Dua hal tentang Kancil yang harus kalian tahu sebelum tenggelam dalam kisah ini:
Yang pertama, ia bukanlah hewan berkaki empat.
Kedua, bagi Jihan, laki-laki itu berbeda dengan semua manusia yang pernah dikenalnya; kendati ia tengah bersedih, tak pernah ada raut duka terpancar dari wajahnya.
Saat Jihan resmi menjadi pacar Kancil, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk memberikan setiap cahaya yang ia punya agar Kancil selalu tahu jalan pulang.
Dan ketika timbul satu per satu masalah, Jihan harus membuktikan kepada dunia bahwa janji itu bisa ia tepati. Meskipun itu artinya Jihan harus terjerumus dalam sisi buram dunia Kancil.
Pelanduk adalah kisah si anak kelas 3 SMP, Jihan, dan cowok jahil nan konyol bernama alias Kancil. Unik ya namanya? Jadi Kancil ini sebenarnya adalah teman dekat Ian, pacar Jihan. Tapi karena satu dan lain hal, lama kelamaan Jihan malah dekat sama Kancil. Sebenarnya sih awalnya Jihan kesal banget liat sosok Kancil yang menurutnya mengganggu dan rese. Eh, lama-lama malah ikutan ngumpul juga sama geng motor Kancil.
Aku super gemes banget sama buku ini. Aku merasa, vibe buku ini sama banget kayak desain dan warna kovernya, lembut-lembut gimana gitu. Ini bukan kisah remaja yang ditulisnya dengan bahasa berapi-api penuh semangat gitu. Tapi tuh, perlahan, kayak aliran sungai tenang. Mana setting-nya di Bandung. Aku suka banget latar cerita di kota ini. Ditambah banyak banget pakai bahasa Sunda, jadi makin kerasa.
Aku suka sama tokoh Kancil! Lucunya nggak maksa, di awal-awal halaman aja aku udah gemes sama celetukan Kancil, dan gemes juga liat reaksi Jihan yang kesal gitu digangguin Kancil. Awalnya aku agak underestimate novel ini. Karena kupikir, yaudah gitu cinta anak remaja. Bacanya mau santai aja, asal lewat. Eh lama-lama, malah suka! Tenggelam sendiri dengan cerita Jihan-Kancil, dan... teman-teman geng tongkrongan Kancil! 😭😭😭
Ampun deh, yang namanya aku pengen nongkrong bareng geng Kancil mah, pengen banget. Mereka tuh lucunya nggak dibuat-buat, ramenya, kekeluargaannya, natural semua. Tapi aku juga suka sih kisah Jihan-Kancil, meski kadang cringe, tapi ada aja adegan dari Kancil yang gemes-gemes lucu gitu, jadi cringe-nya bisa ditahan. Dan gimana yah, seneng aja kalau lagi adegan “alay” liat mereka, abis Jihan-Kancil nih bener-bener gemesin parah. 😭
Makin ke belakang ceritanya makin seru, udah ngelibatin kekerasan. Di sini kita bisa lihat sifat Kancil lebih dalam, pengembangan karakter Kancil. Gimana Kancil memosisikan diri Jihan, memperlakukan dan memandang cewek itu.
Bener sih kata testimoninya, Kancil sejenak bikin lupa sama pacar! 😂 Asli, padahal aku jarang baper sama cowok di novel fiksi (apalagi remaja). 😂 Eh malah kebaperan sama Kancil. Tapi di sini aku juga menyoroti sifat Jihan. Padahal dia masih usia anak SMA kelas 1, tadinya ya kan kepikiran cinta monyet, eh malah aku merasa cara Jihan memperlakukan Kancil dan menjaga hubungannya, udah dewasa banget! Setidaknya itu pandanganku terhadap Jihan sampai ke adegan yang bikin “hhhhh” banget, puncak konfliknya. 😞
Novel ini bisa bikin kita merasakan eratnya pertemanan, sakitnya patah hati, hangatnya romansa anak remaja, dan cara berpikir anak muda yang ternyata dalam beberapa hal lebih dewasa. Aku sih gatel pengen komenin ending-nya aja.....
