Jump to ratings and reviews
Rate this book

Surat-surat Habel dan Veronika

Rate this book
Habel dan Veronika berciuman di malam tahun baru. Ini menjadi awal surat menyurat di antara mereka.

Surat-surat itu membuat dunia Habel yang sebelumnya hanya berisi ayat-ayat kitab suci dan doa-doa, kini dipenuhi celoteh Veronika. Sebaliknya, dunia Veronika yang sebelumnya dipenuhi kekecewaan akan Tuhan perlahan terisi oleh doa-doa dan ayat kitab suci. Keduanya belajar untuk berdamai dengan diri sendiri dan dunia. Namun ada pula yang perlu didamaikan di antara mereka. Veronika sangat ingin Habel menjadi kekasihnya, akan tetapi, di sisi lain, dia pun ingin Habel tetap teguh dalam panggilan sebagai Pastor Katolik.

128 pages, Paperback

Published January 1, 2019

16 people are currently reading
112 people want to read

About the author

Ajen Angelina

3 books3 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
62 (27%)
4 stars
133 (59%)
3 stars
28 (12%)
2 stars
1 (<1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 68 reviews
Profile Image for Lelita P..
633 reviews58 followers
April 15, 2021
Setelah bertahun-tahun memendam keinginan untuk baca buku ini, akhirnya bisa baca juga. T_T

Membaca novel ini berasa lagi baca novel Jostein Gaarder untuk dewasa, haha. Soalnya sebagian besar isi buku ditulis menggunakan teknik epistolari dan membahas berbagai hal tentang filsafat secara mendalam, termasuk pemikiran-pemikiran filsuf terkenal. Mirip pola novel-novel Jostein Gaarder, kan? Tapi yaaa sekali lagi, bedanya dengan novel JG, ini bukan buku anak-anak. =))

Saya suka banget premisnya, tentang seorang pastor (Romo Habel) yang saling bertukar surat dengan salah seorang jemaatnya, Veronika. Keduanya saling jatuh cinta, bahkan sampai berciuman segala, tapi cinta mereka terhalang status keagamaan, jadi hubungan mereka hanya bisa mentok di pastor dan umat.

Isi buku ini, seperti yang sudah disebutkan, dan sebagaimana judulnya juga, 90% adalah surat-surat antara Habel dan Veronika. Sementara 10% sisanya adalah dialog batin antara dua sisi nurani baik (Habel yang bijaksana) dan nurani setan (Habel yang tidak bijaksana) beserta Habel-nya sendiri, plus satu bab dialog tatap muka antara Habel dan Veronika ketika mereka ketemuan langsung.

Awal-awal baca, jujur saya sempat bosan. Hal yang lazim dialami siapa pun kalau filsafat dan pemikiran para filsufnya bukan topik yang sangat disukai. Anehnya ... ada magnet tersembunyi yang bikin saya terus membaca. Lama kelamaan, isi surat antara Veronika dan Habel semakin terasa menarik karena menyinggung hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan, seperti kecemasan, pikiran negatif, takdir, cinta, hawa nafsu, dan lain-lain. Topik yang diangkat dalam surat-surat mereka ngalor ngidul banget tapi luar biasa kaya. Dan meskipun topik-topik itu dikupas dalam aspek filsafati, pembahasan mereka secara umum tetap sangat universal dan bisa dihayati siapa saja, tidak terbatas untuk penganut Katolik doang. Banyak banget isi surat mereka yang saya yakin everyone can relate, bahkan mungkin sampai tercerahkan. Quotable pula! Kalau saya bacanya nggak di iPusnas, barangkali udah saya stabiloin tuh kalimat-kalimat yang mengena.

Yang saya kagumi lagi dari buku tipis yang cuma 131 halaman ini adalah ... karakter Habel dan Veronika-nya tergambar banget dari isi surat mereka. Keduanya terasa sangat manusiawi, penuh flaws, bahkan Habel yang pastor pun bukan "orang suci". Dan ... yah, karena ini novel dewasa, saya mesti mengatakannya:

Sayangnya saya agak terganggu dengan banyaknya kekurangan tanda baca di novel ini. Kurang koma, kurang titik di akhir ... gemes aja gitu lihatnya. Ada beberapa kesalahan kalimat juga seingat saya.

Terlepas dari itu, novel ini berkesan banget. Bukan hanya dari segi teknik penulisannya yang agak eksperimental, melainkan juga karena isi novelnya yang profound. Saya juga suka banget sama ending-nya. Realistis, manusiawi, dan dengan bittersweet menunjukkan bahwa . Ini novel sastra romansa religi pertama yang saya baca setelah sekian lama, dan saya sangat menyukainya. Novel ini tidak akan terlupa dari benak saya untuk waktu yang panjang.
Profile Image for Szasza.
246 reviews22 followers
September 28, 2022
Sebuah novella berisi kisah Habel seorang pastor dan Veronika jemaat di gereja nya, awal kisah mereka di mulai dari tahun baru ketika tidak sengaja berbagi sebuah ciuman. Karena merasa keresahan yang tidak kunjung usai.

Karena merasa keresahan yang tidak kunjung usai Veronika mulai mencoba menyurati Habel dan kisah mereka pun di mulai.

Veronika menyurati Habel tentang kisah-kisah hidup nya mulai dari keresahannya tentang cinta, kesedihan, takdir, tuhan, keyakinan, kekecewaan, dan tentang kehidupan yang menurut dia sangat paradoks. Romo Habel disini membalas pertanyaan-pertanyaan veronika dengan lugas, menggunakan kutip kutipan kitab dan beberapa kutipan dari filsuf dan psikolog terkenal.

