Jakarta yang hiruk pikuk, kubungkus plastik kresek, kubawa pulang ke rumah dengan buku ini. Seru rasanya mendengarkan bisik hingga bising ibukota, gaduh, tak pernah mau tidur. Diksinya on point, alunannya pas. Puisi bukan cuma pelarian, puisi juga hidup sendiri. Hidup yang ricuh, banyak job belum kelar, kontrakan mau habis, cicilan motor jatuh tempo. Malamnya party, paginya stress lagi. Balada kelas menengah ngehek asyik sekali digambarkan si Ratri Ninditya ini.
Teramat banyak sajak yang menggelitik di sini, hampir semua. Tak ada catatan puisi mana yang berkesan, kalau besok saya ingin mencoba mengingat isinya lagi, saya sarankan untuk future me, membaca ulang keseluruhan buku ini saja.
Penyair masa kini dengan keberanian pilihan diksi ngehe yang mengagetkan dan kecuekan alih kode yang mengagumkan. Ia adalah teman berpuisi saya. Tapi dua sanjungan di atas gak saya tuliskan karena dia teman. Tapi karena dia layak mendapatkan sematan itu. Kopi, hati, dan senja, merutuk perlu tempat yang agung juga.
pada pembacaanku yang pertama, aku banyak melewatkan realitas-realitas yang bertebaran dalam puisi-puisi di buku ini. ada jalan buntu, kemonotonan, kemuakan, kelelahan, keluhan yang ditahan-tahankan, dan hal-hal tidak mengenakkan lain yang harus ditelan tanpa meneguk air oleh penduduk-penduduk urban. lalu aku membaca ulang rusunothing di bulan april, di bulan kelahiranku. untuk menyiapkan hati dan diri karena sebentar lagi hal-hal tidak mengenakkan itu harus kutelan bulat-bulat. hadeh, asyem banget kalo beneran kejadian.
Kesesakan kehidupan perempuan di kota Jakarta dengan segala tuntutan society seperti kehidupan mapan, pergaulan, dan barang-barang belanjaan jadi keresahan yang disuarakan lewat puisi-puisi yang membuat kita bertanya-tanya pada diri sendiri; sebenarnya hidup gue itu apa sih?
Saya bukan pembaca puisi--pendeklamasi, mungkin, tapi itu dulu haha--tetapi saya pengin bisa menikmatinya. Setidaknya bisa ikut dengan iramanya dan menangkap maksud utamanya. Perbendaharaan puisi saya pun masih 'tradisional', tipe-tipe yang masuk ujian Bahasa Indonesia, dan tampaknya sejauh ini baru yang seperti itu yang terhubung dengan saya.
Makanya, saya pengin coba baca puisi kontemporer juga, karena bacaan novel saya pun kebanyakan kontemporer. Pas banget, waktu lihat buku yang masuk daftar Kusala Sastra Khatulistiwa ini sudah tersedia di iPusnas, saya langsung pinjam. Kovernya *chef's kiss*, apalagi lettering-nya. Puisi di dalamnya juga banyak memuat unsur plastik keresek, jadi pas dengan ilustrasinya.
Saya belum mengerti puisi, tapi saya yang awam saja bisa lihat puisi-puisi di buku ini dirangkai dengan teknik dan selera yang nyeleneh bin bikin kagum. Kayak, ketukan-ketukannya itu seketika bikin pembacanya mengerti maksud puisinya, meski maksud itu tidak dikatakan gamblang. Gimana, ya, kayak misalnya kata-katanya itu selada, tomat, saus Thousand Island, dan maknanya adalah salad sayur. Ya, kayak makan salad. Kesan saya sih, begitu.
Temanya sesuai judulnya, tentang kehidupan urban kelas menengah. Sejak tidak tinggal lagi di Ibukota, saya kehilangan perasaan seperti apa gaya hidup di sana, jadi wajar kalau saya kurang memahami. Namun, saya jadi tahu struggle-nya. Teman-teman saya yang bekerja di sana juga pasti bisa langsung relate. Ya, kondisi kosan lah, hari-hari budak korporat lah, mencoba membangun love life di tengah kesibukan dan dompet cekak, lah. Yang kayak gitu-gitu. Ada pula hal sederhana seperti menunggu di halte atau stasiun dan ketinggalan, pulang kantor jenuh, banyak kebutuhan tapi waktu cuma 24 jam. Benar-benar terasa membumi.
