Kyai Gentayu berjingkrak, menaikkan kaki depannya sambil meringkik riang dan sesekali melonjak. Surainya berkibar terentak selaras dengan tapak-tapaknya yang berkecipak. Dengan kepala mendongak, sang penunggang tetap dapat duduk tegak. Lelaki berperawakan tinggi lagi kacak itu tampak seperti sedang menari tandak, Gerak tubuhnya melenggak sesuai lenggok tunggangannya yang rancak. Di sekeliling kuda yang menjejak-jejak,, para pengawalnya seirama berlari hingga tombak-tombak di tangan mereka turut meliuk bagai Pusaran Ombak.
“Lihat Paman! Lihat sedulur sekalian!" seru Sang Pangeran yang tiba-tiba memutar kendali kudanya sambil mengacungkan tangan ke arah Puri dan Masjid yang dikerumuk api. "Kediaman kita telah terbakar!" Dan tiada lagi tersisa tempat bagi kita di atas Bumi ini! Maka mari kita semua mencari temapt untuk diri kita di sisi Gusti Allah!”
“Kami bersama Anda, Kangjeng Pangeran! Pejah gesang fi sabilillah!”, sambut para pengikut.
“Dan demikian pula kalian, para Janissary terakhir?”, tanyanya meminta penegasan disela ringkik Gentayu yang telah hendak berpacu namun dikekang.
“Tentu, Pangeran… Kita adalah kaum, yang apabila bumi menyempit bagi kita, maka langit yang akan meluas untuk kita! Hiyaaaa!”, seru Nurkandam Pasha sambil melecut kudanya. Sang Pangeran tersenyum mantap, dan sekali dia lepaskan kekang Gentayu, dua lompatan kuda itu senilai tiga kali loncatan kawanannya.
“Hiyaaa… Hiyaaa…”, serempak yang lain turut berpacu dan turangga-turangga terbaik dari Tergalreja itu berlari ke arah terbenamnya mentari sebelum membelok ke selatan menyusur tepian Kali Bedhog.
“Maktuub..!”, Katib Pasha yang ada di barisan belakang berbisik dengan memejam mata sambil mengusap surai tunggangannya dan menunduk khusyu’. Sejak senja yang gerah, Rabu 5 Dzulhijjah 1240 Hijriah, salah satu perang sabil paling berdarah di Nusantara itu telah pecah.
Salim A. Fillah adalah seorang penulis buku Islami dari Yogyakarta, Indonesia. Hingga 2014, ia telah menulis beberapa buku, 'Agar Bidadari Cemburu Padamu' (2004), 'Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan' (2004), 'Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim' (2007), 'Jalan Cinta Para Pejuang' (2008), 'Gue Never Die' (2006), 'Barakallahu Laka: Bahagianya Merayakan Cinta' (2005) dan 'Dalam Dekapan Ukhuwah' (2010), Menyimak Kicau Merajut Makna (2012), dan Lapis-Lapis Keberkahan (2014). Buku-buku ini diterbitkan oleh Pro U Media, dan telah menjadi best-seller. Karya terbarunya, Lapis-Lapis Keberkahan, harus masuk cetak ulang hanya 3 hari sesudah diluncurkan, 13 Juli 2014.
Pertama kali mulai membacanya di akhir tahun 2019, saya hanya bertahan dengan beberapa halaman untuk kemudian urung melanjutkannya. Ia kemudian teronggok begitu saja di rak buku tanpa motivasi untuk segera menyelesaikannya. Tersalip dengan banyak buku lainnya, ia pun seolah terlupakan.
Sesungguhnya di tahun ini pun ia tak masuk dalam list untuk dibaca dalam waktu dekat, apalagi di awal tahun. Tapi ternyata, saya butuh sedikit pelarian dari awal tahun yang langsung ngegas ini. Terpilihlah buku ini untuk menemani masa-masa isolasi mandiri. Untuk sejenak sedikit mengistirahatkan pikiran yang penat, pikir saya.
Namun ternyata, ia pun tak sesederhana itu. Banyaknya nama tokoh, tempat, dan istilah asing cukup membuat pusing membacanya di awal. Belum lagi alurnya yang maju mundur, membuat saya perlu beberapa kali membolak-balik halamannya untuk memahami jalan cerita.
Saya perlu dekat dengan gawai ketika membacanya, agar lebih mudah bertanya kepada Om Gugel. Maklum saja, pelajaran sejarah kala sekolah sudah menyeruak entah kemana. Karena meskipun fiksi, buku ini ditulis berdasarkan data dan fakta sejarah.
Hingga akhirnya, saya berhasil menikmati dan tenggelam dalam kisah-kisahnya. Berhasil membuat saya teralihkan dalam beberapa hari terakhir.
Beberapa waktu belakangan pun saya baru menyadari betapa nikmatnya membaca sejarah. Ah, kemana saja. Membaca sejarah berhasil menunjukkan kehebatan dan kebesaran orang-orang di zamannya, hingga tak memberi ruang untuk rasa sombong dan jumawa.