Overall, aku nggak nyangka sih bisa suka sama novel ini sampai selesai bacanya tuh geregetan, dan nggak terhitung berapa kali aku senyam-senyum sendiri. 😂
-0.4 karena masih ada kesalahan pada penulisannya.
Sebelumnya saya mau minta maaf kpd penulisnya krn saya awalnya meremehkan sekali buku ini.
FYI, novel ini saya dpt dari pacar saya, saya bilang sama dia "Yaaah dibeliin romance alaala lagi. Males ah" namun kata pacar saya, temen di pelatihan yg merekomendasikan buku itu bilang ceritanya bagus. Trauma atas novel2 romance ala2 indonesia, saya pun baru memutuskan baca "Pelanduk" setelah dua hari novel ini ada di atas meja kerja saya.
Bab-bab awal masih standar, klise, sosoremaja meski cukup asik. Tapi.... di bab tujuh ke atas... saya tenggelam hingga ke dasar terdalam dunia khayal saya. Saya merasa saya ikut ada di dalam buku itu.
Ceritanya sangat sederhana. Tentang Jihan anak remaja yang ketemu dengan cowok yang punya nama alias alias "Kancil". Hari-hari mereka diisi dengan cerita manis dan menyenangkan yang sebetulnya punya bayangan kelam di balik rasa manis itu.
Semakin menjajinkan ketika saya mengkhayati quote-quote di novel ini... dan ada beberapa yg sangat saya suka sampai saya bagikan juga di instastory saya
"Kalau jatuh cinta kita luar biasa, tidak akan lagi ada istilah mempertahankan dan menjaga. Karena itu merupakan paket dari cinta itu sendiri, yang otomatis dijalankan tanpa terasa prosesnya. Tanpa dirasa-rasa sudah berkorban dengan menjaga dan mempertahankan." Hal 193
"Kalau mau ninggalin aku, bilang-bilang. Seratus tahun sebelumnya. Persiapannya lama soalnya" Hal 127
"Menangislah, menangislah... aku tahu kamu kuat, dan saat ini kamu hanya lelah karena terlalu lama kuat" hal 256
"Dunia ini jahat. Kebebasan itu cuma milik orang-orang yang punya kekuasaan. Pantas, banyak orang yang punya rumah, tapi nggak tahu ke mana harus pulang." Hal 256
"Jangan tolak aku, nanti aku sedih. Aku nangis, Bandung banjir. Lima puluh meter, air mata aku semua."hal 85
"Aku muliakan kamu lebih dari harga diri aku sendiri. Aku haramkan seluruh tubuhku menyakiti kamu." Hal 279
Saya juga cukup setuju dengan testimonial di cover belakang buku bahwa novel ini membuat saya lupa sejenak dengan pacar saya dan benar-benar memikirkan Kancil. Saya jatuh cinta sepertinya...
Kekurangan buku ini menurut saya ada pada editornya yang kurang teliti, dan blurb cerita yang kurang menggambarkan isinya juga. Plus ada beberapa bagian yang cringe walau cringenya masih ketahan.
Kisah Pelanduk di mulai pada tahun 2003, tahun di mana Jihan memasuki masa akhir SMP. Di tahun terakhirnya itu, Jihan menemukan cinta pertama, Ian, tapi sayang hubungan mereka tidak bertahan lama karena Ian belum bisa move on dari mantan terdahulunya. Ketika masih bersama Ian, Jihan pernah digoda oleh teman satu geng Ian, ia kerap dipanggil Kancil. Sejak saat itu, Kancil seperti selalu ada di sekitar Jihan, mengajak ngobrol, tapi karena reputasi negatif yang gencar akan dirinya, Jihan selalu mengindar.
