Mitos dari Lebak merupakan sebuah telaah kritis tentang pandangan hidup Douwes Dekker, asisten residen di Lebak pada abad ke-19, dalam kasus yang terkenal karena tuduhannya terhadap bupati Lebak, dan permintaan berhenti sebagai asisten residen yang diajukannya kepada Gubernur Jenderal Belanda. Tanpa berbasa-basi dan dengan diksi-diksi tajam yang “menusuk”, Rob Nieuwenhuys berhasil menguliti habis-habisan peristiwa bersejarah yang terjadi di Lebak, Banten, hampir dua abad lalu. Melalui studi sejarah, ia menguak peran Douwes Dekker alias Multatuli alias Max Havelaar sewaktu jadi asisten residen di Lebak yang kemudian menjadi latar masalah dalam mahakaryanya Max Havelaar.
Robert Nieuwenhuys (30 June 1908 – 8 November 1999) was a Dutch writer of Indo descent. The son of a 'Totok' Dutchman and an Indo-European mother, he and his younger brother Roelof, grew up in Batavia, where his father was the managing director of the renowned Hotel des Indes.
His Indies childhood profoundly influenced his life and work. His Javanese nanny 'nènèk' (English: grandma) Tidjah and particularly his Eurasian mother created the benchmarks of his childhood environment. In his award winning book Oost-Indische spiegel, he states: "If I write about my childhood, I write about her world." and "My Indies youth was critical to my receptiveness to particular cultural patterns. It ingrained a relationship with Indonesia that is irreplaceable."
Nieuwenhuys is the Nestor of Dutch Indies literature.
Multatuli sepanjang historiografi nasional yang masih sangat kental corak Belandasentris nya, memiliki tempat tak terhingga dalam linimasa sejarah. Ia merupakan martir sekaligus pionir yang mampu menumbangkan kolonialisme bangsa nya sendiri hanya berbekal karya sastra. Bertahun-tahun pemahaman tersebut diajarkan per jenjang usia.
Tugas besar buku ini yaitu mematahkan penjelasan sejarah yang sudah berusia ratusan tahun tersebut, ia mencoba menguliti satu per satu motif sesungguhnya yang disasar Multatuli ketika menulis Max Havelaar.
Pada akhirnya, Max Havelaar hanya sebatas karya sastra dari seorang megalomaniak ulung yang sialnya dipuja-puji bak pahlawan sampai saat ini.
saya kok senang sekali dengan buku lawas ini. nieuwenhuys dan dekker, didudukkan dalam forum yang setara dalam membicarakan peristiwa havelaar di lebak. benarkah kisah havelaar itu historis, ataukah ini produk sastra saja? dekker dengan pandangan eropasentrisnya telah mengonstruksikan havelaar sebagai tokoh pembela rakyat lebak dari sistem tanampaksa yang melalui operatornya di lapangan bupati lebak menindas para petani. konstruksi fiktif ini telah membangkitkan kesadaran yang meluas di belanda agar sistem tanampaksa itu dihapuskan dan diganti oleh sistem yang 'tahu membalas budi'. fiksi ini telah memahlawankan havellar dan membuahkan keputusan politik yang dinamakan politik etis (fasseur). namun, nieuwenhuys menemukan bukti-bukti tinggalan rouffaer bahwa kisah di lebak itu tidak seperti yang diceritakan oleh dekker. lalu yang mana yang harus dipercayai? kisah gugatan terhadap fiksi max havelaar ini diterbitkan oleh komunitas bambu dan disajikan dalam terjemahan sitor situmorang. sastrawan yang mengalami dilema serupa dalam riwayat hidupnya sendiri dan riwayat hidup ayahnya. ayahnya adalah kepala adat di tanah batak. ayahnya ini bersedia menjadi pegawai sipil kolonial, namun begitu penguasa kolonial akan melaksanakan pungutan pajak pada penduduk maka si ayah ini tersinggung. ia lemparkan peci jabatannya ke meja controleur: "ambil kembali! saya jadi kepala adat kaumku bukan karena diangkat oleh belanda! sebelum ada belanda, nenek moyangku adalah raja di daerah ini" buku tipis ini padat dengan emosi. ditulis secara kritis, diterjemahkan oleh orang yang mengalami dilema 'siapa yang harus dipahlawankan' dan dihantarkan dengan kata pengantar yang bagus dari jj. rizal serta emma keizer dan tico onderwater.
