Gia tidak pernah menyuntik, membius, menjahit luka, apalagi menyembuhkan orang. Gia tidak pernah membayangkan itu semua. Cita-citanya waktu kecil menjadi seorang astronaut. Diinspirasi Papanya yang seorang penerbang. Dia ingin melihat hamparan Bumi yang indah dari kejauhan. Impian yang terus memenuhi kepalanya lebih dari dua dekade. Semua berubah saat Gia masuk Fakultas Kedokteran.
Menjadi Dokter? pikirnya berulang-ulang. Saat koas, Gia ditempatkan di kota yang tidak dia kenal seumur hidupnya, Garut. Kesempatan itu membuat pikirannya semakin terbuka. Kehidupan yang nyaman, serbacukup, praktis, dan nyaris tidak terbayang susahnya hidup, saat koas semuanya berubah. Gia yang awalnya terpaksa melakukan pengabdian masyarakat, mendapat pelajaran berharga dan menakjubkan.
Bersama teman-temannya, mereka bahu membahu membantu siapa pun yang membutuhkan pertolongan. Saling mendukung, menggali kenyataan tentang tubuh manusia yang indah tiada dua, dan mengingat tentang tanggung jawab untuk menjaganya. Semua yang dialaminya akan mempersiapkan dirinya untuk ujian sesungguhnya, "Ujian Tingkat Dewa".
Buku yang sangat bagus. Lumayan detail menceritakan proses yang dijalani koas dalam setiap stase. Cara penceritaannya seringkali mengambil adegan interaksi dr. Gia dengan istrinya, Fira, atau dengan orangtuanya. Kemudian saat melihat sesuatu yang sederhana atau terjadi sesuatu, dr. Gia flashback pada pengalamannya saat koas di setiap stase.
Banyak istilah medis yang rumit. Meski ada banyak catatan kaki, hal ini mungkin membingungkan bagi orang awam. Namun, buat muridku yang pingin jadi dokter, buku ini kayaknya bakal bikin mereka seneng, nih. So bismillah. Insyaallah I will buy this book for them.
Kalimat di atas merupakan penutup yang menyempurnakan buku ini. Sebelumnya dr. Gia sudah menerbitkan buku juga, namanya berhenti di kamu (kalau tidak salah). Tapi saya gak baca karena gak suka baca kisah cinta orang lain, saya menunggu penulis menuliskan kisah perjalanan dia sebagai seorang dokter. Waktu saya lihat buku ini nangkring di rak buku, liat sinopsis, saya langsung beli. Well, yang bikin saya pengen kasih rating 4* sepanjang saya baca buku ini adalah fakta bahwa penulis masih nulis kisah cintanya dengan sang istri dan minimnya kisah penulis dengan sahabatnya diluar kegiatan RS/ kisah "supporting character" itu sendiri. Saya akan lebih suka kalau penulis bisa menceritakan pengalaman koasnya saja tanpa alur maju mundur (tiap bab pasti maju ke saat-saat penulis sudah bukan koas lagi) dan membuat saya kehilangan "rasa" sama bab/cerita yang lagi diceritain sebelumnya. Tapi menuju bab akhir, saya mengerti kenapa ada alur maju-mundur itu, dan akhirnya memutuskan untuk membulatkan rating saya di GR ke 5* bukan ke 4*.
Narratives dan deskripsi yang tertuang dalam buku ini benar-benar mengalir. Jujur saya enggak punya ekspektasi apa-apa, tapi begitu baca buku ini... saya berasa gak lagi baca, tapi kayak lagi di nasihati, dengerin podcast, ngobrol, macem gitu deh. Bener-bener gak mengecewakan. . Namun mungkin gak semua orang suka dengan cara bercerita penulis, saran saya cuma 1: jangan taruh ekspektasi apa-apa saat mulai membaca buku ini. Biarkan penulis membawa kalian dalam menikmatinya dengan caranya sendiri. Give this book a chance. Isi bukunya benar-benar berbobot, banyak ilmu baru yang saya dapat. Footnotesnya juga sangat membantu. Kalau saya disuruh deskripsiin buku ini dalam 1 kata, kata itu adalah "Komplit". Ada pengalaman lucu, sedih, marah, senang, seram, semua ada disini dan saya ngerasa satu frekuensi dengan penulis dalam hal percintaan; Sayang dengan seseorang yang tidak bisa membalas rasa itu, dan menolak orang yang ingin memberikannya karena kita enggak bisa membalasnya.
Bab penutup ceritanya benar-benar membuat mata saya berkaca-kaca, karena terharu dan membuat saya kangen masa kuliah semester akhir. Terimakasih dr. Gia karena sudah memberikan bacaan yang bermanfaat untuk saya.
