup Sebelum Berbunga, + Di Ujung Jalan Sunyi, + Semesra Bayanganmu, + Merpati Tak Pernah Ingkar Janji, + Cinta Diawal Tiga Puluh, + Ketika Cinta Harus Memilih, + Delusi (Deviasi 2), + Deviasi, + Relung - Relung Gelap Hati Sisi, + Cinta Berkalang Noda, + Jangan Renggut Matahariku, + Nirwana Di Balik Petaka, + Perisai Kasih yang Terkoyak, + Mekar Menjelang Malam, + Jangan Pergi, Lara, + Jangan Ucapkan Cinta, + Tak Cukup Hanya Cinta, + Perempuan Kedua, + Firdaus Yang Hilang, + Permainan Bulan Desember, + Satu Cermin Dua Bayang-Bayang, + Galau Remaja di SMA, + Kemilau Kemuning Senja, + Sepolos Cinta Dini, + Cinta Menyapa Dalam Badai 2, + Cinta Menyapa dalam Badai 1, + Mahligai di Atas Pasir, + Masih Ada Kereta Yang Akan Lewat, + Titian Ke Pintu Hatimu, + Seandainya Aku Boleh Memilih, + Tatkala Mimpi Berakhir, + Cinta Tak Melantunkan Sesal, + Bila Hatimu Terluka, + Cinta Tak Pernah Berhutang, + Di Bibirnya Ada Dusta, + Bukan Istri Pengganti, + Biarkan Kereta Itu Lewat, Arini!, + Dikejar Masa Lalu, + Pintu Mulai Terbuka, + Di Sydney Cintaku Berlabuh - Sydney, Here I Come, + Solandra, + Tembang yang Tertunda, + Obsesi Sang Narsis, + Sentuhan Indah itu Bernama Cinta, + Di Tepi Jeram Kehancuran, + Sisi Merah Jambu, + Dakwaan Dari Alam Baka, + Kumpulan Cerpen: Benteng Kasih, + Seruni Berkubang Duka, + Di Bahumu Kubagi Dukaku, + Sematkan Rinduku di Dadamu, + Dunia Tanpa Warna
I found this book in my car dashboard. Seems like it’s been awhile and maybe if I don’t need to look for my car service book, I will never know there are some books in my car. Lol. Old habit never dies, books still everywhere. 🤣 After a long break due to boredom (too much reading during covid period) then “craziness” from work. Kinda enjoy this one. Though it’s easy to read the plot but this one still gave me a good impression. Btw, it’s should be Metropop but don’t know why despite the 18+ content, all the way she wrote the story more like Teenlit. At first, I lost my interest because of it, but psychology genre never failed to catch my curiosity. Overall, recommended! Nice to read.
Ini pertama kalinya aku baca karya Mira W, dan aku memilih buku yang tepat untuk memulainya ~ 🤍
Cerita di buka dengan prolog yang menegangkan, dimana ada perempuan yang terjun ke laut yang dingin dari sebuah dermaga.
Aku suka bab awal kita dikenalkan sama sifat Raffi remaja yang bucin dengan Verina. Meski perbedaan sosial yang begitu jauh, tapi Raffi mampu memenangkan hati orangtua Verina dengan syarat harus memiliki pendidikan setara atau di atas Verina (dokter bedah). Sifat Raffi disini diceritakan dengan menarik, diksinya penuh komedi tipis yang bikin senyum-senyum. Tidak menyangka kisah roman mereka bikin nagih 🤭
Tapi sayangnya, penulis menutup kisah itu dalam 1 bab dan dilanjutkan dengan kisah pilu mereka 🥲
Alurnya rumit. Plot twist nya cukup mengagetkan. Sampai harus membuka halaman awal demi mengecek dimana plot twist itu dimulai. Dan bingo .... Sukses bikin perasaan ketar ketir 😣
Syukurnya, alur rumit itu diperjelas melalui penjelasan tokoh-tokoh lain, sehingga aku bisa menyusun alur yang rumit itu menjadi garis lurus dan memahami isi bukunya.
Aku juga dibuat senewen dengan tokoh-tokohnya. Masing-masing tokoh punya daya tarik bikin jengkel tapi juga bikin simpati. Sekomplek itu karakter yang diciptakan Mira W. Contoh aja Verina yang bikin jengkel setengah mati, karena mementingkan mengurus Raffi yang sakit daripada anaknya yang masih balita. Eh ternyata aku malah kasihan sama Verina 😭
Narasi dan dialog aku suka. Singkat, padat, namun jelas. Nggak perlu kalimat panjang atau detail yang berlebihan untuk menggambarkan keadaan di novel tersebut
Istilah kedokterannya mantap. Ternyata pas ngecek profilnya, beliau adalah seorang dokter. Pantesan lontaran joke atau dialog tentang kedokteran klop, tidak seperti copy paste 😆
Cuma mendekati ending, drama ftv nya agak terasa kental 😅 syukurnya tidak banyak. Sehingga kesan-kesan kuat di awal buku ini tetap dominan tidak terpengaruh drama mendekati ending
✨ 4.5/5
Di Balik Kabut Amnesia/ Mira W/ @bukugpu / Rilis 18 Nov 2019/ Tebal 212 hlm/ via @gramediadigital
Meskipun aku sudah menduga bakalan ada pelintiran cerita, tetap saja ada sisi cerita yang membikinku terkejut!