“Ia adalah seorang utopis abad ke-19, seorang penganut etika yang bersemangat revolusioner yang merupakan suatu tipe budaya yang khas Barat dalam rangka susunan masyarakat kolonial. Tindakannya didasarkan atas pertimbangan susila, tetapi bukan atas pandangan politik”, kira-kira kalimat inilah yang ditulis Rob Nieuwenhuys menjelang bab akhir buku ini.
Buku ini ditulis dengan pendekatan hermeneutika, dimana sang penulis mencoba menjelaskan konteks sejarah yang terjadi pada masa tersebut. Sama seperti karya Tim Hannigan yang mengkritik keras karya seorang Raffles dalam bukunya “Raffles, Dan Invasi Inggris ke Jawa”, Rob menjatuhkan kritik pada karya Multatuli, Max Havelaar. Dimana ia menganggap Dekker adalah seorang pribadi yang picik dengan melihat suatu perkara berdasarkan sudut pandang Barat. Bahwa apa yang dituliskan masih terlalu dangkal dan perlu telaah lebih lanjut.
Terlepas dari itu semua, karya Max Havelaar adalah karya yang membuka mata barat terhadap apa yang terjadi di Hindia-Belanda meskipun dalam penulisannya, Rob Nieuwenhuys melihat ada beberapa fakta yang kurang tepat terkait apa yang dihadapi oleh Dekker dan bupati Lebak.
Membaca buku ini membuat saya cukup bingung: apakah harus sepakat dengan Rob bahwa Multatuli tidak serevolusioner yang digambarkan selama ini, ataukah tetap bersiteguh bahwa Max Havelaar memang roman yang "membunuh" kolonialisme seperti yang kerap disebut, salah satunya, oleh Pram?
Rob mengajukan kritik bahwasanya Douwes Dekker, sang penulis Max Havelaar, dinilai tidak mengerti sistem feodalisme lokal di mana pemberian kerbau kepada sang bupati harusnya dianggap sebagai sebuah kewajiban kawula kepada ratu, alih-alih menganggapnya sebagai sebuah pemerasan sistemik.
Tapi sudut pandang seperti ini jelas menafikan kenyataan bahwa roman berlatarbelakang di Lebak, Banten ini memang cukup mengguncang tatanan karena dalam beberapa hal memberikan gambaran bagaimana sistem kolonial bekerja, yang pada akhirnya melahirkan berbagai penindadan sistemik kepada rakyat jajahan.
Yang jelas, mau berada di posisi manapun Anda dalam perdebatan ini, nasib Saijah dan Adinda, dan mungkin jutaan kaum jelata lainnya tetap sama: hidup dalam penindasan kolonialisme dan feodalisme. Merekalah keset yang akan selalu diinjak dan jadi bantalan, sekalipun sistem di atasnya kerap saling lempar tuduhan.
Membaca buku ini, saya jadi mendapatkan sudut pandang baru tentang Multatuli alias Eduard Douwes Dekker dan novelnya yang legendaris berjudul 'Max Havelaar'. Lebih lanjut, ulasan singkatnya saya tulis di sini: https://www.agungwicaks.com/2023/05/m...
Selesai membaca buku ini, kenangan ketika menghadiri peresmian Museum Multatuli di Lebak, serta beberapa kali kunjungan dengan membawa sahabat penggila buku. Kami mendapat tour VIP dari Kang Ubay kepala museum. Bahkan sampai mengunjungi rumah yang dulu ditinggali oleh Multatuli.
Buku ini, dengan cara yang unik telah mendarat di rak buku saya.