Kancil sempat menjauhi Jihan karena dianggap seperti virus, suka menganggu. Namun, hubungan mereka kembali terjalin ketika sahabat Jihan berpacaran dengan teman satu geng Kancil di Secure Circle. Hubungan mereka semakin dekat dan akhirnya berpacaran, Jihan pun bisa dekat dengan teman-teman Kancil. Tentu tidak mudah menjalin hubungan dengan Kancil, mulai dari dia yang putus sekolah sehingga terpaksa berbohong pada orangtua Jihan, asal usul yang tidak jelas sampai sahabat Kancil yang menyukai Jihan sehingga sempat saling bersitegang.
Puncak dari hubungan mereka adalah ketika Jihan mulai menjadi bukan dirinya sendiri, menjadi seseorang yang egois dan membangkang. Kancil harus menentukan pilihan, yang terbaik bagi Jihan maupun untuk hubungan mereka ke depannya. "Selain mencintai, nantinya kamu juga harus siap dicintai. Dicintai itu lebih berat. Tanggung jawabnya hebat. Urusannya sama hati manusia yang lain. Ngeri kalau kamu mencintai orang, orangnya balas mencintai kamu." "Kenapa ngeri, bukannya bagus?" komentar Yolen bingung. "Kalau ada yang kelepasan berkhianat, bisa dua hati yang hancur. Yang satu hancur sama kekecewaan, yang satu hancur sama penyesalan." "Kata orang, jatuh cinta itu mudah. Yang sulit adalah mempertahankannya. Yang susah adalah menjaganya." "Kuncinya itu terbiasa ya, Pak?" Jigan bertanya. "Apapun kalau terbiasa jadi kuat, ya?" "Iya," sahut Bapak. "Jangan liat yang berlawanan arah sama kita, sakit. Fokus aja ke depan." Walau saya nggak selesai membaca Dilan, hanya bermodal membaca review dan spoiler, saya bisa merasakan kalau Pelanduk ini memiliki vibe yang sama dengan Dilan, minus gombalannya yang lebay. Ada bagian di mana Kancil menggoda Jihan, tapi masih dalam tahap yang wajar, tidak ada kata-kata aneh. Tidak hanya dari segi mengangkat kisah cinta anak geng motor yang tinggal di Bandung, tapi ketika kalian membaca sampai akhir maka akan tahu apa yang saya maksud, saya tidak terlalu suka dengan endingnya.
Sedikit kekurangan lainnya, saya kurang sreg dengan identitas Jihan yang masih SMP, saya lebih suka kalau timeline cerita ini antara masa SMA sampai kuliah, karena lebih sesuai dengan konflik yang ada. Melibatkan geng motor bagi saya terlalu dewasa untuk usia yang bisa juga digolongkan coming of age, usia di mana kisah pengembangan diri atau pencarian jati diri dan persahabatan yang biasanya lebih ditonjolkan.
Untuk urusan persahabatan, buku ini juga menyajikan, bahkan salah satu yang paling saya sukai. Saya suka banget dengan geng Secure Circle, royalitas mereka nggak perlu disangsikan lagi. Karakter yang dibikin penulis juga tercetak jelas, di bagian ini selain mendapatkan kekompakan kalian juga akan mendapatkan adegan humoris.
Untuk ukuran buku debut, walau belum sempurna, tulisan Andra Adella cukup enak dan menghibur. Ceritanya cukup runtut dan karakternya dapat sekali. Semoga lain kali semakin bagus lagi.
Tamat dua hari yang lalu. Dalam tempo 9 jam saja. Ditemani kopi luak, gorengan nanas dan lima batang rokok.
Saya akui novel ini BUKAN genre saya. Meski kadang saya yang jelimet juga 'ngorek-ngorek' koleksi istri saya yang sejak SMA dia konon penggemar romans, saya amat jarang menamatkan bacaan saya yang asalnya dari peti harta karun istri saya. Beda selera, masalahnya.