Ada yg bilang buku ini cocok untuk siswa-siswa SMA yg sedang gamang memilih jurusan universitas, atau bahkan menguji kemantapan mereka yg ingin berkuliah dan bekerja menjadi dokter. Akan ada banyak deskripsi pengalaman penulis dengan para pasien dan dokter yg berpengalaman. Rentetan kisah yg benar-benar bisa memberikan gambaran, 'gimana sih rasanya 'magang' sebagai calon dokter di suatu rumah sakit'.
Singkat cerita, lewat buku ini dr. Gia membagikan wejangan-wejangan dari para dokter konsulen (kalau di bidang program mengajar di sekolah/lapangan saya menyamakan dengan guru pamong) yg tentunya berisi tentang penyakit tertentu, kebesaran Pencipta dibalik penciptaan organ tubuh tertentu, bagaimana memperlakukan pasien yg tidak bernyawa, dsb. Sebuah buku yg bisa meng-upgrade kemampuan untuk menghargai kesehatan saya sendiri.
Kesimpulannya, buku ini sangat cocok untuk siapa saja yang suka tentang tema kesehatan. :)
This book tells the story of the author’s life during koas in medical school.
From the moment of placement announcement, stase-to-stase, all the way to graduation. The author details the experiences throughout each stase, including treating patients, interactions with doctors, and managing the emergency unit.
Using a nonlinear narrative, the author shifts between the present and flashbacks to past experiences in several chapters. This technique allows the author to move smoothly from one stase to another.
Overall, I enjoyed reading this book. As someone outside the medical field, I got to see a different side of that world. The stories are also very engaging, and I often felt like I was right there with the author. At times, the stories were so dramatic that I questioned whether the entire book was based on true events or if the author added some fictional elements. But, sometimes reality is stranger than fiction, isn’t it?
Since the book centers on the medical world, there are many medical terms throughout. The author includes a lot of footnotes to explain them. There are a total of 105 footnotes: 68 are medical terms (2 of them are duplicates with different explanations), 17 translation of english phrases (some are literal translations that make the Indonesian sentence sound awkward, such as gut translated directly into usus), 16 translation of sundanese phrases (7 of which are just the word nuhun), and the remaining 4 are pop culture references like Star Wars and The Lord of the Rings. Yes, I counted all of them.
The footnotes about medical terms are actually helpful, but in many instances, the medical terms are already explained directly in the story, either through narration or dialogue. Some are not explained at all. This feels inconsistent—but it’s okay. It wasn’t a big deal and the story was still easy to follow.
There were also a few typos. They didn’t disrupt the reading experience, but I was surprised to find them since I was reading the third printing of the book. A few that I noticed include: Pernyakit instead of Penyakit (p. 87, in the footnotes), Sari instead of Dari (p. 250), Tum instead of Tim (p. 296). Just a minor inconvenience, but it would be better to fix them.
Also, the author has a unique writing style, which might not be to everyone’s taste. Personally, I didn’t mind it.
Overall, this book is highly recommended, especially for those outside the medical field—so that we can appreciate medical professionals even more.
Perikardia merupakan novel yang merangkum kisah nyata kehidupan seorang dr. Gia yang awalnya hidup berkecupun dan nyaman tiba-tiba harus melakukan pengabdian masyarakat di kota yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Bersama teman-temannya, dr. Gia bahu-membahu membantu siapapun yang membutuhkan pertolongan. Saling mendukung, menggali kenyataan tentang keindahan tubuh manusia, dan mengingat tanggung jawab untuk menjaganya. Semua yang dr. Gia alami dipersiapkan untuk menghadapi ujian sesungguhnya, “Ujian Tingkat Dewa”. Tak hanya menceritakan kisah perjuangannya bersama rekan sesama dokter dan pasien, dr. Gia juga menyelipkan romansa sederhana bersama sang istri serta tingkah jenaka teman-temannya.
Alur cerita dalam novel ini benar-benar tidak terduga dan penuh plot twist di setiap akhir bab. Baru membuka halaman pertama, saya sudah dibuat kagum dengan narasi penulis yang menjelaskan tentang kondisi pasien di sebuah rumah sakit dengan berbagai istilah medis. Tak perlu khawatir akan bingung dengan istilah-istilah tersebut, karena dalam novel ini juga dijelaskan pengertian berbagai kosakata baru yang tertulis dalam catatan kaki. Bagi orang awam yang tidak familiar dengan dunia kesehatan seperti saya, novel ini langsung bisa menarik perhatian pembaca yang penasaran dengan hal-hal yang dilakukan oleh tenaga medis dalam menangani pasiennya.