“Perang Diponegoro sering disebut oleh sebagian sejarawan sebagai pemantik bola salju Kemerdekaan Indonesia.” (h. 586)
Berkisah tentang Perang Diponegoro yang berlangsung pada tahun 1825-1830. Menyibak beragam intrik dan kisah klasik di dalamnya. Dengan sedikit bumbu tentang bagaimana kedekatan Nusantara dengan Kerajaan Turki Utsmani seharusnya.
Kelihaian Ustad Salim, sang penulis, dalam merangkai dan meramu kata-kata sehingga membuat kisah ini semakin menarik tentu tak perlu diragukan lagi. Selain itu, tentunya beliau pun banyak menyisipkan hikmah menarik. Diantaranya beberapa yang saya catat:
1 - Menyingkap motivasi dibalik jihad perjuangan para pahlawan muslim, yang tentu saja tak bisa dipahami oleh para umat lain, sehingga membuat para mujahid ini tak gentar dalam medan peperangan dan menjadi sulit untuk dikalahkan. ".. Dan kita sulit membayangkan apa jadinya negeri ini tanpa Islam. Sebab, hanya Islam yang bisa membangun kesadaran untuk bangkit melawan para penjajah yang kafir, serakah, dan sewenang-wenang ini. Hanya Islam yang bisa membuat suatu kaum bangkit berjihad demi membela agama, bangsa, dan tanah airnya." (h. 146)
2 - Pembahasan mengenai Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab yang sering dikaitan dengan wahabi dan bagaimana perbedaan pandangan diantara ulama dunia. Juga bagaimana kita yang begitu fakir ilmu terkadang terlalu mudah mem ‘vonis’ saudara sendiri, sehingga sulit untuk bersatu. "Selalu begini.. Pemahaman di tingkat gurunya serupa saja. Tapi para murid suka menajam-najamkan perbedaan tipis, membesar-besarkan selisih yang kecil, ditambahi dengan kesombongan mereka yang jauh dari ketawadhuan gurunya dan kekasaran mereka yang jauh dari kelembutan Syaikhnya." (h. 161)
3 - Diajak kembali untuk mengingat akhirat. "Akhirat adalah negeri kejutan, bukan? Banyak ucap yang diremehkan, ternyata dosa mencelakakan. Banyak amal yang dibanggakan, ternyata sedebu berhamburan. Banyak dosa yang menghantui, ternyata paling diampuni. Banyak amal ringan dan terlupakan, ternyata justru menyelamatkan. Banyak kekasih yang dimesrai, ternyata musuh bebuyutan. Banyak saudara yang tersisih, ternyata menjadi pembela di Hari Pembalasan." (h. 225)
4 - Hakikat kekalahan yang sesungguhnya. “Kekalahan itu ketika kita ditinggalkan Gusti Allah meskipun kita menang perang ataupun punya banyak kawan serta pengikut. Sebaliknya, yang disebut kemenangan adalah tetap bersama Gusti Allah meskipun kita tinggal sendirian, atau bahkan binasa dalam perjuangan.” (h. 443)
5 - Strategi dan hakikat dakwah. “Dakwah ini memang bukan hanya soal mengalahkan nalar lawan. Bukan pula sekadar menundukkan kekuatan badan atau senjatanya. Dakwah itu menyentuh hati dan merengkuh jiwa. ..Kuncinya perubahan hati.“ (h. 516)
6 - Tentang sedikit perbedaan yang terkadang begitu digemborkan hingga melupakan banyaknya persamaan yang kita miliki. “Perbedaan dalam hal cabang tidak boleh menafikan kesatuan pada akar dan batang. Perbedaan yang masih dapat dihitung tidak boleh mengalahkan persamaan yang tidak terbilang. Kita sedang sama-sama membangun sebuah istana peradaban untuk ummat Islam. Akan jadi lucu kalau yang sedang menggali pondasi mengolok-olok yang membuat jendela. Akan jadi aneh kalau yang menyiapkan gentengnya mencaci maki yang menyusun batu bata. Akan jadi rusak kalau yang memasang ubin lantainya merendahkan yang menautkan rangka-rangkanya.” (h. 519)
Berkaca dari sejarah yang senantiasa berulang. Menyingkap tabir beragam sifat manusia. Buku ini menjadi pembuka awal tahun yang luar biasa.
Review buku Sang Pangeran dan Janisarry Terakhir ini sangat istimewa bagi saya pribadi karena sang penulis buku, Ustad Salim A. Fillah, yang memintanya. Hehe.
Ini adalah buku novel pertama yang ditulis oleh Ustad Salim. Buku-buku Ustad Salim sebelumnya, yang diterbitkan oleh Pro-U Media, merupakan “buku pelaran agama islam” yang “ringan” namun “tepat sasaran” seperti Bahagia Merayakan Cinta untuk persiapan pernikahan dan Lapis-lapis Keberkahan ketika semangat ibadah dan muamalah yang mulai kendor. Perkenalan pertama saya dengan buku Ustad Salim dimulai ketika masa SMA ketika dipinjamkan buku Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim oleh Zaki Arif.
