What do you think?
Rate this book


191 pages, Hardcover
First published September 26, 2019
Kau bisa menjadi penyanyi kalau kau bisa menyanyi dengan baik. tapi orang-orang yang mengekspresikan lagu tanpa kata-kata disebut seniman. Apa sebenarnya yang dilakukan seorang seniman?(hal.57)
Walau kami tidak saling bicara, aku tetap merasakan kebahagiaan yang sulit dijelaskan.
“Orang yang menepati kata-kata yang diucapkannya sendiri,” jawabnya sambil mengalihkan pandangan, tetapi nada suaranya yakin dan tegas. “Merekalah seniman sejati di antara semua seniman yang ada. Ekspresimu adalah dirimu sendiri. Orang yang berpura-pura menjadi seniman tidak akan bisa menjalani hidup seperti itu.”
Seperti malam itu, malam ini aku juga tidak ingin tidur. Aku takut semuanya akan menghilang seperti mimpi ketika aku membuka mata kembali.
Jika cintanya pada laut lebih besar daripada cintanya kepadaku, aku akan memikirkan cara menjadi laut baginya. Aku ingin menjadi harapannya, tidak hanya sekedar mewujudkan harapannya.
*Kau harus tetap hidup
Bertahanlah sekuat tenaga
Ingatlah namaku
Itulah yang dikatakan laut
Yang pintar menyanyi
Yang menyukai sepi
Semoga kita bisa hidup seperti kita menyanyi
Seperti kita bicara
Sesuai takdir*
"Bagaimana kalau kita mengaku saja bahwa hari ini kita sedang tidak bersemangat?" Setelah itu, barulah aku melemaskan kembali mataku.
Memangnya kau bisa membeli udara?"
"Kenapa tidak bisa? Padang dan pegunungan itu adalah milik semua orang sebelum dibeli seseorang. Kita tidak butuh uang untuk menyanyi, tetapi seseorang kemudian menciptakan ruang karaoke dan menghasilkan uang dari sana. Keadaan ini sama saja, bukan?"
Terkadang, orang-orang lupa apa yang harus mereka takuti. Karena itulah mereka takuti. Karena itulah mereka takut pada hal-hal yang remeh. Contohnya, seorang anak kecil yang takut dikucilkan, atau orang-orang yang takut tidak sempat menyelesaikan pekerjaan mereka pada waktu yang ditentukan."