Novel terakhir yang saya baca sebelum Pelanduk adalah Five Feet Apart - Rachel Lippincott. Dan sama, saya kasih 5 stars krn membangkitkan mood saya ketika membacanya. Sesimple itu. HANYA KARENA SAYA MENIKMATINYA. Terlepas dari hal-hal lain. Penilaian saya mutlak penilaian saya.
Novel ini diterbitkan oleh Nuansa Publishing yang mana saya cek adalah penerbit buku-buku sastra fenomenal seperti Remy Sylado hingga Kahlil Gibran. Welehweleh. Tentunya ketika saya baca buku ini yang mana adalah kepemilikan istri saya (walau belinya pakai uang belanja), saya ekspektasi akan mendapatkan sastra-sastra lugas seperti buah pikir Remy Sylado.
Nyatanya saya keliru besar karena novel ini adalah novel romansa remaja yang tak bisa saya sebut ecekecek.
Istri sayalah yang meyakinkan saya bahwa buku ini akan membawa kenangan masa pacaran kita yang banyak dihabiskan di Kota Kembang, Bandung.
Ya. Ternyata memang seperti itu.
Selesai membaca buku ini, seperti apa perkataan istri saya, saya merasa hati saya terisi, tergerak.
Saya sempat bilang ketika saya baca 3 bab diawal pada istri saya kalau cerita novel ini mirip dengan Dilan karyanya Pidi Baiq (tapi saya salah---lelaki selalu salah).
Ternyata novel ini berbeda dengan Dilan meskipun background mirip karena menceritakan seputar kisah cinta anak geng motor dengan siswi SMA. Namun konflik yang di angkat jelas sangat berbeda. Jika Dilan diceritakan dengan lugas, kasual, dan bahasa yang unik ala Pidi Baiq, kalau novel ini diceritakan dengan mengalun, apik dan penuh momentum di sepanjang akhiran bab nya. Dilan menyoroti hubungan Dilan dan Milea yang benci geng motor Dilan, sementara Jihan malah masuk ke dunia geng motor Kancil dan bersahabat dengan teman-temannya.
Saya tak heran istri saya yang penggemar Dilan menyanjung novel ini, karena saya pun sebagai laki-laki yang bisa dikatakan tidak muda lagi, menikmati membaca novel ini.
Sekarang, mari tutup buku ini dengan perasaan yang mengalun. Dalam mood yang sama, saya mau beranjak ke susunan yang tersusun di peti saya.
Revolusi Harapan, Pendekar Bangsa dan Teori Fiksi.
Apakah saya akan membaca novel dengan genre seperti ini lagi? Tidak menutup kemungkinan terutama jika Bandung, kota penuh kenanganku, menjadi lokasinya.
Catatan Adrian: Buku ini menyenangkan, hangat dan memberikan jejak kesan yang sangat ramah untuk kenangan.
Novel ini bercerita tentang Jihan dan Kancil, dua orang dengan latar belakang yang sangat berbeda. Jihan yang saat itu masih duduk di kelas 3 SMP berpacaran dengan Ian—salah satu teman Kancil. Awalnya Jihan sangat terganggu dengan Kancil yang jahil, konyol, dan senang menggoda Jihan. Tapi karena satu dan lain hal, Jihan akhirnya putus dengan Ian dan malah dekat dengan Kancil.
Novel ini bersetting di Bandung tahun 2003. Jadi serasa agak nostalgia juga pas mereka bicarain tentang lagu atau kejadian-kejadian di tahun 2003. Terus banyak dialog yang ditulis pakai bahasa Sunda jadi makin terasa suasana Bandung-nya. Dan karena aku bukan orang Sunda, jadi sekalian bisa belajar dikit-dikit bahasanya 🙈.
Aku suka sampul novel Pelanduk ini. Sederhana dan cantik 😍. Apalagi warnanya pastel, duh makin suka deh. Walaupun kalau dilihat dari sampul dan judulnya pasti nggak ketebak novel ini sebenarnya nyeritain tentang apa. Setelah baca sinopsis, baru punya gambaran tentang isi novelnya.