Sebagai novel yang penuh dengan istilah medis mungkin cukup menyulitkan pembaca karena harus berkali-kali melihat catatan kaki untuk memahaminya. Terlebih jika istilah tersebut sering digunakan namun sulit dipahami, pembaca harus kembali membuka catatan kaki pada halaman pertama kali istilah tersebut ditulis. Namun secara keseluruhan, novel ini mampu menambah wawasan dan pengetahuan pembaca tentang berbagai hal medis yang sebenarnya cukup dekat dengan peristiwa sehari-hari, namun kebanyakan orang belum memahami. Disajikan pula sebuah ilustrasi dalam beberapa bab yang menambah daya tarik pembaca agar tidak bosan menikmati serangkaian kisah dr. Gia Pratama. Meski ini kisah nyata, namun dr. Gia mengemasnya layaknya drama korea yang penuh plot twist di akhir kisahnya. dr. Gia membuktikan bahwa novel Perikardia sangat layak untuk dibaca dengan pesan yang sangat berharga.
Bagi pembaca yang ingin atau sedang mengambil pendidikan bidang kedokteran, buku ini bisa menjadi referensi untuk memperdalam pengetahuan di bidang medis. Pembaca yang memiliki ketertarikan dengan bidang kesehatan juga bisa membacanya, karena dr. Gia mengemas pengetahuan dan pesan dalam kisahnya sangat apik.
Bismillaah. Assalaamu’alaikum Alhamdulillaah, akhirnya bisa selesai baca buku pertama di tahun 2020. . Judul: Perikardia Penulis: dr @giapratamamd Penerbit: mizania ISBN: 978-602-418-194-9 Cetakan: I, November 2019 . Novel Perikardia ditulis oleh seorang dokter praktek bernama dr Gia Pratama. Beliau dikenal karena sering sharing tentang kesehatan dengan bahasa yang mudah dipahami di akun twitternya @GiaPratamaMD. Beliau juga menulis judul novel lain yaitu seri #berhentidikamu dan seri #sayangidirimu . Novel ini bagus banget. Menceritakan kisah nyata yg dibalut dalam cerita fiksi. Mirip dengan novel “Cado-cado” yang bercerita tentang pengalaman koas tapi novel ini lebih informatif😊 Banyak info-info yang mengingatkan saya tentang pelajaran biologi dan menambah pengetahuan saya tentang istilah-istilah kesehatan. . Emosi cerita dalam novel ini bervariatif. Ada yang menegangkan, lucu, bahagia dan sedih. Bagian yang paling lucu saat Gia berlari-lari memakai sandal di bandara, hahaha. (Maafkan saya dok🙏🏻 tapi serius bayanginnya lucu) . Bagian terbaiknya adalah saat dijelaskan tentang organ-organ dalam tubuh kita. Betapa Allah Maha Kuasa yang menciptakan tubuh kita dengan segala kerumitannya. Kadang karena tubuh kita tercipta dengan baik tapi kita sering abai dengan kesehatan tubuh kita sehingga di kemudian hari tubuh kita tidak bisa berfungsi optimal sebagaimana mestinya. . Buku ini recommended buat temen-temen yang suka cerita kedokteran dan yang ingin nostalgia dengan masa koas😁 . Saya sendiri berharap ada novel yang bercerita tentang masa koas di Kedokteran Hewan. Mungkin ada keseruan tersendiri😆 . Sekian review dari saya. Terima kasih😊 jika ada kesalahan saya mohon maaf
Pernah membaca sepenggal-sepenggal di tweet dr. Gia. Membaca utuh sebagai buku: makin solid dan berasa. Kesimpulan: saya ingin koas, tanpa kuliah kedokteran😂.
dr. Gia melompat-lompat antara kisah-kisah perjalanannya memulai rumah tangga dengan perjalanan koas. Setiap konsulen di setiap stase semuanya sangat deep-soul, filsuf, dan petuahnya menghangatkan, mencerahkan, mengagumkan. Semua konsulen merasa organ yang menjadi spesialisasinya adalah organ paling menakjubkan.