Ketika Ustad Salim mengumkan akan merilis Novel ini, tanpa pikir panjang saya langsung beli pada Pro-Order pertama dan datang langsung ke bedah buku novel ini di Hotel Melaka Bandung pada medio November 2019 yang lalu. Dari judul dan cover buku saja seharusnya kita bisa menebak novel ini tentang Pangeran Diponogero. Pun juga melihat iklan-iklan buku ini di instagram Ustad Salim, kita diberitahu bahwa novel ini akan bercerita tentang perjuangan Pangeran Diponegoro di Perang Jawa (1825-1830) dengan beberapa tokoh fiksi dengan sub-alurnya namun tetap menggunakan alur waktu dan kisah nyata pada periode Perang Jawa itu.
Yang menarik adalah judul Novel ini tidak hanya menonjolkan Sang Pangeran tetapi juga Janisarry Terakhir. Janisarry sendiri adalah pasukan elit dari Daulah Usmaniyah di Turki. Mulai dibentuk pada abad ke 14 namun karena beberapa faktor, pasukan elit ini dibubarkan pada dekade 1820an. Di Novel ini, ada perwira Janisarry yang berlayar ke Nusantara dan menjadi bagian dari cerita Perang Diponegore ini. Sebagai apa?.. Baca sendiri di Novel nya.
Novel sejarah pertama yang saya baca adalah Fall of Giant, buku pertama The Century Trilogy karangan Ken Follet yang berkisah tentang beberapa keluarga fiksi di beberapa negara yang terlibat Perang Dunia Pertama yang nasibnya menjadi terbalik sehabis perang. Ken Follet menceritakan perjalanan nasib keluarga fiksi ini di garis masa kenyataan dan tokoh-tokoh nyata seperti King George V, Wiston Churchill, dan Presiden Woodrow Wilson secara apik dan simple dengan bahasa inggris yang tidak terlalu sulit. Senada dengan Ken, Ustad Salim juga menggunakan gaya bahasa yang simple dan mudah dipahami meski terdapat beberapa pengunaan Bahasa Jawa yang jarang saya dengar. Beberapa percapakan tokoh pun dirupakan seperti percakapan yang terjadi pada zaman sekarang seperti pengunaan idiom Asyiaap yang populer di 2019.
Untuk alur cerita Novel Sang Pangeran dan Janisarry Terakhir tidak usah diragukan, sangat detail dan menarik untuk melanjutkan ke bab berikutnya. Ustad Salim sendiri melakukan riset yang mendalam dan lama untuk menulis alur nya dengan membaca berbagai rujukan baik ditulis oleh sejarawan barat seperti Peter Carey dari luar dan Babad-babad tentang Pangeran Diponegoro.
Namun menurut saya pribadi masih terdapat beberapa poin yang dapat ditingkatkan oleh Ustad Salim untuk 3 buku tetralogi Sang Pangeran berikutnya. Pada Novel ini, dibagian depan sudah dituliskan daftar aktor yang ada pada cerita ini dan diurutkan secara abjad. Bagi saya yang kurang terlalu familiar dengan tokoh-tokoh Kerajaan Mataram, saya agak kesusahan membedakan mana tokoh yang benar-benar ada dan mana tokoh rekaan. Saya juga kesusahan mengetahui mana tokoh dari Jawa, mana dari Belanda, dan mana dari Turki. Ken Follet menulis daftar tokohnya dengan membagi daftarnya berdasarkan asal, keluarga, dan mana tokoh nyatanya.
Poin lain yang agak kurang dari Novel Sang Pangeran ini adalah tidak adanya peta. Ketika awal membaca, saya yang lahir dan bersekolah di Sumatera, tidak hafal dimana letak Sungai Progo, Keraton Jogja, Muntilan, dan daerah lainnya di dataran rendah jogjakarta sehingga agak kesusahan ketika membayangkan apa yang digambarkan Ustad Salim tersebut.
Overall, Novel Sang Pangeran dan Janisarry Terakhir ini sangat recomended bagi teman-teman yang ingin belajar kembali sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro dan Umat dalam melawan keteraniyaan penjajah.
Mengapa menggunakan "janissary" dalam judul buku ini? Seorang teman bertanya kepada saya. Janissary diambil dari bahasa Turki yang artinya prajurit baru. Janissary adalah sebutan pasukan elite dari Daulah Usmaniyah di Turki. Makna "Janissary Terakhir" dalam buku ini adalah pasukan Turki terakhir yang dikirim untuk memberi bantuan terhadap perjuangan Islam di bumi Nusantara, terutama pada Pangeran Diponegoro. Tokoh fiksi yang dilibatkan bernama Nurkandam Pasha, merupakan putra dari Wazir Agung Daulah Utsmaniyah Alemdar Musthafa Pasha.
Janissary terakhir dikirim sebagai maksud hutang budi Wazir Agung terhadap bumi Nusantara. Disebutkan dalam buku ini bahwa peraturan yang dibentuk Sultan Muhammad Al Fatih yang menutup perdagangan rempah dari Pasar Turki ke Pasar Eropa membuat Eropa kesulitan mencari pasokan rempah, akibatnya harga rempah di Eropa melonjak. Hal ini mengakibatkan kebangkitan bahari orang Eropa untuk mencari kekayaan rempah dari timur atau dari bumi Nusantara. Oleh karena itu, Wazir Agung berwasiat supaya pasukan terakhir Turki sebelum tumbang untuk dikirimkan ke Nusantara.