Menurut aku tokoh Veronika di sini sangat relateable dengan manusia pada umumnya, kadang kita punya keresahan atau pertanyaan-pertanyaan yang sebenernya kita tau jawabannya tapi tetap kita tanyakan ke orang lain not because we dont know the answet but we just need reasurence from another people or another perspective.

Banyak pembahasan-pembahasan yang menurut aku menyentil dan cukup bikin mikir, mulai dari tentang kekecewaan, susahnya mencintai diri sendiri, dan keyakinan terhadap tuhan.

"Hubunganku dengan tuhan juga paradoks, di satu sisi aku membencinya di sisi lain aku berdoa agar dia selalu menyayangiku. Di titik inilah aku bertanya-tanya apakah aku percaya pada tuhan atau tidak." p.24

“Terkadang sama seperti jatuh cinta patah hati juga punya hak untuk di nikmati. Kesedihan dan kebahagiaan adalah dua perasaan yang sama. Tidak ada salahnya menikmati kesedihan sama seperti kita menikmati kebahagiaan. Tidak ada yang lebih superior dari keduanya, mengapa harus merayakan kebahagiaan dan mengutuk kesedihan?” p.27

Seperti judulnya novella ini di tulis dengan 90% format surat menyurat. Aku suka sama penggunaan bahasa yang di pakai sama penulis simple dan mudah di mengerti.
Profile Image for DEE.
254 reviews3 followers
December 19, 2021
Okey.

Hal pertama yang perlu kusampaikan di review kali ini adalah betapa tidak sesuainya buku ini dengan ekspektasiku. Bukan tentang bagus tidaknya, tetapi tentang apa yang dibahas di dalam buku ini. Siapa sangka ternyata buku ini lebih banyak membahas tentang filsafat dan kehidupan. Meskipun begitu, aku sama sekali enggak kecewa.

Kedua, gaya penceritaan buku ini hampir mirip dengan buku Berani Tidak Disukai karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga. Berani Tidak Disukai adalah sebuah buku tentang percakapan antara seorang filsuf dengan seorang pemuda--sang pemuda bertanya, sang filsuf menjawab. Buku ini sendiri merupakan percakapan antara Veronika dan Romo Habel. Veronika menyampaikan pendapat dan pertanyaannya di suratnya kepada Romo Habel, Romo Habel kemudian memberikan pendapat dan jawabannya kepada Veronika, juga menggunakan surat.

Apa yang aku suka dari buku ini? Buku ini enggak berbelit-belit dan penuturan bahasanya juga enggak njelimet walaupun sebagian besar isinya membahas filsafat. Veronika benar-benar mencerminkan kita, orang-orang yang penuh dengan kebimbangan, kecemasan, dan keraguan akan hidup. Dan Romo Habel? Romo Habel digambarkan sebagai pribadi yang sungguh lembut dan penuh perhatian. Tidak heran, seiring berjalannya waktu, Veronika semakin menunjukkan rasa hormat melalui suratnya ke Romo Habel.

4 / 😸😸😸😸😸
Profile Image for Nike Andaru.
1,648 reviews112 followers
May 30, 2022
49 - 2022

Gak nyangka buku ini atau novela ini menarik.
Surat-menyurat antara seorang romo bernama Habel dan seorang jemaat gerejanya, Veronika.
Menariknya Vero dan Habel ini gak cuma semacam ngobrol dalam suratnya, tapi juga diskusi tentang banyak hal. Saya suka bagaimana Veronika mengutarakan pendapatnya tentang banyak hal, mulai dari kehidupan para filsuf, ceritanya tentang masa lalu dan bagaimana dia memandang masa depan.

Romo Habel mendapatkan ujian besar dalam menghadapi surat-surat Vero, antara jiwanya sebagai manusia dan lelaki biasa dan posisinya sebagai romo yang akan ditahbiskan untuk hidup selibat.
Suka banget bagaimana Habel membalas surat Vero dengan bijak, tapi juga kita diceritakan bagaimana pergulatan perasaan Habel dengan Habel yang Tak Bijaksana.

Ah, asyik juga nih kalo dipanjangin ceritanya...
Profile Image for Readbyay.
33 reviews3 followers
March 15, 2021
Buku ini punya sisi unik yang mengupas sesuatu dengan cara yang tidak biasa terjadi--keraguan terhadap Ketuhanan, kebahagiaan, kehidupan, ketakutan.

Entah kenapa saya merasa ditampar berkali-kali.
Kegoyahan dan keraguan akan ketuhanan dan bagaimana menemukan jalan kembali disampaikan dengan cara sederhana.


"Hubunganku dengan tuhan juga paradoks, disatu sisi aku membencinya disisi lain aku berdoa agar dia selalu menyayangiku. Di titik inilah aku bertanya-tanya apakah aku percaya pada tuhan atau tidak."


"Ini, aku pernah dititik terendah yang mempertanyakan Tuhanku, dan pandanganku terhadap Tuhan. Beberapa manusia mungkin pernah begini."

"Dititik itulah saya sadar kita dapat menemukan tuhan lewat siapa saja dan apa saja. Banyak yang menemukan tuhan lewat orang lain atau pun tuhan."
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Laven.
347 reviews14 followers
December 25, 2023
"... Kita tidak bisa jadi malaikat untuk semua orang. Perilaku baik itu adalah perilaku yang membuat dirimu dan orang lain senang. Kalau hanya orang lain yang senang dan kau tidak itu bukan lagi perilaku baik."

Buku ini tidak sampai 200 halaman, namun rasanya berat sekali untuk terus membacanya. Kisah Habel dan Veronica diceritakan melalui bentuk surat yang ditujukan untuk satu sama lain, buku ini jauh dari ekspektasi yang kupunya. Rupanya ini bukan romansa ringan. Apalagi setelah paham kalau Habel adalah seorang pastor dan Veronika adalah Jamaatnya. Aku langsung menghambuskan nafas dan yakin bahwa kisah ini bukan kisah yang akan kucerna dengan cepat.

