🎾🎾
Setelah kemarin membaca soal tenis meja, kulanjutkan membaca soal tenis lapangan. Aku suka covernya yang menipu. Namira bukanlah pemain tenis, tapi pengambil bola tenis di sebuah lapangan. Namira terpaksa bekerja untuk membantu ayahnya, karena Ibunya sudah meninggal dunia.
🎾
Cerita dibuka dengan Namira yang selalu bolos pelajaran olahraga. Alasannya adalah olahraga di hari Sabtu, dan tiap Jumat Namira harus lembur memunguti bola tenis hingga malam. Badannya remuk tiap Sabtu pagi, dan ia tak punya alasan untuk berolahraga karena merasa tiap hari sudah melakukannya lewat memungut bola. Namun, semua berubah ketika guru olahraga mereka diganti.
Pak Alan adalah guru olahraga baru yang memaksa Namira berkelompok dengan orang yang paling tidak dekat di sekolah, yaitu Kafi (anak pemilik lapangan tenis yang juga atlet tenis, sangat menyebalkan tapi naksir Namira diam-diam), Aksan (ketua kelas bermulut pedas dan tajam), Putra sang komandan (teman bolos Nam, pengen jadi tentara tapi kecelakaan membuatnya mengubur mimpinya) dan satu lagi yang aku sudah lupa namanya.
Suatu hari, Namira yang kesal melempar bola tenis ke mata Kafi hingga Namira dipecat. Bagaimana kelanjutan nasib pekerjaan Namira?
🎾
Secara keseluruhan aku menikmati membacanya, meskipun tidak banyak adegan-adegan bermain tenis di sini. Tapi aku suka bagaimana olahraga sebenarnya bisa diterapkan di berbagai aspek kehidupan. Pak Alan sebagai guru pun sangat perhatian, kurasa dia wali kelas yg menyayangi muridnya sekaligus punya banyak waktu hingga bisa mengunjungi orangtua murid-muridnya yang terlihat bermasalah. Aku juga suka bagaimana akhir cerita di mana Namira suka dengan semua temannya.
Jikalau ingin membaca teenlit seputar olahraga, kurasa cerita ini bisa menjadi salah satu pilihan.
Sukses untuk penulisnya!