"Kamu tergores ujung kertas saja terkadang sakit banget kan? Nah, bayangkan jika ada pisau yang membuka tubuh kamu dan kamu ditusuk jarum jahit berkali-kali selama beberapa jam bahkan kamu digergaji tulang-tulangnya untuk operasi tertentu. Kira-kira bagaimana rasanya bila tak ada anestesi?" ( Stase Anestesi)
"Otak kita itu dahsyat. Nah, benda sedahsyat itu butuh receiver yang dahsyat pula. Salah satunya yaitu mata" (Stase Mata)
"Kalian akan menjalani hal-hal yang tidak biasa. Pasien yang kalian hadapi bukan datang untuk berobat tapi mencari keadilan. (Stase Forensik)
"Satu-satunya stase yang bertanggung jawab atas 2 nyawa ya hanya obgyn. Kalian memegang nyawa ibu dan bayinya.Jadi kalian dipaksa harus cerdas dan cekatan." (Stase Obgyn)
Dituturkan sangat apa adanya, kisah ini jadi satu favorit saya. Catatan: stase favorit saya adalah stase forensik.
Seru banget baca buku ini. Part paling mikir adalah bagian yang membahas tentang robot AI yang mungkin dimasa depan akan menggantikan sistem yang ada didunia. Pernah kepikiran ga sih kalau nanti kalau manusia punya satu cip yang dimasukin kedalam tubuhnya sehingga bisa tau kadar gula, oksigen dan hal-hal yang berkaitan sama kesehatan manusia tersebut 'mungkin' bisa berlaku di dunia setelah kita meninggal?
"Berapa jumlah pahala yang ia dapat didunia?" tanya Roqib dan Atid. Semua bisa terlihat menggunakan teknologi. Who knows kalau nanti dimasa yang akan datang teknologi akan masuk ke dunia yang kita ga pernah tau?
Part paling favourite adalah Stase Forensik. Udah pernah baca threadnya di twitter tapi tetep aja suka bagian Forensik ini.
Buku ini akan menyadarkan kita tentang semenakjubkan tubuh manusia. Jadi lebih sayang sama diri sendiri dan mau belajar tentang anatomi manusia walau saya bukan anak kedokteran hehe.
This book is so 'colorful' in a good way. So many stories and memories. Told in back-and-forth perspective that won't make you feel bored. I love how dr. Gia connecting the story from the present time and flash back to when he was still a co-ass. I really love the stories during his co-ass time. They were so inspiring yet funny and entertaining.
This book is literally 'a medical book for the layman'. So many things we can learn and really easy to be understood.
Too bad, though, I spotted some errors—typos here and there, and exactly the same sentences consecutively in the same paragraph... It's like the editor was in hurry :( I really hope the editor(s) will be more careful in the next works.
Perikardia, sebuah singkatan dari "Perjalanan Indah untuk Dikenang, Ribet untuk Diulang, menceritakan perjalanan dr. Gia Pratama ketika menjalani studinya di dunia kedokteran hingga koas dan lulus. Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dalam buku ini. Salah satunya bahwa bagian tersulit ketika menjadi dokter itu bukan ujian tulis, ujian koas, ataupun ujian kompetensi dokter. Namun ujian disaat pasien atau orang-orang disekitar menganggapnya sebagai "Dewa Penyelamat". Sejatinya, dokter hanyalah sebagai perantara dalam kesembuhan pasien, sedang kesembuhan dan kematian tetap berada di tangan-Nya
Biasanya untuk menghabiskan 1 novel, saya hanya butuh kurang dari 1 hari. Tapi buku ini saya butuh 3 hari untuk menyelesaikannya bukan karena kesulitan mengimajinasikan adegan demi adegan, tetapi ngeri sendiri membayangkan berada dalam posisi dokter Gia saat di state forensik dan stase obgyn, luar biasa banget bisa melewati itu semua. Untuk seluruh calon dokter yang sedang menjalani masa koas, kalian luar biasa. Ceritanya apik dan banyak banget bercerita soal kesehatan. Jadi sadar kalau pola hidup saya selama ini ga baik-baik banget. Ditunggu novel selanjutnya dok!
Buku ini bercerita mengenai pengalaman dr. Gia saat menjalani pendidikan koasnya dengan diselingi kehidupan asmara dari dr. Gia. Setiap bab dibedakan dengan bedanya stase saat koas. Bahasa yang dibawakan ringan, tidak menyusahkan yang tidak mengerti istilah medis, membuat pembaca cekikan tetapi tidak terlupakan dengan tetap adanya value tentang hidup yang tersirat di setiap ceritanya. Sayangnya opening dari tiap bab repetitif sehingga membosankan.
Aku kasih 4 bintang buat buku ini. Ceritanya sangat menarik, bahkan mengharukan dan inspiratif. Tentang perjuangan seorang koas yang ingin menjadi dokter. Kisah-kisah dr. Gia di sini dikemas dengan begitu apik, bagus dan rapi, namun saya agak merasa kurang nyaman dengan alur maju mundurnya. Memang cerita tetap terasa fokus, tapi menurut saya hubungan masa kini dan masa lalu dalam cerita agak dipaksakan, kurang natural.