Kisah mereka bermulai dari ciuman di tahun baru, berlanjut dengan cerita kehidupan dan keseharian Habel dan Veronica di setiap suratnya. Dari surat-surat mereka banyak pembelajaran yang dapat diambil mulai dari bagaimana cara untuk bahagia, berpikir positif, dan menyikapi pikiran negatif.

Menjelang akhir cerita aku jadi teringat tentang dua tokoh dari drama The Beauty Inside yang hampir mirip dengan Habel dan Veronica, namun tidak seperti Habel, Eun-ho belum menjadi Pastor. Dengan dua tokoh yang berlatar belakang mirip, namun ending kisah mereka berbeda. Namun aku lega dan puas dengan ending kisah Veronica dan Habel dalam buku ini.
Profile Image for grace.
165 reviews6 followers
April 8, 2022
⭐: 4/5

buku ini menceritakan kegiatan surat-menyurat seorang pastor dan seorang umat. pembahasan mereka benar-benar 🤯🤯 dan beberapa kali aku merasa tertampar dengan tulisan kak ajen yang satu ini. walaupun buku ini membahas filsafat, tetapi bahasanya lumayan mudah dimengerti.

sayangnya, banyak kesalahan tanda baca yang bikin bingung. beberapa kali tanda titik, tanda koma, dan tanda petik dua menghilang, bikin aku gemas.🤏🏻
Profile Image for sherly .
67 reviews3 followers
January 5, 2022
Buku ini unik karena ceritanya berdasarkan surat-menyurat antara Habel dan Veronika. Gaada baca blurb dulu, jadi langsung gas baca aja. Ternyata isinya bikin pandangan makin kebuka banget! Veronika yang selalu bertanya mengenai hal-hal dalam kehidupan, tentang kecemasan berlebihan, pikiran negatif, mengenai takdir, dan susahnya mencintai diri sendiri. Beberapa topik cukup relate dan jawaban Habel yang sangat filosofis juga cukup menenangkan dan semoga bisa dipraktikkan sama diri sendiri :"D

Percakapan antara Habel yang Bijaksana dan Habel yang Tidak Bijaksana merepresentasikan adanya kedua sisi manusia yang saling bertentangan. Di mana HTYB selalu berpikir berlandaskan nafsu, sedangkan HYB mengandalkan akal sehatnya.

Kekurangannya mungkin ada beberapa salah ketik, salah ejaan, dan salah tata katanya. Tapi, overall, tidak terlalu mengganggu.

Isi bukunya padat dan cocok banget buat bacaan ringan tapi bisa dapat pengetahuan dan juga pandangan baru!
Profile Image for Nad..
188 reviews18 followers
June 23, 2022
3.5 bintang untuk novela yang unik ini.

Sesuai judulnya, buku ini disampaikan dalam format surat dan balasan antara Veronika dan Romo Habel. Senang sekali menyimak obrolan mereka yang disisipi banyak topik 'berbobot' seputar kehidupan.

Yang bikin buku ini tambah menarik adalah hubungan mereka yang saling mencintai tapi tetap gak bisa bersatu karena status keagamaan.

Ternyata rumit juga ya, ikut sedih tapi emang udah jalannya gitu...
Profile Image for fatru.
213 reviews
September 14, 2021
Habis dalam sekali duduk. Pendek, namun bernas sekali.
Profile Image for Ares.
28 reviews11 followers
March 29, 2022
Terlepas dari kisah percintaan antara Veronika dan Habel, buku ini memberikan banyak masukan untuk mencintai diri sendiri. Bagaimana cara untuk bahagia, berpikir positif, dan menyikapi pikiran negatif. Semuanya dibahas dalam bentuk surat-surat panjang.
Profile Image for Andreiya Eliata.
76 reviews1 follower
December 30, 2021
YA TUHAN, KU MOHON TOLONG SISAKAN SATU HABEL UNTUK KU!!(Tapi yang profesinya bukan Romo). Huhuhu.

Buku ini adalah salah satu buku favorit ku tahun ini. Buku ini memang banyak membahas tentang filsafat dan nilai-nilai serta moral kehidupan lainnya. Sejujurnya, aku tidak pernah bisa membaca buku yang ada bumbu-bumbu filsafatnya karena aku akan dibuat pusing tujuh keliling. Namun, lain halnya saat aku membaca buku ini. Buku ini sangat ringan dibaca karena pengemasan ceritanya sangat unik yaitu melalui media surat menyurat.

Karakter Veronika benar-benar mewakili diriku dan mungkin sebagian besar pembaca lainnya yang diselimuti rasa penasaran dan kebimbangan. Jawaban Habel yang bijaksana juga benar-benar mudah dipahami dan tidak berkesan menggurui. Hal lainnya yang aku suka adalah beberapa bab yang difokuskan untuk percakapan Habel dengan dirinya sendiri. Aku benar-benar tertawa saat Habel yang Bijaksana (HYB) dan Habel yang Tidak Bijaksana (HYTB) mulai berargumentasi. Bagaimanapun Habel tetap manusia biasa. Hahaha. Walaupun topik pembicaraannya cukup serius, penulis bisa mengemasnya dengan begitu sederhana. Aku belajar banyak hal dari buku ini.

Dan ya sayangnya sama seperti buku-buku penerbit basa basi lainnya, buku ini juga dilengkapi kekurangan tanda baca dan kesalahan pengetikan. Yah, alhasil aku hanya bisa memberikan bintang 4. Tapi aku sangat menyukai ceritanya.

