3,7 bintang! SUKA
Pelanduk adalah kisah si anak kelas 3 SMP, Jihan, dan cowok jahil nan konyol bernama alias Kancil. Unik ya namanya? Jadi Kancil ini sebenarnya adalah teman dekat Ian, pacar Jihan. Tapi karena satu dan lain hal, lama kelamaan Jihan malah dekat sama Kancil. Sebenarnya sih awalnya Jihan kesal banget liat sosok Kancil yang menurutnya mengganggu dan rese. Eh, lama-lama malah ikutan ngumpul juga sama geng motor Kancil.
Aku super gemes banget sama buku ini. Aku merasa, vibe buku ini sama banget kayak desain dan warna kovernya, lembut-lembut gimana gitu. Ini bukan kisah remaja yang ditulisnya dengan bahasa berapi-api penuh semangat gitu. Tapi tuh, perlahan, kayak aliran sungai tenang. Mana setting-nya di Bandung. Aku suka banget latar cerita di kota ini. Ditambah banyak banget pakai bahasa Sunda, jadi makin kerasa.
Aku suka sama tokoh Kancil! Lucunya nggak maksa, di awal-awal halaman aja aku udah gemes sama celetukan Kancil, dan gemes juga liat reaksi Jihan yang kesal gitu digangguin Kancil. Awalnya aku agak underestimate novel ini. Karena kupikir, yaudah gitu cinta anak remaja. Bacanya mau santai aja, asal lewat. Eh lama-lama, malah suka! Tenggelam sendiri dengan cerita Jihan-Kancil, dan... teman-teman geng tongkrongan Kancil! 😭😭😭
Ampun deh, yang namanya aku pengen nongkrong bareng geng Kancil mah, pengen banget. Mereka tuh lucunya nggak dibuat-buat, ramenya, kekeluargaannya, natural semua. Tapi aku juga suka sih kisah Jihan-Kancil, meski kadang cringe, tapi ada aja adegan dari Kancil yang gemes-gemes lucu gitu, jadi cringe-nya bisa ditahan. Dan gimana yah, seneng aja kalau lagi adegan “alay” liat mereka, abis Jihan-Kancil nih bener-bener gemesin parah. 😭
Makin ke belakang ceritanya makin seru, udah ngelibatin kekerasan. Di sini kita bisa lihat sifat Kancil lebih dalam, pengembangan karakter Kancil. Gimana Kancil memosisikan diri Jihan, memperlakukan dan memandang cewek itu.
Bener sih kata testimoninya, Kancil sejenak bikin lupa sama pacar! 😂 Asli, padahal aku jarang baper sama cowok di novel fiksi (apalagi remaja). 😂 Eh malah kebaperan sama Kancil. Tapi di sini aku juga menyoroti sifat Jihan. Padahal dia masih usia anak SMA kelas 1, tadinya ya kan kepikiran cinta monyet, eh malah aku merasa cara Jihan memperlakukan Kancil dan menjaga hubungannya, udah dewasa banget! Setidaknya itu pandanganku terhadap Jihan sampai ke adegan yang bikin “hhhhh” banget, puncak konfliknya. 😞
Novel ini bisa bikin kita merasakan eratnya pertemanan, sakitnya patah hati, hangatnya romansa anak remaja, dan cara berpikir anak muda yang ternyata dalam beberapa hal lebih dewasa. Aku sih gatel pengen komenin ending-nya aja.....
Overall, aku nggak nyangka sih bisa suka sama novel ini sampai selesai bacanya tuh geregetan, dan nggak terhitung berapa kali aku senyam-senyum sendiri. 😂