Aku udah cukup lama nggak baca novel lokal dengan tokoh remaja gini. Jadi kangen juga 😅. Pas awal baca, aku ngerasa agak kesal sama Kancil. Reaksinya kira-kira sama kayak Jihan. Tapi lama kelamaan jadi suka sama celetukan konyol dan candaannya si Kancil. Lucu dan bikin senyum-senyum sendiri. Walaupun agak cringe kalau udah ngegombalin Jihan. Geng Kancil juga sama kocaknya. Walaupun anak motor tapi ternyata mereka sopan dan baik semua. Jadi lumayan mengubah mindset aku sama anak motor yang kesannya pasti kasar dan brutal. Rasanya jadi pengen kenal dan ikutan nongkrong sama mereka 😍.
Untuk alurnya, di awal aku merasa ceritanya agak loncat-loncat. Yang awalnya di satu tempat, tiba-tiba udah pindah jadi adegan esok harinya. Tapi selain itu aku merasa penulis sudah bagus membangun chemistry antar tokohnya. Bukan cuma antara Jihan dan Kancil aja, tapi juga sama geng Kancil. Suasana keakraban dan kekeluargaan mereka kerasa banget.
Ceritanya menjelang akhir makin seru. Mulai banyak konflik. Dari perkelahian antar geng sampai konflik internal tokohnya sendiri. Kita jadi tau pribadi masing-masing tokoh lebih dalam. Gimana mereka menghadapi dan menyelesaikan masalah yang ada. Terutama Jihan, yang baru lulus SMP tapi bisa cukup dewasa menghadapi masalah di sekitarnya.
Kalau menurutku ceritanya akan lebih sreg kalau Jihan udah SMA atau kuliah. Karena lebih cocok sama konflik dan ceritanya. SMP menurutku masih terlalu kecil untuk cerita cinta dan geng motor yang diceritakan.
Aku cukup dibikin baper saat baca novel ini. Senyum-senyum sendiri kalau Kancil udah ngegombal atau bicara serius sama Jihan. Tapi ending-nya bikin geregetan! BANGET. Agak beda sama dugaan aku di awal. Tapi nggak mau bahas banyak tentang ending. Takut spoiler 😅
Overall, aku enjoy baca novel ini. Bikin aku nostalgia sama kehidupan sekolah, indahnya persahabatan, cinta, dan sakitnya patah hati.
Ragu mau ngasih rating 4 atau 5 akirnya aku putuskan 4🙏 alasannya karena ada bebrapa bagian yg blm segitunya sempurna tp novelnya ceritanya simple ga neko2x, tpnya sangat berkesan.bikin perasaan campur aduk bgt
Baiklah, gw akan mereview seobjektif mungkin .. But first, bagi yg belum membaca jgn baca review gw krn mengandung spoiler dan bawang merah *** Di blurb gw rasa tdk menggambarkan isi ceritanya. Tp di testimonial agak menggambarkan ceritanya *** First, gw baca bab2 awal sembari mendesah dan bertanya2 ya tuhan apakah gw akan membaca sampai tuntas? Krn kok sedikit 'ehe-ehe' dan cliche ya. Lalu gw pun ya memutuskan meneruskan perjalanan mata gw ke bab demi babnya. Ceritanya semakin menanjak naik + makin lama gk bosenin malah makin menarik Gw paling suka sm bab2 menuju ending dmn hub keduanya makin dalem dan berbobot sampai hati gw lalu dihancurkan secara biadab! Why oh why mereka dibikin putus?! Disaat gw lg menikmati kenaikan kelas hub Jihan dan Kancil *** Second, sampai malamnya gw mau tidur gw msh kebawa sakit ati ini novel! Jd gw pun baca lg tuh bab2 awal buat mengobati sakit hati gw di bab terakhir. Begitulah, gw tadinya mau kasi 5 bintang tp novel ini blm sesempurna itu sih ... ngasi 4 bintang krn novel ini berhasil bikin gw sakit hati kek abis diputusin cowok wkt sma *** Thats all. Gw udah merekomendasikan novel ini ke temen gw, biar gw ada temen sakit hati. Empat bintang / 5 bintang ****
This entire review has been hidden because of spoilers.