Kalau saya sudah lebih memahami puisi, saya pengin suatu saat mengunjungi buku ini lagi. Karena saya yakin, banyak yang bisa diapresiasi dari sekadar relatable-nya dengan kehidupan ibukota, meski memang yang satu itu juga jadi kekuatan buku puisi ini. Buat yang pengin sambat tapi lebih nyastra, bisa baca buku puisi ini dan nikmati permainan katanya.
This is mmm...kay. Beberapa puisi (yah, sebagian pembaca tidak menganggap puisi-puisi di sini adalah puisi dan saya cenderung setuju) di dalam buku ini cukup oke untuk dibaca dan dapat dinikmati. Namun, sayangnya lebih banyak yang bikin saya hanya ber-'mmm' saja; mencari-cari di mana letak "keindahan" sastera itu.
Beberapa (kebanyakan) bait di dalam buku ini hanya berbentuk frasa kurang bermakna (atau mungkin bermakna bagi sekelompok orang alias orang-orang kota wabilkhusus orang Jakarta). Ini bisa jadi contoh puisi edgy, Jakarta-sentris, urban-sentris. Untungnya saya sempat belasan tahun tinggal di wilayah perkotaan jadi lumayan relate. Entah kalau yang membaca orang lahir, besar, dan tinggal di kabupaten xixixi...
Puisi-puisi (sebagian pembaca tidak menganggap puisi-puisi di sini adalah puisi dan saya cenderung setuju) yang saya terpikat oleh mereka sehingga membuat saya memfoto dan menyimpannya di galeri gawai saya adalah "25", "Sarapan Bubur", "Busuk", "Kesempurnaan Cinta Delta FM (The New Delta FM)", dan "Lengket".
ponsel itu digenggam erat di dada menyinari daging yang bergelantungan di wajahnya nanti kalau rumah disita ia bisa tinggal di dalam ponselnya di mana tidak ada tukang kredit, tagihan pbb, genteng bochor, suami cranky, anak-anak tak tahu diuntung ia bisa jadi arsitek lagi merancang dunia fantasi di mana semua orang hepi tebar-tebar emoji gigi controlled thrill dan ketakutan simulasi di dalam istana boneka ia susun sebuah keluarga bahagia dan masyarakat bhinneka tunggal ika dengan leher yang tidak pernah kurang oli menyapa ia dan teman-teman grup WhatsAppnya yang berlayar di atas air kencing nusantara di dalam sebuah perahu mereka akan melihat versi kami yang bernyanyi : "indah indahnya dunia, milik kita semua, walau berbeda bangsa, namun satu saudara" * ketika ia tenggelam di dalam mimpinya dan tertidur di dalam ponselnya
*diambil dari lagu wahana istana boneka di dunia fantasi ancol
Jika dikatakan puisi, saya rasa isi buku ini bukan puisi, hanya rangkaian frasa yang bak curhatan buku diari. Yang mengganggu mata saya adalah penggunaan bahasa asing dan mixed code. Jika hal tersebut digunakan dalam penuturan layaknya anak Jaksel, baik langsung atau dalam dialog novel, masih dapat diterima. Namun, ini digunakan dalam (yang katanya) puisi. Ditambah lagi tak ada perubahan menjadi italic untuk membedakan bahasa asing dan bahasa Indonesia. Bukankah harusnya demikian? Memang, bahasa itu dinamis dan karya sastra itu bebas, akan tetapi tetap memiliki kaidah yang harus dipatuhi agar nyaman untuk dibaca. Bukankah buku ini dibuat, dicetak dan didistribusikan agar dibaca banyak orang?
Ratri Ninditya’s Rusunothing is bold. It is brave, concise and it hit me in all of my softest, weakest spots.
Her writings pulled no punches and it left me with an aftertaste of yearning. It made me wonder if the highs, the confusion and the pain from yesteryear were ever truly washed away, or if they lost its way amidst the rubble of months old dinner receipts, makeup pouch, phone chargers, notebooks, and God knows other stuffs inside my purse.
And of course, the lingering question of: “Did I love you enough then?” (p. 24)
Parah sih. Sebagai penyuka (tapi tidak juga, mungkin hanya terbiasa) kehidupan urban, puisi-puisi dalam antologi ini relate banget.
Ratri Nindya menggambarkan kehidupan perempuan urban dalam humor ironi yang cerdas, permainan dwibahasa yang ala-ala jaksel banget tapi ngga ngasal, dan refleksi kehidupan sehari-hari yang monoton, menjemukan, tapi kadang lucu dan mengherankan.