Novel fiksi historis karya Salim A Fillah ini menggunakan latar belakang sejarah pada awal abad ke-19. Nama tokoh utama pun diambil dari tokoh asli, bahkan nama tiga ulama pembangkit Islam di tanah Minangkabau pun adalah tokoh asli. Latar tempat historis Yogyakarta juga dijelaskan beserta arti di balik geografis dan arsitektur lokasi.
Ketika saya membaca prolog, tulisan dalam prolog tersebut berhasil menggugah jiwa heroik dan keinginan saya untuk melahap buku ini. Namun ketika membaca, saya menjadi kurang enjoy karena rincian latar suasana dan percakapan yang kurang tepat guna dan bertele-tele.
Novel sejarah yang dibuka dengan kepergian Sang Pangeran dan pengikutnya dari Puri Tegalrejo ketika Belanda memaksa menerobos tempat tinggal Sang Pangeran di sana.
Kisah lantas membentang ke dalam tiga puluh bab yang ditutup dengan epilog yang "diambil" dari buku harian Basah Katib alias Salim Katib Pasha, salah satu tokoh utama novel.
Kisah berpindah-pindah latar, dari pegunungan, hutan, desa di Jawa lalu ke Batavia, Makkah, Mesir, Istambul. Berpindah dari Puri Tegalrejo, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Goa Selarong, Buitenzorg, hingga Istana Topkapi.
Salah satu hal yang saya suka adalah karakter yang digambarkan begitu kuat dari masing-masing tokoh. Sang Pangeran begitu terasa kharisma, ketegasan juga kelembutan, ketenangan juga amarah yang kadang meletup. Kejenakaan dua abdi setia Sang Pangeran: Banteng Wareng dan Joyo Suroto mewarnai perjalanan pergerilyaan Sang Pangeran di hutan-hutan Bagelen Barat.
Begitu juga duet Legowo-Prasojo yang juga jenaka mengiringi Basah Katib, mantan juru tulis Alemdar Mustafa Pasha, Wazir Agung Turki Utsmani kala itu. Ia datang ke Nusantara bersama anak Sang Wazir: Nuryasmin dan Nurkandam, ditemani Orhan dan Murad. Basah Katib dan tiga nama terakhir inilah para "Janissary Terakhir" yang ikut berjuang bersama Sang Pangeran serta protagonis lain seperti Pangeran Mangkubumi, Pangeran Ngabehi, Raden Basah Gondokusumo, Raden Basah Mertonegoro, dan lainnya.
Tak hanya protagonis, para tokoh antagonis juga terasa kuat penggambaran karakternya. Terasa mengesalkan dan menyebalkan serta amarah kala diceritakan mengenai Joyosentiko alias Sumodipuro alias Danurejo IV, aktor utama kerusakan moral di Keraton yang ditemani Tumenggung Wironegoro.
Saya kira pengisahan sejarah melalui novel adalah alternatif bagi mereka (dan juga saya) yang kadang mengerutkan dahi karena agak sulit memahami peristiwa-peristiwa yang dipaparkan di buku sejarah. Saya pribadi malah belum rampung membaca "Takdir"-nya Peter Carey karena bahasa yang sangat akademis di buku tersebut.
Semoga novel ini juga menjadi salah satu jalan bagi para pembacanya untuk membangkitkan kesadaran akan pentingnya belajar dari sejarah dan riwayat para pahlawan.
Ah, novel ini pun menjadi pembuka dalam Tetralogi yang disebutkan akan ditulis oleh penulis yang sama. Ada tiga tokoh: Sunan Kalijaga, Sultan Agung Hanyokrokusumo, serta Sultan Suwargi Hamengkubuwono I yang akan ditulis kisahnya dalam novel. Mengapa lalu kisah keempat orang ini yang ditulis? Barangkali faktor ketiga orang ini yang mempunyai porsi yang cukup banyak diceritakan dalam Babad Dipanagara yang ditulis sendiri oleh Sang Pangeran.
Maktub. Semoga diberkahi dan diberi kekuatan. Maktub, mungkin memang sudah termaktub bahwa beliaulah yang mesti menuliskan kembali kisah keempat orang tersebut.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Emang cara asik untuk tahu sejarah adalah dengan membaca novel, meskipun drawback-nya kita jadi susah membedakan mana detail yang asli dan mana detail fiksinya, hehe. Tapi secara garis besar, masih sesuai dengan kejadian sesungguhnya lah. Dengan membaca buku ini, saya tersadar satu hal besar bahwa yang melatarbelakangi perjuangan Pangerang Diponegoro adalah karena Islam dan keinginan kuat membebaskan Nusantara dari penjajahan yang penuh mudarat. Bahwa selama perang, para santri lah yang menjadi kekuatan utama perjuangan sang Pangeran. Poin ini jarang sekali disampaikan dalam buku sejarah sekolah mana pun. Pengetahuan kita cukup terhenti di Perang Diponegoro dari tahun 1825-1830. Sekian. Tapi buku ini berhasil membuat saya mengetahui sisi lain dari Perang Diponegoro yang sangat menarik dan membuat saya merenungkan perjuangan para pahlawan zaman penjajahan yang punya fisik dan mental jauuuuuh lebih kuat dari orang-orang zaman kekinian.