Kisah romansa remaja, yang biasanya bakal happy ending. Tapi ni kenapa se nyesek ini ya Allah. Sedih banget jadi kancil. Dari paling belakang buku, kalimatnya ngarahin jihan bakal sekuat tenaga buat ngasih cahayanya buat kancil. Tapi akhirnya kenapa begini ya Allah. Nyes banget ini hati TT. Jadi inget kalimat di novelnya mba citra novy, "saat lo ada, waktu ga membuat kita bersama" aaaaaa ini busa sebulanan galaunyaaaaa TT semoga di film in deh ini, dilan milea mah lewaat 1 buntangnya ga saya kasih, soalnya sad ending. TT
This entire review has been hidden because of spoilers.
3.7 ⭐⭐⭐⭐ Simple Cerita cinta/romantisnya masih kalah sama Dilan&Milea, Rangga&Cinta, dsb Tapi kisah persahabatannya luar biasa menang telak dari novel manapun yg saya baca
Hwaaa manis banget gakuatt😭💘 Aku gatau gimana caranya kak andra jadiin cerita cinta-cintaan remaja jadi gak terkesan cheesy dan membosankan. Mungkin karena kak andra menjadikan setiap tokohnya "menemukan" jati diri mereka sendiri, dan berperan sesuai "kehendak" mereka. Jadi bukunya terkesan natural dan gak bikin yang baca jadi mual-mual🙈😂 Humornya dapet banget, setiap adegan tergambar jelas di kepalaku, sampe-sampe pengen ke Bandung nyari Warmes tuh di mana😭😂 Ceritanya berjalan mulus, manis, tanpa hambatan meski ada adegan klimaks yang aku greget banget bacanya. Kayak yang pernah aku bilang di story, baca buku ini rasanya kayak makan bubur bayi yang rasa stroberi. Lembut, lumer, manis, gampang dicerna. Dan bikin hati berasa kayak marshmellow, sampai bikin air mata meleleh :")) Buku ini berisi kisah cinta remaja yang lagi sedeng2nya rasain jatuh cinta, yang sederhana dan ringan banget, setiap konfliknya diselesaikan dengan cantik plis aku suka banget kak andra menyelesaikan konfliknya pelan tapi pasti dan gak bikin pembaca jadi ngerasa ngegantung bacanya. Pelanduk memang gak menyajikan topik yang berat dan bikin mikir, tp justru kesederhanaan isinya ini yang bikin aku terhanyut banget ke dalam ceritanya. Rasanya kayak nonton film aja gitu. Suka bgt pokoknya😍💞 Ceritanya juga sarat akan makna solidaritas dan persahabatan. Aku sampe bingung bisaan gitu kak andra bikin banyak banget tokoh tapi dengan ciri khasnya masing-masing yang bikin pembaca ga bingung dan jadi "kenal" sama tiap tokohnya. Baru kali ini aku puas banget sama penyelesaian akhir dari sebuah buku. Aku malah gak protes, gak ngebantah karena menurutku endingnya juga udah pas dan gak terkesan dipaksakan. Pokoknya ciamik banget deh!😭 Udah gabisa berkata2 lagi aku soal kisah cinta Kancil sama Jihan ini. Gakuaddhh :"")) Aku kasih 5💝 buat buku ini🤗 ((udh berapa lama aku gangasih rate 5 pas review buku wkwk))
Baru tahu kalau pengarangnya adlh perempuan. Langsung aja ya saya kecewa sama endingnya sebenernya. Padahal dari awal sudah bagus. Saya tertarik dan masuk pada karakter Kancil yg selengean tetapi hangat meskipun saya tdk terlalu suka dgn karakter Jihan yang judes,cengeng, egois,pengen ngatur tapi pembangkang, too dramatic jg curigaan pdhl katanya dia cinta sama pasangannya.tapi mereka itu cocok....ya sudahlah, saya cuma tdk suka dengan endingnya. Andai endingnya berbeda, saya akan kasih bintang 5,tp sayang sekali ya,kakak.