No I didn’t blame afrizal malna for this style, he’s good tho, but then banyak aja gitu yang latah ngikut, lyfe yah biasalah kadang begono juga when u wrote something and u just wanted to keep it real/raw, see? Not bad lho nulis gini, pwissie jadi banyak yang gandrung & lebih di-appreciate atm, thanks millennials tbh kadang tanpa kalian yang tua jadi keliatan makin tua—low key mereka nir-taste, pada ngerti kan maksud eice?
ambition ambition ambition ambition di kakiku aku kenakan seperti sepatu hitam anak sekolah negeri terpaksa beli terpaksa punya
-
finished in half an hour, mulai tengah malam, selesai sekitar 00:30 empat jam lagi aku harus bangun untuk ke jakarta, aku juga harus tidur reading this before going to sleep is definitely food for thought sepertinya harus baca ini lagi untuk kedua kalinya lagi supaya lebih ngena
sama kalo aku ngga punya ambisi gimana? itu masalah besok
sampai akhir buku saya belum mengerti arti "Rusunothing", antisipasi saat membaca buku ini menurun setelah halamannya semakin dibalik. semua puisi-puisi yang rasanya sampai, rapih dan menyenangkan disimpan diawal-awal dan setelahnya saya belum bisa menangkap frekuensinya. saya paling suka gambaran-gambaran detail dalam puisinya dan juga puisi dengan judul "Banyak yang harus diingat tapi yang dilupakan biasanya lebih banyak dan penting".
(di beberapa puisi) kyk baca muntahan emosi yg ditulis di notes hp. i do like it though!!! raw, mundane, kehidupan urban yg monoton muak lelah keluh yang ditahan-tahan, lari-lari kejar kopaja, bau rambut belum keramas, "pagi ini aku menelan lemari bulat-bulat." dan tentu aja, ada beberapa puisi yg gak aku pahamin, and i'll leave it as it is.
Waktu membaca buku ini saya serasa habis pulang kerja lalu jalan-jalan sendu sendiri di malam Jakarta, mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan eksistensial. Melankolis. Sepertinya banyak puisi di buku ini yang ditulis pada zaman di mana semua orang pakai Blackberry, ya, hehe. Tetap suka.
Ketika pertama kali melihat penggalan puisinya dalam sebuah acara, saya langsung penasaran untuk membaca puisi lengkapnya. Meskipun belum kenal penulisnya. Penggalan puisi itu begitu menyentil buat saya. Dan penggalan itu juga diletakkan di sampul belakang. Menjadi semacam 'spoiler', kalau puisi lainnya akan sedemikian rupanya.
Memasuki lembar demi lembar, buat saya awalnya agak kewalahan. Entah karena saya laki-laki yang tidak banyak mengetahui isi kepala dan dunia perempuan. Atau memang pengetahuan dan rasa saya yang kurang dalam sastra. Akhirnya saya memutuskan membaca sekali lagi, dan menandai hal-hal yg menurut saya menarik dan bisa saya cerna dan maknai. Demikianlah kemudian saya menemukan cara menikmati puisi seperti itu.
Ternyata dengan cara itu saya jauh lebih bisa menikmatinya. Jadilah buku puisi ini penuh dengan coretan warna untuk hal-hal yg saya sukai dan ingin maknai. Tentu yang masih jadi favorit adalah "Salah Tempat". Tapi sisanya banyak sekali, jadinya coretan saya bertebaran di buku ini. Haha
Puisinya MasyaAllah.....Keren banget. Penulisnya pinter banget bisa menciptakan puisi sebagus ini dan se"ekstrem" ini. Diksi yang digunakan cukup sederhana, namun maknanya nampol. Judulnya juga unik-unik banget. Bintang 5 untuk puisinya Kak Ratri.
I don’t know her, but she sounds like a typical southern Jakarta girl living in a privileged family who’s trying to prove herself to the world that she can do something by herself. And she probably did it in some way or another, but she would get a better place in the near future I bet.
aku suka saat dia bilang kyk aku suka berada di sini atau di situ atau saat dia membayangkan sesuatu yang tidak terus2an jadi angin atau alam blablabla, romantisme ada di telapak tangan sambil mempertanyakan ini itu dan tentu saja diri sendiri
selalu untuk selamanya, sering kudengar waktu masi smp sma ini sejenis kenangan waktu masi remaja dan beberapa masi relate dengan kejadian sekarang perasaan nostalgia adaa dibuku ini