Bagi pecinta sejarah ini adalah buku yang sangat bagus. Menceritakan sejarah dalam bentuk novel, dari Sublime Porte di Konstantinopel hingga Siti Hinggil di Mataram, dari Pasar Rempah Konstantinopel sampai pedalaman hutan tempat para pejuang berjuang menghancurkan Belanda yang mencengkram dan merusak moral anak-anak bangsa.
Dari buku ini, bisa dilihat pula bahwa Islam sangat mempengaruhi kehidupan dan semangat juang bangsa Indonesia. Begitu pula hubungan erat antara jawa dan turki ustmani yg sedemikian kuat dan mempengaruhi semangat juang dalam membebaskan dari Belenggu penjajah.
“Dunia sekarang kacau, ya.” Tiba-tiba kalimat ini terasa basi setelah membaca novel ustadz Salim A. Fillah, Sang Pangeran dan Jannisary Terakhir. Dunia sudah kacau dari dulu, cuma manusianya yang ganti generasi baru. Bisa dibilang, itu kalimat lama yang selalu terasa baru.
Saya mendapati pola-pola serangan yang dilancarkan para tokoh antagonis yang melawan Diponegoro terasa akrab di masa kini. Bagaimana para pribumi bersekongkol dengan penjajah untuk mengkhianati bangsa sendiri. Bagaimana cara-cara licik para mijnheer penjajah membuat propaganda sehingga Diponegoro terlihat jelek di mata rakyatnya. Bagaimana para pejabat kerajaan yang berkompeten dipecat untuk diganti boneka yang dapat menyetor pajak lebih banyak. Bagaimana memporakporandakan peradaban Islam dan menggantinya dengan peradaban yang lebih penurut.
Pola yang itu-itu saja. Namun untuk menyiapkan ‘Diponegoro’ selanjutnya tidak semudah mengacungkan tongkat sihir disertai mantra. Butuh guru-guru yang hebat, waktu belajar yang tidak pendek, bahan belajar yang berkualitas, serta tekad yang teguh. Sehebat-hebatnya Diponegoro, beliau tidak bisa berjuang sendiri. Harus ada pengikut setia, harus ada sahabat yang selalu siap sedia baik saat senang maupun duka.
Ada masa saya merasa pesimis dengan kisah orang sholeh dari Timur Tengah. Masak ada sih, orang sebaik itu? Pangeran Diponegoro dan tokoh protagonis lainnya membuktikan, semua cerita itu bukanlah dongeng belaka. Adegan demi adegan yang disuguhkan terasa begitu dekat dan nyata. Jawa. Singkong. Cenil. Kraton Yogyakarta. Keris. Berkulit sawo matang. Bertubuh sedang. Ternyata bisa lho, orang jawa sesholeh itu, seistiqomah itu, seberani itu. Kalau dibahasakan oleh mijnheer penjajah, “ada lho, orang Jawa yang sefanatik itu, seradikal itu, seekstrim itu.”
Tiba-tiba saya mempunyai ikatan batin pada foto laki-laki salah satu pahlawan nasional berpipi cekung, bersorban putih, dan menyandang keris di depan. Meski saya tidak lagi harus menghapalnya untuk ujian, saya berpikir untuk selalu mulai mengingatnya. Ustadz Salim berhasil meracik ilmu sejarah yang berat menjadi menu sastra populer yang lebih ringan, sehingga lebih mudah diserap ke perpustakaan otak.
Meski demikian, masih ada ‘rasa’ pengetahuan. Saya kadang bingung memposisikan diri sebagai pembaca buku sejarah atau pembaca novel. Apalagi pada bab-bab awal novel, semua tokoh tiba-tiba mak reguduk dimunculkan semua. Semua bertambah ambyar ketika ada detail latar yang kadang tidak berperan penting dalam inti cerita. Saya juga agak terganggu dengan alur maju-mundurnya. Ketika saya sudah terbawa suasana pada bab tertentu, tiba-tiba saya harus kembali ke tahun yang lain.
Gangguan subyektif tersebut tidak mengurangi satu noktah pun kebesaran kisah Diponegoro. Bahkan menjadi bukti betapa Islam mampu membangun peradaban agung di tanah Jawa, sampai-sampai untuk menuliskannya di satu novel dengan jumlah halaman 631 lembar, terasa begitu penuh. Saya yakin masih jauh lebih banyak hal yang belum diungkapkan.
Pangeran Diponegoro menunjukkan kita mampu kalau mau. Ketika berkiblat pada peradaban ‘mantan penjajah’ hanya semakin membuat sakit hati, kenapa tidak kita coba untuk mempertimbangkan peradaban sendiri?
Ini buku pertama Salim A. Fillah yang aku baca, dan gaya narasinya sangat lihai, apalagi tentang deskripsi latar. Ruangan di istana, hutan, pasar, bahkan saat peperangan terjadi, itu digambarkan dengan sangat baik, jadi suasananya terbangun dengan mantap.