Membaca kisah Habel dan Veronika benar benar menghangatkan hati. Walaupun aku masih sedih mereka tidak bisa bersama. Huhu. Apapun itu, aku sangat suka buku ini. Salah satu karya sastra Indonesia terbaik yang ku baca tahun ini.
Profile Image for Maddy.
106 reviews2 followers
March 30, 2023
"Kita tidak akan pernah bisa bahagia kalau kita tidak tahu apa yang membuat kita bahagia dan untuk tahu hal itu satu-satunya cara adalah mengajak diri berbicara."


Sebuah cerita reflektif yang membuka mata mengenai cara pandang dan tindakan dalam menjalani hidup sehari-hari yang diwakili oleh kisah Habel dan Veronika.

Senang rasanya bisa mengikuti dinamika relasi antara keduanya melalui surat-surat yang terkirim (maupun yang tidak terkirim) dan berakhir dengan ikut berkembang menjadi pribadi yang memiliki perspektif yang lebih luas mengenai kehidupan.

Hal yang cukup mengganggu paling cuma di bagian penulisan kalimat yang terkesan rumpang di beberapa kalimat, salah ketik, sama penggunaan tanda baca yang kurang tepat.
Profile Image for Haifa Chairania.
158 reviews7 followers
August 1, 2024
Setelah menimbang-nimbang, aku memutuskan membulatkan rating buku ini menjadi 4 bintang. Meski membacanya sambil tersendat-sendat (maaf, otakku tidak diciptakan untuk menyerap ajaran filsafat dengan mudah, hiks), Surat-Surat Habel dan Veronika punya 'sentuhan’ yang membuatku bakal mengingatnya dalam waktu lama.

Habel adalah pastor, Veronika adalah jemaatnya. Bermula dari ciuman di malam tahun baru, keduanya pun saling menulis surat. Bukan untuk berbagi ungkapan cinta menggebu-gebu, surat-surat itu justru memberi mereka pemahaman tentang menghadapi kemelut kehidupan sebagai hamba Tuhan dan manusia.

Begitulah. Aku sempat tertipu, mengira buku ini bakal jadi drama percintaan terlarang. Padahal ⅔ isinya adalah deep talk filosofis antara Veronika dan Habel. Daripada romance, novela ini lebih terasa seperti buku self-help semi filsafat.

Aku membayangkan Veronika sebagai orang yang sedang meminta ‘arahan’. Pertanyaan yang berkelindan di kepalanya adalah hal yang juga kerap mengetuk pikiranku. Kenapa jatuh cinta itu merepotkan tapi juga menggoda? Salahkah jika aku sulit mengenal Tuhan, tapi juga ingin mencintai-Nya? Kalau takdir sudah ditetapkan, lantas apa esensi utama kita untuk menjalani hidup?

Rumit kan? Di sinilah Habel muncul layaknya penasihat dari semua kegelisahan Veronika, memberi pencerahan melalui berbagai teori filsafat, psikologi, ajaran Katolik, dan pengalamannya sendiri sebagai pastor. Di luar premisnya yang terkesan "religius", percakapan Habel dan Veronika secara universal mencerminkan lika-liku pencarian makna seorang manusia, yang besar kemungkinan bisa diamini semua orang terlepas dari apa agama mereka.

Ditulis dengan format surat-menyurat tidak membuat buku ini hambar, malah semakin mempertegas karakter kedua tokoh sentral. Veronika yang blak-blakan dan mencintai dengan ugal-ugalan. Habel yang pengayom dan keukeuh menolak dengan santun. Andaikan tidak dibatasi oleh status keagamaan, menurutku Habel dan Veronika adalah definisi sepasang manusia yang ‘they were made for each other’. Ah sial, bahkan tanpa sadar, aku juga ingin melihat hubungan keduanya mendapat restu dari takdir. Di balik surat-surat mereka yang membicarakan kebajikan, terdapat harapan semu atas cinta yang tak sampai - yang justru semakin kentara dengan dialog batin Habel di akhir cerita.

Bagian akhir buku ini jugalah yang mengusik perasaan khidmatku. Aku lagi-lagi ‘tertipu’, kali ini oleh jubah kebijaksanaan Habel. “Ingin mencintai kebijaksanaan tak lantas membuat seseorang menjadi bijaksana”, perkataan Habel membuktikan bahwa dirinya sendiri bukanlah figur suci. Namun kembali lagi, bukankah dia juga manusia? Bukankah cinta kita memang paradoks yang bisa membahagiakan dan menyengsarakan? Dan, bukankah apa pun pilihan yang diambil, pada akhirnya akan dibayangi penyesalan?

Aku memaklumi (dan cukup banyak menghela napas) karena buku ini berhasil merepresentasikan sisi manusiawi—baik dan buruknya—sosok Habel maupun Veronika.