Sebelum membaca buku ini sempat underestimated, ternyata setelah dibaca seru juga. Buku ini menceritakan pengalaman dokter Gia selama koas yang diceritakan menggunakan gaya penceritaan alur maju-mundur dari kondisi dokter Gia sudah jadi dokter. Dari buku ini, saya yang belum pernah koas jadi seolah-olah merasakan koas itu sendiri. Terdapat pelajaran moral dan sedikit pengetahuan seputar dunia kesehatan di sini.
Baguuus! Ga pernah nyesal follow dr. Gia dari awal sering bikin thread di twitter haha. Cerita-ceritanya selalu menarik dan membawa imajinasi 'nyemplung' ke dalamnya. Banyak pelajaran tentang ilmu kedokteran juga yang bisa diambil. Satu pesan dr. Gia di buku ini,
"Sayangi dirimu."
Yup, sayangi dulu diri sendiri supaya orang lain juga sayang sama kamu😜😆
Nge-follow dr. Gia juga di twitter jadi tulisannya di buku ini lumayan familiar. Beberapa cerita di dalam buku ini memang ada yang sudah dituliskan menjadi thread di twitternya. Tapi banyak juga cerita-cerita baru yang belum pernah aku baca. Ditambah lagi ada cerita soal pengalaman berkeluarga sebagai pengantin baru.
Seru, inspiratif, dan tentunya nambah pengetahuan.
Membaca novel ini jadi tahu lika liku perjalanan koas mahasiswa kedokeran yg ternyata tidak mudah. Menarik sekali buat orang di luar profesi medis mengetahui tiap stase koas, apalagi ada bumbu romance dan mistisnya. Pesan yg disampaikan juga sampai
Tapi sayangnya alur cerita cenderung datar di tiap bab; menceritakan kondisi kini lalu flashback semasa koas
Banyaak hal yang bisa dipetik dari novel ini. Dimulai dari 1. Gimana kita SAYANG ke diri sendiri 2. MENGHARGAI setiap orang (dalam novel ini yaitu pasien) dengan berbagai karakter dan pandangan 3. Kewajiban manusia adalah BERSYUKUR 4. Mencintai keluarga adalah hal yang UTAMA 5. Dan manfaatkan WAKTU sebaik mungkin!!
Novel yang seru, bikin aku flashback masa² kuliah Kebidanan dulu, semuanya menegangkan tapi juga mengharukan dan menyenangkan. Dokter Gia berhasil menyuguhkan keseruan dunia koas lewat bahasa yang ringan dan mudah dipahami.
Satu²nya kesan yang melekat di kepalaku adalah, bahwa tujuan kita belajar dan menuntut ilmu adalah untuk menebar kebermanfaatan dan membantu orang lain.
Kebayang ngga gimana sekumpulan dokter muda nanganin pasien2 yg kadang 'ajaib', situasi di rumah sakit dengan bermacam kasus penyakit yang harus mereka pecahkan... Baca ini udah kayak nonton Greys Anatomy aja... Yang menarik, kita bisa belajar ilmu kesehatan dan kedokteran, secara tidak langsung. Jadi paham istilah2 yg biasa dipake di RS. Seru lah pokoknya! A must read book...
Bukunya bagusss banget. Apalagi buat anak kedokteran, ini cocok buat tau gambaran koas tuh kayak gimana. Seenggaknya dari buku ini kita bisa tau pelajaran2 berharga apa saja yang bisa kita petik terutama di fase per-koas-an. Menarik bangett. Berasa review materi kuliah di sini🥰
Very inspiring. Very funny. Very nerdy. 10/10 to my liking. Although there's some unnecessary romance I'd like to skip but I'm sure people would love it to refresh their mind from the medical details.
reading this while i was a medstud and now i'm a doctor myself:") sangat relate dan memang pasien tuh ada ada aja ceritanya:") semoga setiap pekerjaan kita bernilai ibadah dan bisa bantu banyak orangggg.
Menurut saya, buku ini lebih cocok dan akan sangat menarik dibaca oleh orang-orang yang tertarik dengan dunia kedokteran. Yang membuat saya bertahan membaca sampai akhir hanya karena buku ini adalah hadiah dari teman dan cerita-cerita selingan kehidupan pribadi pemeran utama.
Parah sih, buku ini cocok buat mahasiswa kedokteran semester awal (if you want a fun way to study) dan bagusnya lagi, buku ini dapat educate the readers to maintain their body and their life style.
This entire review has been hidden because of spoilers.