BUku ini mengambil waktu di akhir perang Dipenogoro, tahun-tahun dimana Belanda dapat memukul mundur, dan memecah belah pasukan Pangeran Dipenogoro. Alur waktu yang digunakan maju-mundur, lumayan bikin bingung kalau kamu tidak memperhatikan titimangsa di awal bab, tapi ada beberapa bagian dimana, tiba-tiba saja si tokoh mengenang masa lalunya di saat yang tidak tepat, kayak sesaat sebelum pingsan misalnya.
Oh dan masalah tokoh, saat membaca judulnya dan membaca promosi-promosi buku ini di IG, aku berasumsi ini adalah historical fiction tentang Pangeran Dipenogoro, dan Beliaulah yang menjadi tokoh utama, tapi begitu buku ini sudah ditangan, dan membaca blurb-nya dengan teliti, ternyata pemeran utama tokoh ini adalah Ali Basah Katib dan Basah Nurkandam. Mereka berdua adalah salah dua orang kepercayaan Pangeran Dipenogoro dalam peperangannya, dan berasal dari Turki. Akhirnya buku ini bukan hanya mengisahkan tentang perjuangan Pangeran Dipenogoro, tapi juga tentang pergulatan kehidupan Ali Basah Katib dan Basah Nurkandam sendiri.
Senangnya, penulis juga menyediakan list nama-nama tokoh nyata yang ada di buku ini, jadi kita tidak akan tersesat membedakan mana yang tokoh nyata dan mana yang rekaan. Sayangnya, yang kurang dari buku ini adalah catatan kaki atau mungkin glosarium. Jadi, buku ini menyajikan banyak bahasa, ada bahasa Jawa, Prancis, Arab, Belanda, sampai Inggris. Nah, yang menjadi masalah untuk aku adalah bahasa Jawa, karena ini bahasa yang paling sering muncul sisipannya. Aku tahu ada beberapa kata atau kalimat yang dalam bahasa Jawa yang digunakan berkali-kali, jadi catatan kaki tentang arti kata atau kalimat itu hanya sekali saja, saat pertama kali digunakan. Karena berkali-kali, jadi aku hafal artinya. Yang jadi masalah itu kalau penggunaannya jarang, kalimatnya terlalu panjang, atau jarak penggunaan pertama ke penggunaan selanjutnya jauh, lumayan membingungkan.
Hanya saja, buku ini menyajikan sebuah sejarah dengan cara yang lebih menyenangkan. Kita jadi tahu alasan dibalik dari perjuangan Pangeran Dipenogoro, kenapa dia begitu sulit untuk dikalahkan, dan kenapa rakyat begitu mencintainya. Membaca ini membuatku menjadi lebih kagum pada Beliau daripada sebelumnya.
Ustadz Salim A. Fillah selaku penulis novel ini telah menyampaikan kalau buku ini adalah sejarah fiksi (historical fiction) yang memuat cerita tentang intrik perjuangan Pangeran Diponegoro beserta keluarganya dan santri di Jawa. Sesuai dengan judul novel ini, dikisahkan keterlibatan beberapa anggota pasukan Janissary beserta dengan anak dari Alemdar Mustafa Pasha selaku mantan Wazir Agung di Ottoman.
Cerita kompleks ini cukup apik dikemas oleh Ustadz Salim, dimana terdapat beberapa sudut pandang dengan momen yang berbeda. Unsur politik, sejarah, perjuangan, agama, moral, budaya, hingga romantisme dan unsur komedi mewarnai alur cerita di buku ini.
Awalnya, saya khawatir jika banyak dawuh berbahasa Jawa yang akan menyulitkan saya untuk memahami isi cerita. Namun, kekhawatiran saya cukup teratasi saat saya melihat catatan kaki yang berisikan terjemahan dari beberapa kalimat di setiap halaman.
Secara tidak langsung, sebagai pembaca, saya diajak untuk mengenal berbagai kebudayaan, ilmu agama, dan sedikit kosakata Jawa oleh Ustadz Salim selama saya menikmati cepat-lambatnya laju cerita ini.
Buku ini sangat direkomendasikan untuk orang-orang yang ingin membaca sebagian kecil perjuangan Pangeran Diponegoro beserta para basah dan sentotnya. Terlebih, akan baik pula jika isi buku ini dapat dibawa ke forum diskusi di kelas hingga forum sejarah untuk meningkatkan minat baca dan minat masyarakat mempelajari sejarah Nusantara karena di akhir cerita, terdapat dialog antara Pangeran Diponegoro dan Katib Pasha yang seakan-akan mengajak kita untuk berbincang di bagian epilog tersebut.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku setebal lebih dari 600 halaman berhasil di selesaikan dalam perjalanan kereta api Jakarta-Kebumen kurang lebih 7 jam..ini rekor sih, biasanya beberapa hari atau berminggu-minggu
Dalam perjalanan ini pas sekali di temani buku ini, dimana banyak setting lokasi dalam buku ini yang sedang kulalui antara lain banyumas, sungai serayu, kemit, panjer dll. Relatable sekali denganku yang juga orang kebumen, bahasa jawa ngapak dalam buku ini membuatku seolah ikut ada dalam cerita ini
Buku sejarah, yang sangat menarik dan banyak hikmah yang dapat diambil. Kalau biasanya buku sejarah, jarang sekali membahas dari sisi keislaman, berbeda dengan buku ini. Dalam buku ini kita bisa belajar sejarah dan agama islam sekaligus.