Aku tidak berhak menilai apakah keputusan Habel di akhir bijaksana. Namun jika takdir memang ada, kurasa Habel dan Veronika akan tetap meyakini bahwa "takdir" mereka hanya sebatas menjadi romo dan jemaat yang saling mencintai. Yang bertemu bukan untuk saling memiliki, melainkan untuk menguji keteguhan masing-masing dalam menentukan jalan hidup, dan melakoni peran mereka sebaik-baiknya manusia yang tak luput dari ketidaksempurnaan.
Profile Image for Theresia.
108 reviews5 followers
July 4, 2022
SURAT SURAT HABEL DAN VERONIKA
Seorang Romo dan jemaat berciuman di malam tahun baru? Bukankah itu suatu pelanggaran yang tidak seharusnya terulang?
“Jatuh cinta berarti terjun bebas merasakan sakit dan mengambil resiko. Kalau kau mencintai seseorang dan tidak melakukan sesuatu yang beresiko, kau tidak benar-benar jatuh cinta.” – 29
Habel Antonius Padua adalah seorang Romo yang taat pada panggilan Tuhan menjadi Pastor pembantu di suatu Paroki dimana Veronika Novena bergereja. Hubungan yang tidak seharusnya tercipta diantara mereka diceritakan melalui surat-surat yang mereka tuliskan. Buku ini terbagi dalam sepuluh bagian yang masing-masing mengangkat tema yang berbeda.
Karakter Veronika tergambar jelas dalam surat-suratnya, seseorang yang pesimis, overthinking, bosan dengan kehidupannya, menginginkan hubungan romantis dengan Habel namun tidak ingin dicap pendosa jika Habel melepas janji sucinya.
Habel disisi lain membalas surat Veronika sebijaksana mungkin tidak menanggapi godaan Veronika. Habel layaknya seorang Romo yang mempelajari filasafat, berbagi pandangan Alkitabiahnya dan kutipan kutipan dari berbagai buku yang pernah ia baca. Sebisa mungkin dalam suratnya Habel tidak membahas cinta dengan lawan jenis, meski secara pribadi di dalam jiwanya ada pertentangan.
Sisi unik dalam buku ini yang ditampilkan tentang Habel adalah pergulatan Habel dengan dirinya versi Bijaksana dan versi Tidak Bijaksana. Dialog mereka bertiga yang menunjukkan bahawa Habel juga manusia yang menginginkan cinta.
Buku ini beralur maju dan bahasa yang digunakan baku antara dua orang yang berkiriman surat. Gaya bercerita yang mengalir dan ringan.
“Menikahlah kau akan menyesal, tidak menikahlah maka kau akan menyesal. Menikah atau tidak kau akan selalu menyesal.”
Selain melalui surat, Habel dan Veronika juga bertemu muka diujung cerita. Menjadi plot twist yang cukup menegangkan dan menghibur pembaca.
Membaca novela ini serasa membaca buku non fiksi versi ringan. Banyak kutipan Alkitab, filsafat, dan buku bagus di dalamnya. Habel dan Veronika juga berbagi pandangan mereka tentang film Before Midnight dan membahas tentang pernikahan. Dalam setiap babnya buku ini memberi pelajaran dan mengajari kita untuk bertanggung jawab pada setiap pilihan dan keputusan yang kita buat.
Profile Image for tïmmyrèvuo.
204 reviews2 followers
September 20, 2023
This book was far from my initial thought that it would be a cliche romance. But this book explains the beauty of life, unconditional love, demands, and fear in a philosophical and poetic language.

This book tells the story of Habel, a priest, and Veronica, a parishioner. Habel and Veronica kiss on New Year's Eve. This begins the correspondence between them. Both learn to be at peace with themselves and the world. But there was also something that needed to be reconciled between them. Veronika wanted Habel to be her lover, but, on the other hand, she also wanted Habel to remain steadfast in his vocation as a Catholic priest.

I enjoyed every point of view between Habel and Veronica, which is very different. How the emotions are conveyed and the language is written, all give a clear opinion between the two. The feelings that existed between them felt thin but loving. I like how Veronica, who is straightforward and as she is, conveys her thoughts through the letter to Habel. On the one hand, Habel is also calm and full of sincerity to answer every concern in Veronica.

I was Veronica's incarnate, and Habel was there to give me the answers I already knew and the confidence that I could get through this with my perspective on the world changing. I wouldn't be surprised to reread it in the future because the story and words gave me the reassurance I needed.

Kalau boleh jujur kecemasanku ini adalah akumulasi dari semua permasalahan yang kualami selama ini. Aku tiba - tiba berada di satu titik ketia aku enggak tahy apa yang mau aku perbuat. Aku mempertanyakan semua keputusanku selama ini. - Veronica

Soren mengungkapkan 'Anxiety is The Dizziness of Freedom'. Yang secara harfiah mengartikan kecemasan sebagai kekacauan yang timbul akibat kebebasan. Dia meyakini bahwa kita manusia punya kehendak bebas, dan kecemasan itu muncul sebagai akibat dari pikiran kita tentang pilihan - pilihan itu. Secara sederhana kita bebas memilih ingin jadi apa, tetapi setiap pilihan itu mempunyai sisi negatif dan positif. Secara singkat, kecemasan muncul karena kemungkinan yang akan terjadi akan pilihan kita. - Habel
Profile Image for Nourman Yafet Goro.
99 reviews7 followers
August 7, 2021
Buku ke-5 dari penerbit BasaBasi yang saya baca tahun ini. Buku-bukunya kebanyakan dibawah 200 halaman, tema yang diangkat selalu menarik bagi saya. 5 buku dari penerbit BasaBasi yang sudah saya baca ini, umumnya merupakan sebuah kontemplasi (menurut saya). Misalkan Di Belakang Jok Mobil yang merupakan kontemplasi kehidupan dan kematian dari sudut pandang orang yang mati. Contoh lain buku Seberapa Candu Cinta Itu, yang merupakan kontemplasi kehidupan yang juga dikombinasikan dengan kisah romansa. Dan buku Surat-Surat Habel dan Veronika ini juga merupakan kontemplasi tentang kehidupan yang dijelaskan dengan baik oleh tokoh Veronika.

Novela ini menceritakan tentang cinta terlarang Veronika dan Romo Habel, yang sepanjang isi bukunya justru berisi curahan hati akan kehidupannya Veronika yang berisi kecemasan dan berbagai macam pikiran negatif. Banyak pesan moral dan quote-quote menarik yang ada didalam buku ini. Pembahasan didalam buku ini pun beragam, dimulai dari kecemasan, takdir, pikiran negatif, dan sebagainya. Alih-alih menganggap buku ini bergenre romance, saya justru merasa buku ini seperti buku self-help, karena percakapan Romo Habel dan Veronika layaknya seorang psikolog yang paham filsafat dan seorang pasien. Saya jadi membayangkan apakah di ruang pengakuan di Gereja Katolik, saya bisa mendapatkan nasihat yang baik seperti halnya nasihat Romo Habel ke Veronika.

