Bagaimana cara Anda mendeskripsikan sebuah gelas yang hanya berisi setengah? Setengah kosong? Setengah penuh? Seperti apa sukses bagi Anda? Jadi pengusaha? Punya harta berlimpah? Bisa keliling dunia? Punya pasangan menawan? Lantas seperti apa kekalahan bagi Anda? Jatuh miskin? Jatuh sakit? Dikhianati? Pernahkah Anda merasa dikecewakan setelah menaruh harapan begitu tinggi kepada seseorang atau sesuatu? Jika Anda mencari trik-trik sukses atau cepat kaya, atau jika Anda mencari sukses yang definisinya adalah mempunyai banyak uang, harta, takhta, dan (mungkin) wanita, maka buku ini bukan untuk Anda. Tetapi jika hingga detik ini Anda bahkan masih mencari apa arti kesuksesan, terlalu banyak berpura-pura bahagia, terlalu sering khawatir, selalu takut kehilangan, maka duduklah sejenak dan buka buku ini. Niscaya sebentar lagi Anda akan “penuh”!
Sony Adams, penulis buku “30 Days Pursuit of Happiness”, secara personal memang empat tahun belakangan ini banyak berhubungan dengan meditasi dan praktik aplikasinya. Menurutnya, meditasi adalah momen paling pribadinya untuk memberi jeda terhadap semua ingar-bingar keramaian dunia luar tak semakin hari akan semakin tidak terkendali. Meditasi adalah sejenak hening namun tetap sadar bahwa sejatinya dunia ini hanyalah sehimpun proses sederhana di mana kita bergantung pada kesadaran dan faktor-faktor mental kita yang beradu dengan panca indra kita ini. Ia mulai mendalami meditasi setelah perkenalannya dengan beberapa momentum yang mengajaknya melangkah ke dalam diri sendiri beberapa tahun yang lalu. Walau pada awalnya memang berat, namun kini ia sudah bisa merasakan manfaatnya secara langsung. Berdamai dengan diri sendiri adalah sebuah misinya yang ingin disampaikan kepada sebanyak-banyak orang di luar sana dan menulis buku-buku yang berhubungan dengan hal itu adalah sebuah langkah perwujudannya. Ke depan, ia akan terus berkarya menulis buku-buku pencerahan spiritual agar semua orang sadar apa sebenarnya misinya lahir ke bumi ini sembari tetap rajin melakukan meditasi di sela-sela kesibukannya menulis dan bekerja.
Sesuai taglinenya adalah yang memutuskan gelas itu setengah kosong atau setengah penuh.
Dengan bahasa yang sederhana, kita diajak untuk menerima diri sendiri apa adanya. Melakukan sesuatu tanpa ekspekstasi demi hidup yang ringan tanpa beban. Setidaknya kita terbiasa hidup dalam asumsi dan perspektif yang lazim di masyarakat.
Katanya buku ini sih, penuh atau ngganya, kita yang tentukan. Singkatnya, buku ini ceritain tentang kesuksesan, tapi bukan tipikal sukses yang kaya raya gitu. Terus apa dong?
Jadi, maksudnya penuh sama kebijaksanaan dan pengetahuan. Terus, dalam buku ini juga jelasin kaya masalah masalah: keterbatasan, kekalahan, ekspetasi, kebencian, kemalasan, sampai delusi.
Mungkin biar paham kali ya, buat menuju sukses tuh ada perjalanannya sendiri. Cuma ini preferensi aku ya, aku belum terlalu nangkep maksud 'penuh' yang ingin disampaikan sebenarnya seperti apa.
Buku ini ngga terlalu tebel kalo buat dibaca. Dan seperti tipikal buku pengembangan diri lainnya, dalam buku ini juga ada quote-quote gitu deh.