Buku ini pasti ditulis dengan riset yang tidak sebentar. Detail dalam buku ini benar2 membuat pembaca terhipnotis, untuk terus membaca hingga habis. Kisah heroiknya para pejuang, kisah kasih, persahabatan, dan intrik2 politik, lengkap ada di buku ini.
Saya suka bagian cerita yang dua orang jannisary (Nurkandam dan Katib Basah) dibanding kisah pangeran diponegoro itu sendiri. Saya memang dari dulu penasaran dengan hal-hal yang berbau Turki, kisah perjuangan Muhammad Alfatih, Hagia Sophia, blue mosque. Berharap suatu hari bisa mengunjungi tempat-tempat itu.
oiya ini buku pertama dari buku Tetralogi yang rencananya akan ditulis. Sepertinya saya akan menunggu seri selanjutnya
Akhirnya sesudah beberapa bulan, kemarin alhamdulillah saya bisa menyelesaikan buku ini. Cukup tebal karena berisi kisah, kasih dan selisih dalam perang Diponegoro 1825-1830. Bukan hanya kisah perjuangan tetapi buku ini juga mengulas kisah kasih beberapa tokoh penting di sekitar Sang Pangeran. Banyaknya tokoh baik yang mendampingi Sang Pangeran dalam perjuangannya, maupun petinggi militer Belanda ini, membuat saya sesekali harus membaca kembali profil singkat para tokoh tersebut di halaman depan. Semua peristiwa penting ditulis dengan lengkap dan cukup detil yang sebagian baru saya ketahui dari buku ini. Tulisan Ust Salim di buku ini mudah dimengerti termasuk beberapa dialog jenaka yang membuat pembaca tersenyum dan dialog cinta yang membuat pembaca terhanyut perasaannya. Sayang buku ini tidak dilengkapi dengan misalnya lukisan Raden Saleh berjudul ‘Penangkapan Pangeran Diponegoro’ sebagai tanggapan atas lukisan Nicolaa Pieneman yang berjudul ‘Penyerahan Diri Diponegoro’. Tambahan informasi lain seperti peta dan foto-foto akan lebih menguatkan pesan buku ini.
Seperti biasa, untaian kata dari Ustad Salim selalu memukau. Penulis berhasil membuatku sebagai pembaca terhanyut dalam ceritanya. Buku fiksi sejarah ini mengandung banyak informasi yang sepatutnya kita keetahui mengenai Pangeran Diponegoro. Meskipun tentu ada rancu bagiku untuk membedakan mana yang fiksi dan mana yang fakta sejarah.
Sebelum membaca buku ini, yang kuketahui dari kisah Pangeran Diponegoro hanyalah bahwa perang yang ia pimpin berlangsung dari tahun 1825 sampai 1830 (sering muncul disoal ujian sejarah saat SD/SMP). Setelah membaca buku ini, aku jadi lebih tau tentang apa yang diperjuangkan beliau dalam Perang Jawa. Serta bagaimana pengkhianatan yang dirancang untuk 'mengasingkan' beliau ke luar Jawa. Kisah tentang para Janissary terakhir dibuku ini pun cukup menarik untuk menambah bumbu-bumbu fiksinya.
Semoga perjuangan beliau dan para pangikutnya dapat menjadi teladan bagi kita rakyat Indonesia pada umumnya dan muslimin Indonesia pada khususnya.
Finally! The best historical book ever~ dan, yg mula-mula harus kuakui adalah ketidakmampuanku menyerap dengan mudah untaian kata Ust. Salim sungguh menjadi kelemahan diri sendiri, bukan salah Ust. Salim.... (yaiyalah). Yak, jadi ni buku selesai ku baca dengan hampir memakan waktu 2bulan setengah lah ya, sebenarnya lumayan lama kalau dibandingin dengan orang2 lain, tapi buat diriku yg seorang newbie bahkan cenderung pemalas dalam hal buku kesejarahan, ini sungguh rekor waktu yang tiada ku sangka-sangka. Sebuah buku fiksi sejarah yang bobot isinya sungguh buanyak, melebihi apa yang kamu kira. Judul buku dan sebuah kalimat yang ternyata spoiler dibawahnya benar-benar bikin semakin cinta karena ya buku ini apa adanya.. Mangga dibaca, sebagai sebuah masukan untuk diri agar tidak sekali-kali melupakan sejarah. Dan, yak, semoga Ust. Salim dilancarkan untuk seri Sang Pangeran selanjutnya aamiin
Buku ini menjadi teman semasa 3 pekan pertama stayhome. Genre fiksi membuatnya tidak perlu didudukkan sebagai buku sejarah pada umumnya. Namun, di tengah dominasi kaum nasionalis-orientalis-sekular dalam penulisan sejarah, buku ini menjadi oase bagi mereka yang ingin melihat sudut pandang "wonge dewek" dalam melihat sejarah nenek moyangnya. Penuh dengan filsafat Jawa yang berkorelasi apik dengan tradisi muslim pada sisa-sisa kekuasaan Mataram membuat buku ini banyak memberikan pengetahuan yang biasanya tidak bisa ditemui pada satu jenis literatur. Buku ini juga hadir untuk meluruskan berbagai macam mitos unfaedah seputar Pangeran Diponegoro yang justru mengaburkan hal paling penting dari perjuangannya, yaitu Jihad fi Sabilillah untuk menjadi paneteg agami Islam fi Jawi.