"Kalau aku, aku sih nggak akan suka sama tipe-tipe playboy kaya mereka. Apalagi sama namanya siapa? —oh, Kancil. Hiiii... langsung gatel-gatel, alergi.."
Jihan merasa hidupnya bahagia. Dia menikmati kehidupan sekolah dan dia juga punya pacar baik bernama. Ian.
Sampai suatu hari, Jihan merasa Ian berubah. Ketika Jihan menemukan Ian menghabiskan waktu dengan Kancil, anggota geng motor yang terkenal playboy, Jangan-jangan Ian pacarnya terpengaruh oleh Kancil?
Ketika Ian memutuskan Jihan, hati Jihan hancur berkeping-keping. Jihan makin yakin atas dugaannya dan semakin membenci Kancil.
Akan tetapi mengapa Kancil terus-terusan muncul dalam kehidupannya? Mengapa teman dekatnya, Sari justru sering menjodohkan Kancil dengan dirinya? Jihan pun bertanya-tanya apakah Kancil benar-benar nakal dan playboy seperti asumsi yang dimilikinya ? Benarkah Ian memutuskannya karena terpengaruh Kancil?
Novel ini cocok bagi penyuka kisah Opposite attract, bad boy good girl pairing, enemy to lover.
Novel Pelanduk ini sudah bisa kamu dapatkan di Gramedia, Togamas & toko buku lainnya. 😆😍🙌✨
Merupakan novel yang dibeli pas lagi PO karena tergiur cover nya yang unik. Kirain ini novel dongeng anak2 taunya novel percintaan anak SMA. Agak ga ketebak si alur ceritanya gmn kalau dinilainya selewat dari covernya doang. Yang jelas novelnya ceritanya penuh keromantisan anak remaja yg remaja bgt gitulah. Cuma yang bikin beda and charming (sumpah ini novelnya charming bgt tokoh2nya berasa emang hidup) ada cerita persahabatan yang kental dan kerasa juga bgaimana setiap tokohnya punya masing2 sifat yg idup sekali. Soal romantisnya juga bukan yang lebe2 kok. Cukup lucu. Jugaada kekerasan, cerita keluarga dan sedihnya. Gmn ya susah jelasinnya tanpa jadi spoiler 😅😅 garis besarnya hubungan Kancil dan Jihan itu kayanya sweet bikin gemes tapi ujung2nya diselimuti berduri ceile... ngebayangin klo jadi drama korea kayanya bagus tapi ga tau deh di korea ada geng2an gini apa ga 🙈 pengen kim juwon yg main jadi kancil
Gue kira bakalan so-DilanMilea banget krn sama-sama latarnya Bandung, si cowok anak geng, taunya beda.agak di luar espektasi sih. Gak nyangka bakal baca teenlit seru lg stlh sekian lama selalu gak mood nerusin sampe beres. Setting Bandung nyatanya cukup menarik gue buat baca ini dan aura bandungnya juva kerasa bgt ga mainstream. Oiya balik lagi ke Dilan-Milea dan Kancil-Jihan, perbedaan nyatanya adalah kalo si Milea benci bgt ama geng Dilan sampe garagara itu putusnya, kalau Kancil-Jihan malahan kebalikannya, si Jihan terlalu masuk ke dunia Kancil yg akhirnya menurut Kancil malah membahayakan keselamatan Jihannya. Garis besarnya gue suka bgt! Bravo bikin gue baper sampe nangis parah baca buku ini.