Secara keseluruhan, saya suka buku ini, walaupun terdapat kekurangan seperti kurangnya tanda baca (hal yang sering ditemui dalam buku yang diterbitkan penerbit BasaBasi :))

Bonus quote yang menyadarkan saya, bahwa selama ini saya tidak sedang melakukan perbuatan baik
“Kita tidak bisa menjadi malaikat untuk semua orang. Perilaku baik itu adalah perilaku yang membuat dirimu dan orang lain senang. Kalau orang lain senang dan kau tidak, itu bukan lagi perilaku baik”
Profile Image for fara.
284 reviews43 followers
April 28, 2024
Mengapa makin dewasa kita tak bahagia? Apa karena kita menyadari semakin banyak masalah dalam hidup kita? Segala sesuatu tampak kelabu dan bahkan gelap. (halaman 58).

Suka sekali dengan epistoleri ini. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang kesannya remeh-temeh tetapi membuat saya ikut duduk sejenak, mem-pause kehidupan, menarik napas panjang, dan menghelanya pelan-pelan untuk refleksi diri sekadarnya. Dengan Romo Habel dan seorang jemaatnya, Veronika, pembaca diajak untuk menyelami pemikiran dan pendapat mereka berdua yang sama-sama gusar karena tak sengaja berbagi ciuman. Alih-alih terlampau tekstual dan terkesan menggurui, bahasan soal filsafat di dalam surat-surat mereka terasa begitu organik. Nggak terasa seperti tempelan juga. Bahkan saya merasa bahwa penyelesaiannya sangat pas, bitter karena memang pada akhirnya Romo Habel nggak bisa memaksakan kehendak pribadinya.

Saya selalu menyenangi pilihan penulis yang penuh pertimbangan; perlunya keputusan yang masuk akal sekaligus realistis. Penulis jelas tahu betul di mana posisinya dan apa yang hendak diutarakannya—bahwa pastor juga seorang manusia yang memiliki nafsu duniawi, sehingga Romo Habel dicitrakan dengan dua sisi kemanusiaannya yang bijak dan tidak bijak (dan mereka berseteru soal perasan terjujur mengenai Veronika). Namun, lagi-lagi, di sisi lain, walau punya nafsu duniawi, dia masih punya pilihan untuk mengontrol sesuatu. Sekalipun dinarasikan dengan agak berbelit (seperti meminjam kutipan para filsuf), saya mengakui kalau fragmen dalam novela ini rapi.

Hal yang disayangkan adalah penerbitnya. Ide sebagus ini kalau dipermak sedikit lagi dan dirapikan dengan niat pasti akan jadi lebih cantik, tapi sepertinya penerbit yang satu ini memang hobi mencetak dengan ejaan super berantakan dan salah ketik yang berhamburan macam nggak disunting saja.
Profile Image for yunda..
66 reviews2 followers
June 21, 2022
Waktu mulai membaca, saya langsung teringat dengan Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken karena konsep keduanya mirip: saling membalas surat. Bedanya, karya yang ini memang berupa surat-surat yang dibukukan, tidak hanya menjadi bagian cerita. Jadinya, dibilang novel bukan, cerpen juga bukan. Pokoknya, unik, lah!

Meskipun aku bukan seorang Nasrani, aku tetap bisa mengikuti cerita Habel dan Veronika. Latarnya memang kegiatan-kegiatan gereja, tokohnya pun seorang pastor dan umat, tetapi obrolannya lebih ke soal hubungan antara manusia dengan manusia serta dengan Tuhan, psikologi, kepribadian, dan kehidupan dalam kacamata filsafat. Aku merasa, membaca Surat-Surat Habel dan Veronika seperti membaca buku self-healing. Banyak pemahaman dan pengetahuan baru tentang mengendalikan pikiran dan bagaimana bersikap dalam sebuah situasi yang sulit. Selain itu, ada juga bagian di mana Habel "bertengkar" dengan isi pikirannya sendiri sebagai gambaran bahwa setiap orang punya pikiran baik dan jahatnya masing-masing.

Sangat susah untuk memilih bab mana yang jadi favoritku, karena semuanya sangat bisa untuk dibaca berulang kali. Mungkin, aku akan memilih bab "Perasaan Cemas" sebagai bab kesukaanku semata karena pernah mengalami hal serupa.

Aku sangat merekomendasikan buku ini buat kalian yang perlu memahami diri sendiri atau yang sedang mengalami rasa cemas, pusing, stress, banyak pikiran, atau masalah psikologis lainnya. Namun, karena ilmu filsafat agak ngeri-ngeri sedap, sebaiknya jangan langsung telan mentah-mentah isi buku ini. Kalau kalian merasa ada yang tidak cocok, jangan dipaksakan untuk menerima.
Profile Image for Rin.
Author 1 book17 followers
June 29, 2024
Ya Tuhan, aku sayang banget sama novela ini. Aku jatuh cinta pada bukunya huhu.

Aku suka konsep ceritanya yang membahas filsafat-kehidupan antara umat gereja dan Romo gereja melalui surat.

Unik, padat, keren. Tidak hanya pahit manis romansa, yang tentu tidak boleh terjadi hubungan lebih dalam bagi Romo yang telah hidup selibat dengan Tuhan, tetapi juga mengenai kehidupan itu sendiri. Buku ini membuatku merenungkan diriku sendiri dan hidup yang selama ini aku jalani.