Betapa mengaduk-ngaduk perasaan novel sejarah ini. Perlu penghayatan lebih dalam, imajinasi lebih luas mengerti bagaimana sejarah dulu begitu mengerikan dan penuh perjuangan. Awal membaca buku ini, berat. Memang butuh menyesuaikan dengan istilah-istilah belanda, jawa, dan tokoh-tokoh dalam sejarah. Inilah yang membuatku tak kunjung cepat membacanya. Setelah baca setengah buku, barulah nuansa kerajaan, tegalrejo, medan peperangan sang pangeran beserta basah-basahnya menjadi begitu ketara. Wow. Masya Allah. Meski lembut banget pembawaan ceritanya, tidak lantas membuat kita bosan dengan alurnya. Per bab pun disuguhi dengan cerita yang begitu luarbiasa.
Masya Allah Ustadz Salim.. novel pertama beliau, sejarah pula. Menjadi salah satu novel sejarah yang indah dan menakjubkan.
Beli bukunya pas baru aja launching, tapi baru banget dibaca 6 tahun setelahnya wkw.
Bagus banget. Plotnya dapet, character building okelah. Bagian awal agak slow, mulai seru di tengah, dan bagian akhir bikin tertegun dan sering mikir, kadang bikin mata sembab juga.
Latar waktu tidak linear, juga tempatnya maju mundur dan berpindah-pindah.
Banyak istilah asing Jawa, buat non-Jawa mungkin butuh googling lebih sering. Tapi penulis sudah mencoba sebaik mungkin buat menjelaskan, sih.
Epilognya dapet, tapi punchline-nya bisa lebih menyayat hati lagi.
Hisfic wajib buat penikmat novel maupun penyuka sejarah. Buat fans Diponegoro jelas bikin makin cinta sama Sang Pangeran, juga para pendukung juangnya.
Novel sejarah yang sangat menggambarkan penulisnya melalui banyak usaha dan banyak membaca dalam menulisnya. Sungguh bacaan yang tidak mudah tapi mempermudah kita memahami bahwa sejarah itu ternyata menarik, berbeda saat membaca buku sejarah yang tak "berjiwa". Walau saya sangat berharap sifat Janissary yg asli Turki akan digambarkan berbeda sesuai khas kepribadian mereka agar novel ini lebih kaya yang di sini saya temukan Janissary masih kejawa-jawaan, saya mengucapkan selamat kepada penulis Ust. Salim A Fillah yang telah menemukan cara dan "milieu" baru untuk berda'wah. Barokallah.
Berangkat dari bukti sejarah bahwa perjuangan pangeran diponegoro pada akhirnya harus berakhir dengan pengkhiatan pada saat perundingan, maka ada rasa sedih ketika membaca novel ini, tetapi dengan bolak-baliknya alur dalam novel sehingga membangkitkan terus rasa ingin tahu pada sisi-sisi lain cerita selain penangkapan pada saat perundingan tersebut.
Seru bangett. Nambah perspektif baru tentang perjuangan Pangeran Diponegoro dan punggawa lainnya. Entah berapa banyak peluh, sakit, kecewa mereka dapat demi memperjuangkan hidup adil. Hari-hari ini jadi sedih melihat kondisi negeri ini. Pangeran Diponegoro pasti sedih. Nusantara dulu, Indonesia kini merdeka tapi sejatinya masih terjajah.
Kisah Kepahlawanan sang Pangeran Diponegoro yang historis diceritakan dalam buku ini. Bagaimana sang penulis menggabungkan kepingan-kepingan kisah nyata yang direkatkan dengan fiksi yang menarik. Kisah Diponegoro dipadu dengan cerita cinta kasih dan perjuangan sang janissary mencari jati diri..
Buku rekomendasi teman kuliah, katanya saya cocok membaca buku ini. Tetapi ketika mulai membacanya, beberapa kali saya berhenti di tengah jalan. Selang 4 tahun kemudian saya kembali membuka lembar awal dan benar saja, saya yang 4 tahun lalu tidak menganggap serius perkataan teman saya itu menjadi sangat berterima kasih. Buku ini menggugah rasa cinta pada leluhur. Mampu membawa saya pada pertanyaan-pertanyaan baru, dan dalam mencari jawabannya, tak habis di buku ini saja.
Buku sejarah yang bagus (Recommended). Sayangnya, bukan seperti novel fiksi dengan bahasa yang sangat mudah di mengerti. Perlu ketelitian yang sangat ketika membaca novel ini.