Saya bukan pembaca puisi--pendeklamasi, mungkin, tapi itu dulu haha--tetapi saya pengin bisa menikmatinya. Setidaknya bisa ikut dengan iramanya dan menangkap maksud utamanya. Perbendaharaan puisi saya pun masih 'tradisional', tipe-tipe yang masuk ujian Bahasa Indonesia, dan tampaknya sejauh ini baru yang seperti itu yang terhubung dengan saya.
Makanya, saya pengin coba baca puisi kontemporer juga, karena bacaan novel saya pun kebanyakan kontemporer. Pas banget, waktu lihat buku yang masuk daftar Kusala Sastra Khatulistiwa ini sudah tersedia di iPusnas, saya langsung pinjam. Kovernya *chef's kiss*, apalagi lettering-nya. Puisi di dalamnya juga banyak memuat unsur plastik keresek, jadi pas dengan ilustrasinya.
Saya belum mengerti puisi, tapi saya yang awam saja bisa lihat puisi-puisi di buku ini dirangkai dengan teknik dan selera yang nyeleneh bin bikin kagum. Kayak, ketukan-ketukannya itu seketika bikin pembacanya mengerti maksud puisinya, meski maksud itu tidak dikatakan gamblang. Gimana, ya, kayak misalnya kata-katanya itu selada, tomat, saus Thousand Island, dan maknanya adalah salad sayur. Ya, kayak makan salad. Kesan saya sih, begitu.
Temanya sesuai judulnya, tentang kehidupan urban kelas menengah. Sejak tidak tinggal lagi di Ibukota, saya kehilangan perasaan seperti apa gaya hidup di sana, jadi wajar kalau saya kurang memahami. Namun, saya jadi tahu struggle-nya. Teman-teman saya yang bekerja di sana juga pasti bisa langsung relate. Ya, kondisi kosan lah, hari-hari budak korporat lah, mencoba membangun love life di tengah kesibukan dan dompet cekak, lah. Yang kayak gitu-gitu. Ada pula hal sederhana seperti menunggu di halte atau stasiun dan ketinggalan, pulang kantor jenuh, banyak kebutuhan tapi waktu cuma 24 jam. Benar-benar terasa membumi.
Kalau saya sudah lebih memahami puisi, saya pengin suatu saat mengunjungi buku ini lagi. Karena saya yakin, banyak yang bisa diapresiasi dari sekadar relatable-nya dengan kehidupan ibukota, meski memang yang satu itu juga jadi kekuatan buku puisi ini. Buat yang pengin sambat tapi lebih nyastra, bisa baca buku puisi ini dan nikmati permainan katanya.