Lara Tawa Nusantara. Kenapa buku ini diberi judul Lara Tawa Nusantara? Tebak-tebakan asal saya mungkin karena di buku ini Fatris lebih sering melawak dibandingkan dengan buku-bukunya yang lain. Fatris, jurnalis dan seorang pencerita asal Sumatera Barat memang punya ciri khas tersendiri dalam menyampaikan cerita-cerita perjalanannya. Seperti kebanyakan laki-laki minangkabau, Fatris suka bercerita dengan lelucon dan gaya yang sedikit berlebih-lebihan, seperti yang sering saya temui ketika saya pulang kampung ke Sumatera Barat. Dan di buku ini Fatris seringkali membuat saya tergelak dan terkadang terpingkal-pingkal dengan lelucon receh tentang penduduk nusantara yang dibawakannya. Yah, mungkin karena itu ya diberi judul Lara Tawa Nusantara?
Ada 12 artikel yang dimuat dalam buku ini yang meliputi reportase Fatris di berbagai pelosok Nusantara. Kisah perkampungan terasing di pedalaman Kalimantan Tengah yang dihuni para petarung dan difilmkan oleh Hollywood; kisah Amanagappa, kapal Pinisi terakhir yang berhasil berlayar hanya dengan kekuatan angin dari Sulawesi ke Madagaskar; Kota yang hilang di Barus Sumatera Utara; Para penganut agama leluhur di Mamasa dan Toba; hingga kisah kampung Orang Bajo di tengah laut Wakatobi adalah beberapa cerita yang berkesan bagi saya.
Hal yang juga sangat saya sukai dari buku ini adalah ada banyak foto yang melengkapi setiap artikel tersebut, dan semuanya berwarna! terima kasih Buku Mojok yang sudah sangat murah hati menjual buku tebal dan penuh foto warna-warni dengan harga murah 😆
Memang bila dibandingkan dengan buku-buku Fatris lainnya, artikel yang dimuat dalam Lara Tawa Nusantara tidak terlalu bombastis. Beberapa artikel mengangkat kisah yang mungkin sudah sering kita dengar di media lainnya. Tapi Fatris bisa menyampaikan kembali kisah-kisah itu dengan lebih detil, lebih personal serta tidak lupa juga disertai latar sejarah yang ia ambil dari banyak literatur terdahulu. Apalagi dilengkapi dengan foto-foto yang indah, cerita-cerita Fatris mengajak saya sebagai pembaca seperti turut serta dalam perjalanan ke tempat-tempat yang mungkin tidak akan bisa saya datangi sepanjang hidup saya.