Verina dan Rafi menjalin cinta sejak SMA. Bagi Rafi, hanya ada Verina di hatinya. Bagi Verina, hanya ada Rafi dalam hidupnya. Keduanya mendambakan satu sama lain sebagai pasangan hidup. Namun, kisah manis mereka kandas setelah Verina tiba-tiba menikah dengan Rori, senior mereka, lantaran Rori merebut paksa kehormatannya. Kabut amnesia mengaburkan fakta yang terjadi dan kenangan di antara mereka. Mungkinkah Verina dan Rafi kembali bersama?
Prolognya mengejutkan: aksi seorang perempuan yang terjun ke lautan! Bab-bab berikutnya mengajak pembaca bolak-balik antara kenangan masa lalu, realita masa kini, dan halusinasi. Pembaca dipaksa memercayai fakta yang dibeberkan oleh bab-bab awal. Namun, fakta sebenarnya justru dikuak satu per satu mulai kira-kira pertengahan buku hingga akhir halaman. Sayangnya, bagian akhir cerita terasa terlalu buru-buru dituntaskan. Seolah seharusnya masih bisa dikembangkan lagi ceritanya.
Sesuai dengan latar belakang penulis, buku ini kental dengan dunia medis, tidak jauh berbeda dengan buku-buku lain karyanya. Entah tokohnya sebagai pasien atau dokter. Sementara, buku ini tidak tanggung-tanggung, ketiga tokoh utamanya–Verina, Rafi, dan Rori adalah dokter.
Kalau kamu suka fiksi seputar dunia kesehatan, terlebih tentang isu kesehatan mental, rasanya perlu membaca buku ini.
Di Balik Kabut Amnesia • Mira W. • GPU • 2019 • 208 hlm.
--
Menolong pasien itu kewajiban kita sebagai dokter. Tapi Anda juga harus memikirkan diri sendiri. hlm. 67
Mulailah mendekati anak-anakmu. Kadang-kadang mereka tidak dekat karena kamu yang menjauh. Hlm. 83
Berdamailah dengan keluargamu. Jika jiwamu tenang, fisikmu biasanya mengikuti. Hlm. 84
Tuhan bekerja dengan cara yang misterius Hlm. 170
Karena batas antara cinta dan dendam cuma secarik tirai tipis Hlm. 174
Bagi saya yang memilih latar belakang pendidikan psikologi, membaca novel Mira W adalah salah satu cara yang mengasyikkan untuk belajar psikologi.
Seperti dalam novel ini, menceritakan tentang gangguan amnesia disosiatif di mana penderitanya hanya melupakan ingatan yang ingin dilupakan saja karena terlalu menyakitkan jika ingatan itu sampai hadir dalam kesadaran.
Seperti novel Mira W lainnya, selalu berlatarkan dunia kedokteran. Meskipun konfliknya tak begitu menegangkan, tak seperti judul-judul karya Mira W lainnya yang berhasil membuat saya banjir airmata. Tapi tetap jadi bacaan menarik karena alurnya yang tak tertebak.
Terus terang saya bingung dengan alurnya, tapi saya sudah bisa sedikit menebak twistnya. Gak nyangka dengan akhirnya, karena, ehm, entahlah, terlalu drama buat saya.
"Yang penting bukan berapa lama kita hidup tapi berapa lama kita dapat menikmatinya." "Karena batas antara cinta dan dendam cuma secarik tirai tipis" (174).
Kalau yang ga suka plot maju mundur maju mundur sih lumayan membingungkan ceritanya apalagi karena endingnya tidak sesuai Yang dibayangkan. Klimaksnya kurang banget dibanding novel Mira W lainnya.
It wasn't my favorite, but I have to admit, the story felt fresh and different. It tackles the theme of dissociative amnesia pretty well, and even touches on a lot of psychiatric terms that I thought were quite fitting. All of that was then paired with a mystery story that kept me curious until the very end.
"Yang penting bukan berapa lama kita hidup tapi berapa lama kita dapat menikmatinya."
"Banyak yang merekomendasikan saya untuk baca tulisan Mira W dan pilihan jatuh ke novel ini. Alur ceritanya maju-mundur dan sempat membuat terpedaya di awal. Begitu memasuki halaman demi halaman, kebingungan tersebut perlahan memudar, tabir terkuak dan alur cerita makin menggairahkan. Banyak tersaji istilah kedokteran dan pelbagai ilmu yang meliputinya. Sungguh menambah wawasan. Buku ini merupakan karya Mira W yang Ke-86 setelah 44 tahun beliau menulis."