Aku suka pula kedua karakternya. Veronika yang blak-blakan dan penuh semangat, lalu mau berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Bahkan Romo Habel yang bijaksana, kendati dia sempat sangat goyah sebagai seorang manusia dan laki-laki, tetap kembali teguh pada imannya. I love them, their charisma.
ㅤㅤ
Mungkin karena sebagai katolik aku jarang punya bacaan fiksi yang dekat dengan agamaku, baca novela yang para karakternya adalah katolik dan menyinggung bacaan Alkitab dan doa membuat kesan spesial tersendiri bagiku.

Terus, kan di novela ini ada menyebut series film yang aku suka, jadi aku semakin sayang whakshaka. Yeah, rasa sukaku terhadap novela ini memang subjektif.

Kekurangannya hanya satu: ada beberapa kekeliruan/kekurangan tanda baca yang membuatku gemas.
ㅤㅤ
Penerbit Basa-Basi, yea, entah kenapa selalu minus dalam hal edit PUEBI meskipun buku terbitannya banyak sekali yang keren. Semoga kelak bisa lebih baik lagi.
Profile Image for ✧.
254 reviews28 followers
January 19, 2021
Buku ini menyinggung banyak kutipan filsuf maupun psikolog terkenal seperti karya Plato, Alfred Adler, Erich Fromm, dsb. Hebatnya, saya tidak merasa digurui. Narasi dan surat-surat mereka mengalir begitu saja. Saya terutama suka bagaimana Habel menjabarkan kembali teori-teori atau kutipan para filsuf. Seperti contohnya:

“Terkadang sama seperti jatuh cinta, patah hati juga punya hak untuk dinikmati. Kesedihan dan kebahagiaan adalah dua perasaan yang sama. Tidak ada salahnya menikmati kesedihan seperti sama seperti kita menikmati kebahagiaan. Tidak ada yang lebih superior dari keduanya, mengapa harus merayakan kebahagiaan dan mengutuk kesedihan? Kita manusia memang suka membuat taksonomi, mengelompokkan sesuatu ke dalam baik dan buruk. Tidak semua yang menyenangkan itu baik sama seperti tidak semua yang menyakitkan itu buruk. Paradoks seperti katamu, melihat hal positif dalam kenegatifan.” (hlm. 27)

Membaca surat-surat Habel dan Veronika membuat saya juga ikut merumuskan kembali pandangan saya terhadap kehidupan, arti kebahagiaan, rasa cemas, kekhawatiran, dan berdamai pada diri sendiri ataupun masa lalu. Bacaan yang bagus untuk self-reflecting (sambil senyum-senyum bacain surat dari sisi Veronika).
Profile Image for Maria.
30 reviews1 follower
February 21, 2022
Pepatah lama itu benar adanya. Orang hebat adalah orang yang dapat mengendalikan pikirannya. Aku merasa aku adalah budak pikiranku sendiri.

Setelah baca sejak November, akhirnya kelar juga. Bukan karena ndak menarik dan membosankan, sebaliknya, menurut saya sangat menarik. Kira-kira 85%-90% isi buku adalah surat-surat antara Vero dan Rm. Habel, jadi rasanya unik gitu, kan. Pembahasan mereka kebanyakan menyinggung soal kehidupan dan...bagaimana manusia dalam menjalani hidupnya? - ya, kira-kira begitu - tapi dengan kacamata filsafat dan psikologi, dan ujung-ujungnya, biasa berakhir di sudut pandang Kristiani juga. Kulit-kulitnya sih, nampaknya, tapi justru karena menurut saya terasa deep, jadi mesti nunggu pikiran dan perasaan seimbang baru bisa baca, dan itu yg bikin lama🤣

Di beberapa bagian (atau malah, kebanyakan), rasanya seperti baca self-help books (never read one before tho). Saya juga merasa agak 'tercerahkan' dengan beberapa pandangan/teori mengenai satu isu yang disinggung dalam buku ini, contohnya seperti pandangan Kierkeegard tentang kecemasan.

Kurangnya buku ini: banyak tanda baca yang kurang tepat dan typo yang bertebaran :( but still, ini bagus sih :3

cw: 18+
Profile Image for Menyojakata.
195 reviews6 followers
September 30, 2021
It's fun to learn philosophy through fictional story. Dikemas dengan bentuk percakapan yang hampir seluruhnya lewat surat, cerita ini membuat saya selalu merasa excited dan giddy menantikan hal apa saja yang akan mereka obrolkan. Veronika dengan sifat ceplas-ceplos, berani, dan skeptis memandang dunia benar-benar lawan bicara yang klop dengan Habel yang filosofis, bijak, dan tenang. Meskipun dari awal saya sudah bisa menebak akhir dari cerita ini, tapi tetap saja kisah mereka membuat saya terpesona. Mengutip Habel, tujuan mencintai adalah memberikan rasa cinta itu sendiri dan mencintai seseorang tidak lantas membuatmu harus memiliki orang tersebut. Klasik memang. Tapi melihat kondisi Habel dan Veronika, mereka memanglah ejawantah dari kalimat klasik itu sendiri. Obrolan mereka yang mengangkat isu-isu psikologi dan hubungan antarmanusia bisa membuat pembaca kembali menilik keputusan-keputusan yang telah diambil semasa hidup dan mengingatkan diri bahwa manusia terbentuk dari pikiran, perasaan, dan perilaku.
Profile Image for Mutia Senja.
75 reviews9 followers
June 22, 2022
90% novela ini berisi surat menyurat dari kedua tokoh yang telah disebutkan judul. 5% pertemuan di bab sembilan "Secangkir Kopi dan Teh", 5% lagi berisi pergolakan jiwa Habel sebagai Habel Bijak dan Habel Tidak Bijak.

Sepanjang membaca buku ini, saya membayangkan film "Ave Maryam" yang mirip. Problem Habel bukan perkara mudah. Kehadiran Veronika memancing naluri kemanusiaannya sebagai laki-laki dewasa sulit dielakkan. Apalagi jika keduanya "saling" mencintai, pertemuan sesingkat apa pun akan memberi ruang bagi sisi "tidak bijak" untuk terus menggodanya.

Inilah konflik yang tidak banyak kita sadari—saat Habel menuliskan surat yang paling jujur, tentu akan merusak banyak hal. Itulah sebabnya, tidak semua manusia mencintai kejujuran.

Menyimak "Surat-surat Habel dan Veronika" seperti membaca perpaduan esai tentang filsafat, psikologi, dengan obrolan ringan yang unik. Meski begitu, buku ini cocok untuk diajak bersantai atau sekadar mengurangi kejenuhan.
Profile Image for ama ૮ • ﻌ - ა.
128 reviews14 followers
July 8, 2021
4.6/5

baca buku ini kayak baca buku nonfiksi, terutama filsafat. tapi rasanya nggak berat-berat amat, ringan tapi padat makna. saya suka cara buku ini membuat saya memikirkan kembali banyak hal yang ada di dunia: takdir, bahagia, cemas, bahkan pikiran negatif. secara nggak langsung buku ini jadi buku self help buat saya.

"cemas itu tidak selamanya buruk. kecemasan itu merupakan tanda positif. semakin intens kecemasan kita pada pikihan-pikihan, maka semakin kita mendekati keputusan yang baik. kita harus merayakan kecemasan itu dengan menempuhnya, dengan begitu kita menjadi manusia yang memiliki kebebasan untuk merasakan." p.25

saya masih berharap habel jujur tentang perasaannya pada veronika. meski mungkin melanggar sumpah selibatnya dan standar masyarakat, tapi saya ingin dia jujur dan mengikuti kata hatinya tanpa dikekang oleh superegonya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Kern Amalia.
355 reviews1 follower
March 3, 2022
Buku ini manis banget. kalo dibayangin kita kayak nyamuk di antara 2 org ini pas baca surat-surat mereka(thx loh bikin aku jd nyamuk bhkan untuk karkter fiksi🙂).
Yup, sebagian besar isi buku ini berformat surat Habel kepada Veronica.

Dibanding buku fiksi, aku malah setuju buku ini sebagai buku self-help. Banyak hal2 yg disebutkan, beneran bisa membangun diri sendiri menjadi lebih baik.

Buku ini bnyak bgt nyebutin filsuf2 terkenal beserta pemikiran mereka. Thanks God yah, aku pernah ambil mata kuliah filsafat 2 semster. Jadi, aku familiar & gampang cerna sama filsuf2 & pemikiran mereka.(pak Rhenatus, terima kasih😣)

Bukunya enak banget dibaca untuk pengembangan pemikiran serta cara pikir kita tentang pendewasaan diri, kecemasan, kepercayaan diri, takdir, juga tentang doa. udah tinggi harapan untuk ending, tp aku sudah ikhlas kok pak penulis. Its okay 😭👍
Profile Image for isaiah.
159 reviews
July 31, 2022
i read this book cuz one of my follower on twitter recommended it to me.

yeah, i finished it dalam sekali duduk. tapi nggak nyangka kalo bakal seberat itu topik yang dibahas di kegiatan surat menyurat mereka, ahaha. serasa dikuliahi filsafat sama Habel dan aku kurang nyaman sama gaya penulisannya.

honestly, i'm into philosophy. tapi aku lagi nyari bacaan yang enteng dan nggak bikin makin terjerumus ke fase reading slump. so, i think this book isn't a good choice buat orang orang yang lagi mengalami fase tersebut.

this book would definitely be my cup of coffee if i read it after i escape myself from my reading slump phase. mungkin aku bakal baca lagi nanti—kalo aku udah mood buat baca buku buku fiksi nyerempet ke edukasi gini.
Profile Image for Muhammad Muhsin.
54 reviews20 followers
April 3, 2021
Saya membaca karya ini karena ingin membaca karya seperti On Love-nya Alain de Botton. Meski demikian, karya ini cenderung lebih kuat di novel dibanding esai-nya.

Ajen memilih problem cinta, religiusitas, & nafsu menjadi tema sentral. Ia dengan sederhana membangun dialektika yang renyah antara Pastor & seorang perempuan linglung khas novel dewasa.

Orang yg mau ketemu mutualan, date dengan pasangan, atau LDR sehingga banyak bercakap overthinking lewat chat/telepon mungkin akan senang membaca karya ringkas ini.

Oya, bacalah karya ini dengan hati & pikiran terbuka karena kalau nggak cocok dengan filsafat, teologi Katolik, & psikoanalisis Sigmund Freud mungkin karya ini tidak cocok untukmu.
Profile Image for Anna Valerie.
187 reviews4 followers
July 5, 2021
Entah kenapa menurutku vibes buku ini mirip dengan Dunia Sophie. Ada surat-suratan dan ada pembahasan soal filsafat juga psikologi. Hanya saja, buku ini juga membahas beberapa topik mengenai kekristenan. Kebetulan aku membaca buku ini setelah mendapatkan khotbah yang cukup "menampar" pada hari Minggu. Jadi, ya, buku ini menjadi semacam pelipur lara sekaligus reminder untukku.

Aku suka kejujuran Habel dan Veronika. Kejujuran pada diri sendiri memang bisa membuka dan mungkin menyembuhkan luka yang tersimpan dalam diri.

P.S. Aku akan memberi rate 5/5 kalau tidak banyak typo dan ketidaksesuaian kalimat:(.
Displaying 1 - 30 of 68 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.